The Pop's

Putri Malam

By : Harry Ramdhani


Bermula dari cerpen anggitan Agus Noor dan Djenar Maesa Ayu, Kunang-kunang dalam Bir dan Mata Telanjang. Ingatan saya seketika tersedot pada suatu kejadian, di mana dulu pernah menulis bareng dengan orang yang sama sekali saya tidak kenal via SMS. Mungkin dia teman FaceBook, atau Friendster, atau mungkin teman MySpace. Kita hanya menulis tanpa berkenalan terlebih dulu. Kadang malam, pagi, bahkan siang; lagi, tanpa menanyakan sesuatu seperti: lagi apa? dan sebagainya.

Setelah itu, lama menghilang dan kita tak pernah (lagi) menulis bersama.

Dari sana, setelah kini saya mengenal banyak penulis hebat, saya mulai mengajak menulis seperti dulu. Ada yang hanya meng-iya-kan saja, ada yang langsung menolak, dan ada yang berminat tapi, tidak ada kelanjutannya.

Dan, cerita mini ini akhirnya terwujud juga. Dengan seorang Komika profesional, @ridwanremin, saya menulis bersama. Memanfaatkan media sosial Twitter, kita menulis bergantian via DM. Yup, bergantian dengan sekali tweet.

Kami (belajar) menulis dengan 'keterbatasan' --karena Twitter memiliki sifat kesederhanaan dalam jumlah karakter-- juga mencoba menyatukan dua isi kepala yang berbeda dalam satu cerita. Dan, nantinya kami akan menyusun masing-masing anggitan ini. Hasilnya pasti beda antara saya dengan dia.

Setidaknya saya percaya, keterbatasan dapat memacu kreatifitas yang tak terbatas. Inilah cerita mini saya dengan @ridwanremin:

Putri Malam

Aku memulai ini dengan ketidak-tahuan. Dari sebatang permen yang kau berikan, aku tampak seperti Pangeran.

***

Selimut malam menghangatkan tubuhku dari sisa hujan di luar rumah. Tak ada yang gelisah, hanya ada daun basah yang terlihat payah. Kau tak lain orang yang gemar belajar dari penderitaan. Terus saja; hingga semua kenangan semanis permen yang kau berikan. Aku ingin terjaga sepanjang malam, menanti kerinduan yang mungkin datang. Di sana, di tempatmu, apakah rindu masih ada?

Sudah pukul dua rupanya. Ibukota masih sibuk dengan pejalan kaki dan laki-laki tukang jajan. Lika-liku kehidupan.

***

Mungkin aku ini memang tak berarti untuk kau rindukan. Tapi, apakah kau tahu, begitu tak lebih berartinya aku bila tanpa dirimu?

Lampu-lampu jalan warnanya temaram. Bau busuk selokan menghantam keras penciuman. Ibukota yang memilukan, tapi di sanalah dimulai pertemuan. Hujan mulai habis, bersama kegelapan malam yang mulai terkikis. Aku di sini menantimu, bukan untuk pulang, melainkan untuk pergi bergandengan.

Pergi dan pulang hanya soal darimana kita memandangnya. Maka aku ingin menemuimu, walau sekedar mengakui perasaan yang lama kupendam.

Mungkin terlalu biasa bila aku berterus terang, maka izinkanlah aku mencintaimu diam-diam. Agar aku berbeda, setidaknya tak biasa.

Ada yang datang. Langkah kakinya semakin dekat. Nampaknya ada lelaki hidung belang yang memilihku untuk sekedar menunaikan nafsu. Aku ingin berbisik di telingamu, "jangan berlari terlalu kencang!" Sebelum kau terjatuh ke dalam lubang yang disiapkan oleh dunia.

Tak ada lagi yang mampu kulakukan selain diam dalam kegelapan. Saat ini hanya kegelepan yang buatku tenang.




Kamar #Peang, 18 Maret 2014
Saya dan @ridwanremin yg entah menulis di mana.
Di tulis mulai pukul 00:33 dan selesai pukul 09:09.
gambar: dari sini

Dirimu, Secangkir Kopi dari Hujan

By : Harry Ramdhani


/1/
Aku.
Kopi hitam.
Seketika rindu.
Seperti sedang hujan.
Bayang-bayangmu.
Kenangan.
Cerita indah masa silam.

/2/
Itu inti ceritaku, kekasihku,
mana kala hujan dan kopi berdekatan
lalu, bayang-bayangmu
menghapiri; mengembalikan ingatan.

Kopi hitam
dengan aroma dan warnanya yang pekat
diam-diam membunuhku
; diam-diam dengan perlahan.

Barangkali rindu tak merasakan
; bagaimana pedih dan lirihnya
kesendirian dengan setumpuk kehilangan.
Ingatan sepia.

Hujan
malam itu,
di rimba malam yang penuh kemunafikkan,
kau, mengubur semua rindu dan kenangan.

Siluet di balik pintu terbentuk jelas
bayangmu yang ingin bergegas
pergi. Dengan sepeda keemasan,
menyusur beningnya langit dan awan yang cekikikan.

Katamu, "kenanglah aku seperti hawa dingin
yang merembes dari dinding
yang lekat untuk bawamu tertidur pulas
dalam harap cemas.

Kekasihku, seduh aku ikut bersama cerita-cerita
kita di secangkir kopi.
Dan, sebagaimana hujan mengajarkan,
kopi juga bayangmu
hanya sebatas ilusi.




Kamar #Peang, 15 Maret 2014
gambar: dari sini
Tag : ,

Malam Ini, Lelaki Itu, Jadi Pusat Perhatian

By : Harry Ramdhani


Lelaki itu sempoyongan. Sambil memegang botol bir hitam, Ia bicara pada lampu tiang, "bisa kau terpejam? Kuingin berimu kejutan".

Usut punya usut, lelaki itu baru dari pub. Ia mabuk berat. Dan, sesekali, di tengah mabuknya, memanggil nama seorang perempuan. Aline.

"Aline. Aline. Aline," katanya. Tangannya menunjuk ke segala arah, seakan semua pengunjung pub, ialah Aline. Bahkan, kata seorang pelayan, 'aku lihat sekotak cincin tunangan, letaknya tak jauh dari minuman yang Ia pesan'.

'Aku pikir, lelaki itu habis ditolak lamarannya. Banyak yang seperti itu di fim-film roman,' lanjutnya. 'Mabuk berat dan tak bisa pulang'.

Tapi, kenapa Ia bisa memegang sebotol bir hitam? Dari mana Ia dapatkan? Kata seorang penjaga parkir pub, 'tak lama dari sini, sempat kulihat Ia di supermarket 24jam.'

"Ambil saja kembaliannya untukmu. Untuk tambah-tambah membeli cinta," tukas lelaki itu dengan jalan sempoyongan keluar supermarket 24jam.

'Oh, lelaki yang tadi?' sambar seorang perempuan yang baru saja diturunkan oleh mobil sedan abu-abu di ujung jalan. 'Mulutnya bau minuman. Bicaranya saja tak karuan'. Kata lelaki itu, "lamaran hanya soal pemanasan. Pernikahan tidak butuh itu, bukan?" Aku mengangguk bingung.

"Aline, kau boleh tolak lamaranku. Kau boleh anggap hubungan kita selama ini sebatas pertemanan yang abadi, yang sudah lama kita bina selama di perguruan tinggi," kata lelaki itu dengan nada marah-marah.

'pantas saja, kau ini pemabuk,' balasku.

"Aku pemabuk. Aline, sadarkah, bahwa kau yang telah membuatku mabuk. Dengan dosis perhatian yang semakin hari semakin kau tambah, aku mabuk dalam setiap caramu memarahiku ketika salah, mengingatkanku ketika lupa, dan mengajariku bagaimana caranya yang baik dalam bercinta."

'Dasar pemabuk!!' Ucap perempuan yang tadi baru diturunkan dari sedan abu-abu di ujung jalan.

Lelaki itu semakin tak karuan. Semakin Ia teguk bir hitam langsung dari botol, ucapan yang keluar dari mulutnya seperti orang tolol. "Aline, setiap kita kencan, atau yang lebih sering kau sebut 'hanya jalan-jalan' itu, aku terus lawan rasa ge-er dari orang sekitar. Bagaimana tidak? Mata orang-orang seperti radar mengikuti targetnya. Itu baru kencan, masih banyak lagi yang kurasa. Namun, bila kuceritakan semua mungkin akan jadi,… cerita cinta."

***

Tidak lama, tempat lelaki itu berdiri tadi mulai ramai. Ia di kerumuni layaknya semut menemukan gula. Di depan tiang lampu jalan, lelaki itu terlihat salah tingkah, apa saja yang di dekatnya dimainkan, dijadikan pengalih perhatian. Orang-orang yang sama sekali tak saling kenal mulai bertanya pada setiap orang yang juga ikut mengerumuni.

'Ada apa?'

'Siapa dia?'

'Kenapa, ya?'

***

'Saya pernah lihat lelaki itu. Satu minggu yang lalu di dua blok dari sini,' kata salah seorang tukang bersih-bersih jalan. 'Ia datang ke pub, mabuk berat, dan setelah itu pergi ke supermarket 24jam terdekat. Berjalan ke sana-ke mari sempoyongan sambil berteriak nama seorang perempuan: Aline.'




Perpustakaan Teras Baca, 05 Maret 2014
gambar: dari sini
Tag : ,

Siasat Cerdik Musang Pada Ular

By : Harry Ramdhani


Musang kaget. Di hadapannya ada sekawanan ular yang perutnya kelaparan. Ular menatapnya penuh harap dan seluruh badannya berkeringat. Tak ada yang mampu musang lakukan. Lari pun seakan hanya menunda kematian. Keempat kaki musang keram. Sungguh tak bisa digerakan di tengah situasi yang menakutkan. Nampaknya ini adalah hari sial musang.

Bagi binatang, sial, ialah kematian. Dan, beruntung, ialah tetap bisa melanjutkan makan.

Sesederhana itu kehidupan binatang. Tapi, ketika di hadapkan dengan rantai makanan, rasanya saat itu ketidakadilan sedang diperlihatkan Tuhan. Binatang apapun cuma bisa pasrah pada keadaan. Yang terkuat maka bisa berdiri kokoh di kasta tertinggi rantai makanan.

Di antara ilalang yang tumbuh tinggi menjulang, mata ular terus mengamati gerak-gerik musang. Walau musang tidak bergerak sama sekali, namun ular tetap mencermati. Ular kesal, tadi pagi, ayam kampung yang sedang berkeliaran di sekitaran semak-semak ilalang disantap habis oleh kawanan musang. Ular tidak sedikit pun kebagian, sampai sore perut ular keroncongan.

"Dasar serakah! Kamu lupa masih ada kami yang juga hidup di sini?" kata ular yang berada paling dekat dengan Musang.

"Ttttaappi," musang menjawabnya terbata-bata. "Aku tidak ikut memakan ayam itu tadi pagi."

"Kalau pun ada, pasti kau ikut makan, kan?" Ular yang berada paling belakang naik pitam.

Musang tidak bisa menjawab. Dalam kehidupan binatang, selagi ada yang bisa disantap, ya, habiskan. Lain lagi ceritanya kalau urusan tidak kebagian atau tidak ikut makan, maka itulah penyesalan.

Perbincangan antara Ular dan Musang melebar. Ular sesumbar soal hal-hal yang sering musang salah lakukan. Dari kakek moyang musang sampai sekutu musang yang kerap menjadikan ular sebagai musuh bebuyutan.

Di semak-semak ilalang, ayam atau kucing yang nasibnya sedang sial hari itu, pasti sudah habis oleh kawan musang. Kalau hari itu ada dua kesialan, tentu nantinya musang akan jadi sasaran ular yang kelaparan. Seperti sekarang, musang hanya berharap malaikat pencabut nyawa sedang sibuk dan tidak punya waktu untuk menghampiri lalu lupa mencabut nyawa.

Musang semakin tertekan. Kawanan ular sudah mulai bergerak mendekati. Perlahan tapi, pasti. Lubang pantat yang biasa dijadikan senjata seakan tertutup rapat sekali. Ia tidak bisa kentut dengan perut yang sama-sama kosong seperti ular sekarang. Keringat dingin membanjiri tubuh Musang.

"Lebih baik kau ucapkan salam perpisahan pada semua kawanan bau-mu itu," kata ular yang sisiknya kecoklatan.

"Tenang saja, kami tidak akan membuatmu mati perlahan. Kami sudah kelaparan," lanjut ular yang badannya lebih besar daripada ular lainnya.

"Biar pun nanti akan datang kawananmu, kami tidak takut. Kami malah akan senang bila mereka datang. Artinya, sore ini kami akan pesta daging musang." ucap ular yang paling dekat dengan musang.

Selang beberapa detik, dengan sekejap, musang diterjang ular terdepan. Musang tidak memberikan perlawanan. Bisa ular mulai bekerja ke suluruh badan musang.

***

"Aku tidak akan melawan. Silakan makan. Tapi, ingat, setelah kalian habiskan tubuhku, putuskan musang dari rantai makananmu," kata sambil dilumuti tubuhnya.

Ular tidak pernah mengingkari janji, karena mereka yang terkuat di semak-semak ilalang ini.

***

Malamnya, semua ular yang tadi melahap musang kesakitan. Gas beracun yang mengendap di tubuh musang telah meracuni ular. Mereka, kawanan ular, mati konyol karena gas kentut beracun musang. Di depan ayam kampung yang rabun malam dan tersasar, ular terbaring kaku tak berdaya.




Perpustakaan Teras Baca, 27 Februari 2014
Tag : ,

Sekret Reformasi Nan-Sepi

By : Harry Ramdhani


Dulu, sekitaran tahun 1997/98, kampus lebih tepat di sebut untuk tempat yang menakutkan ketimbang tempat untuk mengayom pendidikan.

Bagaimana tidak, setiap hari hanya diisi dengan diskusi dan demonstrasi mahasiswa menentang kekuasaan Soeharto kala itu. Ya, mengatas-namakan 'aspirasi', halal dan haram tampak abu-abu. Karena yang dipikirkan mahasiswa hanya satu: menjatuhkan singgasana orde baru. Titik.

Hebatnya, saat itu, gerakan terjadi di seluruh Indonesia tanpa lagi mengenal kampus ini dan kampus itu sempat bermusuhan. Kepentingan pribadi dan kelompok disingkirkan. Seluruh mahasiswa saling mengepalkan tangan kiri tanda perlawanan. Bersama-sama turun ke jalan.

Setiap hari. Setiap ada mahasiswa yang diperlakukan tidak adil oleh polisi.

Kumudian, muncullah sekret-sekret yang di sebut Sekret Reformasi di setiap kampus. Di sana, rasanya sekret tempat paling aman; selain kostan, untuk aktivis kampus merencanakan agenda demonstrasi besok pagi. Inilah yang menyebabkan sempat ada slogan, 'Aparat dilarang merapat ke wilayah akademis'. Makanya, dulu, polisi atau pun tentara tidak bisa masuk ke kampus untuk menertibkan.

Kemunculan sekret reformasi ini saya rasa karena memang kostan tidak lagi aman. Dari laporan yang sempat di tulis Anton, Pustakawan Geng Salip, pada majalah Retorika, dulu kawasan kostan Universitas Djuanda (Unida) sempat di swiping oleh polisi untuk mencari DPO (Daftar Pencarian Orang) yang diduga adalah mahasiswa karena telah membunuh aparat. Salah seorang aktivis kampus dari Unida ditangkap di kostan. Barulah terjadi ledakan besar-besaran oleh mahasiswa dan aparat seluruh Indonesia. Dan, baru pada akhirnya terjadi penembakan pada beberapa mahasiswa dari Trisakti, Jakarta.

Sekret Reformasi tersebut sebagai benteng terakhir mahasiswa. Tak ada lagi tempat yang aman untuk mereka.

Karena itu, sebagai bentang terakhir, sekret reformasi tidak pernah sepi. Mahasiswa hanya bisa memanfaatkan keterbatasan supaya (tetap) bisa demo sepanjang hari-selama yang mereka inginkan: menjatukan Soeharto tercapai. Dari sekret reformasi itu pula mahasiswa orasi, mengajak dan terus menentang tiada henti.

Hari itu Soeharto tumbang. Mahasiswa menang. Rakyat bernyanyi dan menari kegirangan.

Reformasi telah terjadi dengan diangkatnya Habibie sebagai Presiden baru. Menggantikan Soeharto, yang telah mengibarkan bendera putih di Istana kala itu.

Satu hari. Satu minggu. Satu bulan. Perlahan sekret reformasi sepi. Merasa yang diperjuangkan telah didapat, mahasiswa pun meninggalkan sekret seperti tak pernah terjadi apa-apa. Bak kehilangan nyawa, bangunan sekret tak ayal sebuah jasad; yang lambat laun menjadi bangkai.

Sebenarnya, gerakan yang dilakukan oleh aktivis kampus dulu ketika demonstrasi dalam bentuk orasi tak jauh berbeda dengan stand-up comedy. Bedanya hanya stand-up comedy mesti mengemas dengan lucu suatu aspirasi, pendapat/opini.

Perihal tadi, sekret reformasi yang sempat dibuat mahasiswa untuk berlindung, itu pun dilakukan dalam stand-up comedy dengan membaut komunitas. Komunitas stand-up comedy. Ini sama-sama dijadikan wadah atau benteng terakhir untuk mereka supaya tetap bisa mengatas-namakan aspirasi sebagai bentuk perlawanan.
Hampir setiap kampus di Indonesia ada. Ya, hampir, karena kebanyak hanya di-ada-ada-kan saja. Ingin dianggap eksis lebih tepatnya.

Di Universistas Djuanda-pun ada Komunitas Stand-up comedy. Komunitas Stand-up Unida. Tapi, apa ini tergolong yang ingin eksis saja? Saya rasa tidak. Usia komunitas tersebut hampir dua tahun. Banyak event yang digelar. Beberapa Komikanya pernah perform di beberapa event stand-up comedy. Tidak banyak komunitas stand-up comedy kampus yang bisa bertahan selama dan seperti itu. Namun, apa kini bernasib sama dengan sekret reformasi yang sempat dibuat mahasiswa dulu? Saya rasa ini benar.

Lihat nasib sekret reformasi yang perlahan sepi karena tujuannya telah tercapai. Komunitas Stand-up Unida tampak begitu. Entah benar karena tujuan dari komunitas itu tercapai jadi sepi. Dari tujuan untuk bisa mendapat pasangan setelah bergabung. Tujuan bisa bertemu artis-artis stand-up comedy dari televisi. Tujuannya kini bisa membuat orang-orang yang tergabung di dalamnya mampu bicara di depan orang banyak. Atau, tujuan yang lain-lainnya yang saya sendiri tidak bisa memahaminya.

Komunitas stand-up Unida kini sepi. Saya hanya belajar memahaminya kalau memang nantinya akan membenci sebelum ada orang lain yang menyebut, "Dulu pernah ada Komunitas Stand-up Unida di Universitas Djuanda". Membangkai. Menjadi bangkai.

Atau, akan ada gerakan-gerakan baru dari Komunitas Stand-up Unida? Saya tidak tahu. Kita lihat saja nanti. Setidaknya itu yang terlihat saat ini.




Perpustakaan Teras Baca, 28 Februari - 04 Maret 2014
gambar: avatar Komunitas Stand-up Unida

Semenjak Ganti Redaktur, Ndak (lagi) Bisa Ngawur

By : Harry Ramdhani


Betapa sulitnya kini saya menulis karena perubahan redaktur. Mendadak saya mesti mengikuti pola pemikiran, tujuan, dan segala macam tetek-bengeknya. Menulis di Kompasiana-pun saya menjadi kagok. Selain ingin menulis dengan apa yang saya ingini, saya juga mesti memikirkan 'bagaimana caranya supaya di-share oleh momod (sebutan untuk admin moderator di akun Kompasiana) di twitter.

Redaktur memiliki kewenangan lebih, karena mereka-merekalah yang tahu pasar ingin apa, pasar mesti diberikan apa, dan lain sebagainya. Sebagai komunikator, saya terpaksa dan nampaknya ingin keluar saja. Daripada seperti makan di Rumah makan padang, tapi yang menjual bukan orang padang. Kurang nendang.

Saya jadi ingat, minggu lalu saya makan di Rumah Makan Padang. Seperti biasa, kalau makan pakai uang sendiri, saya tidak pernah memesan ayam (bakar/goreng) atau rendang, pasti saya lebih memilih menu-menu yang remeh-temeh dan murah seperti telor dadar, jengkol, dan, peyek udang. Toh, makan nasi padang tanpa lauk sebenernya sudah lengkap.

Namun hari itu berbeda, saya makan di Rumah Makan Padang di mana pemiliknya berasal dari jawa. Artinya, dari yang memasak sampai hasil masakannya pasti berasa 'lidah jawa'. Bukannya saya tidak suka, asalkan harganya murah tentu rasa menjadi urutan nomor dua.

Tapi, di lain hal, saya jadi memikirkan betapa inginnya pemilik Rumah Makan Padang tersebut mengikuti keinginan konsumen. Mayoritas orang-orang lebih memilih masakan padang daripada masakan warteg. Padahal, masakan khas daerah Jawa tidak kalah peminat.

Dibidang jurnalistik pun demikian. Saya mengenal banyak jurnalis kampus dengan segala tulisan dan pemikiran yang tajam, mendadak tumpul ketika mereka memasuki dunia kewartawanan yang lebih profesional. Entah. Tidak lagi saya membaca karya tulisnya yang mampu menggerakkan orang yang membacanya.

Tidak mudah ternyata memasuki dunia profesional yang mengatas namakan kepentingan khalayak pasar (konsumen). Padahal, pasar ialah kita yang membentuk, bukan malah menurutinya. Orang-orang ngawur yang jujur perlahan hilang menjadi nurut tapi, munafik.

Perihal ke-ngawuran, ngawur ialah sifat manusia yang jujur. Betapa indahnya melihat kejujuran di tengah masyarakat kini yang munafik. Ini yang kurang dimanfaatkan oleh banyak penguasa modal. Sebagai komunikator, kita punya peluang yang lebih besar mengubah perilaku komunikan, bukan malah menjijili komunikan dengan yang mereka inginkan.

Ingin ngawur tapi, jujur. Atau, nurut tetapi malah jadi munafik? The choice is your.




Perpustakaan Teras Baca, 25 Februari 2014

Hujan Datang, Rindu Meradang

By : Harry Ramdhani



Hujan.
Di perpustakaan.
Lagu dari radio tua berdendang.
Rindu berdenyut dalam kesunyian.
Aku kesepian.

Dingin.
Rindu selimutiku.

Malam.
Kantuk enggan menyerang.
Sampai pagi menjelang.
Berbaring rindu tanpa pakaian.

Satu batang rokok.
Habis terbakar nafsu.
Satu cangkir kopi.
Habis dikerumuti rindu.

Ayam-ayam bangun.
Aku masih mencari api unggun.
Rindu tak cukup selimutiku.
Namun nafsu sampai di kepala terlebih dulu.

Aku.
Terkekang.
Bayang-bayang.
Selangkangan.





Perpustakaan Teras Baca, 25 Februari 2014
gambar: dari sini
Tag : ,

Rinduku di Antara Mata dan Bibirmu

By : Harry Ramdhani
Kutulis ini setelah terbangun dari mimpi.
Di sana, kau tetap menjadi
orang yang menyebalkan. Dan, kembali mengingatmu,
ialah membuka semua kotak ingatanku




/1/
Asu! Asu!
tak lagi bisa kulihat matamu, kekasihku,
yang luas seperti pekarangan kesedihan
yang dalam seperti lautan penyesalan.

matamu, kekasihku,
sering kali kudapati berloncatan
mana kala airmata menitikan sedu
mendiami suatu perpisahan.

Yang kutahu dari matamu, kekasihku,
paling
lihai menyembunyikan luka dan pilu,
hingga orang-orang disekitarmu pangling
; kau bahagia atau sengsara.

kekasihku, Rusheila, aku lupa
menunggu katamu, ialah pekerjaan setia
yang tak bisa dibohongi lewat mata,
lewat cerita dari mulut yang berbusa bisa.

/2/
semenjak setan berkata pada Tuhan,
"tak ingin menyembah Adam dan Hawa"
saat itu aku sadar, kekasihku, dari bibirmu perlahan
aku tahu, kesetiaan mesti diucapkan dengan rela
(meski kelak ganjarannya adalah neraka).

Rusheila,
dari bibirmu tak sekalipun sungkan berkata, "A"
walau "B" bisa buatmu bahagia.

kekasihku, dari semua ciuman-ciuman
mungkin, hanya bibirmu yang tak pernah terbayangkan
nikmatnya. Seperti mencicipi buah Khuldi di Surga,
menggoda namun, aku masih takut dosa.

perihal nyanyian itu, aku mendesahkannya
seraya menikmati dalam sukma.
kau bergetar, bibirmu menyambar
rindu ini yang terasa hambar.

/3/
Rindu ini menandai sendu.
Duduk di antara mata dan bibirmu,
ku hirup kenangan-kenangan
yang sesak disela kesunyian.

Rusheila,
kau
segala
rinduku.




Untukmu, Rusheila Heldayani.
Kamar #Peang, 24 Februari 2014
Tag : ,

Sedu Rindu

By : Harry Ramdhani


aku tetap terjaga setiap malam.
bersama hujan,
menunggumu pulang
; membawa rindu yang kau genggam.

merindukanmu,
seperti lagu sedu, kekasihku,
tak cukup sekali dan mesti diputar berulang kali
-- setidaknya sampai hati ini terobati --

malam ini hujan,
kabut menutup sepanjang jalan.
kau tak terlihat
namun, rindu terlampau menghujat.
konon, menemuimu ialah anjuran yang tepat.

aku ingin kembali mengulang pelukan-pelukan itu.
kapan kau pulang, kekasihku?
dalam sepi, birahi menunggalkan nafsu,
menanggalkan pilu, meninggalkan masa lalu.

Aku, ialah serdadu
yang diam-diam mengintip jasadmu
di kuburan; tempat kita mengubur harapan.
di sanalah masa lalu terlihat seperti khayalan.




Perpustakaan Teras Baca, 22 Februari 2014
gambar: dari sini
Tag : ,

Dimadu Tukang Renda Rindu

By : Harry Ramdhani


INI malam kasih sayang dan aku menjemput rindu. Di kedai wedang jahe lesehan, aku menunggumu. Satu cangkir bandrek telah dicampur susu. Sengaja kupesan itu kalau-kalau nanti kau lupa janji untuk bertemu. Hangat dan manisnya mampu lama menempel di bibir dan tenggorokanku. Hanya itu yang kuingat dari pertemuan terakhir denganmu.

Lima jam berlalu. Kabar belum juga menghampiriku. Entah benar kau lupa atau sengaja dilupa-lupakan tapi, aku akan tetap menunggu. Seperti rokok yang dibiarkan di asbak, kesabaranku pun perlahan menjadi abu. Lampu-lampu yang bergelantungan bergerak ke sana - ke mari layaknya di film hantu. Bayangmu menakutiku.

"Di sini? terlalu ramai," katamu malu dan mulai memerahkan kedua pipimu. "Nanti saja kalau kamu dan aku berduaan, di ruangan yang tak lagi bisa disisipi kenangan," tukasmu.

Waktu memang tak seindah kupu-kupu; yang kedua sayapnya mampu menyimpan bergama warna. Terbang bebas, tanpa peduli ada yang diam-diam ingin menangkap raganya dan dikeringkan untuk dibuat pigura. Namun waktu, cuma membuatku eling dan waspada kala menunggu.

Ciuman-ciuman terakhir itu masih terasa getir. Sekedar mengingatnya, bibirku gemetar. Tangan ini masih hangat ketika ikut gentayangi tubuhmu disela ciuman. Di bawah lampu remang, hanya terlihat satu bayangan, itu kita sedang pelukan di antara perpisahan dan kesedihan. Tadinya aku tidak ingin lepaskan, tapi katamu, dadamu sudah sesak.

"Kalau-kalau nanti kita berpisah, bisakah kau sulam renda untukku?" ucapmu, "yang bisa kupakai ketika mengingatmu. Ketika aku merindu."

Kata-kata itu masih saja terngiang di kepala. Berdialetika tanpa sengaja.

***

"Kamu lebih tampan bila sedang diam," kata seorang perempuan yang tiba-tiba menghampiriku. Yang tak kukenal tentu. "Ada yang sedang dipikirkan?" lanjutnya.

Ia cukup cantik untuk ukuran seorang perempuan di kedai wedang jahe lesehan. Pertama kali melihatnya, aku langsung terpesona oleh kalung yang dikenakannya. Atau, buah dada yang terbelah kalungnya? Karena di sekitaran itu, Ia dapatkan perhatianku.

"Aku lebih suka diam. Karena di sini, tidak ada orang yang kukenal untuk sekedar berbincang," kataku.

"Kini kamu kenal satu orang."

"Siapa?"

Sofia namanya," ucapmu sambil menjulurkan tangan kanan.

Tangannya. Dadanya. Merusak isi kepala. Bandrek yang kupesan kembali panas, ditiup nafasku yang tak karuan; menahan dan mangatur alur nafsu. Seperti kacang yang lupa pada kulitnya, aku tak ingat lagi kalau sedang menunggu. Sofia datang membawa yang kucari sedari dulu; yang kutak dapatkan darimu.

Entah sudah diatur oleh siapa, ketika kita mulai berbincang segala, wedang jahe lesehan sepi. Tertinggal penjualnya, kita, dan birahi.

"Kamu kalau banyak bicara ternyata nakal juga, ya" katamu

"Kamu juga, terlalu sering bicara semakin terlihat ingin di bawa".

"Di bawa? kemana?" alismu diruncingkan. Heran. Atau, apabila itu ajakan, tak terlihat bedanya, bukan?

Aku bisa lihat bayang diriku di bola matamu. Di sana, aku terlihat bahagia, tak seperti lima jam yang lalu tentu; yang tampak lusuh dan berdebu.

Hampir satu jam kita berbincang. Membincangkan semua, tentang sedihnya hidup sendirian sampai yang tabu seperti selangkangan. Apa saja yang membuat kita nyaman.

Kau pesan beberapa sate yang beragam, lalu sebungkus nasi kucing lengkap dengan sambal terasi. Semua kau lahap sendiri. Meski sempat ditawari, aku "iya-kan" saja, toh itu lebih mirip basa-basi. Dan, ada lagi yang kusuka darimu kini: bibirmu berminyak dan itu seksi. Andai bibirku ini tisu, mungkin bibirmu sudah kuelapi.

Tepat pukul sebelas, terdengar suara mobil dari depan. Parkir di dekat penerang lampu jalan. Keluar seorang perempuan. Langkahnya, gerakan kakinya, dan besar lingkar buah dadanya aku jadi ingat seseorang. Seorang yang telah kutunggu akhirnya datang.

Cukup lama Ia berdiri memandangi kami. Dari dekat gerobak wedang jahe, tempat Ia berdiri, ingin sekali rasanya mendekat dan memeluknya erat sampai rindu ini terobati.

"Putri, kau terlambat," kataku. Kaki rasanya berat untuk diangkat, "sudah enam jam aku menunggu".

"Tapi, akhirnya aku datang juga 'kan?"

"Namun tetap, kau terlambat,"

Nampak tak ada sapaan hangat untuk orang yang tengah lama ditunggu. Aku, dan kamu, sibuk mencari-cari kesalahan darimu juga dariku.

***

"Jadi namamu Sofia. Maaf sebelumnya," ucapmu setelah aku bisa jelaskan semua. Semua tentang kita…,

***

"Maaf, mbak-mbak bertiga, saya sudah ingin tutup," Aku keluarkan jumlah pembayaran yang telah kalian pesan. Dasar perempuan, kalau sudah kumpul suka lupa waktu dan tempat.

***

… Semua tentang kita yang memang sama-sama saling menyukai sesama.




Perpustakaan Teras Baca, 15-23 Februari 2014
gambar: dari sini
Tag : ,

Tertikam Ketakutan Bayangmu

By : Harry Ramdhani


mana kala kesedihan
kian mencekam,
bayangmu seumpama mimpi buruk
semalam.

kau,
menjelma angin dan cahaya bintang
; ketakutanku dihantui kenangan
ciuman dan pelukmu

suara jeritan dan desahan.
aku takut, tak lagi berani keluar.
di luar,
itu kau atau burung gagak hitam.



Kamar #Peang, 20 Februari 2014
gambar: dari sini
Tag : ,

Draft Buku #22Desember

By : Harry Ramdhani
Akhirnya, saya temuin lagi draft buku #22Desember yang sempet kamu larang dulu. Saya terima itu karena satu alasan…, 



#22Desember 

Di pintu dekat jalan keluar bioskop, Dhani menyatakan cinta pada Shiren. Baju Dhani yang bertuliskan 'maukah kau jadi pasangan hidupku'. Shiren diam. Berdiri kaku.

"Beri aku 1000 hari untuk menjawabnya," kata Shiren. 1000 hari, berarti lewat sehari dari kiamat yang diramalkan Suku Maya, 21 Desember 2012.

Di hari ke 998, Dhani berangkat ke Kediri, menjumpai Shiren yang memilih untuk melanjutkan kuliah kesusteran di sana. Berita hari itu hanya seputar laporan-laporan dari beberapa media tentang aktivitas Gunung Kelud yang segera meletus.

Di hari ke 999, Dhani sampai Kediri. Semalam, Gunung Kelud meletus. Kediri gelap dan dipenuhi debu vulkanik. Warga panik. Semua jaringan komunikasi diputus. Dhani tak bisa menghubungi Shiren.

Kini, yang ada dipikiran Dhani tidak hanya menunggu jawaban Shiren, tapi juga ingin membantu warga Kediri mengungsi. Menyelamatkan diri. Semakin takut karena berita kiamat terjadi hari ini.

Di hari ke 1000, Gunung Kelud kembali meletus. Letusan kedua lebih besar dari pertama. Debu dan ketakutan menyelimuti. Dhani bertemu Shiren di lorong rumah sakit. Tak ada pikiran untuk mereka berdua akan janji pada sebuah jawaban yang ditunggu. Mereka sibuk membantu warga yang terkena imbas letusan Gunung Kelud.

Di hari ke 1001, tidak ada jawaban dari Shiren. Dhani pun lupa. Jawaban yang ditunggu tak lagi bisa ditagih. Shiren meninggal di hadapan Dhani. Hujan batu kerikil panas menimpanya.


gambar: dari sini
Tag : ,

- Copyright © Kangmas Harry - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -