The Pop's

Posted by : Harry Ramdhani March 14, 2013

Pertemuan pertama memang tak seindah pertemuan kedua, ketiga, keempat, dst, dsb, dll.

Manusia memang bisa memprediksi tapi, tetap saja, Tuhan yg menghendaki. Kala itu, angin kencang dan hujan yg datang tak lama belakangan mengguyur hampir 3/4 bagian Bogor. Awalnya, sama sekali tidak aada yg menduga akan adanya hujan turun. bahkan, BMKG saja tidak memberitahukan sebelumnya. Mereka asyik bermain 'Mencari Harta Karun Peninggalan Fir'aun' di kantor.

Tidak seperti biasanya, Aku begitu 'getol' untuk mencari penerus-penerus Stand-up Comedian yg berteduh di bawah @StandUp_Unida. Salah seorang teman sempat berkata, "Kalian tuh musti buat kaderisasi di sini (baca: Stand-up Unida) untuk bisa nerusin napas komunitas ini. Jangan asyik sendiri. Jangan asyik belajar sendiri. Pokoknya, gue baru gabung kalo kalian itu 'jelas'." Aku diam saja menyikapi. Pikirku, semua orang akan berbicara hal serupa jika diajak bergabung 'asalkan jelas'.

Setelah lama berlalu, Aku tidak bilang ada benarnya juga tapi, kini dihadapkan masalah serupa seperti temanku pernah katakan. Satu persatu orang keluar, satu persatu orang 'bergelantungan' disini. Manusia organisasi bilang mungkin, "Seleksi Alam" untuk hal seperti ini.

Kadang, hal yg dianggap remeh akan terlihat penting saat dipertemukan secara langsung. Yup, Aku tidak boleh tinggal diam, saatnya berusaha untuk mencari kader-kader baru.

***

Malam minggu, seperti malam-malam biasanya. Jomblo-jomblo ogah di rumah, mereka sibuk berkeliaran mencari pasangan. Orang-orang yg memiliki pasangan biasanya lebih memilih berdua-an di rumah, mungkin biar lebih irit, mungkin akan ada adegan buka-bukaan, Aku tidak tahu. Dan, #OpenMicGedy dari Stand-up Unida. Seperti biasa (juga) komika yg ingin menguji materi dapat dihitung dengan jari satu tangan tapi, penontonnya ada sedikit peningkatan. Dari situlah asal-muasal otak picikku untuk mencari orang-orang yg ingin dijadikan 'kader' demi keberlangsungan Stand-up Unida.

Salah seorang penontong datang menghampiri mejaku. Memang tidak asing, karena Ia adalah salah seorang dari murid Teater binaan Sanggar Teater Lentera. Ia pernah satu kali ikut Open Mic Unida, ya, hanya satu kali diawal terbentuknya Stand-up Unida, selebihnya… tidak pernah lagi.

Tumben malam itu Ia hadir. Tumben Ia hadir bersama teman-temannya. Katanya, Ia ingin belajar Stand-up seperti halnya komika lain. Aku menanggapi secara positive, sebenarnya banyak yg begitu tapi, lagi-lagi tersisihkan oleh alam. Pagar makan tanaman, keinginan untuk belajar dimakan sendiri oleh kesibukan yg membuatnya menenggelamkan keinginan.

Setelah lama berbincang, Aku putuskan untuk mengajaknya Gathering. Sebenarnya kami sudah lama tidak gathering, entah kenapa ? yg jelas Aku menganggap komika Unida sudah mahir membuat materi sampai di atas panggung. Kali ini, Aku saatnya 'gathering yg sebenarnya'. Aku buat gathering dari awal, yaitu membuat materi. Sebenarnya, modal utama untuk menjadi seorang stand-up comedian adalah nyali, bukan membuat materi. Tapi, berhubung komika Unida sudah tidak asing melihat panggung dan nyali mereka sudah ada dan anak baru yg ingin belajar stand-up memiliki background dari teater, sehingga tidak perlu lagi. Pekerjaan beratnya sekarang adalah membuat materi.

*** 


Hujan, mungkin mereka sedang menghangatkan diri di bawah ketiak para penyair. Akhirnya, hanya Aku dan anak teater yg ingin belajar saja yg hadir.

Aku persiapkan materi gathering secara sederhana, rumusnya: Premis - Case - Effect - Solution. Bagiku, ini merupakan hal termudah seorang komika dalam membuat satu set materi.

Premis adalah kalimat yg menyimpulkan. Tanpa perlu tetek-bengek untuk menjelaskan, biasanya seseorang cukup mengeluarkan Premis. Contoh: Indonesia merupakan negeri yg indah. Ini merupakan Premis, tanpa menjelaskan bahwa Indonesia itu indah. Tapi, pemilihan redaksi untuk premis musti tepat, sehingga penonton akan bisa terbawa dalam bit-bit yg mengalir. "Semakin kuat premis, maka semakin bagus pula set-nya."

Case atau kasus adalah kumpulan beragam pertanyaan 'kenapa' pada suatu objek yg ingin dibuat suatu tema. misalnya, seorang komika membuat bit 'alay'. Nah, komika tinggal membuat pertanyaan dengan kata tanya 'kenapa' yg dikaitkan dengan 'alay', seperti "Kenapa alay kalo ngupil sambil manyun ?" "Kenapa alay kalo ke Cafe nyari colokan mulu ?" dan ada berjuta-juta pertanyaan 'kenapa' untuk 'alay' lainnya.

Effect atau Efek adalah jawaban dari Case. Banyak seorang komika menjawab pertanyaan dengan asal-asalan, sehingga membuat penonton tidak akan tertarik mendengarkan komika perform. Bagaimana ingin mendengarkan kalo penonton serasa dibohongi dengan jawaban-jawaban asal 'jeplak'. Berikan jawaban secara faktual, karena ini stand-up comedy bukan pertunjukan sulap. Misalnya, Kenapa alay kalo ke cafe nyari colokan mulu ? mungkin karena Ia tidak pernah bisa lepas untuk foto-foto tiap dateng tempat baru dan di share ke twitter. Itu fakta. Tapi, komika sering membawa imajinasi liar untuk menjawab seperti Kenapa alay kalo ke cafe nyari colokan mulu ? karena idungnya gak bisa buat re-charge. Jelas, ini tidak masuk akal, jawaban asal-asalan akan membuat penonton tidak akan tertarik mendengarkan.

Solution atau solusi adalah opini seorang komika dalam membelokan fakta yg ada dibagian Case. Bagian ini adalah soal kecerdasan komika hingga Ia bisa menghasilkan tawa penonton. Mustinya, kalo Premis sudah kuat, Case yg dihadirkan menarik, dan Effect yg ada memang apa-adanya, maka tidak akan terlalu sulit bagi seorang komika membuat lucu. Dibutuhkan sanse of humor ketika menulis dibagian ini. Ingat, solusi ini adalah opini yg ditawarkan seorang komika, jadi murni pendapat sendiri. Kalau penonton masih tidak (atau belum) tertawa, mungkin opini yg ditawarkan tidak terlalu membuat penonton sepakat. Contoh: Kenapa alay kalo dateng ke Cafe nyari colokan mulu (case)? mungkin, karena doyan photo-photo di sharie ke twitter jadi sering trus batere-nya abis (effect). Nah, inikan aneh, bukannya dateng ke Cafe pesen makanan malah pesen colokan (solusi). Mustinya penonton ketawa, kalo masih hening, dibutuhkan sanse of humor yg tinggi. Atau, bisa jadi seperti ini, "Kenapa alay kalo dateng ke Cafe nyari colokan mulu (case)? mungkin, karena doyan photo-photo di sharie ke twitter jadi sering trus batere-nya abis (effect). Jadi, dateng ke Cafe buat makan bukannya baca do'a malah sibuk photo-photo (solusi). Masih gak ketawa ? bikin sendiri.

Nah, rumus seperti itu akan mendapat turunan menjadi 'Premis -> Set-up -> Punch line'. Set-up itu bagian yg belum lucu, terdiri dari Case dan Effect. Punch line itu bagian yg lucu, hanya solusi. Gampangkan membuat materi stand-up ? Yuuk nulis materi dan uji di Open Mic. Gak usah takut gak lucu, karena takut tuh sama polisi kalo ditilang.

Dateng ke #OpenMicGedy @StandUp_Unida tiap malem minggu di Gedy d'Art Cafe jam 7 malem. Keep Calm for Laugh.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Kangmas Harry - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -