Di Jalan Ini, Kenangan Kerap Lalu-Lalang
By : Harry Ramdhanimana kala aku mulai diam, tanpa suara
di antara riuh-rendah kesenangan
maka, pada saat itu pula
kuingat semua kenangan.
kekasihku?
kenapa kau tanyakan itu?
ia sedang sibuk di masa lalu.
itulah sebabku tak suka
berlama-lama di sini, di jalan ini
kenangan kerap lalu-lalang.
seperti rumput liar,
cinta
tumbuh dan mekar
di mana saja.
di jalan ini, aku parkirkan kepedihan
tepat di persimpangan, yang membedakan keyakinan
bahwa kita punya dua Tuhan
; yang kupercaya dan kau puja.
Pula, di halte yang bis tak pernah lewati,
rindu kerep menghampiri aku yang tengah duduk sendiri
bersama orang-orang menunggu anaknya pulang
dari sekolah; tempat mereka belajar tabah
Pun, Kapten Muslihat akan malu
bahwa masih ada orang menampung airmata
padahal bangsanya sudah merdeka
dan, semenjak luka kaunamai doa*
jalan-jalan pinggir trotoar menapaki langkah kaki kita, dulu
mana kala cinta kini tak menjadi debu,
hingga kenangan mengeras seperti batu.
merindukanmu, ialah caraku berpuisi merawat masa lalu.
"Tak perlu kau ungkit masa lalu,
mulai cintailah aku yang baru," katamu
Perpustakaan Teras Baca, 15 Februari 2014
*) dari puisi Riwayat Luka, Khrisna Pabichara
gambar: dari sini
Tag :
Prosa,
Jui, Has Been Pressured
By : Harry Ramdhani
"As a soccer player, I wanted an FA Cup winner's medal. As an actor you
want an Oscar. As a cheff it's three-Michelin's stars, there's no
greater than that. So pushing yourself to the extreme creates a lot of
pressure and a lot of excitement, and more importanly, it show on the
plate." - Gordon Ramsay
Jui Purwoto kini tengah menjelma menjadi idola. Idola bagi setiap orang yang mengetahuinya, setiap Komika yang ingin selucu dia, dan setiap penonton yang rela menunggu stand-up special-nya.
Saya sendiri belum pernah mewawancara Jui secara sengaja. Namun, apa yang diucapkannya seakan sudah cukup bagi saya untuk menulis tentang dirinya.
Bagi saya, Jui Purwoto ialah segeromblonan orang yang sedang asyik tertawa di satu meja; di mana orang-orang itu lucu semua. Ia merangkum lelucon-lelucon yang mampu dipahami semua orang. Karena itulah esensi dari komedi. Greg Dean menulis dalam bukunya Step by Step Stand-up Comedy, "Bila orang tidak mengerti kamu, mereka tidak akan tertawa".
Tidak mudah menjadi Jui Purwoto (dalam hal melucu maksud saya), butuh keja keras dan belajar lebih giat dari batas kemampuan dirinya.
Konon ada cerita, kalau Jui Purwoto sempat menjadi headliner (Komika yang tampil terakhir saat open mic) selama enam bulan lamanya. Tapi, yang membuat beda ialah durasinya mesti lebih lama dari komika sebelumnya, mesti menutup open mic dengan nge-kill (ketika komika sukses membuat penonton tertawa sepanjang set yang dibawakan), dan setiap minggunya saat tampil materinya mesti berbeda. Dulu, pernah saya bertanya ke Ridwan remin, siapa komika yang ingin dikalahkan? katanya, cuma Jui Purwoto. Wow!
Bukannya ingin membandingkan antara Ridwan Remin dengan Jui Purwoto, tapi katika ada target yang ingin dikalahkan, pasti ada usaha yang lebih dari biasa untuk mengejarnya. Ini cara berkompetisi yang baik.
Ada yang masih ingat penampilan Jui Purwoto saat #OpenMicBGRtur pertama di D'Jamilah Cafe? Bagaimana? Saya kagum, tampil hampir 30menit tanpa ada bit yang missed sedikit pun.
Kata Bang Rifky, "malam itu Jui tampil seperti penceramah. Ada tekanan dalam setiap bit yang diutarakan." Dalam stand-up comedy ini disebut reveal (setiap punch ada sebuah kata, frase, atau tindakan yang vital, yang memunculkan reinterpretasi, mematahkan target asumsi, lalu penonton tertawa).
Saya tidak ingin menyimpulkan kalau ini akibat enam bulan menjadi headliner. Bagi saya, itu semata memang jalan yang mesti Jui lalu untuk mencapai dititik sekarang. Di mana saya menunggu stand-up spesial dia dilaksanakan.
Perpustakaan Teras Baca, 12 Januari 2014
gambar: avatar Jui Purwoto
Tag :
Stand-up Comedy,
Persiapan dan Awal yang Matang
By : Harry RamdhaniSabtu malam yang ramai. D'jamilah Cafe malam itu terlihat tidak ada yang santai. Dan tentunya, #OpenMicBGRtur pun di mulai.
Sekitar 60 orang hadir di sana. Tempat yang mungkin hanya cukup untuk setengahnya, penonton rela berdiri di belakang atau sekedar mencantelkan telinga.
Saya pikir, ini ialah buah dari persiapan yang matang. Baik dari Stand-up Indo Bogor maupun D'Jamilah Cafe. Keduanya profesional.
Maaf sebelumnya, saya bukan orang yang termasuk penganut paham 'perencanaan' (yang apa-apa mesti direncanakan). Entah, walau dapat diuji dengan teori SWOT sekalipun, tapi perencanaan identik dengan kegagalan. Banyak orang-orang bijak akan bilang, "di balik kegagagalan ada kesuksesan". Pertanyaanya: Berapa banyak orang yang mampu bangkit dari kegagalan daripada yang merencanakan? Dari 1000 orang, mungkin orang yang mampu bangkit, tidak lebih dari jumlah tasbih.
Jujur, saya tidak suka merencanakan. Karena daripada sibuk merencakan, lebih baik saya sibuk mempersiapkan. Salah seorang pengisi seminar Wirausaha Mandiri beberapa tahun lalu bilang, "tidak ada waktu untuk merencanakan, langsung persiapkan. Dan, waktu untuk mempersiapkan hanya satu malam, sisanya jalankan." Saya sepakat, karena belajar itu dari hari ke hari. Kalau hari ini dan besok masih merencanakan, akan berbeda-beda apa yang akan direncanakan. Hari ini bisa merencakan A dan besok bisa B, dan lusa bisa C. Apa yang ingin dijalankan jadi bercabang. Makanya, apa yang sudah dijalani hari ini, renungi. Esok, tinggal memperbaiki. Kalau ditunda-tunda malah menumpuk dan sebatas jadi wacana.
Lihat hasilnya, malam itu penikmat stand-up comedy yang antusias. Komika Stand-up Indo Bogor-pun mampu menyajikan hiburan yang berkualitas. Dan, D'Jamilah Cafe; sebagai penyedia tempat, melayani kami semua layaknya pengunjung hotel bintang tiga ke atas.
#OpemMicBGRtur diawali dengan baik. Biasanya, kalau diawali dengan baik, akan diakhiri dengan yang baik juga.
Perpustakaan Teras Baca, 11 Februari 2014
gambar: @StandUpIndo_BGR' Gallery
Tag :
Stand-up Comedy,
Kenangan Berjejer Di Bangku Taman
By : Harry RamdhaniPerempuan itu duduk di bangku taman. Sendirian. Entah menunggu atau sehabis ditinggalkan seseorang. Pastinya, Ia lebih terlihat seperti patung 'selamat datang'. Datar; tanpa ekspresi sama sekali.
Setiap sore, aku membawa anjingku jalan-jalan. Ia suka ke taman, karena di sana banyak kenangan yang tersimpan. Anjing memang pintar, Ia paling bisa membuatku bertemu ingatan yang suram. Namun, kadang kalau aku tak kuat menahan, aku tinggalkan anjingku sendirian. Membiarkannya bermain, soalnya Ia sudah tahu sendiri cara pulang. Tapi, melihat perempuan itu, aku sedikit kasihan.
"Bisa aku duduk di sini?" tanyaku pelan.
Perempuan itu menoleh, matanya merah seperti habis menangis atau marah. Padanya aku hanya bisa melempar senyum ramah. Perempuan itu tidak menjawab apa-apa. Ia menundukan kepala dan tangannya meremas tas kuat-kuat. Layaknya ingin menghancurkan sesuatu. Mungkin masa lalu.
"Aku suka ke taman ini. Setiap sore. Setiap hari," kataku tanpa berani aku menoleh ke arah perempuan, "dan, aku belum pernah melihatmu sebelumnya. Pasti baru pertama kali ke sini."
Perempuan itu masih diam. Meremas tasnya semakin kencang.
"Namaku, Gilang. Gilang Anggara," melihatnya terus diam, aku malah ingin terus bicara. Anjingku, anjingku entah sudah ke mana mainnya. Biarkan saja.
Rambut perempuan itu panjangnya sepundak dan bagian depannya di poni. Mirip potongan rambut girlband masa kini. Aku suka perempuan dengan rambut seperti ini. Tapi, melihanya murung aku jadi tidak enak hati.
"Kenapa laki-laki suka selingkuh?" katanya.
"Perempuan juga," jawabku tanpa berani menoleh ke arahnya.
"Aku tidak,"
"Aku juga," kita bicara tanpa saling berhadapan. Mata kita sama-sama melihat ke depan. Sama-sama ingin meninggalkan kenangan.
"tapi dia selingkuh," suaranya mulai sesegukan. Mungkin tadi Ia menangis dalam hati.
"tapi tidak semua laki-laki seperti dia,"
"tapi aku mencintainya,"
"dulu aku juga pernah mencintai seseorang," kataku yang kembali mengingat masa laluku, "sangat mencintainya. Dia selingkuh dan aku tahu itu. Aku biarkan, karena ada yang tak dapatku berikan dan Ia musti dapatkan dari orang lain,"
"Lalu?" Perempuan itu penasaran.
"Ia malah marah. Katanya aku sudah tak lagi sayang karena telah membiarkannya selingkuh."
"Kenapa begitu?"
Kita sama-sama membuka diri. Menceritakan masa silam yang pernah menyakitkan. Seperti perokok yang meminjam korek, bisa saling akrab walau tak saling kenal dan korek bagi perokok ialah kebutuhan.
"karena memahami perempuan itu serumit main flappy bird. Walau begitu-begitu saja, tapi selalu ada halangan tuk memahaminya."
"perempuan tidak butuh dipahami, perempuan butuh dicintai."
"Aku mencintainya, tapi dia tidak memahaminya." dengan senyum, aku beranikan menoleh ke arahnya sambil menjulurkan tangan, "siapa namamu?"
"Aku, Sisca Amelia," Ia pun menjawab uluran tanganku.
"Ayo ikut denganku, main bersama anjingku, dan meninggalkan kenangan."
Senyum perempuan setelah menangis, ialah senja terindah. Menyambut malam dengan hubungan baru di masa depan. Aku, Amel, dan anjingku pulang. Amel ikut denganku ke rumah, karena Ia takut pulang dengan membawa kandungan di rahimnya.
Akhirnya anjingku punya teman baru sekarang. Dan aku, memiliki mainan baru kalau-kalau malam sedang hujan.
Perpustakaan Teras Baca, 11 Februari 2014
gambar: dari sini
Tag :
Prosa,
Ceritakan Panasnya Ranjang, Kawan
By : Harry RamdhaniKau boleh pergi
ke mana saja dari sini
; dari kenangan-kenangan
yang akhirnya berakhir di ranjang.
"Perdebatan di atas ranjang lebih panas daripada adu argumetasi dalam kelas,"
katamu, "ilmu memang mengajarkan semua
tapi, tidak untuk tata cara malam pertama."
Malam pertama
bagimu, malam terakhir kau lucuti semua malu.
Kau selimuti malu dengan nafsu
dan desahan membuatnya birahi makin juara.
Ingin kita tanyakan:
lebih sehat mana, bermain bola di lapang atau di ranjang?
Kita hanya bisa membayangkan,
di malam pertamamu nanti
akan beterbangan pakaian dalam
yang entah berlandas di balik bantal atau di atas antena tivi.
dengan lampu dibuat remang
apa pun yang disentuh pasti terangsang
; leher, telinga belakang,
sampai kenangan.
Ini perihal selangkangan,
setiap tetes ialah cikal-bakal keturunan.
waktu, seperti halnya bercermin
; menampakan yang sesungguhnya
tanpa dusta.
Dan kita, menjadi potongan mozaik yang serupa.
Bahwa rindu, mengajak tuk ketemu
di lain cerita, di berbeda peristiwa,
di pelataran senja bahagiamu.
Biarlah waktu mengatur pertemuan kita
kelak, di bangku-bangku kelas yang kosong,
dengan papan tulis penuh coretan tinta,
dan ruangan kosong penampung semua tawa.
Perpustakaan Teras Baca, 09 Februari, 2014
gambar: dari sini
Tag :
Prosa,
Biar Kutitipkan Kau Pada Semesta
By : Harry RamdhaniSaya sempat menulis tentang buku puisi Kepulangan Kelima, di sana saya berandai seperti seorang anak kecil yang diberikan kotak musik mainan yang ketika dibuka kotaknya maka akan mengeluarkan bunyi atau nyayian dari kotak tersebut. Entah, ada yang membuatnya saya selalu suka membaca buku puisi Kepulangan Kelima berkali-keli. Salah satu puisi yang saya suka adalah Biar Kutitpkan Kau Pada Semesta. membaca ini, saya sadar betul bahwa hidup di negeri ini tidaklah mudah. Tidaklah semudah mengajak menikah. Tidaklah semudah bercinta sampai lelah. Ada sesuatu pesan yang secara tersirat maupun terurat di sampaikan om Irwan Bajang lewat puisinya ini. Sungguh, saya menyukainya. Sangat.
Dan saya sarankan untuk membeli buku puisi Kepulangan Kelima.
biar kulepaskankau bayi mungil lucuku
bayiku gemuk berkulit hitam
bermata sayu dan berbibir agak tebal
beri kesempatan aku untuk melupakanmu
biar kutitipkan kau pada semesta
sebeb merawatmu,
sama saja menyaksikan kematianmu pelan-pelan
rambut keriting hitam di kepalamu
belum mengerti mahalnya susu dan makananmu di negeri ini
harganya telah membuat ayahmu mati kemarin pagi
dikeroyok manusia satu terminal
di tanah yang katanya surga tropis ini
serigala dan setan bersindikat menjadi raja rimba
ini persoalan tak sederhana, nak
mata sayumu terlampau bening untuk paham segala
jadi, biarkan kutitipkan kau pada alam raya
tidur yang nyenyak di keranjang ini,
menangislah esok di dingin pagi
semoga seorang bingung berkenan menjemputmu
kelak jangan percaya pada siapa pun
jangan pernah cari aku, ibumu
apalagi ayahmu
: ia telah mati kemarin pagi
dibacok orang satu terminal
lantaran ketahuan menyobek tas penumpang
jangan pernah cari aku
aku akan mulai berdandan dan bersahabat dengan malam
menjual daging berlendir
sambil menertawakn nasib yang makin muram
ijazah tamat SMP-ku, sudah lama aku lupakan
telah lama hilang bersama banjir dan bocor di rumah kita
tidurlah dan esok pagi menangislah
aku, ibu kandung yang secara halal dan sah menikah dengan ayahmu
akan pergi mengganti semua identitas
kau bukan anak haram,
hanya saja kau lahir pada keluarga yang salah
kami manusia miskin yang tak mau berbagi kemiskinan denganmu
sayang
2009
Irwan Bajang, Kepulangan Kelima
gambar: dari sini
Dan saya sarankan untuk membeli buku puisi Kepulangan Kelima.
Biar Kutitipkan Kau Pada Semesta
biar kulepaskankau bayi mungil lucuku
bayiku gemuk berkulit hitam
bermata sayu dan berbibir agak tebal
beri kesempatan aku untuk melupakanmu
biar kutitipkan kau pada semesta
sebeb merawatmu,
sama saja menyaksikan kematianmu pelan-pelan
rambut keriting hitam di kepalamu
belum mengerti mahalnya susu dan makananmu di negeri ini
harganya telah membuat ayahmu mati kemarin pagi
dikeroyok manusia satu terminal
di tanah yang katanya surga tropis ini
serigala dan setan bersindikat menjadi raja rimba
ini persoalan tak sederhana, nak
mata sayumu terlampau bening untuk paham segala
jadi, biarkan kutitipkan kau pada alam raya
tidur yang nyenyak di keranjang ini,
menangislah esok di dingin pagi
semoga seorang bingung berkenan menjemputmu
kelak jangan percaya pada siapa pun
jangan pernah cari aku, ibumu
apalagi ayahmu
: ia telah mati kemarin pagi
dibacok orang satu terminal
lantaran ketahuan menyobek tas penumpang
jangan pernah cari aku
aku akan mulai berdandan dan bersahabat dengan malam
menjual daging berlendir
sambil menertawakn nasib yang makin muram
ijazah tamat SMP-ku, sudah lama aku lupakan
telah lama hilang bersama banjir dan bocor di rumah kita
tidurlah dan esok pagi menangislah
aku, ibu kandung yang secara halal dan sah menikah dengan ayahmu
akan pergi mengganti semua identitas
kau bukan anak haram,
hanya saja kau lahir pada keluarga yang salah
kami manusia miskin yang tak mau berbagi kemiskinan denganmu
sayang
2009
Irwan Bajang, Kepulangan Kelima
gambar: dari sini
Tag :
[Review],
Kubelajar Menulis Namamu, Seruni
By : Harry Ramdhanidi terang bulan, yang sembunyi di antara bintang dan hujan
diam-diam ingin kurangkai namamu.
nama yang tak lagi kusebut selepas sembahyang
akhir-akhir ini sering gentayangi isi kepalaku
; yang kosong tak berilmu.
rindu ini, Seruni,
lebih indah dari purnama,
lebih deras dari hujan di bulan januari,
lebih sakit dari pukulan tentara Orba pada mahasiswa.
adakah cara lain untuk merindukanmu, Seruni?
yang lebih baik dari sekedar pencintraan;
retorika bualan tanpa perubahan.
agar bisa kurangkai namamu dengan benar di sini.
"coba kau tanya gelandangan,
; mereka yang mencari sesuap nasi dari jalan-jalan,
dari bekas makan yang tak dihabiskan
yang kotor tapi, tetap saja menikmati.
rindukan aku seperti itu, kekasihku,"
Hidup dalam khayalan.
Hidup dalam kenyataan.*)
namamu akan kusandingkan dengan bintang dan hujan,
mana mungkin aku musti meniru gelandangan,
itu terlalu rendahan, bukan?
"rindu bukan soal tinggi atau rendah kedudukan,
tapi rindu ialah perkara kau kuat menahan
rasa di antara peraduan
; mengakhir atau tetap melanjutkan."
"Banyak aktivis yang dulu berteriak ketidakadilan
kini bersembunyi di balik kokohnya jabatan.
Hidup mereka nyaman. mapan.
sandang, pangan, dan papan tak perlu lagi dipikirkan
karena negara sudah menjamin itu dalam anggaran.
mereka lupa akan arti memperjuangkan sesuatu yang dulu telah dilakukan.
seperti halnya rindu, kau akan kuat menahan
apabila ingat semua yang pernah kau perjuangkan," lanjutmu
kini aku hanya mampu mengeja namamu,
bersama buruh-buruh yang lantang
berteriak upah tak sesuai pengeluaran,
karena harga-harga dan kebutuhan tak sanggup lagi di bahas dalam anggaran.
Perpustakaan Teras Baca, 31 Januari 2014
*) dari puisi Sajak Kenalan Lamamu, WS Rendra
gambar: dari sini
Tag :
Prosa,
Perempuan Pujaan Pujangga
By : Harry RamdhaniTahukah kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapapun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh dikemudian hari.*
Pada hujan yang turun tengah malam, cintaku
yang kurasa menyelimuti celah-celah sempit kalbu.
Kaulah pujaan hati, sampai nantinya
khayalan terhapus pahitnya realita.
seperti korek bagi perokok,
cinta, mudah hilang
dan sulit (kembali) ditemukan.
Ada kalanya dirimu, cintaku,
menjadi alarm; pengingat masa lalu
yang membunyikan dengan berisik rindu.
Tuntunlah aku ini, Pujangga
yang gemar melukis kata-kata ketika senja,
ketika hujan turun, dan ketika birahi jadi juara
di dalam kamar yang sesak kepulan asap bayang-bayangmu di sana.
"Hidupku lebih tenang denganmu, dengan puisi-puisimu
yang setiap kali kubaca hanya perihal kesedihan dan rindu," katamu.
Di jaman di mana orang-orang butuh kepastian tindakan,
kau masih percaya bahwa puisi mampu membuat hatimu tenang.
"Menulislah," kataku
Dan, di jaman yang serba endan,
perempuan yang (sekarang) gemar menulis sepertimu pun ternyata masih bisa ditipu oleh uang.
Kau pergi meninggalkanku.
Kini, yang tersisa hanya semua tulisan-tulisanmu,
yang rapih ku-tata di dalam tas gemblok
supaya setiap kuberteduh menunggu
hujan, aku bisa baca-baca berulang kali seperti orang goblok.
Kau tetap pujaan hatiku, cintaku,
seorang perempuan yang gemar menulis ini-itu,
yang telah dibawa pergi oleh tumpukan uang.
Hujan lagi.
Rindu lagi.
Kau yang pergi.
Aku tetap di sini.
Perpustakaan Teras Baca, 28 Januari 2014
*) Pramoedya Ananta Toer, Child of All Nations
gambar: dari sini
Tag :
Prosa,
Perihal Kepulangan
By : Harry Ramdhanikehilangan itu menyakitkan.
andai kubisa temani sepanjang jalan pulang,
'kan kuceritakan pada malaikat perihal kebaikan, ketulusan,
dan rasa sayangmu yang tak surut hingga akhir pertemuan.
sampai tiba saatnya, malaikat dan Tuhan
berdiskusi sengit memutuskan
; mana yang lebih baik untukmu? surga atau neraka.
bagiku sama saja, karena kau tetap tenang. di hatiku selamanya.
perihal kepulangan, seperti tebak-tebak buah manggis,
hanya Tuhan dan… Tuhan saja yang tahu;
aku, mereka, dan kita semua sekedar menerka.
akankah kita bertemu kembali, kekasihku?
karena itu hanya perkara waktu,
waktu adalah saudara kembar kenangan*
kebersamaanmu pasti kukenang.
Perpustakaan Teras Baca, 28 Januari 2014
*) dari puisi Kepulangan Kelima, Irwan Bajang
gambar: ini
Tag :
Prosa,
Penyair Dikalahkan Pelacur
By : Harry Ramdhani/1/
"Ada yang ingin kau pecahkan
malam ini. Kesunyian. Kekal temani
dirimu terikat erat kenangan-kenangan.
Ke sini, tiduri tubuhku sampai pagi."
/2/
"Kau tahu, penyair butuh menyendiri
untuk dapati sajak-sajak yang menyayat hati,
hidup penyair penuh luka dan kesedihan
tapi, luka dan kesedihan, bagi penyair ialah kebahagiaan."
"Puisi tanpa luka, sama halnya melawan tanpa menyerang.
Puisi tanpa kesedihan, sama halnya menangis tanpa airmata.
Tinggalkan sudah pena dan kertasmu,
karena kebahagiaanmu berada di ranjang."
/3/
"Biarlah aku teguk bir dan menulis puisi,
bawa semua harapan dan mimpi pergi.
Pergi, kataku, aku ingin sendiri
denganmu luka dan kesedihan tak kudapati."
"busa-busa yang menempel di putingku nanti
ialah jejak bibirmu; dengan nikmat kau lumati.
Untuk apa luka dan kesedihan dibutuhkan?
Toh, puisi hanya peluru di dalam pistol gombalan."
/4/
Penyair itu diam. Pelacur menang.
Kedai Alania, 24 Januari 2014
gambar: dari sini
Tag :
Prosa,
Hujannya Hujan
By : Harry Ramdhanikekasih, hujan biaskan sedih-sedih
pada luka yang makin hari kian perih
dirasa, hujan terus turun seharian,
kini aku lupa kalau rindu sedang bergelantungan.
Seperti menggali minyak di perut bumi,
merindukanmu penuh resiko
dan ketidakpastian yang tinggi.
Di sepanjang jalan pulang, lalu lintas tersendat
luapan air yang menggenang. Rinduku
tak bergerak. Stak!
ingatanku tersesat.
Hujannya hujan, kekasih,
aku inginkan sebuah pelukan
yang mampu tiduri kenangan
dan hangati masa silam
"Duduklah yang manis, tunggu
akan tiba saatnya rindu ini bertemu
dan menceritakan semua tentang masa lalu
yang belum sempat terselesaikan," katamu
tak hanya duduk, kekasih, rinduku pun bertasbih
karena luka pada hati yang tengah sedih.
Airmata, seperti yang kita tahu, kerap hadir
di doa-doa malam
orang yang tersesat dan meminta arahan-NYA kembali pulang.
kau dan rindu, seperti wayang dan dalang,
tak bisa terpisahkan
; keduanya saling memainkan peran,
menjadi suatu pertunjukan yang menyedihkan.
Kedai Alania, 24 Januari 2014
gambar: dari sini
Tag :
Prosa,
Mariday, Tukang Sol Sepatu dan Sepatu Pemberian
By : Harry RamdhaniLangkah kakinya terhenti di warung sembako Pak Suryatna. Ada seorang wanita memanggilnya. Ia menghampiri dengan sedikit tertatih, maklum dari pagi belum sarapan dan ini sudah pukul tiga (sore maksudnya). Badannya lemas, bajunya berkeringat, mukanya usang seperti kotak mainan yang dipenuh jaring laba-laba.
Sudah lima tahun Mariday, seorang duda beranak satu, menggantungkan hidup menjadi tukang sol sepatu. Ia pasrahkan hidupnya pada dua kotak sol sepatu buatannya sendiri itu. Kotak sol sepatu dan segala isinya yang rela disisihkan dari setengah hasil uang pensiun dini lalu. Mariday diberhentikan karena penyakit yang diidap semenjak di mutasi ke divisi baru. Tidak ada yang membuatnya nyaman bekerja sampai bertemu hari sabtu atau minggu.
Diabetes, atau yang lebih dikenal penyakit gula, membuatnya bolak-balik rumah sakit karena penyakitnya semakin parah. Gaji yang didapat dengan jerih-payah mendadak musnah. Habis untuk cuci darah. Bagaimana tidak, olahraga saja tidak pernah.
Hari-harinya semasa bekerja disibukan dengan pekerjaan yang 'entah kapan bisa diselesaikan'. Memang banyak orang bilang, "semakin tinggi jabatan, makin tinggi pula tanggung jawab yang diberikan." Dulu, hampir setiap hari Mariday pulang larut malam. Tapi, lain cerita dengan Mariday, Ia tersisihkan oleh orang-orang yang tidak suka dengan apa yang telah dihasilkan selama di perusahaan.
Bila mengingat kembali masa-masa sebelum pensiun, Mariday terkadang suka terseyum. Melihat orang yang tidak suka dengan kita (karena kebaikan) ialah cara terbaik mengobati luka, begitu katanya. Mariday besar oleh didikan orangtua yang terbilang serba tidak punya, namun itulah yang kini membuatnya selalu rendah hati pada siapa saja. Sekarang Ia mesti menjalani sepanjang umur tua-nya dengan penyakit dan kedua anaknya. Untung masih ada dua kotak sol sepatu yang membuat mereka bisa hidup tanpa mesti minta-minta. Mariday menjadi tukang sol sepatu keliling setiap harinya.
***
Langit tampak mendung sekali. Cuaca nampaknya kurang mendukung Mariday berkeliling hari ini. Aku sudah masukan beberapa peralatan sol sepatu dengan penuh hati-hati. Pernah suatu kali, aku tidak rapih memasukan alat-alat ke dalam kotak, akhirnya tangan Mariday terkena jarum untuk memasukan tali. Darahnya keluar cukup banyak dan hampir diamputasi. Maklum, sebagai adik kandung perempuan, aku hanya bisa membantu itu sebelum ada panggilan kerja nanti.
Di rumah, tugasku menjaga anaknya yang lumpuh sejak kecil, kedua kakinya tidak bisa digerakkan lagi. Dokter memvonis terkena Polio, katanya karena tidak pernah dibawa ke posyandu untuk vaksinasi. Memang benar, sebagai orang tua, Mariday sibuk mencari uang dan anaknya kadang dititipkan ke tetangga sana-sini. Waktu itu aku masih tinggal di kampung, menyelesaikan sekolah kejuruan di Wonosari. Bermodalkan ijazah itu, aku beranikan datang ke sini.
O ya, sebenarnya Mariday itu hanya nama panggilan. Orang-orang sering memanggil itu ke Kakakku dari kecil, dan aku jadi ikut-ikutan. Nama aslinya Mariono Dayat disingkat Mariday, sungguh sederhana bukan? Seperti rokok kretek, karena rokok tersebut ketika dibakar mengeluarkan bunyi kretek kretak, makanya diberi nama demikian. Tidak ada makna yang khusus dan mendalam.
Tak mudah menjadi tukang sol sepatu ditengah biaya hidup yang makin hari makin membuat sakit hati. Tapi, Mariday menjalani itu semua dengan sepenuh hati. Biar bagaimana pun musti dijalani. Musuh terbesarnya ialah perilaku konsumtif yang makin meninggi. Asalkan melihat barang murah, langsung dibeli. Sepatu khususnya di sini.
Nampaknya hari ini Mariday tidak berkeliling perumahan seperti biasa. Selain karena kondisi badanya yang sedang tidak baik, dari pagi Ia sudah keluar rumah tanpa membawa peratalannya. Mungkin membeli makan, mungkin bertemu pelanggan, atau mungkin menjumpai mantan istrinya. Istrinya. Setelah pensiun dini, istrinya meminta cerai dan menikah lagi dengan Suwardi, teman lamanya di perusahaan, tapi hubungan mereka baik-baik saja. Perempuan, selalu butuh tempat untuk melanjutkan hidup di masa depan, walau musti cerai sebagai jalannya.
"Aku ke warung dulu beli mis instan, kamu lapar 'kan?" kataku pada Husni, anaknya Mariday yang kuperhatikan daritadi sudah memegangi perut.
"Kalau ketemu Ayah, ajak pulang, ya," jawabnya cemberut.
Husni memang seperti itu kalau kesal, eh, maksudku lapar. Atau semua orang juga akan demikian kalau lapar? Sepertinya benar.
Dengan uang pas-pas-an yang cukup hanya membeli satu bungkus mie instan, aku langkahkan kaki dan berdoa agar Husni baik-baik saja. Warung terdekat adalah warung sembako milik Pak Suryatna. Namun cukup jauh juga jaraknya, seperti dari Monas sampai Istana Merdeka.
"Mariday," kataku terheran. "Apa yang sedang kamu lakukan?"
"Eh, kamu, Dik. Maaf aku belum sempat pulang, tadi aku habis ketemu mantan istriku. Meminjam uang, tapi seperti biasa, aku selalu pura-pura menawarkan sepatu yang ingin dibenarkan."
"Lalu, kenapa tidak langsung pulang? Tidak dapat pinjaman."
"Ya, tapi aku diberikan sepasang sepatu ini, rusak memang." Mariday menjulurkan sepatu putih dengan rumbai-rumbai di bagian atasnya. Lucu, sangat perempuan.
"Untuk apa kamu terima, toh, ini juga tidak bisa digunakan."
"Kamu ini bagaimana, sih, aku ini tukang sol sepatu, semua sepatu awalnya memang rusak, tapi dengan sedikit sentuhan dariku pasti bisa tampak menawan."
"Kemudian ingin kamu apakan?"
"Jual saja ke orang-orang."
"Yasudah, aku ingin membeli mie instan untuk Husni, Ia sudah kelaparan." Aku dan Mariday bergegas pulang.
***
Sepatu putih dengan rumbai-rumbai pemberian mantan istrinya telah selesai Ia perbaiki. Hasilnya mirip seperti sepatu asli. Tak terlihat jahitan di sana-sini. Sembari Ia keliling perumahan, sepatu itu pun sekalian Ia tawarkan ke orang-orang yang sepatunya sedang diperbaiki.
Menjualnya tidak terlalu rumit, karena harganya yang murah dan Mariday sadar betul akan perilaku konsumtif orang-orang sekarang ini. Asal murah pasti dibeli. Itu yang membuatnya berpikir untuk kini mencari sepatu-sepatu bekas untuk dijual kembali.
Hasil penjualan sepatu Ia jadikan modal awal. Mencari sepatu bekas di Jakarta tak sesulit menyiapkan makan siang untuk bekal. Tinggal mendatangi daerah-daerah kolong jembatan, pasti sudah bertemu banyak yang menjual. Hidup di Jakarta memang butuh banyak akal. Asalkan yang dilakukan itu halal.
Usahanya menjadi tukang sol sepatu dan menjual sepatu bekas lebih-kurang sudah maju. Lumayan, berawal dari dua kotak sol sepatu buatannya itu, kini Ia tidak perlu keliling perumahan karena telah mampu membuka kios sepatu. Bisa membelikan Husni kursi roda dan baju baru. Bisa memperkerjakan adiknya di kios untuk bantu-bantu.
"Husni, hari ini Ayah ada uang lebih. Kamu ingin apa?" tanya Mariday.
"Aku ingin punya Ibu saja," jawabnya datar tanpa ekspresi.
Aku dan Mariday kaget, tidak menduga awalnya kalau itu yang keluar dari mulut Husni. Mariday tidak menjawab dan aku diam, badanku seakan beku ketika sedang berdiri. Permintaan anak-anak memang ada-ada saja; termasuk meminta Ibu baru ini.
"Kenapa kalian tidak menikah?" tanya Husni. "Usaha Ayah sudah lumayan maju, rumah kita sudah direnovasi, apa lagi yang ditunggu?"
Obrolan di meja makan semakin tak terarahkan. Tanpa jawaban, kita semua masuk kamar masing-masing, bersamaan. Di kamar, aku memikirkan pertanyaan Husni tadi yang tidak perlu-perlu amat dijawab tapi, cukup memberi perhatian lebih untuk dipikirkan. Menikah dengan kakak sendiri? Ah, tidak mungkin, bukan?
Rumah Bang Rifky, 19 Januari 2014
gambar: dari sini
Tag :
Prosa,











