#Kamisan - Ibu Tidak Pulang
By : Harry Ramdhani
ilutrasi: @Komikazer
Ibu ingin keadilan
tentu menolak lupa dan diam
kepulanganmu, ialah harapan
mungkin sudah mati
mungkin sudah tak tahan sembunyi
semoga saja sudah di surga
atau mungkin, terdampar di neraka
dulu rasanya Ibu bilang:
Nak, tak perlulah kamu ikut-ikutan
nanti tidak bisa pulang
kini dengan lantang Ibu bilang:
Nak, setiap kamis sore Ibu berdiri, berdiam
di depan istana menunggumu pulang
Ibu ingin keadilan
tentu menolak lupa dan diam
biarlah Ibu kehujanan
dengan payung hitam
biarlah Ibu kepanasan
dengan baju hitam
ingatan ini tidak hilang
ingatan ini untuk mengenang yang hilang
dan, setiap kamis sore yang kelam
ialah, untuk mereka pelanggar HAM
Perpustakaan Teras Baca, 05 Juni 2014 - #Kamisan
Tag :
Prosa,
Pagi Tadi Selepas Keretamu Pergi
By : Harry Ramdhani
Jepretan Uyya'
Pagi
tadi, setelah keretamu resmi pergi, aku duduk di peron sendiri. Lalu, ada lelaki
tua membawa karung besar dan tongkat runcing dari besi menghampiri. Rambutnya berantakan. Sudah ubanan.
Ketika aku tanya, ia diam. Ketika aku beri uang, ia menolak dengan menyembunyikan
tangan. Lelaki tua itu kemudian pergi. Sepertimu
yang juga pergi pada pagi yang terlalu dini.
Aku
masih duduk-duduk di peron. Lalu, ada lelaki kecil yang membawa bungkusan permen
kosong menghampiri. Di ujung bungkus permen
itu dilipat beberapa keluar. Aku kira pengemis,
ternyata bukan. Tiba-tiba saja duduk di sampingku,
kemudian ia diam dalam waktu yang panjang. Tapi, lelaki kecil itu diam-diam meneteskan
air mata. Aku tanya, Ia tetap diam. Aku berikan uang, ia malah menyembunyikan tangan.
Aku masukan ke bungkus permen, ia buang. Lelaki kecil itu kemudian pergi. Sepertimu dan lelaki tua tadi yang juga pergi
pada pagi yang hampir meninggi.
Baru
saja ingin angkat kaki, ternyata datang wanita
tua membawa kain gendongan menghampiri. Ia
tidak diam seperti dua orang sebelumnya tadi. Wanita tua itu menanyakan lelaki tua
dan lelaki kecil yang mungkin lewat di sekitaransini. Aku tunjuk saja ke arah selatan–arah yang
sama dengan keretamu pergi. Belum turun lengan kiriku menunjuk, wanita tua itu malah
duduk. Ia tertunduk. Tak lama, ada suara
nafas yang beradu. Wanita tua itu menangis
tersedu. Aku tanyakan ada apa, ia malah
diam. Kali ini aku tidak ingin memberinya uang, karena aku tahu, ditinggal
orang yang dicintai lebih sedih daripada tidak memiliki uang sama sekali.
PerpustakaanTeras Baca, 29 Mei 2014
Tag :
Prosa,
Taman Siangmu!
By : Harry Ramdhani
Entah, dalam bayangan saya, 'taman' itu serupa tanah lapang dengan
rerumputan yang hijau terbentang. Di sana ada banyak mainan dan banyak
yang memainkan. Ada yang bermian dan dimainkan. Ada yang menunggu dan
ditunggu. Ada yang berlarian dan ada juga yang hanya duduk diam.
Taman, juga segala hal yang di dalamnya, selalu tak pernah habis untuk
diceritakan. Seperti cerita roman.
Saya-- dan orang yang mengirimkan beberapa foto di depan Perpustakaan Teras Baca --bermaksud menceritakan taman yang terus diam padalah selalu dimainkan. Kalau saya, pasti sudah teriak sangat kencang; agar yang lain mendengar.
Kali ini saya coba menulis lima cerita #100kata dari lima foto yang dikirimkan Uyya'-- seorang fotografer amatir --dari kamera barunya. Seperti yang sudah-sudah, lima fragmen itu saya gabungkan dalam satu cerita. Dan, sekarang entah akan seperti apa. Inilah… selamat membaca:
Sejak saat itu kami tidak bertemu. Sesekali aku ingin menelponnya, tapi selalu kandas di ujung telingaku. Tapi…, lagi-lagi tapi, katamu, pertemuan denganku hanya akan menyisakan ngilu karena sesuatu yang mesti dikeluarkan.*)
***
Pukul sepuluh lebih sepuluh.
Aku longok sekilas jam dinding yang jarumnya berbentuk simetris itu. Lalu mulai muncul ragu ketika pesan masuk ke email-ku. Darimu. Pesan itu bukan sekedar ajakan, tapi juga terkandung permintaan belas-kasihan. Aku hiraukan.
"Temui aku di taman."
Pukul satu kurang lima.
Lagi-lagi jarum jam berbentuk simetris. Tak lama ada yang menelpon. Aku angkat dan yang terdengar hanya tangis tanpa suara! Ibaku dirampas habis oleh tangis itu.
Perpustakaan Teras Baca, 21 Mei 2014
*) kutipan dari Novel Saman - Ayu Utami
Kisah ini bermula dari seorang lelaki yang tiba-tiba saja lari. Di bangku taman itu, ia tinggalkan segelas kopi hitam yang ampasnya sudah tenggelam di kedalaman yang entah ke berapa. Pastinya sangat dalam; kenangan pun tak sanggup meraihnya.
Ada yang bilang, lelaki itu adalah Tom Hanks dalam film 'Forest Gump'. Ada juga yang bilang, lelaki itu kesurupan. Ada-ada saja.
Di taman ini, aku adalah kupu-kupu yang tersesat di bulan Mei yang suka sekali mandi.
Tampang lelaki itu selangkah lagi ingin disudahi. Lebih baik mati daripada hidup namun, susah sudah seperti saudara sendiri.
***
Di taman ini, Lelaki itu adalah kepompong yang tersesat di bulan April yang suka sekali mandi.
Perpustakaan Teras Baca, 19 Mei 2014
Tidak perlu kau tanya pada seorang teman dengan lukanya itu, karena sama saja akan mengingat betapa sakit dan perihnya proses terjadinya luka tersebut.
***
Lelaki itu. Ya, lelaki itu tidak hanya merenggut taman main dan temanku, tapi juga Ia merenggut semua tawa-ceria dan masa depan mereka. Jahat sekali! Luka itu tak akan kulupakan seumur hidupku.
***
"Andini di mana?"
"Ada apa dengan Rini? Sudah satu minggu Ia tidak mau makan?"
"Mereka kenapa? Satu kelas jadi pendiam semua!"
***
Luka itu membekas. Biarpun kecil, tapi luka tetaplah luka! Kejadian itu singkat, di dekat perosotan, lelaki itu seperti kesetanan.
***
Dahsyat… lelaki itu tidak ditangkap. Barangkali polisi lupa. Atau, sengaja?
Perpustakaan Teras Baca, 20 Mei 2014
Ia memilih duduk menyendiri di ayunan yang bisa diputar itu. Padahal di
sisi taman lainnya banyak orang yang asyik sibuk dengan entah apa
namanya. Ada yang melompati karet-karet yang disatukan. Ada yang
duduk-duduk menikmati satu tangkap isi keju lengkap dengan susu. Dan
lain-lain. Dan sebagainya.
Saya datang bersamaan dengan mendung yang mengundang hujan. Bahkan satu-dua rintik sudah turun duluan. Ada perempuan yang duduk sendirian. Di taman, yang sendirian pastinya tak bertuan.
Saya dekati…
***
Sambil menatap handphone, kemudian ia menangis. Lalu tertunduk. Cukup lama dan jatuh seketika. Ia mati di ayunan yang bisa diputar-putar itu.
Saya diduga membunuhnya. Saya dipenjara.
"Hah!!!"
Perpustakaan Teras Baca, 21 Mei 2014
Dulu taman ini selalu ramai. Lebih dulu lagi, sebelum taman ini berbentuk taman, ini ialah tempat pembantaian pejuang yang tertangkap tangan mengintai. Aku ada di antara taman yang dulunya ramai dan taman yang lebih dulu lagi dibuat tempat pembantaian.
Di taman itu, kenanganku gentayangan. Di setiap tanggal sembilan, kenangan itu menghatui seluruh pengunjung taman. Pada sebelah selatan taman bisa kau lihat ada gundukan tanah, kan? Pada tanggal sembilan gundukan itu mengeluarkan asap. Kenanganku menguap!
"Sudah saya ingatkan untuk tidak ke sana setiap tanggal sembilan!"
***
10 Agustus 1998
Wonosari - Ditemukan sepasang kekasih gosong di taman. Diduga semalam mereka bercumbu di dekat gundukan taman di sebelah selatan.
Perpustakaan Teras Baca, 21 Mei 2014
Saya-- dan orang yang mengirimkan beberapa foto di depan Perpustakaan Teras Baca --bermaksud menceritakan taman yang terus diam padalah selalu dimainkan. Kalau saya, pasti sudah teriak sangat kencang; agar yang lain mendengar.
Kali ini saya coba menulis lima cerita #100kata dari lima foto yang dikirimkan Uyya'-- seorang fotografer amatir --dari kamera barunya. Seperti yang sudah-sudah, lima fragmen itu saya gabungkan dalam satu cerita. Dan, sekarang entah akan seperti apa. Inilah… selamat membaca:
Taman Siangmu
Sejak saat itu kami tidak bertemu. Sesekali aku ingin menelponnya, tapi selalu kandas di ujung telingaku. Tapi…, lagi-lagi tapi, katamu, pertemuan denganku hanya akan menyisakan ngilu karena sesuatu yang mesti dikeluarkan.*)
***
Pukul sepuluh lebih sepuluh.
Aku longok sekilas jam dinding yang jarumnya berbentuk simetris itu. Lalu mulai muncul ragu ketika pesan masuk ke email-ku. Darimu. Pesan itu bukan sekedar ajakan, tapi juga terkandung permintaan belas-kasihan. Aku hiraukan.
"Temui aku di taman."
Pukul satu kurang lima.
Lagi-lagi jarum jam berbentuk simetris. Tak lama ada yang menelpon. Aku angkat dan yang terdengar hanya tangis tanpa suara! Ibaku dirampas habis oleh tangis itu.
Perpustakaan Teras Baca, 21 Mei 2014
*) kutipan dari Novel Saman - Ayu Utami
Kupu-Kupu di Bulan Mei
Kisah ini bermula dari seorang lelaki yang tiba-tiba saja lari. Di bangku taman itu, ia tinggalkan segelas kopi hitam yang ampasnya sudah tenggelam di kedalaman yang entah ke berapa. Pastinya sangat dalam; kenangan pun tak sanggup meraihnya.
Ada yang bilang, lelaki itu adalah Tom Hanks dalam film 'Forest Gump'. Ada juga yang bilang, lelaki itu kesurupan. Ada-ada saja.
Di taman ini, aku adalah kupu-kupu yang tersesat di bulan Mei yang suka sekali mandi.
Tampang lelaki itu selangkah lagi ingin disudahi. Lebih baik mati daripada hidup namun, susah sudah seperti saudara sendiri.
***
Di taman ini, Lelaki itu adalah kepompong yang tersesat di bulan April yang suka sekali mandi.
Perpustakaan Teras Baca, 19 Mei 2014
Luka Kecil Sebesar Kerikil
Tidak perlu kau tanya pada seorang teman dengan lukanya itu, karena sama saja akan mengingat betapa sakit dan perihnya proses terjadinya luka tersebut.
***
Lelaki itu. Ya, lelaki itu tidak hanya merenggut taman main dan temanku, tapi juga Ia merenggut semua tawa-ceria dan masa depan mereka. Jahat sekali! Luka itu tak akan kulupakan seumur hidupku.
***
"Andini di mana?"
"Ada apa dengan Rini? Sudah satu minggu Ia tidak mau makan?"
"Mereka kenapa? Satu kelas jadi pendiam semua!"
***
Luka itu membekas. Biarpun kecil, tapi luka tetaplah luka! Kejadian itu singkat, di dekat perosotan, lelaki itu seperti kesetanan.
***
Dahsyat… lelaki itu tidak ditangkap. Barangkali polisi lupa. Atau, sengaja?
Perpustakaan Teras Baca, 20 Mei 2014
Perempuan itu Mati di Ayunan
Saya datang bersamaan dengan mendung yang mengundang hujan. Bahkan satu-dua rintik sudah turun duluan. Ada perempuan yang duduk sendirian. Di taman, yang sendirian pastinya tak bertuan.
Saya dekati…
***
Sambil menatap handphone, kemudian ia menangis. Lalu tertunduk. Cukup lama dan jatuh seketika. Ia mati di ayunan yang bisa diputar-putar itu.
Saya diduga membunuhnya. Saya dipenjara.
"Hah!!!"
Perpustakaan Teras Baca, 21 Mei 2014
Taman Tetap Mengerikan
Dulu taman ini selalu ramai. Lebih dulu lagi, sebelum taman ini berbentuk taman, ini ialah tempat pembantaian pejuang yang tertangkap tangan mengintai. Aku ada di antara taman yang dulunya ramai dan taman yang lebih dulu lagi dibuat tempat pembantaian.
Di taman itu, kenanganku gentayangan. Di setiap tanggal sembilan, kenangan itu menghatui seluruh pengunjung taman. Pada sebelah selatan taman bisa kau lihat ada gundukan tanah, kan? Pada tanggal sembilan gundukan itu mengeluarkan asap. Kenanganku menguap!
"Sudah saya ingatkan untuk tidak ke sana setiap tanggal sembilan!"
***
10 Agustus 1998
Wonosari - Ditemukan sepasang kekasih gosong di taman. Diduga semalam mereka bercumbu di dekat gundukan taman di sebelah selatan.
Perpustakaan Teras Baca, 21 Mei 2014
Tag :
Prosa 100 Kata,
Tertinggal
By : Harry Ramdhani
gambar: dari sini
Sudah tidak ada lagi yang pura-pura malu di ruang tunggu. Bangku-bangku panjang yang warnanya cokelat pun menyimpan banyak kenangan yang lekat. Mungkin juga, di ruang tunggu itu, dua meja besar menatakan kertas-kertas tugas yang belum tuntas. Aku, di ruang tunggu, barangkali bersama rindu.
"Ya, barangkali rindu akan menunggu…."
"… ya, barangkali kamu ialah rindu itu."
Dari ruang tunggu yang ditutup dua pintu, mata terlempar jauh ke ujung lorong tepi. Sepi. Aku, di ruang tunggu menyendiri.
Sudah tidak ada lagi yang pura-pura malu di ruang tunggu.
Ruang Tunggu Fisip - Univ. Djuanda, 19 Mei 2014
Tag :
Prosa,
Barangkali Kau Adalah Segala Hal yang Tak Terjabar
By : Harry Ramdhani
gambar: dari sini
Semenjak kutanggalkan rindu
di antara halaman buku,
bunga mawar kering itu
pada tanggal tertentu menyerembak harum wangi tubuhmu.
Semenjak kutinggal barang satu waktu
di antara kesibukan yang menjenuhkan,
sms dan panggilan tak terjawab darimu
menggunung; tinggi menjulang.
Semenjak kutunggalkan namamu
di pemahatan hatiku,
seringkali terhapus kenangan
yang tiba-tiba datang.
Barangkali kau adalah segala hal yang tak terjabar
pada genggaman tangan
sinar fajar yang gemetar.
Sejatinya kau adalah piyama bermotif bunga
yang pudar terhapus sesal
pada hukum alam yang kekal.
Bahwa cinta tak sekuat kuasa penguasa.
Perpustakaan Teras Baca, 09 Mei 2014
Tag :
Prosa,
Kucing Kampung dan Kucing Kota yang Bingung
By : Harry Ramdhani
gambar: dari sini
/1/
Kucing-kucing kampung migrasi ke kota
Kucing-kucing kampung bosan
setiap hari yang dimakan
hanya tulang-belulang ikan teri
kadang daging ayam, tapi basi.
Kucing-kucing kampung ingin juga spageti
/2/
Kucing-kucing kota ketar-ketir
Terbayang sudah
makanan kucing kota dijatah
bisa-bisa ikut mulung dari tempat sampah
Kucing-kucing kota biasa dimanja, bukan kerja
/3/
Kucing kota dan kucing kampung bertemu
Tak ada sapa
sebatas aungan gema
dari perut yang kosong dan keroncong
Kucing kota mendekat ke restoran
Kucing kampung datangi rumah makan padang
tidak ada makanan sisa.
Kucing kampung dan kucing kota bingung.
Di kota, tak ada lagi makanan sisa
makhluk bernama manusia
ambil jatah makan mereka jua.
Perpustakaan Teras Baca, 08 Mei 2014
Tag :
Prosa,
Menara Mimpimu
By : Harry RamdhaniNamun beginilah caraku berani untuk merealisasikannya. Menulis apa pun yang ingin saya tulis. Dan, kali ini saya belajar menulis dari lima gambar yang sempat di twitpic oleh Pandaikata. Masih sama, saya menulis beberapa cerita yang berjumlah 100 kata. Semoga ini ialah langkah jemari saya menuju beberapa harapan yang sempat saya simpan di loker. Selamat membaca, wahai Kaum Medioker.
Menara Mimpimu
INGIN aku gantungkan mimpi di pucuk menara itu. Menara paling romantis, katamu.
"Ajak aku ke sana,"
"Kalau ini ciuman terakhir, aku ingin menciummu di bawah menara paling romantis di dunia,"
Dan, masih banyak lagi pintamu pada menara itu. Itu baru yang aku ingat, belum yang aku catat.
***
Pagi turun perlahan, bersama angin dan dingin menulang.* Aku terbangun dari mimpi yang basah. Keringatku sebesar biji jagung.
Sudah banyak semut kerumuni kopiku. Semalam aku tertidur dengan setumpuk pekerjaan dan kenangan. Satu persatu aku ingat, sebuah ciuman di bawah menara dengan tegangan listrik yang tinggi bawa nyawamu pergi.
Ciuman yang basah dari mimpi yang basah di bawah menara mimpimu.
Perpustakaan Teras Baca, 08 Mei 2014
*) dari sajak Irwan Bajang, Antologi Pertanyaan
Kalkulasi Sebuah Airmata
Kupandangi langit lembut itu seakan berada dalam keluasan matamu; dan kutemukan sebuah dunia yang lebih ajaib dari surga.*
***
DITANGIS ketiga hari ini, matamu memerah seperti habis dipukuli. Memang, tak ada tangis yang abadi, tapi airmatamu ialah aliran sungai yang menghidupi pepohonan Khuldi. Yang haram namun, nikmatnya tak tertandingi.
"Menangislah pada Tuhan," katamu, "jika tidak bisa, maka berpura-puralah. Niscaya Tuhan membayar setiap tetes airmata yang kau keluarkan."
Airmata adalah doa, katamu lagi. Seperti yang kulakukan berulang-ulang ini.
Biarlah aku tidak di surga, bila nanti di neraka aku masih bisa lihat airmata yang terbuang percuma. Sebuah dunia dengan orang-orang yang berdoa.
Perpustakaan Teras Baca, 08 Mei 2014
*) dari sajak Agus Noor, Perempuan di Tepi Fajar yang Mekar yang Gemetar
Istana Tanpa Mahkota
ISTANA ini terlalu megah untukmu yang tinggal sendiri. Seorang anak manja yang sama sekali tak bisa mandiri. Aku pernah usulkan untuk pindah saja, tapi kau malah balik mencaci.
Pernah satu waktu, di ruang tamu, aku temukan bunga mawar yang kau letakkan di guci kecil. Tidak ada air. Tak lama, mawar itu mati. Ah, anak manja sepertimu mestinya tinggal di rumah sakit; agar selalu ada yang melayani.
Hanya ada kau, aku, dan kelopak bunga di kamar. Tapi kau yakin: ada yang sedang diam-diam menatap kita dengan pandangan berkaca-kaca.*
***
Di balik lemarimu, ada beberapa laki-laki beku. Kaku. Semua mantan kekasihmu yang tak kau kebumikan.
Perpustakaan Teras Baca, 08 Mei 2014
*) dari sajak Agus Noor, Kelopak Bunga dalam Delapan Kwartin
Di Tanah Lapang Tak Ada Bulan
"Bawa aku ke tanah lapang. Melihat bintang dan segala rasinya yang luas terbentang."
"Tanpa bulan?"
"Ya, tanpa bulan. Bulan selalu datangimu setiap bulan."
***
KOTA ini terlampau terang. Lampu jalan. Lampu taman. Lampu-lampu pembias langit; tempat cerita cinta kita kandas di tengah jalan.
Di sini, keberadaan bintang sebatas dijadikan ramalan. Dan, bulan, seperti biasa, hanya sebagai alasan perempuan yang kesal setiap akhir pekan.
Tidak ada lagi keindahan meski bulan dan bintang bersebelahan.
***
Di tanah lapang.
"Lihat, Bulan, tidak ada bulan, kan?"
"Ya, di mana bulannya?"
"Bulan bersemayam di hatiku yang dalam."
Kau tersenyum lalu menciumku perlahan. Itulah pertemuanku dengan Bulan yang terakhir di akhir pekan. Dan, selamanya.
Perpustakaan Teras Baca, 08 Mei 2014
Langkah Kaki Ibukota
DARI JENDELA kantor, sering kutangkap langkahmu di ujung jalan sana. Di trotoar, tempat hilir-mudik orang dengan sibuk yang sesak.
Ketika jam dinding mulai terdengar berdetak menepikan sepi, dingin, gerimis, dan angin-angin malamku.* Tiba-tiba masih kutemukan langkahmu di situ. Di tempat yang sama itu. Langkahmu tak tenggelam ditelan waktu. Dan, bayangmu, kadang hilang dibalik kelopak mataku.
***
"Masih menunggu Ia lewat?"
"Tidak, langkah dan bayangnya tetap lalu-lalang di pikiranku,"
***
Kadang sering kutanyakan, ke mana langkahmu berlabuh? Karena semua hal tentangmu merindangkan bumiku. Meneduhkan terik yang sangat.
***
Di trotoar, tempat hilir-mudik orang dengan sibuk yang sesak mendadak ramai. Seorang wanita tanpa kaki ditemukan mati. Kakinya dimutilasi.
Perpustakaan Teras Baca, 08 Mei 2014
*) dari sajang Irwan Bajang, Impresi
NB: semua gambar ini saya dapat dari twitpic pandaikata
Tag :
Prosa 100 Kata,
Keja-D-IA-n
By : Harry Ramdhani
ilustrasi: dari sini
IA pulang membawa dendam.
Semenjak kecil, dendam itu telah dipupuk setiap kejadian-kejadian kembali terbayang. Saat melintas begitu saja di kepala. Melihat orang-orang di jalan dengan kejadian serupa. Apapun itu asalkan sama. Asal ada sangkut-pautnya tentang DIA.
DIA adalah teman sekolahnya. Sangat dekat. Tiap kali ada pekerjaan rumah, mereka kerjakan bersama. Tiap kali bedug adzan baru ditabuh, mereka ke masjid bersama pula. Kebersamaan mereka adalah simbol kesetiaan. Seperti burung merpati di pohon natal.
***
11 Mei 1996, Pinggir lapangan, Kampung Longok
Sore itu menenggelamkan segala letihnya. Tak ada yang lebih menyenangkan dibanding tidur-tiduran di pinggir lapangan sepakbola. IA dan DIA tidur bersebelahan. Menatap matahari dengan bersahaja tenggelam. Perlahan. Setiap gerak kecil matahari terlihat jelas lewat mata.
DIA membuka obrolan.
"Tadi, aku baru saja bertemu adikmu," kata DIA, "dengan seorang lelaki bertubuh tambun. Rambutnya ikal. Kau kenal?"
"Tidak." Jawab IA.
"Yasudah."
Entah lelah atau apa, yang jelas IA sedang tidak ingin banyak bicara. Dan, DIA tahu sifat temannya itu tanpa perlu mengatakan terlebih dulu.
***
12 Mei 1997, Rumah IA
"Adik mana?" Tanya IA.
Seluruh keluarga diam. Tidak ada yang tahu. Dari semalam adiknya tidak pulang. IA coba datangi DIA. Tidak tidak ada.
IA, adalah seorang anak laki-laki paling tua. Ayahnya telah meninggal sejak IA kelas lima. IA tidak melanjutkan ke kelas enam karena tidak ada biaya. Setelah itu, IA kerja serabutan. Apa saja asal menghasilkan uang. DIA sempat menawari pekerjaan, tapi dengan segera IA lancarkan penolakan. Biarpun IA serba kekutangan, namun soal halal-haram, tetap dijadikan pedoman.
Ayahnya DIA seorang perangkat Desa. Sudah jadi perkerjaan seumur hidup mungkin. Tidak ada yang menggantikan. Sebuah sistem yang dibuat agar tidak ada yang bisa menjatuhkannya dari jabatan. Untuk ukuran kampung yang warga hidup dari sana, tapi masih saja serba kekurangan terlihat aneh, bukan? Apalagi kalau bukan karena karupsi. Apalagi kalau bukan karena sistem yang ditetapkan dari Kelurahan itu membuat para warga kesusahan sendiri. Tapi, para Perangkat Desa malah yang menikmati.
Sebagai keturunan Tiong-Hoa, hidup dijaman pergeseran era politik masa itu memang serba kesusahan. Mereka dianggap lintah penghisap darah. Darah pribumi. Padahal, tidak seperti itu sebetulnya.
***
13 Mei 1998, Rumah DIA
"BAJINGAN," teriak IA.
Terjadi baku hantam di rumah DIA. IA memukuli Ayah DIA. Adiknya diperkosa dan kini adiknya telah tutup usia. DIA lebih dulu dihabisi karena tidak memberitahu keberadaan adiknya selama setahun belakangan ini.
Ayah DIA tidak bisa apa-apa. Maklum, dengan perutnya yang tambun, bergerak saja susah, apalagi melawan. IA memukuli seperti orang kesetanan. Seluruh perabotan dijadikan senjata.
Polisi datang. IA dipenjara akibat kasus berlapis. Pembunuhan dan penganiayaan.
Ayah DIA dilarikan ke Rumah Sakit. Namun nyawanya tak terselamatkan. Di perjalanan, malaikat terlebih dulu menjemput.
***
Di emperan toko, selepas keluar dari lapas, IA sambangi penjual koran. IA kesal karena pemberitaan hanya seputar pembunuhan, penganiayaan, dan berita korupsi terpampang di halaman depan.
Perpustakaan Teras Baca, Rapat Karang Taruna RW, 29 - 30 April 2014
Tag :
Prosa,
Topeng
By : Harry RamdhaniMembawa hati yang lapang ke suatu resepsi pernikahan itu sedikit terasa ambigu, bukan? Sebagai mahasiswa tingkat akhir yang uangnya sering habis untuk ke warnet mencari bahan skripsi, mencetak ulang revisi, tampaknya lebih pantas membawa perut yang kosong dan kantong; untuk membungkus makanan dan kesedihan.
Jujur, aku tidak suka datang ke resepsi pernikahan. Sudah berkali-kali itu aku katakan. Karena di sana aku hanya lihat kemunafikan. Ya, aku tidak suka semua hal yang munafik. Termasuk hari ini. Sebuah pernikahan yang kau sendiri tak hendaki. Mungkin itu hanya asumsiku sendiri. Mungkin tidak benar sama sekali. Mungkin aku yang belum siap kehilanganmu mulai detik ini.
Tapi tunggu, hari ini juga hari ulang tahunmu, kan? 25 April. Dihari yang sama, dulu mulai dibangunnya sebuah Terusan. Terusan yang menghubungkan Pelabuhan Said di Laut Tengah dengan Suez di Laut Merah. Menghubungkan. Ah, aku memang paling pandai dalam menghubung-hubungkan semua semua kejadian dan perasaan.
Di hari ini aku bahagia bisa melihatmu bertambah tua. Di hari ini juga aku sedih melihatmu sudah bedua. Sudah tidak bisa digoda seperti masih jadi mahasiswa.
Ini adalah resepsi pernikahan paling sederhana yang pernah kudatangi. Sangat menggambarkan kamu yang begitu sederhana menyikapi kejadian selama ini. Tidak ada dangdut sebagai hiburan. Tidak ada panggung khusus untuk kedua mempelai. Tidak ada makanan aneh yang dihidangkan. Dan, yang paling penting, tidak ada fotografer nikahan yang nanti bisa-bisa memaksaku berfoto dengan kedua mempelai. Aku tidak bisa membayangkan betapa sedihnya kesedihan diabadikan di album foto pernikahan.
"Karni…,"
Ada yang memanggilku dari kejauhan. Sial, aku ketahuan sedang di parkiran.
"Woy, Karni, ayo ke sini,"
Oh, itu temanku, Anggi, teman lama ketika masih kuliah dulu. Eum, mungkin lebih tepatnya, teman kuliah yang lebih dulu lulus daripada aku.
"Iya, ngelipet jaket dulu," kataku.
Aku menghapiri Anggi, seperti biasa, senyum dan ketawanya tidak ada beda. Dan, setiap kali Anggi begitu, aku selalu memukul lengannya. Supaya diam maksudnya. Sungguh, ketawanya itu bisa mengganggu orang-orang di sekelilingnya. Tapi, aku tetap suka. Bisa lepas tertawa di negeri yang setiap harinya berduka adalah mukjizat untuk orang-orang yang dianggap Tuhan istimewa. Apalagi disaat hatiku berkabung seperti hari ini, aku sangat butuh orang seperti dia. Tertawa itu ibarat virus, menular kepada yang didekatnya.
Ketika lama berbincang dengan Anggi. Menertawan semua hal di sini. Saatnya kita datangi kedua mempelai yang dari tadi sibuk cipika-cipiki.
Aku menyalami kedua orang tuamu. Kemudian suamimu. Memberikan selamat semoga selalu bahagia dan Tuhan meyertai kelak hari-harimu. Meski dalam hati luka dan duka menghantuiku. Lalu kamu. Ah, mungkin baru kali ini aku tidak suka melihatmu. Make-up itu menghalangi kesedehanaan yang pernah kulihat di wajahmu dulu. Aku tidak mengenalimu saat itu.
"Itu tadi beneran Zamani?" tanya Anggi
"Iya kali," jawabku singkat sambil menaikan bahu kanan dan kiri.
"Kok gak mirip, ya."
"Coba longok janurnya," kataku sambil menoleh ke arah Zamani, "siapa tahu kita salah alamat ke nikahan orang lain lagi."
Anggi ketawa-ketiwi.
***
Di kedai kopi, tempatku menghabiskan waktu untuk menulis, aku lihat enam wanita berkumpul dengan riuh. Sungguh gaduh. Satu di antara membawa seorang anak kecil. Satunya sedang hamil. Empat lainnya sibuk ngemil.
Aku duduk di meja dekat toilet. Jadi setiap orang yang yang ingin buang air pasti lewat depanku dengan tampang kebelet. Satu wanita yang hamil tadi lewat. Sempintas saja aku lihat. Karena mataku fokus di layar monitor yang butuh ditulisi dengan padat.
Tidak lama, aku ingin buang air kecil. Di dalam, aku bertemu wanita yang hamil. Wanita Itu Zamani. Aku tidak menduganya sama sekali. Di luar toilet yang hanya dipisahkan seorang lelaki berseragam abu-abu, kita saling melemparkan senyum paling tabu. Senyum bahwa kau akan menjadi Ibu. Senyum bahwa aku masih belum mempercayai pernikahanmu itu. Senyum-senyum kecil yang akan mengiri perpisahan kita selamanya. Senyum-senyum yang akan kukenang dari wajahmu yang sederhana. Senyum-senyum kegetiran dari perasaan yang terus terpendam. Selamanya dipendam dalam-dalam.
"Mas. Mbak. Semuanya jadi empat ribu," kata petugas dengan seragam abu-abu.
Perpustakaan Teras Baca, 25 April 2014
gambar: dari sini
Tag :
Prosa,
Sofa Paling Empuk Di Dunia
By : Harry RamdhaniSaya menulis cerita in setelah pulang dari YKAKI_Indonesia. Ke sana hanya untuk sekedar interview pekerjaan. Sungguh, itu kali pertama saya interview pekerjaan dan... menyenangkan. Pengalaman pertama tidak akan pernah terlupakan.
Seperti biasa, saya menulis di hengpon jadul --yang mungkin kalau rusak maka Tukang Service akan bilang, "biaya ngebenerin lebih mahal dari harga handphone-nya, Mas."-- milik satpam dan belum juga ditebus. Untuk biaya sekolah, katanya. Yasudah. Tulisan ini terhenti ketika hengpon jadul ini kehabisan daya. Battre-nya habis. Baru juga selesai beberapa penggal paragraf. Lalu, tulisan ini sempat saya lakukan ketika mampir sebentar di Kedai Kopi untuk sekedar mencari 'colokan'. Melanjutkannya dan tidak selesai juga. Layaknya nasib semua tulisan yang di hengpon jadul ini, saya selalu lupa memberi nama file dan saya biarkan begitu saja. Tapi, ketika melihat tweet semalam dari YKAKI_Indonesia, saya cari-cari kembali tulisan itu. Satu persatu saya buka file yang jumlahnya lebih dari 200. Ketemu dan, saya melanjutkannya. Bermodal ingatan-ingatan yang masih menempel, tulisan ini selesai. Sungguh, senyum anak-anak di Rumah Singgah YKAKI_Indonesia tidak akan pernah saya lupakan. Senyum mereka menguatkan. Saya ingin sekali bisa kembali ke sana; bermain dan atau urusan yang berbeda. Inilah cerita fiksi setelah pulang dari sana:
Aku duduk di sofa paling empuk di dunia. Hitam warnanya. Ketika duduk, aku tidak ingin ke mana-mana, apalagi sampai berpikir angkat kaki dari sana. Sofa ini paling empuk di dunia.
Di hadapanku saat duduk di sofa paling empuk di dunia, banyak anak-anak yang sedang main, banyak juga ibu-ibu yang menjaga anak-anak itu main. Mungkin ibunya, mungkin juga pengasuhnya. Aku tidak tahu, melihatnya pun baru. Mainan-mainan yang berserakan dibiarkan, karena membereskan mainan sama saja mengubur harapan. Dunia anak adalah dunia bermain.
Lantainya putih dan bersih. Katanya, di sana kebersihan paling dijaga. Sepertinya tidak ada semut yang berani bercumbu di lantai itu. Malu. Saat itu aku senyum-senyum sendiri membayangkannya. Pasti lucu, ketika ada semut sedang nikmat bercumbu, tiba-tiba ada kibasan sapu yang datang bagai luapan air tsunami. Semut itu terangkat bersama kenikmatan yang hilang mendadak. Ah, sofa paling empuk di dunia ini membuat imajinasiku tidak karuan.
Anak laki-laki dengan kepala yang plontos dan mengenakan rompi orange menghampiri. Matanya bulat sebulat kepalanya. Ia memandangiku. Di bola matanya ada aku. Di bola mataku ada anak laki-laki itu. Aku ajak duduk di sofa paling empuk di dunia, Ia menggeleng. Aku ulurkan tangan, Ia lari. Dasar anak kecil, sulit sekali ditebak maunya. Tapi, biarlah, namanya juga anak-anak. Melihat mereka bahagia bermain, adalah caraku memperindah hidupku.
Sepintas teringat sebuah novel kenamaan yang aku lupa judulnya. Novel itu bercerita tentang dunia anak yang diisi hanya main, main, dan main. Tiada libur untuk main. Setiap pagi. Setiap hari. Setiap mereka habis nangis dan mengingat bahwa penyakit ini bisa dengan semena-mena menyerang kapan saja --tanpa kendali.
Aku hanya mengingat salah satu nama tokohnya, Chris. Ya, Chris, adalah pengidap Retinablastoma, salah satu gejala kanker pada anak. Matanya ada bercik putih. Bersinar layaknya mata kucing ketika disorot cahaya. Mata yang kelak akan mampu memandang ke depan. Dokter sering mengingatkan untuk tidak terlalu banyak main, namun anak kecil selalu begitu; lebih baik tidak makan daripada tidak main.
Seingatku, Chris baru berumur 6-7 tahun, sedangkan umur Ibunya sudah berkepala enam. Jarak yang cukup jauh, bukan? Kadang, Ibunya sendiri yang kualahan menjaga Chris. Konflik yang disajikan penulis novel itu sangat bagus. Ia memainkan perasaan dan peran seorang Ibu yang ingin anaknya menjaga kesehatan atau membatasi seluruh kesenangan.
Aku masih duduk di sofa paling empuk di dunia.
Di teras rumah, aku lihat anak laki-laki kepala plontos itu main mobil-mobilan. Mobil yang besar, karena bisa dinaikinya. Layaknya pembalap mobil, Ia banting stir ke kanan dan kiri. Membunyikan klakson yang keluar dari mulutnya sendiri.
"Tiiin… tiiiiiin… permisi, pembalap ingin lewat," kata anak laki-laki plontos itu.
Lucunya, mana ada pembalap bilang, 'permisi'? Dan, aku masih melihatnya main mobil-mobilan.
"Hey, boleh aku ikut main?" kataku.
"Boleh, tapi mana mobilmu?"
"Ini…" aku menunjuk sofa yang kududuki. Sofa paling empuk di dunia.
Aku berputar di sofa itu. Anak laki-laki plontos tadi malah ketawa melihat ulahku. Ah, sekali lagi, aku dibuat senang oleh anak ini. Tawanya sungguh terlalu. Dan, aku ulangi lagi putaran bodoh itu. Anak laki-laki plostos kembali tertawa. Aku ulangi sampai lima kali, kepalaku pusing.
O ya, selain aku, ada empat orang muda-mudi yang --sepenglihatanku-- sedang mengajarkan anak-anak lain. Ada yang diajarkan mewarnai, melukis, dan mencoret-coret kertas. Empat orang muda-mudi tadi duduk berseberangan denganku. Ketika duduk, mereka bicara dengan bahasa inggris, tapi ketika mengajarkan anak-anak itu mereka menggunakan bahasa Indonesia. Hebat. Melihat mereka mengajarkan anak-anak di sini lebih mirip seorang Ibu yang menyuapkan sayuran pada anaknya. Tidak suka tapi, sedikit memaksa. Biarlah, mungkin itu metode lama yang sudah direvisi. Aku tidak tahu, urusanku masih dengan anak laki-laki plontos tadi.
'Di mana dia?' tanyaku dalam hati.
Seorang perempuan dengan rambut dikuncir satu memanggilku berkali-kali. Membangunkanku dari tidur tadi. Ah, sofa ini memang paling empuk sedunia. Bermimpi pun tampak nyata.
"Silakan masuk, Mas. Sudah gilirannya sekarang."
Mengunjungi Rumah Singgah ini, seperti duduk di sofa empuk; tidak ingin ke mana-mana ketika sudah duduk.
Kedai Alania - Perpustakaan Teras Bac.
Seperti biasa, saya menulis di hengpon jadul --yang mungkin kalau rusak maka Tukang Service akan bilang, "biaya ngebenerin lebih mahal dari harga handphone-nya, Mas."-- milik satpam dan belum juga ditebus. Untuk biaya sekolah, katanya. Yasudah. Tulisan ini terhenti ketika hengpon jadul ini kehabisan daya. Battre-nya habis. Baru juga selesai beberapa penggal paragraf. Lalu, tulisan ini sempat saya lakukan ketika mampir sebentar di Kedai Kopi untuk sekedar mencari 'colokan'. Melanjutkannya dan tidak selesai juga. Layaknya nasib semua tulisan yang di hengpon jadul ini, saya selalu lupa memberi nama file dan saya biarkan begitu saja. Tapi, ketika melihat tweet semalam dari YKAKI_Indonesia, saya cari-cari kembali tulisan itu. Satu persatu saya buka file yang jumlahnya lebih dari 200. Ketemu dan, saya melanjutkannya. Bermodal ingatan-ingatan yang masih menempel, tulisan ini selesai. Sungguh, senyum anak-anak di Rumah Singgah YKAKI_Indonesia tidak akan pernah saya lupakan. Senyum mereka menguatkan. Saya ingin sekali bisa kembali ke sana; bermain dan atau urusan yang berbeda. Inilah cerita fiksi setelah pulang dari sana:
Sofa Paling Empuk di Dunia
Aku duduk di sofa paling empuk di dunia. Hitam warnanya. Ketika duduk, aku tidak ingin ke mana-mana, apalagi sampai berpikir angkat kaki dari sana. Sofa ini paling empuk di dunia.
Di hadapanku saat duduk di sofa paling empuk di dunia, banyak anak-anak yang sedang main, banyak juga ibu-ibu yang menjaga anak-anak itu main. Mungkin ibunya, mungkin juga pengasuhnya. Aku tidak tahu, melihatnya pun baru. Mainan-mainan yang berserakan dibiarkan, karena membereskan mainan sama saja mengubur harapan. Dunia anak adalah dunia bermain.
Lantainya putih dan bersih. Katanya, di sana kebersihan paling dijaga. Sepertinya tidak ada semut yang berani bercumbu di lantai itu. Malu. Saat itu aku senyum-senyum sendiri membayangkannya. Pasti lucu, ketika ada semut sedang nikmat bercumbu, tiba-tiba ada kibasan sapu yang datang bagai luapan air tsunami. Semut itu terangkat bersama kenikmatan yang hilang mendadak. Ah, sofa paling empuk di dunia ini membuat imajinasiku tidak karuan.
Anak laki-laki dengan kepala yang plontos dan mengenakan rompi orange menghampiri. Matanya bulat sebulat kepalanya. Ia memandangiku. Di bola matanya ada aku. Di bola mataku ada anak laki-laki itu. Aku ajak duduk di sofa paling empuk di dunia, Ia menggeleng. Aku ulurkan tangan, Ia lari. Dasar anak kecil, sulit sekali ditebak maunya. Tapi, biarlah, namanya juga anak-anak. Melihat mereka bahagia bermain, adalah caraku memperindah hidupku.
Sepintas teringat sebuah novel kenamaan yang aku lupa judulnya. Novel itu bercerita tentang dunia anak yang diisi hanya main, main, dan main. Tiada libur untuk main. Setiap pagi. Setiap hari. Setiap mereka habis nangis dan mengingat bahwa penyakit ini bisa dengan semena-mena menyerang kapan saja --tanpa kendali.
Aku hanya mengingat salah satu nama tokohnya, Chris. Ya, Chris, adalah pengidap Retinablastoma, salah satu gejala kanker pada anak. Matanya ada bercik putih. Bersinar layaknya mata kucing ketika disorot cahaya. Mata yang kelak akan mampu memandang ke depan. Dokter sering mengingatkan untuk tidak terlalu banyak main, namun anak kecil selalu begitu; lebih baik tidak makan daripada tidak main.
Seingatku, Chris baru berumur 6-7 tahun, sedangkan umur Ibunya sudah berkepala enam. Jarak yang cukup jauh, bukan? Kadang, Ibunya sendiri yang kualahan menjaga Chris. Konflik yang disajikan penulis novel itu sangat bagus. Ia memainkan perasaan dan peran seorang Ibu yang ingin anaknya menjaga kesehatan atau membatasi seluruh kesenangan.
Aku masih duduk di sofa paling empuk di dunia.
Di teras rumah, aku lihat anak laki-laki kepala plontos itu main mobil-mobilan. Mobil yang besar, karena bisa dinaikinya. Layaknya pembalap mobil, Ia banting stir ke kanan dan kiri. Membunyikan klakson yang keluar dari mulutnya sendiri.
"Tiiin… tiiiiiin… permisi, pembalap ingin lewat," kata anak laki-laki plontos itu.
Lucunya, mana ada pembalap bilang, 'permisi'? Dan, aku masih melihatnya main mobil-mobilan.
"Hey, boleh aku ikut main?" kataku.
"Boleh, tapi mana mobilmu?"
"Ini…" aku menunjuk sofa yang kududuki. Sofa paling empuk di dunia.
Aku berputar di sofa itu. Anak laki-laki plontos tadi malah ketawa melihat ulahku. Ah, sekali lagi, aku dibuat senang oleh anak ini. Tawanya sungguh terlalu. Dan, aku ulangi lagi putaran bodoh itu. Anak laki-laki plostos kembali tertawa. Aku ulangi sampai lima kali, kepalaku pusing.
O ya, selain aku, ada empat orang muda-mudi yang --sepenglihatanku-- sedang mengajarkan anak-anak lain. Ada yang diajarkan mewarnai, melukis, dan mencoret-coret kertas. Empat orang muda-mudi tadi duduk berseberangan denganku. Ketika duduk, mereka bicara dengan bahasa inggris, tapi ketika mengajarkan anak-anak itu mereka menggunakan bahasa Indonesia. Hebat. Melihat mereka mengajarkan anak-anak di sini lebih mirip seorang Ibu yang menyuapkan sayuran pada anaknya. Tidak suka tapi, sedikit memaksa. Biarlah, mungkin itu metode lama yang sudah direvisi. Aku tidak tahu, urusanku masih dengan anak laki-laki plontos tadi.
'Di mana dia?' tanyaku dalam hati.
Seorang perempuan dengan rambut dikuncir satu memanggilku berkali-kali. Membangunkanku dari tidur tadi. Ah, sofa ini memang paling empuk sedunia. Bermimpi pun tampak nyata.
"Silakan masuk, Mas. Sudah gilirannya sekarang."
Mengunjungi Rumah Singgah ini, seperti duduk di sofa empuk; tidak ingin ke mana-mana ketika sudah duduk.
Kedai Alania - Perpustakaan Teras Bac.
Tag :
Prosa,
Tidurlah
By : Harry RamdhaniTidurlah yang nyenyak
selagi malaikat dan bidadari
sedang sibuk berdiskusi.
Tidurlah yang lelap
selagi jangkring dan kunang-kunang
sedang kerja malam ini.
Tidurlah.
Bermimpilah.
Aku tahu, tidur nyenyak dan lelap
setiap malam, bukanlah perkara mudah.
Pernah kau terbangun di Kantor Polisi
gegera tidur di bahu jalan.
Pernah kau lari ketakutan
karena ada yang gelantungan di dahan pohon rambutan.
Aku tahu, tidur, bagimu, bukan istirahat,
tapi cara untuk keluarkan keringat.
Tidur juga, bagimu, bukan untuk kembalikan energi,
tapi malah sakit berkepanjangan setelah dipukuli.
Tidurlah,
kau selalu terlihat cantik ketika tidur.
Kalau kau bangun nanti seisi
ruangan gelap dan pengap,
itu artinya kau di kuburan.
Dipendam di dalam.
Kamar #peang, 20 April 2014
gambar: dari sini
Tag :
Prosa,
Pagi dan Malam yang Terpisah Jurang Terjal
By : Harry Ramdhanipaling tidak, yang membedakan hari ini
dan esok adalah tidurmu, kekasih.
pejamkan matamu dan lihat,
rindu ini masih.
jam yang tergeletak di samping ranjangmu
tak lagi berputar; tak mampu
menghitung seberapa lama
kesepian menjalar sampai ke akar-akar.
malam memang kejam, kekasih. gelap.
tidak ada yang kutahu selain berharap
kalau-kalau pagi nanti
coretan hitam di ingatanku memutih.
biar saja mukaku dibedaki.
biar saja tubuhku dikebiri.
biar.
asal semua ingatan dan kenangan kau bawa lari.
esok pagi,
ketika pak satpam membuka portal,
para mucikari membereskan bantal,
semoga kau, kekasih, terperosok ke jurang yang terjal.
jurang kematian; tempat terkuburnya
harapan dan impian. karena bisa
seranjang denganmu, ialah angan-angan.
Kamar #peang, 18 April 2014
gambar: dari sini
Tag :
Prosa,




















