The Pop's

Kisah buat L

By : Harry Ramdhani



1/
Pada peron menuju Tanah Abang di suatu malam, saya menunggu kereta pulang. Dari kejauhan yang terlihat hanya satu lampu merah menyala. Seperti mata iblis yang mengintip. Sama sekali tak mengedip. Begitu juga pada ujung lainnya. Entah sekarang sudah pukul berapa, sebab telepon genggam tidak saya atur jam dan tanggalnya; dari situlah saya tahu, waktu tidak mengelilingi dirinya sendiri, ia diam, sampai akhirnya tidak akan ada masa lalu dan yang akan datang.

Saat itu stasiun tidak sepi. Banyak pekerja bangunan yang sedang menyelesaikan pembangunan stasiun, tiga petugas keamanan, dan penumpang lainnya yang menunggu kereta di peron seberang. Tapi di peron ke Tanah Abang, hanya saya, sendirian. 

Tak lama terdengar pemberitahuan kereta barang sebentar lagi akan melintas dari arah selatan. Lalu suara klakson kereta barang itu, dari kejauhan, sudah dibunyikan. Sangat keras. Kereta itu membawa gulungan plat dalam ukuran-ukuran yang besar. Sebesar beton untuk membuat gorong-gorong jalan. Entah berapa banyak, 11 lebih barangkali. Dengan kecepatan tinggi, kereta barang itu melintas. Debu-debu berterbangan. Menyesakkan dada dan memerahkan mata.

Koran yang terlipat dua bangku dari tempat saya duduk terajatuh. Pada halaman pertama terpampang foto Presiden yang menyalami menterinya di bandara Soekarno-Hatta. Mereka berbaris menunggu giliran bersalaman. Kepulangan Presiden dari luar negeri dijadikan sajian utama, seakan itu adalah kejadian langka. Bukankah itu yang selalu dilakukan Presiden? Kunjungan ke luar negeri untuk membanding-bandingkan negerinya dengan negeri lainnya.

Sepertinya sekarang pukul sembilan lewat. Saya tahu itu dari bapak-bapak yang baru saja datang sambil menonton acara talk show dari televisi di telepon pintarnya itu. Semestinya kereta akan tiba sebentar lagi. Tapi, sampai sekarang, belum ada pemberitahuan kereta itu sudah di stasiun mana atau berangkat dari stasiun mana.

Di peron seberang orang-orang semakin banyak saja yang menunggu kereta dari Tanah Abang. Satu persatu berdatangan. Pegawai-pegawai kantoran, mahasiswa yang baru selesai kuliah –atau, mungkin habis senang-senang. Namun, di antara mereka, yang digunakan hampir semua sama: memasang head-set di telinga. Barangkali dengan mendengarkan lagu, adalah cara terbaik menunggu. 

Stasiun ini jauh dari kata layak. Mungkin karena ada pembangunan, sehingga menggunakan masker merupakan pilihan tepat. Seperti saat ini, misalnya, debu dan oksigen yang dihirup jumlahnya seimbang. Bapak-bapak yang tadi sedang menonton mulai memasang masker. Suatu hal yang wajar untuk siapapun bila ingin menjaga kesehatannya. Tapi saya tidak suka menggunakan masker, karena sering tercampur air liur yang tiba-tiba keluar begitu saja. Air liur itu menempel dan kering di bagian dalam masker. Bau. Bagi saya, lebih baik mati terkena asma daripada mencium bau liur sendiri.

2/
Desember. Tapi hujan tidak juga kunjung datang. Malah, sesekali kesedihan yang mengurung setiap malam. Kesedihan tanpa hujan, seperti puisi tanpa kopi. Atau sebaliknya barangkali. Seperti malam ini, rasa-rasanya sedih suka sekali menghampiri. Kesedihan memang seperti kamu, juga waktu; yang kadang tidak pernah tepat. 

3/
Dihisapnya rokok itu dalam-dalam. Dibuatnya tiga lingkaran dari asap rokok itu. Melayang-layang hingga asap itu hilang. Malam itu tak ada yang lebih nikmat dari merokok satu batang rokok kretek setelah hujan. Ia tidak mempedulikan dagangannya yang baru laku beberapa, karena kenikmatan tidak bisa dibandingkan –sekalipun itu– dengan uang. 

Kopi itu tidak diaduk. Ampasnya mengapung di permukaan dan mengendap di dasar gelas. Dibiarkan sampai kopi itu benar-benar larut dengan air panas. Dari hitam pekat kopi itu, tercium aroma robusta yang khas dan laten di hidung. Dengan sabar ia menunggu kopi itu larut sampai nantinya bisa diaduk. Itulah ritual-ritual yang ia selaulu lakukan untuk meminum kopi: menunggu.

4/
Siapa tahu langit malam ialah selimut paling hangat?

Angin yang sepoy menggiring kereta menuju Tanah Abang. Dari arah selatan stasiun Palmerah, kereta itu seperti kuda yang ditunggangi pangeran. Muncul dari kegelapan dengan pelan hingga datang. Saya ajak bapak-bapak tadi untuk ikut, tapi ia menggelengkan kepala. Di peron ini ia hanya numpang duduk, di peron seberang sudah tidak ada tempat duduk yang kosong. 

Satu langkah kaki saya berarti satu langkah untuk meninggalkan. Tak apa, mungkin saya akan lanjutkan menuggu di stasiun Tanah Abang saja. Kereta itu pun sepi. Satu gerbong barangkali masih bisa dihitung dengan jari. Saya memilih di tempat duduk prioritas. Dengan memeluk tas. Orang-orang yang satu gerbong dengan saya sama saja seperti orang-orang yang ada di stasiun tadi: memakai head-set semua. Barangkali dengan mendengar lagu, adalah cara terbaik menamani kantuk mereka yang menggebu.

Sialnya hari itu saya lupa membawa buku. Setidaknya dengan membaca saya bisa sesibuk mereka itu; yang mendengarkan lagu. Sambil memeluk tas, saya longok keluar jendela. Sungguh, seperti penggalau saja. Mencari bulan dan bintang di langit yang benderang. Meski tidak terlihat jelas, yang pasti, bulan akan selalu mengikuti ke manapun saya pergi. 

Langit malam itu seperti segalas kopi, membuat saya merasa hangat ketika di sisi. 

5/
Sepuluh menit sebelum pukul sepuluh tepat. Saya sudah sampai di stasiun Tanah Abang tepat di bawah jam besar yang digantungkan. Kereta barang yang tadi membawa gulungan besi itu terparkir di jalur lima dam saya di jalur tiga. Peron untuk ke Bogor, yang selalu saya naiki sampai Depok saja.

Dari arah utara kereta lokomotif datang di jalur satu. Suaranya bising. Nampaknya suara itu bukan berasal dari mesin, melainkan para pemain Marching Band. Saat melintas di belakang saya, peron pun berasa bergetar. 

Di sini tidaklah sepi.  Banyak karyawan kantoran yang mau pulang, dan beberapa bencong yang berangkat entah ke mana demi mencari sesuap nasi. Tapi, tetap saja saya merasa sendiri. Andai salah satu dari bencong itu yang ada menghampiri, entah dengan tujuan apa, meski ingin menemani, saya akan lari. Bukan karena jijik atau apa, tapi karena saya laki-laki dan melihat laki-laki bertingkah seperti perempuan bikin bulu kuduk saya berdiri. Ibarat melihat setan.

Kini kereta lokomotif datang dari arah selatan di jalur dua. Kereta itu membawa banyak sekali air galon yang baru diisi. Berjalan dengan pelan, seperti sedang merangkak. Mungkin karena galon-galon itu berat. Namun saya jadi tahu, artinya akan datang kereta yang hanya sampai stasiun Manggarai dan berikutnya ke Depok.
Waktu adalah tanda. Kita bisa tahu itu masa lalu karena tanda-tanda. Tanda-tanda itu kita artikan sendiri berdasarkan pengalaman dan pengetahuan. Dan kita biasanya menyebut itu kenangan. Setiap waktu akan meninggalkan tanda. Tandai tanda itu sebagai pengingat waktu, setidaknya akan membantu di masa yang akan datang.

Waktu adalah ingatan. Ingatan itu abadi. Saya percaya itu. Ketika saya percaya, saya tidak akan pernah berhenti bermain dengan waktu. Saya tidak akan takut menjumpai ingatan, walau kadang menyakitkan.
Waktu adalah cinta. Tak ada habisnya. Tak akan berhenti. Berputar mengikuti ke mana cinta itu pergi. Memaknai setiap putarannya, meski cinta kadang meninggalkan noda serupa luka. 

Sepuluh lewat sepuluh. Dari arah utara kereta dengan tujuan akhir Depok datang. Saya berdiri satu langkah di depan garis aman yang berwarna kuning itu. Biarlah, karena yang ditunggu tidak jadi datang. Barangkali kereta itu kereta jenazah yang akan membawa jasad saya. Kalaupun saya tidak bisa bertemu denganmu, paling tidak kedatangan kereta ini akan mempertemukan saya dengan maut.




2010 – 2014
Tag : ,

#TerimakasihHilbram - Motion Radio

By : Harry Ramdhani

Saya masih ingat kali pertama diajak on air di Motion Radio 97.5 FM. Malam itu, di program #ULALA975 (Kumpulan Lagu Lama), topik yang dibahas itu tentang pertandingan pembuka Liga Champions Eropa. Dengan asal saya langsung mention @MOTION975FM, “sepak bola itu Arsenal, yang lain cuma tim-tim bola pantai dll dst dsb.” Tak lama setelah itu, pihak Motion Radio mengirim DM untuk meminta nomor telepon. Saya sangat tahu, kalau sudah diminta kontaknya berarti saya akan ditelepon dan ditanya secara on air. Namun, karena saya twitter-an menggunakan gadget jadul dan hanya suport writelonger, sehingga tidak ada –tanda atau simbol apapun– untuk pemberitahuan. Sampai 10 atau 15 menit barangkali, sebelum akhir siaran selesai. Lumayan, meski tidak bisa jadi penyiar di sana, yang penting suara saya sempat mengudara.
Malam itu yang sedang siaran adalah Vickie Lontoh. Sebelum on air – akhirnya saya tahu proses orang-orang sebelum itu – kita terlebih dulu janjian. Katanya, “nanti gue bakal tanya-tanya soal yang Liga Champions, dan lu jawab aja yang tadi di Twitter. Oke?”

Lagu Song For Mama mengudara. Lalu jeda iklan beberapa. Selama menunggu saatnya on air, saya berbincang sedikit dengan Viclon (nama panggilan Vickie Lontoh). 

“Jadi udah berapa lama dengerin Motion?” tanya Vicklon.

“Duh, berapa lama, ya, yang pasti dari awal-awal masuk kuliah, lha.”

“Emang kapan lu masuk kuliah?”

“Taun 2009-an atau ya, gak jauh dari itulah. Dan belum lulus.” jawab saya sambil ingin tertawa atau bersedih setelah mengucapkan itu.

“Wuah lama juga, dong,”

“apanya?”

“Dengerin Motion-nya, kok. Tenang.” Vicklon ketawa dari ujung telepon, “berarti udah berapa kali menang kuis?”

“Boro-boro menang, gue cuma ikut-ikut doang,”

“Aduh, sabar, deh, kalo gitu. Jangan bosen tapi ikutan kuis, siapa tahu nanti lu menang,”

“ho’oh, lagi pula gue dengerin Motion Radio gak melulu pengen menang kuis juga, sih,”

“oke, abis iklan ini kita langsung on air, ya, sekaligus closing,”

“okley! Tapi nanti akun twitter gue gak usah di tweet, yak, pas on air, lu tau sendiri, fanatiknya orang sini sama tim bola. Takutnya gue di-bully sama Motioners yang lagi dengerin,”

“Sip!”

***

DI RUMAH saya, radio, adalah satu-satunya barang elektronik paling berharga. Radio bukan semata barang elektronik biasa, tapi sudah seperti anggota keluarga. Ketika kami sekeluarga pergi, pasti radio tetap dinyalakan. Ketika saya susah dibangunkan, pasti Ibu saya menyalakan radio, dan dengan seketika saya bangun. Ketika dulu televisi di rumah saya rusak dan kondisi ekonomi keluarga kami sedang tidak baik (atau, sampai sekarang mungkin) untuk sekedar membetulkan, radio yang menemani setiap hari. Ketika malam hari Ibu saya sedang membuat kue untuk paginya dijual di warung sayur dekat rumah, radio seperti teman bicaranya. Dan, ketika saya tidak bisa tidur, lalu tidak ada yang mendongengkan, saya menyalakan radio – sialnya itu terbawa sampai sekarang, saya baru bisa tidur kalau sekeliling banyak yang bicara, seperti penyiar radio.

Pertemuan saya dengan Motion Radio hampir sama dengan pertemuan kekasih yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Ketidak-sengajaan. Saat saya sedang memutar-mutar tuning, mencari frekuensi radio yang tidak kresek-kresek, tiba-tiba terdengar suara Dagienkz. Suaranya sangat khas, karena dulu saya selalu mendengarnya siaran paginya ketika SMA dengan Desta. Aha! Akhirnya bisa dengerin dia siaran lagi. Dia itu penyiar terlucu yang pernah ada. 

Dari sanalah saya kenal penyiar-penyiar kondang seperti Miund – yang menjadi partner siaran Dagienkz – pada pagi hari. Dia pun tak kalah lucu. Pokoknya setiap pagi, sebelum berangkat kuliah, saya dibuat ketawa terus oleh mereka. Sorenya, ada Artasya Sudirman dan Hilbram Dunar. Dan, dari mereka berdua saya belajar tentang cinta dan dengan lepas menertawakannya.

Mendengarkan radio, bagi saya, seperti sebuh kebutuhan. Entah di ruang tunggu kampus, di ruang sekretariat fakultas, di Perpusrtakaan Teras Baca (perpustakaan umum yang saya buat bersama teman-teman saya) pasti saya menyalakan radio. Setidaknya dengan radio, kita bisa meredam ego masing-masing terhadap lagu atau jenis musik yang satu dengan yang lainnya berbeda. Bahkan, yang paling ekstrim, kalau Motion Radio topiknya sedang asyik beraaaat!! (Dagienkz suka sekali mengucapkan itu, “asyik beraaaaat!!”), saya tidak masuk kuliah. Dan pada saat yang bersamaan saya juga belum mengerjakan tugas. Cucok sudah!

***

Ah, siaran radio tanpa membahas cinta-cintaan serasa ada yang kurang, bukan?

Di Motion Radio, Hilbram Dunar rajanya. Barangkali dia terlalu banyak bertemu Om Mario Teguh sehingga begitu. Entahlah. Hilbram paling bisa membuat ‘cinta’ sebagai subyek, bukan obyek. Cinta tidak hanya dimainkan, tapi memainkan. Di mana ada Hilbram, entah siapa partner siarannya, selalu cinta yang menjadi suguhan utama. Yang membuat saya salut, Hilbram tidak cuma membicarakan ‘cinta’, namun juga menuliskannya menjadi dua buku kumcer. Sejak di Motion Radio, ia telah membuat dua buku: Plastic Heaven dan Main Hati. Saya punya keduanya dan saya hibahkan untuk Perpustakaan Teras Baca. Kedua buku itu yang paling suka dibaca.

Puncaknya, setiap hari rabu, bersama Miund membuat program #GuRih (Lagu Perih – lagu nyaman yang membuat hati tidak aman). Lagunya perih, topiknya pun tak kalah perih. Pernah satu waktu, Hilbram dan Miund menanyakan pada Motioners alasan menikah selain karena cinta. What a question?
Setiap rabu saya tidak pernah menjawab apa yang ditanyakan mereka. Pertama. Saya sibuk tertawa mendengar atau membaca jawaban Motioners yang pada nyeleneh. Kedua. Saya tidak terlalu expert dibidang percintaan; pacaran saja belum pernah. Tapi, saya bahagia bisa menertawakan dan merenung soal cinta dari Hilbram dan Miund.

*** 

Akhir tahun 2011 atau awal tahun 2012, saya lupa tepatnya, Dagienkz tidak lagi siaran di Motion Radio. Tapi, setiap mendengar #Wayang975FM, semua akan tahu kalau masih ada keberadaannya di sana. Tak lama, sebelum Artasya Sudirman melahirkan, ia pun mengikuti jejak Dagienkz. Dari kepergian mereka, seperti yang Hilbram ibaratkan di buku Main Hati, “Walau aku tahu bahwa segala sesuatu yang enak sekali pada hakikatnya hanya terjadi sekali-kali atau bahkan satu kali. (Check-Out)”. Tidak ada yang abadi, karena hanya ketidak-abadian itulah satu-satunya yang abadi. Barangkali. Saat itulah selama Hilbam dan Miund siaran, yang saya cemaskan dari dulu adalah siapa selanjutnya?

And than… Hilbram.

Entah, seketika saya tidak tahu ingin nge-tweet apa saat tahu kabar itu melintas di timeline. Sedih? Sudah pasti. Kadang kesedihan memang sulit dituliskan, tapi suatu ucapan terimakasih layak disematkan buat Hilbram; atas segalanya yang telah ia lakukan di Motion Radio. Sampai dua buku Kumcernya seakan yang membimbing saya dalam hal menulis apapun tentang cinta. 

Motion Radio seakan menjadi saluran untuk Hilbram menguji kisah-kisah cintanya yang kelak akan ditulis di bukunya. Dari semua tulisan saya tentang cinta – baik yang sudah saya tayangkan di blog atau e-book – itu seiring perjalanan saya menjelajahi buku-buku Hilbram itu sendiri. 

biarkan tetap gelap…
aku belum mau kehilangannya
biarkan tetap gelap…
supaya bisa kudekap erat tubuhnya
sambil kunikmati wajah yang tenang terlelap
jangan dulu terbit matahari…
aku belum mau ditinggal pergi
jangan dulu terbit matahari…
supaya bisa kukecup keningnya lalu hadir di hatinya
walau hanya dalam mimpi
– (Plastik Heaven, Gelap, hal 5)


#TerimakasihHilbram #HilbramMiundLastDay
Palmerah Barat, Gd. Kompas Gramedia Lt. 06, 18 Desember 2014

Kencan

By : Harry Ramdhani



Beberapa hari yang lalu, 11 atau 12 hari barangkali, saya berkencan dengan Ingatan. Malam itu adalah malam yang tak akan saya lupakan. Sama halnya seperti ingatan dan kenangan yang saling bergandengan tangan.

Ingatan menghubungi saya selepas makan siang. Lewat khayalan tentunya. Dari telepon genggam saya yang biasanya sepi itu, pada layarnya berkedip cahaya yang berganti-ganti warna seperti pelangi. Ingatan mengirim pesan singkat, “malam ini kencan, yuk?” Tanpa pikir panjang dan menghiraukan kesempatan yang barangkali akan datang untuk yang kesekian, langsung saja saya iya-kan. Karena, kesempatan, seperti yang kalian tahu, hanya untuk orang-orang yang senang menunda-nunda kebahagiaan. Saya tidak ingin membiarkannya.

Hari itu malam terasa begitu lama datang. Matahari bergerak lebih lambat dari siput di pelopah pisang. Jika pada langit itu awannya bisa saya bentukkan, pasti seperti ada yang menahan lajunya. Atau, barangkali para penghuni langit tahu kalau malam iini saya akan kencan dengan Ingatan.

Selama menunggu malam datang, saya menyibukkan diri dengan memilih dan memilah sekiranya baju mana yang pantas saya pakai untuk kencan. Saya ambil beberapa sebagai pilihan: kemeja kotak-kotak biru, kaos bola Jepang yang juga berwarna biru, dan batik Jogja yang sudah luntur motifnya; asal kalian tahu, Ingatan sangat suka batik itu dulu. Di atas ranjang saya jajarkan baju-baju itu. Satu persatu saya kenakan gantian sambil bercermin. Tapi dari pantulan cermin itu yang terlihat ialah laki-laki yag sama sekali tidak saya kenali.

Apakah ini kencan yang tabu? Kata saya pada bayangan di cermin itu. Tersenyum pun seperti bunga yang telah layu, wajahnya tampak sangat kusam, dan yang terpenting tidak ada kebahagiaan yang mencuat dari dalam dirinya. Siapa sebenarnya kamu?

Entah, nampaknya ada yang dengan sendirinya mengendalikan tangan saya waktu itu. Sebuah parfum saya lempar ke cermin itu hingga cermin pecah. Di sekitaran itu pecahan cermin berserakan. Samakin banyak pecahan, semakin banyak pantulan bayangan saya –yang sama sekali tidak mirip itu. Karena merasa terganggu dengan bayangan-bayangan itu, saya tendang saja secara asal pecahannya. Lalu ada beberapa potongan cermin yang menusuk kaki saya. Sakit sekali. Darah yang keluar cukup banyak.

Saya tekan luka itu dengan kuat supaya darah kotornya keluar. Pelan-pelan saya coba ambil potongan pecahan cermin itu dari kaki. “Aaakkkkkkkk!!!” saya bantingkan tubuh ke ranjang sambil menjerit kesakitan. Menunggu tidaklah seindah kisah-kisah roman, dibuatnya saya pada titik ketidaksadaran. Dan waktu, adalah senjata tajam paling kejam.

Saya longok jam dinding, jarum pendeknya baru menyentuh angka tiga. Barangkali dengan tidur bisa mempercepat waktu berlalu begitu saja.

Layar telepon genggam kembali berkedip. Ada pesan masuk dari Ingatan. Mata saya tidak jadi terpejam.

“Nanti jadi kencan, kan? Di tempat biasa, ya. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu. See you!”

Ah, karena pesan itu, rasa-rasanya ingin sekali saya tarik omongan saya tentang menunggu tadi. Menunggu memang selalu bisa memberi sensasi yang tiada henti. Baru ingin saya balas pesannya, tapi telepon genggam saya keburu mati. Saya biarkan saja pesan itu, toh, tanpa mesti membalas pesannya, saya pasti datang menemuinya. Kencan dengan Ingatan adalah satu mimpi saya yang jadi kenyataan. Apa lagi, nanti, tempat kita kencan merupakan tempat yang dulu pernah menyimpan banyak kenangan. Cepatlah datang malam!!

Dalam bayangan saya, kencan dengan Ingatan akan meninggalkan kesan yang dalam. Pertama, dulu, dengan Ingatan, saya sama sekali tindak pernah kencan malam-malam. Kita selalu bertemu setiap pagi atau siang, dan berpisah sebelum maghrib tiba. Kedua, Ingatan datang pada waktu yang tepat untuk mengajak saya kencan, karena satu hari sebelumnya saya memimpikannya. Di mimpi itu Ingatan cantik sekali dengan rambut yang kini telah jauh lebih panjang. Ia tahu kalau saya suka perempuan yang rambutnya panjang dan dikuncir satu. Dan, di dalam mimpi, Inagatan melakukan itu.

Hhhuuu…

Apa kalian pernah dengar cerita tentang seorang nenek-nenek yang setiap harinya dihabisi dengan memberi makan anakn anjing kampung yang liar? Sewaktu saya kecil, sebelum tidur, saya selalu didonggengkan itu oleh Ibu. Entah benar atau tidak cerita itu, tapi dulu saya suka-suka saja mendengarkannya. Ibu adalah pendongeng kelas wahid! Jempolan!

Secara tiba-tiba cerita itu melintas begitu saja.

Di sebuah kampung yang tidak begitu padat penduduknya itu, ada seorang nenek yang satu-satunya di kampung itu telah menyandang gelar Hajah (sebutan untuk wanita yang sudah menunaikan ibadah Haji). Di sana, nenek itu juga seorang Ulama dan sering mengisi ceramah di setiap pengajian dan hari-hari besar Islam. Namun, pada satu kejadian yang nampaknya lumrah-lumrah saja itu, ia tidak lagi dipercaya oleh warga. Sehingga ia tidak lagi berceramah; buat apa ceramah kalau tidak ada yang percaya?

Musababnya, ada salah satu penduduk kampung yang melihat nenek itu memberi makan anak anjing kampung yang liar. Tidak hanya sekali, tapi berkali-kali. Berhari-hari.

Memberi makan yang lapar, baginya, adalah sebuah kewajiban setiap muslim. Kepada siapa dan apapun bentuknya itu. Seiman atau bukan. Kepada yang dianggap halal atau haram. Nenek itu selalu memberi anak anjing kampung liar itu makan.

“Saya berjanji di hadapan Tuhan,  nenek itu memberi makan anjing,” kata salah seorang warga yang melihatnya, “ia memberi makan pada anjing itu siang dan malam. Bayangkan, hanya untuk seekor binatang yang haram!!!”

“Nenek itu sudah menyimpang dari Syari’at!” kata yang lain.

“Ya, jadi selama ini kita telah ditipu oleh semua yang telah ia ajarkan. Nenek itu sesat!” dan yang lainpun jadi ikut-ikutan.

“Bunuh saja!!!”

“Bakar ia hidup-hidup!!!”

Kebencian mudah sekali menjalar, seperti kayu yang mudah terbakar. Rumah nenek itu dilempari batu. Gentengnya hancur, kaca-kaca di jendela pun berlubang oleh lemparan-lemparan batu yang semakin banyak. Rumah nenek itu hampir di bakar.

“Tolooooong…, toloooooooong saya…,” teriak nenek itu dari dalam rumahnya, “ya, Allah, Zat Yang Maha Kekal, jika benar hambaMu telah berbuat salah, maka dengan segala kerendahan diri hamba di hadapanMu, hamba memohon ampun,”

Sedang di luar sana warga semakin marah. Akhinya terjadi juga, batu-batu itu lama-lama diganti dengan bom Molotov (semacam bom rakitan yang dibuat dari botol minuman energi yang di dalamnya diisi minyak tanah dan di bagian atasnya dibaut seperti sumbu obor. Bila botol itu pecah, maka akan mengeluarkan efek seperti bom sungguhan).

“Hamba percaya mukjizat ita ada, ya, Allah,” pinta nenek itu yang semakin lemas karena kekurangan oksigen.

Dari kejauhan anak anjing kampung yang liar itu menyelinap masuk ke dalam rumah nenek, melewari warga yang sedang dibakar benci di luar sana. Rumah nenek sudah hampir runtuh. Sebagian telah terbakar. Sambil menggong-gongi nenek itu supaya tetap sadar, anak anjing kampung yang liar itu berusaha melindungi nenek dari rerentuan kayu dan atap rumahnya yang terbakar. Tapi di antara setengah kesadaran nenek itu, dilihatnya anak anjing kampung yang liar itu menjelma sesosok binatang raksasa. Kemudian nenek itupun pingsan juga.

Anak anjing kampung yang liar itu keluar sambil menggendong nenek. Dibopongnya dengan satu tangan. Binatang raksasa itu akhirnya mengauang sangat keras. Semua kemarahan itu sepertinya keluar dari dalam perutnya yang besar. Karena ketakutan melihat makhluk seperti itu, akhirnya warga berlarian. Ada yang terinjak-injak, ada yang badannya terbakar oleh bom Molotov yang dibawanya sendiri; meledak di badannya. Semua warga yang ada di sana kalang-kabut menyelamatkan diri mereka masing-masing.

Berbahan air liurnya, anjing itu memadamkan rumah nenek yang sudah terbakar. Lalu, masih di tangan raksasa itu, nenek di bawa ke dalam hutan yang sangat dalam. Tempat di mana orang-orang sama sekali belum berani menginjakan kaki di sana.

Lama tidak terdengar kabar tentang nenek dan anak anjing kampung liar yang suka diberinya makan. Ada yang bilang ia menetap di hutan. Dan kini hutan itu menjadi rimbun. Tumbuh subur pepohonan di sana. Dan yang lebih penting, tidak ada sama sekali orang-orang yang berniat jahat menebang pohon di hutan itu.

Pada tanggal di mana kejadian itu pernah terjadi, sepanjang malam selalu ada gong-gongan anjing dan suara tangis nenek-nenek. Suara itu seperti menghantui warga kampung. Maka setiap hari itu tiba, warga secara bersama-sama seakan memberi sajen; menaruh makanan yang dimakannya hari itu di teras rumah. Di saat itulah nenek dan anak anjing kampung yang liar itu berkencan.

Hhhuuu…

Apa yang dilakukan nenek itu pada anak anjing kampung yang liar, seperti halnya saya memberi makan ingatan. Setiap kenangan dan kejadian selalu saya rawat baik-baik dengan memuat puisi atau memanjatkan doa padaNya. Kini semua terbayar, malam itu saya bisa kencan dengan Ingatan.

“Aku sudah siap. Malam ini aku telah cantik, tentu hanya untukmu. Sampai bertemu!”

Ingatan kembali mengirimi saya pesan singkat.

Sial! Saat itu saya masih terkapar di ranjang. Cerita tentang nenek dan anjingnya itu membuat saya lupa mesti bersiap untuk kencan dengan Ingatan.

Dengan asal saya pilih kemenja kotak-kotak biru. Saya langsung ganti baju tanpa mandi terlebih dulu. Memang untuk apa manusia membuat cologne? Tentu untuk orang-orang seperti saya yang suka terburu-buru dan lupa waktu untuk sekedar mandi. Hampir setengah botol cologne saya tumpahkan di badan. Wanginya bisa menembus masa lalu.

Malam itu, selama perjalanan, saya kembali membayangkan kencan ini dengan Ingatan. Barangkali nanti akan dimulai dengan makan malam yang biasa-biasa saja: dengan satu cahaya lilin yang menyinari. Setelah itu dilanjut dengan meminum wine sebagai penutup makan malam dan teman ngobrol kita sepanjang malam itu. Dan diakhir pembayangan saya itu, ketika kita sudah mulai setengah sadar, akan berlanjut pada ciuman-ciuman yang agak berlebihan. Perjalanan malam itu terasa amat panjang… meski sebatas khayalan.



Perpustakaan Teras Baca, September – November 2014
Tag : ,

Kakek dan Kutukan Kopi Hitamnya

By : Harry Ramdhani



Kopi hitam itu sudah dingin. Kakek membiarkannya tanpa  menyentuhnya. 11 hari semenjak kematian Nenek, ia lebih banyak menyendiri. Kopi itu tampak lebih kental dari biasanya, dan sore sebentari lagi pergi. Kesedihan telah larut di dalamnya.

“Ingin kubuatkan kopi yang baru, Kek?” tanyaku, “sepertinya kopi itu sudah dingin,”

Kepergian Nenek membuat Kakek terperangkap pada kesunyian yang dalam. Tidak ada yang mampu menyelami itu selain Kakek sendiri. Dan, kesedihannya.

“Tidak perlu. Sebenarnya, dulu, setiap kali Nenek membuatkan kopi, aku tidak pernah meminumnya. Aku membuangnya sedikit demi sedikit. Kini aku tahu, dalam secangkir kopi hitam Nenek mengutukku dalam kesunyian dan kesedihan yang dalam.”

Perpustakaan Teras Baca, 30 Oktober 2014


Tag : ,

Laki-laki yang Hampiri Kenangan di Batang Jalan yang Panjang yang Sepi dan Sunyi

By : Harry Ramdhani

aku melihatmu tertidur pulas
di lantai atas. kau, dengan mimpi begitu dekat
; seperti tak berbatas.

namun pada batang jalan panjang yang sepi
dan sunyi
aku coba hampirimu, juga mimpi

semakin jauh aku jalan
semakin jauh pula kau dan mimpi meninggalkan.

barangkali aku berjalan
pada batang panjang kenangan
dalam ingatan.


Perpustakaan Teras Baca, 30 Okt 2014
Tag : ,

Hikayat Pohon Duka

By : Harry Ramdhani

Dulu, pada batang tubuh pohon itu terukir nama kita. Seperti itulah perlahan rindu tumbuh.

Aku mengajakmu ke sebuah taman yang sudah gersang. Waktu itu aku sedang lari dari rumah, Ayah nampak marah dan ingin sekali memukulku. Barangkali hari itu aku tengah berbuat ulah. Dan, di bawah pohon itu kita sembunyi. Tanpa ada yang tahu, karena ini tempat rahasia yang kita temukan saat mengejar kupu-kupu yang baru keluar dari kepompongnya.

Senja hampir tanggal, tapi aku masih ingin tinggal.

Tiba-tiba kau mengambil sebuah batu kerikil yang tajam. Lalu ditulisnya inisial nama kita di batang tubuh pohon yang mungkin terkena kutukan kemarau berkepanjangan.

Kez
dan
Gil


Di lingkari pula inisial nama kita dengan bentuk hati.

"Nama ini tidak akan hilang, sebelum di antara kita ada yang menikah duluan," katamu

"Bagaimana kalau kita menikah bersamaan, Kez?"

"Tulisan ini akan abadi,"

Lamat-lamat matahari hilang. Bulan muncul dengan bulat yang sempurna. Kemudian di bawah pohon yang terkena kutukan itu, kita untuk pertama kalinya ciuman.

***

"Apa kabarmu, Kez?"

"Jauh lebih buruk dari masa-masa kecil kita, Gil,"

"Mengapa?"

"Ada yang tak sanggup aku ceritakan padamu. Ada bagian dariku yang tak perlu kau tahu."

Kini Kez tampak lebih pucat. Kulitnya memang putih, tapi hari ini ia lebih mirip mayat hidup. Sudah 11 tahun terhitung sejak pelarianku ke taman kita tidak bertemu. Selama itu pula kita tanpa pernah menghubungi satu sama lainnya. Waktu memang mampu mengubah segala.

"Apa kau masih suka dipukuli Ayahmu?" tanya Kez sambil memaksakan tersenyum.

"Terkadang," jawabku, "tapi aku tidak lagi lari, karena aku tidak menemukan teman untuk sembunyi,"

Kez bersandar di bahuku. Rasa-rasanya ini ketenangan yang baru ia dapatkan.

"Boleh aku mengajakmu, Gil, kalau-kalau aku ingin sembunyi?"

"Tentu, Kez!!"

Lalu sebelum senja datang, kita lebih dulu berciuman. Kesenangan masa lalu tidak akan hilang, karena terawat baik dalam rumah ingatan.

Tanpa sengaja kita tertidur di bawah pohon yang memang ternyata benar dikutuk itu. Sampai sekarang pohon itu masih kering kerontang.

Laki-laki dengan dada telanjang datang. Ia membawa sesuatu di tangannya. Seperti balok kayu, atau sejenisnya. Ia meneriaki nama Kez.

"Kez…, Kez…, di mana kau? Kez…."

Sontak Kez terbangun dengan kagetnya.

"Kez…, Kez…."

"Gil, temani aku sembunyi. Aku mohon,"

Kez tampak ketakutan sekali.

"Ya, aku akan menemanimu sembunyi," kataku sambil mengusap punggungnya, "tenanglah!"

Lama-lama suara itu hilang. Kez tampak senang. Tapi, ketika kita ingin beranjak pergi dari pohon itu, salah satu inisial nama kita tak ada. Tertinggal namaku.


dan
Gil



Perpustakaan Teras Baca, 28 Okt 2014
Tag : ,

Segumpal Awan Hitam

By : Harry Ramdhani

Pada jalan panjang yang sepi dan sunyi di sore itu, baru saja aku melihatmu turun dari awan putih yang lembut menuju pelukan Ibumu. Dan, seperti yang sudah-sudah, setiap kepulanganmu selalu ditandai dengan hujan yang rintik, lampu-lampu jalan yang menyala ranum, lalu beberapa bunga di dekat rumahmu bermekaran. Tapi beberapa lainnya berguguran.

Bahagia memang bisa datang dari apa saja. Semisal pertemuan kembali seorang Ibu dengan kepulangan putri satu-satunya itu. Sungguh sederhana.

Ibumu yang sudah lama menunggu kepulanganmu, barangkali menjadi orang pertama yang bahagia sore itu. Yang kedua, aku. Tapi tidak untuk adikmu. Yang aku tahu sedari dulu kamu memang tidak pernah akur dengannya. Biarlah! Mungkin nanti, di suatu waktu, ketika aku datang dengan segenggam bunga mawar yang di dalamnya aku selipkan puisi untuk melamarmu, kelak adikmu akan senang. Semoga.

Namun ada kabar buruk untuk adikmu, aku belum berani melakukan itu.

Pada sore hari yang rintik, rambutku sudah setengah basah. Hujan lama-lama turun cukup deras juga. Tapi aku selalu suka hujan-hujanan, seperti katamu, pupuk yang paling bagus untuk menyuburkan harapan dan kenangan di kepala, ialah air hujan. Maka aku diam dulu sebentar. Hujan-hujanan; untuk sekedar memberi pupuk harapan dan kenanganku itu.

Asal kamu tahu, di sebuah rumah yang hampir rubuh, di sanalah akhirnya aku berteduh. Karena hujan semakin deras dan memberi pupuk secara berlebihan itu tidak baik, bukan? Ketika hujan semakin deras itu, aku sama sekali tidak berani datang ke rumahmu, sebab ada yang lebih menakutkan dari anjing galak. Bapakmu. Lebih baik aku tertimpa genteng dan kaso daripada selalu dicemberuti jika bertemu. Tapi biar bagaimana pun juga, ia tetap orang yang punya andil besar dalam kehadiranmu. Ada yang mesti kamu ingat, hormatku selalu untuk Bapakmu. Tanpanya mungkin aku lebih memilih suka terhadap sesama.

Entah kenapa, tiba-tiba hujan berhenti. Begitu saja, tanpa ada satu atau dua titik hujan yang tertinggal. Kemudian senja menampakan wujudnya. Malaikat datang dengan kuda putih bersayap. Ia menculikmu diam-diam.

Tidak ada yang melihat, hanya aku. Ibumu barangkali di dapur menyiapkan makanan kesukaanmu, dan Bapak serta Adikmu sedang asyik main catur di teras.

Hujan kembali turun. Amat deras. Ibumu menangis. Air mata Ibumu itu berasal dari gumpalan-gumpalan awan hitam yang mungkin tiada habisnya menguapkan kesedihan.


Perpustakaan Teras Baca, Okt 2014
Tag : ,

Fiksi atau Tidak, Itu Bukan Persoalan

By : Harry Ramdhani


Terkait buku, entah hanya saya, atau banyak pembaca di Indonesia yang lebih dulu suka menduga sebelum membaca. Apa lagi buku digital? Dugaan-dugaan barangkali lebih banyak daripada isi bukunya.

Saya sendiri lupa, bagaimana runutan ceritanya bisa tiba-tiba mengunduh EBook nap11:11 anggitan SatrioSV. Yang jelas EBook itu telah selesai saya baca. Dua hal yang saya suka dari nap11:11, pertama cover-nya. Dan, yang kedua, pemilihan jenis font-nya.

Saya pikir kedua hal ini penting. Kembali ke kalimat pembuka saya tadi, pembaca lebih suka menduga-duga. SatrioSV membuatnya sedemikian rupa hingga mengingatkan saya pada beberapa kitab-kitab sastra kuno para sastrwan Yunani. Dengan satu warna dasar dan judul saja.

Lalu pemilihan font dalam EBook nap11:11 juga amat tepat. Sebagai pembaca EBook, font yang digunakan memang lebih baik seperti itu (entah calibri atau bukan). Tidaklah menggunakan font yang lancip atau tajam seperti Times New Roman. Alasannya sederhana, karena EBook biasanya dibaca lewat gadget dan dari sana sudah memancarkan cahaya yang tajam. Jadi kalau digunakan font yang tajam pula akan membuat sakit pada mata.

Namun, yang membuat saya kecewa saat masuk halaman pengantar adalah sikap defensif dari si penulis. "Tulisan ini cuma untuk mengisi waktu kosong gw". Kalimat tersebut seakan membuat pembaca disuguhkan sebuah karya yang hanya dibuat ketika waktu yang senggang. Seperti tidak ada keseriusan. Juga, kalimat bertele-tele dari penulis untuk menjelaskan bahwa nap11:11, ialah karya fiksi, "Semua cerita yang tertulis nanti penuh dengan imajinasi. Jadi bukan sesuatu yang nyata."

Dalam hal kepenulisan, di Ebook ini lebih didominasi oleh bahasa lisan, bukan bahasa tulisan. Gaya bahasa demikian memang paling banyak ditemui di blog atau buku-buku diary; yang biasanya hanya dinikmati hanya untuk konsumsi sendiri. Kalimat bahasa lisan bertebaran di setiap halaman dengan ditandai bagaimana cara penulis menarasikan suatu kejadian seperti sedang menceritakan pada teman di warung kopi. Atau, akrab disebut bahasa Prokem.

"Aku akuin itu terdengar aneh untuk mengawali suatu pembicaraan. Kalo kamu cuma menjawab 'IYA', berarti tamatlah sudah. Pembicaraan ini tentu enggak akan bisa berlanjut.…" (Yang Terlewati; Hal, 4)

Sebenarnya tidak jadi masalah bila bahasa-bahasa demikian ada di dalam sebuah percakapan, tapi bukan ada di bagian narasi. Dan, hal semacam ini pula yang akan mengarahkan pada penulisan tanda baca. Titik, koma, titik-koma, dll., dst., dsb.

Halaman EBook ini pun terlampau banyak. Sangat. Untuk ukuran enam cerita, paling tidak hanya ada 24-30 halaman. Sedangkan ini, 142 halaman. Saya pernah diingatkan oleh penulis novel 'Sepatu Dahlan', Daeng Khrisna Pabhicara, bahwa karakter pembaca di Indonesia itu tidak bisa kuat bertahan lama membaca satu judul. Paling tidak, untuk satu judul cukup empat - enam halaman saja.

Terakhir, ada beberapa pengandaian di dalam cerita ini yang mengingatkan saya pada Vicky. Vicky Prasetyo. Hermeneutika Vicky, begitu yang disebut Zen RS dalam esainya.

"Mission berhasil sang gebetan kaget dengan kedatangan gw dan odon ngebawa kue ultah yang lilinnya buat ngepet dan jangan lupa boneka beruang pink gede itu." (Dear Ndut; hal. 30).

Penggabungan beberapa bahasa dan istilah dalam satu kalimat bila tepat, akan terlihat keren. Tapi, bila itu bisa disampaikan dengan kalimat yang lebih sedehana bukankah jauh lebih baik?

Untunglah ini baru sekedar EBook, bukan kitab sastra sungguhan bangsa Yunani. Karena saya sendiri tidak bisa membayangkan, bagaimana orang-orang Yunani yang sering kita tahu dalam mitologi-mitologi menjalani kisah cinta seperti ini? Barangkali patung Thinker-man akan berganti jadi Joker-man. Sebab jenaka sekali. Barangkali.



Perpustakaan Teras Baca, 08 Okt 2014
Tag : ,

Harta Karun dan Hantu yang Menghantui

By : Harry Ramdhani


Ada pertanyaan yang selalu menghantui saya ketika menulis: kapan tulisan-tulisanmu dijadikan buku?

Bagi saya, membuat buku (fisik) bukanlah perkara mudah. Membuat buku tidak hanya sekedar mengumpulkan semua tulisan, lalu mengkurasi dan menyuntingnya satu per satu. Namun, ada banyak faktor yang mesti saya pertimbangkan, di antaranya: apa ada yang ingin baca?

Saya ingat betul, sekitar tahun 2009, ketika saya mulai menjajakan kaki ke dunia tulis-menulis, Raditya Dika pernah bilang, "harta karun yang paling berharga bagi penulis, adalah pembaca."

Dan, itu yang selalu saya cari selama menulis sampai sekarang. Mencari harta karun itu.

***

Sekarang, entah ada angin yang datang darimana dan seperti apa? Hantu-hantu yang selalu menggangu saya ketika saya menulis itu terlihat. Hantu itu memperlihatkan wujudnya di pikiran saya yang seadng kosong. Lalu saya pun tahbiskan diri untuk membuat buku.

Membuat buku....

Saya tidak lagi ingin pura-pura menjadi pemburu hantu. Kini saya ingin bersahabat dengan hantu-hantu itu. Barangkali, ini juga yang akan saya mulai: berperang melawan segalanya ketika merampungkan buku.

Buku yang sedang saya rampungkan adalah buku kumpulan cerita. Bukan novel. Alasannya sederhana, nafas saya tidaklah sekuat dan sepanjang novelis-novelis ulung di luar sana. Selain itu juga, pengalaman ikut angkat bicara, sekitar tahun 2011 lalu, saya pernah mencoba membuat novel tapi, mesti kandas ditengah jalan karena satu dan lain hal.

Dan, bagi saya, kumpulan cerpen, sekiranya adalah pilihan yang tepat. Saya lebih suka membaca cerpen ketimbang novel. Salah satu buku kumpulan cerpen kesukaan saya adalah buku anggitan Putu Wijaya. KLOP-- meski buku itu kini telah hilang. Membaca cerpen, seperti melihat reruntuhan puing-puing kota yang dibangun kembali.

Buku kumpulan cerpen yang sedang saya rampungkan ini sudah masuk bagian pemetaan. Sebagian telah rampung dan sisanya belum sama sekali. Di buku kumpulan cerpen ini, saya beri judul: 11 Dialog.

Lebih atau kurang, buku kumpulan cerpen ini akan berisi beberapa cerita tentang kerinduan, kebencian, dan didominasi cerita cinta. Juga lain-lain, dan sebagainya.

Dengan membuat buku ini, saya ingin merawat segalanya, tak terkecuali kenangan dan ingatan. Saya ingin memeras keduanya sampai hanya tersisa ektraknya. Sampai tak ada lagi sisa yang menempel di dalamnya. Daeng Khrisna Pabichara pernah bilang, "rawatlah masa lalu, karana suatu saat akan menafkahimu." Dan, barangkali, ini adalah cara saya untuk mendapat penghasilan dari apa yang saya sukai dan cintai.

O ya, ada yang terlupakan. Buku ini saya akan coba kirim ke beberapa penerbit. Kalau pun tidak ada tanggapan, saya akan mencetaknya sendiri.

Semoga buku '11 Dialog' bisa rampung dalam waktu dekat ini. Semoga. Doakan saja.

Demikian sedikit curahan hati saya terkait buku kumpulan cerpen yang sedang saya rampungkan. Barangkali bisa memberi sedikit manfaat. Karena, bagi saya, mentahbiskan diri menjadi penulis sama saja seperti menambang di perut bumi. Penuh ketidakpastian yang tinggi.


NB: Buku kumpulan cerpen '11 Dialog' saya dedikasikan untuk seorang laki-laki yang oleh Tuhan titipkan mukjizat berupa cinta; Galuh Qoary Aurista.


Perpustakaan Teras Baca, 07 Okt 2014
gambar: dari sini
Tag : ,

Sepotong Sajak, Puisi yang Abadi

By : Harry Ramdhani
buat: Arin Octavianne


/1/
Pada pagi di hari ulang tahunmu, aku sembunyi
di arloji kesayangamu. Di dalam sana
aku hanya ingin melihat seberapa lama
dan kuat
aku mampu membahagiakanmu.

Ayin kecil yang dulu aku kenal, yang suka sekali berlarian tanpa baju itu,
kini tengah menjelma kupu-kupu dengan sayap yang indah
seperti bidadari. Padahal dulu, Ayin kecil ingin sekali
menjadi peri, bukan bidadari.

Bagi Ayin kecil, peri suka menolong, namun bidadari suka menyolong.
Rindu dan cinta suka diambilnya diam-diam.

Tapi, bagiku,
sampai kapan pun ia akan tetap jadi Ayin kecilku.

Ayin kecil mencariku kesana-kemari. Keringatnya keluar banyak,
besar-besar, sebesar biji-biji jambu.
Hampir Ayin kecil menangis, tapi tiba-tiba
arloji itu berbunyi. Setiap pukul 11:11,
dengan pelan menyenandungkan nada-nada riang. Ayin kecil senang
mendengarkan senandung itu berulang.

Di dalam arloji itu kupingku pengang,
serasa ingin mematahkan tiap bagian arloji agar diam.

Ayin kecil akhirnya tertidur. Pada siang di hari ulang tahunnya
matahari tampak bersahaja: tidak terik seperti biasanya,
dan sinar yang memancar seperti keriangan Ayin kecil yang tak pernah pudar.

/2/
Jauh sekali senja tiba di timur kesunyian. Ayin kecil baru terbangun
rasa-rasanya tadi ia mimpi indah. Mimpi diberi hadiah
sebuah puisi oleh seorang yang ia kenal sedari dulu. Tapi mengingat mimpi itu
Ayin kecil merasa sedih karena belum juga ia menemukannya.
Aku masih sembunyi di dalam arloji.

Ayin kecil duduk di depan cermin. Melihat matanya
yang bengkak, melihat dunia halusinasi pada cermin
yang belum juga terkuak.

Tak tega melihat Ayin kecil, aku beranikan keluar
dari dalam arloji untuk berjihad melawan masa lalu.

/3/
"Buatkan aku sepotong sajak saja, sebuah puisi
yang lebih abadi dari luka dan duka,
lebih syahdu dari syair penyair terdahulu,"

Aku tulis puisi ini dilembar daun jati yang kering:
"I miss you. Everlasting you do."

Ayin kecil tersipu. Lalu senja lamat-lamat turun perlahan.
Dan aku, serta-merta dibawanya menjadi siluet kemerahan
sampai senja dan aku pun selamanya menghilang.


Bogor, Oktober 2014
Tag : ,

Hikayat Karnaval dan Indahnya Perbedaan

By : Harry Ramdhani




“Tiada ciptaan Tuhan yang sia-sia,” sebuah kata sambutan dari Prof. Dr. Komaruddin Hidayat untuk buku Hikayat Pohon Ganja – 12.000 Tahun Menyuburkan Peradaban Manusia.

Ada yang paling berkesan ketika kegiatan Karnaval ‘Bhineka Tunggal Warga’ 17 Agustus 2014 lalu: perbedaan yang mampu berdampingan. Saya katakan ‘mampu’ karena Karnaval yang  diselenggarakan Panitia Karang Taruna RW 14 Perumahan Bambu Kuning itu mengusung tema masing-masing daerah di Indonesia yang berbeda. Berbeda-beda tapi warga tetap bersatu; Bhineka Tunggal Warga.

Suatu konsep karnaval yang menurut saya biasa saja ini, dapat diimplementasikan dengan baik oleh peserta dari setiap RT dengan menunjukan kelebihan daerah tersebut. Ada yang mendapat tema Bali, Jawa Barat, DkI Jakarta, dan lain-lain tentunya. Tanpa saling mengejek atau merendahkan suatu daerah, para peserta Karnaval tampak bersuka ria dalam perbedaan-perbedaan itu. Berjalan beriringan dari depan Perumahan sampai lokasi tujuan. Duduk berdampingan sambil menikmati acara. Menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama dengan lantang di Lapangan.

Bukankah kita dengan yang lain sama-sama berbeda? Jadi untuk apa melihat perbedaan itu sebagai suatu ancaman atau kecaman?

Ada yang hitam, dan ada yang putih. Ada yang di atas, dan ada yang di bawah. Ada yang Hindu, Budha, Islam, Kristen. Semua berbeda. Untuk apa kita mesti sama dengan yang lainnya? Tidak ada keharusan, bukan? Perbedaanlah yang membuat semua terlihat indah. Seperti Gereja Katedaral yang berseberangan dengan Masjid Istiqlal. Keduanya saling berhadapan, layaknya sepasang kekasih yang hendak ciuman.

***

Saya ingat betul, ketika baru berumur sekitar delapan tahun, dulu pernah dibangun sebuah Gereja di Perumahan Bambu Kuning. Saya tidak pernah melihat berntuk rupanya, yang saya tahu, Gereja itu hancur. Seperti habis terkena sebuah ledakan yang cukup besar. Bangunannya berwarna hitam, kacanya pecah berserkan, dan atapnya hilang sebagian. Atau, lebih mirip sebuah pabrik yang sengaja dibakar agar mendapat ganti-rugi dari pihak asuransi. Seperti itu.

Dulu sekali saya tanyakan penyebab kenapa Gereja itu bisa hancur sedemikian rupa. Dan jawabannya beragam, tapi intinya sama: karena gejala alam.

Ketika saya berumur delapan tahun, yang saya bayangkan adalah sebuah kejadian alam yang cukup besar, seperti tersambar petir dan bangunannya hangus terbakar. Setidaknya petir mampu menghancurkan; begitu yang saya tahu dari film-film Power Ranger,Ultraman, dan sebagainya.

Namun, lambat laun saya tumbuh besar, dan rasa keingintahuan saya yang semakin besar juga tentang Gereja itu, akhirnya ada juga yang mengatakan kalau dulu Gereja itu sengaja dirusak. Sengaja dihancurkan oleh sekelompok orang yang tidak suka adanya Gereja di sana.

Sengaja itu berarti adanya suatu tindakan yang dilakukan dengan keadaan sadar, tanpa paksaan, dan bisa dipertanggung-jawabkan. Dan bila tindakan itu menyentuh ranah hukum pidana, artinya juga itu bisa dipidanakan, bukan? Baik itu pihak provokator maupun otak dibalik suatu tindakan tersebut.

Ketika saya tahu itu, seperti ada rasa sakit yang dalam. Pertama, karena ketika kecil saya dibohongi. Dan yang kedua, bukannya saya ingin sok Nasionalis atau Prularlis, tapi menghancurkan suatu tempat ibadah bagi saya hanya dilakukan oleh para Bedebah!!

Seorang Sufi, Gus Candra Malik, pernah bilang saat bedah bukunya  Makrifat Cinta, “Tuhan itu ada di mana-mana. Tidak hanya di Masjid. Tuhan bisa saja ada di Gereja, Vihara, ada di mana-mana pokoknya. Ketika kita percayai itu, pasti tidak akan kagok ingin kemana pun. Karena Tuhan selalu ada bersama kita.”

***

Menurut Keith A Robert, seorang Sosiolog Agama, sesungguhnya dalam sebuah konflik agama yang dimaksud bukanlah  agama sebagai suatu sistem (dogma atau moral), tetapi agama sebagai fenomena sosial, sebagai fakta sosial yang dapat dilaksanakan dan dialami oleh banyak orang atau kelompok. Yang hendak dicarai dari sebuah fenomena agama adalah dimensi sosialnya. Sampai sejauh mana nilai-nalai keagamaan memainkan peranan dan pengaruh atas eksistensi.

Bayangkan saja bila suatu konflik antar agama itu mengedepankan agama sebagai kedok yang diada-adakan saja? Maka, kedaulatan berkehidupan sosial tidak akan pernah ada. Tidak akan pernah selesai.

Ingatkah kalau beberapa bulan lalu Jawa Pos pernah mencatumkan cerpen buah anggitan Agus Noor yang berjudul ‘Kalung’? sebuah kisah sepasang kekasih yang berbeda agama mesti hangus terbakar di sebuah gedung yang terbakar, tapi di antara reruntuhan itu kalung yang terbuat dari kayu dari keduanya tetap utuh.

Masih dari cerpen Agus Noor tadi, di sana juga dikisahkan Rasullah yang sedang sembahyang berjamaah lalu seperti ada yang menahan gerak matahari hingga subuh terasa lebih lama dari biasa. Jadi, ketika Rasullah ruku’ dan hendak mengangkat kepala, tiba-tiba Malaikat Jibril datang dan merentangkan kedua sayapnya di atas punggungnya lama sekali. Sampai sayap itu diangkat barulah Rasullah bisa mengangkat badan.

Lalu datanglah kembali Malaikat Jibril menghapiri Rasullah dan menceritakan apa yang terjadi ketika itu:

Ali bin Abi Thalib tergesa-gesa menuju masjid agar bisa sembahyang berjamaah, tapi di jalan yang tak begitu lebar itu,ada seorang tua yang berjualan begitu pelan. Ali tidak mengenalnya. Dengan sabar Ali berja;an di belakangnya, tak berani menyalip, karena ia menghormatinya. Pada saat yang sama pula, Allha memerintahkan malaikat Mikail untuk mengekang laju matahari dengan sayapnya agar waktu subuh menjadi panjang. Ketika akhirnya Ali bisa sampai ke masjid dan ikut sembahyang berjamaah.

Akhirnya Ali bin Abi Thalib tahu, seorang tua laki-laki itu adalah seorang Nasrani.

Tidak hanya itu, ada juga kisah seorang perempuan tua yang dianggap gila oleh seluruh penduduk kampunggnya. Ia hidup sederhana di gubuknya. Setiap sebelum matahari terbit, permpuan itu selalu bangun terlebih dulu. Mengumpulkan embun-embu yang di daun ditampungnya di sebuah cawan. Setiap hari perempuan itu melakukannya, padahal saat itu air sedang melimpah-llimpahnya.

Namun cuaca memang tidak pernah diduga. Malapetaka yang tidak disangka tiba: kemarau panjang yang meranggaskan apa saja. Kekeringan terjadi di mana-mana. Dan, yang tersisa hanya embun yang disimpan perempuan yang dianggap gila oleh penduduk sekampung. Akhirnya penduduk kampung antri demi  mendapat air embun itu.

Ditengah antrian penduduk, ada salah seorang teman perempuan itu lalu menasihatinya “Kau mesti menghemat! Kau tak perlu member embun itu untuk mereka yang tidak seiman! Untuk mereka yang tidak mempercayai Kristus…,”

Tapi perempuan yang dianggap gila itu tidak menghiraukan nasihat temannya. Ia terus memberikan setetes demi setetes air embun itu untuk penduduk sekampung. Seiman atau tidak. Dan embun dalam cawan itu tak pernah habisnya.

Kebaikan memang tak pernah habis bila terus dibagikan. Baik seiman atau bukan.

***

Terakhir saya dengar adalah, ada sebuah petisi untuk menolak adanya pembuatan gedung Gereja di Perumahan Bambu Kuning. Bila rencana itu berjalan sebagaimana mestinya, pasti ini kali kedua saya akan kembali diperlakukan yang sama seperti penghancuran Gereja ketika saya berumur delapan tahun itu.

Dan mungkin, petisi itu sudah disahkan oleh para petinggi tempat ini. Sebuah petisi yang berkeliaran, menjumpai setiap rumah warga dengan bergiliran. Seperti halnya Orde Baru. Pula, yang selalu terjadi di Indonesia adalah mayoritas selalu merasa perkasa dihadapan minoritas, sedangkan minoritas selalu merasa kerdil di hadapan mayoritas. Begitu yang diucapkan Pandji Pragiwaksono dalam stand-up comedy special-nya, Messake Bangsaku.

Padahal dalam kehidupan sosial, tidak ada mayoritas dan minnoritas. Dalam kehidupan sosial, yang ada hanya ketentraman antar penduduknya. Atau, bila boleh meminjam ucapan Mbah Sujiwo Tejo dalam seminar umumnya di TedEx, Bandung, “tidak ada perbedaan dalam Matematika. Yang ada hanyalah persamaan. Jadi untuk apa membeda-bedakan?”


Perpustakaan Teras Baca, 28 September 2014

- Copyright © Kangmas Harry - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -