The Pop's

Archive for August 2018

Mari merayakan bengong!

By : Harry Ramdhani
nyang aing bayangkeun tentang gopah!


Bengong itu ibadah. Menikmati bengong itu sama halnya dengan menghargai sepi dan sunyi. Sebab, tak ada yang khidmat, yang membuat lebih dekat, ketika bengong. Bengong itu seperti puisi; tidak cukup dibaca satu kali untuk memahami. Dalam bengong, tentu saja, kita bisa meringkus dengan ringkas atas apa yang dipikirkan, diharapkan, dan kenyataan. Dan bengong, sekali lagi, bisa menjelma apa saja. Kesepian. Keramaian. Kesedihan. Kebahagiaan. Kerinduan. Kegalauan, kalau perlu.

Tak pernah ada cinta yang rapi. 
Rindu membuatnya berantakan lagi.*

Kehidupan ini, barangkali, terlalu cepat. Sehingga yang berubah jauh lebih tampak tinimbang yang berproses atau bertumbuh. Bengong adalah tanda, alarm bagi diri sendiri, untuk sedikit merenungkan --bukan menghentikan, karena konotasinya cukup negatif, mungkin-- semua yang berkejaran dan berlarian. Bengonglah untuk sementara. Sewaktu yang kita punya. Bengong juga tidak perlu diluangkan. Karena bengong bukan tentang lama atau sebentar, tapi bengong, barangkali, adalah soal memahami sejenak apa yang terjadi saat itu.

Haruskah dengan bertengkar, 
kekuatan cinta kita ditakar?*

Laiknya nyala api yang mengeluarkan asap, bengong itu menghasilkan. Jika bukan sesuatu yang berbentuk atau nyata, bengong paling tidak menjernihkan. Ujudnya bahkan bisa menjadi ekstrem: bengong membuat kita menangis. Tidak perlu heran ada mata yang berkaca-kaca ketika bengong. Apalagi sampai menetes di pipi. Sebab dari bengong, adalah cara kita memasuki diri jauh ke dalam. Tempatnya mungkin jauh lebih gelap dari dasar laut terdalam. Dan, buat apa malu untuk menangis? Menangis itu obat yang hanya bisa diramu oleh orang yang sedang sakit itu sendiri. Menangis, paling tidak, menenangkan. Penyair pernah berpesan: airmata tidaklah jatuh untuk hal yang sia-sia.

Jika cinta hanya soal segala hal benar, 
maka mustahil kita bisa sebegini tegar.*

Bengong itu tidak terkotakkan dan terkatakan. Bengong adalah segala hal yang mustahil dirancang-rencanakan. Ketika bengong, selalu hadir hal-hal spontan yang tidak terikat. Bengong  biar bagaimana pun juga adalah pergulatan batin. Dari bengong kita mampu merasa kesepian di antara keramaian, merasa sendiri sampai bayangan pun enggan menemani. Saat ini aku hanya ingin merayakan bengong itu sendiri, seorang diri.


*) Dari puisi-puisi Candra Malik dalam bukunya: Fatwa Rindu 

Tag : ,

- Copyright © Kangmas Harry - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -