The Pop's

GELAP

By : Harry Ramdhani

Siang itu aku terkesan oleh salah satu twit dari Wira Panda (@Wira_Panda) kalo dia ingin mengajak Followers-nya untuk ikut nulis cerpen dimana bahannya dari lagu2 dari Peterpan. #CerpenPeterpan itu tagar untuk memudahkan orang2 mencarinya. Aku ingin sekali bisa berpartisipasi untuk menulis cerpen, karna aku-pun kini sedang belajar menulis. Tapi sayang, aku hanya tahu lagu peterpan yang berjudul ‘Ada Apa Denganmu’. Aku ingat saat pertama kali belajar bermain gitar dan ketika aku tanya temanku yang sudah mahir main gitar katanya, “belajar aja pake lagu peterpan yang ‘Ada Apa Denganmu’. gampang kok kuncinya, cuma E, C, G, dan D. Begitu aja terus sampe lagunya abis.” Bahkan sampai gitarku patah... Ani. Dan itulah alasanku baru posting lagu ini sekarang bukan hari saptu (28/7) lalu seperti yang diminta oleh Kak Wira sebagai deadline.



Pagi itu, saat kuliah MKDU (Mata Kuliah Dasar Umum) Sosial Budaya pada semester awal dimana seluruh mahasiswa angkatan baru digabungkan untuk mengikuti kuliah tersebut. Aku datang terlambat. Di luar kelas berdiri seorang wanita yang terlihat tampak panik karena nampaknya dia-pun terlambat. Rambutnya diikat secara sederhana kebelakang dengan ikat rambut berwarna kuning cocok dengan sepatu Jerry yang sama berwarna kuning.”Kenapa masih diluar kelas ?” tanyaku. “Aku terlambat,dan dosen ini kayaknya Killer. Jadinya aku takut untuk masuk” katanya dengan keringat bulat-bulat yang timbul dikeningnya.

Sebenarnya Aku tidak pernah terlambat untuk masuk kelas tapi kali ini karna perutku sedikit sakit karena semalem makan tempe penyet yang rasanya dapat membuat lidah melet tak karuan. Ketika sampai di kampus, Aku sudah dua kali masuk kamar mandi hingga terlambat seperti sekarang.

Aku memang bukan mahasiswa yang terlalu rajin untuk selalu masuk kelas, kalau sudah terlambat dan sudah bisa dipastikan nanti akan disembur oleh dosen ya aku tidak masuk kelas. Tapi, kali ini berbeda. Ia yang berdiri di luar kelas, Ia yang tampak takut masuk kelas karena terlambat, Ia yang memiliki semangat untuk tetap masuk kelas walau nanti yang Ia-pun tahu kalau nanti akan disembur oleh dosen, telah membuat ‘Jiwa Kelakian’ dalam diriku seakan keluar.

Ada dua posisi dimana ‘Jiwa Kelakian’ setiap laki-laki itu akan keluar secara tida diduga. Pertama, ketika Ia sedang merasa tertekan oleh orang-orang yang tampak ‘garang’ dan mengancam hidupnya. Dan Kedua, catechism Ia sedang bertemu dengan wanita cantik. Yaa, wanita cantik, seperti dia yang sedang berdiri di luar kelas.

“Jadi kamu mau masuk kelas ?” Tanyaku basa-basi.
“Iyah” Suaranya semakin pelan. Sungguh pelan sampai hatiku-pun bisa mendengar suara itu.
“masuk aja yuuk, siapa tahu itu Dosen lagi baik hari ini.”. Inilah posisi dimana laki-laki tidak boleh melakukan hal bodoh. Niatnya ingin serius malah jayus.
Ia diam. Aku tahu diamnya itu pasti seakan ingin menghiraukan ucapanku tadi dan dalam hatinya berteriak “APA SIH INI ORANG, SANA DEUH. GANGGU AJA”. Tiba-tiba Ia melangkahkan kaki meninggalkan luar kelas dan tanpa sadar tanganku mengayunkan kearah tangannya dan menggenggamnya. 
“Hey, mau kemana ?” ucapku tanpa sadar.
Ia memandangku dengean tajam. Aku-pun melepaskan genggaman, “Maaf”.

Disudut tangga, aku melihat sebuah dus yang bekas dipakai oleh BEM menggalang dana korban gempa. Inilah laki-laki, selalu keluar ide yang aneh untuk melakukan suatu hal. Bertindak dahulu tanpa memikirkan akan terjadi apa nantinya atau dalam istilah orang sunda “Kumaha Engke”.

 
“Kita pake ini aja untuk masuk kelas, yuuk. Pura-pura aja abis ikut baksos sama BEM.” kataku sambil mengajaknya.
“Hah, gimana caranya ?” jawabnya seakan tidak ada pilihan lagi untuk bisa masuk kelas.


“Kita pake ini aja untuk masuk kelas, yuuk. Pura-pura aja abis ikut baksos sama BEM.” kataku sambil mengajaknya.
“Hah, gimana caranya ?” jawabnya seakan tidak ada pilihan lagi untuk bisa masuk kelas.
“Udah ikut aja, biar nanti Aku yang ngomong. Kamu bawa Almamater ‘kan ?”
“Bawa sih, tapi cuma satu.”
“Kamu pake deh itu Almamaternya.”
“Bener nih ?”
“Yaampun, udah pake aja sih itu Almamaternya. Masih pengen masukkan ?” Aku jadi sedikit emosi karena Ia yang nampak ragu.

*tok tok tok,* Assalam’mualaikum. Aku membuka pintu sambil memegang dus tadi.

“Maaf, Ibu, kami terlambat masuk kelas. Tadi abis melaksanakan baksos untuk korban gempa”. Kataku sambil terbata-bata.
“Kamu tidak tahu kalau pagi ini ada kuliah saya ?”
“Iyah, kami tahu kok, Bu. Aaa, kami ingat kata Ibu minggu lalu tentang kegiatan sosial. Euum, yang menusia adalah makhluk sosial dan tidak dapat hidup sendiri. Maka, kami sadar bahwa saudara kita disana sedang tertimpa musibah dan kita tahu bahwa manusia tidak hidup sendiri, masih ada kami yang akan membantu”. Jawabku seakan itu sudah Aku persiapkan sebelumnya. Lancar.
“Ouw, jadi kamu masih ingat pelajaran minggu lalu. Tapi kenapa harus sepagi ini dan bawa dus bekas itu ? sangat tidak elegan.”
“Yaa, karena kami melakukan ini di jalan raya, maka waktu yang tepat adalah pagi. Kalau kami tunggu sedikit siang, jalanan sudah sedikit renggang. Dan, dus ini memang tidak pantas untuk melakukan bakti sosial. Sama saja seperti mengemis atau minta-minta, bedanya kita rapih dan memakai almamater dan pengemis tidak.”
“Kamu tau kalo islam itu…”
“Iyah, Ibu, Islam itu tidak mengajarkan untuk mengemis atau minta-minta tapi Islam mengajarkan kita untuk  memberi. Tapi, kita hanya mediator untuk menyalurkan ini kepada orang-orang yang membutuhkan” ucapanku yang tadi memotong pembicaraan Dosen.
“Yasudah, duduk sana”. Kata Ibu Dosen.
“Maaf, Bu, karena kami terlambat.” Aku jalan menuju bangku.
“Oiyah, siapa namamu ?”
“Aku, Rama dan ini…”
“Aku, Agnes”. Jawabnya dengan tegas. Aku-pun sedikit terkejut, betapa berbedanya Ia tadi ketika diluar dan di dalam kelas. Dan… namanya Agnes, sungguh cocok dengan kecantikannya.
“Rama dan Agnes, mulai saat ini kalian jadi Asisten Dosen untuk mata kuliah Sosial Budaya dan jangan duduk dibelakang, duduk didepan”, Kata Ibu Dosen.

Kelas mata kuliah Sosial Budaya selesai. Aku kembali bersama teman-temanku dan… Agnes kembali bersama temannya pula. Aris, temanku langsung menyambar, “kamu beneran tadi baksos ?”. memang dia ini terlalu serius dalam menanggapi hal sekecil apapun tapi dia pintar, “Yaa, engga lah. Orang itu aku nemu dus di luar kelas”. 

Ketika asik nongkrong di Kantin, Ringga menepukku dengan sedikit keras. 
 
“Ram, hebat bener kamu yah.” Kata Ringga.
“Hebatlah, urusan ngomong begitu sama Dosen mah nih Rajanya.” Kataku sambil menepuk dada.
“Bukan, tapi Agnes. Jadi semalem Aku smsan sama dia sampai jam 12an lewat malah dan pas adegan aku mau nembak dia ternyata Agnes salah sms gitu ke Aku, engga penting sih isinya tapi intinya Aku tahu kalau dia udah punya pasangan.” Ringga menceritakan itu dengan serius.
Aku tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Ringga. “Tapi kamu udah pernah ketemu dia ? atau paling engga yah udah sama-sama kenal gitu?” tanyaku penasaran. Dan Ringa menggeleng. Ketika ingin pulang, “Ram, pengen nomornya Agnes gak nih ?”. kata Ringga. “Hah, nomor apa ? dalemannya ?” menimpaliku dengan sedikit becandain RIngga yang telah pasrah mendekati Agnes. “Bukaaaaaan, nomor HP-nya ‘lah.” Ringga semakin geram padaku. “Engga ahh.” Tolakku atas pemberian nomor itu.

Malam hari ketika Aku sedang mengerjakan tugas ada sms masuk, dan itu dari… Agnes. Singkat sekali sms-nya, ‘Thx, Rama. Agnes’. Senang sih karena dapet sms dari dia tapi Aku binggung dapet nomorku dari siapa ? Tak penting.
Aku : ‘Iyah, Agnes, singkatnya sms kamu tadi. Kalau diingat-ingat, lebih panjang ucapan kamu ketika ngomong sama Dosen Killer tadi pagi.’
Agnes : :) diam adalah emas.
Aku : Okeh, udah ahh Aku ngerjain tugas dulu nanti keburu malem.
Agnes : Tugas apa, Ram ?
Aku : Diam adalah emas :)
Agnes : ihh, Rama, tugas apa sih. Kayaknya tadi gak dikasih tugas deh.
Aku : :)
Agnes : RAMAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA.
Aku : Heh, Kamu sama Aku ‘kan beda jurusan. Jadi ini mah Aku lagi ngerjain tugas Prodi Aku, wle:p
Agnes : ouw, bilang dong dari tadi.
Aku : :) diam adalah emas.
Agnes : RAMAAAAAAAA, rese ihh.

Mulai saat itu, Aku dan… Agnes jadi dekat. Aku tahu dimana batasku dengan Ia yang sudah punya pasangan dan Aku… single. Kita berdua hanya Asisten Dosen untuk Mata Kuliah Sosial Budaya.

Tidak terasa, sudah 2 tahun Aku dekat dengan Agnes. Saling bertukar cerita antara satu dengan lainnya. Kini, teman Agnes di Kampus adalah temanku juga. Begitu sebaliknya. Pernah aku satu kali mengadakan kegiatan penggalangan dana yang tadinya dulu hanya basa-basi tapi kini menjadi kenyataaan.

Aku ingat ketika Aku mengajak Agnes pulang bersama. Yaa, pertama kalinya. Aku tahu ketika itu hubungan Agnes dengan pasangannya sedang tidak bagus. Hal pertama yang Aku lihat adalah matanya yang memerah, mungkin habis menangis di kostan temannya. Lama berbincang dengan Agnes, akhirnya Ia-pun bisa balikan lagi dengan pasangannya. Aku sebenarnya tidak usah ‘belaga’ ngasih nasehat, karena Aku tahu bahwa mereka  tidak akan bisa berpisah lama-lama. Dan akan selalu begitu selama mereka berhubungan. Putus-Nyambung.

Sore itu berbeda, Agnes datang menghampiriku dengan tangis. Dan mengatakan “Rama, tolong jangan dekati Aku lagi”.

Sampai malam datang, aku masih tidak tahu maksud dari kata-kata itu. Eumm, yang Aku tahu memang mereka kini sedang berpisah. Tapi… apa hubungannya denganku.

Aku berdiri dalam gelap. Tersungkur dalam keheningan malam. Berlarian dalam pikiran. Terkapar oleh angin yang liar.

Aku melihat tiga bintang yang berdekatan, bentuknya mirip anak panah yang sedang meluncur memecahkan malam, meleburkan dinginnya malam, menghancurkan dinding keterpaksaan perasaan.

Aku tidak habis pikir kenapa dengan kau sekarang ini ?

Apa salah yang telah Aku buat sampai Kau seperti ini sekarang ? tell me, please.

Jika kemarin Aku sempat membuatmu merasa kecewa, tolong  maafkan aku. Tidak perlu diucap, karena kita-pun saling memahami.

Sampai kapan ini ? Embun diatas rumput sudah mulai bermunculan, Ayam sudah siap membangunkan orang-orang. Matahari perlahan memperlihatkan fajar-nya, tidak seperti putri malu yang menguncup ketika disentuh.




@MOTION975FM (motion 97.5 fm)

By : Harry Ramdhani
Tulisan ini bukan untuk menjelaskan bagaimana atau seperti apa ia. Tulishanya berdasarkan sedikit pengetahuan yang aku tau. Mungkin bisa saja seperti sebuah Delusi. Aku sadar, sebuah Delusi dapat menyebabkan suatu kesalah-pahaman antara satu dengan yang lain. Dan ini adalah sebuah alasan kenapa aku ‘nge-follow’ orang tersebut. aku hanya kesal karena pernah membaca sebuah coretan yang entah dimana itu, aku lupa pastinya, “ALASAN HANYA UNTUK SEORANG PECUNDANG”. Sederhananya seperti ini, aku Follow seseorang berdasarkan WAWASAN yang aku tahu, berdasarkan PENGETAHUAN yang aku tahu dan ini adalah sebuah alasan. Alasan yang membawa aku untuk ‘follow’ seseorang. Dan itu adalah KAMU


RADIO…


Eum… aku ingat ketika stasiun televisi dirumah rusak. Saat itu keadaan ekonomi keluarga kami sedang tidak baik. Papah sama sekali tidak punya uang untuk memperbaiki televisi, padahal saat itu acaranya sangat menarik seperti pemutaran video klip anak2 dimana lagu ‘diobok-obok’ dengan tuan Tukul yg menjadi model lagu tersebut yang sangat nge-hits. Dea Imut masih benar2 imut (aaa, sampe sekarang-pun masih imut ahh). Trio Kwek-Kwek masih pada cempreng2 suaranya. Aahhh, aku merindukan masa-masa itu.

Aku hanya bisa menerima dengan apa adanya. Terpaksa setiap ada acara tersebut aku selalu pura2 main ke rumah tetangga 2 jam sebelum acara, berharap cuma bisa numpang nongton. Dan berhasil. Aku melakukan itu selama 2 minggu. Hingga pada akhirnya papah hanya sanggup membeli Tape bekas di Poncol (yaa, ketika itu Poncol masih jual segala macem barang2 bekas). Merknya Pollytron. Hal pertama yang terlintas dipikiran adalah bisa mendengar lagu2nya Joshua walau lewat kaset. Ternyata eh ternyata, hanya bisa digunakan mendengarkan radio. Apa boleh buat, namanya juga bekas. Ucapan Papah ketika tidak bisa aku lupakan “seengganya di rumah gak sepi, masih ada orang yg ngoceh”.

Tidak ada stasiun radio yang memutarkan lagu2 anak, kebanyakan yaa… dangdut. Dan yang sangat senang pastinya Mamah, dari pagi sampe ketemu pagi dangdutaaaaaaaaan mulu. Saat itu aku masih kelas 2 SD dan aku sudah hafal lagu2nya Meggy Z, Rhoma Irama, Elvi Sukaesih, dll.

Singkat cerita. Masih dengan radio yang sama, masih tidak bisa digunakan untuk memutar kaset.
Saat itu hari Minggu, tidak ada orang dirumah, hanya ada aku, televisi yang sudah diperbaiki, dan radio tentunya. Aku iseng menyalakan radio, memutar Tuning untuk masih mencari radio dan taraaaaa… aku menemukan suara Desta Club 80’s. wuah, ternyata Desta selain sebagai Drumer Club Eighties juga seorang penyiar. Dan aku putuskan untuk tidak merubah saluran radio, karna ketika itu aku sangat nge-fans sama Club Eighties.
Tak diduga dan tak dinyana, itu adalah sebuah stasiun radio legendaries, Prambors. Suara Desta menemaniku setiap pagi sebelum berangkat sekolah. Ia sangat cocok ber-partner dengan Arie Dagienkz (@dagienkz) yg aku juga tahu dari acara Reality Show H2C (Harap-Harap Cemas). Aku sama sekali tidak merubah-rubah saluran radio, hanya Prambors.

Entah mungkin karena sering dinyalakan, akhirnya radio itu rusak. Lagi2 karena keadaan ekonomi, aku tidak bisa memperbaiki radio tersebut dan alternative hiburan kembali ke televisi. Sedih ? sudah pasti. Menungu radio bisa diperbaiki itu sama saja seperti menunggu panen buah. Setahun mingkin hanya satu kali.

Singkat cerita. Aku harus mencari Prambors diradio. Aku lupa tepatnya tahun berapa, kalau tidak salah awal Januari 2008 Desta dan Dagienkz tidak kembali siaran pagi di Prambors. Panda ‘lah yg mrnggantiakn posisi mereka siaran. Selama kurang lebih selama 2 tahun aku secara munafik masih mendengarkan Prambors. Aku sama sekali tidak menjelekan Prambors atau Panda, tapi untuk apa aku masih mendengarkan Radio itu kalau bukan oran yg aku suka yg siaran.

Kita akhiri membahas Prambors.

Seperti biasa, aku mulai mencari beberapa Frekuensi. Dan aku menemukan seperti Jak FM. Sungguh fantastis Radio ini. Sama sekali jarang ada orang yg siaran. Hanya rentetan 10 lagu yg terus diputar. Lama aku mendengarkan radio tersebut, seperti biasa, frekuensi hilang begitu saja. Kesal.

Aku harus putar-putar kembali tunes radio yg telah rusak untuk membaca angka. Berputar begitu saja. Kalau aku tidak salah ingat, pukul 9am. Yaa, aku mendenar suara yang telah lama hilang dari radio. Suara itu adalah suara Arie Dagienkz (@dagienkz). Wuihh, aku menemukannya kembali. Menemukan suara yang dapat membuat aku duduk manis didepan pesawat radio untuk mendengar Ia siaran. Dan nama Radio itu adalah MOTION Radio. Saat itu aku tidak tau frekuensinya krna alat pembaca di radioku telah rusak.

Aku langsung lari ke meja untuk mengambil solatip. Menyolatip pemutar tunes agar tidak bisa diputar2 lagi oleh siapa-pun.

Sungguh senang aku bisa mendengar suaranya kembali mengudara. Serasa menyempitkan seisi rumah yang telah sempit dengan suara khas dan banyolan2 tak karuan. Banyolan itulah yang sangat aku rindukan oleh seorang penyiar.
Dagienkz siaran berdua dengan wanita, tidak tau siapa tapi aku rasa Ia adalah pengganti Desta80s yang tepat. Mamah sempat berkata “suara siapa itu ? jowo tenan. Kayak logat orang jawa tengah”. Aku pun tidak tau, yang jelas membuat perutku terkocok oleh materi siaran mereka.
Kerap aku mencoba rekwes lagu ketika mereka siaran tapi sama sekali tidak pernah dijawab. Aku terus mencoba dan teuteup aja gak dijawab. Hhu :(


#FYI: ternyata wanita itu namanya (at)miund







Minggu siang, aku kembali memantengi Motion Radio.

Dan yang siaran ketika itu adlh Dinda Poerbono (kini udah gak siaran, entah kenapa?). aku coba rekwes via sms dan masih saja gak dijawab. Hingga pada akhirnya terlintas di kepalaku untuk membuat akun Twitter saat itu juga. Soalnya yang aku perhatikan yg dijawab oleh penyiar hanya orang2 yg rekwes via Twitter.

Aku membuat akun twitter dengan nama (@HarRam). Binggung juga maeninnya ktka itu. Maklum, anak pesbuk. Tak peduli, yang penting bikin, follow, trus rekwes. Itu yg aku tau di pesbuk kalau orang2 pada baru bikin twitter “Follow gue ya ditwitter @blablaaa”. Baru aku bikin dan follow @MOTION975FM ternyata lansung di Folbek. Begitulah yang aku tau dipesbuk setiap orang yg baru bikin twitter selain minta di follow ya minta di folbek. Aku senang, baru aja bikin akun ternyata langsung di folbek sama @MOTION975FM. Wuuuiiiihhhh.

Menjelang 2 tahun Motion Radio.
Ada salah satu teaser yg mengatakan bahwa nanti Hilbram Dunar (@HilbramDunar) dan Artasya Sudirman (@myARTasya). Yeay, Hilbram-pun ikut siaran di Motion 97.5fm. wuiih. Aku juga baru tau kalo ulang taun Motion selalu ada kuis yg namanya ASBAK (Asal Semua Tebak). Lama aku mengikuti radio ini sampai hafal nama2 Programny seperti siaran pagi itu #SlagiAda (Selamat Pagi Anda Semua) dari jam 6-10 pagi dan penyiarnya adalah Arie Dagienkz (@dagienkz) dan Asmara Miund (@miund). Aku suka siaran pagi ini, penuh dengan semangat, penuh dengan tawa, penuh dengan informasi. Aku paling suka adalah ketika adegan dengan Pak Polisi, Arie Dagienkz sebagai pak Polisi dan Asmara Miund sebagai pengguna jalan. Percakapan mereka sungguh menggelitik, seperti,

“Mbak dari mana ?” kata Pak Polisi.
“Dari Bogor”, kata Miund.
“Jauh juga, yaa. Berapa lama kesini ?”
“yaa, kira2 dua hari berkuda”.

Tidak hanya itu, setiap siang-pun ada Program Chik-Chat. Seru ‘loh, Isinya tentang wanita. Apa lagi penyiarnya Thisi Trensi. Kalau tidak salah, Ia dulu yg jadi penyiar #SeleraKita sebelum Hilbram Dunar dan Artasya Sudirman.

Dan ini, siaran sore. Mereka berdua menemani orang2 yg kena macet di Jakarta dengan menyayat-nyayat hati pendengar. Hilbram Dunar seorang penulis yg paling jago mengkondisikan suasana ditambah Artasya yg menimpali dengan lihai. Tapi, tetap dengan porsi yg tepat dan dibalut comedy. Hebat sekali mereka berdua itu.



Hilbram Dunar(@HilbramDunar) dan Artaya Sudirman (@myARTasya)

Sungguh sajian yg bisa membuat gue ‘wajib’ mendengarkan setiap waktu siaran Motion Radio. Kalau samapi ada yg kelewat, rasanya seperti ketika ujian tapi lupa bawa pensil 2B… (lebay gak sih ? enggak ahh)



Berkat Motion Radio, gue tau apa itu Stand Up Comedy.

Berkat Motion Radio, gue tau ada komunitas untuk lagu2 anak. Namanya Mari Nyanyi (@Lagu_Anak)

Berkat Motion Radio, gue jadi semakin yakin dengan radio. Bahwa radio adalah proses komunikasi dua arah. Lebih tepatnya Monolog dua arah. Penyiar bicara, kita bicara sambil membayangkan.

Berkat Motion Radio, gue mulai belajar menulis. Karna setau gue crew Motion itu rata2 penulis.

Berkat Motion Radio, gue jadi maenan twitter.


Kini Motion sudah 3 tahun. Andai suatu saat nanti ktka aku sudah waktunya untuk magang, mungkin gue akan memilih radio ini. Mungkin… kalau diterima.

Motion Radio ‘lah alasan gue maen twitter, Motion Radio ‘lah segalanya. Kini mereka sudah jadi anggota baru keluarga gue di rumah. Suaranya terus mengudara di seantero rumah gue anpa berenti.


#FYI: gue belajar maen perwayangan lewat sandiwara ‘Asal Muasal Pandawa dan Kurawa’. Kalian bisa donglot podcastnya di web Motion Radio. Kocak banget, sumpah. Melestarikan budaya Indonesia dengan sesuatu yang baru. Tidak penting kemasannya seperti apa, tapi isinya yg membuat kita nyaman untuk terus melestarikannya. Dan, sempet ditanyangin juga di Indosiar.



NB: dear, Miund. Maaf atas yg gue lakuin di Twitter dan semoga tidak terjadi apa2 nanti ketika proses melahirkan. Sakses.

sakses MOTION RADIO

segitu dulu aja kali yaak, gak cukup nih di blog.
rakyat Motion : 
Anton Nugroho, salah seorang yg bikin Pandawa dan Kurawa :

#SlagiAda :

ini Vito Gamma, yaa ?




SAYA Motioners, Kamu ?

Apakah Jakarta Masih Butuh Pemimpin ?

By : Harry Ramdhani
3 Juni 2012 Ini untuk kali pertamanya gue dateng ke Bukit Duri, kata bokap gue sih ini Jakarata Timur dan cuma dibatesin kali ciliwung sebagai pemisah antara batas Jakarta Timur dan Jakarta Selatan. Maklum, gue buta banget sama jalan, tiap kemana aja pasti nyasar. Hari ini hari minggu,bokap ada kerjaan disana dan gue cuma nganter doang ga ikut-ikutan kerja. Sepi sih Jakarta kalau hari minggu, jalanan nampak renggang. Tapi gue punya fakta unik, bahsa setiap kali gue ke Jakarta sama sekali ga pernah kejebak macet. Beda sama orang-orang yang selalu ngomong ‘abis kena macet nih’. Jadi gue rada ge percaya kalau Jakarta itu kota yang selalu macet. Gue bisa ngomong gitukare na jarang-jarang ke Jakarta. Rumah gue sendiri di Perumahan Bambu Kuning,Bojonggede, Bogor. Kuliah di Bogor. Tapi setiap orang Bogor nanya gue anak mana, pasti gue jawab, “Gue anak Jakarta”. Giliran orang Jakarta yang nanya,”Gue anak Bogor”. Kalau mau tahu kenpa begitu, silakan dateng aja ke rumah gue. lu bakal nemu jawabannya sendiri kalau udah kesini. Bokap lagi sibuk kerja, dan gue nyari aja Warkop deket sana dan ketemu jaga. Tidak sulit sih nyari warkop di Jakarta, disini warkop terus jarak 4-5 meter ada warkop lagi. Mungkin itu kali ya sebab-musabab Dono, Kasino Indro bikin nama ‘Warkop DKI’. Biar orang-orang ga usah bingung kalau nyari mereka. Dasar-dasar simeotika banget, tapi itu bener-bener dasar. Dasar dari pemikiran yang sangat cetek  Penjaga warkop itu sudah tua, kira-kira umurnya diatas 65 tahunlah. Ubanya udah nutupin keseluruhan rambut. Sedikit keriput,urat sama tulang udah balapan pengen keluar dari kulit, tapi dia putih. Gue memesan kopi hitam, ini gue anggap cocok untuk bikin mata ‘cespleng’ alias melek. Maklum abis perjalanan yang jauh sih. Disebelah warung itu ada warung soto, perut laper tapi gue kagak doyan soto. Jadi, ngopi aja deh. Gue bisa menebak kalau penjual kopi ini adalah asli orang Jakarta, soalnya ga ada gorengannya. Warkop kalau dijaga sama orang sumedang, pasti ada gorengannya. Tapi kalau dijaga sama orang jawa, tetep ada gorengan tapi tipis-tipis. Ga percaya, coba aja. Dari kecil gue udah keliling warkop, karena bagi gue mie instant buatan mereka selalu enaak dan selalu beda kalau duatan sendiri atau buatan rumah. (FYI: sampe sekarang pun gue masih belum bisa nemu racikan yang pas untuk bisa masak mie instant persis kayak buatan warkop) Letak warkop pasti bersebelahan dengan pangkalan ojek, dan tampang tukang ojek selalu bisa bikin gue ‘ciut’. Bayangin, mukenye udah kummel kena asep kendaraan, mereka kalau abis narik pasti ngebunyiin semua pergelangan tubuhnya dan seakan pengen mukulin orang gara-gara penumpang ada yang kurang bayarnya dan kenapa mereka selalu melakukan itu didepan gue sambil berdiri ? gue takut., suer. Tapi gue selalu suka ketika ngobrol sama mereka (tukang ojek), pengetahuannya luas banget. Gue yakin orang yang kuliah kalah dengan pengeahuan yang dipunya tukang ojek. Udah cukup siang sih, kira-kira jam 10’an, lima tukang ojek lagi nangkring di motor masing-masing. Cuma gue sama Babeh di warung. Dan hingga akhirnya tukang koran dateng buat ngasih koran itu ke Babeh. Kayaknya dia seneng baca koran. Keliatan, dia akrab banget sama tukang koran. Dan babeh adalah pelanggan koran itu. Gue sangat suka kalau masih ada orang yang susah nyari duit tapi masih nyempetin buat beli koran. Gue nanya ke Babeh, “Ada berita apa, Beh ?” “ada busway terbakar dibunderan HI, supirnya cewek lagi. Tapi ga ada korban jiwa sih”, jawab Babeh. Gue ngangguk-ngangguk sambil perhatiin koran yang ia beli, ternyata Media Indonesia. Wuww, ini kalau bukan dijual dikereta bisa dua kali lipat harganya. Tapi babeh tetep bisa nyisihin duit buat beli koran. Sambil nawarin sebagian koran yang dibaca ke gue, Babeh ngerapihin meja bekas tadi orang yang minum sebelum gue. Otak pengen tahu gue muncuol aje gitu tiba-tiba untuk ngobrol ke oang lain. “Beh, dapet hak suara untuk pemikada nanti ?” kata gue. “Dapet dong, kan gue asli Jakarta”, kata Babeh. “Walaupun sambil dagang begini, gue selalu akan ngusahain buat nyoblos tanggal 11 nanti” tambahnya. “Terus nanti Babeh milih siapa untuk jadi Gubernur ?” “Wuah, kalau itu sih rahasia” “emang ngaruh gitu, Beh, kalau yang menang nanti bisa ngubah Jakarta kearah yang lebih baik ?” sebagai pakar #OBSET (OBROLAN SEtSAT) pertanyaan-pertanyaan seperti itu selalu keluar secara tiba-tiba dari otak gue. “tau kagak, Babeh jualan kopi itu dari jamannya Ali Sadikin jabat jadi Gubernur Jakarta” “berarti ga ada perubahan sama sekali, dong ?” “ada, harganya naek terus tuh kopi yang dijual Babeh, penutupnya berubah terus tuh, gelas yang Babeh pake juga berubah.” “dan itu ada kaitannya sama Gubernur yang menang Pemilukada ?” “ga ada, tapi Babeh melakukan perubahan berdasarkan kebutuhan Babeh aja, ga perlu nunggu mereka jadi guberbur dulu buat ngarepin perubahan yang dijanjiin. Babeh seneng nglayanin orang yang lagi ngentuk trus Babeh bikinin kopi dan dia bisa seger lagi untuk ngelanjutin kerjaannya. Dan mereka sendiri yang akan melakukan perubahan itu sendiri” Ada ibu-ibu separuh baya yang dateng untuk ngopi juga. “contohnya dia nih”, sambil nunjuk ibu-ibu yang baru dateng. “dateng kesini gara-gara ngerasa capek dan ngantuk, makanya pengen ngopi biar seger lagi. Kalau dia udah segerkan bisa kerja lagi tuh. Kalau udah kerja, dia bakal ngerubah hidupnya sendiri” “lah, baru juga gue dateng, udah maen tunjuk aje”, kata ibu yang baru dateng. “emang lagi ngobrolin ape ?” “ini, tentang pemilukada nanti”, sahut gue. “ouw, keren juga yee sekarang obrolannye. Biasa juga ngobrolin bola kalau kagak nagihin utang gue” “ibu dapet hak pilih nanti ?” “dapetlah, warga Jakarte. Masa ga dapet dang a milih. Tapi ngomong-ngomong masalah perubahan, perubahan terbesar yang dilakukan manusia adalah ketika dia meninggal. Bukan ngubah ini lah, itu lah” “orang-orang seperti kami cuma jadi pelengkap data aja buat mereka. Pelengkap data orang kurang mampu” kata Babeh menyamber obrolan gue sama Ibu yang baru dateng.”tau tuh PNS, doyan banget ngerjain data”. Sambil terseyum dan kacamatanya sedikit turun ke hidung. “Iya sih, namanya juga PNS. Pengumpul Nilai Statistik” kaya gue menyambut celetukan Babeh. Mereka pun tertawa gara-gar celetukan gue tadi, entah mereka tahu stastustik atau tidak, yang jelas tawa mereka mengartikan bahwa mereka bahagia. Yaa, tertawa adalah bahasa universal bukan musik. Dengan tertawa, semua tau kalau kita sedang bahagia. Tidak ada makna lain untuk mengartikan tertawa. Kadang gue pikir, kayaknya tayangan tipi pada lebay deh kalau ngeberitain tentang Jakarta. Jakarta demen banget macet, Jakarta demen banget banjir, Jakarta banyak orang miskinnye, macem-macem dah. Padahal kyalau diliat langsung, ga begitu-begitu amat deh. Di Jakarta masih ada orang seperti Babeh. Di Jakarta masih ada tukang ojek yang selalu punya pengetahuan yang luas. Di Jakarta masih ada pedagang soto yang masih tetep jualan meskipun gue udah kagak doyan, di Jakarta masih ada ibu yang gue baru tahu setelah dia pergi bahwa dia adalah ‘timer’ angkot yang ngajarin gue tentang perubahan yang paling besar yang akan dilakukan oleh setiap manusia. Terima kasih untuk kalian yang udah ngajarin gue banyak hal, bahwa melayani itu lebih baik daripada melayani. (FYI: kalau pengen ngobrol sama mereka, silakang dateng aja ke Jl. Bukit Duri utara. Lokasinya tepat dideket plang tulisan itu)
Tag : ,

Teras Baca

By : Harry Ramdhani
Yups, nama gue, Harry Ramdhani. Banyak orang yang melakukan PERUBAHAN. Semua orang melakukan perubahan kapanpun. Dari perubahan yan sekedar remeh-temeh sampai perubahan kearah sebuah revolusi baru. Tapi, ada satu perubahan terbesar didalam diri manusia, perubahan itu adalah kematian.

Perubahan yang tidak bisa terelakan oleh setiap manusia, dan manusia pun harus menerima perubahan itu apapun apapun alasannya. Sebelum gue melakukan perubahan terbesar itu, kini perubahan yang sedang lakukan adalah perubahan atas hal pendidikan. Memang sedikit berat kalau kita ingin mengubah suatu sistem pendidikan yang kita anggap ‘ada yang salah’.

Tapi itulah yang terjadi sekarang. Dan gue ingin merubah itu. Sudah banyak orang yang melakukan perubahan dibidang ini, sebut saja, Sekolah yang didirikan oleh Bahruddin di Salahtiga, sana. Dia membuat sebuah komunitas kecil tetang pendidikan yang menurutnya benar. Dia membuat ‘Sekolah Rakyat’ di era dimana Indonesia telah ikut didalam anggota G20. Anggota G20 merupakan kumpulan dari negara-negara yang mempunyai kekuatan ekonomi yang sangat kuat, tapi seorang Bahrudin tetap saja tidak sependapat. Banyak orangtua yang tidak mampu menyekolahkan anaknya karena biaya. Putus sekolah karena kekurangan biaya. Tidak bisa sekolah karena harus ikut mencari uang membantu keluarga. Bahruddin membangun SMP untuk anak yang tidak mampu. Bukannya bebas biaya, tetapi Bahruddin membiarkan untuk setiap angkatan mendiskusikan sendiri kepada kelompoknya untuk menentukan berapa biaya yang harus dikeluarkan dan Bahruddin pun tidak pernah ‘mematokkan’ harga untuk bisa belajar. Baginya, belajar tidak perlu biaya, semua orang berhak untuk bisa belajar dan mendapat pengetanuan.

Geu ingin seperti dia, Bahruddin. Kini, hampir satu tahun Perpustakaan Teras Baca yang telah gue buat bersama anggota Karang Taruna RT. Kita membangun bersama, tetapi setelah terbangun, mereka pergi dan meninggalkan gue disini. Sendirian. Dan inilah perubahan yang gue lakukan dan gue perjuangkan.

Kalau diukur dengan lama waktu, maka gue telah gagal. Gagal menjalankan Perpustakaan ini. Gagal mengajak masyarakat bahwa membaca itu penting. Sebelum gue mengenal Bahruddin, sudah terpikir sejak dulu untuk bisa membangun perpustakaan ini. Alasan gue cukup sederhana. Pertama, dengan orang membaca, maka ia dapat melakukan berdasarkan apa yang ia bisa. Kedua, dengan ia membaca, ia dapat menulis seperti buku yang ia baca, karena dengan membaca ia dapat menulis apapun dan inilah kelebihan bangsa Indonesia yang tidak terekspose oleh media untuk mengharumkan nama Indonesia dimuka Internasional. Banyak orang Indonesia menuangkan segala ide cemerlangnya lewat tulisan, tetepi karena tidak terekspose, maka itu seperti membuat masakan tetapi tidak ada yang menyantapnya. Ketiga, gue selalu percaya investasi terbesar yang dilakaukan oleh orang tua adalah ‘menyekolahkan anaknya. Jadi, bagi mereka, dengan mengeluarkan uang berjuta-juta untuk anaknya belajar disekolah adalah bantuk investasi terbesar. Kalau tidak begitu, maka orang tua bisa saja memberikan anaknya uang berjuta-juta untuk dikelola sendiri bukan untuk sekolah. Dan investasi terbesar yang dilakukan oleh anak ketika belajar adalah membeli buku. Buku memang bernilai, tapi tidak untuk isinya.

Hari demi hari gue belajar untuk bisa menjalankan Perpustakaan ini. Hingga pada akhirnya gue berpikir, ‘perpustakaan ini tidak semestinya hanya perpustakaan biasa. Sepertinya perpustakaan ini butuh kegiatan untuk meompang orang agar datang lalu mereka harus membaca buku disini’. Gue putuskan untuk membuat kegiatan seperti ESC (English Sharing Club), sanggar seni lukis, dan belajar bersama. ESC merupakan tempat orang-orang nanti belajar bahasa inggris. Gue bersama teman kulaih gue tentunya telah melakukan sedikit riset bahwa ‘ada yang salah’ dengan cara pembelajaran siswa ketika belajar bahasa inggris. Disekolah, siswa beajar behasa inggris dengan menulis, menghapal kemudian berbicara lalu mendengar. Padahal untuk bisa belajar suatu bahasa sama seperti kita ketika bayi. Pertama kita mendengar dahulu orang berbicara, lalu kita sendiri yang berbicara berdasarkan apa yang kita dengar, sedikit demi sedikit kita menghapal, lalu yang terakhir adalah menuliskannya.

Sanggar seni lukis, awalnya ini dimulai ketika gue berbincang setelah kegiatan 17’an dengan salah seorang guru seni. Dia mengatakan, “tau gak, anak-anak ketika diminta untuk menggambar/melukis, pasti yang dibuat adalah gambar gunung. Padahal pemandangan bisa apa saja. Seperti setumpukan gelas yang terlihat indah dll. Ini karena guru mereka ketika mencontohkan gambar pemandangan, yang digambar adalah GUNUNG. Begitu saja teruuuuus”.

Hingga pada akhirnya gue menawarkan guru itu unutuk mengajar di Perpustakaan dan dia setuju. Belajar bersama, pada awlanya gue berpikir ‘PR merupakan beban bagi setiap pelajar. Gue selama mendapatkan PR pasti terbebani, karena tidak selalma gue itu mengajar di kelas bisa dipahami oleh gue (gue rasa semua orang begitu)’. Makanya gue membuat kegiatan belajar bersama untuk semua pelajar yang memiliki PR dari sekolah dan tentunya didampingi oleh seseorang untuk bisa membantu mereka. Tapi semua tidak ada yang berjalan. Entah apa sebabnya ?

Bulan depan genap satu tahun Perpustakaan ini berdiri, dan gue gagal. Setelah dipikir-pikir, kesalahan terbesar yang gue lakukan adalah gue salah, seharunya membangun dahulu jiwa orang-oang yang akan menjalankan perpustakaan ini baru membangun raganya. Seperti didalam lirik lagu Indonesia Raya “Bangunlah Jiwa, Bangunlah raganya”.

GUE GAGAL DAN SEKALI LAGI GUE MENGAKUI ITU… !!


Ditahun kedua, gue akan melakukan hal-hal yanglebih gila lagi untuk bisa menjalankan Perpustakaan ini. Dan gue akan sombong kepada orang lain atas apa yang telah gue buat. Karena kalau tidak begitu, gue akan terus di injak oleh orang lain atas apa yang telah gue lakukan.

Gue tahu itu susah, tapi pasti bisa… !!

Tahun kedua, gue datang.
Tag : ,

lanjutan naskah 10

By : Harry Ramdhani
Siapa saya ? Aku hanyalah rekaan dari atas yang kau buat. Bahwa aku adalah hatimu dan kau adalah hatiku. Lalu, siapa mereka ? Mereka hanyalah makhluk hidup yang bergerak pada alat tubuh yang terkoordasi dengan kegitan tubuh lainnya. Ketika aku bertemu denganmu dalam gelap. Kau telah menuntunku menuju terang dari gelap malam. Hingga kau dan aku menuju sebuah ruang, ruang yang hampa. Tidak ada satupun orang, hanya kita berdua. Disana kau belah dadaku dan mengganti isinya dengan paku. Menghisap pikiranku sampai memory terhapus. Terkunci mulutku dan menjereit terbersit. Karena setiap lembar yang kau buat mengalir berjuta cahaya. Karena setiap aksara yang kau buat membuka jendelela dunia. Kata demi kata yang kau buat mengantarkan fantasi, tetapi habis sudah. Bait demi bait yang kau buat telah memicu anastasi tetapi hangus sudah. Kau hilang, Rinduku seteguk pasir, hari demi hari berganti. Yang ditinggal takakan pernah hilang dari pertanyaan, kapan pulang ? Memang, aku pernah berkata bahwa aku suka hujan. Kareana aku percaya dibalik awan hitam ada yang bernyanyi dan berelegi. Dan aku-pun percaya ada yang menerangi disisi gelap ini, menanti seperti pelangi yang setia menunggu hujan reda. Tapi lihatlah, kini hujan marah. aku bujang pasir sendiri disisi jemari, yang sedih dan letih. Seperti vena yang membawa darah menuju jantung. Terus dan terus, menumpahkan tangis dari sisi gelap lainnya. Rintis konyol berubah. Debu kosmik hujan resah. Kau tahu wajah bumi ketika itu, menangis. Aku memang pergi ke hutan seperti kata Khalil Ghibran. Karena sebelah mataku mampu melihat bercak adalah sebuah warna mempesona. Membaur suara-suara dibawanya kegetiran, memang sedikit asing terdengar. Tapi sebelah mataku, yang lain menyadari, bahwa gelap adalah teman setia dari waktu-waktu yang hilang. Apakah ini yang disebubt dengan Emansipasi wanita ? Wanita yang selalu merasa tertiindas oleh perlakukan para laki-laki berotak beringas. Dimana wanita hanyalah obyek bukan sebagai subjek. Aku sadar kini kau berada dijaman modern, kau menerima pendidikan modern yang dapat mengubah pandangan hidup. Dimana kini kau mampu memisahkan apa yang baik dan apa yana kurang sesuai. Bahwa seorang wanita-pun memiliki hak yang sama seperti pria. Aku meraba teksture kemudian melahirkan gesture. Kini hidupku terasa begitu lentur. Berjingkakpun tidak teratur seperti melantur bagai seorang ballerina. Tapi aku sadar, seperti apa itu jatuh cinta ?ya, jatuh cinta itu biasa saja. Aku tahu, Kita berdua hanya berpegangan tangan, tak perlu berpelukan. Aku tahu, Kita berdua hanya saling bercerita, tak perlu memuji. Aku tahu, Kita berdua tak pernah ucapkan maaf, tapi saling mengerti. Biarkan semia terjadi. Tersungkurku disisa malam, bersandar direndah gairah, puisi yang romantis yang menetes dari bibir. Murung itu sungguh indah, karena melambangkan butir darah. Biarkan semua terjadi. Menikmati kegundahan ini, segala denyutnya yang merobek sepi. Kelesuan ini jangan lekas pergi, karena aku menyelami sampai lelah hati.
Tag : ,

lanjutan - naskah (melankolia) 9

By : Harry Ramdhani
MELANKOLIA SIAPA SAYA ? Aku hanyalah rekaan atas yang kau buat. Bahwa aku adalah hatimu dan kamu adalah hatiku. Lalu, MENGAPA SAYA DICIPTAKAN ? itu karena dirimu. Ketika aku bertemu denganmu dalam gelap. Kau telah menuntunku menuju terang dari gelap malam. Dan, APAKAH MANUSIA BUTUH CINTA DAN AIR MATA ? Jatuh cinta itu biasa saja. Kita berdua hanya berpegangan tangan, tak perlu berpelukan. Kita berdua hanya saling bercerita, tak perlu memuji. Kita berdua tak pernah ucapkan maaf, tapi saling mengerti. Jadi, MENGAPA UJIAN DAN COBAAN DATANG TAK KENAL WAKTU ? Hidupku terasa begitu lentur. Raba tekstur, ciptakan gesture. Berjingkak tidak teratur seperti melantur. APA YANG HARUS SAYA LAKUKAN ? Tidak ada. Hanya murung, karena murung itu indah. Melambangkan setiap butir-butir darah. Menikmati kegundahan ini, segala denyutnya yang merobek sepi. Kelesuan ini jangan lekas pergi, karena aku menyalami sampai lelah hati. Melankolia.
Tag : ,

lanjutan - naskah (melankolia) 8

By : Harry Ramdhani
MONTAGE : Ive yang tadinya berada dilapangan langsung berubah latar tepat menjadi panggung pementasan. Ia membawakan tulisan yang telah Ia buat sendiri yang sempat Ia janjikan kepada Tyas. Ternyata Tyas berada dibelakang panggung sambil mendengarkan Ive yang sedang menyair. Setelah selesai, Tyas mendekat kearah Ive dari belakang dan memeluknya.
Tag : ,

lanjutan - naskah (melankolia) 7

By : Harry Ramdhani
Malam menyelimuti kamar Ive dengan dingin. Ia rasa tidak perlu lagi pendingin ruangan seperti AC atau kipas angin. Udaranya sangat dingin. Burung itu masih saja berkicau dan hingga Ive mendekatinya. “Dari tadi kau berkicau, apa kau lapar ?” Ive kembali berbica dengan burung itu. Entah apa yang terjadi dengan Ive. Ia seperti orang gila, berbicara dengan burung. Apakah mungkin karena kejadian Tyas yang lalu yang telah membuat Ive seperti ini. Ive memang terpukul dengan kejadian kala itu. Wanita yang telah membuat Ive seakan memenangi pelombaan mencari harta karun disebauh pulau terpencil didaerah antah-berantah. Wanita yang membuat Ive terus membawa perubahan kearah lebih baik untuk Ive secara pribadi. Wanita yang telah membukakan mata Ive akan keseriusan dalam berhubungan. Sehari lamanya sudah Ive seakan berkomunikasi dengan burung itu. Ia secara tidak langsung telah merawat burung itu. Diberinya makan, dibersihkannya kardus yang sempat Ia temukan di hutan. Ia merasakan Tyas berada didalam raga burung tersebut. Tyas yang dulu Ia kenal. “Aku ingin bertanya padamu, apa yang harus ku lakukan sekarang dalam semua kepenatan ini ?” Ive terdiam sejenak membiarkan burung itu berkicau yang Ia anggap sedang menjawab pertanyaannya. “Apa kau bilang ? Tidak ada. Tidak mungkin aku tidak melakukan apa-apa untuk hal semacam ini”. “Aku mencintai Tyas, dan kini Ia telah membagi, membuka hatinya untuk orang lain.” Ive masih saja mengajaknya berdiskusi tentang malam itu. “Kenapa kau bicara seperti itu ? Apa mungkin karena kau burung yang tidak bisa mengetahui perasaan ?” seketika Ive tertunduk setelah mendengar kicauan burung. “Kau benar, ketika aku merasa bahwa dia adalah jawaban dalam diriku, kenapa juga harus aku pikirkan hal-hal yang begitu aneh. Aku tidak perlu membuka jalan baru untuk bisa sampai kepada tujuanku. Mungkin aku terlalu mengekangnya, mengaturnya ini-itu, hingga kini aku merasa memikul beban bersalah sampai tidak bisa berganti menjadi perasaan yang lega.” Mata Ive berkaca-kaca ketika itu. “Itulah kesalahan terbesarku, aku tidak bisa membedakan antara tubuh dan jiwaku. Apalah arti tubuh yang fana ini bukan ?”. bersandarlah Ive di pagar beranda kostannya. “Aku terlalu memprihatinkan tubuhnya yang fana saja. Biarkanlah Ia mendapatkan yang fana, yang bisa menua untuk kemudian menjadi abu kembali. Tatapi aku, telah mendapatkan jiwa dan raganya. Kami telah membangun jiwanya terlebih dahulu barulah kita membangun raganya hingga menjadi satu kesatuan.” Diletakkannya burung itu tepat didepannya. “Baiklah, aku akan membawamu pulang. Tempatmu bukan disini.” Setelah keluar dari tempat kost-nya. Tiba-tiba burung itu terbang dari kardus yang terbuka. Burung itu terbang bebas, Ive yang berusaha mengejarnya ternyata hanyalah sia-sia. Burung itu terbang begitu cepat. Ive hanya bisa berdiri melihat burung itu terbang di udara.
Tag : ,

lanjutan - naskah (melankolia) 6

By : Harry Ramdhani
setia menunggu hujan reda. Ive terus menanti hujan itu reda. Samapi nanti ketika hujan tak lagi meneteskan luka, mendekap duka. Bahkan sampai hujan memulihkan luka. Pagi itu, matahari seakan ikut mereasakan kepedihan Ive. Ia sama sekali enggan memperlihatkan dirinya untuk menunjukkan jati dirinya yang sejati menyinari bumi. Baju Ive yang kering oleh tiupan angin semalam terlihat kotor terkena cipratan tanah. Seketika Ive bangkit dari duduknya, entah kakinya akan membawa kemana. Ive hanya menuruti dan otaknya-pun patuh terhadap perintah Ive. Lambat-laun, hentakan kaki Ive telah membawanya ke suatu hutan. Hutan yang dipenuhi pepohonan lebat. Akar-akar besar melintas dimana-mana, dedaunan yang telah kering dan memisahkan diri dari tubuh pohon bertebaran layaknya pasir dipantai. Sejauh mata memandang hanyalah dedaunan kering. Sungguh sunyi, hanya Ia seorang. Ive memperhatikan daerah sekitar, pikirannya terbang bebas memantul dari pohon yang satu ke pohon yang lainnya. Ia berdiri diantar dua pohon yang berdekatan. Ive ‘lah yang menjadi pemisah. Matanya tidak kunjung henti melihat pohon itu. Dari atas kebawah, dari bawah keatas. Dari kiri kekanan. Tidak terlihat seberapa tinggi pohon tersebut. matanya tak sanggup menggapai puncak pohon. Tangannya tak senggup merangkai kedua pohon untuk bersatu. Lelah karena merasa tak sanggup melakukan itu semua, Ive akhirnya terkapar. Mungkin karena badannya yang telah dihancurkan hujan semalam. Seketika, ada burung kecil menghampiri tangan kanan Ive. Tetapi karena kelelahan, Ia tidak meresakan burung yang hinggap ditangannya. Perlahan burung itu terbang keatas badan Ive. Masih saja Ia tidak menyadarinya. Ive kini berada diantara dua dunia, dunia nyata dan dunia fana. Nyata , kerena Ive merasakan setiap gelombang yang mengisi seluruh tubuhnya tidak bisa digerakkan. Fana, karena dialam bawah sadarnya Ia seperti dalam mimpi. Matan ya terpejam lama hingga burung itu mematukan patuknya kebibir Ive. Ia tidak sanggup menggerakan tubuhnya. Kaku. Kemudian burung itu berkicau, yang dapat Ive lakukan hanya mendengar dan memperhatikan burung. Bunyi pepohonan yang terhempas angin seperti beragam irama yang menghasilkan sebuah nada-nada minor. Burung tersebut masih saja berkicau, semakin lama semakin meninggi. Ive memejamkan matanya kembali dan sesaat Ia dapat bangun. Perlahan tapi pasti dan sampai Ia dapat berdiri. Ive memandangi burung itu, aneh. Burung itu tidak terbang, hanya terus saja berkicau tanpa jeda sedikitpun. “Kenapa kau tidak terbang bersama kawananmu ?” kata Ive kepada burung tersebut. “Apa yang kau lakukan disini ?”. burung itu masih Saja berkicau, tetapi kini seperti menjawab segala pertanyaan Ive padanya. Ive menemukan kardus kecil yang berada tepat disebelah pohon lalu memasukan burung itu kedalamnya. Kardus itu dibiarkan terbuka atasnya tapi burung itu sama sekali tidak terbang. Ia membawanya pulang ke kostan dan meletakkannya didekat kasur.
Tag : ,

lanjutan - naskah (melankolia) 5

By : Harry Ramdhani
“Belum” Tyas menggeleng. “Kenapa sih kamu ga mau dengerin semua omonganku dari dulu ? kalau tidak salah ‘kan kamu sudah menjual banyak barang dagangan itu ke temen-temen kamu. Lalu kemana untung dari setiap item yang terjual ?” Ive semakin menekan suara hingga terdengar tegas. “Kenapa harus mengingat yang dahulu ?” “Toh aku cuma nanya doang, ga lebih. Dan maaf, aku belum bisa bantu kamu untuk hal ini” “Itu sama sekali bukan urusanmu, Ive. Itu urusanku dengan Ayahku.” “Aku tahu, tapi aku merasa tidak bisa berbuat apa-apa untuk hal ini.” “Sudah ku bilang, ini bukan urusanmu” akhirnya Tyas menoleh kearah Ive. “Ada yang ingin aku bicarakan selain itu denganmu” sambil meraih tangan Ive. “Apa itu ?”, tanya Ive dengan penasaran. “Pertengakaran kita selama minggu ini telah mebuat aku pusing. Dari masalah uang bayaran, kecurigaan akan orang ketiga yang entah ada di aku atau di kamu, tentang hal-hal sepele” “Terus ?” “Aku sempat membuka perasaanku pada orang lain, tapatnya 3 hari yang lalu” Tyas kembali menundukan kepalanya. “Aku suka dengan orang lain”. “Maksudmu, kamu punya pacar lagi ?”. Tyas hanya menganguk, tidak menjawab. Kehenignan kembali terjadi, tapi tangan mereka masih saja saling mengepal. Ive-pun sadar, bahwa beberapa hari ini mereka saling bertengkar. Tapi selalu ada saja pemecahan masalahnya, walaupun sedikit belum tuntas. Kali ini, Ive merasa dibohongi. Andai Tyas tahu apa saja usaha yang telah Ia lakukan untuk membantu Tyas. “lebih baik kamu pulang, hari sudah semakin gelap. Nanti kamu kehujanan” keta Ive. “Tapi aku sudah mengakhiri itu, itu hanya perasaan sesaat” Tyas mulai mengubah duduknya semakin berbelok kehadapan Ive. “Jangan bicarakan itu sekarang, lebih baik kamu pulang” sambil perlahan membuka lepasan tangannya yang dikepal begitu keras oleh Tyas. “Maafin aku” Tysa berdiri dan meninggalkan Ive yang masih duduk disana. Beberapa saat hujan turun begitu lebat, tapi Ive masih saja duduk, tidak bergerak sama sekali. Hujan telah menyirami isi kepala Ive yang termenung. Seakan menyatukan berbagai partikel-partikel kecil didalam otaknya menjadi satu kesatuan atom yang siap dieksekusi oleh Ive. Selau ada yang bernyanyi Dibalik awan hitam, semoga ada yang menerangi sisi gelap ini. Menanti seperti pelangi yang
Tag : ,

anjutan - naskah (melankolia) 4

By : Harry Ramdhani
dikirim. Tapi seperti itulah, Ive. Selalu menanggapi dengan diam. Dalam diamnya selalu uncul berjuta pertanyaan yang dijawabnya sendiri didalam pikiran. Dengan diam namun melalui kepekaan pereasaan dan ketajaman pandangan matanya, tanpa banyak bicara Ive masuk ke kamar. Dari dalam kamar, lantas Ive membuka jendela, dengan raut wajah muram dan dengan jutaan rasa yang terpendam didada menghantui pikirannya. Napasnya bergerak turun naik dengan irama yang tetap. Matanya dipejamkan, berharap agar ia dapat tertidur. Malam semakin larut. Angin di luar bertiup resah, seresah hati dan pikirannya. Dedaunan dari pepohonan di luar sana bergesekan, menerbitkan suara yang menambah kegeliasahan Ive. Rasanya, ia ingin melompat jauh-jauh. Entah kemana, pokoknya ia bisa terlepas dari keresahannya ini. Dari kegelisahan ini. Seteets air mata lolos dari matanya ketika suara angin itu semakin mencabik-cabik keheningan. Dengan gerakan kasar, Ia menghapus pipinya yang basah itu dengan tangan kirinya. Sebenarnya Ia tidak ingin menangis. Tahu betul bahwa tak akan menyelesaikan masalah. Keriuhan kamar yang tepat bersebelahan dengan Ive semakin menjadi. Padahal Istirnya kemaris sempat pergi dari kamar. Apa yang membuat Istri itu bisa kembali lagi kesana ? Pikiran Ive semakin semerewut oleh tingkah tetangganya itu. Sudah dua hari ini Tyas tidak memberikan kabar. Masalah demi masalah terajut menjadi satu dalam satu gumpalan benang kusut. Semakin hari semakin besar saja gulungan tersebut. Tidak lama kemudian handphone Ive berbunyi, nampaknya ada SMS dari Tyas, “Aku tunggu dideket lapagan voli, sekarang”. Tampaknya ada yang ingin dibicarakan serius. Hari itu sedikit mendung, nampaknya akan turun hujan yang lebat. Awan hitam saling mendahului untuk segerea sampai ditempat dimana mereka akan menumpahkan semua isi perutnya. Ive keluar kamar dengan tergesa-gesa. Dari jauh terlihat Tyas yang sedang duduk menunggunya. Rambutnya yang panjang terurai kedepan sehingga ketika menundudukan kepala hanya rambut tebal yang berada diatas kepalanya. Mereka hanya duduk berdua, pandangan kosong kedepan. Tidak ada yang memulai perbincangan. P;astik bekas air mineral-pun suaranya sungguh terdengar ketika melintas didepan mereka berdua yang tertiup angain. “Ive . . “ terdengar suara Tyas yang mulai merontohkan tembok keheningan diantara mereka. “Maafin aku”. Ive yang sama sekali tidak mengetahui alasan Tyas meminta maaf secara spontan memotong ucapan, “maaf untuk apa ?” sambil menoleh kearah Tyas, tapi Ia masih saja meunuduk. “Untuk semaunya”. Jawab Tyas sambil menunduk. Ive semakin bingung, langsung Ia engalihkan pembicaraan. “Bagaimana dengan biaya kuliahmu ? apa sudah dapat ?”
Tag : ,

anjutan - naskah (melankolia) 3

By : Harry Ramdhani
Tidak lama kemudian Ibu datang, hanya sendiri. Tidak diteman Ayah. Ive yang sedang mengistirahatkan badan dikamar langsung keluar. “Dari mana, bu ?” tanya Ive penasaran. “Tadi Ibu dari Rumah saudaramu, Ginting, dia sedang sakit” jawabnya. “Ginting, sakit apa dia ?” “Penyakit levernya kumat lagi, tadi sempat dibawa ke rumah sakit tapi kata dokter ia tidak harus dirawat. Jadi ia dibawa pulang lagi” “Ouw, lalu kemana Ayah ?” “Tidak tahu, mungkin masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan” Ayahnya bekerja disalah satu percetakan besar di Jakarta. Sejak kecil, Ive terkadang dibawakan buku-buku yang tidak lolos sortir. Tidak sempurna memang, tapi setidaknya Ive bisa membacanya dan mengetahui maksud dari semua buku yang didapat dari Ayahnya. Dan sampai sekarang-pun Ia masih dibawakan buku-buku dari tempat kerja Ayahnya. Adzan Maghrib berkumandang dan pada waktu yang sama juga terdengar suara motor dari arah luar rumah. Sudah jelas, itu Ayah yang datang. Suara motor seakan saling sahut-menyahut dengan suara Adzan. Timbul dan tenggelam. Ibu menghampiri Ive dikamar. “Apa kamu sudah makan, nak ?” tanya Ibunya. “Belum, Bu, tadi aku tidak sempat makan di kampus. Selesai kuliah langsung kesini”. “Yasudah, Ibu buatkan makan malam, ya. Hari ini kammu nginep disini, kan ?” “Kayaknya aku nginep deh, Bu. Lagi pula terlalu malam juga kalau aku kembali ke kostan” Ibunya kembali kedapur dan Ive keluar kamar untuk mengambil air wudhu sekalian memberi salam pada Ayahnya. “Ayah tumben pulang sampai waktu maghrib ?”, kata Ive “Iyah, tadi ada yang harus diselesaikan di percetakan” Ayah menjawab. “Kamu juga tumben sekali pulang ditengah minggu ini ?” “Ada yang buku yang tertinggal, Yah” “Cepat sana ambil air wudhu” Ayahnya sambil menganguk, tetapi ia sadar betul bahwa jatah uang minggu ini belum dikirim untuk Ive. Suasana rumah sangat hening, dan Ive mengetahui keadaan rumah kalau seperti ini. Pasti sedang ada masalah dalam keuangan. Dan Ive-pun sadar kenapa jatah uang jajan untuk minggu ini tidak
Tag : ,

- Copyright © Kangmas Harry - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -