The Pop's

Posted by : Harry Ramdhani June 01, 2014



Jepretan Uyya'

Pagi tadi, setelah keretamu resmi pergi, aku duduk di peron sendiri. Lalu, ada lelaki tua membawa karung besar dan tongkat runcing dari besi menghampiri.  Rambutnya berantakan.  Sudah ubanan.  Ketika aku tanya, ia diam. Ketika aku beri uang, ia menolak dengan menyembunyikan tangan. Lelaki tua itu kemudian pergi.  Sepertimu yang juga pergi pada pagi yang terlalu dini.

Aku masih duduk-duduk di peron. Lalu, ada lelaki kecil yang membawa bungkusan permen kosong menghampiri.  Di ujung bungkus permen itu dilipat beberapa keluar.  Aku kira pengemis, ternyata bukan.  Tiba-tiba saja duduk di sampingku, kemudian ia diam dalam waktu yang panjang. Tapi, lelaki kecil itu diam-diam meneteskan air mata. Aku tanya, Ia tetap diam. Aku berikan uang, ia malah menyembunyikan tangan. Aku masukan ke bungkus permen, ia buang. Lelaki kecil itu kemudian pergi.  Sepertimu dan lelaki tua tadi yang juga pergi pada pagi yang hampir meninggi.

Baru saja ingin angkat kaki,  ternyata datang wanita tua membawa kain gendongan menghampiri.  Ia tidak diam seperti dua orang sebelumnya tadi. Wanita tua itu menanyakan lelaki tua dan lelaki kecil yang mungkin lewat di sekitaransini.  Aku tunjuk saja ke arah selatan–arah yang sama dengan keretamu pergi. Belum turun lengan kiriku menunjuk, wanita tua itu malah duduk.  Ia tertunduk. Tak lama, ada suara nafas yang beradu.  Wanita tua itu menangis tersedu.  Aku tanyakan ada apa, ia malah diam. Kali ini aku tidak ingin memberinya uang, karena aku tahu, ditinggal orang yang dicintai lebih sedih daripada tidak memiliki uang sama sekali.
 

PerpustakaanTeras Baca, 29 Mei 2014

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Kangmas Harry - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -