The Pop's

Mereka di Penjara Neraka

By : Harry Ramdhani
Soal melanggar aturan, aku jagonya
dan hukuman adalah teman.
Tidak peduli itu ringan
atau sampai menghancurkan badan.
Aku pikir, kadang aturan
sulit dinalar pikiran,
diterima secara seksama.
Bagiku, aturan ada untuk dilanggar.

Semua karena ketidak-adilan,
karena sore itu, aku dipertemukan
dengan cahaya redup di dalam ruangan,
DAN tergeletak manusia tanpa nyawa,
tanpa ada bala-bantuan,
tertinggal nyawa, hanya meninggalkan badan.
Kata mereka: Ini termasuk dalam hukuman.
Ahh, persetan!!

Sejak saat itu terisisa
luka,
kecewa,
dan, hingga
tidak bisa percaya.
Beginikah Indonesia?

Membiarkan terdakwa mati
karena sakit
sama saja seperti
menghina koruptor.
Biarpun sudah didakwa
tapi, masih saja dihina.
Di mana hati nurani kalian semua?
Di mana akal-budinya?


***

Aku, bersama teman-teman
sudah hidup liar -tak karuan-,
di penjara, di jalan, di kolong jembatan.
Pokoknya sudah kami telan.
Rasanya: enak,
jika dinikmati penuh penghayantan.

Hidup sungguh kejam,
satu per-satu temanku diambil Tuhan.
Caranya-pun beragam:
ada yang tertembak di dada sebelah kanan,
ada yang tertabrak mobil keamanan,
ada yang … sudahlah.

Namun, aku masih ingat ucapan
mereka sebelum pergi meninggalkan,
"Terang …
tanda kita selalu bersama
Temani …
keceriaan selamanya
akankah berubah gelap?
Biarkan waktu menjawab."

Itu temanku saat sekarat di tempat
persembunyian saat masih dalam pengejaran
para aparat laknat.


***

"Biarkan waktu menjawab."
Entah sampai kapan ini berakhir?
Sebuah pengejaran yang melelahkan,
tangkap saja aku, supaya bisa bertemu
teman-temanku yang terlebih dahulu
meninggalkanku.

Tak peduli di neraka!!
bersama mereka, aku percaya.
Daripada janji manis surga
tapi menghancurkan sesama.

Aku ingin sekali bertemu …



Harry dan Peneras Baca.
Perpustakaan Teras Baca, 14 Juli 2013
Tag : ,

Biodata Dalam Diary

By : Harry Ramdhani
Dihadapan HRD, aku tertunduk. Lupa mengingat apa yang menjadi hobiku sendiri. Hobi? Aku hanya tahu hoby dari buku diary--tepatnya biodata diri-- semasa masih sekolah dasar. Disana aku menuliskan, "Hobi: Ngerjain PR setiap hari biar gak dihukum guru."

Bagiku, hobi adalah kegiatan yang selalu rutin dilakukan, seperti ibadah mungkin. Namun, tak etis saja menulis ibadah di biodata diri. Segala bentuk yang kita yakini memang tak perlu lagi ditulis. Jadi, aku sedikit kurang setuju bila di kartu tanda pengenal dituliskan 'Agama:', untuk apa ditulis? Toh, jika sedang terkena musibah tidak perlu membedakan agama yang diyakini dahulu untuk membantunya. Dasar bodoh.


***

"Jadi, apa hobimu?" HRD kembali menanyakan yang sama.

Aku masih belum bisa menaikan kepala untuk sekedar melihatnya. Jujur, aku masih bingung mesti menjawab apa.

"Apa kamu tidak memiliki hobi?"

Sekali lagi belum bisa satupun pertanyaan yang bisa aku jawab. Andai itu soal matematika, pasti sudah habis aku lahap. Semisal aku jujur padanya (baca: HRD), pasti hanya jadi bahan tertawaan. Atau hal terburuknya, diusir secara tidak terhormat dari dalam ruangan. Apa yang mesti aku lakukan? Aku ingin bekerja sekarang.

"Hobiku … "

"Ya, apa hobimu?"

"Eum,… Hobiku adalah mengerjakan PR. PR apapun pasti aku selesaikan."

"PR? Pekerjaan Rumah?"

"Benar, pak. Saya selalu mengerjakan segala tugas dan pasti saya selesaikan. Hobiku tidak seperti yang lain, bermain sepak bola, memancing atau yang lain-lain. Saya bisa melakukan semua tapi, ketika sedang saya lakukan mesti saya selesaikan. Tidak setengah-setengah."

"HAH!!"

"Maaf jika jawabanku tidak sepikiran, pak."

***


Sudah akhir bulan, saatnya gajian. Ini adalah tahun ke-tiga aku bekerja di perusahaan yang dulu membuat aku lama menunduk ketika ditanya sebuah pertanyaan dan aku jawab dengan tidak masuk akal. Tapi, aku bisa bekerja di sini karena sebuah kejujuran yang aku lakukan.



Perpustakaan Teras Baca, 13 Juli 2013

Dear, Diary ... Sincerely, Harry …

By : Harry Ramdhani
Dear, Diary…

Jika aku ingat kemarin, rasanya sebal. Bagaimana tidak, apa yang aku lakuin hari itu (Kamis, 11 Juli 2013) bisa dihitung dengan sebelah jari. Mari.


Dear, Diary … Ke bengkel, …

Motorku serasa kakek-kakek renta yang dipaksa untuk sholat di lantai dua masjid raya. Bisa tapi, tergopoh-gopoh. Bila dipaksa terus berjalan, kelamaan aku yang akan jalan bersama motorku. Menggandengnya.

Sekitar jam tujuh pagi, aku mengantar papah ke stasiun bojonggede dengan motor. Pulangnya, aku bawa langsung ke bengkel. Dengan harapan dapat nomor urut depan. Ternyata benar, ini bisa kejadian, karena baru seorang cleaning servis menggotong ember berisi air sabun. Aku menunggu. Kadang, sesekali mengintip pekerjaan Cleaning Servis, ternyata, mengepel itu tak semudah menjalankan tamiya. Tinggal geser, langsung jalan. Mengepel itu mesti bolak-balik ditempat yang sama dan mesti bisa memastikan bahwa lantai ketika selesai di-pel sudah bersih.

Aku masih menunggu.

Satu per-satu orang datang, para montir berseragam menysul belakangan. Namun, di mana admin yang menjaga tempat pendaftaran? Masih juga belum datang. *murung*

Seorang ibu-ibu berkerudung datang yang kemudian belakangan aku ingat, Ia adalah wanita yang pernah aku tabrak karena ulahnya ugal-ugalan di jalan. *tidak perlu aku ceritakan di sini*. Aku mendaftar duluan, karena memang aku yang datang lebih awal daripada yang lain, mereka belakangan. Jika tidak percaya, boleh tanya Cleaning Servis yang sedang berjalan di seberang.

Motorku dibawa oleh seorang montir yang --aku kira umurnya tidak jauh dariku-- mengenakan seragam serba Honda dan sepatu khas para pekerja. Oprak-oprek-oprak-oprek, montir nanya, "Mas, ini mau diganti?" #DamnSitLol pertanyaan bodoh ketika masih pagi itu seakan menanyakan, "Mau ngapain pagi-pagi ke kamar mandi?" Jelas dong diganti, namanya juga lagi dibengkel. -_-*

Singkat cerita. Aku adalah konsumen nomor urut satu, dan sampai semua orang yang datangnya belakangan selesai diperbaiki, hanya tersisa aku dengan para kurcaci montir di sini. Memerlukan waktu empat jam untuk menyelesaikan. Waktu yang Terbuang, mungkin tepat untuk sebuah Mega Sinetron yang tayang diwaktu petang.


Dear, Diary … Pergi ke Kampus,…

Aku punya janji jam satu, tapi karena banyak yang terbuang waktuku dibengkel itu, aku terlambat. Aku benci terlambat. Niatnya pingin gathering malah cuma obrolan garing. Kenapa? karena aku terlambat. Apa akibatnya? obrolan jadi ke sana-ke mari.

Sedikit yang bisa tersampaikan karena terbatas oleh waktu menjelang petang. Aku mesti pulang.

Kalian tahu, ternyata hujan tak selamanya indah seperti pelangi saat datang. Aku menerobos hujan supaya bisa sampai di rumah tidak terlambat. Di langit, ada petir yang disertai kilat. Hujan semakin membabi-buta para pengendara, aku berteduh di salah satu kedai bakso. Penjualnya tidak seramah layaknya ingin menawarkan barang, jadi aku hanya memesan lalu melanjutkan perjalanan menerobos hujan.

Aku baru ingat, namanya bakso itu kuahnya panas. Dan bakso yang tadi aku beli disimpan di dalam tas. Punggungku kepanasan tapi, perjalanan masih lumayan panjang.


Dear, Diary … Ke Warnet Tutup,…

Waktuku tidak banyak untuk bisa menyelesaikan hari ini tanpa posting satu-pun tulisan di blog. Padahal aku sudah membuatnya dan disimpan dulu di Notes pesbuk. Maklum, tidak selamanya aku terkoneksi dengan jaringan internet.

Benar, #JuliNgeblog #Day11 sudah aku persiapkan sedari kemarin. Aku-pun sadar, tidak mungkin ke warnet di saat taraweh. Tidak sopan. Yasudah, sembari nunggu yang sekitar jam 9malem, aku habiskan baca-baca timeline orang. Dari sana, aku tahu akan satu hal, ternyata SPG tidak ada yang jelek. Bukan berarti aku bilang kalau kamu cantik, yah. Itulah kenyataannya.

Sudah jam 9malam, warnet sudah tutup. Juaaaaaancuk.

Sincerely, Harry …



Perpustakaan Teras Baca, 12 Juli 2013

Malu Pada Mula

By : Harry Ramdhani
Adakah perasaan rindu
ketika kembali bertemu?

Entah, sudah berapa lama
kita berpisah tak jumpa.
yang jelas, kita bisa bersama
di satu tempat tak diduga.
aku bahagia,
apa kau bahagia?
jika, "ya" … kita bahagia.

Seakan ada benda
melesat di udara.
Benda yang melayang dalam
kegelapan kemudian
memecahkan kenyataan.
Masih saja aku tak percaya
bahwa kita bisa berjumpa.

Deska, namanya, seorang
wanita muda yang
membutakan kenangan
menjadi sebuah pesakitan.

Andi, namanya, seorang
pria lajang dan masih bujang
yang kerap berjuang
bisa lulus sekarang.

Mereka diam, mungkin
sibuk berbicara di dalam pikiran
masing-masing.
Seperti itulah manusia
bila lama tak jumpa.
Ada canggung untuk menyanjung,
ada malu seperti putri malu,
ada senang bila berani menyatakan sayang,
namun kaku dan dingin seperti es batu.

Dalam keramaian rasanya menyendiri,
walau banyak kata ingin keluar tapi,
tertahan seakan ada yang menyumbat.
Jika itu setan, tolong usir pergi.
Melihat-pun seperti besok akan kiamat.

Lagu berdendang mengisi ruang
kosong dalam kalbu,
"How do i leave without you …"




Chapter1 dari Cerita Mini: Jumpa
antara Deska dan Andi Muhamad Eka
Perpustakaan Teras Baca, 11 Juli 2013
Tag : ,

OBSET [Obrolan SEtSAT]

By : Harry Ramdhani

Selintas kata OBSET memang tidak asing. Ya, bagi mereka yang tahu, Obrolan Langsat, OBSAT. Sebuah obrolan sederhana di salah satu rumah di Jl. Langsat. Kalau tidak salah seperti itu. Ada kok di YouTube kegiatan mereka.

Jika kalian tahu OBSAT, di sana adalah mereka para orang-orang yang mengubah Indonesia dengan cara masing-masing. Secara pribadi, saya mengagumi itu. Mereka hebat. Tapi, apalah sebuah perubahan jika tanpa tindakan? Perubahan berawal dari sebuah obrolan, obrolan yang membawa orang untuk bergerak. Ini disebabkan oleh tayangan talk show di layar kaca. Di sana banyak para ahli diberagam bidang membicarakan Indonesia tapi, sama sekali tidak berbuat apa-apa. Berbeda dengan OBSAT, di sana mereka melakukan perubahan itu dahulu baru mengajak orang-orang untuk ikut mengubah Indonesia ke arah yang lebih baik. Lewat sebuah obrolan singkat dan padat.

Lalu, apa itu OBSET?
OBSET kependekan dari OBROLAN SEtSAT. Terbaca sesat. Namun, mesti dicermati lagi makna sesat. Saya ingat guru PKN saat masih kelas satu SMP. Isu yang sedang naik kala itu adalah Kasus Lia Eden, semakin hari semakin marak pemberitaan tentang dia. Ketika di kelas, guru saya berkata, "Sebenarnya, kita telah dilindungi Undang Undang dalam memiliki keyakinan berdasarkan apa yang diyakini. Apapun yang kita lakukan asal tidak mengajak orang, maka bukan disebut sesat. Tapi, lain hal jika sudah mengajak orang untuk sama seperti kita, maka ada kemungkinan sesat di sana. Mau kita sholat sampai kepala bocor saat sujud, silahkan, asal tidak mengajak. Mau kita sholat sambil memakai make-up, silahkan, asalkan tidak mengajak. Biarkan oranglain sendiri yang mengikuti, bukan kita yang mengajaknya."

Sesat itu soal baik-buruk bukan soal benar-belum benar (tidak ada yang salah di dunia ini). Baik-buruk bersifat umum, berbeda dengan benar-belum benar itu individual. Dalam OBSET, kita tidak mengajak dan bagi yang tidak bisa, yasudah.

OBSET bermula dari obrolan ngalor-ngidul di bangku pelataran senja, di dekat sekretarian Fisikom, kampusku. Misal, kita membicarakan 'gelas', gelas tersebut adalah tema dan topiknya beragam, tetap, saya yang mengatur jalannya obrolan. Ada yang menganggap gelas sebagai gayung dll, dsb, dst.

Setelah ini sudah sering dilakukan, kemudian saya mengangkatnya ke Linimasa Twitter. Mulailah banyak yang tidak suka. Saya sendiri berasumsi bahwa kita sudah terbiasa dengan hal-hal yang dari dulu tertanam diotak, sehingga ada yang sedikit beda, mereka tidak bisa terima. Contohnya: saya pernah mengenakan kumpul berbentuk sempak, bagi saya, kain yang disekitarnya ada karet dan digunakan di kepala adalah kupluk. Apapun bentuknya. Dasar bodoh.

Setelah sekian lama di Twitter, akhirnya segala macem ac count sosial media yang saya punya semua di hacked. FB, Twitter, juga Blog. Dan, yang bisa kembali hanyalah Blog dan Pesbuk. Kini, saya sudah jarang melakukan #OBSET di twitter. Lebih baik diam. Ini OBSET terakhirku di Linimasa Twitter: Belajar Ekonomi dengan Narasumber, Fresh Graduate Mahasiswa Ekonomi, Nurlaeli. BTW, dia meraih cum laude.

Jadi, ilmu Ekonomi itu lahir karena kebutuhan masyarakat tinggi tapi, SDM-nya rendah. #OBSET

Awalnya nanya soal BBM tapi, jawabannya gak asyik, "gue percaya, pemerintah itu orang2nya pada pinter. wajar." #OBSET

Akhirnya gue nanya2 soal penetapan harga pokok suatu 'objek'. dan, itu bukan perkara mudah. suer!! #OBSET

untuk metapkan harga mesti diliat dari beragam sudut pandang. dari internal sampe eksternal. buanyak. #OBSET

tapi, beda lagi soal penentuan harga dibidang jasa. oia, ekonomi itu dibagi tiga: Jasa, Dagang, dan Manufaktur. #OBSET

Bidang Jasa itu tanpa memerlukan modal awal tapi, mesti memperhitungkan kepuasan konsumen. #OBSET

Bidang Dagang itu yaa, kayak yg kalian tau. tapi, biasanya gak pake produksi dari awal. #OBSET

Bidang Manufaktur itu dari modal awal produksi sampe penjualan dikelola perusahaan. #OBSET

Nah, sekarang bahas yg Bidang Jasa aja, yah. setuju? #OBSET

lihat, Bidang Jasa adanya dipaling bawah. tapi, di sini idealisme diuji. jasa itu soal bayaran bukan gaji. #OBSET

Kalau tidak salah, Bidang Jasa belum termasuk UMR. berapa-pun, itulah adanya. #OBSET

kayak yg tadi udah dibahas. Jasa adalah soal pelayanan dan hasil akhirnya adalah kepuasan. paham? #OBSET

konsep dari jasa adalah kepuasan. Jadi yg mesti dibangun sejak awal adalah loyalitas kepada konsumen. #OBSET

konsepnya gini, jika konsumen sudah puas maka HARGA MATI untuk bisa mengendalikannya. #OBSET

caranya ada beragam tapi, pasti diawali promosi. apapun bentuknya, promosi pilihannya. #OBSET

Promosi bisa dilakuin dari membanting harga. artinya, memasang harga terendah dari yg ada. awalnya rugi tapi, kedepan untung. #OBSET

Atau, bisa juga dari membandingkan harga2 yg sudah ada dijenis yg sama. antara A-B-dengan C. #OBSET

Jika masih belum ketemu, percayakan pada kualitas sendiri. ngaca. #OBSET

Jadi, siapaun orang ingin memilih bidang Jasa sebagai usaha. perlu digaris bawahi soal kepuasan konsumen. layani. #OBSET



Perpustakaan TerasBaca, 10 Juli 2013

Tag : ,

Revolusi Menjadi Konglomerasi

By : Harry Ramdhani
Saya, sebagai mahasiswa komunikasi (tingkat akhir yang akhir-akhir ini belon mikirin skripsi) geram. Geram akibat ngejawab soal uang empat halaman folio dengan tulis tangan. Entah, saya menulis apa di sana. Yang jelas adalah membicarakan media. Mari kita buka mata, bahwa revolusi media telah menjadi konglomerasi media.

Revolusi media lahir sejalan dengan revolusi yang terjadi di negeri itu sendiri, tepatnya: Indonesia. Berkat runtuhnya rezim Soeharto dan segala antek-anteknya, media sudah tidak lagi dibawah naungan Departemen Penerangan. Departemen Penerangan bukanlah PLN karena itu beda. PLN itu soal listrik dan bukan soal penerangan. Banyak yang terang tapi, tidak berasal dari PLN, contohnya: Kamu.

Dulu, setiap media mesti melawati jalur Departemen Penerangan untuk bisa mempublikasikan karya jurnalistiknya. Apaun itu bentuknya. Akibatnya adalah media menjadi corong pemerintahan. Bagi media yang ingin coba-coba nakal maka akan di bredel. Bisa dilihat, Majalah Detik di bredel, Majalah Tempo juga demikian. Mereka (media) tidak bisa berbuat banyak selain menjilat pemerintah untuk bisa bertahan. Di perpustakaan Teras Baca, banyak media tahun 80-an, kalian tahu isinya? Saya saja enggan membacanya. Bukan berarti 'bad news is a good news' tapi, ini adalah soal independensi suatu media.

Soeharto turun, Habibie naik. Departemen Penerangan dihapus, banyak media baru bermunculan. Oia, salah satu tugas Departemen Penerang kala itu selain mensortir isi pemberitaan, juga memegang wewenang untuk mengeluarkan SIUPP (Surat Izin Usaha Penerbitan Pers). Kini, sudah ada lagi SIUPP dan siapapun berhak membuat media sendiri. Sebenarnya ada Undang-Undang yang mengatur untuk mendirikan media sendiri tapi, ini Indonesia. Aturan hanya sebatas slogan.

Buanyak sekali media bermunculan. Kontennya-pun beragam, dari politik sampai tumbuh-tumbuhan. Apa saja yang sekiranya menjual dan menguntungkan, tinggal buat. Ini dia kalimat yang menjembataninya, apapun yang menjual dan menguntungkan tinggal dibuat.

Saya sendiri pernah dengar ucapan orang bule, "Bagi siapapun yang ingin berkuasa di Dunia Ketiga, maka mesti bisa menaklukan media." Media dibawah orang-orang yang ingin berkuasa. Orang yang ingin berkuasa mesti memiliki modal. Bagi siapapun yang punya modal, ingin berkuasa, taklukan media. Jadilah seperti sekarang, satu orang, bisa mengendalikan banyak media. Baik cetak, elektronik, sampai media baru (internet dll, dst, dsb).

Ini menjatuhkan itu. Itu menjatuhkan balik ini. Ini menjatuhkan orang dalam untuk meraih simpati. Itu membanggakan diri agar orang lain tahu. Persetan.

Mungkin banyak yang tidak tahu, media memiliki dua kekuatan: Agenda Setting dan Jarum Hipodermik. Agenda Setting adalah di mana media mengikuti permintaan pasar, kemudian dikemas serapih mungkin. Nanti, ketika pasar sudah nurut, media bisa mempermainkannnya. Dan, Jarum Hipodermik adalah di mana media menyerang langsung pasar dan membuatnya tidak berdaya. Ingat, di Indonesia masih banyak orang mudah percaya dari apa yang dilihat dari media. Ketika pasar sudah dibuat tidak berdaya, ada konspirasi di sana.

Itulah Revolusi yang terjadi di sini. Konglomerasi media adalah alatnya. Persetan.

Persetan. Asal kalian tahu, saya menulis ini tidak sampai 30menit. Sedangkan kemarin, saya mesti menulis empat halaman dengan menulis tangan dan mengabiskan waktu lebih dari dua jam. Persetan, kenapa saya baru secerdas ini bukan kemarin?

Begitulah kalian jika ingin menulis. Tulis apa saja yang kalian tahu dan menjadi keresahan. Tidak sulit. Makanya belajar.



Perpustakaan Teras Baca, 9 Juli 2013


Tag : ,

Kasih Sayang dan Uang

By : Harry Ramdhani
Di bawah terang lampu jalan. Glady melangkah dari satu orang ke orang lainnya. Sendirian. Demi target satu bulan, Ia rela membual yang kadang tidak masuk akal seperti halnya sebuah guyonan.

Baju ketat mini, sepatu hak tinggi, dan make-up tebal di pipi. Malam ini Ia cantik seperti model di televisi. Namun, apalah artinya kecantikan bila hanya sebagai bahan jualan? Sama saja, bak ikan hias yang ada di Festival tahunan Ikan Nasional. Semakin cantik ikan, maka akan besar kemungkinan laku dijual. Ia manusia, bukan ikan.

Aku sudah sering mengingatkannya untuk berhenti menjadi SPG, carilah pekerjaan lain yang pantas untuknya. Bukan berarti merendahkan pekerjaan seorang sales tapi, image yang telah terbentuk di khalayak, buruk. Asumsi khalayak adalah SPG merupakan kedok pelacuran yang legal. Kurang buruk apa?

***
 
Di teras rumahnya, suasana kaku antara kau dan aku. Membeku. Aku hanya diam ada yang memecah kebuntuan, menunggu. Alasan semua ini sama seperti masalah-masalah yang dulu, urusan pekerjaannya menjadi seorang SPG di perusahaan rokok, Tebu.

Angin berhembus pelan. Tidak ada seorang-pun yang melintas di jalan.

"Kenapa kamu tidak adil?" Tanyaku untuk mencairkan pertemuan yang beku.

"Maksudnya?" Jawabnya heran.

"Kamu banyak bicara ketika sedang berkerja tapi, denganku kau diam seribu bahasa."

"Itu beda."

Hanya adu argumen yang terjadi. Seperti itu sedari dulu. Bukannya tidak ingin mengalah tapi, kamu selalu membentengi diri: mesti bekerja apa lagi?

Obrolan ini tidak akan pernah ada akhir, karena Ia masih disibuki nomor-nomor baru yang daritadi memanggil. Tapi, tak satupun diangkat. Bajingan supervisor itu, lewatnyalah nomor handphone Glady disebar ke orang-orang yang (ingin) mencoba mendekatinya. Embel-embelnya: urusan pekerjaan.

Pekerjaan adalah alasan. Alasanku terus jarang akur dengan pasanganku dan alasannya terus mempertahankan pekerjaannya. Tidak ada yang berubah dari dulu kecuali umur kita.

"Glady, maafkan aku bila terlalu mengekangmu karena pekerjaanmu ini. Jujur, dibalik semua itu, aku menyayangimu." Selalu seperti itu aku mengakhiri adu argumen kala perdebatan sedang dipuncak-puncaknya. Malahan, kadang hanya dengan satu ciuman yang bisa membuatnya diam.

'HEH!! PELACUR. SONGONG BANGET TELPON AJA GAK DIJAWAB.'

Sebuah pesan singkat yang masuk ketika Glady enggan mengangkat telpon dari orang yang Ia sendiri tidak kenal. Sebenarnya sudah biasa pesan singkat seperti ini masuk tapi, kali ini aku naik pitam. Glady bukan pelacur.

"Sampai kapan?"

"Aku tidak ingin mengganti nomorku, sayang. Bisa dipecat nanti."

Aku rela mengakhir hubungan, asalkan Ia bisa mendapat laki-laki yang bisa menjamin hidupnya dan tidak lagi bekerja menjadi seorang SPG.

Wanita cantik memang diberikan sedikit kekurangan: bodoh. Padahal, Ia bisa mencari laki-laki yang lebih mapan dari sekarang, lebih bisa menanggung hidupnya di masa depan, lebih bisa membuat hidupnya tenang. Tapi, lagi-lagi ini hanya soal kasih sayang dan uang.









Perpustakaan Teras Baca, 9 Juli 2013
Tag : ,

Di Bangku Pelataran Senja

By : Harry Ramdhani
Di dalam mimipi bertemu Hani.

Aku sedang menikmati sore
di bangku pelataran senja.
Matahari mulai pelit dengan cahayanya
namun indah, seperti
sedang melihat sebuah jambore.

Banyak orang di sekeliling,
walau kadang membuatku pusing
tapi, inilah keindahan senja
dengan segala keberagaman yang ada.

Anak kecil bermain sepak bola
di lapangan voli,
gerombolan pemuda menikmati
secangkir kopi,
dan aku memikirkannya.

Ia yang kerap membuatku canggung
bila bertemu langsung.
Ia yang kerap diam di kelas ini,
padahal ini kelas komunikasi.
Ia yang kerap angkuh bila
digoda dengan siapa saja.

Di situ, aku memperhatikanmu,
perlahan ada yang tumbuh walau
aku sendiri tidak tahu apa itu.

Selintas teringat awal kita jumpa.
Sepatu putih dengan lubang di depan,
pakaian yang merekat tapi, tidak ketat,
lalu di tangga kau berjalan begitu cepat.

Bukannya aku ingin membuntuti-mu,
karena pada waktu yang sama, aku
sedang ada keperluan di fakultas.
Kita bersama ke atas.

Sejak saat itu, kita sering bertemu.
Namun, aku terlihat seperti orang gagu.
Jangankan menyapa, melirik saja malu.

Di sana aku sadar, ada yang beda
di antara kita.
Entahlah namanya apa.

Aku tanyakan tentangmu
ke teman-temanku
tapi, tidak ada yang tahu.
Mana mungkin tidak ada yang tahu?

Ternyata benar, meminjam istilah
dari salah seorang anggota Geng Salip:
"Kau ini seperti intan permata
yang tertimbun batu kali. Di sini."

Cahayamu remang-remang,
langkahmu cepat hilang,
itu saja.
Kau adalah senja.

Di bangku pelataran senja
aku tercengang. Kau datang
dengan kendaraan dan
parkir sembarangan.
Lalu turun dengan menawan.

Berjalan ke arahku.
Duduk di sampingku.
Menikmati senja denganku.
Di pelantaran sebuah bangku.
Tapi tetap diam.
Itulah kau denganku.

Hani itu Harry Ramdhani.


Perpustakaan Teras Baca, 7 Juli 2013
Tag : ,

Kedai itu Alania

By : Harry Ramdhani
Pertemuan kita sungguh singkat. Di sebuah Kedai di dekat kampus ternama di Bogor saat hujan turun dengan arogan.

Sweater cokelat yang kau kenakan terlihat berat. Mungkin telah banyak meresap air hujan di badan. Pandanganku-pun terisap oleh caramu mengibaskan rambut-rambut basah itu. Dari jarak kejauhan tentunya. Di sinipun aku menggigil oleh angin yang terus berhembus tak karuan. Menyerang dari depan dan belakang. Aku kedinginan. Apalagi kamu dengan sweater cokelat basah?

Pandanganku-pun berhenti saat mobil sedan abu-abu berhenti tepat di depanmu. Keluar seorang ibu-ibu yang umurnya sekitar 40-an memberikanmu payung kuning bergambar bunga disekelilingnya. Aku pikir itu adalah ibumu. Kalaupun bukan, itu bukan urusan. Aku terpesona olehmu saat ini, saat hujan menjebakku di kedai sendiri.


***

Seperti orang-orang dalam cerita fiksi, aku menunggumu di tempat dan di jam yang sama, masih juga kau tak kunjung datang. Besoknya, lusa, sampai dua mingggu berikutnya,… tidak ada.

Karena sudah terbiasa menunggumu di sini, di sebuah kedai tempat mahasiswa membuang-buang waktu, aku jadi kenal beberapa pelayan kedai. Salah satunya: Triyono., pria jawa yang senang sekali melantunkan guyon ketika aku memesan secangkir kopi hitam. Ia tahu, kopi hitam adalah pesananku kedua untuk menunggumu. Kata Triyono, "Kopi aja bisa, tuh, dari panas ke dingin. Masa perasaan, nggak?" Terus saja Ia meledekku dengan guyonannya. Padahal garing tapi, karena logat kental jawa yang sudah campur aduk dengan aksen sunda, jadilah menggelikan. Aku tidak marah sama sekali, mungkin ada benarnya ucapan Triyono.

Hujan turun ketika aku ingin pulang. Cukup deras, sama seperti pertemuanku dulu dengan wanita ber-sweater cokelat.

Kedai tidak terlalu ramai, padahal aku membawa jas hujan di motor tapi, hanya enggan saja mengenakan. Karena ada beberapa berkas-berkas perbaikan skripsiku yang tidak boleh hancur oleh hujan. Cukup harapanku saja.

Ketika ingin memesan, jatuh dua logam lima ratusan. Cliriiing, menggelinding lalu meluncur mulus ke selokan. Ahh, sial. Sesaat menoleh dari jatuhnya uang logam, ada dia, dia, wanita ber-sweater cokelat yang dulu pernah aku lihat. Kini, Ia tepat ada di sebelahku. Gugup, tak satu-pun kata yang bisa menyup keluar dari rongga mulut.

"Har, ada uang lima ratus, gak? Lagi kosong receh, nih." Tanya Triyono padaku.

"Hah!! ada kok, ada, tapi tadi udah masuk selokan." Tunjukku ke arah selokan tapi, sedikit mengenai lengan dia, wanita ber-sweater cokelat. "Maaf." Kataku.

Dia, wanita ber-sweater cokelat hanya tersenyum. Sungguh cantik.

Sejak saat itu --berkat Triyono tentunya-- aku bisa kenal dengannya (bahkan lebih dalam). Hampir setiap hari aku menunggunya selesai kerja di kedai. Aku selalu memesan kopi hitam. Tidak seperti dulu, biasanya aku memesan secangkir kopi hitam untuk menunggu kedatangannya yang tak tentu tapi, kini secangkir kopi hitam pesananku adalah temanku ngobrol dengan Alania. Seorang wanita ber-sweater cokelat itu.

Janjian di kedai, minum-minum santai, lalu membicarakan hal remeh-temeh seperti orang yang sedang berjemur di pantai. Begitulah keseharianku dengan Alania, jika sudah waktunya, aku pulang mengantarnya. Di motor-pun kita masih bisa membicarakan banyak, dia sungguh orang yang pandai mengamati hal dengan cermat. Sehingga, lampu merah yang lama saja bisa jadi obrolan kita sepanjang jalan. Bahkan di akhir pekan, Ia tetap ingin mengajakku untuk bertemu di kedai. Begitulah suasana kedai, jauh lebih merakyat dibanding ocehan para wakil rakyat yang katanya merakyat. Ndasmu merakyat.


***

Malam itu tidak berbeda dengan malam lain saat aku menunggunya di kedai. Kini, Alania datang dengan tampang sedikit serius. Padahal, sejak tadi siang tidak ada apa-apa. Hanya kabar baik yang datang.

"Hardy, apa yang kamu rasain katika bersama aku?" Alania menanyakan tanpa basa-basi terlebih dulu.

"Aku,… aku merasakan senang. Sebentar, apa ini soal status?"

"Aku tidak berpikir seperti itu."

"Tapi, itu maksud kamu, kan?"

"Hardy, Aku menyayangimu." Mata Alania memerah. Sedikit lagi mungkin akan meletus air mata dan mengguyur pipi mulusnya.

"Begitupun aku. Lantas, kenapa kau menanngis Alania?"

"Mulai minggu depan, aku akan pergi ke luar kota. Selamanya."

Akhirnya, Alania menikah dengan laki-laki pilihan keluarganya. Sejak saat itu, aku dan Alania hanya bisa bertukar kabar melalui sms dan telpon. Sebuah pernikahan yang telah membuat hubungan kita sebatas teman. Teman yang tumbuh dari rasa sayang.

*** 10 tahun kemudian ***

Aku dan Triyono mendirikan sebuah kedai sendiri. Kedai yang telah lama kita perbincangkan dulu sejak aku mulai menunggu seorang wanita ber-sweater coklat. Kedai itu kita berinama: Alania.

Perpustakaan Teras Baca, 6 Juli 2013
Tag : ,

bubukmarimas

By : Harry Ramdhani

Aku pernah menanyakan 
pada hujan 
makna cinta pada setiap butiran 
air hujan yang menggenang 

Di sana, aku hanya menemukan 
makna kerinduan, 
kenangan, 
keresahan, 
dan, orang-orang yang 
trauma pada hujan. 
Itulah kebencian. 

Di mana makna Cinta pada hujan? 
Cinta yang orang-orang puja 
melebihi Kebesaran-Nya. 

Aku tak ingin menyerah pada kenyataan, 
pada hidup yang tak sejalan, 
pada harapan 
yang semakin runyam. 

Percayaku pada hujan adalah Cinta. 
Bukan resah yang telah basah, 
bukan rindu yang menjadi candu, 
bukan sebuah kenangan yang menggenang, 
bukan pula trauma yang membabi-buta. 
Aku mencari Cinta. 

Walauku belum berjumpa dengan cinta 
tetapku mencarinya. 
Sampai air hujan ini khanyut ke laut, 
bersatu dengan yang lain, bertemu pelaut. 

Rasanya seperti butiran marimas jeruk 
yang tidak larut ketika diaduk. 
Hanya menggenang di permukaan 
gelas bergambar horoskop bintang. 

Kekasih, masihkah aku menemukan 
makna cinta kala hujan? 
Atau itu hanya mitos dongeng malam? 


Perpustakaan Teras Baca, 5 Juli 2013

Tag : ,

Wawancara Imajinasi

By : Harry Ramdhani
Wawancara ini adalah fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama, mungkin itu hanya keisengan sendiri.

Namanya Eka Harry Purnama tapi, lebih sering dipanggil 'Kodok'. Kini, kerjaannya selain jadi pengangguran yaitu menjadi fasilitator outbond dan… menjadi komika--sebutan untuk stand-up comedian-- di Unida.

Pewarta : Penampilan yg hebat walau sedikit penonton datang melihat. selamat.

Eka Harry : Terima kasih. Sekarang saya artis Unida.

Pewarta : Ouw, boleh saya minta tanda lahirnya? Baiklah, sekarang serius. Sebenarnya ini acara apa?

Eka Harry : Tadi beli tiketnya? Nonton dari awal? Sadar dateng ke sini untuk apa?

Pewarta : Iyaaah, kalau itu paham. Tapi, ada moment apa tiba-tiba ada acara stand-up, gini?

Eka Harry : Jleb Moment. Tahu?

Pewarta : Kok makin ngaco?

Eka Harry : Lho, kok gak pinter jadi mahasiswa jurnalistik? Iyah, dong, Jleb Moment. Bayangin aja, sudah satu tahun lebih berdiri Stand-up Unida tapi, baru sekali bikin Show sendiri. Kurang Jleb gimana, coba?

Pewarta : Bener juga, sih. Kasian.

Eka Harry : Tapi, tengs udah dateng. Gitu doang wawancaranya?

Pewarta : Eh, belum. Masih banyak yang ingin ditanya.

Eka Harry : Lagian udah gak lemparin pertanyaan lagi.

Pewarta : Maaf. Sejakan kapan jadi komika?

Eka Harry : Sejak Stand-up Unida ada.

Pewarta : Kapan?

Eka Harry : Eum… 30 Maret 2012.

Pewarta : Saat itu sudah lulus kuliah? Oia, berapa lama kuliah di sini?

Eka Harry : Belum. Hitung sendiri, saya masuk tahun 2005 dan lulus tahun 2012.

Pewarta : Wuaaw. Lama juga. Apa yang dilakukan dulu sebelum jadi komika dan wisuda?

Eka Harry : Saya sering demo, aktif diberbagai organisasi. Intinya, saya cinta dengan hal yang saya lakukan. Begini, setiap manusia memiliki otak, setiap otak dilakukan untuk berpikir.

Pewarta : Maksudnya?

Eka Harry : Nah, disitu saya belum dapet punchline-nya.

Pewarta : Baiklah, fokus. saya yakin kalau hanya sebatas organisasi dan lainnya yang tadi telah dijelaskan, bukan jadi alasan yang kuat untuk lulus selama ini. Ada alasan lain?

Eka Harry : Pertama, saya tidak bodoh atau dungu atau segala temannya. Kedua, sawah dan sapi saya masih banyak di rumah. Jadi, manfaatkan saja.

Pewarta :Saya terima. Terakhir, saya tidak menemukan titik temu wawancara ini, apa yang mengasyikan dari lulus lama dan kini menjadi komika?

Eka Harry : Sebenarnya, apapun yang kita lakukan pasti mengasyikan. Baik itu postivi maupun negative. Soalnya, pahala dan dosa itu urusan Tuhan. Saya kuliah lama bukan karena apa-apa, tapi lingkungan ketika kuliah membuat saya nyaman. Kenyamanan membuat saya bertahan. Menjadi komika, itu mimpi saya sejak dulu. Bisa bicara didepan banyak orang lalu membuat mereka tertawa. Tidak ada yang lebih mengasyikan daripada melihat senyum orang yang sedang bersedih. Kamu, sekarang mengerjakan tugas wawancara, apa tujuannya? Dapat nilai? Lulus cepat? Atau memang ini passion kamu? Apapun itu, bukan urusan saya, karena saya bahagia dengan apa yang ada.

Pewarta : Bagus. Saya kira cukup wawancara hari ini. Maaf telah mengganggu waktu istirahatnya. Selamat atas show hari ini.

Eka Harry : Ya.

Menjaga Malam

By : Harry Ramdhani
Masih terlihat murung seperti putri malu yg menguncup setelah dikecup. Lampu jalan terus menerang,  kemudian mengerang beberapa tikus got saat lajunya terlihat Junarto Wijaya.

Ini kali keempat Aku melintas di depan rumah mewah tingkat dua. Hanya lampu remang yg menyala di teras rumah dan balkon atas. Tapi, tidak seperti biasa, satu lampu menyala di salah satu sudut ruangan lantai atas. Yup, itu kamar Gisele, seorang mahasiswi tingkat akhir Universitas ternama Jakarta. Mungkin Ia sedang mengejakan skripsi, pikirku.

Kembali, Aku berjalan mengelilingi teritorialku untuk sekedar memastikan bahwa semoga terkendali dan baik-baik saja. Sesekali Aku mengingat saat pertama jumpa dengan Gisele di perempatan jalan dekat rumahnya. Ia sungguh menawan dengan t-shirt putih dengan dipadu-padankan jeans biru gelap sebagai bawahan, rambutnya dikuncir satu kebelakang dan menyisakan ratuasan helai dibagian depannya menjadi poni yg disisir rapih ke kiri. Kala itu, Ia mendekap dua buku besar dan ketika berpapasan, satu senyum lebar yg mampu menghidupkan bunga mati kembali mekar.

Gisele tidaklah seperti wanita lainnya yg sombong karena kekayaan orang tuanya. Gisele tidaklah manja seperti wanita lainnya karena 'anak bontot'. Ia lebih sering menggunakan kendaraan umum ketimbang menggunakan mobil pribadi hadiah ulang tahun ke-20 dari kakaknya. Ya, Gisele hanya dua bersaudara, kini kakaknya telah menikah dan tinggal di Luar Negeri karena urusan pekerjaan. Bisa dihitung dengan jari satu tangan bila kakaknya pulang ke Indonesia dalam satu tahun.

Di setiap sudut perumahan serasa menakutkan dengan segala kegelapan yg disajikan. Bukan, bukan karena makhluk halus tapi, tapak-tapak yg tertinggal di sana. Tapak kaki itu nampak hidup kembali dengan segala kesibukan pemiliknya. Aku mendengarkan setiap langkah yg hilir-mudik tak karuan.

Terlihat seseorang berdiri di bawah lampu jalan. Siluetnya menggambarkan orang yg kebingungan. Menoleh ke kanan dan kiri seperti mencari sesuatu atau sedang memperhatikan sekitar. Aku berlari mendekat. Ternyata Gisele, orang yg tadi Aku pikir adalah maling.

"Hey, dari mana aja kamu ?" kata Gisele memulai perbincangan.
Aku masih mengatur napas karena habis berlari. Sebenarnya, napas yg tak teratur keluarnya karena nervous melihat Gisele lebih dekat dan ditambah sedikit rasa tak percaya.
"Eum, Aku habis keliling." jawabku, "Ada apa keluar malam-malam gini ?"
"Ouw, tadi Aku masak nasi goreng. Maklum, lagi ngejain skripsi malem-malem eh, perut sirik minta dikerjain juga." Aku memperhatikan setiap kata yg keluar dari bibir tipisnya. Sangat cantik. "Kamu mau nyobain 'kan ? Tadi Aku masaknya kebanyakan." Tanpa menunggu jawaban dariku, Ia langsung masuk ke dalam rumah dan keluar membawa dua piring nasi goreng.

***

Perbincangan kami tak terarahkan. Dimulai dari skripsi yg tengah dikerjakan Gisele sampai hal-hal remeh seperti membicarakan tukang sayur yg sering lewat tiap pagi dan menggoda Gisele dengan gombal-gombal kelas teri. Laki-laki manapun pasti iri denganku sekarang dan malam ini mimpi buruk sedang berkunjung ke ruang imajinasi mereka. Gisele adalah idaman setiap laki-laki.

Benar, dunia malam sungguh tidak bisa ditebak. Semua poros berputar terbalik. Tiga jam lagi tugasku selesai, Gisele-pun sudah terlelap di kamarnya. Kini, Aku kembali kesepian. Satu senter yg tergeletak Aku ambil dan kembali berkeliling. Cukup sudah melihat bungkus rokok, dedaunan kering, juga batu kerikil yg enggan menemaniku. Malam ini, akan seperti malam-malam biasanya. Bila terjadi hal seperti tadi, mungkin Aku sedang mengigau.


Diadopsi dari puisi, "Kesepian dalam Kesunyian" karya Harry Ramdhani.

Dan terinspirasi dari lagu Bruno Mars - Just The Way You Are
Tag : ,

- Copyright © Kangmas Harry - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -