The Pop's

Cerita tentang Anak Kecil di Warung Makan yang Tetap Buka Saat Puasa

By : Harry Ramdhani
Bocil nyang lagi tidur itu. Pules beut!

Anak itu tertidur pulas. Sesekali matanya terjaga, lalu terpejam kembali. Sayangnya bukan di tempat tidur dan bantal yang empuk untuknya, anak itu tidur di meja warteg. Kau pasti tahu seberapa luas meja itu. Sekadar cukup untuk satu piring dan satu gelas --meski ukurannya panjang. Mainan yang tadi dipegangnya sampai terjatuh ke lantai. Ibunya sedang sibuk mencatat utang pelanggannya. Satu dari karyawan kantor, satu lagi oleh satpam. Buku tulis yang semestinya digunakan mencatatan pelajaran, namun kini di perlakukan sebagai pengingat tunggakan. "Tidak boleh kalah sama yang gajinya bulanan," katanya, tidak ditujukan kepada siapa-siapa yang ada di sekelilingnya.


***

Aku pindahkan gelas dan bungkus rokok dari sebelah anak itu. Takut tersenggol dan pecah ketika jatuh. Sebelum anak itu tertidur, ia manaiki meja, menghampiri tv yang diletakan di atas etalase warung. Ia coba berkali-kali tidak bisa. Mungkin aku sendiri sedikit risih dengan apa yang dilakukannya. "Belum dicolokin kali kabelnya," kataku. Anak itu menoleh dan lalu (seperti) tidak peduli. Barangkali anak itu semakin penasaran, ketika kaki kanannya sudah terangkat, aku langsung menjulurkan tangan untuk melarang. Ayahnya di dapur keluar. "Mau apa, dek?" Nonton tv, jawabnya. Anak itu diturunkan dari meja, didudukan di sebelahku. "Colokannya dipake buat kipas. Nanti saja ya." Anak itu paham. Meski tidak mengangguk dan diam, aku tahu begitulah reaksi anak-anak jika habis dinasehati. Mainan lego, sepertinya itu namanya, berbentuk pesawat terbang yang ada di tangannya ditaruh di atas etalase. Anak itu duduk lagi. Tidak lama anak itu berdiri untuk tidak duduk lagi. Anak itu berdiri sembari melafalkan beberapa surat dan ayat. Surat Al Kausar yang aku tahu dan ingat. Kemudian menyelonjorkan badan di meja warung, masih melafalkan itu, dan tertidur.

***

Seketika aku ingat tayangan di MNC TV "Semesta Bertilawah". Setiap sahur sekeluarga aku menonton itu. Gomah senang ada anak kecil yang bisa hafal Quran. Aku sendiri senang ayat-ayat Quran disenandungkan. Aku kira Peang dan Gopah juga suka, meski aku tidak tahu suka karena apa.Namanya program tv selalu mengedepankan drama-drama, apapun didramatisir. Pernah satu episode di mana Seorang anak yang dititipkan di Pesantren oleh ibunya sewaktu kecil ditanya-tanya oleh Arie Untung dan entah siapa host perempuannya. Anak itu masih kecil, umurnya sekira 8-10 tahunan, ditanya kabar ibunya saat ini, bagaimana ia mencari ibunya lewat facebook yang dibantu oleh pihak pesantren dan lain-lain. Pedahal sudah jelas: anak itu dititipkan ketika masih (sangat) kecil. Barangkali ingat wajahnya saja tidak. Sudah tentu anak itu menangis. Ia diminta mengingat atas apa yang ia tidak tahu. Betapa bodoh! Hanya pagi itu sahur jadi tidak terasa mengenakan. Aku sendiri hanya memakan beberapa suap nasi dan keluar; merokok.

***

Sewaktu kecil, setiap kali aku membaca Quran di rumah, jika ada satu bagian yang aku baca keliru, entah dari dapur atau mana, Gomah selalu memperbaiki dengan sedikit berteriak. Atau, ketika aku kesulitan membaca, mungkin karena tidak tahu tajwidnya, jadi terdengar aneh, pasti Gomah akan membetulkan. Aku sendiri tidak tahu apakah Gomah (sudah) hafal Quran atau Quran memang gampang diingat, jadi mudah terdengar aneh ketika ada keliru saat membacakannya. Membaca Quran selalu menyenangkan. Apalagi membaca terjemahannya. Ini adalah fase di mana aku mulai mencintai puisi. Selepas terawih atau sholat subuh, aku pergi ke perpus Teras Baca. Membaca Quran dan terjemahannya. Tidak lama, paling 3 jam sahaja. Bahkan, entah mengapa, ketika selesai membaca, aku merasa tenang. Terlebih senang karena arti ayat yang aku baca tersusun sangat baik --laiknya puisi. Buku puisi terbaik yang pernah aku baca, barangkali, adalah Quran. Anehnya lagi, setiap kali selesai membaca Quran, aku tidak bisa berdiri. Kedua kaki tidak bisa digerakkan. Kaku. Malah aku pernah dibangunkan Gomah yang membangunkan aku di Perpus dalam keadaan tertidur dengan kaki menyila sambil memeluk Quran. Sudah pagi dan mau dipakai tadarusan.

***

Ibu warung tadi langsung bercerita tentang anaknya. Katanya, anak itu semestinya sudah kelas dua, tapi mesti berhenti sekolah karena ikut ke Jakarta dengan ayah-ibunya. Maklum, keluarga itu datang untun bergantian dengan kakaknya yang kebetulan aku kenal, mesti balik kampung. "Dulu sih bilangnya cuman 3 bulan, lah ini udah hampir setahun. Ya gitu jadinya, dia gak sekolah. Diajak pun ia nolak, cuma mau main dan ngaji saja," kata Ibu warung. Umur anak itu kira-kira hanya berbeda satu tahun dari Peang. Jadi aku tahu betul pada umur-umur segitu apa yang ingin dan tidak inginkan dari anak-anak. Ibu warung bilang, anak itu memang tidak tidur semalaman. Dari siang malahan. Kadang main dan baca Quran saja. Sampai tadi dia bilang, kata Ibu warung, "mama gak saur, mama gak masak buat dagang?" Warung itu memang tidak tutup ketika bulan puasa. Tetap buka, tapi aku sama sekali tidak ingin menanyakan alasannya. Buat apa juga. Masih ada orang-orang yang tidak berpuasa dan lapar. Aku pikir wajar saja kalau buka. Kami berbincang sangat pelan takut-takut anak itu bangun. Namun, dalam obrolan kami itu, ada yang terus pikirkan, seperti: bagaimana orangtua itu memberi tahu kepada anaknya kalau puasa di bulan Ramadan itu wajib bagi umat muslim? Sedangkan sampai saat ini saja warungnya tetap buka.

***

Mainan yang tejatuh di lantai itu aku ambil dan letakkan di sela jari tangannya yang tertidur. Semula tidak ia genggam mainan, tapi saat jariku menyentuh jarinya, ia langsung mengambil tanganku. Ibu warung tersenyum. Aku lepaskan perlahan dan membayar makananku. Sambil keluar warung, spotify tengah memainkan lagu "Breakfast at Tifanny's" dari Deep Blue Something.
Tag : ,

Mandi di Siang Bolong!

By : Harry Ramdhani
seger betul mandi pas siang bolong.




Segar betul. Mandi pukul 2 siang saat matahari sedang panas-panasnya di bulan puasa. Ketika hendak menjemur handuk keluar, matahari seakan baru ingin muncul dari tidur panjangnya semalaman. Tidak ada suara ayam karena ia berkokok terlalu pagi dan manusia tidak ada yang peduli. Pagar rumah, tanaman yang digantung, sampai lantai teras serasa masih diselimuti embun; dingin. Segar betul.

***

Tapi tadi aku duduk sendirian di bangku-bangku di depan Indomaret. Bingung. Bukan untuk berpikir antara batal puasa atau tidak. Bukan. Bingung karena tidak tahu bagaimana caranya memperpanjang masa aktif akun premium spotify. Susah betul. Pedahal bulan lalu gampang-gampang sahaja. Sekarang aku lupa caranya. Keringat dingin mulai merambah dari tengkuk leher hingga lengan tangan. Normal. Itulah reaksi tubuh ketika sedang kebingungan. Tadi di hadapan ATM berulangkali aku mencoba peruntungan. Hasilnya: hanya kartu yang masuk dan keluar. Sporify premium tidak berhasil di perpanjang, orang-orang mengantri di kasir Indomaret membayar minuman dingin yang mereka ambil dari lemari pendingin. Dua orang, tiga orang, mulai mengantri di belakang menunggu giliran menggunakan mesin ATM. Aku kebingungan betul.

***

Bulan puasa tahun ini seperti kembali menemuiku dengan kegembiraan. Entah. Tapi itu yang aku rasakan. Anak-anak yang mulai ramai datang ke masjid dan orang-orang yang berdagang di pelataran masjid. Aku menduga: sepertinya kegembiraan ini muncul ketika hampir setiap hari –sebelum bulan puasa ini– melulu diperbincangkan di media sosial –tapi orang-orang itu sendiri tidak pernah ke masjid –tentang tumbuh-kembangnya orang-orang ekstimis. Mulai dari isi ceramah sampai penceramahnya. Mungkin orang-orang yang melulu membincang itu lupa: masjid tidak melulu seputar itu. Masjid adalah kediaman bagi siapa saja, makanya ada yang dinamakan Dewan Keluarga Masjid (DKM). Keluarga, biar bagaimanapun, tidak pernah lepas dari masalah. Jika, anggaplah asumsi orang-orang yang tadi aku sebut benar, masjid sebagai awal mula tumbuh kembangnya ekstimisme, maka biarlah keluarga dari masjid itu yang menyelesaikan. Tidak perlu dipukul rata kalau semua masjid seperti itu, bukan?

***

Dua hari menjelang bulan puasa, anak-anak berkumpul di pelataran masjid selepas magrib. Anak-anak itu menikmati betul rasanya keluar malam dan bertemu dengan teman sebayanya. Waktu main mereka seakan diperpanjang. Kemudian satu per-satu dari mereka diberikan obor. Entah ini hanya ada di Indonesia atau di setiap negara seperti itu ketika menyambut bulan puasa. Beramai-ramai mereka berjalan dari masjid melantunkan salawat menyusuri malam, menerangkan jalan. Pawai obor. Perlu juga sepertinya aku beritahukan: masjid di mana anak-anak itu mengikuti pawai obor, saban jumat di masjid itu penceramah selalu melakuakan orasi melawan pemerintahan. Hanya ada dua hal yang bisa menyelamatkan orang-orang yang jumatan itu tetap mau datang ke masjid: (1) mendengar ceramah sambil main media sosial atau (2) melipir ke warkop yang letaknya bersebelahan dengan masjid dan mendengar ceramah dari sana. Yang ingin aku sampaikan adalah terlepas dari bagaimana masjid itu dikelola, ketika bulan puasa tiba, selalu ada hati yang terbuka untuk semua. Anak-anak yang bergembira dan kakak-kakak mereka yang manis-manis betul ketika mendampingi adiknya pawai obor.

***

Kuhanya ingin puasa menghadirkan yang betul-betul segar. Semial: kamu yang lagi suka ganta-ganti avatar twitter yang bikin temlenku jadi segar betul.
Tag : ,

Aku dengan Buku, Kamu (Sibuk) dengan Gawaimu

By : Harry Ramdhani
andai orang2 nyang diajak ngobrol liwat hengpon pada nongol di kreta... yha ndak mungkin!
Ayu Utami telah membuat fantasiku liar terhadap taman dari buku 'Saman'. Sebuah taman di mana Leila rela menemui Sihar jauh-jauh ke New York. Taman yang ditinggali hewan hanya untuk hidup bahagia. Gelandangan pun bisa tidur dengan nyenyak meski badannya dipenuhi debu. Dan di taman itu juga, tulis Ayu Utami, tak ada yang perlu ditangisi. Dosa seakan tidak tumbuh di taman itu.

***

Dan karena cerita tentang taman itu pula akhirnya aku membeli kumpulan cerita pendek 'Petang Panjang di Central Park' yang ditulis (alm) Bondan Winarno.

***

Kemudian aku selalu membayang ini: datang ke sebuah taman --seperti yang Ayu Utami gambarkan-- bersama pasangan. Aku membaca buku sedangkan dia sibuk dengan (kehidupan) gawainya. Sesederhana itu memang. Dan di taman itu kami saling memunggungi. Mungkin kami akan saling banyak diam. Namun, di taman itu kami akan saling memahami: hakikat kebahagiaan tidaklah satu, tapi saat di mana kita bisa saling mengerti kesukaan masing-masing. Mungkin ketika aku pergi ke taman itu aku akan membawa novel 'Le Petit Prince'. Entahlah. Sepertinya novel itu cocok saja. Lalu seperti yang aku jelaskan di awal, kamu akan sibuk dengan gawaimu. Mungkin kamu akan swafoto, mengunggahnya di Instagram dan menanyakan caption apa yang cocok untuk mengilustrasikan kebahagiaanmu di taman itu. Aku sarankan sebuah larik dari puisi Goenawan Mohamad: bersiap kecewa/ bersedih tanpa kata-kata. Dan kamu akan menanyakan artinya. Dan aku tidak akan menjawab apa-apa. Sebab keindahan antara taman, kamu dan puisi adalah keindahan yang hakiki.

***

Hanya syukur yang bisa aku panjatkan manakala masih diberi kesempatan membaca buku di kereta. Yha. Apalagi di sebuah perjalanan pulang pada suatu sore di mana besok adalah hari libur. Kukira kamu bisa bayangkan keadaannya dengan ilustrasi seperti itu. Aku keluarkan buku dari dalam tas, melanjutkan bacaan 'Saksi Mata' yang belum tuntas. Seorang perempuan masuk, sedikit tergesa dari stasiun berikutnya di mana aku semula naiki. Kami saling memunggungi di kereta. Aku bisa merasakan betapa tungkuk perempuan itu panas. Dan aku rasa perempuan itu merasakan disundul-sundul kepalanya oleh ikatan rambutku. Perempuan itu meletakan tasnya di bagasi atas. Sedikit mendorong ke depam karena penumpang sedang ramai. Sepertinya ia meminta maaf, tapi aku tidak terlalu jelas mendengar, telingaku tertutup pemutar musik.

***

Tidak ada gangguan. Kereta berjalan lancar. Hanya saja terasa sedikit pelan. Aku sungguh menikmati (1) cerita dari buku 'Saksi Mata' sekaligus (2) saling memunggungi dengan perempuan itu. Saat itu kereta laiknya masjid ketika ada sholat jumat: memberi ruang seberapapun banyaknya penumpang. Sesekali aku tertawa dengan bacaanku dan perempuan itu tertawa dengan orang-orang lain di luar sana lewat gawainya. Andai kereta ini sebuah taman --taman seperti yang digambarkan Ayu Utami-- mungkin aku akan seperti burung yang disinari matahari musim semi: bernyanyian dan mengajakmu pacaran.

***

Sesekali aku masih mendengar tawanya. Renyah sekali. Sedangkan aku, boro-boro bisa tertawa. Bagaimana bisa tertawa dengan segala kekejaman yang ada dalam cerita-cerita dari buku yang tengah aku baca: bola mata yang dicongkel dengan sendok untuk kemudian dijadikan bahan tambahan tangkleng, telinga-telinga yang dipotong karena menguping sebagai mata-mata sampai pembunuhan massal. Sesekali aku membayangkan guyon seperti apa yang ia dapatkan dari orang-orang nan-jauh-di-sana-itu? Jika aku bisa pelajari, aku akan mencoba menghibur perempuan itu sesering mungkin.

***

Baru kemudian aku sadar ketika seorang di depan perempuan itu hendak turun dari kereta di Tanjung Barat. Perempuan itu sedikit mendorongku hingga hampir tersungkur ke depan. Aku menoleh. Dan dia sedang memegang buku. Sekilas aku lihat sampulnya: didominasi warna putih dengan warna tulisan biru dan merah muda. Buku itu sedikit tebal. Aku ingat, itu novel 'Sophie Kinsella, My not so Perfect Life'. Buku bagus. Beberapa kali aku membaca resensinya. Kereta masih berjalan pelan. Aku sibuk dengan buku, begitu juga perempuan itu.

***

Andai kereta ini sebuah taman --taman seperti yang digambarkan Ayu Utami-- mungkin aku akan diam saja, memintamu menceritakan isi buku itu. Mendengarkanmu dengan saksama sampai selesai dan kita berkenalan. Namaku, Harry. Harry Ramdhani, siapa namamu?
Tag : ,

Tentang Kucing (Kampung) yang Lahir di Loteng Rumah

By : Harry Ramdhani

kucing-kucing ucul nyang kurang satu. :(((

Kucing itu hamil. Seperti halnya kucing betina lain, tidak ada yang tahu siapa yang menghamili. Tapi kucing itu, yang hitam warna bulunya, sedang bunting besar. Gomah sesekali memberi sisa makanannya yang masih banyak. Menyisakan, mungkin tepatnya. Dilahap dengan rakus nasi yang diaduk dengan suiran ikan lele di depan rumah dekat pot bunga. Aku tambah lagi dengan tahu. Kucing itu sekadang mengendusnya dan melanjutkan nasi aduk suiran lele itu. Sial.


***

Besoknya tidak lagi kucing yang hamil itu. Entah pergi ke mana. Kucing kampung memang suka seperti itu ketika ingin melahirkan: sembunyi mencari tempat. Bahkan dulu ada yang sembunyi di belakang perpus Teras Baca. Setelah melahirkan dan anak-anaknya bisa pergi mencari makan sendiri, barulah mereka keluar dari tempatnya. Ada tiga anaknya yang lucu. Aku cuma bisa memberikannya satu kardus mie instan dengan kain sebagai alasnya. Maksudnya untuk mereka tidur. Setiap pulang kerja, setiap malam, aku suka mampir sebentar. Anak-anak kucing yang mungil itu menyambut dengan berlarian menghampiri. Pedahal aku tidak bawa apa-apa. Senang rasanya ada yang menyambut ketika pulang kerja. Kapan yha bisa disambut kamu kalau aku pulang kerja kelak?

***

Setiap malam selalu ribut di loteng rumah. Kucing, tentu saja. Berisik sekali. Tapi bukan kucing yang tengah berkelahi, hanya suara kucing yang berlarian ke sana-ke mari. Kadang, hal-hal semacam itu ampuh untuk menakuti Peang agar supaya cepat tidur. Menarasikannya seakan-akan kucing itu sedang dikejar oleh Setan Kepala Buntung. Kucing itu tidak pernah keluar. Selalu di loteng. Entah kucing yang mana. Yang aku tahu: setiap malam selalu ribut.

***

Kucing hitam itu akhirnya melahirkan. Kucing yang selama ini ribut di loteng ternyata kucing hitam itu. Kata tetangga sebelah yang rumahnya tingkat, ia melihat kucing hitam itu bersama kelima anaknya. Lucu-lucu, mestinya. Aku tidak sabar seperti apa bentuknya. Tapi seperti kucing kampung pada umumnya, kucing itu tidak ingin turun (atau tidak bisa mungkin?) dengan anak-anaknya. Keenam kucing itu masih menetap di loteng. Sialnya, setiap malam semakin ribut. Keenam kucing itu berlarian, main kejar-kejaran di loteng. Dan satu malam, saking ributnya, remahan atap berjatuhan. Hadeeeeuh. Malam-malam mesti nyapu.

***

Sore hari dengan matahari yang sinarnya cukup, kopasus (kopi campur susu) dan buku puisi Aan, Cinta yang Marah, adalah caraku merenung. Buku itu terlalu anarkis. Apalagi Aan Mansyur yang kadung populer dengan puisi cintanya dalam buku "Tidak Ada New York Hari Ini". Dan terdengar suara benda yang jatuh di depan rumah. Berkali-kali. Aku kaget, tentu saja, lalu Gomah berlari keluar. Gomah selalu responsif jika ada suara-suara seperti itu. Bahkan bisa membuat panik. Meski pelan, namun reaksi Gomah cenderung berlebihan. Anak kecil kadang bisa nangis meski ia sekadar jatuh terpeleset. Aku dan Gomah melongok keluar. Wuah, kucing-kucing yang di loteng akhirnya turun (dengan terjun). Kelima anak kucing itu lucu-lucu betul. Kecil, sebesar telapak tangan.

***

Setiap ke warung untuk beli kopi titipan buat di kantor, kucing-kucing itu selalu mengikuti. Mungkin menganggap aku keluar membawa makanan. Pedahal tidak. Kucing-kucing itu melingkari kakiku. Kadang ada yang hampir terinjak. Aku serasa rock star yang tengah diikuti penggemar. Tapi memang, setiap ada sisa makanan, aku selalu memberikan pada anak-anak kucing itu. Sialnya, malah sering dikuasi si Induk. Namun, senang rasanya bisa berbagi makanan dengan yang membutuhkan. Berhenti sebelum kenyang dan (sengaja) menyisakannya untuk anak-anak kucing itu.

***

Karena pagar rumah ada lubang yang cukup besar, sering kali kucing-kucing itu masuk lewat sana. Seringnya memang malam, untuk tidur di bangku teras. Tidak memberantak tempat sampah untuk mencari makan atau memberantak buku-buku yang ada di rak di teras. Kadang terpikir membeli kandang, tapi buat apa? Teras rumah rasa-rasanya cukup besar buat sekadar tidur. Lagipula, pernah aku cek harga kandang kucing dan harganya mahal. Bukan rezeki kalian, cing!

***

Barusan tetangga sebelah bilag kalau satu anak kucing itu terpincang-pincang dekat pot bunga depan rumah. Sepertinya tertambrak motor. Entah. Tidak ada yang melihat. Pedahal tadi siang baru aku kasih makan semua. Daging rendang yang aku hancur-hancurkan dan diaduk dengan nasi. Nasi aduk rendang. Namun, tadi Gomah sempat memberinya potongan ayam goreng. Kucing itu tidak mau makan. Aku cari sampai sekarang tidak juga ketemu. Aku hanya ingin berterimakasih, karena (1) tidak melihatnya langsung kalaupun mati. Pasti ini sedih sekali. Aku pernah punya kelinci dan mati. Dua hari badanku panas dan tidak masuk sekolah. Dan (2) jikapun kucing itu tahu siapa yang menabraknya mohon maafkan. Manusia memang lebih suka merusak daripada menjaga. Ke manapun satu kucing itu pergi, pesanku: jaga diri baik-baik.
Tag : , ,

(Se)Sudah Mojok, Terus Ngapain?

By : Harry Ramdhani
sumber gambar: @mojokco

Ada dua kenyataan pahit yang saya dapat hari ini, pagi ini: (pertama) kembali berakraban dengan dinginnya AC kantor dan (dua) situs mojok.co yang bulan depan akan ditutup. Keduanya saya terima tanpa melawan,  dengan ikhlas tanpa penolakan. Karena sebaik-baik melawan kenyataan adalah menjalaninya.

Tidak usah hiraukan yang pertama itu. Itu sudah saya jalani hampir 2,5 tahun ini. Fokuslah pada yang kedua. Walau baru akan ditutup bulan depan (28/03) kabar semacam itu sama saja seperti merencanakan kesedihan. Sudah tidak ada lagi yang direncanakan, kah?

Jujur. Sudah hampir setahun belakangan saya tidak baca-baca tulisan dari mojok.co. Barangkali terlalu sibuk. Barangkali juga tidak ada lagi kesempatan untuk duduk menyendiri mojok di suatu tempat. Barangkali lupa. Entahlah. Tapi saya selalu meyakini: apapun isu yang tengah berkembang, orang-orang yang masih bisa mojok pasti selalu ikut meramaikan. Saking tidak pernahnya mojok, saya masih ingat betul kali terakhir mojok. Sebuah keseruan antara Agnez Mo dengan Netizen, kemudian disulam dengan penuh keriangan oleh Arlian Buana. Hasilnya: Alay-alay Agnez Mo, Bangkitlah dan Lawan!

***

Satu waktu di lini masa twitter, Gus Candra Malik membagikan tautan dengan judul Mojok. Saya biarkan lewat. Tapi ada dua akun yang saya follow me-retweet. Lantas kembali terlihat. Sedikit penasaran, saya buka. Saya tertawa membacanya. Isinya sebuah surat. Surat dari seorang sahabat untuk sahabatnya yang nampaknya kurang mojok.

Itulah kali pertama saya membaca mojok.co dan lalu jatuh cinta. Dalam hati: ternyata ada juga di Indonesia media yang isinya satir begini. 

Saya jadi ingat cerpen Agus Noor yang judulnya Matinya Seorang Demonstran. Ada satu adegan di mana Eka dibilang terlalu sinis oleh Ratna. Dengan sinis juga Eka menjawab: ”Kamu harus membedakan antara filsuf dan orang biasa. Kalau orang biasa sinis, akan dianggap nyinyir. Tapi kalau filsuf sinis, itu disebut kritis.”

Hanya saja saya tidak percaya kalau semua penulis mojok ini filsuf. :*

***

Nasi hampir sudah dipastikan jadi bubur. Jika boleh asal menebak, selain angkringan yang membuat kantor mojok ini ngebul, mojok juga tengah sibuk-sibuknya menerbitkan buku bagus. Dari sekian banyak, saya sudah punya dua: Dari Twitwar ke Twitwar (Arman Dhani) dan Sebuah Kitab yang Tak Suci (Puthut EA). Benar, tak? Semoga akan lebih banyak yang bisa saya punya setelah dua buku itu.

Semuanya tidak boleh berhenti di sini. Semoga. Mesti ada yang lebih banyak dari mojok. Semoga. Biar asoy. Biar geboy.

***

Nyesel juga pernah lost-contack sama mojok. Ah, penyesalan memang adanya di belakang, bukan di pojok. Sebab nyang mojok itu asyik.


Ditulis ketika sedang memaksa mojok di ruangan nyang lagi rame2nya.

Teka Teki Silang

By : Harry Ramdhani



Tubuhnya besar. Gemuk. Hidungnya juga besar, kulitnya tebal dan keras. Suka bermain atau mandi di kubangan lumpur. Karena sering berendam di sana, kulitnya jadi berwarna coklat-gelap. Biasa memakan tumbuhan, tapi kalau tidak ada, apa saja disantapnya. Berkaki empat. Bila mulutnya terbuka, mungkin satu sepeda motor matic cukup.

Alina menarik garis ke kolom sebelah kanan. Poin nomor enam: "Kuda Nil."

Rumahnya terbuat dari rerumputan kering. Biasa disebut, sarang. Ia bertelur dan mengeraminya di sana. Bentuknya tubuhnya sangat kecil. Paling hanya segenggaman tangan. Berbulu coklat. Namanya mirip rumah peribadatan.

Alina melewati yang ini.

Buas. Gigi taringnya sangat tajam, bisa mengoyak daging menjadi beberapa bagian. Berkaki empat. Kulitnya loreng-belang. Belakangan ia sering dijadikan buruan; dibius, dibuat lumpuh, dibunuh, lalu dikuliti. Akhirnya, kini semakin sedikit jumlah populasinya. Biasa ditemui di hutan belantara yang jarang terjemah manusia.

Tanpa berlama-lama Alina menarik garis lurus sejajar. Poin nomor tiga: "Harimau."

Bersayap empat. Memiliki buntut yang panjang ke belakang. Kakinya delapan, matanya bulat. Kebanyakan orangtua sengaja memeberikan ini kepada anaknya yang masih suka ngompol. Caranya: binatang ini ditempelkan di pusar anak kecil dan membiarkannya supaya menggigit.

Diam sejenak. Alina mengambil kembali pensilnya. Dibuatnya titik yang cukup dalam pada kertas itu. Sedikit tidak yakin, Alina membuat garis ke atas. Poin nomor satu: "Capung".

Kepalanya botak. Ke manapun ia pergi, rumahnya selalu dibawa-bawa. Berkaki empat. Termasuk binatang pemalu. Bisa hidup di darat maupun air. Banyak yang mengatakan umurnya binatang ini bisa lebih dari seratus tahun. Jalannya amat lambat, karena rumah yang dibawanya berat; hampir dua kali lipat berat tubuhnya.

Selesai membaca itu, Alina tersenyum. Seperti ada sesuatu, seakan Alina mengingat masa lalu. Dibuatnya garis ke bawah. Poin ke tujuh: "Kura-kura".

Lidahnya suka menjulur keluar. Bersahabat dengan manusia. Bisa dikatakan ia hewan paling setia, bisa jadi penjaga rumah juga. Daging adalah makanan kesukaannya. Berbulu halus. Jenis dan warnanya beragam. Sering dibawa jalan-jalan ke taman. Di sana ia suka bermain bola lempar.

Dengan cepat Alina menarik garis. Poin nomor empat: "Anjing".

Tubuhnya kecil. Sering bergerombol dengan teman-temannya. Amat suka pada yang manis dan amis. Kadang, bila terkena gigit olehnya bisa gatal-gatal. Jika sedang jalan beriringan, ia akan baris dengan teratur. Jika bertemu dengan temannya yang berlawanan arah, akan terlihat seperti salaman. Warnanya antara merah dan hitam.

Lalu Alina membuat garis ke atas di kolom sebelah kanan. Poin nomor dua: "Semut".

Namun, dengan sedikit tidak yakin, Alina jadi tahu jawaban yang sempat dilewatinya. Alina tarik garis ke bawah. Poin nomor lima sambil bertanya dalam hati: "apa benar ada burung bernama Gereja?"

Buku ini pun Alina tutup. Alina pergi tidur.


*) Seruni
 Sumber Gambar: shutterstock
Tag : ,

Maje

By : Harry Ramdhani

MAJE MELIHAT DENGAN penuh harap sekawanan kucing rumahan di halaman depan yang sedang santap siang. Dari atas genteng itu, dengan jelas Maje tahu apa yang kucing-kucing itu makan: makanan khusus kucing, serupa biskuit tapi berukuran lebih kecil. Harganya juga setara dengan satu bungkus nasi padang, untuk satu kucing, untuk satu kali makan!

Air liur lewat di tenggorokan Maje. Siang semakin terik, Maje semakin lapar. Ia tinggalkan pandangannya itu dan turun ke tempat sampah sebelah rumah sekawanan kucing itu.

"Sudah dua hari ini tidak ada yang bisa aku makan dari tempat sampah," kata Maje dalam hati. "Biarlah, siapa tahu kali ada sisa makanan di sana."

Maje kucing kampung yang kurus. Jarang makan. Kalau dihitung-hitung, paling tiga hari sekali. Itu pun dari sisa makanan di tempat sampah, atau yang sedikit lumayan berbagi makanan dengan sesama kucing kampung yang mungkin secara kebetulan mendapat makan dari seseorang di jalan.

Namun,  Maje berbeda dengan kucing kampung lain. Maksudnya, sering ia lihat teman-teman sesama kucing kampung yang mencuri makan dari dalam rumah-rumah. Makanan apa saja, yang terpenting dibawa lari dulu. Urusan akan dimakan atau tidak, itu lain cerita. Selain itu, Maje tahu kalau mencuri itu tidak baik. Maje juga tahu akibatnya bila tertangkap tangan oleh si pemilik rumah, bisa fatal akibatnya. Pernah Maje lihat dengan mata kepalanya sendiri kucing kampung yang tidak ia kenal ditembak dengan senapan peluru karet. Tidak hanya sampai di situ, setelah terkapar, perutnya ditendang hingga kucing itu terpental sekitar 5 meter. Sejak itu Maje tidak pernah lagi melihat kucing kampung itu.

Maje menuju tempat sampah. Tepat di depannya ada Kunti keluar dari sana. "Tidak ada apa-apa, bungkus plastik semua," ujarnya. Keduanya pergi dan mencari tempat sampah lain.


PINTU PAGAR ITU terbuka lebar. Pintu samping rumahnya langsung menuju ke dapur. Hidung Maje amat peka pada bebauan daging. Kali ini nampaknya di dapur baru saja selesai masak ayam goreng. Maje masih berdiri di seberang rumah itu. Matanya melihat kanan dan kiri. Sepi.

Entah mengapa, keempat kakinya seperti melangkah sendiri ke arah rumah itu. Maje sudah di depan dapur. Beberapa langkah lagi ia masuk, tapi Maje masih diam saja. Kembali matanya seperti mengawasi sekitar, ke kanan dan ke kiri, juga sesekali ke belakang. Dan memang tak ada sesiapa.

Maje maju tiga langkah. Tepat di daun pintu itu, terlihat beberapa potong ayam goreng tersaji di piring. Maje akhirnya masuk. Melompat ke meja dan kini ayam goreng itu di hadapannya. Hidungnya mengendus, aromanya sungguh nikmat. Ayam goreng itu masih hangat.

"Ambil atau, tidak," ujar Maje dalam hati.

Seakan ada yang langsung menggerakkan mulutnya untuk terbuka. Satu potong ayam goreng sudah terapit mulutnya.

"Kucing sialaaaaaaaan!" teriak seseorang, yang masuk ke dapur.
Sudah tentu Maje kaget. Ayam goreng dari mulutnya ia lepas. Maje bergegas pergi, sekencang-kencangnya berlari.


KEMBALI, DARI ATAS genteng Maje melihat sekawanan kucing itu makan. Pemilik rumah itu memang penyuka kucing. Ada sekitar 8 kucing di rumahnya. Kucing-kucing itu pun dibuatkan semacam rumah yang terbuat dari kaca. Rumah-rumahan itu ada di halaman depan rumah itu. Untuk ukuran binatang peliharaan, itu cukup mewah. Di dalamnya ada beberapa tempat makan yang tidak pernah terlambat diisi makanan. Tempat tidur pun seperti tempat tidur bayi.

Maje turun menghampiri sekawanan kucing itu. Hanya di luar pagar, tidak lebih. Seorang gadis kecil berlari keluar lewat pintu, lalu berhenti memerhatikan Maje. Keduanya saling melempar pandang dan tak ada yang berkata-kata. Suara laki-laki terdengar dari dalam rumah, memanggil-manggil nama gadis itu. Maje tidak begitu jelas mendengar, hanya sayup-sayup saja. Kembali perut Maje minta diisi. Sejak kemarin Maje belum makan.

Lalu dari dalam rumah keluar seorang laki-laki. Ia mendekati pagar, menghampiri Maje yang ada di luar. Pagar itu dibuka. Laki-laki itu mengangkat Maje masuk bersamanya.


TIGA MINGGU SUDAH Maje tinggal di rumah itu. Tidak, Maje tidak disatukan dengan 8 kucing lainnya. Malah, khusus untuk Maje, ia ditempatkan bersama dengan gadis kecil itu: di kamar.

Anehnya 8 kucing lain sama sekali tidak iri dengan Maje. Bahkan, kedelapan kucing itu tidak peduli bila Maje mendapat lebih banyak perhatian. Kenyamanan yang mereka dapat selama ini memang sudah tidak bisa dibanding-bandingkan. Sudah lebih dari cukup.


INI YANG TIDAK Maje tahu: setiap hari gadis itu ingin sekali merawat Maje, namun karena ia hanya kucing kampung, makanya selalu dilarang. Beruntung sekali hari itu Maje menghampiri rumah itu. Kebetulan sekali gadis itu sedang berada di luar juga. Pertemuan kedua yang ditambah sedikit rengekan gadis itu, akhirnya diperbolehkan juga.

Gadis itu selalu mengajak Maje ngobrol. Sering juga gadis kecil itu bertanya betapa serunya hidup tanpa kemapanan pada Maje. Dengan bahasa masing-masing, gadis itu paham: memperjuangkan hidup jauh lebih membanggakan ketimbang bermanja-manjaan.


*) ditulis oleh Seraya.
Sumber Gambar
Tag : ,

Menyurati Kamu Mengabari Rindu #11

By : Harry Ramdhani


1/
Ini bukan soal perasaan, Sayang. Ini perihal saya yang sering sekali kamu bohongi, sambil seperti memasang tampang keledai, anehnya saya pun sedikit demi sedikit jadi menikmati. Ibarat racun, kamu bisa meraciknya dengan dosis yang tepat.

2/
Tapi ini tentu tidak bisa dijadikan barometer. Sebab saya hanya mengkalkulasikannya dari apa yang saya lihat di sekitar saja. Dan ini fakta!

Ketika perempuan tidak bisa lagi diumpan cinta, maka laki-laki, entah dengan cara yang seperti apa, mereka bersekutu: jika tidak lagi kenyang oleh cinta, beri saja perempuan janji. Janji itu bisa dibuat semanis madu, atau sepahit jamu.

3/
Di sebuah kitab usang yang baru-baru ini saya baca, Sayang, di sana tertulis: racun tak mati oleh racun* –juga oleh madu. Tak perlu kamu tanya di mana saya temukan kitab itu, kamu pun saya pikir sudah tahu, ketika saya sedang membereskan buku-buku yang menumpuk di perpustakaan, kitab itu terselip di antaranya. Sampulnya kuning dan kertasnya pun telah menguning. Kitab yang cukup berumur. Saya pisahkan dan debu-debu yang menempel saya bersihkan.

Racun baik membuat cinta menjadi rindu. Racun jahat membuat cinta tak ubahnya nafsu. Lebih kurang, begitu kata kitab itu. 

4/
Entah sudah berapa purnama kita tidak bertemu? Tapi sepertinya, seingat saya belum sekalipun. Apa benar, Sayang? Sayang, rindu memang mempercepat jalan menuju kamu, tapi nampaknya saya mesti mampir ke Rumah Sakit Jiwa dulu. Bila itu perlu, tak apa. Akan saya tempuh demi kamu.

5/
Masuk tengah malam, jam di ruang tamu mulai bernyanyi. Dalam sepuluh menit, akan berbunyi tiap dua menit sekali. Seperti biasa, selang lima menit setelahnya nyanyian di ruang tamu itu akan ada tukang pijit tuna netra keliling, lalu disusul hansip yang mengikutinya dari belakang. Maklum, akhir-akhir ini banyak rumah kemalingan. Dan hansip menduga tukang pijit itu pura-pura buta, ia merangkap maling juga.

Saya pejamkan mata –dalam keadaan sadar tentunya– sambil sesekali mengintip sekitar kamar. Dingin. Tiba-tiba dingin seketika seluruh kamar saya. Saya bangkit dari ranjang, lalu terkejut: seluruh benda di kamar mengeluarkan air. Saya cicip, asin rasanya. Itu air mata!

6/
Tak adakah yang kamu takutkan dari malam? Gelap. Sunyi. Sepi. Juga lain-lain yang kini sudah kamu anggap teman.

Rindu bisa pelan-pelan menggerogoti isi kepala saya meski aslinya memang tak ada apa-apa. Rindu juga bisa pelan-pelan menghantui saya kalau suatu malam saya melihat orang-orang berciuman. Seperti dulu, Sayang. Terakhir, rindu akan pelan-pelan membuat tutul air mata di pipi saya.

7/
Sayang, apa cinta bisa dihapus? Meski sekedar nama, tentunya. Bukankah yang-lalu-sekalipun, dari cinta ialah kenangan? Dan kenangan, setahu saya, muskil hilang.

8/
Embun terbuat dari air mata, "yang dingin itu keluar dari pemilik air mata yang sedang senang hidupnya, tapi tidak pernah lupa bersyukur. Air mata bahagia,

Masih ada embun-embun yang lain, yang tidak mungkin diceritakan satu persatu. Kau tak akan bisa ingat nama dan dari mana asalnya, karena saking banyaknya. Namun jika kau ingin tahu sekilas, dekatkan saja kupingmu ke cawan-cawan yang digunakan untuk menimbun embun. Lalu dengarkan kisahnya tentang bagaimana embun itu tercipta,”

9/
Semula kita hanya hujan yang tak saling kenal. Tanah yang kering dan retak itu, Sayang, adalah tempat yang barangkali tak mungkin kita lupakan dan sesalkan. Kamu hujan yang malu-malu, seda saya hujan yang pendiam. Kamu ingat, di tanah itu, kita hanya saling tatap-tatapan, tapi yang membuat saya tiba-tiba terpikat adalah matamu yang rasa-rasanya selalu ingin saya susuri dalamnya. Entah seberapa lama, entah sesabar apa saya.

Kita adalah sepasang hujan yang berjauhan tapi, masih sering mengabarkan. Saya menyurati kamu, kamu mengabari rindu. Saya mengabari rindu, kamu menyurati masa lalu. Rindu menyurati masa lalu, masa lalu mengabari kamu.

10/
Hari-hari saya kini hanya diisi menulis puisi. Sebab tak ada cara terbaik merawat ingatan dan menunggalkan kamu seorang dalam kenangan; selain itu –tentu sambil minum kopi. Puisi-puisi itu tidak saya kirim ke media cetak atau saya unggah ke media daring supaya dibaca banyak orang. Tidak! Saya sebatas membuatnya dan menempelkannya di kamar. Selama masih ada tempat kosong, di situ saya buka pintu rindu lebar-lebar.

Kamu janji akan kembali pada musim hujan tahun depan. Namun ini sudah lewat banyak, Sayang. Menunggu adalah salah satu bentuk tawadhu’. Akan saya lakukan selama itu masih di jalan kebaikan.

Tiba-tiba dari belakang ada yang menepuk pundak. Adalah Joko Pinurbo yang berdiri, “pintar-pintarlah membuat luka, darah penyair itu anyir.”

11/
Kita bertemu. Rindu cemburu. Tak ada lagi surat untuknya, dari saya, juga kamu.

Perpustakaan Teras Baca, 31-08-2015 | ilustrasi
Tag : ,

Sepasang Sandal di Tempat Wudhu yang Hilang

By : Harry Ramdhani

bukankah kita pernah sepakat,
setelah reinkarnasi nanti
: menjadi sepasang sandal di tempat wudhu
yang dipakai orang-orang untuk membersihkan noda
juga luka.

kita juga pernah sepakat,
setelah reinkarnasi nanti
: meninggalkan keruwetan masa silam --
yang melulu tentang kesedihan.
biarlah air-air suci itu yang perlahan meluluhkan.

kelak, percayalah!
setelah reinkasrnasi nanti
: kita menjadi sepasang sandal yang dikerubuti
orang-orang. dan kamu hilang, setelahnya.
tapi saya tahu mensti ke mana mencari
kamu.


Perpustakaan Teras Baca, 2015 | ilustrasi
Tag : ,

- Copyright © Kangmas Harry - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -