The Pop's

Malam-malam Dijenguk Rindu

By : Harry Ramdhani


Di luar ruang kantor seperti ada yang mengetuk pintu. Ketika saya buka, itu rindu. Nafasnya terengah. Ia terlihat lelah. Saya persilakan rindu masuk dan duduk. “Maaf meja kerja saya berantakan,” kata saya, “mau minum apa? tapi di sini cuma ada kopi, teh, dan air mineral saja. Tak apa?.”

Rindu masih mengatur nafasnya. Lalu saya suguhkan ia air mineral, satu gelas penuh dalam ukuran besar. Dan, hanya satu kali tegukan, pada gelas itu sama sekali tak ada air yang tersisakan. Rindu menceritakan banyak tentang ibu. Tentang apa-apa saja yang selama ini saya tidak tahu.

Kata rindu, kini ibu sedang belajar menyulam, ia ingin memberimu baju hangat karena akhir-akhir ini kamu suka kerja malam. Saya jadi terharu mendengar cerita itu. Untuk saat ini pekerjaan saya sisihkan terlebih dulu, nampaknya rindu masih bawa banyak cerita-cerita tentang ibu.

Rindu melepaskan kacamatanya. Ah, mata rindu mirip mata ibu. Teduh sekali. Seperti tak pernah ada air mata yang singgah di sana.

“Ibu baik-baik saja?” tanya saya.

“Ya, ia akan selalu baik-baik saja.”

Bukan. Bukan itu maksud saya. Saya tahu bagaimana ibu, di depan semua orang ia selalu perlihatkan kalau dirinya tampak baik-baik saja. Ibu penyimpan sedih yang luar biasa.

Dan saya jadi ingat ucapan ibu dulu, “air mata itu mahal harganya. Tak ada alat tukar yang mampu membelinya. Jadi tak perlu kamu buang dengan percuma.” Tapi malamnya, ketika satu rumah sedang tidur, saat masuk waktu seper-tiga malam, saya dapati ibu menangis di kamarnya yang gelap.

“Sudah lama bukan kamu tidak makan sayur asem, tempe goreng, dan sambel terasi?” ujar rindu, “sebelum ke sini, ibu sedang masak itu,”

“buat saya?”

“Ya, bukanlah, buat ibu makan sendiri. Lagi pula sejak kamu kerja, kamu lebih suka jajan, makan di luar. Entah dengan teman, entah dengan pacar. Ibu sedih saat itu. Tapi tidak tahu juga, sebab kata ibu tadi, ini sambel terasi kesukaanmu. Tidak terlalu pedas.”

Supaya rindu tidak terlalu menyudutkan, saya buatkan dia teh manis hangat. 

Andai ibu tahu, dulu itu sepulang kerja saya suka diam-diam makan masakannya yang tertata rapih di meja. Dan paginya, tikus saya jadikan kambing hitam. Ibu suka gerutu pagi-pagi saat melihat meja makan makan sedikit berantakan. Saya malu. Saya sengaja melakukan itu untuk mengelabui ibu, karena malamnya saya makan kelewat banyak. Mana mungkin saya bisa tak suka makan masakan ibu, sedangkan oranglain mesti mengeluarkan biaya yang sedikit lumayan hanya untuk mendapat jasa ibu tiap ada acara nikahan dan lain-lain?

Rindu memasukkan jamu penolak angin ke dalam tehnya. “Kadang ibu ingin membuatkan minuman seperti ini untukmu.”

“Kalau nanti kau pulang, rindu, boleh titip salam kangen saya buat ibu?”

“Tentu… dengan senang hati,”

Kemudian saya lanjutkan beberapa pekerjaan yang tadi sempat saya terlantarkan. Rindu tertidur di sebelah meja kerja saya.

“Tolong nanti pukul dua bangunkan dan antarkan pulang, ya?” pesan rindu sebelum tidur.

Ruang kantor saya makin sunyi. Segala tentang ibu tadi, seperti membuat sesak dalam hati. Kangen ibu, kangen yang tak bertepi. Sebab ibu, adalah muasal kangen itu.

Jam dinding menunjukan pukul dua. Saya bangunkan rindu dan mengantarnya pulang. Tepat di depan makam itu, makan ibu, rindu berhenti dan membalikan badan. Rindu menjelma ibu. Rindu itu ibu. Ibu itu rindu. 

Keduanya seperti sepasang merpati di ujung pohon natal; yang tak bisa terpisahkan.



Perpustakaan Teras Baca, 17 Januari 2015
Tag : ,

Bagaimana Kalau Jatinangor, Bukan Jakarta?

By : Harry Ramdhani


Barangkali yang membuat tim sekelas Persija itu besar, adalah nama Jakarta. Kalau pun kata “ja” dari nama “Persija” itu Jatinangor, mungkin tim itu menjadi tim medioker yang biasa-biasa saja. Tak perlu repot-repot dilatih seorang mantan tentara sekelas Rahmad Darmawan. Tak perlu menghambur-hamburkan uang untuk membawa pulang sang ikon Bambang Pamungkas. Dan, tak perlu repot-repot mentargetkan juara ditiap kompetisi – apapun itu jenisnya. 

Sebelum super liga bergulir, Persija sudah melakoni beberapa kompetisi, salah satunya Persija Trofeo; yang dijuarai bersama-sama. Anehnya, BP (panggilan Bambang Pamungkas, selanjutnya akan ditulis demikian) mengatakan, itu hasil yang adil. Jawaban yang membingunkan, sepertinya keadilan yang paling adil di negeri ini hanya ada di kompetisi itu.

Bukan. Bukan hanya itu saja, di kompetisi yang kini sedang bergulir, SCM Cup, dan diikuti oleh delapan tim: Arema Cronus, Sriwijaya FC, Persipura Jayapura, Persebaya Surabaya, Persela Lamongan,  Semen Padang, Mitra Kukar, dan Persija itu sendiri. Pada kompetisi itu, delapan tim terbagi menjadi dua grup: Sriwijaya FC Semen Padang, Persija, dan Persebaya, tergabung dalam grup A. sedangkan Persipura, Mitra Kukar, Persela, dan Arema Cronus di grup B. Sialnya, dilaga pembuka, Persija mesti takluk 0-1 dari Sriwijaya FC. 

Satu-satunya gol pada laga itu dibuat oleh Ferdinand Sinaga, setelah Tibo diganjar oleh Indra yang membuahkan dua kartu kuning dan tendangan bebas. Gol itu dibuat dari eksekusi tendangan bebasnya yang melewati ketiga kepala pagar betis pemain Persija. Satu gol, satu pemain dikeluarkan. Gol itu semahal kesombongan Ferdinand yang pergi meninggalkan Persib selepas mereka juara dan menjadi pemain terbaik di laga final itu. 

Sebenarnya laga Sriwijaya FC melawan Persija dilakukan hari sabtu (17/01), tapi karena hujan turun terlampau deras dan struktur rumput di stadion itu membuat lapangan tergenang. Dan akhirnya mesti ditunda ke minggu pagi. Coba setiap stadion di Indonesia kerja sama dengan perusahaan pembalut. Jadi rumput di stadion dibuat punya daya serap –bukan malah daya tampung.

Pada pertandingan itu Persija tidaklah bermain buruk. Tidak juga bermain baik. Tapi, tidak juga Persija bermain biasa-biasa saja, karena Persija dihuni pemain-pemain yang mahalnya luar biasa. Pada lagi itu, Persija hanya bermain mengikuti arah datangnya bola. Bola ditentang keras dari belakang ke depan, maka para pemain berlarian mengejarnya. Mereka diserang, tidak ada yang membantu pertahanan. Begitu sampai pertandingan usai. Paling hanya satu kali Persija benar-benar mengancam Sriwijaya FC, ketika Stefano Lilipaly mendapat umpan atraktif dari BP dengan pundaknya tapi ketika berhadapan langsung dengan Dian Agus, kiper Sriwijaya FC, tendangannya terlampau pelan. Entah, itu tendangan langsung atau sebuah operan.

Itu juga bisa dilihat dari statistik pertandingan. Penguasaan bola berimbang 50-50. Tendangan ke gawang pun mereka kalah unggul. Hanya sedikit mendekati satu angka untuk tendangan melenceng; namun yang pasti, akan selalu ada nama Ismed Soyfan di sana.
Namun, apabila melihat beberapa berita tentang Persija sebelum laga itu, sepertinya wajar-wajar saja. Sebab pelatih Pesija tidak menargetkan juara, ia hanya ingin melihat kekompakan anak asuhnya dan melatih mental menjadi seorang pemenang. Bagi seorang Rahmad Darmawan, itu jauh lebih penting. Juga, pada kompetisi SCM Cup, Persija tidak membawa beberapa intinya. Greg Nwokolo dan Abdul Lestaluhu mesti mendapat rehabilitasi pasca kompetisi Trofeo Persija. Sedangkan Ramdani Lestaluhu, izin menikah.

Ketika konfrensi press, Rahmad Darmawan bilang, "seceara keseluruhan permainan berjalan seimbang." Sementara itu, saat satu tim sedang melatih mental di sebuah kompetisi untuk menang, Ramdani mesti melatih mentalnya setiap malam di ranjang. 


Perpustakaan Teras Baca, 18 Januari 2015

11 Dialog

By : Harry Ramdhani

"Kau Penyair?"

"Ya,"

"Aku suka puisi, tapi tidak suka penyair,"

"kenapa?" tanya saya.

"Penyair itu sekedar manis dan romantis dalam tulisan, namun tidak pada perbuatan,"

"tidak semua penyair seperti itu,"

"ya, memang, misalnya penyair yang jelek puisinya,"

"kau sudah dua kali menghina penyair,"

"sungguh? Penyair bahkan berkali-kali menghina, dalam bentuk puisi,"

"kan, itu beda!"

"Semua yang beda bukan berarti tak sama, dan puisi, seperti yang kau pahami, mampu menyamakan yang berbeda."

Lalu kedua malaikat itu lupa menanyakan Tuhan penyair tersebut, setelah puas debat di kuburan.


Tag : ,

Tunas Kelapa dan Cerita Pantai

By : Harry Ramdhani

Matahari muncul dengan bersahaja, sinarnya bak pijar lampu petromak. Saya dapati beberapa tunas pada fajar yang anggun di bibir pantai. Seperti bayi rembulan semalam, yang dibawa hanyut ombak hingga sisi. Tunas-tunas itu, tunas rindu. Kau tahu, selalu ada kisah rindu yang tersimpan hangat di bawah pasir-pasir pantai. Dan tunas-tunas itu perlahan akan tumbuh.

Pada sinar remang rembulan, kau akan lihat, tunas-tunas itu berterbangan. Seperti kunang-kunang yang kesepian, dan mencari teman.

Itu kisah yang saya dapat dari penjual kopi keliling, yang biasa berjualan di sekitar pantai.

Lain orang, maka lain juga ceritanya….

Suatu malam diakhir tahun 1998 pernah ada seorang bapak tua menemukan banyak mayat di pinggir pantai. Tanpa kepala. Banyak dugaan kalau itu mayat aktivis-aktivis yang hilang lalu mayatnya dibuang. Setiap malam purnama, kau akan melihat beberapa bayangan orang tanpa kepala dan memakaikan tunas-tunas itu sebagai pengganti kepalanya.

Begitu cerita penjual es kelapa hijau.

“Dari mana kau dapat cerita itu?”

“Dari para pedagang keliling di pantai ini,” jawab saya, sembari menikmati segelas kopi di warung yang tak jauh dari batu karang raksasa.

“Mau dengar cerita yang lain?”

“Ada lagi?”

Handi dan Dini, namanya. Mereka sepasang kekasih yang sedang bulan madu. Dulu pantai masih penuh semak belukar. Pohon-pohon kelapa hidup tak berjarak. Tunas-tunas kelapa sudah mulai tumbuh. Setiap senja, pantai ini akan menguning dan airnya menyerupai bir. Namun sial, ketika mereka berdua sedang main “mengubur diri” di pasir pantai, tiba-tiba ombak besar datang. Hanyut sudah. Dua hari mayat mereka tidak ditemukan. Hingga penjaga pantai membuat laporan bahwa mereka hilang.

Setelah kejadian itu, lambat laun pantai ini sepi pengunjung. Penjaga pantai pun alih profesi menjadi tukang ojek. Pantai tidak terurus. Lalu datang seorang pengembang ingin membangun kawasan penginapan. Pohon-pohon kelapa ditebang. Semak belukar dibakar habis. Pada peletakan batu pertama itulah, tiba-tiba ada sepasang tunas kelapa di bibir pantai.

Di tengah pembangunan, banyak pekerja yang kesurupan. Juga melihat tunas-tunas kelapa berterbangan setiap malam. Bahkan, di dalam mimpi pun mereka masih dihantui: tunas-tunas kelapa yang membenturkan ke kepala teman-teman pekerja.  Dan pembangunan tidak jadi dilanjutkan.

Kopi saya telah tandas. Di dalam warung, penjual kopi itu seperti memasukan sesuatu ke kantung keresek hitam dan meletakannya di atas meja. “Itu tunas kelapa, Pak? Mau ditanam di mana?” Ia diam. Hingga saya sadar, dari celah bilik warungnya, di atas meja terlihat rambut yang menjuntai keluar dari kantung itu. Pemilik warung itu keluar tak berkepala.



Perpustakaan Teras Baca,  Januari 2015

Tag : ,

Tiga Kematian di Stasiun Kereta

By : Harry Ramdhani

1/
IA menanyakan hal yang sama, pada semua orang di peron dua: kereta terakhir ke neraka pukul berapa? Mendengar pertanyaan (yang aneh) itu, tentu ia tak mendapatkan jawaban apapun –selain dianggap gila.

Tapi perempuan itu tak urung putus asa. Ia kembali lagi ke ujung bagian selatan peron dua, dan menanyakan kembali hal yang sama. Alis mata orang-orang mulai diruncingkan. Ada yang menggelengkan kepala. Malah, ada yang menganggap perempuan yang bertanya itu seperti tidak ada saja. Raut mukanya memelas. Makin lama makin terlihat cemas.

Namun, bagi saya, perempuan terlihat sedikit cantik bila sedang bingung. Dan terlihat lucu ketika murung. Saya lihat ia sudah di ujung utara peron dua. Perempuan itu berdiri tepat di bawah lampu. Tak lama, ia senyum-senyum sendiri, seperti menemukan jawaban yang dicari-carinya sedari tadi. Ah, sebenarnya apa yang dimaksud perempuan itu, kata saya dalam hati.

Klakson kereta itu sudah terdengar dari kejauhan.
Perempuan itu maju satu langkah ke depan.
Kereta masuk stasiun dari arah selatan.
Ia menanyakan hal yang sama, pada bayangannya –melewati garis aman.

Dan, pada saat yang bersamaan kereta itu menabraknya. Tubuhnya terpental jauh. Namun setelah evakuasi dilakukan, dari wajah perempuan itu ditemukan seperti sedang tersenyum senang. Betapa beruntung perempuan itu, bisa mati dalam keadaan tenang.

2/
DI depan toilet umum stasiun itu dibangun sebuah patung seorang perempuan. Menurut cerita, itu perempuan gila yang mati di depan toilet umum. Setelah kematiannya, toilet umum itu menjadi sangat angker. Selalu ada kejadian yang aneh-aneh. Pernah satu waktu pengguna toilet mati dengan tubuh berlumur tahi. Kejadian itu tidak hanya sekali, tapi berkali-kali. Bahkan ada juga yang mati tanpa pelir, kemaluannya tidak ditemukan di sekitar toilet. Hilang begitu saja. Setelah Perusahaan kereta itu dikelola swasta dan tidak ingin kejadian-kejadian aneh itu terulang, maka dibuatkan patung di depan toilet umum itu.

Namun ada juga cerita lainnya: ini tentang kisah cinta penjaga loket dengan petugas pemeriksa tiket. Sudah dua tahun mereka menjalin hubungan dan sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan. Mereka dipertemuakan oleh duka yang sama: masing-masing di antara mereka telah lebih dulu ditinggal mati kekasih yang dicinta. Persis saat-saat ketika ingin melangsungkan pernikahan.

Hubungan mereka sangat bahagia. Ke mana-mana selalu berdua. Di mana ada penjaga loket, di situ ada petugas pemeriksa tiket. Sangat lengket. Barangkali mereka baru pisah hanya ketika ke toilet.

Dan benar saja, setelah rapih-rapih ingin pulang shift malam, mereka pergi ke toilet. Penjaga loket itu sudah selesai lalu menunggu pacarnya di depan toilet. Lama sekali. Teman-temannya sudah pulang , tapi perempuan penjaga loket itu tetap menunggu. Dia berdiri di depan toilet laki-laki sampai pagi. Baru saat itulah pasangannya ditemukan tewas dengan luka tusuk di jantungnya. Semalam ia dibunuh di dalam kamar mandi.
Mungkin karena telah lelah, perempuan penjaga loket itu mati terserang penyakit jantung di depan toilet laki-laki. Untuk mengabadikan kisah cinta mereka, akhirnya dibuatkan patung perempuan di depan toilet umum itu.

Sesaat setelah keluar dari toilet umum, tepat di depan patung itu, seperti ada yang tangan yang menarik baju saya.

3/
Tidak pernah ada yang tepat waktu di negeri ini, tak terkecuali jadwal kereta. Tapi, dari ketidak-tapatan itulah kau akan membuat suatu pola sendiri, dari yang belum terpola. Kau mulai sadar, sebelum keretamu datang akan selalu ada kejadian yang terjadi berulang: entah terlebih dulu kereta barang yang datang, entah kereta yang tiba di seberang, dan entah orang-orang yang biasa barsamamu pulang. Apa saja.

Mungkin sebagian orang di stasiun itu ada yang menganggap saya tidak waras. Sebab saya menunggu kereta yang rutenya telah dihapus. Karena tahun lalu terjadi kecelakaan beruntun di stasiun.


Perpustakaan Teras Baca, 14 Januari 2015
Tag : ,

Dan

By : Harry Ramdhani

1/
Dan laki-laki itu ingin berlibur ke halaman buku puisi dan membawa satu kaleng bir hitam di tangan kanan dan kripik kentang di tangan kirinya. Ini liburan pertama ke buku puisi, betapa berdebar hatinya. Dan ia ingat larik puisi pertama yang ia baca. Dan itu bukan dari buku, tapi grafiti, di tembok gang dekat rumahnya.

Dari jembatan beton Semanggi kutatap ibu kota/ Lalu lintas masa kini mengalir di bawah seperti sungai raksasa/ tanpa udik tanpa muara.

Dan itu sajak Sitor.

Dan Sitor telah tiada. Ia mati di Belanda.

Dan puisi. Dan kesedihan. Dan seperti itulah liburan pertama laki-laki ke halaman buku puisi.

2/
Dan perempuan itu ingin vakansi ke buku kumpulan cerpen dan mengajak beberapa teman dan keluarga. Dan sayang, tak ada yang mau diajaknya. Dan perempuan itu pergi sendiri. Dan di tengah jalan, ia bertemu seekor anjing dan merah matanya dan berliur mulutnya. Dan perempuan itu ingat cerpen Joko Pinurbo, Jalan Asu. Dan dengan sapa ramah, “selamat sore Asu,” anjing itu melongo dan memberi jalan.

Dan setibanya di gerbang buku kumpulan cerpen dan perempuan itu tersadar satu hal: yang membuat cerpen itu menarik, ialah kematian. Dan perempuan itu sedikit ragu. Dan takut. Dan ingin kembali pulang.

3/
Dan mereka di kamar tertidur pulas. Dan mimpi itu untuk kesekian kalinya menghampiri.



Palmerah,  14 Januari 2015
Tag : ,

Andrea Pirlo, Eka Doky, dan Tugasnya di Tengah

By : Harry Ramdhani

Barangkali hanya Andrea Pirlo yang sanggup sedikit lebih lama memegang bola, mengutak-atiknya, sampai membongkar dari sisi tengah lapangan –melihat pergerakan lawan dan penyerangnya yang bergerak membuka ruang –untuk mengirim umpan yang matang.

Sebagai pemain tengah, seperti yang di tempati Pirlo, memiliki peran yang sakral pada sebuah pertandingan. Kehadirannya tak ayal Malaikat yang bertugas menyampaikan wahyu pada Nabi dan Rasul. Tepat dan akurat. Terbukti dari data statistiknya setiap laga, ia melakukan pass accuracy sebanyak 89.1% dalam satu pertandingan. Terbaik di Serie A. Jadi pantas bila banyak pemain yang bermain dengan Pirlo pasti berpeluang mencetak gol.

Namun tidak sampai di sana saja, tugas pemain tengah pun sebagai penyeimbang. Maksudnya, pemain tengah mesti bisa menyerang dan bertahan dengan sama baiknya. Apa lagi dengan gaya permaian sepak bola modern seperti sekarang. Seakan-akan beban yang diberi oleh tim, setengahnya ada padanya.

Tidak hanya di sepak bola, dalam penyusunan line-up open mic pun berlaku hukum serupa. Peran Komika yang tampil di tengah adalah sebagai penyeimbang. Barangkali orang-orang yang cukup lama berkecimpung di dunia stand-up comedy tahu, seperti norma, hukum yang tidak tertulis namun mesti diikuti dan patuhi, ketika menyusun line-up mesti dibuka dan diakhiri oleh Komika dengan baik. Tujuannya sederhana, secara tidak sadar orang (baca: penonton) hanya mengingat pada awal dan akhir sebuah acara saja. Tapi, bagaimana jika line-up dalam satu open mic itu banyak? Maka disitulah peran Komika yang ada ditengah line-up: menyeimbangkan keseluruhan penampilan pada satu kali open mic.

Ada yang masih ingat #OpenMicBGR pada bulan ramadhan lalu? Disana Eka Doky menjalani tugas dengan sangat baik. Ia tampil di tengah-tengah line-up, menyeimbangkan open mic, dana memberi sedikit jalan untuk headliner –Komika yang tampil paling terakhir –untuk menutup open mic.

Entah disengaja atau tidak, Eka Doky sangat tahu betul tugasnya ketika ditempatkan di tengah-tengah line-up. Ia tampil tidak terlalu lama. Tiga sampai lima menit saja dari batas yang diberikan untuk setiap Komika, yaitu tujuh menit.

Ngng…, dari lima kali open mic di bulan ramadhan, Eka Doky tampil tiga kali. Ketiga penampilannya mampu dibayar dengan baik. Bahwa ia memang pantas mendapat tugas seperti Andrea Pirlo di tengah. Ia mampu mengembalikan ingatan penonton open mic, bahwa tadi dibuka dengan baik dan ditutup dengan baik pula, sehingga ingatan-ingatan yang baik itu setidaknya memberi penonton supaya nonton kembali minggu depannya.

Ada kalanya open mic itu membosankan, karena secara keseluruhan, tidak semua Komika yang sedang menguji materi itu lucu. Tapi, ada kalanya juga, menonton open mic itu menjadi jauh lebih menyenangkan, seperti halnya menonton sepak bola; di mana satu moment kecil saja bisa merubah keselurhan. Seperti yang sering dilakukan Komika-Komika yang mendapat bagian di tengah line-up.



Perpustakaan Teras Baca, 11 Okt 2014
ilustrasi: Eka DOKY twitpic's

Amplop dan Saku Celana

By : Harry Ramdhani

Minggu ini Papa menulis puisi. Besok pagi ia ke kantor pos mengantar naskahnya buat di surat kabar. Pada minggu pagi saya baca di surat kabar itu, ada puisi Papa. Seninnya ia ke kantor surat kabar untuk mengambil upah. Setiba di rumah, Papa senyum-senyum. Dari caranya berjalan nampaknya ada yang berbeda. Saku celana sebelah kiri lebih tebal dari sebelahnya. “Hari ini kita sekeluarga makan di luar, tidak usah yang terlalu mahal, rumah makan yang biasa-biasa saja, asal kalian kenyang,” katanya. Ketika ingin bayar, amplop itu baru dibuka di depan bapak kasir. Ya, baru dibuka tanpa lebih dulu dilihat isinya. Uangnya kurang.  Kami sekeluarga diminta pulang duluan.“Sebentar, ya, Papa masih ada urusan.”

Di rumah, Papa pulang dengan telapak tangan yang keriput. Seperti lama terkena air. Masih dengan senyum-senyum, “Tadi Papa diajak main air di tempat cuci piring oleh pemilik rumah makan.”

Minggu depannya Papa menulis cerpen. Dengan mesin tik peninggalan ayahnya, jemari Papa seperti sekelompok penari yang menari sampai musiknya berhenti. Sudah pukul dua pagi. Papa tertidur di sebelah mesin tiknya. Saya baca cerpen Papa. Ceritanya tentang satu keluarga yang makan di restoran paling mahal di sebuah kota yang sunyi. Supaya beda dari restoran-restoran lainnya, di restoran itu makannya tidak pakai piring. Tapi daun pisang. “Ini restoran mahal, alas makannya sekali pakai langsung buang,” kata pemilik restoran itu.

Sayang cerpen itu belum selesai….

Malam itu pertandingan bola sangat membosankan. Tim yang bertanding tidak ada yang bikin gol sampai menit 69. Seperti pertandingan  amal saja. Dengan membawa mesin tik peninggalan ayahnya Papa, saya gotong itu ke depan tivi dengan hati-hati. Bak sayatan-sayatan dalam puisi.

Besok paginya saya ke kantor pos mengirim cerpen yang Papa dan saya buat. Baguslah pagi itu Papa tidak menanyakan cerpennya. “Pasti malaikat yang bawa cerpen Papa, dan ia lupa mengembalikannya, Nak,” kata Papa, “ini sudah bukan kejadian satu-dua kali. Biar Papa buat lagi yang baru nanti.”

Selasa siang ada yang mengetuk pintu rumah kami. Untung pintu itu tidak roboh. Bulan lalu Papa janji ingin membenarkan, tapi sampai orang itu datang belum dikerjakan. Saya buka pintu itu sambil diangkat. Ternyata bapak petugas kantor pos. Ia memberikan amplop yang di bagian depannya ada nama Papa.

Dilihat amplop itu oleh Papa dari jarak yang jauh dari mata.“Duh, mata Papa rasa-rasa sudah tidak awas.” Papa senyum-senyum dan mengantongi amplop itu di saku celananya sebelah kiri. “Bu, Bu, bikinkan Papa kopi, setelah itu kita sekeluarga makan di luar, ya.”

Kali ini kami sekeluarga dibawa Papa cukup jauh. Dua kali naik angkot. Entah rumah makan seperti apa yang dituju, yang jelas hanya Papa dan pikirannya yang tahu.

“Di rumah makan padang ini kita pasti bisa makan sampai kenyang. Nasi tambahannya tidak pernah dihitung. Bonus. Pemilik rumah makan ini dulu murid Papa menulis, tapi gagal, akhirnya ia banting stir dan akhirnya sukses, lho.”

Papa senyum-senyum. Seperti ada kebanggaan –atau kesombongan– yang sembunyi di balik senyumnya itu.

Minggu depannya lagi Papa menulis esai. Ditemani radio usang, Papa menulis sambil menyanyi meski suaranya jauh dari biasa-biasa. Tapi hari itu Papa terlihat sangat riang. Ibu mengantarkan kopi di meja kerjanya. Sebelum pergi, Papa kini menari. Bukan. Mengajak menari lebih tepatnya. Tangan Ibu yang memegang nampan dijadikan seolah-olah payung olehnya. Papa, juga Ibu menari dan menari bersama. Begitulah Papa saya…, begitulah keluarga saya….

Besoknya saya diajak Papa ke kantor pos.

“Kamu mesti tahu cara surat-menyurat, Nak,”

“Tapi bukankah sudah ada email, Pa?”

“Ya, namun tak ada yang lebih romantis daripada surat-menyurat. Perkembangan jaman terlalu serius, dan teknologi bisa mengubah semua, tapi tidak untuk hal-hal romantis yang manusia bisa buat dari hati yang tulus. Ingat itu!”

Saya mengangguk. Dan antrian di kantor pos makin panjang.

Senin paginya Papa duduk-duduk di teras rumah sambil minum kopi. Saya diminta mengambilkan kertas dan pensil. Papa mau bikin puisi. Ini kertas ke-11 dan lima judul puisi yang dibuat, tapi kata Papa kertasnya masih kurang. Saya ambilkan beberapa buku tulis sekolah saya yang bagian belakangnya tidak habis. “Nah, begini, dong, anak pintar,” ujar Papa senyum-senyum.

Sudah habis dua gelas kopi. Buku-buku tulis sekolah saya pun habis ditulisi puisi. “Kenapa Pak Pos gak datang, ya, apa lagi sakit?” ucap Papa sendiri.

Saya baru sadar, Papa menulis puisi dan minum kopi untuk menunggu. Produktif sekali Papa saya ini. Minggu ini kami sekeluarga tidak diajak Papa makan lagi di luar.

Minggu depannya lagi Papa tidak menulis puisi, cerpen, atau esai untuk surat kabar. Malam-malam, saya dapati Papa dengan mesin tik peninggalan ayahnya, tampak serius. Baru mengetik beberapa kalimat kertas di mesin tik itu langsung dikeluarkan dan dibuang. Tempat sampah yang ada di sisi meja kerja Papa malam itu akhirnya berguna juga.

“Nak, simpan ini di saku celanamu dan besok antar ke kantor pos, ya,”

“Ini apa?” kata saya.

“Surat cinta,”



Perpustakaan Teras Baca, Okt 2014 – Jan 2015
Tag : ,

Tahun Baru, Tuhan Lama, Dua Cerita Lainnya

By : Harry Ramdhani


TAHUN BARU DAN TUHAN LAMA
MENJELANG malam tahun baru, Dini lebih memilih mengurung diri di kamar ketimbang pergi keluar dengan teman-temannya. Gadis berusia 11 itu baru saja mengalami menstruasi pertama. Ia tidak berani cerita ke orang tua. Takut disangka habis kehilangan keperawanannya, sebab darah itu tidak berhenti keluar dari lubang kencingnya.

Kau tahu cara Tuhan bersenang-senang? Ia membuat manusia takut pada apa pun dengan berlebihan. Ketakutan selalu menggiring manusia untuk berdoa. Dan itu yang dilakukan Dini di kamarnya.

“Tuhan, bila tahun yang baru ini aku telah resmi dewasa, tolong jangan pisahkan aku dengan Tuhan yang lama, yang selalu mengabulkan doa-doa kecilku setiap malam, sebelum aku tidur. Amin.”


PATUNG PEREMPUAN
DI depan toilet umum stasiun itu dibangun sebuah patung seorang perempuan. Menurut cerita, itu perempuan gila yang mati di depan toilet umum. Setelah kematiannya, toilet umum itu menjadi sangat angker. Selalu ada kejadian yang aneh-aneh. Pernah satu waktu pengguna toilet mati dengan tubuh berlumur tahi. Kejadian itu tidak hanya sekali, tapi berkali-kali. Bahkan ada juga yang mati tanpa pelir, kemaluannya tidak ditemukan di sekitar toilet. Hilang begitu saja. Setelah Perusahaan kereta itu dikelola swasta dan tidak ingin kejadian-kejadian aneh itu terulang, maka dibuatkan patung di depan toilet umum itu.

Namun ada juga cerita lainnya: ini tentang kisah cinta penjaga loket dengan petugas pemeriksa tiket. Sudah dua tahun mereka menjalin hubungan dan sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan. Mereka dipertemuakan oleh duka yang sama: masing-masing di antara mereka telah lebih dulu ditinggal mati kekasih yang dicinta. Persis saat-saat ketika ingin melangsungkan pernikahan.
Hubungan mereka sangat bahagia. Ke mana-mana selalu berdua. Di mana ada penjaga loket, di situ ada petugas pemeriksa tiket. Sangat lengket. Barangkali hanya saat ke toilet mereka berpisah.

Dan benar saja, setelah rapih-rapih ingin pulang shift malam, mereka pergi ke toilet. Penjaga loket itu sudah selesai lalu menunggu pacarnya di depan toilet. Lama sekali. Teman-temannya sudah pulang , tapi perempuan penjaga loket itu tetap menunggu. Dia berdiri di depan toilet laki-laki sampai pagi. Baru saat itulah pasangannya ditemukan tewas dengan luka tusuk di jantungnya. Semalam ia dibunuh di dalam kamar mandi. Mungkin karena telah lelah, perempuan penjaga loket itu mati terserang penyakit jantung di depan toilet laki-laki.

Untuk mengabadikan kisah cinta mereka, akhirnya dibuatkan patung perempuan di depan toilet umum itu. Sesaat setelah keluar dari toilet umum, tepat di depan patung, seperti ada yang tangan yang menarik baju saya.

PEMBUKA BOTOL
BANYAK yang menanyakan tentang pembuka botol itu, yang selalu ada di tas saya. Kata mereka, untuk apa setiap hari dibawa-bawa? Saya hanya menjawab seperti yang Seruni pernah katakan dulu, “kau tidak akan pernah tahu, kapan, di mana, dan dengan siapa nanti meminum bir. Setidaknya, ketika kau bawa pembuka botol itu setiap hari, kau akan paham dua hal: tidak lagi kesulitan ketika ingin minum bir dan melihat Tuhan bekerja dengan segudang rencana-Nya.”

Saya ingat betul itu, karena apa yang pernah Seruni katakan tentang pembuka botol itu terjadi pada pertemuan kita yang ketiga. Pertamuan pertama, kita saling tukar kartu nama. Pertemua kedua, kita bertukar cerita. Lalu dipertemuan ketiga, di apartemenmu, kita sama-sama bertukar cerita perihal nama-nama pakaian dalam yang kita punya. Barulah saya sadari kalau Seruni suka membawa pembuka botol ketika ingin membuka bir yang telah lebih dulu sudah dibeli sebelum kita ke apartemenmu.

“Memang hanya itu isi tas aku, Sya: make-up, charger, dan pembuka botol,” katamu. “Tapi yang tidak pernah ketinggalan, ya, pembuka botol itu.”

“Kalau sewaktu-waktu ketinggalan?”

“Lebih baik aku tidak pakai BeHa tiap ke mana-mana daripada pergi tanpa bawa pembuka botol,” guyonnya, sambil menuangkan bir ke gelas saya.

Malam itu hujan baru saja turun. Kebetulan AC apartemenmu masih rusak. Kelembaban suhu setelah hujan membuat kita sama-sama kegerahan. Maka, malam itu, masing-masing di antara kita sama sekali tidak mengenakan pakaian.

Ini botol ketiga. Wajahmu makin memerah. Berdiri saja tak sanggup. Seruni sudah mabuk. Memang malam itu Seruni yang mengajak saya ke apartemennya. Ada yang ingin ia ceritakan tentang kesiapannya menjelang pernikahan. Bayangkan, satu minggu sebelum menikah tapi, ia belum mempersiapkan apa-apa. Seruni merasa seperti masih ada yang mengganjal di hatinya.

“Aku tidak takut, atau apa, tapi…”

“Pernikahan bukanlah pelabuhan terakhir, karena cinta akan membawamu berlayar semakin jauh ke samudera yang lebih luas lagi,” kata saya.

Seruni menundukkan kepalanya. Ia sadar, pernikahannya ini semata hanya urusan politik antara orang tuanya dan orang tua pacar dadakannya itu. Padahal kalau dipikir-pikir, calon suami Seruni orang yang baik. Memegang beberapa perusahan Keluarga. Dan yang lebih penting, calon suami Seruni akan diusung menjadi Presiden dari kedua partainya untuk periode berikutnya.

Namun, dalam diam Seruni itu, perlahan saya paham kegelisahhnya. Politik, seperti juga permainan dadu, kita tak pernah bisa menduganya.

“Pernikahan, tak lain, semudah membuka bir dengan pembuka botol, tapi cinta, akan memintamu membuka bir itu tanpa pembuka botol, kau mesti berusaha dengan apa saja agal bir itu terbuka,” ujar saya.

Lalu ketika botol keempat itu habis, Seruni menarik tangan saya ke ranjang. Kita seperti makhluk purba berjalan tanpa mengenakan pakaian. Ia mematikan lampu utama dan menggantinya dengan menyalakan lampu tidur. Sialnya ketika itu kita tidak tidur. Di balik selimut itu, Seruni malah lanjut bercerita. Saat mabuk Seruni tidak pernah kehabisan bahan cerita. Kini ia menceritakan tentang Kama Sutra dan langsung ingin mempraktikannya.

Setelah hari itu saya tidak pernah bertemu Seruni sampai hari pernikahannya. Saling menanyakan kabar pun tidak. Di kafe yang biasa saya kunjungi setiap akhir pekan, suami Seruni tiba-tiba menghampiri saya. Lalu setelah memesan satu kaleng bir ia pun cerita: tiga hari sebelum pernikahan, Seruni ditemukan tewas di apartemennya tanpa pakaian, dengan selangkangan tertancap botol bir. Anehnya, di apartemen itu banyak sekali botol-botol bir yang sudah dibuka tapi tetap utuh isinya. Mayatnya kaku sambil di tangannya memegang erat pembuka botol bir.



Perpustakaan Teras Baca, 31 Desember 2014
Tag : ,

Penyair, Bir, dan Pembuka Botolnya

By : Harry Ramdhani

Puisi dan bir adalah kawan.
Puisi dibuat untuk ditangisi,
sedangkan bir, yang menemani.

“Kau tahu, kenapa aku suka membawa pembuka botol?” katamu.

“Kenapa?”

“karena kita tidak pernah tahu,
kapan dan dengan siapa kau akan meminum bir,
dari sana kita jadi tahu dua hal dengan fungsi yang berbeda:
pembuka botol yang selalu dibawa dan cara Tuhan bekerja.”

Lalu, katamu, puisi paling sedih itu dibuat saat penyairnya mabuk
bukan dari kadar alkoholnya, tapi kenangan di dalamnya.*



Gd. Kompas, Lt. 06, 30 Desember 2014
Tag : ,

Ojek Payung

By : Harry Ramdhani

hujan paling bisa membuat kesedihan
seperti tak ada akhirnya
dan kopi hitam itu, akan
membuatnya semakin awet saja.

jari-jari lentikmu itu menganyam
hujan yang menetes dari genting
menjadi kain
lalu, kau hadiahi untuk perpisahan kita ini.

ketika hujan, ciuman dan pelukan
barangakali obat paling mujarab;
yang tak seorang dokter pun sanggup resepkan.

bodohnya, kita tak melakukan.

mungkin kita mesti belajar menerima kenyataan
dari pejaja ojek payung
yang rela hujan-hujanan
saat payungnya digunakan kekasihnya dengan selingkuhannya.



Perpustakaan Teras Baca, 26 Desember 2014

Kisah buat L

By : Harry Ramdhani



1/
Pada peron menuju Tanah Abang di suatu malam, saya menunggu kereta pulang. Dari kejauhan yang terlihat hanya satu lampu merah menyala. Seperti mata iblis yang mengintip. Sama sekali tak mengedip. Begitu juga pada ujung lainnya. Entah sekarang sudah pukul berapa, sebab telepon genggam tidak saya atur jam dan tanggalnya; dari situlah saya tahu, waktu tidak mengelilingi dirinya sendiri, ia diam, sampai akhirnya tidak akan ada masa lalu dan yang akan datang.

Saat itu stasiun tidak sepi. Banyak pekerja bangunan yang sedang menyelesaikan pembangunan stasiun, tiga petugas keamanan, dan penumpang lainnya yang menunggu kereta di peron seberang. Tapi di peron ke Tanah Abang, hanya saya, sendirian. 

Tak lama terdengar pemberitahuan kereta barang sebentar lagi akan melintas dari arah selatan. Lalu suara klakson kereta barang itu, dari kejauhan, sudah dibunyikan. Sangat keras. Kereta itu membawa gulungan plat dalam ukuran-ukuran yang besar. Sebesar beton untuk membuat gorong-gorong jalan. Entah berapa banyak, 11 lebih barangkali. Dengan kecepatan tinggi, kereta barang itu melintas. Debu-debu berterbangan. Menyesakkan dada dan memerahkan mata.

Koran yang terlipat dua bangku dari tempat saya duduk terajatuh. Pada halaman pertama terpampang foto Presiden yang menyalami menterinya di bandara Soekarno-Hatta. Mereka berbaris menunggu giliran bersalaman. Kepulangan Presiden dari luar negeri dijadikan sajian utama, seakan itu adalah kejadian langka. Bukankah itu yang selalu dilakukan Presiden? Kunjungan ke luar negeri untuk membanding-bandingkan negerinya dengan negeri lainnya.

Sepertinya sekarang pukul sembilan lewat. Saya tahu itu dari bapak-bapak yang baru saja datang sambil menonton acara talk show dari televisi di telepon pintarnya itu. Semestinya kereta akan tiba sebentar lagi. Tapi, sampai sekarang, belum ada pemberitahuan kereta itu sudah di stasiun mana atau berangkat dari stasiun mana.

Di peron seberang orang-orang semakin banyak saja yang menunggu kereta dari Tanah Abang. Satu persatu berdatangan. Pegawai-pegawai kantoran, mahasiswa yang baru selesai kuliah –atau, mungkin habis senang-senang. Namun, di antara mereka, yang digunakan hampir semua sama: memasang head-set di telinga. Barangkali dengan mendengarkan lagu, adalah cara terbaik menunggu. 

Stasiun ini jauh dari kata layak. Mungkin karena ada pembangunan, sehingga menggunakan masker merupakan pilihan tepat. Seperti saat ini, misalnya, debu dan oksigen yang dihirup jumlahnya seimbang. Bapak-bapak yang tadi sedang menonton mulai memasang masker. Suatu hal yang wajar untuk siapapun bila ingin menjaga kesehatannya. Tapi saya tidak suka menggunakan masker, karena sering tercampur air liur yang tiba-tiba keluar begitu saja. Air liur itu menempel dan kering di bagian dalam masker. Bau. Bagi saya, lebih baik mati terkena asma daripada mencium bau liur sendiri.

2/
Desember. Tapi hujan tidak juga kunjung datang. Malah, sesekali kesedihan yang mengurung setiap malam. Kesedihan tanpa hujan, seperti puisi tanpa kopi. Atau sebaliknya barangkali. Seperti malam ini, rasa-rasanya sedih suka sekali menghampiri. Kesedihan memang seperti kamu, juga waktu; yang kadang tidak pernah tepat. 

3/
Dihisapnya rokok itu dalam-dalam. Dibuatnya tiga lingkaran dari asap rokok itu. Melayang-layang hingga asap itu hilang. Malam itu tak ada yang lebih nikmat dari merokok satu batang rokok kretek setelah hujan. Ia tidak mempedulikan dagangannya yang baru laku beberapa, karena kenikmatan tidak bisa dibandingkan –sekalipun itu– dengan uang. 

Kopi itu tidak diaduk. Ampasnya mengapung di permukaan dan mengendap di dasar gelas. Dibiarkan sampai kopi itu benar-benar larut dengan air panas. Dari hitam pekat kopi itu, tercium aroma robusta yang khas dan laten di hidung. Dengan sabar ia menunggu kopi itu larut sampai nantinya bisa diaduk. Itulah ritual-ritual yang ia selaulu lakukan untuk meminum kopi: menunggu.

4/
Siapa tahu langit malam ialah selimut paling hangat?

Angin yang sepoy menggiring kereta menuju Tanah Abang. Dari arah selatan stasiun Palmerah, kereta itu seperti kuda yang ditunggangi pangeran. Muncul dari kegelapan dengan pelan hingga datang. Saya ajak bapak-bapak tadi untuk ikut, tapi ia menggelengkan kepala. Di peron ini ia hanya numpang duduk, di peron seberang sudah tidak ada tempat duduk yang kosong. 

Satu langkah kaki saya berarti satu langkah untuk meninggalkan. Tak apa, mungkin saya akan lanjutkan menuggu di stasiun Tanah Abang saja. Kereta itu pun sepi. Satu gerbong barangkali masih bisa dihitung dengan jari. Saya memilih di tempat duduk prioritas. Dengan memeluk tas. Orang-orang yang satu gerbong dengan saya sama saja seperti orang-orang yang ada di stasiun tadi: memakai head-set semua. Barangkali dengan mendengar lagu, adalah cara terbaik menamani kantuk mereka yang menggebu.

Sialnya hari itu saya lupa membawa buku. Setidaknya dengan membaca saya bisa sesibuk mereka itu; yang mendengarkan lagu. Sambil memeluk tas, saya longok keluar jendela. Sungguh, seperti penggalau saja. Mencari bulan dan bintang di langit yang benderang. Meski tidak terlihat jelas, yang pasti, bulan akan selalu mengikuti ke manapun saya pergi. 

Langit malam itu seperti segalas kopi, membuat saya merasa hangat ketika di sisi. 

5/
Sepuluh menit sebelum pukul sepuluh tepat. Saya sudah sampai di stasiun Tanah Abang tepat di bawah jam besar yang digantungkan. Kereta barang yang tadi membawa gulungan besi itu terparkir di jalur lima dam saya di jalur tiga. Peron untuk ke Bogor, yang selalu saya naiki sampai Depok saja.

Dari arah utara kereta lokomotif datang di jalur satu. Suaranya bising. Nampaknya suara itu bukan berasal dari mesin, melainkan para pemain Marching Band. Saat melintas di belakang saya, peron pun berasa bergetar. 

Di sini tidaklah sepi.  Banyak karyawan kantoran yang mau pulang, dan beberapa bencong yang berangkat entah ke mana demi mencari sesuap nasi. Tapi, tetap saja saya merasa sendiri. Andai salah satu dari bencong itu yang ada menghampiri, entah dengan tujuan apa, meski ingin menemani, saya akan lari. Bukan karena jijik atau apa, tapi karena saya laki-laki dan melihat laki-laki bertingkah seperti perempuan bikin bulu kuduk saya berdiri. Ibarat melihat setan.

Kini kereta lokomotif datang dari arah selatan di jalur dua. Kereta itu membawa banyak sekali air galon yang baru diisi. Berjalan dengan pelan, seperti sedang merangkak. Mungkin karena galon-galon itu berat. Namun saya jadi tahu, artinya akan datang kereta yang hanya sampai stasiun Manggarai dan berikutnya ke Depok.
Waktu adalah tanda. Kita bisa tahu itu masa lalu karena tanda-tanda. Tanda-tanda itu kita artikan sendiri berdasarkan pengalaman dan pengetahuan. Dan kita biasanya menyebut itu kenangan. Setiap waktu akan meninggalkan tanda. Tandai tanda itu sebagai pengingat waktu, setidaknya akan membantu di masa yang akan datang.

Waktu adalah ingatan. Ingatan itu abadi. Saya percaya itu. Ketika saya percaya, saya tidak akan pernah berhenti bermain dengan waktu. Saya tidak akan takut menjumpai ingatan, walau kadang menyakitkan.
Waktu adalah cinta. Tak ada habisnya. Tak akan berhenti. Berputar mengikuti ke mana cinta itu pergi. Memaknai setiap putarannya, meski cinta kadang meninggalkan noda serupa luka. 

Sepuluh lewat sepuluh. Dari arah utara kereta dengan tujuan akhir Depok datang. Saya berdiri satu langkah di depan garis aman yang berwarna kuning itu. Biarlah, karena yang ditunggu tidak jadi datang. Barangkali kereta itu kereta jenazah yang akan membawa jasad saya. Kalaupun saya tidak bisa bertemu denganmu, paling tidak kedatangan kereta ini akan mempertemukan saya dengan maut.




2010 – 2014
Tag : ,

- Copyright © Kangmas Harry - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -