The Pop's

Laura

By : Harry Ramdhani


Ternyata otak bisa lebih encer daripada sperma ketika uang tidak ada. Pantas saja banyak tukang tipu seliweran di setiap tikungan jalan.


AKU tahu, uang tidak bisa membeli semua tapi, dengan uang apa pun bisa diusahakan untuk didapat. Bahkan, cinta yang baru seumur jagung.

Masih saja teringat November tiga tahu lalu ketika aku datang ke pesta pernikahanmu. Rasanya biasa saja, sama sekali tidak ada sedikit pun sedih yang menghampiri. Kalimat terakhirmu itu yang buatku biasa saja kala itu, "semoga ini bisa jadi keputusan terbaik untuk hubungan kita. Kau dan aku memang mesti dapat orang yang lebih baik lagi," katamu dulu, "aku bukan yang terbaik untukmu dan kamu bukan yang terbaik untukku." Aku sepakat. Karena yang baik hanya setia bukan cinta yang terbagi dua.

Baju pemberianmu dulu yang bertuliskan 'Setia adalah perbuatan baik' masih kusimpan rapih di lemari. Walau tidak (lagi) kukenakan, tapi biarlah terlipat rapih di sana. Daripada kukenakan untuk terus mempermainkan banyak wanita, rasanya itu seperti dosa yang sulit ditebus ketika ingin masuk surga.

***

Di pusat perbelanjaan, yang ramai menjelang akhir tahun adalah potongan harga. Apa pun yang dijual harganya dipotong. Bahkan, ada yang sudah dipotong harganya dan masih dipotong lagi. Dua kali potongan. Entah dapat untung darimana? Yang aku tahu, potongan harga hanya soal subsidi silang. Ketika satu barang dipotong harganya, maka harga barang yang lain dinaikan. Jadi tidak ada yang berubah. Andai dulu aku melamarmu menjelang akhir tahun, pasti ada potongan standar untuk jadi pendamping hidupmu. Andai,…

Aku sempatkan untuk mampir di Kedai Jus ketika lelah melihat potongan harga di mana-mana. Toh, untuk apa potongan harga kalau uang saja tidak punya?

Di sini jus alpukatnya murah dan ada potongan harga pula. Aku suka minum jus alpukat karena dalam alpukat tidak ada lemak jahat. Lemak yang terkandung di dalam buah alpukat adalah lemak baik. Tidak membuat gemuk dan benjolan-benjolan yang rasanya tidak pantas di tangan. Semua lemak membuat badan terlihat berisi dan kencang. Nah, tidak perlu bingung kalau banyak wanita suka minum jus alpukat, untuk wanita, lemak di dalam buah alpukat bisa mengencangkan payudara. Jadi di sini aku lihat banyak payudara-payudara yang sedang dikencangkan, khususnya Ibu-ibu muda yang baru memiliki anak barang satu atau dua. Surga dunia.

Segelas jus alpukat aku rasa cukup untuk mengisi tenaga hari ini. Tapi tidak jauh dari tempatku duduk, sepintas aku lihat Laura, mantanku itu yang menikah November tiga tahun lalu. Mirip. Atau memang dia?

Dengan kereta bayi di dekatnya dan badannya yang kini juga berbadan dua, aku coba dekati. Dan memang, itu Laura. Semenjak Ia menikah, aku sudah tidak lagi menjalin komunikasi. Kini aku senang bisa melihanya yang bahagia. Pastinya tetap cantik.

"Laura?" kataku yang berdiri di depannya.

"Ya," jawabnya bingung, "Dias? Hei, apa kabar kamu? Long time no see. Ayo sini duduk."

Ia masih seramah dulu. Senyumnya tidak pernah surut dari bibir tipisnya yang mungkin sudah habis dilumat suaminya. Laura memang ramah, tapi tidak baik, karena yang baik hanya soal kesetiaan.

Aku lihat ke kereta bayi, ada seorang lelaki lucu di sana. "Lucu. Namanya siapa?" tanyaku seraya mencubit pipi tembemnya.

"Novando. Novando Andrias. Aaa,…" Laura ragu-ragu meneruskan kalimatnya, seakan tersangkut di ujung mulut.

"Apa?"

"Ah. gapapa, kok,"

Perbincangan kita mulai tidak tak karuan. Menceritakan ulang kisah-kisah kita terdahulu. Kenangan memang manis bila dikenang, tapi pahit ketika kenyataan berkehendak tidak sejalan.

"Aku harap Novando kelak sepertimu. Karena nama Andrias memang sengaja kuselipkan supaya aku terus bisa melihat dan mengenangmu," rasanya aku paham maksud ucapan Laura. Karena memang itu yang ingin kutanyakan sedari tadi. Novando mirip denganku. Dari hidung dan matanya.

***

November tiga tahun lalu, kita habiskan satu malam bersama sampai lupa kita di ranjang dari malam bertemu malam. Banyak yang kita lakukan. Banyak yang kita keluarkan. Air mata, keringat, dan sperma. Tapi itu semua kita lakukan atas kehendak cinta. Cinta yang mungkin tidak lagi tumbuh setelah kita turun dari ranjang.

Beberapa minggu setelah itu, kau menikah. Menikahi seorang lelaki yang umurnya hampir dua kali lipat umurmu.

Aku terima saja ketika kau ucapkan kalimat perpisahan. Karena aku tahu, keluargamu sedang butuh uang untuk menutupi hutang perusahaan. Dan, pernikahan adalah jalan keluar satu-satu dari permasalahan.

Memang aku tidak mampu penuhi mau keluargamu, maka kau pasrah dimadu demi membayar hutang perusahaan. Ketika tidak punya uang, otak memang bisa lebih encer daripada sperma. Kau tipu suamimu dan mengatakan ini anaknya.

Jadi, Novando Andrias adalah anakku? Darah-dagingku?



Perpustakaan Teras Baca, 1 November 2013
gambar: dari sini
Tag : ,

Malam Lupa Meluap

By : Harry Ramdhani


pada malam-malam yang runyam
di mana harga-harga menjulang,
hidup seorang wanita hanya ditentukan dua pilihan
: mencari teman hidup mapan
atau, menjadikan lidah (yang tak bertulang) sebagai tulang punggung mata pencaharian.

pada malam-malam yang dingin
di mana selimut tebal tak sanggup menghangatkan badan
maka, ruang sempit empat kali enam
mendadak ramai laki-laki datang bergantian

supir-supir truk antar kota,
remaja-remaja tanggung usia,
sampai pemuda ormas menagih jatahnya

tugasnya di sana hanya melayani
dan sisanya dikelola oleh Mami.

melumat keringat-keringat yang menempel,
menjilat daki seperti orang ngepel,
bolak-balik dari atas hingga bawah
tak ada yang terlewat sampai moral pun ikut menguap

pada malam-malam yang makin gelap
wanita-wanita itu sudah lupa cara menguap.



Perpustakaan Teras Baca, 31 Oktober 2013
gambar: dari sini
Tag : ,

Fantasi

By : Harry Ramdhani


"di ruang mesra imajinasi, segalanya bisa terjadi,"
itu kataku berpuluh-puluh kali
padamu yang ingin mencoba berfantasi

di sini, semut pun bisa mengerang; menanggapi rangsang
dari nyamuk-nyamuk yang beterbangan
atau cicak-cicak yang sembunyi di balik cahaya terang.

Berfantasilah kau di sini,
coba tanyakan pada semut
yang sedang bergelut dengan nyamuk
atau pada cicak-cicak yang berkecamuk
melihat semut bergelut dengan nyamuk

tanyakan saja tanpa sungkan
dan nanti pun mereka akan jawab,
malu hanya soal aurat yang tak terawat
tapi, diumbar

pula, aku sepakat katamu
: hidup tak melulu soal kenyamanan.
daripada terus malu, cobalah berguru
pada semut yang sedang bergelut dengan nyamuk
atau cicak yang sembunyi di balik cahaya terang

lakukan fantasi itu
di sini, di ruang mesra imajinasi
dan bercumbu
daripada melulu kau masturbasi.



Perpustakaan Teras Baca, 31 Oktober 2013
gambar: dari sini
Tag : ,

Sebut Saja: Aku, Mawar

By : Harry Ramdhani


Andai, segepok uang cukup untuk makan,
mungkin tidak ada wanita-wanita di pinggir jalan
: menjajakan diri, menjual badan,
demi menjadi tulang-punggung keluarga dan mertua.

Andai, birahi bisa dikendalikan,
mungkin tidak ada wanita-wanita duduk manis di bawah lampu remang
temani lelaki hidung belang 'tuk penuhi hasratnya semalaman
dari matahari terbenam sampai bulan tenggelam.

Aku tak lagi bisa lari,
jalan pun lemas, selepas keramas melayani mas-mas
yang haus akan dilayani dini hari.

apa ini keputusan Tuhan; takdir?
sepanjang malam hanya bermain-main dengan lendir,
mengelap keringat dan desah para supir,
dan menata kembali rambut dengan sisir.

soal kinerja, aku berani taruhan dengan pejabat negara,
soal kepuasan, aku berani taruhan dengan lembaga survey kenamaan,
soal harga diri, aku pun berani taruhan nanti di hadapan Tuhan,
pastilah aku yang menang.

yang mengotoriku adalah sperma-mu,
bukan diriku dan perbuatanku;
karena aku adalah Mawar, wanita di bawah lampu remang,


Perpustakaan Teras Baca, 29 Oktober 2013
gambar: dari sini
Tag : ,

Temu Sebelum Kangen

By : Harry Ramdhani


pada rindu-rindu terdahulu
yang telah kujadwalkan di kalender dua bulan lalu,
perpisahan itu terikat janji untuk bertemu
di kemudian hari, di tempat yang sama-sama kita tak tahu

Kekasih, hujan tak selalu identik dengan perpisahan
tapi, hujan memang tepat untuk temani orang-orang kesepian;
orang-orang yang dipermainkan kenangan-kenangan

pada temu nanti, rindu mainkan peran dominan
di antara ciuman dan pelukan
yang lama kita tak lakukan

tik tok
tik tok

jam tanganku teriak menunggu kedatanganmu
pada rindu-rindu terdahulu
sebelum menumpuk jadikan kangen karena tak lagi bertemu

datanglah membawa janji-janji yang bisa kutagih, kekasih,
sepahit apa pun itu,
kangen adalah tumpukan rindu yang lupa ditagih
pada kepergian dua bulan lalu.


Perpustakaan Teras Baca, 29 Oktober 2013
gambar: dari sini
Tag : ,

Seteguk Bir Terakhir

By : Harry Ramdhani
Penantian adalah soal kesetiaan. Di sana perkara sabar dan gusar sering berdebat untuk menangkan penantian. Katamu, "setia itu baik," itu untuk yang ditunggu, tapi untuk yang menunggu? Beruntung aku suka menunggu. Menunggu hal-hal yang tidak perlu ditunggu, semisal menunggumu, mungkin. Tunggu sampai cerita ini berakhir dan nanti pun kalian akan tahu kalau aku adalah orang yang suka menunggu.






DI CAFE tempatku menghabiskan malam dan uang, biasanya banyak orang mabuk lalu hilang kesadaran. Entah apa yang membuat mereka mabuk? Padahal bir hanya mengandung sedikit alkohol. Mungkin wanita-wanita yang mereka sewa adalah oplosan bir itu.

Namun malam ini sepi. Musiknya pun bisa terdengar jelas dan pelayan-pelayan terlihat bekerja sangat malas. Botol dan gelas bir masih banyak di atas meja. Pula, lantainya berserakan abu dan puntung rokok. Aku tidak suka tempat yang kotor, tapi lebih baik aku menunggu ada yang membersihkan sebelum aku laporkan mereka ke atasan.

Di sinilah biasanya aku melihatmu datang sendiri. Di minggu ke-empat setelah gajian. Dengan satu botol bir dingin dan beberapa cemilan, kau duduk di pojok bersama remang cahaya lampu. Aku selalu suka melihat wanita meminum bir langsung dari botolnya, diteguk seakan kepenatan ikut hanyut dalam tenggorokan. Itulah kau yang selalu datang di minggu ke-empat.

"Tempat duduk ini kosong?" kataku saat pertama memberanikan diri mendekatimu.

"Kelihatannya kosong, tapi ini bukan untukmu," jawabmu dulu.

Saat itu aku langsung pergi tanpa ucapkan satu kata pun. Bukannya malu, tapi aku tahu dari salah seorang pelayan di sini, kau memang selalu datang dan pulang sendiri. Tidak pernah ada satu orang pun yang kau tunggu.

Namanya: Tirani Azra Lluvia, kata salah seorang pelayan yang sering melayanimu. Nama yang cantik untuk wanita yang cantik.

Sesekali aku pernah pesankanmu sebotol bir dingin, tapi sayangnya tidak kau minum. Katamu, "Aku tidak ingin meminum apa pun yang tidak kupesan," walau sudah diberikan beribu alasan oleh pelayan dari bonus pengunjung ke-seratus sampai buy one get one, namun tetap saja kau tolak.

Lagu Mr. Brightside dari The Killers menghantam sepi cafe ini. Botol dan gelas bir yang belum dirapihkan seakan jatuh, ikut berserakan bersama abu dan puntung rokok di lantai. Semua berantakan seperti aku yang malam ini sedang menunggu datangnya seseorang. Penantian memang tidak semanis kisah-kisah romansa di novel remaja.

Bir di gelasku tinggal sisakan satu teguk lagi. Lagu Mr. Bright Side dari The Killers pun hampir selesai. Malam ini sepertinya penantian terakhirku untuk temuimu, Lluvia.

"Bangku ini kosong?" Mataku terperanjat ke atas. Seakan tak percaya dengan penglihatanku sendiri.

"Bangku ini kini sudah diisi orang," jawabku, "silakan duduk." Lluvia datang dengan menenteng dua botol bir dingin. Yup, kehadirannya telah lebih dulu menghangatkan malam penantianku.

"Setia itu baik," katamu.

"Apa menunggu adalah soal kesetiaan, juga?"

Kita mulai bicara ini-itu karena ada dua botol lagi yang mesti dihabiskan. Bicara pun tak karuan. Bahkan, sampai kedekatan itu kita bicara sering berakhir dengan ciuman-ciuman yang menyejukkan.

Penantian bila tidak dibarengi usaha terlebih dulu memang seperti bir dingin; getir sampai akhir. Dan, sekali lagi kulumat busa di atas bibirmu dengan nikmat, dengan lahap karena kita dibiarkan terkunci di cafe dalam keadaan gelap.



Perpustakaan Teras Baca, 28 Oktober 2013
gambar: dari sini
Tag : ,

Hujan dari Jendela dan Asap Kopi Hitam

By : Harry Ramdhani


aku suka memandang hujan dari dalam jendela
lalu ada kepulan asap kopi hitam di antaranya,
di sanalah semestinya kopi hitam berfungsi
untuk menghagatkan orang-orang yang kesepian memandang hujan,

di luar pun rintik-rintik hujan serasa hidup
ketika dipandang dengan asap kopi hitam
dan mereka pun bergoyang mengikuti tiap lekuk asap.

Terkadang aku tertawa sendiri
melihat rintik hujan menari, bergerak ke sana-ke mari
mengikuti gerak asap kopi hitam ini.
asap memang sulit ditebak geraknya
dan itu tergantung udara di sekitarnya.
"aku sadar, aku kesepian," batinku

Andai kepulangan bisa diatur dari asap kopi hitam, pastinya
penantianmu tak akan pernah selama pergantian musim-musim,
dari awal musim kemarau hingga akhir musim penghujan.
Sungguh, sayang, aku kesepian.

"Semua yang pergi akan kembali," katamu
dan bodohnya aku percaya saja.
Ini adalah soal penantian, disitu aku lupa memperhitungkannya,
penantian hanya hadirkan kesendirian dan kesepian adalah efek selanjutnya.
ketika sudah menunggu begini, aku suka kesal sendiri.

tadinya aku sempat senang ada hujan dimusim kemarau
tapi kata Ibuku, aku sedang mengigau.
"Itu ulah manusia-manusia lupa merawat bumi
sehingga efek rumah kaca membuat musim kacau," ujar Ibuku.

Kopi hitam sudah dingin,
sudah tidak ada asap
yang bergerak ke sana-kemari dari rintik hujan,
tapi kau tak juga kunjung datang, sayang.
Pulanglah, aku kesepian.



Perpustakaan Teras Baca, 28 Oktober 2013
gambar: dari sini
Tag : ,

Bulan Rindu

By : Harry Ramdhani


malam itu, aku ingin berjumpa dengan rindu
di malam puisi, para penyair bergantian membaca puisi-puisi miliknya sendiri
tapi aku, masih menunggu seseorang yang datang di depan pintu.
Sungguh, malam ini aku merindu.

Satu persatu sajak-sajak dibacakan dalam ruang
yang terang selepas hujan,
dinginnya malam buatku kembali pada ingatan-ingatan
yang masih manis bila dikenang.

/1/
di depan pintu, aku intip keluar
ada bulan dan bintang berkelakar,
mungkin mengejekku,
mungkin juga mengejek para penyair yang bersenandu rindu di malam itu,
atau, mungkin mengejek jomblo-jomblo yang berkeliaran di malam minggu.
Aku tidak tahu.

aku rela hibahkan waktuku untuk menjumpai rindu,
meski lama kita tak bertemu
tapi, aku masih ingat ciuman-ciuman itu.
Ciuman-ciuman yang bisa buatku melamun semalaman.

/2/
kudengar ada yang pecah di depan,
di tempat orang-orang membuat kopi untuk menghangatkan badan
dan berharap rindu, malam ini datang.

Sial, malam puisi segera berakhir,
aku tahu itu dari suara para penyair yang mulai serak. Pula, dahak
yang muncrat di kertas berisi puisi itu.

tapi, di mana rindu?
di mana seseorang yang kutunggu?
aku masih di sini, di depan daun pintu menunggumu

/3/
katanya, "kesetiaan adalah perbuatan baik,"
namun, bila kesal menunggu yang kita tunggu
tak juga datang, apa itu masih disebut setia, Tuan Berbaju Biru?

/4/
Di mana kau malam ini, kekasih?
kesetiaan adalah soal penantian, bukan
perkara tunggu-menunggu seseorang yang dirundu.

Bulan sudah mengenakan piyama,
bintang-bintang bernyanyi bersama
dan langit mendung pun cerah, seirama
kopi yang kubuat dingin terangin-angin di depan pintu;
menunggumu, kekasih.

Kabari aku bila rindu itu masih kuat kau tahan dan
biar nanti kuadukan kau pada Tuhan
bahwa menunggu yang tidak pasti pun termasuk tindakan setan.



Perpustakaan Teras Baca, 27 Oktober 2013
gambar: dari sini
Tag : ,

Kotak Mainan di Pekarangan Istana Boneka

By : Harry Ramdhani


aku terbangun di pagi buta,
setelah kusadar kini aku telah menua
bersama usia yang membabi-buta
rasa yang sudah terpendam lama
di pekarangan istana boneka

tak berani sekali pun kugali
kotak mainan di pekarangan yang tidak jauh dari kamar ini,

yang kutahu, tanah tak dapat mengurai plastik,
namun tanah dapat membusukan
apa pun yang tertanam lama.

sialnya, aku lupa
kotak mainan itu kubalut apa?
plastik atau cita-cita?


Perpustakaan Teras Baca, 26 Oktober 2013
gambar: dari sini
Tag : ,

Chatby: Malaikat Penjaga

By : Harry Ramdhani


Kekasih,
tidurlah kau dalam pelukan,
dalam indah mimpi yang kau harapkan

bilamana mimpi buruk datang
cepatlah bangun
lalu,
ingatkan aku 'tuk segera menghiburmu

aku akan tetap di sini
di sampingmu
menjaga tidurmu
dari godaan siluman mimpi
yang kerap mencumbu
mimpi-mimpi indahmu.


Perpustakaan Teras Baca, 23 Oktober 2013
gambar: dari sini
Tag : ,

Selepas Hujan

By : Harry Ramdhani




selepas hujan,
kini giliran kantuk yang menyerang,
kau, kekasih,
telah meniduri rinduku
bersama-sama angin malam itu

angin malam pun membawa kenangan
yang tersisa dikeringnya ampas ingatan

nyamuk-nyamuk yang lalu-lalang
kini tak lagi tampakan wujudnya di hadapan,
ilalang pun ikut basah, tak lagi nyanyikan
lagu-lagu kesepian.
Ilalang diam.

Selepas hujan,
malam-malamku meradang.

rindu-rindu terinjak
di antara genangan air jalan berlubang,
sepi-sepi selepas hujan
memeluk erat dalam kesunyian.



Perpustakaan Teras Baca, 23 Oktober 2013\
gambar: dari sini
Tag : ,

ASDAMBA: Wanita Tuna Susila

By : Harry Ramdhani


"Kau adalah malaikatku tanpa sayap
yang hinggap di kepalaku; sesak dan gelap," katamu
dulu, "tidak perlu ke mana-mana, tetap di sini, di dalam pikiranku, mondar-mandir ke sana-ke mari" aku ingat itu.

untuk APA terbang
kalau diam pun aku bisa lihat bidadari khayangan?

"Ke mari,
lebih dekat lagi,"
celetukmu di dalam kamar mandi

Kamar mandi memang penuh misteri
lalu, di sana kita penuhi ember-ember kosong
yang bercecer air mani.
DI MANA lagi aku bisa salurkan birahi selain di kamar mandi?
Di sana aku masturbasi.

"Biar kubuka bertahap pakaian ini
supaya kau sanggup lihat, tak ada kemunafikan lagi,"
bisikmu semakin tak terkendali
menahan diri.

Di atas ranjang kau memang selalu menang,
tapi aku selalu bisa buatmu mengerang dan di situlah aku merasa senang.
KAPAN aku pernah gagal buatmu merangsang?

"Cepat lakukan," paksamu "supaya tak ada yang sia-sia dari cincin tunangan
dan rencana-rencana kita untuk mengundang tamu undangan,"

Menolakmu adalah tindakan bodoh yang pernah kulakukan,
tapi menurutimu adalah perkara lain yang sama sekali tidak mungkin kupenuhi,
aku bukanlah siapa-siapa untukmu dikemudian hari,
SIAPA tahu ada oranglain yang lebih pantas, bukan?

"Semua laki-laki itu bangsat,
lihat
kau hanya tunaikan syahwat,"
air mata pun membucat, ketika kau sadar bahwa yang enak belum tentu nikmat.

Bahwasanya enak dan nikmat berada dalam lintasan yang sama,
namun jalur mereka berlawanan di persimpangan.
MENGAPA sampai sekarang aku terjebak? Toh, tetap saja, semua itu sifatnya sesaat.

"Simpan semua. Sudah, tinggalkan aku," katamu semakin kesal,
"pakai uangmu untuk hal yang berguna
daripada kau mesti bayar aku, tubuhku, dan setiap desahku."

BAGAIMANA mungkin aku tega tinggalkan semua?
uang hanya nilai tukar, bukan nilai ukur manusia
pada kesan dan pengalaman pertama.
Itu lebih istimewa dan uang tidak ada apa-apanya.

Aku akan pergi, untuk mencari
kamar-kamar yang lupa dikunci.



Perpustakaan Teras Baca, 25 Oktober 2013
Tag : ,

- Copyright © Kangmas Harry - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -