The Pop's

Archive for July 2018

Kewajiban Para Penyair

By : Harry Ramdhani
ilustrasi (pixabay)

Untuk siapa pun yang tidak mendengarkan laut
Jumat pagi ini, kepada siapa pun yang terkurung
di rumah atau kantor, pabrik atau wanita
atau jalan atau saya atau sel penjara yang keras;
kepadanya saya datang, dan, tanpa berbicara atau melihat,
Saya tiba dan membuka pintu penjara,
dan getaran dimulai, tidak jelas dan mendesak,
sebagian besar guntur mulai bergerak
gemuruh planet dan buih,
sungai parau banjir laut,
bintang bergetar dengan cepat di koronanya,
dan laut berdetak, sekarat dan berlanjut.

Jadi, tertarik oleh takdirku,
Saya tidak henti-hentinya harus mendengarkan dan menyimpan
ratapan laut dalam kesadaran saya,
Saya harus merasakan jatuhnya air keras
dan mengumpulkannya dalam cangkir abadi
sehingga, dimanapun mereka berada di penjara,
dimanapun mereka menderita celaan musim gugur,
Saya mungkin berada di sana dengan gelombang yang menyimpang,
Saya dapat bergerak, melewati jendela,
dan mendengar saya, mata akan melirik ke atas
mengatakan 'Bagaimana saya bisa mencapai laut?'
Dan saya akan menyiarkan, mengatakan apa-apa,
gema berbintang dari gelombang,
pemecahan busa dan pasir apung,
gemeresik penarikan garam,
teriakan abu-abu burung laut di pantai.

Jadi, melalui saya, kebebasan dan laut
akan membuat jawaban mereka ke hati yang tertutup.


*) A minhas obrigações, Pablo Neruda. Sebuah terjemahan Puisi

Untuk yang akan kembali dalam waktu yang lama

By : Harry Ramdhani
untuk yang ditinggalkan

'Anaknya' Gomah yang lain yang terakhir mulai hari ini bakal tinggal di asramah. Kuliah. Momen pas pamit tadi waktu seakan tidak bergerak maju. Semua yang lalu hadir: ingatan dan masasilam. Mereka, ingatan dan masasilam tadi, mencoba menahan untuk sebuah kepergian. Menjadi pahlawan kesiangan untuk menolak semua. Karena kepergian, biar bagaimanapun, selalu melahirkan korban: yang ditinggal dan tertinggal. Tapi waktu, sekali lagi, tidak pernah bergerak mundur: waktu terus tumbuh dan tidak ada yang bisa menahannya maju --meski lamat-lamat kesedihan dan kerelaan yang menetap. Pada momen semacam ini manusia hanya bisa pasrah akan kehendak Tuhan. Adil atau tidak. Menerima atau tidak. Namun begitulah aturan mainnya. Andai manusia bisa meminta, jawabannya hanya satu: jalani.

***

Seminggu lalu 'anaknya' Gomah itu bolak-balik mencari peralatan untuk di asramah. Beberapa sudah didapat dan sebagiannya lainnya belum. Ia datang ke rumah, menanyakan tempat menjual bantal dan guling ke Gomah yang murah. Harga itu relatif, murah atau mahal, namun yang pasti yang murah, tentu saja, selalu kalah nyaman dengan yang mahal. Tapi waktu itu Gomah tidak menjawab. Gomah masuk ke kamar dan keluar dengan membawa dua bantal. Pakai ini saja, katanya, biar tetep bisa ingat rumah. Tidak ada yang bisa diharapkan dari sebuah kepergian selain tetap bisa ingat bagaimana ada orang-orang di masasilam ini akan setia menunggu kepulangan. Ia menirama kedua bantal itu. Duduk di teras dan memeluknya. Entah apa yang dipikirkannya. Entah apa yang tengah dirasakannya.

***

Gomah punya dua anak lain. Yang satu sudah akan lulus kuliah. Satu lainnya yang akan berangkat ini. Yha. Sedari dulu aku ingin punya adik. Sampai akhirnya tetangga ada yang lahiran dan anaknya, keluarga kami anggap seperti anak sendiri. Dan aku seakan punya adik. Begitulah kedua anaknya Gomah yang lain itu. Sedari kecil selalu di rumah. Pulang untuk tidur malam di rumahnya dan paginya sudah main lagi ke rumah. Kedua anaknya Gomah yang lain itupun memanggil Gomah dengan sebutan "Mamah". Seperti jua aku tentu saja. Dan Peang yang terakhir ini. Keduanya tumbuh. Menjadi remaja dan dewasa. Dan Gomah, sampai sekarang, tetap saja menganggap mereka masih kecil. Bila di rumah mereka sedang tidak ada makanan, misalnya, mereka akan datang ke rumah untuk makan. Atau, jika air dingin di kulkas mereka habis dan mereka ingin minum, maka mereka akan datang ke rumah: mengambil gelas dari lemari dan menghabiskan satu botol air dingin sendiri. Tidak ada sekat. Bahkan walau kami berbeda keyakinan. Hidup kami jauh lebih tentram dari apa yang kalian kotak-kotakan. Setiap lebaran Gomah selalu memberi ketupat dan teman-temannya itu. Dan ketika natal, Gomah akan memberi ucapan selamat dan mengamplopinya. Tidak pernah jua kami terganggu jika di rumah mereka sedang latihan atau beribadah dengan menyanyikan puji-pujian. Kami bukan lagi sekadar saudara, lebih dari itu, kami berkeluarga. Dan ketika satu anggota keluarga pergi, tentu saja, anggota keluarga yang lainnya bersedih. Termasuk Gomah dan Gopah dan aku.

***

Sebelum tadi aku berangkat jumatan Gomah memanggilku yang sedang buang air besar. "Dek, lagi pegang uang kes? 50ribu aja," kata Gomah. Sambil sedikit ngeden, aku jawab ada di kantung celana. Ambil saja. Tadinya aku tidak tahu uang itu untuk apa. Toh aku tidak begitu peduli jua. Namun setelah jumatan Gomah bilang kalau uangnya untuk membekali anaknya yang lain itu. Nambahin. Aku bilang, kenapa engga diambil semua aja yang di kantung celana. Seingatku ada seratus ribu. Tapi nanti jua dia balik lagi, kata Gomah, untuk nantinya tidak kembali dalam waktu yang lama.
Tag : ,

Teka Teki

By : Harry Ramdhani
ilustrasi: @kulturtava

kau bertanya kepada aku apa yang sedang ditenun lobster
kaki emasnya?
aku jawab, laut tahu ini.

kau berkata, apa yang ditunggu ascidia secara tembus pandang
bel? apa yang ditunggu?
aku katakan itu menunggu waktu, seperti kau.

kau bertanya kepada aku siapa Alga Macrocystis di pelukannya?
belajar, pelajari, pada jam tertentu, di laut tertentu yang aku tahu.

kau menanyai aku tentang gading jahat dari narwhal,
dan aku membalas dengan menjelaskan
bagaimana kuda laut dengan harpun di dalamnya mati.

kau bertanya tentang bulu burung rajawali,
yang gemetar di mata air murni dari pasang selatan?

atau kau menemukan di dalam kartu pertanyaan baru yang menyentuh
arsitektur kristal
dari anemon laut, dan kau akan menghadapinya sekarang?

kau ingin memahami sifat listrik lautan
duri?
stalaktit berlapis baja yang pecah saat berjalan?
kail pemancing ikan, musik mengulurkan
di tempat yang dalam seperti benang di air?

aku ingin memberi tahu kau bahwa laut tahu ini, bahwa kehidupan di dalamnya
kotak perhiasan
tidak terbatas seperti pasir, tidak mungkin dihitung, murni,
dan di antara waktu anggur berwarna darah telah membuat
daun bunga
keras dan berkilau, membuat ubur-ubur itu penuh dengan cahaya
dan membuka simpulnya, membiarkan benang musiknya jatuh

dari tanduk banyak terbuat dari ibu mutiara yang tak terbatas.
aku bukan apa-apa selain jaring kosong yang telah berjalan di depan
mata manusia, mati dalam kegelapan itu,
jari-jari yang terbiasa dengan segitiga, garis bujur
pada bola mata oranye dari oranye.

aku berjalan seperti kau, menyelidiki
bintang tanpa akhir
dan di jaring aku, pada malam hari, aku terbangun telanjang,

satu-satunya yang tertangkap, seekor ikan terperangkap di dalam angin.


Enigmas, Pablo Neruda. Sebuah terjemahan puisi.

- Copyright © Kangmas Harry - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -