The Pop's

Posted by : Harry Ramdhani October 07, 2014



Ada pertanyaan yang selalu menghantui saya ketika menulis: kapan tulisan-tulisanmu dijadikan buku?

Bagi saya, membuat buku (fisik) bukanlah perkara mudah. Membuat buku tidak hanya sekedar mengumpulkan semua tulisan, lalu mengkurasi dan menyuntingnya satu per satu. Namun, ada banyak faktor yang mesti saya pertimbangkan, di antaranya: apa ada yang ingin baca?

Saya ingat betul, sekitar tahun 2009, ketika saya mulai menjajakan kaki ke dunia tulis-menulis, Raditya Dika pernah bilang, "harta karun yang paling berharga bagi penulis, adalah pembaca."

Dan, itu yang selalu saya cari selama menulis sampai sekarang. Mencari harta karun itu.

***

Sekarang, entah ada angin yang datang darimana dan seperti apa? Hantu-hantu yang selalu menggangu saya ketika saya menulis itu terlihat. Hantu itu memperlihatkan wujudnya di pikiran saya yang seadng kosong. Lalu saya pun tahbiskan diri untuk membuat buku.

Membuat buku....

Saya tidak lagi ingin pura-pura menjadi pemburu hantu. Kini saya ingin bersahabat dengan hantu-hantu itu. Barangkali, ini juga yang akan saya mulai: berperang melawan segalanya ketika merampungkan buku.

Buku yang sedang saya rampungkan adalah buku kumpulan cerita. Bukan novel. Alasannya sederhana, nafas saya tidaklah sekuat dan sepanjang novelis-novelis ulung di luar sana. Selain itu juga, pengalaman ikut angkat bicara, sekitar tahun 2011 lalu, saya pernah mencoba membuat novel tapi, mesti kandas ditengah jalan karena satu dan lain hal.

Dan, bagi saya, kumpulan cerpen, sekiranya adalah pilihan yang tepat. Saya lebih suka membaca cerpen ketimbang novel. Salah satu buku kumpulan cerpen kesukaan saya adalah buku anggitan Putu Wijaya. KLOP-- meski buku itu kini telah hilang. Membaca cerpen, seperti melihat reruntuhan puing-puing kota yang dibangun kembali.

Buku kumpulan cerpen yang sedang saya rampungkan ini sudah masuk bagian pemetaan. Sebagian telah rampung dan sisanya belum sama sekali. Di buku kumpulan cerpen ini, saya beri judul: 11 Dialog.

Lebih atau kurang, buku kumpulan cerpen ini akan berisi beberapa cerita tentang kerinduan, kebencian, dan didominasi cerita cinta. Juga lain-lain, dan sebagainya.

Dengan membuat buku ini, saya ingin merawat segalanya, tak terkecuali kenangan dan ingatan. Saya ingin memeras keduanya sampai hanya tersisa ektraknya. Sampai tak ada lagi sisa yang menempel di dalamnya. Daeng Khrisna Pabichara pernah bilang, "rawatlah masa lalu, karana suatu saat akan menafkahimu." Dan, barangkali, ini adalah cara saya untuk mendapat penghasilan dari apa yang saya sukai dan cintai.

O ya, ada yang terlupakan. Buku ini saya akan coba kirim ke beberapa penerbit. Kalau pun tidak ada tanggapan, saya akan mencetaknya sendiri.

Semoga buku '11 Dialog' bisa rampung dalam waktu dekat ini. Semoga. Doakan saja.

Demikian sedikit curahan hati saya terkait buku kumpulan cerpen yang sedang saya rampungkan. Barangkali bisa memberi sedikit manfaat. Karena, bagi saya, mentahbiskan diri menjadi penulis sama saja seperti menambang di perut bumi. Penuh ketidakpastian yang tinggi.


NB: Buku kumpulan cerpen '11 Dialog' saya dedikasikan untuk seorang laki-laki yang oleh Tuhan titipkan mukjizat berupa cinta; Galuh Qoary Aurista.


Perpustakaan Teras Baca, 07 Okt 2014
gambar: dari sini

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Kangmas Harry - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -