The Pop's

Posted by : Harry Ramdhani April 19, 2014



Tidak ada yang diingat penyair itu selain tubuh kekasihnya yang telanjang di atas ranjang.* Otak kotornya berloncatan seisi ruang dengan suara pantulan yang lantang. Birahinya menjuarai perlombaan menahan nafsu dan pikiran. Tapi, tak satu sentuhan pun penyair berani memoles tubuh kekasihnya yang telanjang.

Libido mendidih di kepala penyair itu. Mukanya memerah seperti puting sapi pasca diperah. Di hadapannya, ada puting yang menyumbul menantang tinggi langit dan kuasa Tuhan. Kekasihnya meliuk, menggerakkan tiap lekuk titik tubuh sensual. Mata penyair itu mulai dibutakan dengan binal.

Tidak adalagi sajak soal rindu, cinta, dan segala macamnya. Birahi penyair mengamuk.

Penyair itu memberanikan diri naik ke atas ranjang. Ke puncak nikmat tertinggi; tempat selangkangan nantinya beradu aksi. Padahal setengah hati penyair itu menolak setubuhi kekasihnya ini. Namun, dinding yang telah dibangun hancur, seperti keringat yang mengucur dan mengumpul di bulu dada penyair.

Lampu yang remang. Pakaian yang entah ke mana dibuang. Sepasang kekasih di atas ranjang tanpa pakaian berhadapan. Keduanya memejamkan mata. Berpelukan; melakukan segala yang menggairahkan. Penyair itu dan kekasihnya saling menerima rangsang yang mengengerang membakar ranjang.

Penyair itu kalut. Kedua kakinya tak lagi bisa gerakkan lutut. Manuver penyair itu berlebihan. Kekasihnya tertidur dengan selangkangan penuh darah yang mengucur. Kelamin penyair itu lari, lepaskan diri dari sangkarnya. Ketakutan. Mencari-cari letak Tuhan 'tuk mengakui segala penyesalan.




Perpustakaan Teras Baca, 15 April 2014
*) Puisi Agus Noor
gambar: dari sini

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Kangmas Harry - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -