The Pop's

Lumpur Lapindo

By : Harry Ramdhani
heii, gue nemu tulisan ini di warnet.


Banjir Lumpur Panas Sidoarjo atau lebih dikenal sebagai bencana Lumpur Lapindo, adalah peristiwa menyemburnya lumpur panas di lokasi pengeboran Lapindo Brantas Inc di Dusun Balongnongo Desa Renokenongo, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, sejak tanggal 29 Mei 2006. Semburan lumpur panas selama beberapa bulan ini menyebabkan tergenangnya kawasan permukiman, pertanian, dan perindustrian di tiga kecamatan di sekitarnya, serta memengaruhi aktivitas perekonomian di Jawa Timur. Lokasi semburan lumpur ini berada di Porong, yakni kecamatan di bagian selatan Kabupaten Sidoarjo, sekitar 12 km sebelah selatan kota Sidoarjo. Kecamatan ini berbatasan dengan  Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan) di sebelah selatan.

Lokasi pusat semburan hanya berjarak 150 meter dari sumur Banjar Panji-1 (BJP-1), yang merupakan sumur eksplorasi gas milik Lapindo Brantas Inc sebagai operator blok Brantas. Oleh karena itu, hingga saat ini, semburan lumpur panas tersebut diduga diakibatkan aktivitas pengeboran yang dilakukan Lapindo Brantas di sumur tersebut. Pihak Lapindo Brantas sendiri punya dua teori soal asal semburan. Pertama, semburan lumpur berhubungan dengan kesalahan prosedur dalam kegiatan pengeboran. Kedua, semburan lumpur kebetulan terjadi bersamaan dengan pengeboran akibat sesuatu yang belum diketahui. Namun bahan tulisan lebih banyak yang condong kejadian itu adalah akibat pemboran.

Lokasi semburan lumpur tersebut merupakan kawasan pemukiman dan di sekitarnya merupakan salah satu kawasan industri utama di Jawa Timur. Tak jauh dari lokasi semburan terdapat jalan tol Surabaya-Gempol, jalan raya Surabaya-Malang dan Surabaya-Pasuruan-Banyuwangi (jalur pantura timur), serta jalur kereta api lintas timur Surabaya-Malang dan Surabaya-Banyuwangi,Indonesia
Ada yang mengatakan bahwa lumpur Lapindo meluap karena kegiatan PT Lapindo di dekat lokasi itu.

Lapindo Brantas melakukan pengeboran sumur Banjar Panji-1 pada awal Maret 2006 dengan menggunakan perusahaan kontraktor pengeboran PT Medici Citra Nusantara. Kontrak itu diperoleh Medici atas nama Alton International Indonesia, Januari 2006, setelah menang tender pengeboran dari Lapindo senilai US$ 24 juta.
Pada awalnya sumur tersebut direncanakan hingga kedalaman 8500 kaki (2590 meter) untuk mencapai formasi Kujung (batu gamping). Sumur tersebut akan dipasang selubung bor (casing ) yang ukurannya bervariasi sesuai dengan kedalaman untuk mengantisipasi potensi circulation loss (hilangnya lumpur dalam formasi) dan kick (masuknya fluida formasi tersebut ke dalam sumur) sebelum pengeboran menembus formasi Kujung.

Sesuai dengan desain awalnya, Lapindo “sudah” memasang casing 30 inchi pada kedalaman 150 kaki, casing 20 inchi pada 1195 kaki, casing (liner) 16 inchi pada 2385 kaki dan casing 13-3/8 inchi pada 3580 kaki (Lapindo Press Rilis ke wartawan, 15 Juni 2006). Ketika Lapindo mengebor lapisan bumi dari kedalaman 3580 kaki sampai ke 9297 kaki, mereka “belum” memasang casing 9-5/8 inchi yang rencananya akan dipasang tepat di kedalaman batas antara formasi Kalibeng Bawah dengan Formasi Kujung (8500 kaki).
Diperkirakan bahwa Lapindo, sejak awal merencanakan kegiatan pemboran ini dengan membuat prognosis pengeboran yang salah. Mereka membuat prognosis dengan mengasumsikan zona pemboran mereka di zona Rembang dengan target pemborannya adalah formasi Kujung. Padahal mereka membor di zona Kendeng yang tidak ada formasi Kujung-nya. Alhasil, mereka merencanakan memasang casing setelah menyentuh target yaitu batu gamping formasi Kujung yang sebenarnya tidak ada. Selama mengebor mereka tidak meng-casing lubang karena kegiatan pemboran masih berlangsung. Selama pemboran, lumpur overpressure (bertekanan tinggi) dari formasi Pucangan sudah berusaha menerobos (blow out) tetapi dapat di atasi dengan pompa 
 lumpurnya Lapindo (Medici).

Setelah kedalaman 9297 kaki, akhirnya mata bor menyentuh batu gamping. Lapindo mengira target formasi Kujung sudah tercapai, padahal mereka hanya menyentuh formasi Klitik. Batu gamping formasi Klitik sangat porous (bolong-bolong). Akibatnya lumpur yang digunakan untuk melawan lumpur formasi Pucangan hilang (masuk ke lubang di batu gamping formasi Klitik) atau circulation loss sehingga Lapindo kehilangan/kehabisan lumpur di permukaan.

Akibat dari habisnya lumpur Lapindo, maka lumpur formasi Pucangan berusaha menerobos ke luar (terjadi kick). Mata bor berusaha ditarik tetapi terjepit sehingga dipotong. Sesuai prosedur standard, operasi pemboran dihentikan, perangkap Blow Out Preventer (BOP) di rig segera ditutup & segera dipompakan lumpur pemboran berdensitas berat ke dalam sumur dengan tujuan mematikan kick. Kemungkinan yang terjadi, fluida formasi bertekanan tinggi sudah terlanjur naik ke atas sampai ke batas antara open-hole dengan selubung di permukaan (surface casing) 13 3/8 inchi. Di kedalaman tersebut, diperkirakan kondisi geologis tanah tidak stabil & kemungkinan banyak terdapat rekahan alami (natural fissures) yang bisa sampai ke permukaan. Karena tidak dapat melanjutkan perjalanannya terus ke atas melalui lubang sumur disebabkan BOP sudah ditutup, maka fluida formasi bertekanan tadi akan berusaha mencari jalan lain yang lebih mudah yaitu melewati rekahan alami tadi & berhasil. Inilah mengapa surface blowout terjadi di berbagai tempat di sekitar area sumur, bukan di sumur itu sendiri.
Perlu diketahui bahwa untuk operasi sebuah kegiatan pemboran MIGAS di Indonesia setiap tindakan harus seijin BP MIGAS, semua dokumen terutama tentang pemasangan casing sudah disetujui oleh BP MIGAS.

Dalam AAPG 2008 International Conference & Exhibition dilaksanakan di Cape Town International Conference Center, Afrika Selatan, tanggal 26-29 Oktober 2008, merupakan kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh American Association of Petroleum Geologists (AAPG) dihadiri oleh ahli geologi seluruh dunia, menghasilan pendapat ahli: 3 (tiga) ahli dari Indonesia mendukung GEMPA YOGYA sebagai penyebab, 42 (empat puluh dua) suara ahli menyatakan PEMBORAN sebagai penyebab, 13 (tiga belas) suara ahli menyatakan KOMBINASI Gempa dan Pemboran sebagai penyebab, dan 16 (enam belas suara) ahli menyatakan belum bisa mengambil opini. Laporan audit Badan Pemeriksa Keuangan tertanggal 29 Mei 2007 juga menemukan kesalahan-kesalahan teknis dalam proses pemboran
Beberapa hasil pengujian
Parameter
Hasil uji maks
Baku Mutu
(PP Nomor 18/1999)
0,045 Mg/L
5 Mg/L
1,066 Mg/L
100 Mg/L
5,097 Mg/L
500 Mg/L
0,05 Mg/L
5 Mg/L
0,004 Mg/L
0,2 Mg/L
Sianida Bebas
0,02 Mg/L
20 Mg/L
Trichlorophenol
0,017 Mg/L
2 Mg/L (2,4,6 Trichlorophenol)
400 Mg/L (2,4,4 Trichlorophenol)














Berdasarkan beberapa pendapat ahli lumpur keluar disebabkan karena adanya patahan, banyak tempat di sekitar Jawa Timur sampai ke Madura seperti Gunung Anyar di Madura, "gunung" lumpur juga ada di Jawa Tengah (Bleduk Kuwu). Fenomena ini sudah terjadi puluhan, bahkan ratusan tahun yang lalu. Jumlah lumpur di Sidoarjo yang keluar dari perut bumi sekitar 100.000 meter kubik perhari, yang tidak mungkin keluar dari lubang hasil "pemboran" selebar 30 cm. Dan akibat pendapat awal dari WALHI maupun Meneg Lingkungan Hidup yang mengatakan lumpur di Sidoarjo ini berbahaya, menyebabkan dibuat tanggul di atas tanah milik masyarakat, yang karena volumenya besar sehingga tidak mungkin menampung seluruh luapan lumpur dan akhirnya menjadikan lahan yang terkena dampak menjadi semakin luas

Berdasarkan pengujian toksikologis di 3 laboratorium terakreditasi (Sucofindo, Corelab dan Bogorlab) diperoleh kesimpulan ternyata lumpur Sidoarjo tidak termasuk limbah B3 baik untuk bahan anorganik seperti Arsen, Barium, Boron, Timbal, Raksa, Sianida Bebas dan sebagainya, maupun untuk untuk bahan organik seperti Trichlorophenol, Chlordane, Chlorobenzene, Chloroform dan sebagainya. Hasil pengujian menunjukkan semua parameter bahan kimia itu berada di bawah baku mutu.[1]

Hasil pengujian LC50 terhadap larva udang windu (Penaeus monodon) maupun organisme akuatik lainnya (Daphnia carinata) menunjukkan bahwa lumpur tersebut tidak berbahaya dan tidak beracun bagi biota akuatik. LC50 adalah pengujian konsentrasi bahan pencemar yang dapat menyebabkan 50 persen hewan uji mati. Hasil pengujian membuktikan lumpur tersebut memiliki nilai LC50 antara 56.623,93 sampai 70.631,75 ppm Suspended Particulate Phase (SPP) terhadap larva udang windu dan di atas 1.000.000 ppm SPP terhadap Daphnia carinata. Sementara berdasarkan standar EDP-BPPKA Pertamina, lumpur dikatakan beracun bila nilai LC50-nya sama atau kurang dari 30.000 mg/L SPP.

Di beberapa negara, pengujian semacam ini memang diperlukan untuk membuang lumpur bekas pengeboran (used drilling mud) ke dalam laut. Jika nilai LC50 lebih besar dari 30.000 Mg/L SPP, lumpur dapat dibuang ke perairan.

Namun Simpulan dari Wahana Lingkungan Hidup menunjukkan hasil berbeda, dari hasil penelitian Walhi dinyatakan bahwa secara umum pada area luberan lumpur dan sungai Porong telah tercemar oleh logam kadmium (Cd) dan timbal (Pb) yang cukup berbahaya bagi manusia apalagi kadarnya jauh di atas ambang batas. Dan perlu sangat diwaspadai bahwa ternyata lumpur Lapindo dan sedimen Sungai Porong kadar timbal-nya sangat besar yaitu mencapai 146 kali dari ambang batas yang telah ditentukan. (lihat: Logam Berat dan PAH Mengancam Korban Lapindo)

Berdasarkan PP No 41 tahun 1999 dijelaskan bahwa ambang batas PAH yang diizinkan dalam lingkungan adalah 230 µg/m3 atau setara dengan 0,23 µg/m3 atau setara dengan 0,23 µg/kg. Maka dari hasil analisis di atas diketahui bahwa seluruh titik pengambilan sampel lumpur Lapindo mengandung kadar Chrysene di atas ambang batas. Sedangkan untuk Benz(a)anthracene hanya terdeteksi di tiga titik yaitu titik 7,15 dan 20, yang kesemunya di atas ambang batas.

Dengan fakta sedemikian rupa, yaitu kadar PAH (Chrysene dan Benz(a)anthracene) dalam lumpur Lapindo yang mencapai 2000 kali di atas ambang batas bahkan ada yang lebih dari itu. Maka bahaya adanya kandungan PAH (Chrysene dan Benz(a)anthracene) tersebut telah mengancam keberadaan manusia dan lingkungan:
  • Bioakumulasi dalam jaringan lemak manusia (dan hewan)
  • Kulit merah, iritasi, melepuh, dan kanker kulit jika kontak langsung dengan kulit
  • Kanker
  • Permasalahan reproduksi
  • Membahayakan organ tubuh seperti liver, paru-paru, dan kulit
Dampak PAH dalam lumpur Lapindo bagi manusia dan lingkungan mungkin tidak akan terlihat sekarang, melainkan nanti 5-10 tahun kedepan. Dan yang paling berbahaya adalah keberadaan PAH ini akan mengancam kehidupan anak cucu, khususnya bagi mereka yang tinggal di sekitar semburan lumpur Lapindo beserta ancaman terhadap kerusakan lingkungan. Hasil analisis logam pada materi

Parameter
Satuan
Kep. MenKes no 907/2002
Lumpur Lapindo
Air Lumpur Lapindo
Sedimen Sungai Porong
Air Sungai Porong
Kromium (Cr)
mg/L
0,05
nd
nd
nd
nd
Kadmium (Cd)
mg/L
0,003
0,3063
0,0314
0,2571
0,0271
Tembaga (Cu)
mg/L
1
0,4379
0,008
0,4919
0,0144
Timbal (Pb)
mg/L
0,05
7,2876
0,8776
3,1018
0,6949

Semburan lumpur ini membawa dampak yang luar biasa bagi masyarakat sekitar maupun bagi aktivitas perekonomian di Jawa Timur. Sampai Mei 2009, PT Lapindo, melalui PT Minarak Lapindo Jaya telah mengeluarkan uang baik untuk mengganti tanah masyarakat maupun membuat tanggul sebesar Rp. 6 Triliun.
  • Lumpur menggenangi 16 desa di tiga kecamatan. Semula hanya menggenangi empat desa dengan ketinggian sekitar 6 meter, yang membuat dievakuasinya warga setempat untuk diungsikan serta rusaknya areal pertanian. Luapan lumpur ini juga menggenangi sarana pendidikan dan Markas Koramil Porong. Hingga bulan Agustus 2006, luapan lumpur ini telah menggenangi sejumlah desa/kelurahan di Kecamatan Porong, Jabon, dan Tanggulangin, dengan total warga yang dievakuasi sebanyak lebih dari 8.200 jiwa dan tak 25.000 jiwa mengungsi. Karena tak kurang 10.426 unit rumah terendam lumpur dan 77 unit rumah ibadah terendam lumpur.
  • Lahan dan ternak yang tercatat terkena dampak lumpur hingga Agustus 2006 antara lain: lahan tebu seluas 25,61 ha di Renokenongo, Jatirejo dan Kedungcangkring; lahan padi seluas 172,39 ha di Siring, Renokenongo, Jatirejo, Kedungbendo, Sentul, Besuki Jabon dan Pejarakan Jabon; serta 1.605 ekor unggas, 30 ekor kambing, 2 sapi dan 7 ekor kijang.
  • Sekitar 30 pabrik yang tergenang terpaksa menghentikan aktivitas produksi dan merumahkan ribuan tenaga kerja. Tercatat 1.873 orang tenaga kerja yang terkena dampak lumpur ini.
  • Empat kantor pemerintah juga tak berfungsi dan para pegawai juga terancam tak bekerja.
  • Tidak berfungsinya sarana pendidikan (SD, SMP), Markas Koramil Porong, serta rusaknya sarana dan prasarana infrastruktur (jaringan listrik dan telepon)
  • Rumah/tempat tinggal yang rusak akibat diterjang lumpur dan rusak sebanyak 1.683 unit. Rinciannya: Tempat tinggal 1.810 (Siring 142, Jatirejo 480, Renokenongo 428, Kedungbendo 590, Besuki 170), sekolah 18 (7 sekolah negeri), kantor 2 (Kantor Koramil dan Kelurahan Jatirejo), pabrik 15, masjid dan musala 15 unit.
  • Kerusakan lingkungan terhadap wilayah yang tergenangi, termasuk areal persawahan
  • Pihak Lapindo melalui Imam P. Agustino, Gene-ral Manager PT Lapindo Brantas, mengaku telah menyisihkan US$ 70 juta (sekitar Rp 665 miliar) untuk dana darurat penanggulangan lumpur.
  • Akibat amblesnya permukaan tanah di sekitar semburan lumpur, pipa air milik PDAM Surabaya patah [2].
  • Meledaknya pipa gas milik Pertamina akibat penurunan tanah karena tekanan lumpur dan sekitar 2,5 kilometer pipa gas terendam [3].
  • Ditutupnya ruas jalan tol Surabaya-Gempol hingga waktu yang tidak ditentukan, dan mengakibatkan kemacetan di jalur-jalur alternatif, yaitu melalui Sidoarjo-Mojosari-Porong dan jalur Waru-tol-Porong.
  • Tak kurang 600 hektar lahan terendam.
  • Sebuah SUTET milik PT PLN dan seluruh jaringan telepon dan listrik di empat desa serta satu jembatan di Jalan Raya Porong tak dapat difungsikan.
Penutupan ruas jalan tol ini juga menyebabkan terganggunya jalur transportasi Surabaya-Malang dan Surabaya-Banyuwangi serta kota-kota lain di bagian timur pulau Jawa. Ini berakibat pula terhadap aktivitas produksi di kawasan Ngoro (Mojokerto) dan Pasuruan yang selama ini merupakan salah satu kawasan industri utama di Jawa Timur.

1.      Pada pusat semburan (big hole) di pasang semacam tabung raksasa dari besi atau semen cor sesuai ketinggian semburan lumpur dan di buat coakan yang mengarah ke selatan.
2.      Kemudian dibuat kanal dengan sambungan elastis dari semen atau bahan lainnya (misalnya campuran lumpur dan semen) dari coakan tersebut ke Kali Porong dengan konstruksi semi ponton (terapung) yang diperkuat dengan tiang pancang atau dudukan dari tanggul sirtu. Pembuatan kanal tersebut menyesuaikan dengan perbedaan ketinggian antara semburan dengan Kali Porong, dimana kanal lebih tinggi di pusat semburan dibanding dengan tanggul Kali Porong dengan perbedaan ± 20 meter.
3.      Pemasangan pompa air untuk mengalirkan dengan melalui pipa dari Kali Porong ke pusat semburan yang berguna untuk mempertahankan likuiditas lumpur sehingga lumpur akan mengalir dengan sendirinya ke Kali Porong.
4.      Pembangunan Bendung Gerak pada Pintu Air di Kali Porong tepat pada pintu air Jabon yang berfungsi untuk menggelontor endapan lumpur di Kali Porong dengan memanfaatkan volume air tertentu dari Kali porong dan Kali mati yang di perdalam dengan pengerukan. Pintu Bendung Gerak akan secara otomatis terbuka apabila mencapai volume tertentu yang cukup untuk menggelontor lumpur ke sepanjang Kali Porong.
5.      Penempatan Kapal Keruk di sepanjang aliran Kali Porong sampai muara yang berfungsi untuk mengurangi endapan lumpur di Kali Porong dengan menaikkanya ke sepanjang tanggul Kali Porong. Endapan ini akan dapat difungsikan untuk mempertinggi tanggul  tanggul pada pertambakan maupun urugan jalan.

#IndonesiaStandUp

By : Harry Ramdhani

Ahh, kini setiap orang denger ato baca ‘StandUp’, pasti konotasinya kearah Stand-Up Comedy. Lah, gue pake hestek #IndonesiaStandUp dari awal2 gue maen twitter ditaun 2009 akhir (akun lama). Tapi… yasudahlah.

Bumi Gonjang – Ganjing, Langit Kelap – Kelip


Dulu, Aku ingat beberapa tahun lalu sejak awal-awal gue maen twitter. Nyablak semua isinya, bahkan sampe sekarang mungkin. Asal follow orang, asal ngetwit, asal ngisengin orang, dan semua itu berujung dibajaknya akun twitter gue yang lama – @Har_Ram. Sedih juga sih, soalnya gue deket dengan orang di twitter relative lebih sulit dibanding deket sama orang di pesbuk. Hingga akun itu dipegang sama orang yang antah – berantah asalnya, ue harus kembali merajut hubungan dengan orang yang sama tapi akun yang berbeda lewat akun – @_HarRam.

Ahh, social media kini udah jadi bagian dari hidup gue. hampir setiap saat gue sekedar ‘ngelongok’ buat cari informasi yang terbaru, buat cari tau perkembangan sekarang, buat cari… pasangan, tapi tak kunjung dapet J

Dari dulu, dari gue masih maen pesbuk (FYI: AKUN PESBUK GUE JUGA DIBAJAK -> http://harry17ramdhani.facebook.com) sering banget dikatain nyampah di ‘Home’ tapi kalo orang yang pake akun pesbuknya bahasa Indonesia itu ‘Beranda’. Alay ihh namanya jadi Beranda. Kelakuan gue dipesbuk adalah tetep, masih sama, nulis di ‘notes’. Tapi yang sering jadi nyampah itu kadang notes yang gue bikin di tag ke beberapa orang ya jadi nyampah juga di notif. Pokoknya gue jadi orang yang doyan nyampah dimana-pun. Tapi, gue gak salah sendiri sih (setidaknya itu pandangan gue). coba deh pikirin, pertama, ini media, anggaplah koran, yang punya koran ini adalah Mark Zukenberg (kurang lebih begitu namanya) dan para wartawan itu adalah kita. Kita yang mempunyai akun untuk bisa mengakses segala fasilitas yang ada di koran milik Mark. Logikanya, ini adalah media yang bisa dinikmatin semua dan Mark aja gak pernah marah sama semua postingan gue. kalo arahnya ke etika/norma, gue sama sekali gak ngelakuin tindakan SARA untuk memprovokasi kearah kerusuhan.

Kedua, namanya orang pinter, gak juga sik, seengganya punya otak ‘lah. Kalo orang yang bener punya otak dan otak itu dipake buat mikir. Nih, ada sampah didepan mata lu, masa iyah cuma diem doang ada sampah. Orang yang punya otak dan digunain tuh pasti ngolah sampah itu jadi berguna buat sesame. Olah dong kalo emng bener semua postingan gue ‘sampah’. Bukan cuma marah2 doang. Asuu.

Balik lagi ke twitter, sempet terlintas diotak gue ngegunain akun twitter gak beda sama pesbuk. Tetep nulis, tetep nyoba memprovokasi lewat twit gue dan dalam waktu yang bersamaan kala itu gue pengen bikin perpus (walau baru dibahyangan doang) makanya gue ngetwit untuk ngajak orang2 buat ngerealisasiin bikin perpus. Nah, biar gampang dicari, gue pake hestek #IndonesiaStandUp. Maksudnya cuma itu, buat ngajak orang sama biar gampang dicari sama apa yang gue twit. Gue ingiet salah satu twit-nya “masih aja ngandelin belajar di sekolah doang ? bikin wadah dong buat nyalirin minat sama bakat. #IndonesiaStandUp”. Dan arti dari #IndonesiaStandUp bukan Indonesia yang berdiri tapi maksudnya kini Indonesia Bangkit, ayo bangkit, jangan cuma ngengkang doang buat ngerubah semua.

Hingga pada akhirnya perpustakaan ini bisa berdiri. Hingga Stand-Up Comedy lahir diluar sana. Hingga ada akun @StandUpIndo [Indonesian Stand-ups]. Hiungga gue bikin baju bertuliskan #IndonesiaStandUp dan semua orang berasumsi kalo ini adalah baju anak-anak stand-up comedy. Sekali lagi, ini gak ada kaitannya.
Tapi yasudahlah, lebih baik gue berentiin baju bertuliskan #IndonesiaStandUp. Karena gue tau, kesepakan bersama adalah suara Tuhan. Dan ada lagi, gue ini bukan siapa-siapa yang bisa meyakinkan orang lain. Indonesian stand-ups lebih dulu tenar dibanding apa yang gue lakuin (baju bertuliskan #IndonesiaStandUp). Maka, gue ngubah semua baju yang ada tulisan #IndonesiaStandUp dengan #IndonesiaHereWeUp.


Semangat yang sama. Orang yang sama. Tujuan yang sama. Yup, #IndonesiaHereWeUp… 


Tag : ,

Aku, Kita, dan Teras Baca

By : Harry Ramdhani

Desa Bojonggede, 4 July 2011
                “Ayoo dong bikin kegiatan, udah deket nih 17an.  Masa Karang Taruna gak bikin apa – apa.” Kata Ungky yang baru datang ke Warung Bang Dodo.

PERBINCANGAN kala itu hampir sama seperti perbincangan Bung Karno dengan Sukarni Kartodiwiryo tentang menentukan tanggal Proklamasi yang sempat Ia ceritakan dalam Penyambung Lidah Rakyat.  “Di Saigon saya sudah merencanakan proklamasi tanggal 17.” Mengapa ? Bung Karno menjawab, “Angka 17 adalah angka sakti. Lebih memberi harapan. Angka 17 keramat. Al-Quran diturunkan pertama tanggal 17. Orang islam sembahyang 17 rakaat sehari. Maka hari Jumat Legi tanggal 17 Agustus saya pilih untuk menyelenggarakan proklamasi.”
               
Setelah hari itu, para anggota Karang Taruna – pun berkumpul untuk segera menyelenggarakan kegiatan 17an.  Dari dulu sampai sekarang, bahkan sudah menjadi tradisi bangsa ini selalu saja ada yang namanya ‘17an’. Aku ingat pertama kali saat mengikuti ini, umurku masih 9 tahun.  Mendekati tanggal 17 Agustus selalu ramai orang – orang menghiasi rumah dengan bendera Merah Putih terbuat dari plastik, lalu didepan rumah dipasangkan tiang untuk sekedar mengibarkan bendera. Untuk anak – anak diadakan lomba agar lebih meriah.
                
Aku tidak habis pikir, apa hubungannya lomba anak – anak dengan kemerdekaan Indonesia ? Emangnya pejuang saat itu ikut berlomba seperti makan kerupuk dengan penjajah terus kalau yang kalah penjajah maka harus angkat kaki dari Indonesia ? enggak ‘kan. Atau, yang lebih menggelikan adalah ada lomba balap karung, dilombakan untuk anak. Sama sekali tidak ada sisi bermain, apa lagi edukatif ? yang tampak dari lomba balap karung hanya dua, pertama, kecelakaan sudah siap menanti karena tersandung karun yang tingginya hampir seleher  anak. Kedua, gatel – gatel karena karung yang dipakai untuk lomba adalah karung bekas terigu, kutunya dimana – mana.
“Yaudah, sekarang aja kumpulin anak – anak, kita rapat di pos.” kata Rino selaku Ketua Karang Taruna.
               
Seperti semut yang melihat gula tumpah, berbondong – bondong cepatnya anggota Karang Taruna ini berkumpul. Aku curiga ini karena lagu “Makan gak makan asalkan ngumpul”. Tak apa, asalkan ini suatu hal yang positif.  Ramai oleh kicauan yang tidak jelas arahnya, inilah akibat kalau pertemuan sebuah Karang Taruna kalau ingin mengadakan acara/kegiatan saja. 

“Stop. STOOOOP,” jiwa kelakian Rino keluar untuk segera menghentikan kicauan yang tak jelas. Bayangkan, satu jam hanya dihabiskan untuk ngobrol.

“Jadi gini, tadi Ungky ngajakin untuk bikin kegiatan buat 17an tahun ini. Pada bisa gak ?” Kata Rino tanpa basa – basi.

“Setuju, gitu dong masa gak ada kegiatan sih Karang Taruna.” Kata Intan dengan semangat.

Aku yang keluar dari kamar mandi takjub dengan antusias orang – orang cunguk ini. Tumben pada semangat. Sebagai info, kami tinggal disalah satu perumahan yang tidak begitu elite jadi tidak gampang untuk mengumpulkan orang untuk bisa nimbrung dalam kegiatan yang sifatnya sosial. Pos kita-pun tidak seperti pos yang lainnya. Disini lengkap, ada kamar mandi, televisi, dan bahkan ada panggung permanen yang serbaguna. Terkadang Pos ini dipakai untuk hajatan warga kami.

“Terus kegiatannya apa ?” kataku.

“Eumm, apa yah… susah sih, soalnya ini deket sama bulan puasa. Gak mungkin dong ada lomba pas bulan 
Puasa.” Kata Intan yang jawabanynya sama sekali tidak menunjukan pemecahan masalah.

“Ayoolah ide itu murah, cuuk. Bisa didapet dimana-mana. Aku aja yang abis buang air besar bisa dapet ide”

“Yaudah, idenya apa ? tapi apa itu ‘cuuk’ ?”

“Gak penting itu. Nah, gimana kalau kita bikin Perpustakaan disini ? Setuju ?”

“Perpustakaan ? Maksudnya ?” tanya Rino dengan penasaran.

“Yaa, Perpustakaan biasa. Siapa aja boleh kesini buat baca. Tapi bukan itu sih intinya Aku usul untuk bikin perpustakaan.”

“Terus ?”

“Nanya mulu kayak wartawan. Pas tadi Aku pup, kayaknya anak – anak seneng deh kalau buat ngumpul gini, bener gak ? Nah, kalau sudah ada perpustakaan jadi ada waktu untuk kita sering kumpul. Nanti kalau udah ngumpul kayak gini pasti ada aja ide buat bikin kegiatan. Soalnya perpustakaan ini gak akan bisa rame kalau cuma buat baca buku doang. Emang jaman sekarang siapa sih yang pengen nyisihin waktunya buat baca buku ? Ndak ado. Tapi kalau kita bisa bikin kegiatan dimana nanti orang – orang dateng dan nyari sebuah permasalahan lewat baca buku.”

“Pada setuju gak nih bikin Perpustakaan ?”

“Sederhananya gini, kita bikin perpustakaan terus yang jaga dari kita giliran lalu, bikin kegiatan. Pasti rame ini perpustakaan”

“SETUJUUUUUU” semua menjawab serentak.
                
Yup, ketika semua setuju langkah berikutnya adalah meyakinkan para bapak – bapak untuk ngerelain Pos dialih fungsikan menjadi sebuah perpustakaan. Sebenarnya mudah saja, karena Aku adalah anak RT tapi karena negara ini negara yang katanya ‘Demokrasi’, maka harus rapat lagi oleh warga untuk meminta persetujuan. Secara pribadi Aku tidak begitu suka dengan sistem negara ini yang Demokrasi, karena indikator dari itu adalah suara terbanyak saja yang diakuin atau dalam istilah kerennya ‘Suara Rakyat Suara Tuhan’. Padahal tidak semua suara terbanyak adalah benar, bisa saja ada kecurangan ketika pengambilan suara.
              
Hari sabtu ini, tanggal 9 July sengaja Aku buatkan surat undangan warga untuk rapat yang membahas pengalih fungsi Pos menjadi perpustakaan. Dan… yang hadir rapat banyak, hampir 85% orang hadir. Tumben. Biasanya kaalu ada rapat yang dateng 4L (Lu Lagi Lu Lagi). Tidak hanya itu, Aku menjadi tumbal oleh anak – anak untuk ikut rapat ini. INGAT, itu hasil demokrasi.
                 
Sungguh alot rapatnya, karena sudah terbiasa warga disini untuk menyebut ini sebagai Pos bukan Perpustakaan. Ada sedikit perbincangan yang Aku suka, ketika ada salah satu warga yang tidak setuju. Kita sebut saja Ia si Pulan. Entah apa maksudnya ‘Si Pulan’, orang – orange jaman dulu selalu memakai nama itu untuk menganalogikan suatu peristiwa.

Pulan     : Apa maksudmu bikin perpustakaan ? ini Pos, tempat kumpul kalau ada rapat.

Aku        : Lah, apa hubungannya ? rapat ya rapat, orang pengen baca mah baca.

Pulan     : Tapi kalau suatu hari nanti ada yang ingin hajatan, kan jadi repot. Lagi pula semua anak disini sekolah, disekolah itu sudah ada perpustakaan. Jadi untuk apa bikin perpustakaan ?

Aku        : Bapak yakin anaknya kalau di sekolah itu ke perpustakaan ? Aku rasa tidak. Kita disini mewadahi, karena kita sadar bahwa Pendidikan yang ada didapat di sekolah masih kurang.

Pulan     : Ketika kami ingin membangun Pos ini ya niatnya untuk Pos, bukan yang lain. Saya tetap tidak setuju.

Aku        : Bayangin deh, Pak. Kita tinggal di Komplek, bukannya Aku ingin menyama-ratakan ekonomi tapi kita adalah kelas menengah. Bangsa ini akan maju oleh orang – orang yang berada dikelas menengah yang siap naik level ke kelas atas dan bisa membantu orang – orang kelas bawah. Tidak ada lagi kasus money politic ketika pemilu. Biayanya sangat mahal untuk membayar suara orang kelas menengah ini, kenapa ? Karena orang kelas menengah pintar. Bagaimana cara untuk pintar ? dengan belajar dan membaca buku.

Pulan     : Kamu anggap Saya ini bisa disogok ketika pemilu ? Saya memilih Dia karena salah satu programnya ‘Anti – Korupsi’.
                
Aku terdiam sejenak saat itu, entah harus bicara apa lagi untuk meyakinkan si Pulan. Terlintas pikiran tentang kelakuan para Koruptor. “Hanya Koruptor ‘lah yang melarang rakyatnya untuk belajar”, kataku tanpa sadar.
                
 Pembuatan perpustakaan dimulai tanggal 17 July 2011, dengan peralatan seadanya kita membuat rak – rak buku, membeli plat bekas untuk pemisah buku. Dan… tanggal 17 Agustus 2011, perpustakaan ini diresmikan dengan acara buka bersama dan santunan untuk anak yatim. Hal terunik ketika ditanya nama perpustakaan ini, Rino dengan gaya ngawurnya menjawab Teras Baca. Yaa, perpustakaan Teras Baca

Desa Bojonggede, 17 July 2012

Kini sudah satu tahun perpustakaan ini berdiri. Dengan berbagai kegiatan seperti membuat sanggar seni lukis, tempat kursus bahasa inggis, dan tidak lupa… sebagai tempat oleh para penikmat stand-up comedy.

Kita hidup untuk main, main kita untuk hidup, hidup kita untuk memajukan INDONESIA.

(sedikit) Profil Teras Baca

By : Harry Ramdhani

Teras Baca adalah sebuah perpustakaan, sebuah wadah. Wadah bagi para pemuda untuk melakukan segala aktivitas, dan tentunya untuk INDONESIA. 

Bumi Gonjang – Ganjing, Langit Kelap – Kelip.

Pada awalnya memang ini hanya sebatas Karang Taruna tingkat RT. Sangat kecil ruang lingkupnya. Tapi Perpustakaan Teras Baca berdiri berdasarkan hasil sebuah pemikiran dari para pemuda yang masih memikirkan Indonesia. Pada saat itu tanggal 17 Juli 2011, ketika sedang berkumpul maka muncullah sebuah ide untuk membentuk suatu taman bacaan yang berguna untuk masyarakat sekitar.

Menurut Pandji “Pemuda itu memiliki 2 sifat, yaitu menuntut perubahan dan mewujudkan perubahan”. Memang, tidak salah apabila para pemuda hanya bisa menuntut berbagai macam perubahan untuk kearah yang lebih baik, karena itu menjadi salah satu bukti bahwa para pemuda kita menjadi lebih kritis pada lingkungan yang hanya begitu-begitu saja. Tapi alangkah baiknya apabila para pemuda itu mewujudkan perubahan itu sendiri menutur apa yang pemuda itu bisa lakukan dan bukan berdasarkan apa yang meraka hanya ‘mau’.

Dari situlah ideologi para anggota Karang Taruna berangkat. Pendidikan merupakan salah satu bukti bahwa bangsa ini menjadi terlihat terbelakang dari bangsa lain dan perpustakan adalah salah satu langkah yang dilakukan bahwa kami berniat membuat para orang-orang agar gemar membaca. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang gemar membaca dan munulis.

Konyolnya, kita sering melihat sebuah komunitas – komunitas yang bergerak dibidang sosial adalah bertempat didaerah terpencil. Entah itu dimana, entah dibelahan Indonesia dibagian mana. Tapi Perpustakaan Teras Baca kami dirikan sengaja ditengah komplek/perumahan, kenapa ? Inilah yang pemerintah ‘kite’ takutkan, Ia takut rakyatnya pintar sehingga tidak bisa dikelabui lagi. Middle Class adalah jawabannya, kekuatan kelas menengah kita seakan terlalu dimanjakan oleh berbagai macam Urbanisme yang sengaja dibentuk oleh Pemerintah.

Disinilah kami (Teras Baca) ada, berada ditengah orang-orang yang berada kelas menengah. Kelas iniah yang tidak pernah ‘dicolek’ pemerintah sehingga suara kaum menengah tidak selantang kaum yang berada dibawahnya.

Contohnya, Pemerintah hanya berani memainkan harga Kedelai. Mereka tahu bahwa kaum yang berada dibawah hanya mampu membeli pangan yang terbuat dari Kedelai. Coba pemerintah berani ‘mencolek’ Middle Class, seperti menutup akses Internet 1hari saja. Apa yang terjadi ? mungkin tragedi ’98 akan kembali bergolak SEKARANG. 

Kami hanya sekumpulan pemuda yang diwadahi disebuah organisasi Karang Taruna. Kecil. Kami tidak bisa berteriak selantang Bung Fadjroel, bertindak senekat Opung Pong Harjatmo yang memanjat ‘Gedung Pantat’ kemarin. Kita bukan siapa-siapa, tapi kita mimpi untuk membawa negara ini Maju. Bagaimana caranya ? Perpustakaan Teras Baca adalah wadah bagi pemuda, kita berswadaya berdasarkan apa yang kita bisa. Apapun itu. Tidak peduli pemerintah jungkir balik mencari cara untuk bisa menipu kami (rakyat Indonesia).

Ini tangan kami (pengurus Teras Baca) ulurkan kearah kalian. Kami ingin menggenggam tangan kalian erat untuk berSATU. INGAT, perjuangan kita belum selesai. Bukan untuk melawan sesama warga Indonesia yang masih SATU bangsa, tapi mari kita berjuang dengan apa yang kita bisa. Berjuang demi memajukan Indonesia, dan Pejuang itu adalah KAMU. 

berSATU tidak harus SATU, tapi berSATU sudah pasti MENYATU !!


*boleh aku minta tissue ? sedih habis nulis ini.*

Tag : ,

GELAP

By : Harry Ramdhani

Siang itu aku terkesan oleh salah satu twit dari Wira Panda (@Wira_Panda) kalo dia ingin mengajak Followers-nya untuk ikut nulis cerpen dimana bahannya dari lagu2 dari Peterpan. #CerpenPeterpan itu tagar untuk memudahkan orang2 mencarinya. Aku ingin sekali bisa berpartisipasi untuk menulis cerpen, karna aku-pun kini sedang belajar menulis. Tapi sayang, aku hanya tahu lagu peterpan yang berjudul ‘Ada Apa Denganmu’. Aku ingat saat pertama kali belajar bermain gitar dan ketika aku tanya temanku yang sudah mahir main gitar katanya, “belajar aja pake lagu peterpan yang ‘Ada Apa Denganmu’. gampang kok kuncinya, cuma E, C, G, dan D. Begitu aja terus sampe lagunya abis.” Bahkan sampai gitarku patah... Ani. Dan itulah alasanku baru posting lagu ini sekarang bukan hari saptu (28/7) lalu seperti yang diminta oleh Kak Wira sebagai deadline.



Pagi itu, saat kuliah MKDU (Mata Kuliah Dasar Umum) Sosial Budaya pada semester awal dimana seluruh mahasiswa angkatan baru digabungkan untuk mengikuti kuliah tersebut. Aku datang terlambat. Di luar kelas berdiri seorang wanita yang terlihat tampak panik karena nampaknya dia-pun terlambat. Rambutnya diikat secara sederhana kebelakang dengan ikat rambut berwarna kuning cocok dengan sepatu Jerry yang sama berwarna kuning.”Kenapa masih diluar kelas ?” tanyaku. “Aku terlambat,dan dosen ini kayaknya Killer. Jadinya aku takut untuk masuk” katanya dengan keringat bulat-bulat yang timbul dikeningnya.

Sebenarnya Aku tidak pernah terlambat untuk masuk kelas tapi kali ini karna perutku sedikit sakit karena semalem makan tempe penyet yang rasanya dapat membuat lidah melet tak karuan. Ketika sampai di kampus, Aku sudah dua kali masuk kamar mandi hingga terlambat seperti sekarang.

Aku memang bukan mahasiswa yang terlalu rajin untuk selalu masuk kelas, kalau sudah terlambat dan sudah bisa dipastikan nanti akan disembur oleh dosen ya aku tidak masuk kelas. Tapi, kali ini berbeda. Ia yang berdiri di luar kelas, Ia yang tampak takut masuk kelas karena terlambat, Ia yang memiliki semangat untuk tetap masuk kelas walau nanti yang Ia-pun tahu kalau nanti akan disembur oleh dosen, telah membuat ‘Jiwa Kelakian’ dalam diriku seakan keluar.

Ada dua posisi dimana ‘Jiwa Kelakian’ setiap laki-laki itu akan keluar secara tida diduga. Pertama, ketika Ia sedang merasa tertekan oleh orang-orang yang tampak ‘garang’ dan mengancam hidupnya. Dan Kedua, catechism Ia sedang bertemu dengan wanita cantik. Yaa, wanita cantik, seperti dia yang sedang berdiri di luar kelas.

“Jadi kamu mau masuk kelas ?” Tanyaku basa-basi.
“Iyah” Suaranya semakin pelan. Sungguh pelan sampai hatiku-pun bisa mendengar suara itu.
“masuk aja yuuk, siapa tahu itu Dosen lagi baik hari ini.”. Inilah posisi dimana laki-laki tidak boleh melakukan hal bodoh. Niatnya ingin serius malah jayus.
Ia diam. Aku tahu diamnya itu pasti seakan ingin menghiraukan ucapanku tadi dan dalam hatinya berteriak “APA SIH INI ORANG, SANA DEUH. GANGGU AJA”. Tiba-tiba Ia melangkahkan kaki meninggalkan luar kelas dan tanpa sadar tanganku mengayunkan kearah tangannya dan menggenggamnya. 
“Hey, mau kemana ?” ucapku tanpa sadar.
Ia memandangku dengean tajam. Aku-pun melepaskan genggaman, “Maaf”.

Disudut tangga, aku melihat sebuah dus yang bekas dipakai oleh BEM menggalang dana korban gempa. Inilah laki-laki, selalu keluar ide yang aneh untuk melakukan suatu hal. Bertindak dahulu tanpa memikirkan akan terjadi apa nantinya atau dalam istilah orang sunda “Kumaha Engke”.

 
“Kita pake ini aja untuk masuk kelas, yuuk. Pura-pura aja abis ikut baksos sama BEM.” kataku sambil mengajaknya.
“Hah, gimana caranya ?” jawabnya seakan tidak ada pilihan lagi untuk bisa masuk kelas.


“Kita pake ini aja untuk masuk kelas, yuuk. Pura-pura aja abis ikut baksos sama BEM.” kataku sambil mengajaknya.
“Hah, gimana caranya ?” jawabnya seakan tidak ada pilihan lagi untuk bisa masuk kelas.
“Udah ikut aja, biar nanti Aku yang ngomong. Kamu bawa Almamater ‘kan ?”
“Bawa sih, tapi cuma satu.”
“Kamu pake deh itu Almamaternya.”
“Bener nih ?”
“Yaampun, udah pake aja sih itu Almamaternya. Masih pengen masukkan ?” Aku jadi sedikit emosi karena Ia yang nampak ragu.

*tok tok tok,* Assalam’mualaikum. Aku membuka pintu sambil memegang dus tadi.

“Maaf, Ibu, kami terlambat masuk kelas. Tadi abis melaksanakan baksos untuk korban gempa”. Kataku sambil terbata-bata.
“Kamu tidak tahu kalau pagi ini ada kuliah saya ?”
“Iyah, kami tahu kok, Bu. Aaa, kami ingat kata Ibu minggu lalu tentang kegiatan sosial. Euum, yang menusia adalah makhluk sosial dan tidak dapat hidup sendiri. Maka, kami sadar bahwa saudara kita disana sedang tertimpa musibah dan kita tahu bahwa manusia tidak hidup sendiri, masih ada kami yang akan membantu”. Jawabku seakan itu sudah Aku persiapkan sebelumnya. Lancar.
“Ouw, jadi kamu masih ingat pelajaran minggu lalu. Tapi kenapa harus sepagi ini dan bawa dus bekas itu ? sangat tidak elegan.”
“Yaa, karena kami melakukan ini di jalan raya, maka waktu yang tepat adalah pagi. Kalau kami tunggu sedikit siang, jalanan sudah sedikit renggang. Dan, dus ini memang tidak pantas untuk melakukan bakti sosial. Sama saja seperti mengemis atau minta-minta, bedanya kita rapih dan memakai almamater dan pengemis tidak.”
“Kamu tau kalo islam itu…”
“Iyah, Ibu, Islam itu tidak mengajarkan untuk mengemis atau minta-minta tapi Islam mengajarkan kita untuk  memberi. Tapi, kita hanya mediator untuk menyalurkan ini kepada orang-orang yang membutuhkan” ucapanku yang tadi memotong pembicaraan Dosen.
“Yasudah, duduk sana”. Kata Ibu Dosen.
“Maaf, Bu, karena kami terlambat.” Aku jalan menuju bangku.
“Oiyah, siapa namamu ?”
“Aku, Rama dan ini…”
“Aku, Agnes”. Jawabnya dengan tegas. Aku-pun sedikit terkejut, betapa berbedanya Ia tadi ketika diluar dan di dalam kelas. Dan… namanya Agnes, sungguh cocok dengan kecantikannya.
“Rama dan Agnes, mulai saat ini kalian jadi Asisten Dosen untuk mata kuliah Sosial Budaya dan jangan duduk dibelakang, duduk didepan”, Kata Ibu Dosen.

Kelas mata kuliah Sosial Budaya selesai. Aku kembali bersama teman-temanku dan… Agnes kembali bersama temannya pula. Aris, temanku langsung menyambar, “kamu beneran tadi baksos ?”. memang dia ini terlalu serius dalam menanggapi hal sekecil apapun tapi dia pintar, “Yaa, engga lah. Orang itu aku nemu dus di luar kelas”. 

Ketika asik nongkrong di Kantin, Ringga menepukku dengan sedikit keras. 
 
“Ram, hebat bener kamu yah.” Kata Ringga.
“Hebatlah, urusan ngomong begitu sama Dosen mah nih Rajanya.” Kataku sambil menepuk dada.
“Bukan, tapi Agnes. Jadi semalem Aku smsan sama dia sampai jam 12an lewat malah dan pas adegan aku mau nembak dia ternyata Agnes salah sms gitu ke Aku, engga penting sih isinya tapi intinya Aku tahu kalau dia udah punya pasangan.” Ringga menceritakan itu dengan serius.
Aku tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Ringga. “Tapi kamu udah pernah ketemu dia ? atau paling engga yah udah sama-sama kenal gitu?” tanyaku penasaran. Dan Ringa menggeleng. Ketika ingin pulang, “Ram, pengen nomornya Agnes gak nih ?”. kata Ringga. “Hah, nomor apa ? dalemannya ?” menimpaliku dengan sedikit becandain RIngga yang telah pasrah mendekati Agnes. “Bukaaaaaan, nomor HP-nya ‘lah.” Ringga semakin geram padaku. “Engga ahh.” Tolakku atas pemberian nomor itu.

Malam hari ketika Aku sedang mengerjakan tugas ada sms masuk, dan itu dari… Agnes. Singkat sekali sms-nya, ‘Thx, Rama. Agnes’. Senang sih karena dapet sms dari dia tapi Aku binggung dapet nomorku dari siapa ? Tak penting.
Aku : ‘Iyah, Agnes, singkatnya sms kamu tadi. Kalau diingat-ingat, lebih panjang ucapan kamu ketika ngomong sama Dosen Killer tadi pagi.’
Agnes : :) diam adalah emas.
Aku : Okeh, udah ahh Aku ngerjain tugas dulu nanti keburu malem.
Agnes : Tugas apa, Ram ?
Aku : Diam adalah emas :)
Agnes : ihh, Rama, tugas apa sih. Kayaknya tadi gak dikasih tugas deh.
Aku : :)
Agnes : RAMAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA.
Aku : Heh, Kamu sama Aku ‘kan beda jurusan. Jadi ini mah Aku lagi ngerjain tugas Prodi Aku, wle:p
Agnes : ouw, bilang dong dari tadi.
Aku : :) diam adalah emas.
Agnes : RAMAAAAAAAA, rese ihh.

Mulai saat itu, Aku dan… Agnes jadi dekat. Aku tahu dimana batasku dengan Ia yang sudah punya pasangan dan Aku… single. Kita berdua hanya Asisten Dosen untuk Mata Kuliah Sosial Budaya.

Tidak terasa, sudah 2 tahun Aku dekat dengan Agnes. Saling bertukar cerita antara satu dengan lainnya. Kini, teman Agnes di Kampus adalah temanku juga. Begitu sebaliknya. Pernah aku satu kali mengadakan kegiatan penggalangan dana yang tadinya dulu hanya basa-basi tapi kini menjadi kenyataaan.

Aku ingat ketika Aku mengajak Agnes pulang bersama. Yaa, pertama kalinya. Aku tahu ketika itu hubungan Agnes dengan pasangannya sedang tidak bagus. Hal pertama yang Aku lihat adalah matanya yang memerah, mungkin habis menangis di kostan temannya. Lama berbincang dengan Agnes, akhirnya Ia-pun bisa balikan lagi dengan pasangannya. Aku sebenarnya tidak usah ‘belaga’ ngasih nasehat, karena Aku tahu bahwa mereka  tidak akan bisa berpisah lama-lama. Dan akan selalu begitu selama mereka berhubungan. Putus-Nyambung.

Sore itu berbeda, Agnes datang menghampiriku dengan tangis. Dan mengatakan “Rama, tolong jangan dekati Aku lagi”.

Sampai malam datang, aku masih tidak tahu maksud dari kata-kata itu. Eumm, yang Aku tahu memang mereka kini sedang berpisah. Tapi… apa hubungannya denganku.

Aku berdiri dalam gelap. Tersungkur dalam keheningan malam. Berlarian dalam pikiran. Terkapar oleh angin yang liar.

Aku melihat tiga bintang yang berdekatan, bentuknya mirip anak panah yang sedang meluncur memecahkan malam, meleburkan dinginnya malam, menghancurkan dinding keterpaksaan perasaan.

Aku tidak habis pikir kenapa dengan kau sekarang ini ?

Apa salah yang telah Aku buat sampai Kau seperti ini sekarang ? tell me, please.

Jika kemarin Aku sempat membuatmu merasa kecewa, tolong  maafkan aku. Tidak perlu diucap, karena kita-pun saling memahami.

Sampai kapan ini ? Embun diatas rumput sudah mulai bermunculan, Ayam sudah siap membangunkan orang-orang. Matahari perlahan memperlihatkan fajar-nya, tidak seperti putri malu yang menguncup ketika disentuh.




@MOTION975FM (motion 97.5 fm)

By : Harry Ramdhani
Tulisan ini bukan untuk menjelaskan bagaimana atau seperti apa ia. Tulishanya berdasarkan sedikit pengetahuan yang aku tau. Mungkin bisa saja seperti sebuah Delusi. Aku sadar, sebuah Delusi dapat menyebabkan suatu kesalah-pahaman antara satu dengan yang lain. Dan ini adalah sebuah alasan kenapa aku ‘nge-follow’ orang tersebut. aku hanya kesal karena pernah membaca sebuah coretan yang entah dimana itu, aku lupa pastinya, “ALASAN HANYA UNTUK SEORANG PECUNDANG”. Sederhananya seperti ini, aku Follow seseorang berdasarkan WAWASAN yang aku tahu, berdasarkan PENGETAHUAN yang aku tahu dan ini adalah sebuah alasan. Alasan yang membawa aku untuk ‘follow’ seseorang. Dan itu adalah KAMU


RADIO…


Eum… aku ingat ketika stasiun televisi dirumah rusak. Saat itu keadaan ekonomi keluarga kami sedang tidak baik. Papah sama sekali tidak punya uang untuk memperbaiki televisi, padahal saat itu acaranya sangat menarik seperti pemutaran video klip anak2 dimana lagu ‘diobok-obok’ dengan tuan Tukul yg menjadi model lagu tersebut yang sangat nge-hits. Dea Imut masih benar2 imut (aaa, sampe sekarang-pun masih imut ahh). Trio Kwek-Kwek masih pada cempreng2 suaranya. Aahhh, aku merindukan masa-masa itu.

Aku hanya bisa menerima dengan apa adanya. Terpaksa setiap ada acara tersebut aku selalu pura2 main ke rumah tetangga 2 jam sebelum acara, berharap cuma bisa numpang nongton. Dan berhasil. Aku melakukan itu selama 2 minggu. Hingga pada akhirnya papah hanya sanggup membeli Tape bekas di Poncol (yaa, ketika itu Poncol masih jual segala macem barang2 bekas). Merknya Pollytron. Hal pertama yang terlintas dipikiran adalah bisa mendengar lagu2nya Joshua walau lewat kaset. Ternyata eh ternyata, hanya bisa digunakan mendengarkan radio. Apa boleh buat, namanya juga bekas. Ucapan Papah ketika tidak bisa aku lupakan “seengganya di rumah gak sepi, masih ada orang yg ngoceh”.

Tidak ada stasiun radio yang memutarkan lagu2 anak, kebanyakan yaa… dangdut. Dan yang sangat senang pastinya Mamah, dari pagi sampe ketemu pagi dangdutaaaaaaaaan mulu. Saat itu aku masih kelas 2 SD dan aku sudah hafal lagu2nya Meggy Z, Rhoma Irama, Elvi Sukaesih, dll.

Singkat cerita. Masih dengan radio yang sama, masih tidak bisa digunakan untuk memutar kaset.
Saat itu hari Minggu, tidak ada orang dirumah, hanya ada aku, televisi yang sudah diperbaiki, dan radio tentunya. Aku iseng menyalakan radio, memutar Tuning untuk masih mencari radio dan taraaaaa… aku menemukan suara Desta Club 80’s. wuah, ternyata Desta selain sebagai Drumer Club Eighties juga seorang penyiar. Dan aku putuskan untuk tidak merubah saluran radio, karna ketika itu aku sangat nge-fans sama Club Eighties.
Tak diduga dan tak dinyana, itu adalah sebuah stasiun radio legendaries, Prambors. Suara Desta menemaniku setiap pagi sebelum berangkat sekolah. Ia sangat cocok ber-partner dengan Arie Dagienkz (@dagienkz) yg aku juga tahu dari acara Reality Show H2C (Harap-Harap Cemas). Aku sama sekali tidak merubah-rubah saluran radio, hanya Prambors.

Entah mungkin karena sering dinyalakan, akhirnya radio itu rusak. Lagi2 karena keadaan ekonomi, aku tidak bisa memperbaiki radio tersebut dan alternative hiburan kembali ke televisi. Sedih ? sudah pasti. Menungu radio bisa diperbaiki itu sama saja seperti menunggu panen buah. Setahun mingkin hanya satu kali.

Singkat cerita. Aku harus mencari Prambors diradio. Aku lupa tepatnya tahun berapa, kalau tidak salah awal Januari 2008 Desta dan Dagienkz tidak kembali siaran pagi di Prambors. Panda ‘lah yg mrnggantiakn posisi mereka siaran. Selama kurang lebih selama 2 tahun aku secara munafik masih mendengarkan Prambors. Aku sama sekali tidak menjelekan Prambors atau Panda, tapi untuk apa aku masih mendengarkan Radio itu kalau bukan oran yg aku suka yg siaran.

Kita akhiri membahas Prambors.

Seperti biasa, aku mulai mencari beberapa Frekuensi. Dan aku menemukan seperti Jak FM. Sungguh fantastis Radio ini. Sama sekali jarang ada orang yg siaran. Hanya rentetan 10 lagu yg terus diputar. Lama aku mendengarkan radio tersebut, seperti biasa, frekuensi hilang begitu saja. Kesal.

Aku harus putar-putar kembali tunes radio yg telah rusak untuk membaca angka. Berputar begitu saja. Kalau aku tidak salah ingat, pukul 9am. Yaa, aku mendenar suara yang telah lama hilang dari radio. Suara itu adalah suara Arie Dagienkz (@dagienkz). Wuihh, aku menemukannya kembali. Menemukan suara yang dapat membuat aku duduk manis didepan pesawat radio untuk mendengar Ia siaran. Dan nama Radio itu adalah MOTION Radio. Saat itu aku tidak tau frekuensinya krna alat pembaca di radioku telah rusak.

Aku langsung lari ke meja untuk mengambil solatip. Menyolatip pemutar tunes agar tidak bisa diputar2 lagi oleh siapa-pun.

Sungguh senang aku bisa mendengar suaranya kembali mengudara. Serasa menyempitkan seisi rumah yang telah sempit dengan suara khas dan banyolan2 tak karuan. Banyolan itulah yang sangat aku rindukan oleh seorang penyiar.
Dagienkz siaran berdua dengan wanita, tidak tau siapa tapi aku rasa Ia adalah pengganti Desta80s yang tepat. Mamah sempat berkata “suara siapa itu ? jowo tenan. Kayak logat orang jawa tengah”. Aku pun tidak tau, yang jelas membuat perutku terkocok oleh materi siaran mereka.
Kerap aku mencoba rekwes lagu ketika mereka siaran tapi sama sekali tidak pernah dijawab. Aku terus mencoba dan teuteup aja gak dijawab. Hhu :(


#FYI: ternyata wanita itu namanya (at)miund







Minggu siang, aku kembali memantengi Motion Radio.

Dan yang siaran ketika itu adlh Dinda Poerbono (kini udah gak siaran, entah kenapa?). aku coba rekwes via sms dan masih saja gak dijawab. Hingga pada akhirnya terlintas di kepalaku untuk membuat akun Twitter saat itu juga. Soalnya yang aku perhatikan yg dijawab oleh penyiar hanya orang2 yg rekwes via Twitter.

Aku membuat akun twitter dengan nama (@HarRam). Binggung juga maeninnya ktka itu. Maklum, anak pesbuk. Tak peduli, yang penting bikin, follow, trus rekwes. Itu yg aku tau di pesbuk kalau orang2 pada baru bikin twitter “Follow gue ya ditwitter @blablaaa”. Baru aku bikin dan follow @MOTION975FM ternyata lansung di Folbek. Begitulah yang aku tau dipesbuk setiap orang yg baru bikin twitter selain minta di follow ya minta di folbek. Aku senang, baru aja bikin akun ternyata langsung di folbek sama @MOTION975FM. Wuuuiiiihhhh.

Menjelang 2 tahun Motion Radio.
Ada salah satu teaser yg mengatakan bahwa nanti Hilbram Dunar (@HilbramDunar) dan Artasya Sudirman (@myARTasya). Yeay, Hilbram-pun ikut siaran di Motion 97.5fm. wuiih. Aku juga baru tau kalo ulang taun Motion selalu ada kuis yg namanya ASBAK (Asal Semua Tebak). Lama aku mengikuti radio ini sampai hafal nama2 Programny seperti siaran pagi itu #SlagiAda (Selamat Pagi Anda Semua) dari jam 6-10 pagi dan penyiarnya adalah Arie Dagienkz (@dagienkz) dan Asmara Miund (@miund). Aku suka siaran pagi ini, penuh dengan semangat, penuh dengan tawa, penuh dengan informasi. Aku paling suka adalah ketika adegan dengan Pak Polisi, Arie Dagienkz sebagai pak Polisi dan Asmara Miund sebagai pengguna jalan. Percakapan mereka sungguh menggelitik, seperti,

“Mbak dari mana ?” kata Pak Polisi.
“Dari Bogor”, kata Miund.
“Jauh juga, yaa. Berapa lama kesini ?”
“yaa, kira2 dua hari berkuda”.

Tidak hanya itu, setiap siang-pun ada Program Chik-Chat. Seru ‘loh, Isinya tentang wanita. Apa lagi penyiarnya Thisi Trensi. Kalau tidak salah, Ia dulu yg jadi penyiar #SeleraKita sebelum Hilbram Dunar dan Artasya Sudirman.

Dan ini, siaran sore. Mereka berdua menemani orang2 yg kena macet di Jakarta dengan menyayat-nyayat hati pendengar. Hilbram Dunar seorang penulis yg paling jago mengkondisikan suasana ditambah Artasya yg menimpali dengan lihai. Tapi, tetap dengan porsi yg tepat dan dibalut comedy. Hebat sekali mereka berdua itu.



Hilbram Dunar(@HilbramDunar) dan Artaya Sudirman (@myARTasya)

Sungguh sajian yg bisa membuat gue ‘wajib’ mendengarkan setiap waktu siaran Motion Radio. Kalau samapi ada yg kelewat, rasanya seperti ketika ujian tapi lupa bawa pensil 2B… (lebay gak sih ? enggak ahh)



Berkat Motion Radio, gue tau apa itu Stand Up Comedy.

Berkat Motion Radio, gue tau ada komunitas untuk lagu2 anak. Namanya Mari Nyanyi (@Lagu_Anak)

Berkat Motion Radio, gue jadi semakin yakin dengan radio. Bahwa radio adalah proses komunikasi dua arah. Lebih tepatnya Monolog dua arah. Penyiar bicara, kita bicara sambil membayangkan.

Berkat Motion Radio, gue mulai belajar menulis. Karna setau gue crew Motion itu rata2 penulis.

Berkat Motion Radio, gue jadi maenan twitter.


Kini Motion sudah 3 tahun. Andai suatu saat nanti ktka aku sudah waktunya untuk magang, mungkin gue akan memilih radio ini. Mungkin… kalau diterima.

Motion Radio ‘lah alasan gue maen twitter, Motion Radio ‘lah segalanya. Kini mereka sudah jadi anggota baru keluarga gue di rumah. Suaranya terus mengudara di seantero rumah gue anpa berenti.


#FYI: gue belajar maen perwayangan lewat sandiwara ‘Asal Muasal Pandawa dan Kurawa’. Kalian bisa donglot podcastnya di web Motion Radio. Kocak banget, sumpah. Melestarikan budaya Indonesia dengan sesuatu yang baru. Tidak penting kemasannya seperti apa, tapi isinya yg membuat kita nyaman untuk terus melestarikannya. Dan, sempet ditanyangin juga di Indosiar.



NB: dear, Miund. Maaf atas yg gue lakuin di Twitter dan semoga tidak terjadi apa2 nanti ketika proses melahirkan. Sakses.

sakses MOTION RADIO

segitu dulu aja kali yaak, gak cukup nih di blog.
rakyat Motion : 
Anton Nugroho, salah seorang yg bikin Pandawa dan Kurawa :

#SlagiAda :

ini Vito Gamma, yaa ?




SAYA Motioners, Kamu ?

Apakah Jakarta Masih Butuh Pemimpin ?

By : Harry Ramdhani
3 Juni 2012 Ini untuk kali pertamanya gue dateng ke Bukit Duri, kata bokap gue sih ini Jakarata Timur dan cuma dibatesin kali ciliwung sebagai pemisah antara batas Jakarta Timur dan Jakarta Selatan. Maklum, gue buta banget sama jalan, tiap kemana aja pasti nyasar. Hari ini hari minggu,bokap ada kerjaan disana dan gue cuma nganter doang ga ikut-ikutan kerja. Sepi sih Jakarta kalau hari minggu, jalanan nampak renggang. Tapi gue punya fakta unik, bahsa setiap kali gue ke Jakarta sama sekali ga pernah kejebak macet. Beda sama orang-orang yang selalu ngomong ‘abis kena macet nih’. Jadi gue rada ge percaya kalau Jakarta itu kota yang selalu macet. Gue bisa ngomong gitukare na jarang-jarang ke Jakarta. Rumah gue sendiri di Perumahan Bambu Kuning,Bojonggede, Bogor. Kuliah di Bogor. Tapi setiap orang Bogor nanya gue anak mana, pasti gue jawab, “Gue anak Jakarta”. Giliran orang Jakarta yang nanya,”Gue anak Bogor”. Kalau mau tahu kenpa begitu, silakan dateng aja ke rumah gue. lu bakal nemu jawabannya sendiri kalau udah kesini. Bokap lagi sibuk kerja, dan gue nyari aja Warkop deket sana dan ketemu jaga. Tidak sulit sih nyari warkop di Jakarta, disini warkop terus jarak 4-5 meter ada warkop lagi. Mungkin itu kali ya sebab-musabab Dono, Kasino Indro bikin nama ‘Warkop DKI’. Biar orang-orang ga usah bingung kalau nyari mereka. Dasar-dasar simeotika banget, tapi itu bener-bener dasar. Dasar dari pemikiran yang sangat cetek  Penjaga warkop itu sudah tua, kira-kira umurnya diatas 65 tahunlah. Ubanya udah nutupin keseluruhan rambut. Sedikit keriput,urat sama tulang udah balapan pengen keluar dari kulit, tapi dia putih. Gue memesan kopi hitam, ini gue anggap cocok untuk bikin mata ‘cespleng’ alias melek. Maklum abis perjalanan yang jauh sih. Disebelah warung itu ada warung soto, perut laper tapi gue kagak doyan soto. Jadi, ngopi aja deh. Gue bisa menebak kalau penjual kopi ini adalah asli orang Jakarta, soalnya ga ada gorengannya. Warkop kalau dijaga sama orang sumedang, pasti ada gorengannya. Tapi kalau dijaga sama orang jawa, tetep ada gorengan tapi tipis-tipis. Ga percaya, coba aja. Dari kecil gue udah keliling warkop, karena bagi gue mie instant buatan mereka selalu enaak dan selalu beda kalau duatan sendiri atau buatan rumah. (FYI: sampe sekarang pun gue masih belum bisa nemu racikan yang pas untuk bisa masak mie instant persis kayak buatan warkop) Letak warkop pasti bersebelahan dengan pangkalan ojek, dan tampang tukang ojek selalu bisa bikin gue ‘ciut’. Bayangin, mukenye udah kummel kena asep kendaraan, mereka kalau abis narik pasti ngebunyiin semua pergelangan tubuhnya dan seakan pengen mukulin orang gara-gara penumpang ada yang kurang bayarnya dan kenapa mereka selalu melakukan itu didepan gue sambil berdiri ? gue takut., suer. Tapi gue selalu suka ketika ngobrol sama mereka (tukang ojek), pengetahuannya luas banget. Gue yakin orang yang kuliah kalah dengan pengeahuan yang dipunya tukang ojek. Udah cukup siang sih, kira-kira jam 10’an, lima tukang ojek lagi nangkring di motor masing-masing. Cuma gue sama Babeh di warung. Dan hingga akhirnya tukang koran dateng buat ngasih koran itu ke Babeh. Kayaknya dia seneng baca koran. Keliatan, dia akrab banget sama tukang koran. Dan babeh adalah pelanggan koran itu. Gue sangat suka kalau masih ada orang yang susah nyari duit tapi masih nyempetin buat beli koran. Gue nanya ke Babeh, “Ada berita apa, Beh ?” “ada busway terbakar dibunderan HI, supirnya cewek lagi. Tapi ga ada korban jiwa sih”, jawab Babeh. Gue ngangguk-ngangguk sambil perhatiin koran yang ia beli, ternyata Media Indonesia. Wuww, ini kalau bukan dijual dikereta bisa dua kali lipat harganya. Tapi babeh tetep bisa nyisihin duit buat beli koran. Sambil nawarin sebagian koran yang dibaca ke gue, Babeh ngerapihin meja bekas tadi orang yang minum sebelum gue. Otak pengen tahu gue muncuol aje gitu tiba-tiba untuk ngobrol ke oang lain. “Beh, dapet hak suara untuk pemikada nanti ?” kata gue. “Dapet dong, kan gue asli Jakarta”, kata Babeh. “Walaupun sambil dagang begini, gue selalu akan ngusahain buat nyoblos tanggal 11 nanti” tambahnya. “Terus nanti Babeh milih siapa untuk jadi Gubernur ?” “Wuah, kalau itu sih rahasia” “emang ngaruh gitu, Beh, kalau yang menang nanti bisa ngubah Jakarta kearah yang lebih baik ?” sebagai pakar #OBSET (OBROLAN SEtSAT) pertanyaan-pertanyaan seperti itu selalu keluar secara tiba-tiba dari otak gue. “tau kagak, Babeh jualan kopi itu dari jamannya Ali Sadikin jabat jadi Gubernur Jakarta” “berarti ga ada perubahan sama sekali, dong ?” “ada, harganya naek terus tuh kopi yang dijual Babeh, penutupnya berubah terus tuh, gelas yang Babeh pake juga berubah.” “dan itu ada kaitannya sama Gubernur yang menang Pemilukada ?” “ga ada, tapi Babeh melakukan perubahan berdasarkan kebutuhan Babeh aja, ga perlu nunggu mereka jadi guberbur dulu buat ngarepin perubahan yang dijanjiin. Babeh seneng nglayanin orang yang lagi ngentuk trus Babeh bikinin kopi dan dia bisa seger lagi untuk ngelanjutin kerjaannya. Dan mereka sendiri yang akan melakukan perubahan itu sendiri” Ada ibu-ibu separuh baya yang dateng untuk ngopi juga. “contohnya dia nih”, sambil nunjuk ibu-ibu yang baru dateng. “dateng kesini gara-gara ngerasa capek dan ngantuk, makanya pengen ngopi biar seger lagi. Kalau dia udah segerkan bisa kerja lagi tuh. Kalau udah kerja, dia bakal ngerubah hidupnya sendiri” “lah, baru juga gue dateng, udah maen tunjuk aje”, kata ibu yang baru dateng. “emang lagi ngobrolin ape ?” “ini, tentang pemilukada nanti”, sahut gue. “ouw, keren juga yee sekarang obrolannye. Biasa juga ngobrolin bola kalau kagak nagihin utang gue” “ibu dapet hak pilih nanti ?” “dapetlah, warga Jakarte. Masa ga dapet dang a milih. Tapi ngomong-ngomong masalah perubahan, perubahan terbesar yang dilakukan manusia adalah ketika dia meninggal. Bukan ngubah ini lah, itu lah” “orang-orang seperti kami cuma jadi pelengkap data aja buat mereka. Pelengkap data orang kurang mampu” kata Babeh menyamber obrolan gue sama Ibu yang baru dateng.”tau tuh PNS, doyan banget ngerjain data”. Sambil terseyum dan kacamatanya sedikit turun ke hidung. “Iya sih, namanya juga PNS. Pengumpul Nilai Statistik” kaya gue menyambut celetukan Babeh. Mereka pun tertawa gara-gar celetukan gue tadi, entah mereka tahu stastustik atau tidak, yang jelas tawa mereka mengartikan bahwa mereka bahagia. Yaa, tertawa adalah bahasa universal bukan musik. Dengan tertawa, semua tau kalau kita sedang bahagia. Tidak ada makna lain untuk mengartikan tertawa. Kadang gue pikir, kayaknya tayangan tipi pada lebay deh kalau ngeberitain tentang Jakarta. Jakarta demen banget macet, Jakarta demen banget banjir, Jakarta banyak orang miskinnye, macem-macem dah. Padahal kyalau diliat langsung, ga begitu-begitu amat deh. Di Jakarta masih ada orang seperti Babeh. Di Jakarta masih ada tukang ojek yang selalu punya pengetahuan yang luas. Di Jakarta masih ada pedagang soto yang masih tetep jualan meskipun gue udah kagak doyan, di Jakarta masih ada ibu yang gue baru tahu setelah dia pergi bahwa dia adalah ‘timer’ angkot yang ngajarin gue tentang perubahan yang paling besar yang akan dilakukan oleh setiap manusia. Terima kasih untuk kalian yang udah ngajarin gue banyak hal, bahwa melayani itu lebih baik daripada melayani. (FYI: kalau pengen ngobrol sama mereka, silakang dateng aja ke Jl. Bukit Duri utara. Lokasinya tepat dideket plang tulisan itu)
Tag : ,

Teras Baca

By : Harry Ramdhani
Yups, nama gue, Harry Ramdhani. Banyak orang yang melakukan PERUBAHAN. Semua orang melakukan perubahan kapanpun. Dari perubahan yan sekedar remeh-temeh sampai perubahan kearah sebuah revolusi baru. Tapi, ada satu perubahan terbesar didalam diri manusia, perubahan itu adalah kematian.

Perubahan yang tidak bisa terelakan oleh setiap manusia, dan manusia pun harus menerima perubahan itu apapun apapun alasannya. Sebelum gue melakukan perubahan terbesar itu, kini perubahan yang sedang lakukan adalah perubahan atas hal pendidikan. Memang sedikit berat kalau kita ingin mengubah suatu sistem pendidikan yang kita anggap ‘ada yang salah’.

Tapi itulah yang terjadi sekarang. Dan gue ingin merubah itu. Sudah banyak orang yang melakukan perubahan dibidang ini, sebut saja, Sekolah yang didirikan oleh Bahruddin di Salahtiga, sana. Dia membuat sebuah komunitas kecil tetang pendidikan yang menurutnya benar. Dia membuat ‘Sekolah Rakyat’ di era dimana Indonesia telah ikut didalam anggota G20. Anggota G20 merupakan kumpulan dari negara-negara yang mempunyai kekuatan ekonomi yang sangat kuat, tapi seorang Bahrudin tetap saja tidak sependapat. Banyak orangtua yang tidak mampu menyekolahkan anaknya karena biaya. Putus sekolah karena kekurangan biaya. Tidak bisa sekolah karena harus ikut mencari uang membantu keluarga. Bahruddin membangun SMP untuk anak yang tidak mampu. Bukannya bebas biaya, tetapi Bahruddin membiarkan untuk setiap angkatan mendiskusikan sendiri kepada kelompoknya untuk menentukan berapa biaya yang harus dikeluarkan dan Bahruddin pun tidak pernah ‘mematokkan’ harga untuk bisa belajar. Baginya, belajar tidak perlu biaya, semua orang berhak untuk bisa belajar dan mendapat pengetanuan.

Geu ingin seperti dia, Bahruddin. Kini, hampir satu tahun Perpustakaan Teras Baca yang telah gue buat bersama anggota Karang Taruna RT. Kita membangun bersama, tetapi setelah terbangun, mereka pergi dan meninggalkan gue disini. Sendirian. Dan inilah perubahan yang gue lakukan dan gue perjuangkan.

Kalau diukur dengan lama waktu, maka gue telah gagal. Gagal menjalankan Perpustakaan ini. Gagal mengajak masyarakat bahwa membaca itu penting. Sebelum gue mengenal Bahruddin, sudah terpikir sejak dulu untuk bisa membangun perpustakaan ini. Alasan gue cukup sederhana. Pertama, dengan orang membaca, maka ia dapat melakukan berdasarkan apa yang ia bisa. Kedua, dengan ia membaca, ia dapat menulis seperti buku yang ia baca, karena dengan membaca ia dapat menulis apapun dan inilah kelebihan bangsa Indonesia yang tidak terekspose oleh media untuk mengharumkan nama Indonesia dimuka Internasional. Banyak orang Indonesia menuangkan segala ide cemerlangnya lewat tulisan, tetepi karena tidak terekspose, maka itu seperti membuat masakan tetapi tidak ada yang menyantapnya. Ketiga, gue selalu percaya investasi terbesar yang dilakaukan oleh orang tua adalah ‘menyekolahkan anaknya. Jadi, bagi mereka, dengan mengeluarkan uang berjuta-juta untuk anaknya belajar disekolah adalah bantuk investasi terbesar. Kalau tidak begitu, maka orang tua bisa saja memberikan anaknya uang berjuta-juta untuk dikelola sendiri bukan untuk sekolah. Dan investasi terbesar yang dilakukan oleh anak ketika belajar adalah membeli buku. Buku memang bernilai, tapi tidak untuk isinya.

Hari demi hari gue belajar untuk bisa menjalankan Perpustakaan ini. Hingga pada akhirnya gue berpikir, ‘perpustakaan ini tidak semestinya hanya perpustakaan biasa. Sepertinya perpustakaan ini butuh kegiatan untuk meompang orang agar datang lalu mereka harus membaca buku disini’. Gue putuskan untuk membuat kegiatan seperti ESC (English Sharing Club), sanggar seni lukis, dan belajar bersama. ESC merupakan tempat orang-orang nanti belajar bahasa inggris. Gue bersama teman kulaih gue tentunya telah melakukan sedikit riset bahwa ‘ada yang salah’ dengan cara pembelajaran siswa ketika belajar bahasa inggris. Disekolah, siswa beajar behasa inggris dengan menulis, menghapal kemudian berbicara lalu mendengar. Padahal untuk bisa belajar suatu bahasa sama seperti kita ketika bayi. Pertama kita mendengar dahulu orang berbicara, lalu kita sendiri yang berbicara berdasarkan apa yang kita dengar, sedikit demi sedikit kita menghapal, lalu yang terakhir adalah menuliskannya.

Sanggar seni lukis, awalnya ini dimulai ketika gue berbincang setelah kegiatan 17’an dengan salah seorang guru seni. Dia mengatakan, “tau gak, anak-anak ketika diminta untuk menggambar/melukis, pasti yang dibuat adalah gambar gunung. Padahal pemandangan bisa apa saja. Seperti setumpukan gelas yang terlihat indah dll. Ini karena guru mereka ketika mencontohkan gambar pemandangan, yang digambar adalah GUNUNG. Begitu saja teruuuuus”.

Hingga pada akhirnya gue menawarkan guru itu unutuk mengajar di Perpustakaan dan dia setuju. Belajar bersama, pada awlanya gue berpikir ‘PR merupakan beban bagi setiap pelajar. Gue selama mendapatkan PR pasti terbebani, karena tidak selalma gue itu mengajar di kelas bisa dipahami oleh gue (gue rasa semua orang begitu)’. Makanya gue membuat kegiatan belajar bersama untuk semua pelajar yang memiliki PR dari sekolah dan tentunya didampingi oleh seseorang untuk bisa membantu mereka. Tapi semua tidak ada yang berjalan. Entah apa sebabnya ?

Bulan depan genap satu tahun Perpustakaan ini berdiri, dan gue gagal. Setelah dipikir-pikir, kesalahan terbesar yang gue lakukan adalah gue salah, seharunya membangun dahulu jiwa orang-oang yang akan menjalankan perpustakaan ini baru membangun raganya. Seperti didalam lirik lagu Indonesia Raya “Bangunlah Jiwa, Bangunlah raganya”.

GUE GAGAL DAN SEKALI LAGI GUE MENGAKUI ITU… !!


Ditahun kedua, gue akan melakukan hal-hal yanglebih gila lagi untuk bisa menjalankan Perpustakaan ini. Dan gue akan sombong kepada orang lain atas apa yang telah gue buat. Karena kalau tidak begitu, gue akan terus di injak oleh orang lain atas apa yang telah gue lakukan.

Gue tahu itu susah, tapi pasti bisa… !!

Tahun kedua, gue datang.
Tag : ,

- Copyright © Kangmas Harry - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -