The Pop's

Posted by : Harry Ramdhani November 04, 2013



Kekasih, malam ini aku ingin tidur di sekitaran taman bermain mimpimu. Bersama kelinci-kelinci yang kerap berlarian ke sana - ke mari, sampai pagi menegurmu untuk segera bangun membangun asa di hari yang baru.


KETIKA malam pertama setelah aku resmi menjadi istrimu, semua tampak biasa. Tak ada ajakan untuk segera tunaikan percobaan pertama layaknya hubungan suami-istri pada umumnya. Aku menunggu itu sampai pagi buta menjelang matahari terbit di luar sana.

Sudah kubilang dulu, "tidak perlu kita gelar pesta pernikahan. Di sana kita hanya seperti boneka Dufan yang diajak foto tiada henti." Kelelahan itu yang membuat kita tak sanggup berbuat apa-apa di atas ranjang setelah pesta pernikahan. Aku maklumi saja, tapi malam ini adalah malam-malam yang kutunggu sedari dulu setelah kamu coba mengajakku untuk lakukan sebelum kita resmi menikah.

***

Kamu bangun dengan mata yang sayup dan kaos singlet yang basah kuyup oleh keringat semalam. Semalam begitu panas, padahal kipas angin sudah dinyalakan tepat di sampingmu. Atau, semalam kamu bermimpi yang lain? Mimpi yang tak bisa kutanyakan di pagi setelah kita resmi menjadi suami-istri. Semoga di mimpimu, orang yang bermain denganmu adalah aku, istrimu, yang semalam menunggu untuk lakukan itu.

"Ingin sarapan apa, pah?" tanyaku.

Kamu tersenyum. Dan, aku suka senyummu pagi itu. Senyum yang tak biasanya bisa kulihat ketika kamu baru bangun dari tidur. Kejujuran biasanya hadir diawal, pasti ini senyum kejujuran yang kamu berikan untukku. Karena ini masih pagi, masih dengan keindahan semalam. Atau, keindahanmu mimpi basah semalam?

"Pah?" jawabmu heran.

"Iyah. Papah. Kenapa? Ada yang salah?"

"Engga, kok. Kapan, ya, ada anak kecil yang memang kita dengan sebutan papah-mamah?" Kemudian kamu berjalan keluar dan duduk di teras rumah.

Aku tidak paham maksud ucapannya pagi itu. Langsung saja kubuatkan sarapan dan menaruhnya di meja makan.

"Indri, hari ini kamu ingin ke mana?" tanya Andre, suamiku, dari luar.

"Di rumah aja, deh. Aku masih lelah," jawabku seadanya, "o ya, sarapanmu sudah aku ada di meja makan. Cepat dimakan sebelum dingin."

Aku putuskan untuk melanjutkan beberapa bab tulisanku yang sempat tertunda karena sibuk mengurus pernikahan. Entah ada apa pagi ini? Yang jelas, aku hanya ingin menulis, menulis, dan menulis.

***

Andre masuk ke kamar. Menghampiriku yang sedang asyik menulis di laptop yang kubeli dari keringatku sendiri. Ternyata benar, semua yang berkeringat mampu menghasilkan uang.

"Aku ingin bicara denganmu," kata Andri yang duduk di sebelahku

"Silakan," aku pun hentikan jemariku yang asyik menari di atas laptop.

"Aku sudah punya anak."

DEG. Jemariku di atas laptop tidak hanya berhenti, tapi seakan semua remuk di atasnya mendengar itu.

"Ini masih pagi, sayang, tidak usah bercanda berlebih begitu," kataku mencoba untuk tidak menanggapi serius, "lagi pula itu tidak lucu."

"Aku serius, Indri."

"maksudmu?"

"Dulu, ketika kamu menolak ajakanku untuk 'berhubungan' aku langsung pergi menemui Sela, kamu pun kenal pasti. Kita berbincang lama dan pada akhirnya,…"

"Serendah itu kah kamu?" Aku mulai naik pitam mendengar ceritamu.

"Maafkan aku, sayang,"

Lama kita bertengar di dalam kamar. Berkeringat.

Sela sudah meninggal dua tahun lalu karena kecelakan. Kini anaknya dari suamiku dititipkan di Panti Asuhan. Aku pun luluh. Tak lagi mampu berbuat apa-apa selain menangis, menangis, dan menangis.

Andre memelukku erat sampai sesak di dada. Namun, dadaku sudah terlebih dahulu sesak menerima kenyataan.

***

27 November, di Restoran cepat saji.

Kita merayakan ulang tahun kelima, Yusron, yang kita ambil tepat siang itu setelah pertengkaran dihari pertama pernikahan kita di Panti Asuhan.

Tawa riang teman-teman Yusron di Paud sungguh membuat hatiku pun senang. Menerima semua kenyataan walau itu bukan darah dagingku sendiri. Toh, di dalam tubuh Yusron juga mengalir darah Andre, suamiku.

Aku mencintai keduanya seperti aku mencintai malam pertama yang telah kudambakan sedari dulu. Malam pertama yang tidak terjadi apa-apa. Andai ini adalah mimpi, aku ingin sekali bermimpi untuk bisa lakukan malam pertama yang kuidamkan dengan lelaki yang kucintai.



Perpustakaan Teras Baca, 4 November 2013
gambar: dari sini

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Kangmas Harry - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -