The Pop's

Posted by : Harry Ramdhani May 08, 2013

Kaki ini sungguh berat untuk melangkah pergi. Mungkin karena terlalu lama di rumah, --tidak kemana-mana-- hanya berdiam diri. Masih pagi buta, suara ayam masih terdengar mendengkur di dalam sana.

Kali ini, tugasku bukan lagi pemenuh rumah saja tapi menjadi Pengawas Ujian Nasional. Sungguh tugas yang berat. Di Indonesia, pengawas hanya sebuah identitas dan independen adalah slogan yang disepaki oleh semua. Bertugas di sebuah sekolah tingkat atas yang tidak tahu 'apakah masih terlacak GPS?'. Aku sempat iseng mencari di googleMap dan tidak ada. Jawaban yang sama saat orang ingin meminjam uang.

Angkutan umum yang terlihat hanya dipenuhi belanjaan warung, sayur-mayur, dan karyawati para mucikari. Aku menunggu angkutan umum yang sekiranya aman, karena ini masih pagi, karena masih banyak laki-laki hidung belang yang berkeliaran. Dan ingat, ini pagi buta. Ayam saja yang selalu bangun pagi tidak melihat, lalu jika ada apa-apa dengan diriku, mesti teriak minta tolong ke siapa?

***

Perjalanan aman, aku sudah sampai di tujuan dengan tidak ada sama sekali gangguan. Di sekolah, sudah ada beberapa guru yang menyambutku dengan ramah --lebih tepatnya berlebihan-- bak dokter umum yang siap membuka klinik di kampung. Aku tidak tahu mesti bersikap apa, ini masih pagi buta. Tugasku ke sini adalah mengawasi kalian yang menyelenggarakan ujian. Tidak lebih.

Ternyata di daerah tempatku mengawas sama sekali tidak ada yang bisa selesai kuliah. Guru-guru sekolah saja hanya lulusan Sekolah Rakyat. Kepala Sekolah saja hanya lulus sampai SMP. Di sini, mereka diminta mengajar oleh Bupati setempat. Tenaga pengajar yang dibuatkan standar oleh pemerintah pusat terlalu tinggi, terlalu membuat daerah ini bermimpi bisa maju oleh orang-orang bernama panjang oleh gelar. Gelar yang kita tidak tahu bisa didapat dengan cara seperti apa, dimana, dan bagaimana. Bukan urusanku, tapi aku cukup prihatin.

Tiga orang yang ditugaskan untuk mengambil soal di salah satu Rayon yang cukup jauh sudah berangkat. Mestinya aku ikut ke sana, tapi aku baru saja tiba dan istirahat sejenak. Akhirnya aku buatkan memo untuk beberapa guru untuk mengambil soal ke sana. Aku masuk ke ruang Kepala Sekolah, sebenarnya tidak ada bedanya dengan ruang guru, karena masih di satu ruang dan hanya dipisahkan papan sebagai penyekat. Berbincang banyak hal tentang keadaan sekolah. Miris. Mana mungkin satu guru dibebani tugas untuk mengajar empat mata pelajaran. Padahal, di Kota, banyak guru (mungkin lebih baik aku menyebutnya: Pengajar) yang satu minggu hanya kebagian tiga kali mengajar, sisanya mereka hanya absen. Pemerataan adalah akal-akalan orang metropolitan.

Aku bertanya kesiapan untuk Ujian Nasional dan Kepala Sekolah hanya bisa pasrah. Pemerintah sudah seperti Tuhan, orang-orang yang bergantung dengannya dibuat tak berdaya. Pelecehan terhadap dunia pendidikan. Indonesia mestinya tidak seperti sekarang, Indonesia mestinya sudah siap melihat masa depan.

Apa yang mesti aku lakukan? Jika membiarkan mereka nanti nyontek saat ujian, maka aku tak bedanya dengan makhluk kuasa yang Ia anggap dirinya manusia. Padahal lebih cocok disebut Landak.

***

Setengah jam lagi ujian akan dimulai. Aku beserta pengawas kelas dan panitia pelaksana dari sekolah melakukan briefing. Seperti bekal yang aku bawa ke sini sebagai pengawas, maka aku terap juga. Seperti tata tertib ujian, dan lain-lain yang tidak tetulis.

Aku melihat wajah-wajah peserta ujian yang tegang atau lebih tepatnya takut saat waktu hampir menunjukan pukul tujuh. Aku menghampiri seorang sisiwi yang duduk bersimpuh dibawah jendela yang hampir copot dan bisa membahayakan dirinya.

"Sudah siap, kan?" tanyaku seramah mungkin agar tidak semakin membuatnya takut.
"Tenang, kamu pasti bisa mengerjakannya." lanjutku.

Suara velg mobil yang ternyata adalah bel yang digantungkan di pohon mangga dipukul tanda peserta ujian masuk kelas. Suara itu seperti suara terompet tanda kiamat. Siswa berbaris dengan wajah pucat. Pemandangan pendidikan macam apa ini? Tidak ada keriangan yang mencuat, hanya ketakutan yang membuat mereka seakan tidak kuat.

Aku berkeliling setiap ruangan yang hanya ada delapan. Memantau satu demi satu agar tidak ada yang kacau. Walau jujur, dulu aku mendapatkan bocoran selama ujian. Tapi, apa mereka juga dapat?

Ujian berlangsung, suasana sekolah mendadak sepi seperti tak ada pengunjung. Aku memainkan velg mobil yang dijadikan lonceng, dengan sangat pelan tentunya. Di sini aku kesepian, berkeliling ruangan-pun tak bertujuan. Di mushola yang lebih tepat disebut gudang penyimpanan beras, aku lihat ada guru yang sedang berdo'a, ada juga, sih, yang malah tidur. Mungkin guru yang tidur ini sudah percaya atas apa yang Ia lakukan selama ini ke setiap muridnya. Jadi, tidak perlu lagi takut.

Di ruangan lima ada sedikit keributan. Aku lekas menghmapirinya. Ada siswa yang ketauan nyontek. Ia membawa kertas bocoran. Darimana Ia dapatkan?

suasana ruang lima menjadi gaduh karena ulah salah seorang siswa yang malah ketuan mencontek. Laki-laki yang sedikit lusuh ini hanya tertunduk dan menangis di ruang Kepala Sekolah. Aku, pengawas kelas, dan panitia pelaksana berdiskusi untuk tidak membuat keributan semakin memanjang. Pelaksanaan Ujian dilanjutkan. 


Laki-laki itu masih saja menangis dan sampai sesegukan, aku ambilkan Ia teh manis untuknya. Mencoba untuk menenangkan. Aku tahu apa yang Ia pikirkan, merasa masa depannya telah hancur karena tidak lulus Ujian Nasional. Banyak cemoohan pasti yang akan Ia terima, dari tetangga, dari teman-teman sebaya, dari orang-orang yang tega membunuh jiwa dan harapan anak ini.

"Dapat darimana bocoran jawaban?" Ah, aku merasa sudah melemparkan pertanyaan bodoh.

Dia masih diam tidak menjawab. Menggenggam cangkir sudah seperti ingin Ia tekan dan dipecahkan.

"Yasudah, biar nanti coba aku urus, yah. Kamu tenang aja." Ucapku sambil mengusap punggungnya.

Kita semua sepakat untuk tidak membawanya ke Dinas Pendidikan. Dengan catatan, Ia tidak bisa ikut Ujian bersama-sama temannya di ruangan. Tapi di sini, di meja Pengawan Ujian.

***

Ternyata, kasus ini bocor ke Dinas Pendidikan. Ah, dasar dunia pendidikan, bocornya dimana-mana. Coba sekali-kali kau bocori oknum yang suka membuat anggaran pendidikan ini bocor, berani tidak?

Aku dan anak laki-laki itu yang didampingi Kepala Sekolah dan Wali murid tentunya dipanggil ke Dinas Pendidikan. Mungkin kita akan disidang. Aku sudah siap dengan segala keputusan yang akan dijatuhkan kepadaku. Karena aku tahu, adil di Indonesia hanya mitos belaka.

Dengan menggunakan jilbab merah, tanda aku sudah siap untuk bertahan atas semua tuduhan. Atas semua pernyataan konyol yang mengedepankan aturan. Atas tindakan bodoh mereka memanggilku untuk melihat anak laki-laki ini dibilang: Bersalah.

Dihadapan laki-laki tambun, nyaliku tidak akan menciut ke dubun.

"Kamu, sebagai pengawan Independen kenapa malah menyembunyikan kasus ini?" katanya seakan Ia ini hakim.

Kadang aku juga jadi ikut bodoh, apa urusan mereka menghakimi aku. Kalau ini soal aturan, biarkan dibawa ke pengadilan. Mungkin mereka sesekali ingin berurusan dengan wanita cantik. "Aku tidak menyembunyikan, tapi menyelesaikan kasusu ini." Kataku dengan lantang.

"Bukan kewajibanmu menyelesaikan kasus seperti ini. Tugasmu mengawasi ujian."

Tuhan, kenapa negeri ini mesti dikelola oleh orang-orang tolol seperti laki-laki tua berperut tambun ?

"Jika hanya mengawasi, kenapa pemerintah tidak memberdayakan preman pasar, pengangguran saja?" jawabku. "Jelas itu lebih berguna dan aman. Ada kecurangan, tinggal hantam."

Laki-laki tua berperut tambun naik pitam, "Apa maksudmu? Kau sudah dibayar mengawasi."
"Di bayar? mana? Aku belum menerima uang sepeser-pun." Intonasiku sudah sedikit meninggi. "Lantas, apa memang salahnya anak ini? Yaa… memang Ia mempunyai bocoran tapi, Ia sudah dapat ganjaran."

Suasana di ruangan semakin panas, anatara aku dengan laki-laki tua berperut tambun yang kemudian aku tahu namaya: Rasyidun Gofur.

"Dia mencontek. Dia melanggar aturan. Dan dia tidak lulus ujian." kanya Gofur sambil menunjuk-nunjuk Gilang, seorang siswa yang sedang aku bela.
"Mencontek? Dasar bodoh" Aku semakin tidak terkontrol. Berdiri dengan menggebrak meja. "Dia tidak mencontek. Paham?"
"Kau ini sarjana bodoh, yah" Gofur ikut tidak terkontrol. "Jelas-jelas dia mencontek."

Ibu Gilang sambil mengusap tanganku untuk tetap bersabar dan menangis memeluk Gilang yang dari tadi tetunduk. Aku yakin, Ia-pun sedang menangis ditunduknya.

"Bapak Gofur yang memiliki jabatan" kataku, "Mencontek itu melihat pekerjaan temannya yang sama-sama sedang ujian. Sedangkan yang Ia lakukan adalah melihat bocoran. Melihat bocoran bukanlah mencontek." Jilbab yang aku pakai sampai kendor ke sana-ke mari.
"Jika bapak mem-black list nama Gilang, artinya bapak juga telah mencoreng pendidikan di Indonesia. Apa yang dilakukan Gilang juga adalah ulah oknum Dinas Pendidikan." apa yang aku lakukan di dalam ruangan, persis seperti orang berorasi di depan Gedung Kemerdekaan. "Tuduhan bapak tidak diterima. Dan saya, sebagai Tim Pengawas Independen telah menghukumnya."

*** Empat tahun berikutnya ***

Ada sebuah undangan tergeletak di depan pintu rumahku. Undangan pernikahan Gilang, seorang siswa yang dulu pernah aku hukum mengerjakan Ujian di mejaku. Gilang masih mengingatku, bagiku, itu sudah terlampau cukup membuatku bahagia.

Aku dan Suamiku datang ke pesta pernikahannya. Sungguh meriah, Aku bertemu beberapa guru di sekolah tempat aku mengawas. Dan, Gilang, ternyata melanjutkan sekolahnya ke perguruan tinggi sambil berdagang. Ia bertemu jodohnya di bangku kuliah. Kini, Ia telah menjadi orang sukses dan banyak terlibat di Lembaga Sosial untuk mensejahterakan pendidikan.

Dalam setiap butir tangis anak-anak sekolah yang pernah dilecehkan oleh oknum-oknum pejabat pendidikan, terbersit do'a. Air mata itu ditadahi malaikat dan diberikan ke Tuhan. Selebihnya, adalah urusan Tuhan.




Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Kangmas Harry - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -