The Pop's

Posted by : Harry Ramdhani January 17, 2012

Setiap kita sebut kata FISIKOM, pasti yang terlintas dibenak kita adalah fakultas yang memiliki badan ke-organisasian lebih baik dibanding fakultas lain di Unida. Jelas, karena kalau kita bedah tentang materi perkuliahan tentang suatu organisasi dan manajemen disinilah tempatnya. Belajar tentang berbagai macam jenis teori sistem organisasi, dari hal terekecil samapi yang terbesar, dari kepanitian sampai sistem pemerintahan negara. Belajar tentang reformasi birokrasi atau apalah itu namanya. Pokoknya banyak . .
Tidak hanya itu, disini juga balajar akan ke-politik-an. Belajar tentang bagaimana cara berpolitik yang baik dan benar sampai menjalankan suatu aspirasi menjadi kebijakan atau-pun keputusan yang adil. Itu baru dari ke-administrasian semata. Ada lagi, komunikasi. Dari komunikasi yang sering kita lakukan sampai komunikasi dalam sebuah organisasi. Masih saja komunikasi kita blakacadut.
Tapi, yang jadi pertanyaan adalah kemana ilmu yang kita dapat . . ?? adakah tindakan nyata dari semua ilmu . . ?? menghilang ketika keluar kelas atau para ahli yang mengajarkan mahasiswa tidak terjun langsung untuk mempraktekan apa yang telah diajarkan. jadi bukan hanya makalah yang diambil dari sang jenius dunia maya, sering kita menebutnya Mbah Google.
Eumm *mikir* . .
Coba kita telaah dan pilah-pilah semua dari satu kasus. Tentu tidak memakai metode keilmuan terlebih dahulu, karena dalam buku Logika Sientifika mengatakan seperti ini “Jadi kita lebih dahulu hendak mengadakan teorisasi. Tetapi teorisasi tersebut tidak untuk penerapan juga. Dan untuk sanggup berpikir dengan baik proses penerapan tadi harus kontinu, diwujudkan dalam setiap aktivitas kita yang sedang berpikir.—Drs. W. Poespoprodjo, L.Ph.,S.S”.
Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas(BEM-F), kita pakai contoh yang sangat sederhana. Kenapa kita pakai badan organisasi ini dalam study kasus . . ?? karena ini bisa dibilang badan organisasi yang sagat dekat baik antar mahasiswa atau penyampai aspirasi kepada para Dekanat. BEM-F berada ditengah-tengah ini untuk menjalankan segala Civitas Akademika.
Sebelum kita jauh membicarakan ini, maka alangkah baiknya kita flashback dahulu tentang BEM-F. jadi dulu itu BEM-Fisikom mempunyai taring yang tajam dalam berbagai kegiatan. Lebih tepatnya tahun 2006, dulu ketua BEM-Fisikom sempat melaju dalam tingkat yang lebih tinggi, yaitu menjadi Presiden Mahasiswa Universitas Djuanda. Tidak hanya sampai disana, bahkan prestasi yang ditorehkan sampai pada puncaknya adalah menjadi Koordinator BEM seluruh Kota Bogor. Ini bukanlah prestasi yang biasa tapi luar biasa. Dimana kita bisa lihat seorang mahasiswa merintis dari yang terendah sampai yang tertinggi, fantastic.
Lalu, kemasa jabatan berikutnya. BEM-Fisikom mendapat sedikit kutukan yang entah dari mana datangnya yaitu terjadi krisis kepemimpinan. Memang ada pengurusnya, tapi hanya sebagai formalitas belaka. Bisa dibilang seperti itu karena memang sama sekali tiidak merasakan adanya kinerja BEM-Fisikom sendiri. Dimana mereka. . ?? kemana pengurusnya . . ?? mungkin mereka sibuk akan perkuliahan. Sampai mading-pun isinya masih tertanggal 2005. Out of date.
Menyambung ke masa jabatan berikutnya, masih juga sama yang terjadi. Kalian tahu, pada masa pergeseran jabatan-pun sempat terjadi sedikit konflik. Tetapi masih bisa diatasi. Begitu semerawut kondisi saat itu, pencarian calon ketua BEM-F dilakukan seperti iklan lowongan pekerjaan. Seperti ini tulisannya “Dibutuhkan segera calon ketua BEM-Fisikom baru periode 2011-2012”. Penyakit krisis kepemimpinan yang sudah kronis.
Perjalanan yang sangat cepat dan sangat tidak terasa sudah akan sampai pada akhir masa jabatan. Dan lagi-lagi hasilnya sama seperti pengurus yang lalu.
Apa yang terjadi disini . . ??
Dari sedikit ringkasan sejarah BEM-Fisikom, mungkin bisa ditarik benang merah. Sebenarnya, bukanlah krisis kepemimpinan tetapi mungkin ada yang tidak singkron antara mahasiswa dengan BEM-F, antara BEM-F dengan Dekanat. Semua terlihat berjalan masing-masing. Buta organisasi kah . . ?? nampaknya tidak, karena ilmu sudah kita dapat di kelas. Miss Komunisasi . . ?? sama sekali tidak ada, bahkan bisa dibilang tidak ada komunikasi disini. Semua diam, semua membisu seketika secara serempak.
Apapun yang dilakukan oleh BEM-F seakan sebagai kontribusi sosial guna memajukan fakultas. Kegiatan rutin BEM-F hanya sebatas menjalankan tradisi yaitu Sarasehan. Lalu, memang apa yang didapat dari para pengurus BEM-F, saya rasa tidak ada. Pengalaman dalam berorganisasi .. ?? sangatlah menggelikan alasannya dan itu nampaknya dimanfaatkan betul. Sebuah kegiatan yang semata ingin melakukan sebuah kontribusi baik untuk fakultas sendiri menjadi ajang perpolitikan yang tepat, sama seperti masalah konflik di Freeport tanah papua yang memiliki sumber daya alam emas yang sangat tinggi tetapi yang menikmati adalah sekelompok orang dan yang bekerja keras dilapangan hanya mendapatkan sedikit hasil.
Lucu memang *ketawa sambil megangin perut* . .
Andrea Hirata penah menulis ini dalam buku tetralogi Laskar Pelangi “Di negeri ini, para pemimpi yang telah melakukan kontribusi adalah para pemberani. Mereka kesatria di tanah nan tak peduli. Dan medali harus dikalungkan di leher mereka”. Bayangkan, sebuah medali.
Kita tidak bisa hanya menuntut saja, tapi kita harus melakukan suatu perubahan. Perubahan yang harus diwujudkan dari sebuah solusi. Atau lebih ringkasnya, kita harus mempunyai mentalitas merealisasikan ide menjadi tindakan nyata. Bisa kalian bayangkan, disini orang yang telah melakukan sesuatu sama sekali dianggap nol.
Hal nyata, mahasiswa yang belum sempat membayar sepenuhnya SPP tapi tidak bisa mengikuti ujian. Ujian memang penting, hampir sama seperti UAN ketika sekolah dulu. Kalau kita tidak ikut maka kita tidak lulus. Yang jadi pertanyaan adalah sudah efektifkan sistem seperti UAN itu . . ?? kelulusan hanya ditimbang dari 1 minggu ujian, lalu dikamanakan masa pertemuan tatap muka . . ?? dikemanakan nilai tugas . . ?? kalau memang 1 minggu itu saja yang jadi pertimbangan. Kalau memang begitu, lebih baik langsung aja ikut ujian saja. Tidak perlu repot bolak-balik dateng ke kampus. Tinggal duduk manis dikelas mengerjakan soal.
Nampaknya ada yang salah disini . . ?? ada 2 kemungkinan jawaban untuk itu, sistemnya yang salah atau orang menjalankan sistem itu yang salah . .
Kalau kita analogi-kan, sama seperti orang yang berlangganan koran. Namanya berlanggan pasti bayarnya belakangan, tapi untuk apa beli koran hanya dapat kabar buruk doang . . ?? isi beritanya pembunuhan, kebakaran, korupsi, lalu pemerkosaan, engga mampu bayar sekolah lalu bunuh diri. Masa uang kita kebuang untuk kabar seperti ini.
Pandji Pragiwaksono bilang seperti ini “80% uang negara pasti dihasilkan atau dinikmati oleh 20% orang artinya yang miskin akan terus miskin. Di Indonesia katanya kurang banyak orang mampu. Padahal yang benar adalah orang mampu kurang mampu memberi, dan kalau kita mau beramal tidak hanya setahun sekali, bukannya nanti yang senang bukan hanya kita sendiri”.
Salahkah saya menulis seperti ini . . ?? kasarkah saya menulis seperti ini . . ?? saya rasa dan dapat saya pastikan adalah TIDAK. Di alam demokrasi seperti sekarang, hal seperti ini sah untuk dilakukan. Disini rumah kita, tanah yang merdeka. (HR)

{ 1 comments... read them below or add one }

  1. eumm si kk bisanya nulis aja ngelakuinnya juga ga mau kaaaaan ahahahaha :D
    ^^v

    ReplyDelete

- Copyright © Kangmas Harry - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -