The Pop's

Tingkatan Dalam Berhubungan

By : Harry Ramdhani
Saya menulis ini karena resah. Resah akan status saya sendiri, jomblo. Bukan masalah, sih, masalahnya cuma satu: Saya pingin punya pasangan seperti yang lain. Alah, canda, ketawa aja.

Yup, bagi saya, dalam berhubungan-pun tetap ada kasta --PDKT bukan termasuk di sana, PDKT itu proses--. Maka saya akan memberitahu empat tingkatan dalam berhubungan, tentunya akan saya analogikan ke arah yang lebih asyik biar gampang paham. Toh, intinya membaca adalah biar paham.

1. Gebetan
Gebetan adalah oranglain yang kita anggap dekat tapi, sudah suka. Gebetan itu sama aja kayak kalian jalan-jalan ke departemen store, terus di sana liat banyak barang-barang berdiskon gede. Pingin beli, tapi, banyak 'tapinya'.

2. Cewek/Cowok Gue
Ini adalah tingkat dimana oranglain sudah mengetahui 'rasa' kita, rasa saling suka tanpa ada sekalimat-pun terucap sekedar memastikan. Tingkat ini, sama aja kayak barang yang tadi kalian liat di departemen store bener-bener bisa menarik perhatian, contohnya: Baju, baju yang dijual plus diskon. Baju udah dicoba tinggal dibayar tapi, udah lumayan sedikit sih berkurang 'tapinya'.

3. Pasangan
Pasangan adalah oranglain yang saling suka dan sudah diikat dalam satu ikatan. Pasangan ini sama aja kayak baju yang tadi di diskon udah dicoba, cocok. Dan, yang paling penting udah dibayar. Artinya ada transaksi di sana, artinya ada kata 'deal' terucap juga. Keduanya sepakat.

4. Pacaran

Pacaran adalah hubungan antar oranglain yang penuh dengan keterikatan. Antara satu dan lain hal, orang sekitar mesti tau. Pacaran itu sama aja kayak baju yang udah dibeli dengan diskon gede dipake di acara-acara bagus, sesuai bagusnya oranglain yang kita gandeng.

Duplikat Kunci

By : Harry Ramdhani

Di sisi jalan aku lihat
toko kecil tempat
kunci duplikat.

Tidak ramai,
malahan sepi.
Mungkin kunci
tak terpakai lagi.

Tulisannya singkat dan padat.
"Segalanya bisa dibuka."
Sedikit ambigu, juga
tabu.

Andai semua hati
yang terkunci
bisa dibawa ke mari,
terlintas namamu di sini.

Atau, aku bawa segenggam
rasa kecewa dengan
segala peristiwa
yang perih tapi nyata.

Sebuah jalan terbuka
untuk bisa membuka
hati yang terluka
karena kecewa.

Aku tahu,
sulit untukmu
melupakan yang sudah.
Sudah, kamu lelah.

Tag : ,

Tulisan yang Diacuhkan

By : Harry Ramdhani
Sudah seminggu aku tidak mencari berita, berpetualang seperti pemburu liar babi hutan. Kini sudah akhir pekan, masihkah aku akan tetap keluyuran? 


Ah… bukan bosan atau lelah karena terus ke sana-ke mari mencari sebuah peristiwa tapi, sudah saatnya mencari hal baru yang lebih menantang dari sekedar mencari berita. Tiga tahun bukanlah waktu yang singkat di dunia jurnalistik, namun kini dunia kewartawanan sudah mulai (lagi) diusik. Banyak wartawan yang dianiaya dan sibuat tak berdaya. Ada juga beberapa majalah yang hilang tak tentu arah. Inilah efek Soehartonisasi. 

Di stasiun kereta banyak orang lalu-lalang. Ada yang datang lalu mengarah pulang, ada juga yang pergi lalu berharap Ia dianggap hilang. 

Aku duduk di pojok tembok yang di atasnya ada spanduk besar bertuliskan jadwal keberangkatan. Tidak jauh dari sana, ada pedagang kaki lima yang menjajakan berbagai macam koran. Pasti di sana tulisanku berada dulu. Anehnya, hanya pedagang koran yang masih berjualan di sini (baca: Stansiun) dan tanpa ada pedagang lain. Semua yang sudah berjualan lama telah digusur entah ke mana. Padahal, apa bedanya menjual koran dengan lontong sayur? Toh, sama-sama mengenyangkan. Apa bedanya menjual rokok dengan koran? Toh, sama-sama membuang uang. Harga koran di stasiun mendapat subsidi silang dari penerbitnya, sehingga harganya bisa lebih murah dibanding yang ada di pinggir jalan atau yang ada di lampu lalu lintas. Karena harga koran di stasiun relatif lebih murah, akhirnya banyak orang beli koran hanya untuk duduk di kereta dengan lesehan. 

*** 

Hatiku bertanya, apakah semua aktifitas junalistik yang pernah aku buat benar dinikmati pembaca? Raditya Dika bilang, "Harta yang paling berharga dari penulis adalah pembaca." Aku setuju untuk itu. Sangat setuju. Lantas, untuk apa kita menulis kalau tidak dibaca? Itu sama saja seperti sering ibadah tapi ogah masuk surga. 

Perlahan ajakan otak membuat stimulus pada kaki untuk beranjak mendekat penjual koran. Sekedar memastikan apakah media tempat aku sempat singgahi juga menjadi pilihan orang yang sengaja datang ke mari. 

Duduk bersebelahan dengan rak yang sudah ditumpuk beragam koran ternama dan majalah-majalah mahal yang harganya sama dengan celana jeans bekas di Pasar Raya. Memang tampak orang yang menjual majalah, bagiku, bukan masalah. Jika ada yang ingin membeli-pun aku bisa melayani. Bahkan lebih baik. 

Penjual koran malah asyik ngobrol dengan para penumpang yang menunggu keretanya belum juga datang. Ada juga sesekali orang menanyakan jadwal keberangkatan kereta. Bodoh, padahal di sana juga ada spanduk besar terpampang. Tapi, di sini aku pikir hal terpenting dari para penjual koran di stasiun, mereka mesti hafal jadwal keberangkatan kereta. Tidak semua orang yang datang ke stasiun hanya sekedar membeli koran yang bersubsidi, tapi semua orang yang datang ke stasiun sudah pasti ingin pergi menggunakan moda trasportasi termurah ini. Nah, bila semua para penjual koran bisa menghafal semua jadwal keberangkatan kereta, ada kemungkinan korannya akan dibeli orang yang tadinya cuma ingin pergi tapi karena sudah 'kepalang' nanya ke penjual koran. 

Aku masih duduk tanpa ada niatan beranjak, karena ex-mediaku dulu belum juga laku, barang satu. Padahal sudah dua kereta yang aku tinggalkan demi melihat orang yang membeli koranku. Sama sekali tidak dilirik, apa lagi disentuh. 

Walau aku sadar, aku memang bekerja di sebuah perusahaan media lokal. Mestinya, banyak orang yang ingin tahu keadaannya sekitar dibanding mengetahui info-info besar. Sedih memang. Kenapa? Kenapa orang-orang di perusahaanku tidak pernah memberitahu bahwa korannya tidak laku begini? Media bukan sekedar tempat meraup untung dari iklan. Tapi, ada kami, para wartawan yang ingin sekali hasil kerjanya dinikmati dan berguna untuk khalayak ramai. Kalau media hanya ingin meraup keuntungan dari situ, kenapa ketika kita di tes mesti melampirkan contoh tulisan? apa itu sekedar formalitas belaka? 

"Mau kemana, mas?" Kata penjual koran yang dilengkapi seragam berwarna kuning. 

Hebat, bahkan penjual koran menggunakan seragam. Sama sekali, selama meliput, aku tidak pernah menggunakan seragam media sendiri. 

"Mau ke Jakarta, pak." Jawabku dengan ramah. "Koran yang paling banyak dibeli di sini biasanya koran apa, yah, pak?" 

Aku berharap mendapat jawaban atas segala pertanyaan yang ditanya hati. 

"Biasa." Sambil senyum dan meletakan beberapa koran di rak. "Koran-koran nasional sama koran olahraga, khususnya sepakbola." 

"Terus koran ini?" Aku menunjuk ke arah koran yang tak kunjung laku barang satu itu. "Laku juga, pak." 

"Ouw, ini, laku juga. Tapi, biasanya nanti sore." Jawabnya, "Kalo sore, harganya dipaketin." 

"Sore? Untuk apa? Bungkus gorengan?" Tanyaku semakin penasaran. 

Penjual koran itu masih menunjukan raut senang. 

"Yaa, itu salah satunya." 

*** 

Kalau saja ada yang tega membiarkan tugas mulia para wartawan, sudah pasti manajemen media itu sendiri. Mana mungkin mereka membiarkan karya jurnalistik karyawannya hanya dibiarkan begitu saja. Mengedepankan keuntungan daripada keahlian. 

Persetan untuk orang-orang yang bilang "Setelah lulus nanti, mesti punya keahlian. Paling tidak satu." 

Aku putuskan untuk pulang. Belajar lagi menulis dengan baik, lalu mendatangi perusahaan-perusaahan media untuk kembali melamar pekerjaan di sana. Aku akan datang dengan segepok keahlianyang membuat sebuah karya dapat ditonjolkan. Bukan lagi membuat tulisan yang hanya diacuhkan.

Dia tidak 'Nyontek'

By : Harry Ramdhani



Kaki ini sungguh berat untuk melangkah pergi. Mungkin karena terlalu lama di rumah, --tidak kemana-mana-- hanya berdiam diri. Masih pagi buta, suara ayam masih terdengar mendengkur di dalam sana.

Kali ini, tugasku bukan lagi pemenuh rumah saja tapi menjadi Pengawas Independen Ujian Nasional. Sungguh tugas yang berat. Di Indonesia, pengawas hanya sebuah identitas dan independen merupakan slogan yang disepakati oleh para dipenden. Bertugas di sebuah sekolah tingkat atas yang tidak tahu 'apakah masih terlacak GPS?' merupakan beban tambahan tersendiri dari tugasku. Sempat iseng mencari di googleMap dan … tidak ada. Jawaban yang sama saat orang ingin meminjam uang.

Angkutan umum yang terlihat hanya dipenuhi belanjaan warung, sayur-mayur, dan karyawati para mucikari. Aku menunggu angkutan umum yang sekiranya aman, karena ini masih pagi, karena masih banyak laki-laki hidung belang yang berkeliaran. Dan ingat, ini pagi buta. Ayam saja yang biasa bangun pagi tidak melihat, lalu jika ada apa-apa denganku, mesti teriak minta tolong ke siapa?

***

Perjalanan aman, aku sudah sampai di tujuan dengan tidak ada sama sekali gangguan. Di sekolah, sudah ada beberapa guru yang menyambut dengan ramah --lebih tepatnya berlebihan-- bak dokter umum yang siap membuka klinik di kampung sebelah. Aku tidak tahu mesti bersikap apa, ini masih pagi buta. Tugasku ke sini adalah mengawasi kalian yang menyelenggarakan ujian. Tidak lebih.

Ternyata di daerah tempatku mengawas sama sekali tidak ada yang bisa selesai kuliah. Para guru saja hanya lulusan Sekolah Rakyat. dan Kepala Sekolah, hanya lulus Menengah Pertama. Di sini, mereka diminta mengajar oleh Bupati setempat. Kalian tau, tenaga pengajar yang dibuatkan standar oleh pemerintah pusat terlalu tinggi, terlalu membuat daerah ini bermimpi bisa maju oleh orang-orang bernama panjang oleh gelar. Gelar yang kita tidak tahu bisa didapat dengan cara seperti apa, dimana, dan bagaimana. Bukan urusanku, tapi membuatku cukup prihatin.

Tiga orang yang ditugaskan untuk mengambil soal di salah satu rayon yang cukup jauh sudah berangkat. Mestinya aku ikut ke sana, tapi karena baru tiba dan perluistirahat sejenak. Kata salah seorang guru, "Buatkan saja memo, biar nanti guru yang lain bisa menggantikan mengambil soal." Ide yang cukup baik. Padahal ini masih pagi, mungkin Ia sarapan dengan roti. Aku beristirahat di ruang Kepala Sekolah -- sebenarnya tak beda dengan ruang guru karena masih di satu ruang dan hanya dipisahkan papan sebagai penyekat--. Berbincang banyak hal tentang keadaan sekolah. Miris. Mana mungkin satu guru dibebani tugas untuk mengajar empat mata pelajaran. Padahal, di Kota, banyak guru (mungkin lebih baik aku menyebutnya: Pengajar) yang satu minggu hanya kebagian tiga kali mengajar, sisanya mereka hanya absen. Pemerataan adalah akal-akalan orang metropolitan.

Aku bertanya kesiapan untuk Ujian Nasional dan Kepala Sekolah hanya bisa pasrah. Pemerintah sudah seperti Tuhan, orang-orang yang bergantung dengannya dibuat tak berdaya. Pelecehan terhadap dunia pendidikan. Indonesia mestinya tidak seperti sekarang, Indonesia mestinya sudah siap melihat masa depan.

Apa yang mesti aku lakukan? Jika membiarkan mereka nanti nyontek saat ujian, maka aku tak bedanya dengan makhluk kuasa yang Ia anggap dirinya manusia. Padahal lebih cocok disebut Landak, bentuknya yang lucu tapi berduri.

***

Setengah jam lagi ujian akan dimulai. Aku, beserta pengawas kelas dan panitia pelaksana dari sekolah melakukan briefing. Berbekal sosialisasi oleh Dinas Pendidikan beberapa hari lalu, dengan itu aku membuat aturan-aturan baru untuk pelaksanaan ujian.

Melihat wajah-wajah peserta ujian yang tegang atau lebih tepatnya takut saat waktu hampir menunjukan pukul tujuh. Aku menghampiri seorang sisiwi yang duduk bersimpuh dibawah jendela yang hampir copot dan bisa membahayakan dirinya.

"Sudah siap, kan?" tanyaku seramah mungkin agar tidak semakin membuatnya takut.
"Tenang, kamu pasti bisa mengerjakannya." lanjutku.

Suara velg mobil yang ternyata adalah lonceng, digantungkan di pohon mangga dipukul tanda peserta ujian masuk kelas. Suara itu seperti suara terompet pertanda kiamat. Siswa-pun berbaris dengan wajah pucat. Pemandangan pendidikan macam apa ini? Tidak ada keriangan yang mencuat, hanya ketakutan yang membuat mereka seakan tidak kuat.

Aku berkeliling setiap ruangan yang hanya ada delapan. Memantau satu demi satu agar tidak ada yang kacau. Walau jujur, dulu-pun mendapatkan bocoran selama ujian. Tapi, apa mereka juga dapat?

Ujian berlangsung, suasana sekolah mendadak sepi seperti tak ada pengunjung. Aku memainkan velg mobil yang dijadikan lonceng, dengan sangat pelan tentunya. Di sini jadi orang yang kesepian, berkeliling ruangan-pun tak bertujuan. Di mushola yang lebih tepat disebut gudang penyimpanan beras, aku lihat ada guru yang sedang berdo'a, ada juga, yang malah tidur. Mungkin guru yang tidur sudah percaya atas apa yang Ia lakukan selama ini ke setiap muridnya. Jadi, tidak perlu lagi takut.

Di ruangan lima ada sedikit keributan, aku lekas menghmapirinya. Ada siswa yang ketauan nyontek. Ia membawa kertas bocoran. Darimana Ia dapatkan?

Suasana ruangan lima menjadi gaduh karena ulah salah seorang siswa yang malah ketuan mencontek. Laki-laki yang sedikit lusuh hanya tertunduk dan menangis di ruang Kepala Sekolah. Aku, pengawas kelas, dan panitia pelaksana berdiskusi untuk tidak membuat keributan semakin memanjang. Pelaksanaan Ujian dilanjutkan.


Laki-laki itu masih saja menangis dan sampai sesegukan, aku ambilkan Ia teh manis untuk tidak terus ketakutan. Hanya mencoba untuk menenangkan. Aku tahu apa yang Ia pikirkan, merasa masa depannya telah hancur karena tidak lulus Ujian Nasional. Banyak cemoohan pasti yang akan Ia terima, dari tetangga, dari teman-teman sebaya, dari orang-orang yang tega membunuh jiwa dan harapan anak tak berdosa.

"Dapat darimana bocoran jawaban?" Ah, aku merasa sudah melemparkan pertanyaan bodoh.

Dia masih diam tidak menjawab. Menggenggam cangkir sudah seperti ingin dipecahkan.

"Yasudah, biar nanti coba aku urus, yah. Kamu tenang aja." Ucapku sambil mengusap punggungnya.

Kita semua sepakat untuk tidak membawanya (baca: kasus) ke Dinas Pendidikan. Dengan catatan, Ia tidak bisa ikut Ujian bersama-sama temannya di ruangan. Tapi di sini, di meja Pengawas Ujian.

***

Ternyata, kasus ini bocor ke Dinas Pendidikan. Ah, dasar dunia pendidikan, bocornya dimana-mana. Coba sekali-kali kau bocori oknum yang suka membuat anggaran pendidikan ini bocor, berani tidak?

Aku dan anak laki-laki yang didampingi Kepala Sekolah juga Wali muridnya dipanggil ke Dinas Pendidikan. Mungkin kita akan disidang. Aku sudah siap dengan segala keputusan yang akan dijatuhkan. Karena, seperti yang semua orang tahu, adil di Indonesia hanya mitos belaka.

Dengan menggunakan jilbab merah, tanda aku sudah siap untuk berjuang atas semua tuduhan. Atas semua pernyataan konyol yang mengedepankan aturan. Atas tindakan bodoh mereka memanggilku untuk melihat anak laki-laki ini dibilang: Bersalah.

Dihadapan laki-laki tua berperut tambun, nyaliku tidak akan menciut sedikitpun.

"Kamu, sebagai pengawas Independen kenapa malah menyembunyikan kasus ini?" katanya seakan hakim.

Aku malah jadi ikut bodoh, apa urusan mereka menghakimi aku? Kalau ini soal aturan, biarkan dibawa ke pengadilan. Mungkin mereka sesekali ingin berurusan dengan wanita cantik. "Aku tidak menyembunyikan, tapi menyelesaikan kasus ini." Kataku dengan lantang.

"Bukan kewajibanmu menyelesaikan kasus seperti ini. Tugasmu mengawasi ujian."

Tuhan, kenapa negeri ini mesti dikelola oleh orang-orang tolol seperti laki-laki tua berperut tambun ?

"Jika hanya mengawasi, kenapa pemerintah tidak memberdayakan preman pasar, pengangguran saja?" jawabku. "Jelas itu lebih berguna dan aman. Ada kecurangan, tinggal hantam."

Laki-laki tua berperut tambun naik pitam, "Apa maksudmu? Kau sudah dibayar mengawasi."

"Di bayar? mana? Aku belum menerima uang sepeser-pun." Intonasiku sudah sedikit meninggi. "Lantas, apa memang salahnya anak ini? Yaa… memang Ia mempunyai bocoran tapi, Ia sudah dapat ganjaran."

Suasana di ruangan semakin panas, antara aku dengan laki-laki tua berperut tambun yang kemudian aku tahu namaya: Rasyidun Gofur.

"Dia mencontek. Dia melanggar aturan. Dan dia tidak lulus ujian." kata Gofur sambil menunjuk-nunjuk Gilang, seorang siswa yang sedang aku bela.

"Mencontek? Dasar bodoh" Aku semakin tidak terkontrol. Berdiri dengan menggebrak meja. "Dia tidak mencontek. Paham?"

"Kau ini sarjana bodoh, yah" Gofur ikut tidak terkontrol. "Jelas-jelas dia mencontek."

Ibu Gilang sambil mengusap tanganku untuk tetap bersabar dan menangis memeluk Gilang yang dari tadi tetunduk. Aku yakin, Ia sedang menangis dalam tunduknya.

"Bapak Gofur yang memiliki jabatan" kataku, "Mencontek itu melihat pekerjaan temannya yang sama-sama sedang ujian. Sedangkan yang Ia lakukan adalah melihat bocoran. Melihat bocoran bukanlah mencontek." Jilbab yang aku pakai sampai kendor ke sana-ke mari.
"Jika bapak mem-black list nama Gilang, artinya bapak juga telah mencoreng pendidikan di Indonesia. Apa yang dilakukan Gilang juga adalah ulah oknum Dinas Pendidikan." apa yang aku lakukan di dalam ruangan, persis seperti orang berorasi di depan Gedung Kemerdekaan. "Tuduhan bapak tidak diterima. Dan saya, sebagai Tim Pengawas Independen telah menghukumnya."

*** Empat tahun berikutnya ***


Ada sebuah undangan tergeletak di depan pintu rumah. Undangan pernikahan Gilang, seorang siswa yang dulu pernah dihukum mengerjakan Ujian di mejaku. Gilang masih mengingatku, bagiku, itu sudah terlampau cukup membuat bahagia.

Aku dan Suamiku datang ke pesta pernikahan. Sungguh meriah. Aku bertemu beberapa guru di sekolah tempat mengawas dulu. Dan, tidak aku duga, Gilang melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Biaya kuliah Ia tanggung sendiri sambil berdagang. Kini, Ia telah menjadi orang sukses dan banyak terlibat di Lembaga Sosial untuk mensejahterakan pendidikan.

Dalam setiap butir tangis anak-anak sekolah yang pernah dilecehkan oleh oknum-oknum pejabat pendidikan, terbersit do'a. Do'a berbentuk air mata ditadahi malaikat dan diberikan ke Tuhan. Selebihnya, adalah urusan Tuhan.

Pengawas Ujian: Dia tidak 'Nyontek'

By : Harry Ramdhani
Kaki ini sungguh berat untuk melangkah pergi. Mungkin karena terlalu lama di rumah, --tidak kemana-mana-- hanya berdiam diri. Masih pagi buta, suara ayam masih terdengar mendengkur di dalam sana.

Kali ini, tugasku bukan lagi pemenuh rumah saja tapi menjadi Pengawas Ujian Nasional. Sungguh tugas yang berat. Di Indonesia, pengawas hanya sebuah identitas dan independen adalah slogan yang disepaki oleh semua. Bertugas di sebuah sekolah tingkat atas yang tidak tahu 'apakah masih terlacak GPS?'. Aku sempat iseng mencari di googleMap dan tidak ada. Jawaban yang sama saat orang ingin meminjam uang.

Angkutan umum yang terlihat hanya dipenuhi belanjaan warung, sayur-mayur, dan karyawati para mucikari. Aku menunggu angkutan umum yang sekiranya aman, karena ini masih pagi, karena masih banyak laki-laki hidung belang yang berkeliaran. Dan ingat, ini pagi buta. Ayam saja yang selalu bangun pagi tidak melihat, lalu jika ada apa-apa dengan diriku, mesti teriak minta tolong ke siapa?

***

Perjalanan aman, aku sudah sampai di tujuan dengan tidak ada sama sekali gangguan. Di sekolah, sudah ada beberapa guru yang menyambutku dengan ramah --lebih tepatnya berlebihan-- bak dokter umum yang siap membuka klinik di kampung. Aku tidak tahu mesti bersikap apa, ini masih pagi buta. Tugasku ke sini adalah mengawasi kalian yang menyelenggarakan ujian. Tidak lebih.

Ternyata di daerah tempatku mengawas sama sekali tidak ada yang bisa selesai kuliah. Guru-guru sekolah saja hanya lulusan Sekolah Rakyat. Kepala Sekolah saja hanya lulus sampai SMP. Di sini, mereka diminta mengajar oleh Bupati setempat. Tenaga pengajar yang dibuatkan standar oleh pemerintah pusat terlalu tinggi, terlalu membuat daerah ini bermimpi bisa maju oleh orang-orang bernama panjang oleh gelar. Gelar yang kita tidak tahu bisa didapat dengan cara seperti apa, dimana, dan bagaimana. Bukan urusanku, tapi aku cukup prihatin.

Tiga orang yang ditugaskan untuk mengambil soal di salah satu Rayon yang cukup jauh sudah berangkat. Mestinya aku ikut ke sana, tapi aku baru saja tiba dan istirahat sejenak. Akhirnya aku buatkan memo untuk beberapa guru untuk mengambil soal ke sana. Aku masuk ke ruang Kepala Sekolah, sebenarnya tidak ada bedanya dengan ruang guru, karena masih di satu ruang dan hanya dipisahkan papan sebagai penyekat. Berbincang banyak hal tentang keadaan sekolah. Miris. Mana mungkin satu guru dibebani tugas untuk mengajar empat mata pelajaran. Padahal, di Kota, banyak guru (mungkin lebih baik aku menyebutnya: Pengajar) yang satu minggu hanya kebagian tiga kali mengajar, sisanya mereka hanya absen. Pemerataan adalah akal-akalan orang metropolitan.

Aku bertanya kesiapan untuk Ujian Nasional dan Kepala Sekolah hanya bisa pasrah. Pemerintah sudah seperti Tuhan, orang-orang yang bergantung dengannya dibuat tak berdaya. Pelecehan terhadap dunia pendidikan. Indonesia mestinya tidak seperti sekarang, Indonesia mestinya sudah siap melihat masa depan.

Apa yang mesti aku lakukan? Jika membiarkan mereka nanti nyontek saat ujian, maka aku tak bedanya dengan makhluk kuasa yang Ia anggap dirinya manusia. Padahal lebih cocok disebut Landak.

***

Setengah jam lagi ujian akan dimulai. Aku beserta pengawas kelas dan panitia pelaksana dari sekolah melakukan briefing. Seperti bekal yang aku bawa ke sini sebagai pengawas, maka aku terap juga. Seperti tata tertib ujian, dan lain-lain yang tidak tetulis.

Aku melihat wajah-wajah peserta ujian yang tegang atau lebih tepatnya takut saat waktu hampir menunjukan pukul tujuh. Aku menghampiri seorang sisiwi yang duduk bersimpuh dibawah jendela yang hampir copot dan bisa membahayakan dirinya.

"Sudah siap, kan?" tanyaku seramah mungkin agar tidak semakin membuatnya takut.
"Tenang, kamu pasti bisa mengerjakannya." lanjutku.

Suara velg mobil yang ternyata adalah bel yang digantungkan di pohon mangga dipukul tanda peserta ujian masuk kelas. Suara itu seperti suara terompet tanda kiamat. Siswa berbaris dengan wajah pucat. Pemandangan pendidikan macam apa ini? Tidak ada keriangan yang mencuat, hanya ketakutan yang membuat mereka seakan tidak kuat.

Aku berkeliling setiap ruangan yang hanya ada delapan. Memantau satu demi satu agar tidak ada yang kacau. Walau jujur, dulu aku mendapatkan bocoran selama ujian. Tapi, apa mereka juga dapat?

Ujian berlangsung, suasana sekolah mendadak sepi seperti tak ada pengunjung. Aku memainkan velg mobil yang dijadikan lonceng, dengan sangat pelan tentunya. Di sini aku kesepian, berkeliling ruangan-pun tak bertujuan. Di mushola yang lebih tepat disebut gudang penyimpanan beras, aku lihat ada guru yang sedang berdo'a, ada juga, sih, yang malah tidur. Mungkin guru yang tidur ini sudah percaya atas apa yang Ia lakukan selama ini ke setiap muridnya. Jadi, tidak perlu lagi takut.

Di ruangan lima ada sedikit keributan. Aku lekas menghmapirinya. Ada siswa yang ketauan nyontek. Ia membawa kertas bocoran. Darimana Ia dapatkan?

suasana ruang lima menjadi gaduh karena ulah salah seorang siswa yang malah ketuan mencontek. Laki-laki yang sedikit lusuh ini hanya tertunduk dan menangis di ruang Kepala Sekolah. Aku, pengawas kelas, dan panitia pelaksana berdiskusi untuk tidak membuat keributan semakin memanjang. Pelaksanaan Ujian dilanjutkan. 


Laki-laki itu masih saja menangis dan sampai sesegukan, aku ambilkan Ia teh manis untuknya. Mencoba untuk menenangkan. Aku tahu apa yang Ia pikirkan, merasa masa depannya telah hancur karena tidak lulus Ujian Nasional. Banyak cemoohan pasti yang akan Ia terima, dari tetangga, dari teman-teman sebaya, dari orang-orang yang tega membunuh jiwa dan harapan anak ini.

"Dapat darimana bocoran jawaban?" Ah, aku merasa sudah melemparkan pertanyaan bodoh.

Dia masih diam tidak menjawab. Menggenggam cangkir sudah seperti ingin Ia tekan dan dipecahkan.

"Yasudah, biar nanti coba aku urus, yah. Kamu tenang aja." Ucapku sambil mengusap punggungnya.

Kita semua sepakat untuk tidak membawanya ke Dinas Pendidikan. Dengan catatan, Ia tidak bisa ikut Ujian bersama-sama temannya di ruangan. Tapi di sini, di meja Pengawan Ujian.

***

Ternyata, kasus ini bocor ke Dinas Pendidikan. Ah, dasar dunia pendidikan, bocornya dimana-mana. Coba sekali-kali kau bocori oknum yang suka membuat anggaran pendidikan ini bocor, berani tidak?

Aku dan anak laki-laki itu yang didampingi Kepala Sekolah dan Wali murid tentunya dipanggil ke Dinas Pendidikan. Mungkin kita akan disidang. Aku sudah siap dengan segala keputusan yang akan dijatuhkan kepadaku. Karena aku tahu, adil di Indonesia hanya mitos belaka.

Dengan menggunakan jilbab merah, tanda aku sudah siap untuk bertahan atas semua tuduhan. Atas semua pernyataan konyol yang mengedepankan aturan. Atas tindakan bodoh mereka memanggilku untuk melihat anak laki-laki ini dibilang: Bersalah.

Dihadapan laki-laki tambun, nyaliku tidak akan menciut ke dubun.

"Kamu, sebagai pengawan Independen kenapa malah menyembunyikan kasus ini?" katanya seakan Ia ini hakim.

Kadang aku juga jadi ikut bodoh, apa urusan mereka menghakimi aku. Kalau ini soal aturan, biarkan dibawa ke pengadilan. Mungkin mereka sesekali ingin berurusan dengan wanita cantik. "Aku tidak menyembunyikan, tapi menyelesaikan kasusu ini." Kataku dengan lantang.

"Bukan kewajibanmu menyelesaikan kasus seperti ini. Tugasmu mengawasi ujian."

Tuhan, kenapa negeri ini mesti dikelola oleh orang-orang tolol seperti laki-laki tua berperut tambun ?

"Jika hanya mengawasi, kenapa pemerintah tidak memberdayakan preman pasar, pengangguran saja?" jawabku. "Jelas itu lebih berguna dan aman. Ada kecurangan, tinggal hantam."

Laki-laki tua berperut tambun naik pitam, "Apa maksudmu? Kau sudah dibayar mengawasi."
"Di bayar? mana? Aku belum menerima uang sepeser-pun." Intonasiku sudah sedikit meninggi. "Lantas, apa memang salahnya anak ini? Yaa… memang Ia mempunyai bocoran tapi, Ia sudah dapat ganjaran."

Suasana di ruangan semakin panas, anatara aku dengan laki-laki tua berperut tambun yang kemudian aku tahu namaya: Rasyidun Gofur.

"Dia mencontek. Dia melanggar aturan. Dan dia tidak lulus ujian." kanya Gofur sambil menunjuk-nunjuk Gilang, seorang siswa yang sedang aku bela.
"Mencontek? Dasar bodoh" Aku semakin tidak terkontrol. Berdiri dengan menggebrak meja. "Dia tidak mencontek. Paham?"
"Kau ini sarjana bodoh, yah" Gofur ikut tidak terkontrol. "Jelas-jelas dia mencontek."

Ibu Gilang sambil mengusap tanganku untuk tetap bersabar dan menangis memeluk Gilang yang dari tadi tetunduk. Aku yakin, Ia-pun sedang menangis ditunduknya.

"Bapak Gofur yang memiliki jabatan" kataku, "Mencontek itu melihat pekerjaan temannya yang sama-sama sedang ujian. Sedangkan yang Ia lakukan adalah melihat bocoran. Melihat bocoran bukanlah mencontek." Jilbab yang aku pakai sampai kendor ke sana-ke mari.
"Jika bapak mem-black list nama Gilang, artinya bapak juga telah mencoreng pendidikan di Indonesia. Apa yang dilakukan Gilang juga adalah ulah oknum Dinas Pendidikan." apa yang aku lakukan di dalam ruangan, persis seperti orang berorasi di depan Gedung Kemerdekaan. "Tuduhan bapak tidak diterima. Dan saya, sebagai Tim Pengawas Independen telah menghukumnya."

*** Empat tahun berikutnya ***

Ada sebuah undangan tergeletak di depan pintu rumahku. Undangan pernikahan Gilang, seorang siswa yang dulu pernah aku hukum mengerjakan Ujian di mejaku. Gilang masih mengingatku, bagiku, itu sudah terlampau cukup membuatku bahagia.

Aku dan Suamiku datang ke pesta pernikahannya. Sungguh meriah, Aku bertemu beberapa guru di sekolah tempat aku mengawas. Dan, Gilang, ternyata melanjutkan sekolahnya ke perguruan tinggi sambil berdagang. Ia bertemu jodohnya di bangku kuliah. Kini, Ia telah menjadi orang sukses dan banyak terlibat di Lembaga Sosial untuk mensejahterakan pendidikan.

Dalam setiap butir tangis anak-anak sekolah yang pernah dilecehkan oleh oknum-oknum pejabat pendidikan, terbersit do'a. Air mata itu ditadahi malaikat dan diberikan ke Tuhan. Selebihnya, adalah urusan Tuhan.




Oh... kekasih Kau Cantik

By : Harry Ramdhani
Cerpen ini gue buat dari beberapa tweet, 'Oh… Kekasih'. Jadi gue cuma bikin bridging berbentuk narasi. Rada maksa, sih, tapi gapapa karena ini karya saya. Sila baca:


                                                  Ohh… Kekasih Kau Cantik


Di sebuah ruangan, aku melihatmu duduk termenung sambil memaninkan gadget pemberian orangtua-mu. Bukannya aku ingin menyindirmu, tapi memang kau ini gadis manja, yang (mungkin) dilahirkan bukan untuk bekerja. Tapi, cukup diam di rumah tanpa perlu melakukan apa-apa, semua sudah ada. Kali ini, aku sedikit bingung, apa yg membuatmu termenung di sana? Mungkinkah orangtua tidak dapat memenuhi keinginanmu, aku rasa tidak. Namun, ada apa?

Setelah aku memberanikan diri untuk mendekati --karena aku tahu, pantang seorang laki-laki mendekati wanita saat bersedih, bisa-bisa jadi kambing hitam--, kau tertunduk dan meneteskan air mata di bangku tempat kau duduk

apa yang kau lakukan, kekasih? tampak sibuk dengan meneteskan airmata. "menghapus nama oranglain dari bio." ucapmu sendu.

ahh, aku tidak bisa berbuat apa-apa, sedih memang baru putus dengan orang yang kita sayangi. Tapi, apa boleh buat, kini Tuhan telah berbuat. Dalam hati aku berpikir, 'laki-laki bodoh seperti apa yang tega meninggalkan wanita cantik nan-manja. Dasar bodoh'.

tenang, tak usah risau, kekasih, akan tiba waktunya, saat aku berhenti mendekatimu, lalu menjadi pasanganmu.

Oia, sejak kenal, aku sering memanggilmu: Kekasih. Padahal aku bukan bagian dari dirimu yang perlu kau kasihi, tapi aku hanya suka memanggilmu dengan sebutan seperti itu. Aku pikir, kau pantas dapat panggilan 'kekasih' karena aku tahu, kau dibesarkan dengan uang, bukan kasih sayang.

Atas segala kerendahan hati, sedikit bernawas diri, kekasih, aku tetap pengagummu.

Untuk keadaan seperti ini, banyak yang aku tidak mengerti darimu, dari semua hal tentang dirimu. Di sini kita kuliah, di sini kita belajar untuk tidak sering membuat ulah dan di sini kewajiban kita mendapatkan nilai. Nilai yang oranglain anggap penting. Bagiku: Tidak. Namun, dalam keadaan seperti ini aku memang tidak paham. Aku cuma seorang yang sering menggodamu.

kau memang terpelajar, kekasih, tapi tidak perlu semua kau mengerti. karena tidak semua ada di soal UAS.

Bisa berdua denganmu di satu ruangan memang sudah biasa, tapi berdua denganmu di satu ruangan dalam kondisi sekarang memang suatu kebahagiaan. Bisa di sampingmu saat kau bersedih.

asap mengepul se-isi ruangan, kekasih, kau penuhi keindahan.

Keindahan karena kecantikanmu, keindahan oleh kehadiran perasaan yang sampai sekarang aku pendam. Jantungku berdetak tak karuan, apakah ini akibat kita berduaan di satu ruangan? Mungkinkan ini Cinta.

ingat, kekasih, aku suka angka ganjil. di sana selalu ada angka penengah. aku menyebutnya: Cinta

Aku memberikanmu sapu tangan untuk kau gunakan menghapus air mata yang masih tergenang di wajah dan sedikit merusak pemandangan. Tapi, tetap saja, kau memang terlapau cantik.

bunga, tumbuh mekar secara alami, kekasih, kecantikanmu juga. dengan sendirinya memalingkan duniaku.

Kau terus mengucapkan terima kasih atas kebaikanku. Ya, bagimu, memberikan sapu tangan untuk menghapus air mata di wajahmu adalah perbuatan baik. Aku hanya bingung, sebenarnya itu tidak berguna, kau tetap cantik. Aku tidak baik, karena beginilah keseharianku, begitulah guru-guruku dulu mengajarkan.

berhenti mendo'a-kan yg baik-baik, kekasih, jika Tuhan dengar, aku berat menjalani.

Aku hanya bisa mengingat kejadian-kejadian yang telah kita lakukan bersama. Dulu. Kau sering mengerjaiku untuk ke bioskop bersama. Karena hujan, aku berteduh di Halte. Karena ini adalah janji, aku tetap menunggumu di sana sampai kehadiramu tiba. Walau cukup lama, aku tetap di sana. Dengan mudahnya kau membatalkan karena sengaja ingin mengerjaiku. Aku tidak sakit hati, karena kau bahagia, karena kau semakin cantik bila tertawa.

seperti yg sudah kau tahu, kekasih, aku menunggumu di Halte saat hujan. saat kita gagal kencan.

Tidak hanya itu, aku sering dimintamu menunggu di rumahmu, di ruang tamu dengan begitu banyak suguhan pembantu. Kau lama tak kunjung keluar kamar, ketika aku tanya kenapa bisa lama, jawabmu singkat: pakai baju apa, yah?

saat kau terdiam di depan meja rias penuh lampu, kekasih, tak ada yg dilakukan, kau sudah cantik.

Aku ungkapkan perasaan yang sedari dulu aku simpan. Kau anggap itu hanya guyonan. Kau malah tertawa tak tertahan.

kekasih, masih juga belum percaya semua kata-kataku. tak apa. setidaknya ada yg aku percaya: kau cantik setiap hari.

Kita berdua keluar ruangan seperti tidak pernah terjadi apa-apa, seperti kejadian di dalam hanyalah mimpi. Aku padamu, kekasih.

Pintu Gerbang Telah Terbuka

By : Harry Ramdhani
Kalau bukan dibuat oleh orang-orang profesional, mungkin tidak akan ada audisi #StreetComedy yang dilaksanakan sebelum hari H, Jika #BerGaMiS kita analogikan sebagai hari pernikahan, haram hukumnya pengantin disibukan oleh kegiatan resepsi dan akad nikah untuk hari H.Jika #BerGaMiS kita analogikan sebagai hari pernikahan, haram hukumnya pengantin disibukan oleh kegiatan resepsi dan akad nikah untuk hari H. Ketiga penampil disibukan oleh pelaksanaan audisi, Kang Dede menjadi host, Jui menjadi juri, dan… Ridwan mesti diminta untuk duduk dipinggir panggung menghabiskan sebotol bir promo. Mungkin tidak akan ada show sehebat #BerGaMiS.

It's a good managerial skill. It's a good technical skill. It's a Dream Team. Two thumb up for Stand-up Indo Bogor.


Sebuah cerita singkat yang mungkin hanya memenuhi lembar file pribadi. Sebuah cerita pendek yang hanya menjadi sebuah catatan. Catatan yang semoga bisa dibagikan.


Pintu Gerbang Telah Terbuka
 

Sebenarnya Aku sudah (sedikit) menulis tentang #BerGaMiS jauh sebelum promo show ini muncul di dunia maya, di dunia nyata melalui mulut ke mulut. Tapi karena ini bukan kewenanganku, lebih baik Aku simpan dibalik ketidak-sabaran acara tersebut.

Setiap pelajar ketika datang ke sekolah kemudian terlambat, hal pertama yang Ia harapkan adalah dibukakan pintu gerbang oleh penjaga sekolah. Mengatas namakan apapun, terlambat hanya soal waktu. Waktu yang telah diperkosa secara arukan kemudian ditelantarkan. Aku benci terlmabat. Aku benci orang yang terlamabat. Dan Aku terlambat datang ke acara #BerGaMiS. Aku membenci diriku sendiri saat itu. Aku membenci waktu yang terlampau cepat meninggalkan. Aku membenci semua yang membuatku terlambat. Semua yang tidak bisa dijabarkan dengan kata.

Di depan Ball Room, duduk manusia kekar. Serupa dengan Agung Hercules dengan versi rambut pendek. Dilengkapi tanda pengenal dengan nama @guejoy. Joy, berkesempatan menjadi Hansip. Ia bertanggung-jawab atas keamanan orang-orang yang ada di dalam ruangan. Katanya, Aku hanya diperuntukan masuk setelah penampilan Jelanguan dan Ridwan.

#DamnSitLol

Rule is rule. Aturan tetaplah aturan. Andai mereka (baca: crew Bergamis) seorang aparatur negara pasti paham, bahwa aturan dibuat untuk dilanggar. Tapi karena mereka profesional, aturan yang telah dibuat mesti dipatuhi. Begitukan profesional ?

Aku datang nonton #BerGaMiS untuknya. Untuk namanya yang siap diorbitkan ke dunia Stand-up Comedy Indonesia. Sekilas, Aku ingat perbinacanganku dengan Ridwan di Kedai Alania. Perbincangan singkat soal #BerGaMiS. Perbincangan soal apa yang akan Ia bawakan nanti.
"Gue gak bakal bawain materi tentang angkot. Semua materi baru dan gak akan dicoba pas Open Mic. Biar jadi surprize, gitu."

Jarang. Sangat jarang Aku menemukan komika se-sombong dia. Sekalipun ada, mungkin hanya mempermalukan dirinya di panggung membawakan materi tanpa sekalipun pernah diuji.

Aku suka orang-orang sombong. Karena hanya dengan sombongnya 'lah yang masih membuatnya berdiri. Berdikari. Sombong Ia jadikan tongkat sebagai samdaran untuk tetap berdiri. Sombong adalah sikap membuktikan atas apa yang telah dilakukan.

Kepercayaan atas apa yang Ridwan tulis sangat penting bagi contoh ke setiap komika. Percaya bahwa premis yang dibawakan dapat membawa orang memperhatikannya. Percaya bahwa set-up yang ditulis dapat mempengaruhi main set penonton. Percaya bahwa punch-line yang ditulis dapat membuat terkejut penonton dan yang paling penting, yah, ketawa.

Walau Aku tidak melihat penampilan Ridwan. Tapi, dari luar Aku mendengar tawa, mendengar tepuk tangan, mendengar suara kelelahan penonton karena tertawa. Setidaknya Aku bisa menyimpulkan: Ridwan sukses.

Joy, dengan segala usahanya menenangkan orang-orang yang masih diluar yang belum diizinkan masuk. Dari coklat, rokok, dan harga dirinya Ia tawarkan. AKu melihat seorang wanita yang sudah kepalang kesel sama Joy. Mungkin di dalam otaknya Ia berucap, "Gue sumpahin telat juga lu ngangkat pas ngencuk sama cewek lu. Biar lu rasain betapa gak enaknya telat. Su !!"

Pintu sudah dibuka, semua diminta baris. Joy malah langsung ngacir ke dalem pas pintu dibuka. Dasar Kang Tambel Ban.

Melihat ruangan yang sudah dipenuhi orang dan Dede Kendor yang malah nyanyi-nyanyi di panggung, Aku hanya berpikir: Woy, stand-up. Malah nyanyi, gak sabar, nih.

Sial. Emang terlambat itu gak ada asyiknya kayak original sound track #BerGaMiS - Jelanguan. Duduk di baris paling belakang, cuma kedapetan kepala Kang Dede doang. Aahhhhh !! Tidak ada bangku kosong tersisa, karena semua bangku ditarik ke belakang. Mungkin ini trik untuk supaya terlihat sold-out. Santai, bergamis: bercandanya agak miris. 


Kang Dede stand-up. ssttt… dilarang berisik. Selasai. Aku puas tertawa. Aku puas bisa mengantongi beberapa materi Kang Dede yang sangat ke-orangtua-an itu. Berguna untuk diaplikasikan. Tidak satu-pun jokes yang dilontarkan miss ke penonton. Penyampaian, ke dalaman materi, dan keperjakaannya yang membuat semua dapat menghasilkan tawa. Aku berani menyimpulakan: Indonesia, bukakan pintu kalian untuk Dede Kendor. Biarkan Ia menyampaikan asumsinya kepada kalian dan kalian tinggal cukup tertawa. Penampilan terbaik Kang Dede yang pernah Aku lihat.

Bukan Jui Purwoto kalau penonton tidak tertawa saat melihatnya di panggung. Entahlah, Aku tidak menemukan titik kelucuannya di mana tapi, Aku tertawa. Mungkin ini yang dinamakan 'aura' komedian layar kaca. Saat asyik tertawa, Ia menyanyikan lagu… lagu apa, yah ? Gak penting judul lagunya apa, yang pasti Ia pelesetin lirik lagunya menjadi lucu. Ingat, lucu.

Jui seakan memberitahukan bahwa semua orang bisa melucu, bedanya Ia bisa menata semua kelucuan menjadi satu dan dibawakan dengan rapih, dengan kepintarannya membuat semua semakin lucu. Tidak semua orang bisa melakukan semua yang dilakukan Jui. Aku salah seorang penggemar Jui. Serius. Semua jokes yang tidak asing dikuping kita bisa diubah dan dibuatnya dengan format stand-up comedy. Melihatnya di panggung, seperti melihat Will Smith melucu. Kental akan aksen, pintar dalam diksi.

Tapi, Aku sedikit kasian pada semua penampil. Mungkin karena AC ruangan yang terlalu dingin, berakibat penampil kekeringan di mulut. Jui berkali-kali membasahi… gigi atau gusi, yah ? Entahlah, soalnya nyaru, sih. Hebat. Malam itu, Aku terhibur atas segala kekesalanku terlambat. Aku belajar sebuah profesionalisme dari semua orang yang terlibat dalam #BerGaMiS.

Beginilah aroma Show Stand-up Comedy. Kelucuan dan kesedihan tercampur aduk. Wajah Jui memerah saat memeluk Kang Rifki. Pelukan hangat persahabatan. Saat keluar, di wall of fame, Aku bertemu Kang Dede. Aku memeluknya begitu erat. Walau kita tidak terlalu dekat, tapi Aku ikut terharu akan penampilannya yang 'hampir' sempurna di panggung tadi. Aku ingat semua jokes-nya. He's the best.

Kini, saat pintu gerbang telah terbuka, Aku akan siap mengikuti -- setidaknya jika Aku mampu -- BerGaMiS bila itu dibuatkan tur stand-up. Aku percaya, (Aku percaya akan banyak hal tapi, yang Aku yakini hanya satu: Tuhan.) bahwa seluruh Indonesia sudah siap menampung mereka. Indonesia butuh lawakan-lawakan sederhana seperti yang dilakukan ketiga cendikiawan Bogor: Ridwan, Dede Kendor, dan Jui Purwoto.

Pintut gerbang telah dibuka dengan lebar atas sebuah pembuktian bahwa mereka,… pantas.





Ejakulasi Kopi

By : Harry Ramdhani

Sudah tiga cangkir kau sajikan.
bibirku,
bibir cangkir, dan… bibirmu
menghitam tak karuan.

kedua tangan ini tak ada henti melucuti
gorengan yang disaji.
tapi,
kopi ini.

Dengan sengaja aku
tumpahkan kopi di buku.
hanya ingin melihat bintikan kopi
kering menghiasi.

Jika penyair tetap setia pada hujan.
mana mungkin aku tega
mengingkari janji
pada cangkir kopi.

Pedih ini,
tergores ketika
Kau sengaja
memecahkan cangkir berisi kopi.

tidak perlu menambahkan satu
sendok gula dalam cangkir. Kau
menyuguhkan kopi pahit, bagiku
sudah terlampau manis.

Hanya dalam gelas kopi aku bisa
melihat satu titik cahaya.
cahaya kemesraan
dalam kesetiaan.

Tubuhmu
sudah kaku terkekang nafsu.
berdua dengan secangkir kopi,
kau sudah masturbasi.

birahiku
terbakar. sentuhan asap kopi
membuatku
ejakulasi sejak dini.

suara jatungku mengiringi.
kafein tinggi
membuat nafasku
beradu dengan nafsu.

kopi atau tubuhmu ?

Tag : ,

Twit Soal #Nyasar

By : Harry Ramdhani
gue bakal ngetwit soal #nyasar. tapi, biarkan dimulai dengan ini…

cowok, semakin cerdas cenderung melihih cewek bertetek kecil. #nyasar

bagi gue, #nyasar adalah musibah. lewat stand-up comedy gue belajar. musibah bukan bahan lelucon.

tidak ada yg perlu diketawain dari musibah. tidak ada yg perlu diketawain dari #nyasar.

entahlah, mungkin seluruh jari ditubuh gue gak sanggup ngitung jumlah #nyasar gue sendiri.

setiap dateng ke tempat yg baru, #nyasar adalah kawan.

tapi, walau gue udah dua atau tiga kali dateng ke tempat yg sama. kadang, masih aja #nyasar.

mungkin, ada dua kemungkinan: arsitek engga kreatif dan dinas tata kota gak kerja. #nyasar

sejauh ini, bangunan2 di Indonesia bentuknya serupa. di mana-pun terlihat sama. #nyasar

jadi, mana mungkin gue bisa bedain antara satu tempat dgn tempat yg lain. hasilnya: #nyasar.

ini adalah bukti bahwa arsitek di Indonesia gak kreatif. setiap men-design gedung, itu-itu aja. #nyasar

udah terlalu banyak bangunan serupa, dalam peletakannya-pun sembarangan. #nyasar

artinya: dinas tata kota gak kerja. entahlah apa fungsi peta besar terpampang di kantornya ? #nyasar

mungkin, hanya sebatas hiasan biar gak tampak sepi. udah gak kerja, gak ada hiasan. kelar. #nyasar

sumpah. #nyasar itu gak enak. ada di wilayang asing bisa bikin kayak makhluk asing. alien.

hal pertama yg mesti dilakuin saat #nyasar: belajar dengan cepat kehidupan setempat.

kalo sembarangan bertingkah saat #nyasar, hal terburuknya itu disangka maling. bisa dipukulin. sakit.

musibah merupakan hal yg tak diduga sebelumnya. maka, #nyasar adalah musibah.

kalo masih ada yg ngetawain saat ada yg #nyasar. mungkin cuma ada dua kemungkin: jahat atau tolol.

makanya, gue adalah orang yg gak suka jalan-jalan, karena bisa berakibat #nyasar

sila di analogikan sendiri ke arah perasaan tentang twit #nyasar gue.
Tag : ,

#FAQ @IstanaRakyat dan @SBYudhoyono

By : Harry Ramdhani

Dunia Baru Kepresidenan: Twitter
Minggu lalu, lebih tepatnya hari kamis (11/042013) TwitterLand -- istilah untuk dunia Twitter -- digemparkan oleh kehadiran akun Twitter kepresidenan @IstanaRakyat. Banyak orang (khususnya pengguna Twitter), berkicau soal kehadiran akun tersebut.
Kali ini, Pewawancara berkesempatan mewawancarai salah satu aktivis di TwitterLand @_HarRam. Ia adalah Pakar #OBSET di TwitterHill, begitu Ia menyebut dunia Twitter. Tidak sedikit tweet-nya menjadi cemooh oleh followers-nya. Wawancara dilakukan via e-mail, Minggu, (14/04/2013). Berikut petikannya:
Sebagai orang yang aktiv di Twitter, pendapatmu soal akun twitter @IstanaRakyat dan @SBYudhoyono ?
Menurut saya, itu satu langkah positif yang dilakukan pemerintah guna mendengar suara rakyat. Mungkin itu tujuannya.
Eum… mari kita bahas akun tersebut satu-satu. Saat pertama kali mem-boom-ing adalah akun @IstanaRakyat. Apa sih sekiranya maksud ada akun tersebut ?
Kita bisa lihat di Bio-nya, di sana tertulis: 'Akun resmi Istana Kepresidenan Republik Indonesia'. Jadi, paling tidak akan berisi seputaran lingkungan Istana sampai kegiatan di dalam Istana.
Kalau memang demikian, kenapa akun twitter pertama itu yang di follow adalah akun Bambang Pamungkas (@Bepe20). Apa hubungannya beliau dengan Istana ?
Lah, mana saya tahu. Pertanyaan aneh.
Maaf. Biasanya, akun pertama yang di follow adalah alasan utama orang ingin membuat akun Twitter juga. Tapi, setelah akun @IstanaRakyat ramai diperbincangkan, kenapa isi tweet-nya terlalu banyak foto-foto, yah ?
Setuju. Seperti saya, akun pertama yang saya follow adalah pacar saya tapi, dia malah ninggalin. Yasudah, saya 'Block' aja. Menarik. Kadang, kita lebih suka melihat gambar dari pada melihat kata-kata yang berhimpitan. Jadi, dengan twitpic sudah bisa terwakilkan semua kata-kata.
Bicara soal twitpic, pada tanggal 9 April 2013, akun @IstanaRakyat posting gambar menu makan siang di Istana, "Ini dia menu makan siang Presiden SBY. BTW apa menu makan siang Anda ?" Apa pendapatmu ?
Miris. Karena, banyak rakyat Indonesia yang masih susah untuk makan. Jangankan makan siang, untuk sarapan saja tidak ada. Semoga admin akun @IstanaRakyat bisa lebih melihat rakyat.
Pasti sudah tahu admin @IstanaRakyat, Kiki. Siapa sih, dia ? Setidaknya Ia sendiri yang memperkenalkan diri lewat Akun @IstanaRakyat.
Yup. Saya malah sempat berpikir nama 'Kiki' adalah nama admin @IstanaRakyat, karena tweet-nya sangat 'masa kini'. Mana mungkin, akun Kepresidenan di admin oleh anak muda dan diberi kepercayaan besar seperti ini. Tapi, 'Kiki' adalah perkumpulan staf istana yang suka berbagi info dan berjiwa muda. Nah, sepertinya ide akun @IstanaRakyat berasal dari mereka dan disetujui pihak Istana. Menariknya, ketika baru dirilis 8 April lalu, akun @IstanaRakyat sudah kultwit -- istilah dalam Twitter yang berarti Kuliah di Twitter -- tentang sejarah Istana. Mungkin 'Kiki' sudah gatel ingin melakukan itu sejak lama. Sini kalo gatel saya garukin.
Lucu juga, sekarang masuk pembahasan akun resmi Pak Beye, @SBYudhoyono, pendapatnya ?
Wuihh !! ini sangat sensasional. Saya jadi ingat ucapan Menteri BUMN, Dahlan Iskan, saat diwawancarai Tempo, "Sebaiknya kalau punya Twitter jangan dikendalikan oleh orang lain, apalagi mesin."
Apa yang sensasional ?
Jelas. Ketika para bawahannya mencitrakan Pak Beye sebagai musisi handal, mestinya akun yang dibuat, yah, bukan Twitter tapi, MySpace atau SoundCloud. Itu lebih tepat. Siapa tahu Pak Beye rela membagi-bagi lagunya gratis untuk rakyat. Maklum, buat makan aja susah, apalagi untuk beli lagunya.
Sepakat. Kok Pak Beye baru bikin akun Twitter, yah ?
Semua tahu, kini linimasa dijadikan tempat untuk para pejabat sebagai wadah yang tepat untuk pencitraan. Tidak hanya Pak Beye yang membuat akun Twitter seperti Dahlan Iskan, Pramono Anung, dan lain-lain. Menurut data statistik yang sempat dirilis oleh WorldInternet Statistic, pengguna Twitter di Indonesia sekitar 12% dari jumlah penduduk Indonesia. Angka yang besar. Apalagi ditahun ini, sudah pasti meningkat pesat dan ditambahnya para Transmigran gelap dari Facebook yang ikut-ikutan pindah ke Twitter. Pengguna Facebook yang dikit-dikit upload photo kemudian di share. Sedikit alay. Lantas, apa bedanya user Twitter yang alay itu dengan Pak Beye ? Tidak ada. Ditambah lagi, tahun ini adalah tahun politik. Ahh, lengkap sudah.
Jumlah followers akun @SBYudhoyono kini sudah di atas enam ratus ribu. Artinya, termasuk akun yang ditandai Twitter 'Verified'. Mungkinkah Pak Beye menerima tawaran dari para pengikalan untuk tweet berbayar ?
Mungkin saja. Siapa tahu Partai Demokrat engga (lagi) menang di Pil-Pres 2014 dan Pak Beye nganggur. Lumayan. Raditya Dika lewat akun pribadinya @radityadika, menaruh harga sekitar enam juta untuk satu kali tweet berbayar. Tapi ingat, Pak Beye, di Twitter-pun ada etikanya. Biasakan menggunakan hashtag spon (#spon) disetiap tweet berbayar. Supaya follower-nya tahu bahwa itu iklan.
Terakhir, kamu follower @IstanaRakyat dan @SBYudhoyono ?
Tidak.
Tag : ,

Baik Rekan, Maupun Lawan

By : Harry Ramdhani
#Chapter2

Entahlah, ada angin muson apa yang membuat Kartika datang ke Café InWin siang ini ? Tidak ada OpenMic, tanpa Silvi yang menemani, dan… tanpa Jaja.

Kartika tampak seperti anak itik kehilangan barisan. Kebingungan. Duduk sendirian dengan Cappucinno dingin yang dibiarkan terpampang di mejanya. Ia masih asyik membolak-balik buku tebal yang baru saja dipinjamnya dari perpustakaan. Mahasiswa mengerjakan tugas sudah biasa, namun bila mengerjakannya di Café sendirian, itu tidak biasa.
Memang tak seramai ada open mic, tapi tatapanku masih tertuju ke Kartika. Mungkin ini kali pertama melihatnya, maklum, Aku bisa mengingat pengunjung yang sering datang ke sini atau tidak. Hanya dari sepatu yang dikenakan, Aku bisa hafal pengunjung Cafe InWin.

Sekilas, Kartika mirip dengan kasir InWin yang telah re-sign. Sepatunya maksudku, sepatu Jerry berwarna hijau muda adalah sepatu andalan Indri kala Ia masih bekerja di sini. Tanpa basa-basi, Aku menghampiri Kartika, "Lagi nunggu temennya, yah ?" ucapku. Kartika yang sedang membaca buku langsung memandangku dengan sedikit heran. Aku menebak saja, mungkin apa yang ada dipikirannya itu, "Apa urusannya sama lu ? Mau gue nunggu temen, mau gue nunggu klien, bodo amat."

"Ouw, engga kok. Emang lagi pengen ke sini aja." Jawabnya ramah. Tidak seperti yang Aku duga sebelumnya.
"Baru pertama kali ke sini, bukan ?" tanyaku, "Oia, boleh Aku duduk ?"
Tangannya mempersilahkan Aku untuk duduk berhadapan dengannya, "Ini kali kedua Aku ke sini. Dua hari yang lalu, Aku datang ke openmic dan tempatnya asyik juga ternyata."
"Aku, Gery, pemilik Cafe ini." Sambil menjulurkan tangan.
"Kartika. Kartika Maharani."
Setelah itu kita berbincang cukup panjang di meja Kartika. Sampai lupa waktu mungkin.

***

Sungguh apes, sudah kerja lembur, motor yang Ia gunakan mogok dan tidak bisa dibawa pulang. Akhirnya, Jaja menitipkan motornya ke security kantor untuk diperbaiki ke bengkel esok hari.

Ia pulang dengan menggunakan transportasi umum. Sedikit susah mencari angkutan umum malam-malam begini. Jarum jam tangannya sudah menunjukkan pukul 11 malam, saat di mana kelelawar mengepakan sayap lalu berkeluyuran untuk sekedar menyantap.

Lama menunggu di halte, Jaja berjalan kaki sembari berharap ada angkutan umum melintas. Bintik keringat sudah memenuhi sekitaran kawasan jidat tapi, masih tak ada angkutan yang lewat. Malam ini sungguh melarat. Andai tadi Ia menerima voucher taksi yang diberikan, mungkin nasibnya tidak seburuk kancil yang gagal menipu kelinci.

Jaja beristirahat sejenak di tukang gorengan kaki lima. Sambil mengambil sepasang tahu isi dan lontong, Ia kembali menatap kebelakang. Sekedar melihat sudah sejauh mana Ia berjalan. Cukup jauh juga.

"Tidak mungkin Aku kembali ke kantor untuk menginap di sana. Jaraknya hampir sama dengan jarak dari sini ke kostan."

Ia melahap tahu isi dan lontong dengan sekejap. Hanya dengan dua kali gigitan, sepasang gorengan telah menghilang sari genggaman. Lapar dan lelah, kombinasi yang cocok untuk merebahkan badannya di tembok toko yang sudah tutup. Sesekali Jaja melirik ke arah ubi goreng yang masih mengepulkan asap. Asap itu bergoyong sungguh erotis di depan mata Jaja dan saat asap mendekat sampai berani menyentuh-nyentuh hidungnya. Sangat menggoda dan Jaja kalah oleh godaan.

Ketika sedang asyik menyantap ubi goreng yang masih panas, datang seorang pengemis menghampiri. Ia merasa kasihan, masih saja ada yang tak sanggup beli makan di Kota Metropolitan. Jaja meminta si abang membungkuskan beberapa gorengan untuk pengemis itu. Kalau saja tolak ukur Demokrasi tidak hanya terpaku ke arah pemilihan pemimpin secara langsung dan bebes berpendapat, mungkin sudah tidak lagi ditemukan orang yang masih tak sanggup membeli makan. Walau banyak pakar melihat Demokrasi dari proses Demokratisasi-nya tapi, tetap saja, proses tersebut masih sering dipermainkan ke sana - ke mari.

***

Karena motor Jaja telah diperbaiki, kini Ia bisa pulang dengan sedikit santai. Berhubung ada urusan dengan Gery, maka sepulang dari kantor, Jaja mampir dulu ke InWin.

"Ja, kemaren ada yang pengen beli tiket show, tuh." kata Gery sambil menyuguhkan Cappucinno dingin. Salah satu minuman favorit Jaja dan menjadi andalan di sini.
"Siapa ? Baru aja pengen dititip ke sini, Ger." Jawabnya dengan kedua tangan yang sibuk memilah-milah tiket.
"Kartika. Kenal ? itu 'loh temenya Selvi."
"Kartika ? Ouw… yang waktu itu nonton open mic, yah."

Jaja menitipkan 50 tiket show-nya nanti di InWin. Tapi, sama sekali tidak ada bonus tiket gratis untuk pemilik ataupun karyawan InWin sekali-pun. Baginya, teman bukanlah rekan bisnis, melainkan pasar bisnis. Sedikit kapitalis tapi, itulah kenyatannya. There's no such thing as free lunch. Tidak ada yang gratis di dunia ini.

- Copyright © Kangmas Harry - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -