Maestro Sepak Bola
By : Harry RamdhaniPray For Tyo (part I)
Kini gue telah kehilangan salah satu calon maestro sepakbola yang (pasti) suatu saat nanti akan mengharumkan Indonesia di mata dunia . .
11 Februari 2012
Hari ini sangat tidak begitu inidah bagi gue. Semua kacau oleh keadaan, gue akui, kalau gue telah gagal menaklukan hari ini. Semua terjadi begitu cepat, samapi gue harus mencoba melangkah dengan lebih besar untuk bisa mengimbanginya.
Kabar2 buruk terus menusuk pikiran gue tiada henti. Dari meninggalnya sang Ratu Pop Whitney Houston, berita korupsi dilayak kaca televisi yang tidak kunjung henti, sampai meninggalnya Prasetyo.
Kali ini gue ingin menulis tentang meninggalnya Prasetyo, salah satu tetangga gue dulu disini,salah satu bibit pesepak bola professional, salah satu pria yang begitu unik yang pernah gue kenal. Terlalu cepat baginya untuk pergi meninggalkan kami disini yang membutuhkan senyumnya, candanya, ngambeknya, dan kelihaiannya memainkan si kulit bundar. Temen2 gue biasa memanggilnya “Jonjoth”, entah artinya apa, tapi gue tetep memanggilnya dengan sebutan, Tyo. Sederhana dan tidak akan menimbulkan ambigu kepada yang lain.
Seingat gue dulu, dia sudah menjadi tetangga cukup lama. Rumahnya hanya berbeda 6 rumah dari rumah gue. Kita memang tidak terlalu dekat, karena umur yang menjadi faktor, usianya baru 17 tahun sekarang sedangkan gue sudah 20 tahun. Yang artinya, ketika gue sudah bisa makan dengan nasi diumur 3 tahun dan dia baru lahir dan hanya bisa meminum asi.
Ketidak dekatan gue dengan Tyo tidak menghalangi gue untuk tidak mengamati perkembangannya selama masih menjadi tetangga disini. Aku masih ingat ketika ada lomba 17’an yang kira2 sudah 8 tahun yang lalu, dia begitu bersemangat untuk bisa memenangkan hampir semua yang dilombakan. Tekadnya begitu kuat untuk menjadi juara, walau diapun tahu kalau hadiahnya pun tidak seberapa atas segala upaya dalam setiap lomba.
Tyo merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara. Kakak pertamanya adalah Tomo dan yang kedua adalah Devi. Seperti biasa, sama seperti kehidupan keluarga yanglainnya, pasti ada saja pertengkaran antara saudara kandung. Dan keluarga inilah yang sering menjadi pelakunya.
Sungguh begitu menyenangkan memiliki tetangga seperti mereka, karena kakak pertamanya umurnya hanya berbeda satu tahun lebih tua dari gue. Kita dulu dekat, sering main sepak bola bersama, ngaji ditempat yang sama, rental PS 1 bersama, sampai dulu kadang gue berangkat sekolah bareng dengan dia. Tapi pada satu waktu, gue ingat saat itu bue masih kelas 5 SD. Kita melakukan ngadu bola dengan RT lain. Pertandingan begitu seru, walau kami terus2an diserang dan sering kemasukan sehingga kami kalah telah 10-1. Sebenarnya pertandingan itu belum selesai, karena tiba2 salah satu tim lawan yang bernama Kuncunk memprovokasi Tomo dan terjadilah perkelahian. Dan inipun tidak bisa dibilang perkelahian seperti yang kita lihat di tipi2. Hanya main plotot2an dan dorong saja lalu Tomo lari terbirit pulang kerumah. Mulai saat itulah gue engga pernah bermain bersama dengan dia. Tomo tidak pernah mau keluar rumah pasca kejadian itu.
Yup, kita kembali pada Tyo. Gue memang tidak bisa lagi bermain sepak bola dengan kakaknya, tapi gue masih bisa bermain dengan Tyo, adiknya. Cara permainan sepak bola mereka hampir sama, Tomo da Tyo sama2 memilih bermain di sayap kanan. Teknik merekapun tidak berbeda jauh, tapi Tyo lebih berkiblat pada gaya permainan Brazil dengan permaian cantik, seperti menari dilapangan dan Tomo lebih kepada gaya permaianan Inggris ketika masih dibela David Beckam, umpan2 silang jauh yang sangat memanjakan penyerang dalam mencetak gol.
Bermain dilapangan volley dengan menggunakan bola plastik setiap sore, dari senin-minggu. Tidak ada kata ‘tidak’ untuk Tyo dalam bermain sepak bola. Gue pun pernah mendapat kesempatan untuk bermain satu tim dengannya saat kejuaraan yang diadakan oleh Remaja Masjid yang hadiahnya sebuah kambing. Tyo, merupakan satu2 pemain yang paling kecil dalam tim. Bakatnya telah membuat kami (Tim) memilihnya untuk bermain. Semangatnya dalam bermain sangat membakar kami setiap pertandingan dan pada akhirnya kamilah yang keluar menjadi juara.
Tyo, menjadi orang yang paling disegani dalam segi perlombaan. Acara 17’an adalah miliknya. Hampir setiap lomba dialah juaranya. Dari lomba balap karung, lomba joget balon, sampai lomba cerdas cermat. Gue mendapat kesempatan untuk melatih sepak bola. Sungguh membanggakan. Sesi latihan menjadi hal yang paling menyenangkan, gayanya dalam membawa suasana agar lebih mencair merpakan keahliannya. Sempat satu kali kami dilarang latihan karena pos kami sedang dalam pembangunan dan Tyo-lah yang mengajak teman2nya untuk tetap latihan. Tekadnya untuk menjuarai kompetisi ini sangat kuat. Tidak bisa dilapangan yang biasa, maka mencari lapangan lain untuk latihan.
Pada pertandingan-pun, Tyo lagi2 menjadi ikon. Keahliannya jauh melebihi anak seumuran lainnya. Trik Keeping bola ala Xavi telah dia kuasai, tarian samba ala Ronaldo bisa dilakukan dengan sempurna, mengoceh kiper adalah andalan untuk menciptakan gol. Kadang kalian tidak percaya akan keahliannya, tapi itu memang telah Tyo kuasai sejak SD.
Kini gue telah kehilangan salah satu calon maestro sepakbola yang (pasti) suatu saat nanti akan mengharumkan Indonesia di mata dunia . .
11 Februari 2012
Hari ini sangat tidak begitu inidah bagi gue. Semua kacau oleh keadaan, gue akui, kalau gue telah gagal menaklukan hari ini. Semua terjadi begitu cepat, samapi gue harus mencoba melangkah dengan lebih besar untuk bisa mengimbanginya.
Kabar2 buruk terus menusuk pikiran gue tiada henti. Dari meninggalnya sang Ratu Pop Whitney Houston, berita korupsi dilayak kaca televisi yang tidak kunjung henti, sampai meninggalnya Prasetyo.
Kali ini gue ingin menulis tentang meninggalnya Prasetyo, salah satu tetangga gue dulu disini,salah satu bibit pesepak bola professional, salah satu pria yang begitu unik yang pernah gue kenal. Terlalu cepat baginya untuk pergi meninggalkan kami disini yang membutuhkan senyumnya, candanya, ngambeknya, dan kelihaiannya memainkan si kulit bundar. Temen2 gue biasa memanggilnya “Jonjoth”, entah artinya apa, tapi gue tetep memanggilnya dengan sebutan, Tyo. Sederhana dan tidak akan menimbulkan ambigu kepada yang lain.
Seingat gue dulu, dia sudah menjadi tetangga cukup lama. Rumahnya hanya berbeda 6 rumah dari rumah gue. Kita memang tidak terlalu dekat, karena umur yang menjadi faktor, usianya baru 17 tahun sekarang sedangkan gue sudah 20 tahun. Yang artinya, ketika gue sudah bisa makan dengan nasi diumur 3 tahun dan dia baru lahir dan hanya bisa meminum asi.
Ketidak dekatan gue dengan Tyo tidak menghalangi gue untuk tidak mengamati perkembangannya selama masih menjadi tetangga disini. Aku masih ingat ketika ada lomba 17’an yang kira2 sudah 8 tahun yang lalu, dia begitu bersemangat untuk bisa memenangkan hampir semua yang dilombakan. Tekadnya begitu kuat untuk menjadi juara, walau diapun tahu kalau hadiahnya pun tidak seberapa atas segala upaya dalam setiap lomba.
Tyo merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara. Kakak pertamanya adalah Tomo dan yang kedua adalah Devi. Seperti biasa, sama seperti kehidupan keluarga yanglainnya, pasti ada saja pertengkaran antara saudara kandung. Dan keluarga inilah yang sering menjadi pelakunya.
Sungguh begitu menyenangkan memiliki tetangga seperti mereka, karena kakak pertamanya umurnya hanya berbeda satu tahun lebih tua dari gue. Kita dulu dekat, sering main sepak bola bersama, ngaji ditempat yang sama, rental PS 1 bersama, sampai dulu kadang gue berangkat sekolah bareng dengan dia. Tapi pada satu waktu, gue ingat saat itu bue masih kelas 5 SD. Kita melakukan ngadu bola dengan RT lain. Pertandingan begitu seru, walau kami terus2an diserang dan sering kemasukan sehingga kami kalah telah 10-1. Sebenarnya pertandingan itu belum selesai, karena tiba2 salah satu tim lawan yang bernama Kuncunk memprovokasi Tomo dan terjadilah perkelahian. Dan inipun tidak bisa dibilang perkelahian seperti yang kita lihat di tipi2. Hanya main plotot2an dan dorong saja lalu Tomo lari terbirit pulang kerumah. Mulai saat itulah gue engga pernah bermain bersama dengan dia. Tomo tidak pernah mau keluar rumah pasca kejadian itu.
Yup, kita kembali pada Tyo. Gue memang tidak bisa lagi bermain sepak bola dengan kakaknya, tapi gue masih bisa bermain dengan Tyo, adiknya. Cara permainan sepak bola mereka hampir sama, Tomo da Tyo sama2 memilih bermain di sayap kanan. Teknik merekapun tidak berbeda jauh, tapi Tyo lebih berkiblat pada gaya permainan Brazil dengan permaian cantik, seperti menari dilapangan dan Tomo lebih kepada gaya permaianan Inggris ketika masih dibela David Beckam, umpan2 silang jauh yang sangat memanjakan penyerang dalam mencetak gol.
Bermain dilapangan volley dengan menggunakan bola plastik setiap sore, dari senin-minggu. Tidak ada kata ‘tidak’ untuk Tyo dalam bermain sepak bola. Gue pun pernah mendapat kesempatan untuk bermain satu tim dengannya saat kejuaraan yang diadakan oleh Remaja Masjid yang hadiahnya sebuah kambing. Tyo, merupakan satu2 pemain yang paling kecil dalam tim. Bakatnya telah membuat kami (Tim) memilihnya untuk bermain. Semangatnya dalam bermain sangat membakar kami setiap pertandingan dan pada akhirnya kamilah yang keluar menjadi juara.
Tyo, menjadi orang yang paling disegani dalam segi perlombaan. Acara 17’an adalah miliknya. Hampir setiap lomba dialah juaranya. Dari lomba balap karung, lomba joget balon, sampai lomba cerdas cermat. Gue mendapat kesempatan untuk melatih sepak bola. Sungguh membanggakan. Sesi latihan menjadi hal yang paling menyenangkan, gayanya dalam membawa suasana agar lebih mencair merpakan keahliannya. Sempat satu kali kami dilarang latihan karena pos kami sedang dalam pembangunan dan Tyo-lah yang mengajak teman2nya untuk tetap latihan. Tekadnya untuk menjuarai kompetisi ini sangat kuat. Tidak bisa dilapangan yang biasa, maka mencari lapangan lain untuk latihan.
Pada pertandingan-pun, Tyo lagi2 menjadi ikon. Keahliannya jauh melebihi anak seumuran lainnya. Trik Keeping bola ala Xavi telah dia kuasai, tarian samba ala Ronaldo bisa dilakukan dengan sempurna, mengoceh kiper adalah andalan untuk menciptakan gol. Kadang kalian tidak percaya akan keahliannya, tapi itu memang telah Tyo kuasai sejak SD.
Tag :
pray for Tyo,
Untuk Whitney Houston
By : Harry RamdhaniMinggu, 11 Februari 2012
Yup, hari ini adalah hari kematian sang Ratu Pop, Whiney Houston . .
Kejadian sama seperti kematian ketika kematian sang Raja Pop, M. Jackson. Sedikit Flash back. Saat itu gue baru memiliki mp3, bentuknya sangat jadul. Seperti kapsul. Mungkin kalianpun tahu bentuknya, yang masih menggunakan battery untuk 3A untuk mengoperasikannya. Lagu pertama yang masuk adalah lagunya MJ – Heal The World. MJ memang bintag Pop terkenal tapi entah mengapa, aku baru serius mendalami tentang dia baru3 ini saja (tahun 2009). Lagunya sungguh menyentuh kedalam hati yang terdalam. Gue pun tanpa pikir panjang langsung mencari sedikit biografi tentang dirinya dan aku langsung meng-idolai sang ikon besar yang telah di miliki blantika music dunia.
3 hari setelah gue terus dan terus memutar lagu itu dan paginya gue liat berita di Metro TV bahwa MJ meninggal. Sontak, gue sangat engga percaya akan hal itu. Baru 3 hari gue punya idola baru untuk menyemangati hidup sekarang telah meninggal. Suasana kacau, berangkat ke sekolah dengan badan yang lesu, mata bengkak karena menahan tangis selama perjalanan ke sekolah. Jauh lebih sakit ketika di putusin cewek.
Gue hanya bisa menyemangati hidup dengan terus berpikir dan ingin bertindak seperti MJ. Gue mengobati luka dengan mencoret2 tas, buku pelajaran, dll. Tengs . .
R.I.P (Rest In Pop) MJ
Kini setelah lebih dari 2 tahun, seketika gue langsung ingin menonton fim “The Body Guard”.dimana Whitney Houston ada disana. Suka dan sungguh suka. Gue sangat menyukai suaranya. Mendayu melawan arus music. Tapi sekalai lagi sungguh disayangkan. Kelemahan gue dalam menangkan judul lagu sangat jongkok. Tahu semua lagunya tapi sama sekali engga tahu judul lagunya. Bisa nyanyiin lagunya tapi entah apa judulnya. Ini sama saja dateng ke Kampus tapi engga kuliah.
Gue mulai nyari di Internet lagu2nya Whitney Houston. Dapet, tapi bukan sesuai yang gue cari. Sungguh ini sangat tidak mengasikkan. Gue tanya temen @deskaalviriani, diapun engga tahu. Padahal yang gue tahu tentang dia adalah pecinta music dan pasti serba tahu. Perjuangan tidak sampai disitu, gue tanya lagi ke temen @sheilahelda, wanita ini mungkin dilahirkan untuk mendengarkan music. Bayangkan, hampir semua lagu2 dan v-clip dari MJ dia tahu semua, tapi kini giliran ditanya lagunya Whitney dia Cuma bengong sambil mangap. Salah orang lagi
Gue engga boleh putus asa dan engga boleh salah narsum lagi untuk hal seperti ini. Tepat hari minggu, (11/02/12) @yton80s ngetwit tentang Whitney Houston. Ini adalah peluang yang tepat untuk nanya, gue yakin engga bakal salah lagi. Jelaas dong, diakan musisi, lulusan IKJ juga masa engga tahu tentang lagu2nya Whitney Houston. “sam, judul lagunya Whitney yang di film The Body Guard apa sih?” tanya gue ke @yton80s. baru aja gue ngetwit itu, langsung gue baca di TL tepat dibawah Twitnya dia tadi. Metro tv update berita bahwa Whitney Houston meninggal.
Sungguh engga percaya, ini engga mungkin. Kenapa harus kayak gini . . ?? dia adalah idola baru buata gue, kenapa harus meniggal tepat gue menemukan judul lagu yang udah cukup lama gue tunggu.
Banyak yang memberitakan tentang meninggalnya sang ratu Pop dunia. Bahkan ada salah satu berita bahwa susunan acara Grammy Award yang tepat akan diadakan besok, langsung di rombak semua. Bayangkan, acara yang telah disusun 4 bulan lalu bahkan lebih harus diubah karena kematian sang ratu Pop ini. Begitu berharganya dia di Belantika music. Tidak bisa dipandang sebelah mata. Menjadi trending topic di twitter. Baik di Indonesia maupun dunia.
Gue Cuma bisa RT semua twit orang yang berkabung karena kematiannya. Tidak ada kata yang bisa gue susun untuk dirangkai kedalam sebuah kalimat. Hingga pada akhirnya gue menulis ini.
I will always love you. Itulah judul lagu yang aku cari2 sejak dulu.
Yups, I wil always love you, whitney Houston . .
Terima kasih atas sumbangsih suaramu untuk menghiasi ruang2 kosong industry msik yang hanya begitu saja.
R.I.P (Rest In Pop) Whitney Houston <3
Tag :
cosmic g-spot,
Diam Untuk Putus
By : Harry RamdhaniCinta, entah sampai kapanpun kita tidak akan tuntas membahasnya . .
Banyak orang mengekspresikan cinta dengan berbagai macam hal, ada yang dari sebuah lagu; sebuah puisi, sebuah karya sastra, atau apapun itu . .
Kita sangat berterima kasih kepada orang yang masih memiliki CINTA untuk mencerahkan kehidupan kita. Tapi, aku tidak akan membahas ‘cinta’ disini., karena pasti tidak akan cukup selembar kertas untuk menampung semuapemikiran kita atas ‘cinta’ dan tidak akan cukup halaman untuk memuat isi curahan hati kita tentang ‘cinta’.
Dalam hal ‘cinta’ maka kita akan lebih mengenal istilah “Pacaran” terlebih dahulu. Karena itu hal paling dasar seseorarng untuk memahami ‘apa itu cinta?’ . yup, kini aku ingin membahas sedikit dari cara orang untuk memilih ‘memutuskan’ dalam istilah berpacaran atau yang sering kita dengan juga dengan ‘pegat’ (istilah kasar).
Sebenarnya sederhana sajapola yang aku ketahui dari orang bisa pacaran itu kenalan->mulai PDKT->menunggu waktu tepat untuk nembak->sesi penembakan->pilihannya ada 3 Diterima, Ditolak, Disuruh nunggu. Itu saja ..
Cara manusia melakukan itu tentu saja akan berbeda2. Beda proses, beda hasil akhir. Ingat, dalam bagian berpacaran adalah hasil akhir menjadi sangat penting saat penembakan, tapi prose situ sangat indah dalam menunggu penembakan. Bahkan menurut hasil survey, orang2 ebih ingin menikmati masa PDKT saja karena itu lebih indah. Efek dari itu adalah sekarang kita mengenal dengan sebutan HTS’an (Hubungan Tanpa Status) . .
Sudahlah kita lupakan itu, aku ingin sedikit memberitahukan salah satu cara wanita ketika ingin memutuskan hubungan dengan pasangannya. Ingat, inilah topic kita.
Ada cara wanita dalam memutuskan pria itu dengan cara “Mendiami” sang kekasih tanpa alasan yang jelas. Tiba2 aja gitu diem. Diam dalam jangka waktu yang lama, lalu tiba saatnya wanita bicara adalah kita putus. Maka perkara selesai. Bingung? Sama seperti saya kalau begitu . .
Ini sedikit pandangan yang aku dapat dari cara wanita menggunakan langkah itu dalam memutuskan pasangannya :
1. Jelas, wanita tidak ingin menyakiti hati pasangannya. Karena wanita paling bisa menjaga perasaan lelaki. Maka wanita itu lmembiarkan lelaki menyakitinya agar lelaki itu puas/ agar lelaki itu menyakiti hatinya sendiri dengn terus marah2.
2. Wanita memilih diam karena sedang fokus mencari yang baru. Jadi ketika sudah ada secercah harapan dari calon pacar baru, maka wanita siap pula mengakhiri yang lama.
3. Wanita ada perasaan marah terhadap pasangannya yang tidak bisa dimaafkan.
4. Wanita ingin selalu dimengerti oleh pasangannya. Oleh karena itu wanita seakan mengetes pasangannya dengan diam.
Mungkin segitu dulu saja yang bisa saya share kepada kalian. Jujur, aku selalu mempunyai prinsip seperti ini “Jika dua mahligai telah menyatukan cintanya (walau belum resmi), maka pantang mereka bisa berpisah” – aku percaya ini. Jadi, selamat kepada kalian yang telah menyatukan cinta, karena kalian akan terus bersama selamanya.
Love you
Banyak orang mengekspresikan cinta dengan berbagai macam hal, ada yang dari sebuah lagu; sebuah puisi, sebuah karya sastra, atau apapun itu . .
Kita sangat berterima kasih kepada orang yang masih memiliki CINTA untuk mencerahkan kehidupan kita. Tapi, aku tidak akan membahas ‘cinta’ disini., karena pasti tidak akan cukup selembar kertas untuk menampung semuapemikiran kita atas ‘cinta’ dan tidak akan cukup halaman untuk memuat isi curahan hati kita tentang ‘cinta’.
Dalam hal ‘cinta’ maka kita akan lebih mengenal istilah “Pacaran” terlebih dahulu. Karena itu hal paling dasar seseorarng untuk memahami ‘apa itu cinta?’ . yup, kini aku ingin membahas sedikit dari cara orang untuk memilih ‘memutuskan’ dalam istilah berpacaran atau yang sering kita dengan juga dengan ‘pegat’ (istilah kasar).
Sebenarnya sederhana sajapola yang aku ketahui dari orang bisa pacaran itu kenalan->mulai PDKT->menunggu waktu tepat untuk nembak->sesi penembakan->pilihannya ada 3 Diterima, Ditolak, Disuruh nunggu. Itu saja ..
Cara manusia melakukan itu tentu saja akan berbeda2. Beda proses, beda hasil akhir. Ingat, dalam bagian berpacaran adalah hasil akhir menjadi sangat penting saat penembakan, tapi prose situ sangat indah dalam menunggu penembakan. Bahkan menurut hasil survey, orang2 ebih ingin menikmati masa PDKT saja karena itu lebih indah. Efek dari itu adalah sekarang kita mengenal dengan sebutan HTS’an (Hubungan Tanpa Status) . .
Sudahlah kita lupakan itu, aku ingin sedikit memberitahukan salah satu cara wanita ketika ingin memutuskan hubungan dengan pasangannya. Ingat, inilah topic kita.
Ada cara wanita dalam memutuskan pria itu dengan cara “Mendiami” sang kekasih tanpa alasan yang jelas. Tiba2 aja gitu diem. Diam dalam jangka waktu yang lama, lalu tiba saatnya wanita bicara adalah kita putus. Maka perkara selesai. Bingung? Sama seperti saya kalau begitu . .
Ini sedikit pandangan yang aku dapat dari cara wanita menggunakan langkah itu dalam memutuskan pasangannya :
1. Jelas, wanita tidak ingin menyakiti hati pasangannya. Karena wanita paling bisa menjaga perasaan lelaki. Maka wanita itu lmembiarkan lelaki menyakitinya agar lelaki itu puas/ agar lelaki itu menyakiti hatinya sendiri dengn terus marah2.
2. Wanita memilih diam karena sedang fokus mencari yang baru. Jadi ketika sudah ada secercah harapan dari calon pacar baru, maka wanita siap pula mengakhiri yang lama.
3. Wanita ada perasaan marah terhadap pasangannya yang tidak bisa dimaafkan.
4. Wanita ingin selalu dimengerti oleh pasangannya. Oleh karena itu wanita seakan mengetes pasangannya dengan diam.
Mungkin segitu dulu saja yang bisa saya share kepada kalian. Jujur, aku selalu mempunyai prinsip seperti ini “Jika dua mahligai telah menyatukan cintanya (walau belum resmi), maka pantang mereka bisa berpisah” – aku percaya ini. Jadi, selamat kepada kalian yang telah menyatukan cinta, karena kalian akan terus bersama selamanya.
Love you
Tag :
cosmic g-spot,
test
By : Harry RamdhaniAku tidak tahu bagaimana untuk memulai, semua berjalan begitu cepat. Sepintas saja aku menoleh, sekejap menghilang dari pandangan mata.
Dulu memang kita telah bersama, berdua menuai cinta dalam mahligai asmara. Tidak sekalipun aku sempat menyesal mengenalmu. Sama sekali tidak. bahkan aku telah banyak belajar banya tentang kehidupan darimu. Kita berbeda, dan perbedaanlah yng membuat aku terus belajar untuk lebih baik. Perbedaan ini akan terus membuat kita kuat akan tantangan dimasa yang akan datang.
Aku terus dan terus berusaha mengikuti alur permainan yang kau kuasai. Bukannya aku disini tidak punya andil untuk ikut serta dalam permainan, tetapi karena aku ingin banyak belajar dari seorang yang telah memiliki pengalaman lebih dibidangnya. Ya, kau adalah mentorku dalam hal ini.
Dulu memang kita telah bersama, berdua menuai cinta dalam mahligai asmara. Tidak sekalipun aku sempat menyesal mengenalmu. Sama sekali tidak. bahkan aku telah banyak belajar banya tentang kehidupan darimu. Kita berbeda, dan perbedaanlah yng membuat aku terus belajar untuk lebih baik. Perbedaan ini akan terus membuat kita kuat akan tantangan dimasa yang akan datang.
Aku terus dan terus berusaha mengikuti alur permainan yang kau kuasai. Bukannya aku disini tidak punya andil untuk ikut serta dalam permainan, tetapi karena aku ingin banyak belajar dari seorang yang telah memiliki pengalaman lebih dibidangnya. Ya, kau adalah mentorku dalam hal ini.
Tag :
cosmic g-spot,
Ada yang Salah Part II
By : Harry RamdhaniSetiap kita sebut kata FISIKOM, pasti yang terlintas dibenak kita adalah fakultas yang memiliki badan ke-organisasian lebih baik dibanding fakultas lain di Unida. Jelas, karena kalau kita bedah tentang materi perkuliahan tentang suatu organisasi dan manajemen disinilah tempatnya. Belajar tentang berbagai macam jenis teori sistem organisasi, dari hal terekecil samapi yang terbesar, dari kepanitian sampai sistem pemerintahan negara. Belajar tentang reformasi birokrasi atau apalah itu namanya. Pokoknya banyak . .
Tidak hanya itu, disini juga balajar akan ke-politik-an. Belajar tentang bagaimana cara berpolitik yang baik dan benar sampai menjalankan suatu aspirasi menjadi kebijakan atau-pun keputusan yang adil. Itu baru dari ke-administrasian semata. Ada lagi, komunikasi. Dari komunikasi yang sering kita lakukan sampai komunikasi dalam sebuah organisasi. Masih saja komunikasi kita blakacadut.
Tapi, yang jadi pertanyaan adalah kemana ilmu yang kita dapat . . ?? adakah tindakan nyata dari semua ilmu . . ?? menghilang ketika keluar kelas atau para ahli yang mengajarkan mahasiswa tidak terjun langsung untuk mempraktekan apa yang telah diajarkan. jadi bukan hanya makalah yang diambil dari sang jenius dunia maya, sering kita menebutnya Mbah Google.
Eumm *mikir* . .
Coba kita telaah dan pilah-pilah semua dari satu kasus. Tentu tidak memakai metode keilmuan terlebih dahulu, karena dalam buku Logika Sientifika mengatakan seperti ini “Jadi kita lebih dahulu hendak mengadakan teorisasi. Tetapi teorisasi tersebut tidak untuk penerapan juga. Dan untuk sanggup berpikir dengan baik proses penerapan tadi harus kontinu, diwujudkan dalam setiap aktivitas kita yang sedang berpikir.—Drs. W. Poespoprodjo, L.Ph.,S.S”.
Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas(BEM-F), kita pakai contoh yang sangat sederhana. Kenapa kita pakai badan organisasi ini dalam study kasus . . ?? karena ini bisa dibilang badan organisasi yang sagat dekat baik antar mahasiswa atau penyampai aspirasi kepada para Dekanat. BEM-F berada ditengah-tengah ini untuk menjalankan segala Civitas Akademika.
Sebelum kita jauh membicarakan ini, maka alangkah baiknya kita flashback dahulu tentang BEM-F. jadi dulu itu BEM-Fisikom mempunyai taring yang tajam dalam berbagai kegiatan. Lebih tepatnya tahun 2006, dulu ketua BEM-Fisikom sempat melaju dalam tingkat yang lebih tinggi, yaitu menjadi Presiden Mahasiswa Universitas Djuanda. Tidak hanya sampai disana, bahkan prestasi yang ditorehkan sampai pada puncaknya adalah menjadi Koordinator BEM seluruh Kota Bogor. Ini bukanlah prestasi yang biasa tapi luar biasa. Dimana kita bisa lihat seorang mahasiswa merintis dari yang terendah sampai yang tertinggi, fantastic.
Lalu, kemasa jabatan berikutnya. BEM-Fisikom mendapat sedikit kutukan yang entah dari mana datangnya yaitu terjadi krisis kepemimpinan. Memang ada pengurusnya, tapi hanya sebagai formalitas belaka. Bisa dibilang seperti itu karena memang sama sekali tiidak merasakan adanya kinerja BEM-Fisikom sendiri. Dimana mereka. . ?? kemana pengurusnya . . ?? mungkin mereka sibuk akan perkuliahan. Sampai mading-pun isinya masih tertanggal 2005. Out of date.
Menyambung ke masa jabatan berikutnya, masih juga sama yang terjadi. Kalian tahu, pada masa pergeseran jabatan-pun sempat terjadi sedikit konflik. Tetapi masih bisa diatasi. Begitu semerawut kondisi saat itu, pencarian calon ketua BEM-F dilakukan seperti iklan lowongan pekerjaan. Seperti ini tulisannya “Dibutuhkan segera calon ketua BEM-Fisikom baru periode 2011-2012”. Penyakit krisis kepemimpinan yang sudah kronis.
Perjalanan yang sangat cepat dan sangat tidak terasa sudah akan sampai pada akhir masa jabatan. Dan lagi-lagi hasilnya sama seperti pengurus yang lalu.
Apa yang terjadi disini . . ??
Dari sedikit ringkasan sejarah BEM-Fisikom, mungkin bisa ditarik benang merah. Sebenarnya, bukanlah krisis kepemimpinan tetapi mungkin ada yang tidak singkron antara mahasiswa dengan BEM-F, antara BEM-F dengan Dekanat. Semua terlihat berjalan masing-masing. Buta organisasi kah . . ?? nampaknya tidak, karena ilmu sudah kita dapat di kelas. Miss Komunisasi . . ?? sama sekali tidak ada, bahkan bisa dibilang tidak ada komunikasi disini. Semua diam, semua membisu seketika secara serempak.
Apapun yang dilakukan oleh BEM-F seakan sebagai kontribusi sosial guna memajukan fakultas. Kegiatan rutin BEM-F hanya sebatas menjalankan tradisi yaitu Sarasehan. Lalu, memang apa yang didapat dari para pengurus BEM-F, saya rasa tidak ada. Pengalaman dalam berorganisasi .. ?? sangatlah menggelikan alasannya dan itu nampaknya dimanfaatkan betul. Sebuah kegiatan yang semata ingin melakukan sebuah kontribusi baik untuk fakultas sendiri menjadi ajang perpolitikan yang tepat, sama seperti masalah konflik di Freeport tanah papua yang memiliki sumber daya alam emas yang sangat tinggi tetapi yang menikmati adalah sekelompok orang dan yang bekerja keras dilapangan hanya mendapatkan sedikit hasil.
Lucu memang *ketawa sambil megangin perut* . .
Andrea Hirata penah menulis ini dalam buku tetralogi Laskar Pelangi “Di negeri ini, para pemimpi yang telah melakukan kontribusi adalah para pemberani. Mereka kesatria di tanah nan tak peduli. Dan medali harus dikalungkan di leher mereka”. Bayangkan, sebuah medali.
Kita tidak bisa hanya menuntut saja, tapi kita harus melakukan suatu perubahan. Perubahan yang harus diwujudkan dari sebuah solusi. Atau lebih ringkasnya, kita harus mempunyai mentalitas merealisasikan ide menjadi tindakan nyata. Bisa kalian bayangkan, disini orang yang telah melakukan sesuatu sama sekali dianggap nol.
Hal nyata, mahasiswa yang belum sempat membayar sepenuhnya SPP tapi tidak bisa mengikuti ujian. Ujian memang penting, hampir sama seperti UAN ketika sekolah dulu. Kalau kita tidak ikut maka kita tidak lulus. Yang jadi pertanyaan adalah sudah efektifkan sistem seperti UAN itu . . ?? kelulusan hanya ditimbang dari 1 minggu ujian, lalu dikamanakan masa pertemuan tatap muka . . ?? dikemanakan nilai tugas . . ?? kalau memang 1 minggu itu saja yang jadi pertimbangan. Kalau memang begitu, lebih baik langsung aja ikut ujian saja. Tidak perlu repot bolak-balik dateng ke kampus. Tinggal duduk manis dikelas mengerjakan soal.
Nampaknya ada yang salah disini . . ?? ada 2 kemungkinan jawaban untuk itu, sistemnya yang salah atau orang menjalankan sistem itu yang salah . .
Kalau kita analogi-kan, sama seperti orang yang berlangganan koran. Namanya berlanggan pasti bayarnya belakangan, tapi untuk apa beli koran hanya dapat kabar buruk doang . . ?? isi beritanya pembunuhan, kebakaran, korupsi, lalu pemerkosaan, engga mampu bayar sekolah lalu bunuh diri. Masa uang kita kebuang untuk kabar seperti ini.
Pandji Pragiwaksono bilang seperti ini “80% uang negara pasti dihasilkan atau dinikmati oleh 20% orang artinya yang miskin akan terus miskin. Di Indonesia katanya kurang banyak orang mampu. Padahal yang benar adalah orang mampu kurang mampu memberi, dan kalau kita mau beramal tidak hanya setahun sekali, bukannya nanti yang senang bukan hanya kita sendiri”.
Salahkah saya menulis seperti ini . . ?? kasarkah saya menulis seperti ini . . ?? saya rasa dan dapat saya pastikan adalah TIDAK. Di alam demokrasi seperti sekarang, hal seperti ini sah untuk dilakukan. Disini rumah kita, tanah yang merdeka. (HR)
Tidak hanya itu, disini juga balajar akan ke-politik-an. Belajar tentang bagaimana cara berpolitik yang baik dan benar sampai menjalankan suatu aspirasi menjadi kebijakan atau-pun keputusan yang adil. Itu baru dari ke-administrasian semata. Ada lagi, komunikasi. Dari komunikasi yang sering kita lakukan sampai komunikasi dalam sebuah organisasi. Masih saja komunikasi kita blakacadut.
Tapi, yang jadi pertanyaan adalah kemana ilmu yang kita dapat . . ?? adakah tindakan nyata dari semua ilmu . . ?? menghilang ketika keluar kelas atau para ahli yang mengajarkan mahasiswa tidak terjun langsung untuk mempraktekan apa yang telah diajarkan. jadi bukan hanya makalah yang diambil dari sang jenius dunia maya, sering kita menebutnya Mbah Google.
Eumm *mikir* . .
Coba kita telaah dan pilah-pilah semua dari satu kasus. Tentu tidak memakai metode keilmuan terlebih dahulu, karena dalam buku Logika Sientifika mengatakan seperti ini “Jadi kita lebih dahulu hendak mengadakan teorisasi. Tetapi teorisasi tersebut tidak untuk penerapan juga. Dan untuk sanggup berpikir dengan baik proses penerapan tadi harus kontinu, diwujudkan dalam setiap aktivitas kita yang sedang berpikir.—Drs. W. Poespoprodjo, L.Ph.,S.S”.
Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas(BEM-F), kita pakai contoh yang sangat sederhana. Kenapa kita pakai badan organisasi ini dalam study kasus . . ?? karena ini bisa dibilang badan organisasi yang sagat dekat baik antar mahasiswa atau penyampai aspirasi kepada para Dekanat. BEM-F berada ditengah-tengah ini untuk menjalankan segala Civitas Akademika.
Sebelum kita jauh membicarakan ini, maka alangkah baiknya kita flashback dahulu tentang BEM-F. jadi dulu itu BEM-Fisikom mempunyai taring yang tajam dalam berbagai kegiatan. Lebih tepatnya tahun 2006, dulu ketua BEM-Fisikom sempat melaju dalam tingkat yang lebih tinggi, yaitu menjadi Presiden Mahasiswa Universitas Djuanda. Tidak hanya sampai disana, bahkan prestasi yang ditorehkan sampai pada puncaknya adalah menjadi Koordinator BEM seluruh Kota Bogor. Ini bukanlah prestasi yang biasa tapi luar biasa. Dimana kita bisa lihat seorang mahasiswa merintis dari yang terendah sampai yang tertinggi, fantastic.
Lalu, kemasa jabatan berikutnya. BEM-Fisikom mendapat sedikit kutukan yang entah dari mana datangnya yaitu terjadi krisis kepemimpinan. Memang ada pengurusnya, tapi hanya sebagai formalitas belaka. Bisa dibilang seperti itu karena memang sama sekali tiidak merasakan adanya kinerja BEM-Fisikom sendiri. Dimana mereka. . ?? kemana pengurusnya . . ?? mungkin mereka sibuk akan perkuliahan. Sampai mading-pun isinya masih tertanggal 2005. Out of date.
Menyambung ke masa jabatan berikutnya, masih juga sama yang terjadi. Kalian tahu, pada masa pergeseran jabatan-pun sempat terjadi sedikit konflik. Tetapi masih bisa diatasi. Begitu semerawut kondisi saat itu, pencarian calon ketua BEM-F dilakukan seperti iklan lowongan pekerjaan. Seperti ini tulisannya “Dibutuhkan segera calon ketua BEM-Fisikom baru periode 2011-2012”. Penyakit krisis kepemimpinan yang sudah kronis.
Perjalanan yang sangat cepat dan sangat tidak terasa sudah akan sampai pada akhir masa jabatan. Dan lagi-lagi hasilnya sama seperti pengurus yang lalu.
Apa yang terjadi disini . . ??
Dari sedikit ringkasan sejarah BEM-Fisikom, mungkin bisa ditarik benang merah. Sebenarnya, bukanlah krisis kepemimpinan tetapi mungkin ada yang tidak singkron antara mahasiswa dengan BEM-F, antara BEM-F dengan Dekanat. Semua terlihat berjalan masing-masing. Buta organisasi kah . . ?? nampaknya tidak, karena ilmu sudah kita dapat di kelas. Miss Komunisasi . . ?? sama sekali tidak ada, bahkan bisa dibilang tidak ada komunikasi disini. Semua diam, semua membisu seketika secara serempak.
Apapun yang dilakukan oleh BEM-F seakan sebagai kontribusi sosial guna memajukan fakultas. Kegiatan rutin BEM-F hanya sebatas menjalankan tradisi yaitu Sarasehan. Lalu, memang apa yang didapat dari para pengurus BEM-F, saya rasa tidak ada. Pengalaman dalam berorganisasi .. ?? sangatlah menggelikan alasannya dan itu nampaknya dimanfaatkan betul. Sebuah kegiatan yang semata ingin melakukan sebuah kontribusi baik untuk fakultas sendiri menjadi ajang perpolitikan yang tepat, sama seperti masalah konflik di Freeport tanah papua yang memiliki sumber daya alam emas yang sangat tinggi tetapi yang menikmati adalah sekelompok orang dan yang bekerja keras dilapangan hanya mendapatkan sedikit hasil.
Lucu memang *ketawa sambil megangin perut* . .
Andrea Hirata penah menulis ini dalam buku tetralogi Laskar Pelangi “Di negeri ini, para pemimpi yang telah melakukan kontribusi adalah para pemberani. Mereka kesatria di tanah nan tak peduli. Dan medali harus dikalungkan di leher mereka”. Bayangkan, sebuah medali.
Kita tidak bisa hanya menuntut saja, tapi kita harus melakukan suatu perubahan. Perubahan yang harus diwujudkan dari sebuah solusi. Atau lebih ringkasnya, kita harus mempunyai mentalitas merealisasikan ide menjadi tindakan nyata. Bisa kalian bayangkan, disini orang yang telah melakukan sesuatu sama sekali dianggap nol.
Hal nyata, mahasiswa yang belum sempat membayar sepenuhnya SPP tapi tidak bisa mengikuti ujian. Ujian memang penting, hampir sama seperti UAN ketika sekolah dulu. Kalau kita tidak ikut maka kita tidak lulus. Yang jadi pertanyaan adalah sudah efektifkan sistem seperti UAN itu . . ?? kelulusan hanya ditimbang dari 1 minggu ujian, lalu dikamanakan masa pertemuan tatap muka . . ?? dikemanakan nilai tugas . . ?? kalau memang 1 minggu itu saja yang jadi pertimbangan. Kalau memang begitu, lebih baik langsung aja ikut ujian saja. Tidak perlu repot bolak-balik dateng ke kampus. Tinggal duduk manis dikelas mengerjakan soal.
Nampaknya ada yang salah disini . . ?? ada 2 kemungkinan jawaban untuk itu, sistemnya yang salah atau orang menjalankan sistem itu yang salah . .
Kalau kita analogi-kan, sama seperti orang yang berlangganan koran. Namanya berlanggan pasti bayarnya belakangan, tapi untuk apa beli koran hanya dapat kabar buruk doang . . ?? isi beritanya pembunuhan, kebakaran, korupsi, lalu pemerkosaan, engga mampu bayar sekolah lalu bunuh diri. Masa uang kita kebuang untuk kabar seperti ini.
Pandji Pragiwaksono bilang seperti ini “80% uang negara pasti dihasilkan atau dinikmati oleh 20% orang artinya yang miskin akan terus miskin. Di Indonesia katanya kurang banyak orang mampu. Padahal yang benar adalah orang mampu kurang mampu memberi, dan kalau kita mau beramal tidak hanya setahun sekali, bukannya nanti yang senang bukan hanya kita sendiri”.
Salahkah saya menulis seperti ini . . ?? kasarkah saya menulis seperti ini . . ?? saya rasa dan dapat saya pastikan adalah TIDAK. Di alam demokrasi seperti sekarang, hal seperti ini sah untuk dilakukan. Disini rumah kita, tanah yang merdeka. (HR)
Tag :
ada yang salah,
Proses Politik Ditentukan Oleh Pendidikan Politik
By : Harry Ramdhanitulisan awal gue di tahun 2012
Indikator kemajuan suatu bangsa adalah rakyatnya memiliki pendidikan yang tinggi, salah satunya adalah pendidikan politik. Alasan pendidikan politik itu penting bagi kemajuan suatu bangsa merupakan hal mendasar dari jalannya pemerintahan Indonesia, karena kepala pemerintah kita adalah presiden yang dipilih melalui pemilihan langsung yang dibelakangi oleh partai politik.
Bangsa ini sudah 2 periode melakukan pemilu untuk mencari pemimpin bangsa ini dan 2 periode juga mencari para wakil rakyat yang diharapkan dapa memberikan jasanya untuk mensejahterakan rakyat. Dan kenyaaan yang terjadi adalah pemerintah saat ini sering dibilang telah gagal, gagal dalam menjalankan amanah rakyat, gagal dalam menjalankan roda pemerinahan, dan gagal dalam mengarahkam demokrasi yang telah diperjuangkan ketika tahun 1998.
Padahal kalau kita telaah lebih jauh tentang kegagalan yang dimaksud kepada pemerintahan sekarang adalah rakyatnya dipaksa untuk berpolitik padahal mereka sama sekali tidak tahu menau tentang politik. Perpindahan masa orde baru ke demokrasi sungguh tidak ada jeda sedikitpun. Pemilihan langsung dengan menyamaratakan pendidikan rakyat adalah kesalahan fatal yang terjadi ketika itu.
Hal sederhana yang terjadi dibangsa ini akan kurangnya pendidikan politik adalah ketika terjadi kampanye-kampanye para calon pemimpin bangsa. Rakyat sungguh menunggu yang katanya “pesta demokrasi”. Karena yang selalu dilakukan oleh para actor politik adalah memberikan segala macam bentuk atribut seperti baju parpol, makan siang, uang saku dan lain-lain. Mereka (actor politik) mengetahui kalau rakyatnya masih banyak yang tidak mengerti tentang “politik” yang sebenarnya. Cukup memberikan segala kebutuhan pokok dan janji-janji yang membual.
Di negara maju lainnya seperti Amerika, pendidikan politik yang sudah maju, rakyatnya mengerti. Dalam setiap pemilihan, apapun itu, cara para actor politik berkampanye adalah dengan para tim suksesnya yang mencari para pendukung (rakyat) untuk mendanai kampanye calon pemimpinnya. Berbeda dengan di Indonesia, disini calonnya sendiri yang menghabur-haburkan uang guna mendapatkan dukungan dari rakyat. Logikanya, semakin tinggi dana kampanye yang dikeluarkan maka semakin tinggi juga suara yang diperoleh.
Entah, harus mulai dari mana pembenahan ini. Dari rakyatnya terlebih dahulu atau sistem dari para orang-orang yang mengerti politik terlebih dahulu. Sebenarnya ada disalah satu daerah telah menerapkan cara berpolitik dengan baik, yaitu Solo. saat pemilukada lalu, Joko Widodo calon yang memenangkan sama sekali tidak melakukan kampanye-kampanye yang berlebihan. Dan ini jelas terbukti dari hasil selama dia menjaba sebagai bupati Walikota Solo. janji yang ia lakukan keika itu sangatlah sederhana “Solo masa depan adalah Solo masa lalu”. Rakyat Solo telah membuktikan bahwa mereka berhasil dalam pemilukada lalu. Kini, dalam waktu dekat, Jakara akan melakukan Pemilukada. Kita cukup melihat dana kampanye yang dikeluarkan oleh calon itu, semakin tinggi dana kampanye maka akan besar kemungkinan actor politik terrsebut akan gagal memimpin daerahnya.
Jika kita sudah bisa melakukan seperi itu, barulah rakyat bisa berpolitik dengan baik, karena pemimpin akan terasa dekat dengan para pemilihnya. Komunikasi politikpun akan dua arah. Rakyat memberikan aspirasinya kepada DPR, DPR membawanya kepada eksekutif, lalu eksekutif bisa langsung memberikan umpan balik terhadap rakyatnya.
Rakyat Indonesia tidaklah bodoh, tetapi rakyat Indonesia telah dibodohi oleh orang-orang yang terlebih dahulu mengetahui dibanding kita (rakyat). Pendidikan politik sangatlah penting, karena dengan pendidikan politik proses politik di Negeri ini tidak akan terus berantakan.
Harry Ramdhani (@_HarRam)
085691947009
Indikator kemajuan suatu bangsa adalah rakyatnya memiliki pendidikan yang tinggi, salah satunya adalah pendidikan politik. Alasan pendidikan politik itu penting bagi kemajuan suatu bangsa merupakan hal mendasar dari jalannya pemerintahan Indonesia, karena kepala pemerintah kita adalah presiden yang dipilih melalui pemilihan langsung yang dibelakangi oleh partai politik.
Bangsa ini sudah 2 periode melakukan pemilu untuk mencari pemimpin bangsa ini dan 2 periode juga mencari para wakil rakyat yang diharapkan dapa memberikan jasanya untuk mensejahterakan rakyat. Dan kenyaaan yang terjadi adalah pemerintah saat ini sering dibilang telah gagal, gagal dalam menjalankan amanah rakyat, gagal dalam menjalankan roda pemerinahan, dan gagal dalam mengarahkam demokrasi yang telah diperjuangkan ketika tahun 1998.
Padahal kalau kita telaah lebih jauh tentang kegagalan yang dimaksud kepada pemerintahan sekarang adalah rakyatnya dipaksa untuk berpolitik padahal mereka sama sekali tidak tahu menau tentang politik. Perpindahan masa orde baru ke demokrasi sungguh tidak ada jeda sedikitpun. Pemilihan langsung dengan menyamaratakan pendidikan rakyat adalah kesalahan fatal yang terjadi ketika itu.
Hal sederhana yang terjadi dibangsa ini akan kurangnya pendidikan politik adalah ketika terjadi kampanye-kampanye para calon pemimpin bangsa. Rakyat sungguh menunggu yang katanya “pesta demokrasi”. Karena yang selalu dilakukan oleh para actor politik adalah memberikan segala macam bentuk atribut seperti baju parpol, makan siang, uang saku dan lain-lain. Mereka (actor politik) mengetahui kalau rakyatnya masih banyak yang tidak mengerti tentang “politik” yang sebenarnya. Cukup memberikan segala kebutuhan pokok dan janji-janji yang membual.
Di negara maju lainnya seperti Amerika, pendidikan politik yang sudah maju, rakyatnya mengerti. Dalam setiap pemilihan, apapun itu, cara para actor politik berkampanye adalah dengan para tim suksesnya yang mencari para pendukung (rakyat) untuk mendanai kampanye calon pemimpinnya. Berbeda dengan di Indonesia, disini calonnya sendiri yang menghabur-haburkan uang guna mendapatkan dukungan dari rakyat. Logikanya, semakin tinggi dana kampanye yang dikeluarkan maka semakin tinggi juga suara yang diperoleh.
Entah, harus mulai dari mana pembenahan ini. Dari rakyatnya terlebih dahulu atau sistem dari para orang-orang yang mengerti politik terlebih dahulu. Sebenarnya ada disalah satu daerah telah menerapkan cara berpolitik dengan baik, yaitu Solo. saat pemilukada lalu, Joko Widodo calon yang memenangkan sama sekali tidak melakukan kampanye-kampanye yang berlebihan. Dan ini jelas terbukti dari hasil selama dia menjaba sebagai bupati Walikota Solo. janji yang ia lakukan keika itu sangatlah sederhana “Solo masa depan adalah Solo masa lalu”. Rakyat Solo telah membuktikan bahwa mereka berhasil dalam pemilukada lalu. Kini, dalam waktu dekat, Jakara akan melakukan Pemilukada. Kita cukup melihat dana kampanye yang dikeluarkan oleh calon itu, semakin tinggi dana kampanye maka akan besar kemungkinan actor politik terrsebut akan gagal memimpin daerahnya.
Jika kita sudah bisa melakukan seperi itu, barulah rakyat bisa berpolitik dengan baik, karena pemimpin akan terasa dekat dengan para pemilihnya. Komunikasi politikpun akan dua arah. Rakyat memberikan aspirasinya kepada DPR, DPR membawanya kepada eksekutif, lalu eksekutif bisa langsung memberikan umpan balik terhadap rakyatnya.
Rakyat Indonesia tidaklah bodoh, tetapi rakyat Indonesia telah dibodohi oleh orang-orang yang terlebih dahulu mengetahui dibanding kita (rakyat). Pendidikan politik sangatlah penting, karena dengan pendidikan politik proses politik di Negeri ini tidak akan terus berantakan.
Harry Ramdhani (@_HarRam)
085691947009
Tag :
cosmic g-spot,
Ada yang Salah Part 1
By : Harry RamdhaniEumm, mau mulai dari mana yaa nulisnya . .
Mungkin kalau lu tau sedikit tentang lagu-lagunya Pandji, di salah satu album itu ada lagu yang judulnya “Ada Yang Salah” . .
Yups, mungkin ada yang salah disini. Tapi bukan mau gue untuk menyalahkan sesuatu tentang hal apapun, karena setiap orang memiliki cara pandang yang berbeda terhadap suatu objek. Dan dilagu itu (Ada yang Salah) nyeritain tentang sudut pandang orang yang sedikit keliru. Bukannya salah.
Tapi gue engga akan berlama-lama tentang lagu “Ada Yang Salah”nya-Pandji. Lu semua bisa beli album ato download lagu-lagunya dan nilailah sendiri . .
Mungkin sekarang saatnya ngasih tau alasan gue tentang potongan rambut yang begini . .
Keliatan kayak orang stress, memang gue akui itu koo . .
Dari potongan rambut yang begini, daya imajinasi orang mendadak langsung tinggi, yaa inilah, yaa itulah, yaa beginilah, yaa begitulah. Banyak banget, sampe bingung mau ngejabarinnya . .
Jadi, pada awalnya gue penat akan kehidupan politik di negeri ini. Bayangin aja, setiap hari lu dijijilin berita-berita politik yang begitu semerawut. Mungkin, maksud media itu baik, masyarakat disuguhkan acara seperti itu agar menyadarkan rakyat akan kebusukan kepemerintahan sekarang. Dan itulah yang bikin gue engga ngerti, terus lu (media massa) mau apa kalau tau pemerintah sekarang itu bobrok . . ?? pengen ngadu domba antara rakyat sama pemerintah . . ?? nih gue kasih tau, didalam dunia politik itu “kawan bisa jadi lawan dan lawan bisa jadi kawan, yang abadi didalam politik hanyalah kepentingan”. Garis bawahin kalau perlu “YANG ABADI DIDALAM POLITIK HANYALAH KEPENTINGAN” engga ada lagi yang lain . .
Aduh, kepanjangan euy latar belakangnya buat cerita yang engga penting gini . .
Akhirnya gue nemuin satu solusi untuk segala kepenatan itu, dan maksud dari penat itu udaa mulai apatis dengan kegiatan perpolotikan negeri ini. Akhirnya gue botakin aja rambut setengah doang. Jadi setengan panjang (gondrong) dan setengah lagi botak. Ini juga dapet sedikit inspirasi dari salah seorang following gue yang namanya @wira_panda . lu bisa follow dia juga koo. Dia ngelakuin dengan membagi dua belah mukanya jadi setengah panda setengah muka sendiri. Kereen menurut gue.
Senang rasanya nemuin sebuah solusi dari masalah, dan yang terberatnya adalah bagaimana kita mebuat mentalitas untuk merealisasikan suatu ide menjadi suatu tingkah nyata . . ?? tiap hari nanya keorang-orang “ehh, kiranya rambut setengah gitu masih bisa diiket engga sih . . ??” atau “kalau dibotakin, mendingan yang kiri apa yang kanan yaa . . ??”. semakin gue banyak nanya, maka semakin pusing gue dengan segala jawaban yang udaa engga rasional lagi . .
Hampir 3 minggu gue berpikir keras, dan tertanggal 30 November 2011, akhirnya gue brangkat kesalon yang ada dideket rumah. Kedatang pertama sunggu mendebarkan, karena jujur saat kenaikan kelas 3 SMP merupakan hari terakhir gue berhubungan lagi dengan tukang potong rambut. Bayangin, berapa taun gue engga pernah ke tukang cukur rambut . . ?? hampir 5 taun , ngem.
Baru sampe depan salon, nyali gue mendadak ilang sekejap. Balik lagi dah gue ke rumah karena parno akan Barber Shop.
Minum segelas air mineral, nyali terkumpul lagi buat motong rambut. Dan yaa , benar sekali, gue dipotong juga. Dengan segala kalimat hafalan yang udaa gue pelajarin dirumah tentang cara ngomong mau potong rambut. Udaa lupa, ngem, 5 taun engga ketukang cukur . .
Pemotongan selesai dan taraa, rambut sebelah gue botak dan sebelah lagi gondrong . .
Mulai saat itulah imajinasi orang seakan meningkat, ada yang ngomong gini : *gue akan menyamarkan nama orang-orang dengan nama si pulan, semuanya*
Si pulan : potongan rambut apa sih, udaa kayak anak punk yang tinggal dijalan aja . .
*dalam hati* : emang kenapa dengan anak punk . . ?? mereka itu baik cuma kebawa pergaulan aja jadi begitu, dari pada koruptor tuuh, baju keren, mobil mewah, potongan rambut rapih,tapi kelakuan bejat .
Si pulan : idiih, lagi stress yaa engga punya pacar . . ?? nge’galau mulu sih . .
*dalam hati* : hahh, sepenting itukah punya pacar. Gue sama sekali engga peduli akan hal remeh temeh kayak gitu, kalau emang gue udaa dikacangin mah yaa udaah mau gimana lagi. Pacaran bukanlah hal yang urgent bagi gue. Ngerti . .
Si pulan : keren.keren, kayak anak IKJ banget sih lu. Mantap . .
*dalam hati* : gue yakin, buat orang yang ngomong gitu pasti belum pernah ke IKJ. Kalau mau ngomong liat dulu geura, waktu gue main ke IKJ semua mahasiswa biasa aja ahh. Sama kayak yang lain. Lu aja yang lebaii . .
Si pulan : orang gila, orang gila, orang gila . .
*dalam hati* : ini lagi, lu pernah ketemu orang gila . . ?? seperti apakah mereka . . ?? orang gila itu engga pernah mau bertindak apa-apa, segala yang dilakuin cuma buat sendiri. Engga pernah sekalipun mikir buat orang . sayang banget yaa, itu sama kayak lu . . sedangkan gue, heii, Teras Baca adalah hasil dari karya gue dimana itu didedikasiin langsung buat orang banyak. bukan buat diri sendiri. Tapi lu, apa yang udaa lu perbuat . . ??
Dan banyak orang bilang gue kayak gini, “si pulan : iii, rambutnya kayak Hudson . .”
*dalam hati* : hahh, Hudson . . ?? sejak kapan gue pernah bertingkah laku kayak cewek . . ?? perasaan dari rambut gue gondrong, engga pernah sekali-pun gue pengen kayak cewek. Lu tau Hudson kan . . ?? dia itu setengah cewek dan setengah cowok. Sedangkan gue, cowok tulen, suer.
Dan masih banyak lagi yang lain . .
Inilah yang terjadi pada masyarakat kita, emang sih bener apa kata Mario Teguh yang kira-kira kayak gini bunyinya “sebenernya kita cukup melihat cover bukunya saja, semakin bagus cover itu maka semakin bagus juga isinya”. Gue amin-in untuk itu, tapi saran gue buat lu semua cuma satu “engga semua yang lu denger itu bener” . .
Bayangin dehh, apa yang terjadi kalau gue termasuk orang yang sensi . . ?? mungkin gue akan bikin keributan dimana-mana. Setiap orang yang ngomong asal gue langsung marah-marah. Sensi banget kalau begitu. Mau sampe kapan kita sensi kayak gitu . . ?? faktor terjadinya sensi menurut pandji “sensi ada itu karena kita terlalu focus dengan apa yang diucap daripada apa yang dimaksud”. Gue coba itu dan berhasil. Disetiap omongan orang tentang rambut gue, gue anggap memiliki maksud yang bagus tapi perlu sedikit cara buat mahamin maksud itu sendiri . .
Padahal, selain karena penat akan politik di bangsa ini karena ingin menggambarkan sikap seseorang terhadap suatu hal. Setengah-setengah. Apa pun yang dikerjain selalu tanggung, engga pernah sampe selesai. Ketika kita ingin ini, dikerjakan baru setengah udaa berenti, ngerjain baru lagi, sampe ditengah, berebti lagi. Terus dan terus seperti itu. Pesan dari gue, selesaikanlah pekerjaan itu dan ambil pekerjaan baru lagi . .
Ada yang salah disini . .
Nb : maaf engga ada photonya,soalnya gue udah lupa pose orang mau photo KTP. Tapi kalau masih penasaran juga. Mendingan lu ngaca terus ambil setengah bagian rambut dan anggap itu botak setengah. Yups, seperti itulah rambut gue . .
Mungkin kalau lu tau sedikit tentang lagu-lagunya Pandji, di salah satu album itu ada lagu yang judulnya “Ada Yang Salah” . .
Yups, mungkin ada yang salah disini. Tapi bukan mau gue untuk menyalahkan sesuatu tentang hal apapun, karena setiap orang memiliki cara pandang yang berbeda terhadap suatu objek. Dan dilagu itu (Ada yang Salah) nyeritain tentang sudut pandang orang yang sedikit keliru. Bukannya salah.
Tapi gue engga akan berlama-lama tentang lagu “Ada Yang Salah”nya-Pandji. Lu semua bisa beli album ato download lagu-lagunya dan nilailah sendiri . .
Mungkin sekarang saatnya ngasih tau alasan gue tentang potongan rambut yang begini . .
Keliatan kayak orang stress, memang gue akui itu koo . .
Dari potongan rambut yang begini, daya imajinasi orang mendadak langsung tinggi, yaa inilah, yaa itulah, yaa beginilah, yaa begitulah. Banyak banget, sampe bingung mau ngejabarinnya . .
Jadi, pada awalnya gue penat akan kehidupan politik di negeri ini. Bayangin aja, setiap hari lu dijijilin berita-berita politik yang begitu semerawut. Mungkin, maksud media itu baik, masyarakat disuguhkan acara seperti itu agar menyadarkan rakyat akan kebusukan kepemerintahan sekarang. Dan itulah yang bikin gue engga ngerti, terus lu (media massa) mau apa kalau tau pemerintah sekarang itu bobrok . . ?? pengen ngadu domba antara rakyat sama pemerintah . . ?? nih gue kasih tau, didalam dunia politik itu “kawan bisa jadi lawan dan lawan bisa jadi kawan, yang abadi didalam politik hanyalah kepentingan”. Garis bawahin kalau perlu “YANG ABADI DIDALAM POLITIK HANYALAH KEPENTINGAN” engga ada lagi yang lain . .
Aduh, kepanjangan euy latar belakangnya buat cerita yang engga penting gini . .
Akhirnya gue nemuin satu solusi untuk segala kepenatan itu, dan maksud dari penat itu udaa mulai apatis dengan kegiatan perpolotikan negeri ini. Akhirnya gue botakin aja rambut setengah doang. Jadi setengan panjang (gondrong) dan setengah lagi botak. Ini juga dapet sedikit inspirasi dari salah seorang following gue yang namanya @wira_panda . lu bisa follow dia juga koo. Dia ngelakuin dengan membagi dua belah mukanya jadi setengah panda setengah muka sendiri. Kereen menurut gue.
Senang rasanya nemuin sebuah solusi dari masalah, dan yang terberatnya adalah bagaimana kita mebuat mentalitas untuk merealisasikan suatu ide menjadi suatu tingkah nyata . . ?? tiap hari nanya keorang-orang “ehh, kiranya rambut setengah gitu masih bisa diiket engga sih . . ??” atau “kalau dibotakin, mendingan yang kiri apa yang kanan yaa . . ??”. semakin gue banyak nanya, maka semakin pusing gue dengan segala jawaban yang udaa engga rasional lagi . .
Hampir 3 minggu gue berpikir keras, dan tertanggal 30 November 2011, akhirnya gue brangkat kesalon yang ada dideket rumah. Kedatang pertama sunggu mendebarkan, karena jujur saat kenaikan kelas 3 SMP merupakan hari terakhir gue berhubungan lagi dengan tukang potong rambut. Bayangin, berapa taun gue engga pernah ke tukang cukur rambut . . ?? hampir 5 taun , ngem.
Baru sampe depan salon, nyali gue mendadak ilang sekejap. Balik lagi dah gue ke rumah karena parno akan Barber Shop.
Minum segelas air mineral, nyali terkumpul lagi buat motong rambut. Dan yaa , benar sekali, gue dipotong juga. Dengan segala kalimat hafalan yang udaa gue pelajarin dirumah tentang cara ngomong mau potong rambut. Udaa lupa, ngem, 5 taun engga ketukang cukur . .
Pemotongan selesai dan taraa, rambut sebelah gue botak dan sebelah lagi gondrong . .
Mulai saat itulah imajinasi orang seakan meningkat, ada yang ngomong gini : *gue akan menyamarkan nama orang-orang dengan nama si pulan, semuanya*
Si pulan : potongan rambut apa sih, udaa kayak anak punk yang tinggal dijalan aja . .
*dalam hati* : emang kenapa dengan anak punk . . ?? mereka itu baik cuma kebawa pergaulan aja jadi begitu, dari pada koruptor tuuh, baju keren, mobil mewah, potongan rambut rapih,tapi kelakuan bejat .
Si pulan : idiih, lagi stress yaa engga punya pacar . . ?? nge’galau mulu sih . .
*dalam hati* : hahh, sepenting itukah punya pacar. Gue sama sekali engga peduli akan hal remeh temeh kayak gitu, kalau emang gue udaa dikacangin mah yaa udaah mau gimana lagi. Pacaran bukanlah hal yang urgent bagi gue. Ngerti . .
Si pulan : keren.keren, kayak anak IKJ banget sih lu. Mantap . .
*dalam hati* : gue yakin, buat orang yang ngomong gitu pasti belum pernah ke IKJ. Kalau mau ngomong liat dulu geura, waktu gue main ke IKJ semua mahasiswa biasa aja ahh. Sama kayak yang lain. Lu aja yang lebaii . .
Si pulan : orang gila, orang gila, orang gila . .
*dalam hati* : ini lagi, lu pernah ketemu orang gila . . ?? seperti apakah mereka . . ?? orang gila itu engga pernah mau bertindak apa-apa, segala yang dilakuin cuma buat sendiri. Engga pernah sekalipun mikir buat orang . sayang banget yaa, itu sama kayak lu . . sedangkan gue, heii, Teras Baca adalah hasil dari karya gue dimana itu didedikasiin langsung buat orang banyak. bukan buat diri sendiri. Tapi lu, apa yang udaa lu perbuat . . ??
Dan banyak orang bilang gue kayak gini, “si pulan : iii, rambutnya kayak Hudson . .”
*dalam hati* : hahh, Hudson . . ?? sejak kapan gue pernah bertingkah laku kayak cewek . . ?? perasaan dari rambut gue gondrong, engga pernah sekali-pun gue pengen kayak cewek. Lu tau Hudson kan . . ?? dia itu setengah cewek dan setengah cowok. Sedangkan gue, cowok tulen, suer.
Dan masih banyak lagi yang lain . .
Inilah yang terjadi pada masyarakat kita, emang sih bener apa kata Mario Teguh yang kira-kira kayak gini bunyinya “sebenernya kita cukup melihat cover bukunya saja, semakin bagus cover itu maka semakin bagus juga isinya”. Gue amin-in untuk itu, tapi saran gue buat lu semua cuma satu “engga semua yang lu denger itu bener” . .
Bayangin dehh, apa yang terjadi kalau gue termasuk orang yang sensi . . ?? mungkin gue akan bikin keributan dimana-mana. Setiap orang yang ngomong asal gue langsung marah-marah. Sensi banget kalau begitu. Mau sampe kapan kita sensi kayak gitu . . ?? faktor terjadinya sensi menurut pandji “sensi ada itu karena kita terlalu focus dengan apa yang diucap daripada apa yang dimaksud”. Gue coba itu dan berhasil. Disetiap omongan orang tentang rambut gue, gue anggap memiliki maksud yang bagus tapi perlu sedikit cara buat mahamin maksud itu sendiri . .
Padahal, selain karena penat akan politik di bangsa ini karena ingin menggambarkan sikap seseorang terhadap suatu hal. Setengah-setengah. Apa pun yang dikerjain selalu tanggung, engga pernah sampe selesai. Ketika kita ingin ini, dikerjakan baru setengah udaa berenti, ngerjain baru lagi, sampe ditengah, berebti lagi. Terus dan terus seperti itu. Pesan dari gue, selesaikanlah pekerjaan itu dan ambil pekerjaan baru lagi . .
Ada yang salah disini . .
Nb : maaf engga ada photonya,soalnya gue udah lupa pose orang mau photo KTP. Tapi kalau masih penasaran juga. Mendingan lu ngaca terus ambil setengah bagian rambut dan anggap itu botak setengah. Yups, seperti itulah rambut gue . .
Tag :
ada yang salah,
Suster dan Baso
By : Harry RamdhaniApa sih kaitannya suster sama baso . . ??
Gue menemukan fakta ini disalah satu tempat makan baso legendaries ditempat gue. Siapa yang engga kenal sama tukang baso ini, berawal dari gerobak keliling terus mangkal hampir 10 tahun di SD negeri dan kini sudah punya kios baso sendiri. Yups, kalau yang ada dikepala lu itu adalah Baso Mas Gun.
Jadi gini, eumm, mau mulai dari mana yaa . . ??
Okok, saat itu tanggal 24 desember 2011 *kalau yang baca postingin ini baru-baru mah, belum lama koo kejadiannya* gue nganterin peang (buat yang belum tau dia siapa, engga usah dipikirinlah) yang ngerengek mulu minta naik motor dan sekalian aja beli makan malem buat dia, menu makan malam peang malam ini adalah baso. Wuaaw, anak umur 2 taun udaa kepengen baso buat makan malem, kayak orang pacaran aja sih.
Berangkatlah gue sama peang beli baso di Mas Gun, sambil nyanyi hujan rintik-rintik dengan nada yang engga karuan kemana arahnya. Kolaborasi gue dan peang kayaknya layak untuk dinobatkan menjadi best duo/grup dalam Grammy Award deh. Cuaca saat itu juga emang abis ujan yang begitu deres.
Sesampanya disana, gue pesen menurut keinginan peang. Basonya aja engga pake sambel cuma kecap. Seperti itulah peang, laki-laki takut makan pedes
Sambil nunggu dibuatin baso, ada dua orang suster kayaknya yang lagi asik makan baso. Lahap banget. Dan ini adalah kali kelimanya gue liat dia makan baso. Koo suster tiap makan tuh baso mulu yaa . . ?? apa ini disaranin sama dokter yaa . . ??
Oia, jadi di seberang jalan baso Mas Gun itu ada rumah bersalin gitu. Jadi jelas dong kalau ada suster disana yang kelliweran.
Terkesima gue sama cara makannya. Ada 2 bungkus plastik kerupuk yang udaa kosong. Gue yakin ini punya dia, karena engga mungkin kalau punya orang masih ada dimeja tanpa dibersihin dulu. Pertanyaan yang sempe tersirat diotak gue tadipun muncul. Otak gue langsung bekerja sepersekian detik dengan berbagai kemungkinan dan penjelasan yang logis.
Gue : suster itu orang yang merawat dan baso itu makanan yang merakyat. Apa biar dibilang ‘merakyat’ terus suster makannya baso . . ?? bisa juga sih . .
*peang : mas, bebek, mas, Minnie mos* *sambil nunjuk gambar Donald duck sama Minnie mouse*
Gue : atau mungkin karena tempatnya yang deket jadi mereka (suster) engga mau jauh-jauh beliu makanan.
*peang : mas, bebek, mas, Minnie mos*
Gue : atau-atau, ini emang udaa ada waktu para suster masih belajar yaa. Jadi ada mata kuliah khusus tentang pola makan suster terhadap baso terus setelah ada penelitian dan ternyata baso merupakan penambah asupan gizi yang harus diterapkan suster dalam ke-primaan saat merawat pasien. Tapi kalau emang itu bener, gue curiga kalau nanti pasiennya diwajibin makan baso pasca kelahiran. “bu, jadi ibu harus makan baso sehari 3 kali untuk terus menjaga asi para ibu yang baru melahirkan” kata suster, misalnya. Bahaya juga tuuh.
*peang : mas, bebek, mas, Minnie mos* *masih sambil nunjuk gambar Donald duck sama Minnie mouse*
Gue : atau karena bentuk baso itu yang bulet-bulet gimanaa gitu dan jadi kebiasaan suster karena sering ngeliat itunya ibu-ibu yang melahirkan. Biasanyakan orang itu makan berdasarkan apa yang sering dia liat. Bisa jadi.
*peang naikin nadanya ke 7 oktav* *peang : MAAAAASS, BEBEEEEK, MAS, MINNIIIIIIIEE MOS*
Gue : iyeee,iyeeeeeeeeeeeeee, itu donal bebek terus itu Minnie mouse . .
Selesai beli baso dan kami-pun pulang sambil bernyanyi dengan merdu lagu hujan rintik. Buat produser, kami siap untuk masuk dapur rekaman koo.
Sesampainya dirumah dengan pertanyaan yang masih mengganjal ini, rasanya mau buka baju terus berenang di kolam renang juga rasanya engga enak banget, soalnya emang gue engga punya kolam renang dirumah. Ada juga kobakan bekas ujan tadi tuh. Bengong. Kenapa suster doyan banget makan baso yaa . . ??
Sholat maghrib dulu biar enak kalau udaa ketemu Tuhan. Bergegaslah gue ke tempat baso Mas Gun lagi untuk nanyain pertanyaan yang mengganjal pikiran dan dompet gue, karena paling engga gue harus jajan baso disana dulu baru ngobrol-ngobrol sama Mas Gunnya.
Makan baso disana dan nanya-nanya ke Mas Gun.
Gue : *sambil ngunyam* mas, koo suster-suster sini seneng banget sih makan baso . . ??
Gun : yaa, emang baso puny ague enaklah, makanya mereka seneng makan kesini.
Gue : yee, dongo *maaf, bawaan, maklum kalau gue ini preman* yang bener atuh, masa engga logis gitu jawabannya. Perasaan mereka engga pernah nyamperin Mas Gun dehh waktu masih mangkal di SD . .
Gun : yaa mana saya tau, mungkin karena mereka butuh pemandangan yang bikin mereka bikin seger kali yaa, soalnya kan disana (rumah bersalin) perempuan semua. Dan mereka kesini buat liat saya yang tampan.
Gue : *kepala mendidih* *genggem botol kecap*
Jawaban yang didapet engga memuaskan bdari narasumber dan terasa sia-sia makan baso disana, walau perut kenyang.
Pas mau pulang, datenglah suster yang tadi makan baso. Mata kita bersatu. Plis, tolooooong mata kita nempel nih, toloooong lepasin. Dalam hati gue ngomong “masa iaa gue engga berani nanya sama ini orang” *mata sinis*.
“mba-mba” kata gue. Dia nengok kearah gue dengan rambut yang terikat menjadi terguray *saaah*. Gue engga mau kalah, rambut gue pun diguray gitu juga *saaaah*. “kenapa sih, mba kalau suster itu doyan banget makan baso . . ??” sambil malu-malu kucing yang lagi belaga nolak dikasih cumim asin. Suster itu senyum 227. 2 cm ke kanan, 2 cm ke kiri, 7 gigi keliatan. Gue malah takut, mba ini suster apa pencari nasabah bank mandiri yaa . . ?? ada daun seledri yang nyangkut di gigi depan lagi. Mba, biasa aja yaa, saya cuma nanya gitu doang koo.
“bukannya kami doyan makan baso, tapi karena baso itu seger aja” kata suster. Dih, sekarang gayanya jadi kayak Rita Subono gitu. “kamikan seharian kadang engga ada yang ngelahirin tapi harus tetep stand by disana, udaa gitu sekalinya ada yang lahirin tuh repotnya setengah mati. Bau obat-obatan, segala tetek bengeklah nyampur jadi satu. Nah, biar kami engga terlalu nge’drop banget, nah, makanya kami milih baso sebagai makannya” suster itu ngejelasin panjaaaaang banget. Mata gue sampe muter dibawa dia kealam bawah sadar.
*dalam hati* “terus apa hubungannya, mbaeee . . ??” samber gue nyeletuk sendirian.
Semangatnya bertambah karena ingin menceritakan banyak ke gue “kuah baso kan seger tuh, jadi kita bisa tetep seger kalau makan itu. Misalnya ketemu pasien juga keliatannya seger kalaupun ubadan udaa capek juga”. Dan gue pun harus cari cara buat suster ini menghentikan khotbahnya ke gue. Tengok-tengok kesekitar engga ada benda keras buat mukul kepala ini suster biar diem.
Lampu pijar menyala terang dikepala gue, AHA. Gue tending secara pelang Mas Gun sambil ngasih isyarat buat ngasih pesenan dia dan suster bisa bertugas lagi ke klinik. Isyaratnya kayak gini, mat a gue ngedip 3 kali, pundak bergerak kayak ombak dari kanan ke kiri 2 kali, dan mangap tanpa suara 1 kali.
Perbincangan kami selesai, dan gue pun dapat narik kesimpulannya gini. Ternyata kalau baso itu bisa buat kita terlihat lebih seger dari biasanya, karena didalem kuahnya itu terdapat resep rahasia yang engga mungkin gue kasih tau. Namanya juga rahasia, kalau dikasih tau mah namanya bukan rahasia atuuh. Tapi biar engga ngilangin rasa seger itu dari baso, makannya jangan terlalu pedes, cukup sedikit sambel dan 1 sendok makan kecap, INGAT JANGAN PAKAI SAOS dan kalau bisa jangan pake vaksin juga. Jadi suster makan itu biar terlihat tetep seger dimata pasien walau gue tau rasanya kalau berlama-lama denkat dengan setumpukan obat yang bisa bikin kepala pusing itu akan nampak lesu.
Wuah, satu pelajaran berharga yang gue dapet antara suster dan baso. Berikanlah segalanya dan lakukan segalanya dengan baik, agar semua bisa berjalan dengan baik pula. Tersenyumlah agar orang lain bisa tersenyum seperti kita.
Gue menemukan fakta ini disalah satu tempat makan baso legendaries ditempat gue. Siapa yang engga kenal sama tukang baso ini, berawal dari gerobak keliling terus mangkal hampir 10 tahun di SD negeri dan kini sudah punya kios baso sendiri. Yups, kalau yang ada dikepala lu itu adalah Baso Mas Gun.
Jadi gini, eumm, mau mulai dari mana yaa . . ??
Okok, saat itu tanggal 24 desember 2011 *kalau yang baca postingin ini baru-baru mah, belum lama koo kejadiannya* gue nganterin peang (buat yang belum tau dia siapa, engga usah dipikirinlah) yang ngerengek mulu minta naik motor dan sekalian aja beli makan malem buat dia, menu makan malam peang malam ini adalah baso. Wuaaw, anak umur 2 taun udaa kepengen baso buat makan malem, kayak orang pacaran aja sih.
Berangkatlah gue sama peang beli baso di Mas Gun, sambil nyanyi hujan rintik-rintik dengan nada yang engga karuan kemana arahnya. Kolaborasi gue dan peang kayaknya layak untuk dinobatkan menjadi best duo/grup dalam Grammy Award deh. Cuaca saat itu juga emang abis ujan yang begitu deres.
Sesampanya disana, gue pesen menurut keinginan peang. Basonya aja engga pake sambel cuma kecap. Seperti itulah peang, laki-laki takut makan pedes
Sambil nunggu dibuatin baso, ada dua orang suster kayaknya yang lagi asik makan baso. Lahap banget. Dan ini adalah kali kelimanya gue liat dia makan baso. Koo suster tiap makan tuh baso mulu yaa . . ?? apa ini disaranin sama dokter yaa . . ??
Oia, jadi di seberang jalan baso Mas Gun itu ada rumah bersalin gitu. Jadi jelas dong kalau ada suster disana yang kelliweran.
Terkesima gue sama cara makannya. Ada 2 bungkus plastik kerupuk yang udaa kosong. Gue yakin ini punya dia, karena engga mungkin kalau punya orang masih ada dimeja tanpa dibersihin dulu. Pertanyaan yang sempe tersirat diotak gue tadipun muncul. Otak gue langsung bekerja sepersekian detik dengan berbagai kemungkinan dan penjelasan yang logis.
Gue : suster itu orang yang merawat dan baso itu makanan yang merakyat. Apa biar dibilang ‘merakyat’ terus suster makannya baso . . ?? bisa juga sih . .
*peang : mas, bebek, mas, Minnie mos* *sambil nunjuk gambar Donald duck sama Minnie mouse*
Gue : atau mungkin karena tempatnya yang deket jadi mereka (suster) engga mau jauh-jauh beliu makanan.
*peang : mas, bebek, mas, Minnie mos*
Gue : atau-atau, ini emang udaa ada waktu para suster masih belajar yaa. Jadi ada mata kuliah khusus tentang pola makan suster terhadap baso terus setelah ada penelitian dan ternyata baso merupakan penambah asupan gizi yang harus diterapkan suster dalam ke-primaan saat merawat pasien. Tapi kalau emang itu bener, gue curiga kalau nanti pasiennya diwajibin makan baso pasca kelahiran. “bu, jadi ibu harus makan baso sehari 3 kali untuk terus menjaga asi para ibu yang baru melahirkan” kata suster, misalnya. Bahaya juga tuuh.
*peang : mas, bebek, mas, Minnie mos* *masih sambil nunjuk gambar Donald duck sama Minnie mouse*
Gue : atau karena bentuk baso itu yang bulet-bulet gimanaa gitu dan jadi kebiasaan suster karena sering ngeliat itunya ibu-ibu yang melahirkan. Biasanyakan orang itu makan berdasarkan apa yang sering dia liat. Bisa jadi.
*peang naikin nadanya ke 7 oktav* *peang : MAAAAASS, BEBEEEEK, MAS, MINNIIIIIIIEE MOS*
Gue : iyeee,iyeeeeeeeeeeeeee, itu donal bebek terus itu Minnie mouse . .
Selesai beli baso dan kami-pun pulang sambil bernyanyi dengan merdu lagu hujan rintik. Buat produser, kami siap untuk masuk dapur rekaman koo.
Sesampainya dirumah dengan pertanyaan yang masih mengganjal ini, rasanya mau buka baju terus berenang di kolam renang juga rasanya engga enak banget, soalnya emang gue engga punya kolam renang dirumah. Ada juga kobakan bekas ujan tadi tuh. Bengong. Kenapa suster doyan banget makan baso yaa . . ??
Sholat maghrib dulu biar enak kalau udaa ketemu Tuhan. Bergegaslah gue ke tempat baso Mas Gun lagi untuk nanyain pertanyaan yang mengganjal pikiran dan dompet gue, karena paling engga gue harus jajan baso disana dulu baru ngobrol-ngobrol sama Mas Gunnya.
Makan baso disana dan nanya-nanya ke Mas Gun.
Gue : *sambil ngunyam* mas, koo suster-suster sini seneng banget sih makan baso . . ??
Gun : yaa, emang baso puny ague enaklah, makanya mereka seneng makan kesini.
Gue : yee, dongo *maaf, bawaan, maklum kalau gue ini preman* yang bener atuh, masa engga logis gitu jawabannya. Perasaan mereka engga pernah nyamperin Mas Gun dehh waktu masih mangkal di SD . .
Gun : yaa mana saya tau, mungkin karena mereka butuh pemandangan yang bikin mereka bikin seger kali yaa, soalnya kan disana (rumah bersalin) perempuan semua. Dan mereka kesini buat liat saya yang tampan.
Gue : *kepala mendidih* *genggem botol kecap*
Jawaban yang didapet engga memuaskan bdari narasumber dan terasa sia-sia makan baso disana, walau perut kenyang.
Pas mau pulang, datenglah suster yang tadi makan baso. Mata kita bersatu. Plis, tolooooong mata kita nempel nih, toloooong lepasin. Dalam hati gue ngomong “masa iaa gue engga berani nanya sama ini orang” *mata sinis*.
“mba-mba” kata gue. Dia nengok kearah gue dengan rambut yang terikat menjadi terguray *saaah*. Gue engga mau kalah, rambut gue pun diguray gitu juga *saaaah*. “kenapa sih, mba kalau suster itu doyan banget makan baso . . ??” sambil malu-malu kucing yang lagi belaga nolak dikasih cumim asin. Suster itu senyum 227. 2 cm ke kanan, 2 cm ke kiri, 7 gigi keliatan. Gue malah takut, mba ini suster apa pencari nasabah bank mandiri yaa . . ?? ada daun seledri yang nyangkut di gigi depan lagi. Mba, biasa aja yaa, saya cuma nanya gitu doang koo.
“bukannya kami doyan makan baso, tapi karena baso itu seger aja” kata suster. Dih, sekarang gayanya jadi kayak Rita Subono gitu. “kamikan seharian kadang engga ada yang ngelahirin tapi harus tetep stand by disana, udaa gitu sekalinya ada yang lahirin tuh repotnya setengah mati. Bau obat-obatan, segala tetek bengeklah nyampur jadi satu. Nah, biar kami engga terlalu nge’drop banget, nah, makanya kami milih baso sebagai makannya” suster itu ngejelasin panjaaaaang banget. Mata gue sampe muter dibawa dia kealam bawah sadar.
*dalam hati* “terus apa hubungannya, mbaeee . . ??” samber gue nyeletuk sendirian.
Semangatnya bertambah karena ingin menceritakan banyak ke gue “kuah baso kan seger tuh, jadi kita bisa tetep seger kalau makan itu. Misalnya ketemu pasien juga keliatannya seger kalaupun ubadan udaa capek juga”. Dan gue pun harus cari cara buat suster ini menghentikan khotbahnya ke gue. Tengok-tengok kesekitar engga ada benda keras buat mukul kepala ini suster biar diem.
Lampu pijar menyala terang dikepala gue, AHA. Gue tending secara pelang Mas Gun sambil ngasih isyarat buat ngasih pesenan dia dan suster bisa bertugas lagi ke klinik. Isyaratnya kayak gini, mat a gue ngedip 3 kali, pundak bergerak kayak ombak dari kanan ke kiri 2 kali, dan mangap tanpa suara 1 kali.
Perbincangan kami selesai, dan gue pun dapat narik kesimpulannya gini. Ternyata kalau baso itu bisa buat kita terlihat lebih seger dari biasanya, karena didalem kuahnya itu terdapat resep rahasia yang engga mungkin gue kasih tau. Namanya juga rahasia, kalau dikasih tau mah namanya bukan rahasia atuuh. Tapi biar engga ngilangin rasa seger itu dari baso, makannya jangan terlalu pedes, cukup sedikit sambel dan 1 sendok makan kecap, INGAT JANGAN PAKAI SAOS dan kalau bisa jangan pake vaksin juga. Jadi suster makan itu biar terlihat tetep seger dimata pasien walau gue tau rasanya kalau berlama-lama denkat dengan setumpukan obat yang bisa bikin kepala pusing itu akan nampak lesu.
Wuah, satu pelajaran berharga yang gue dapet antara suster dan baso. Berikanlah segalanya dan lakukan segalanya dengan baik, agar semua bisa berjalan dengan baik pula. Tersenyumlah agar orang lain bisa tersenyum seperti kita.
Tag :
cosmic g-spot,
Mungkin seperti ini . .
By : Harry RamdhaniSedikit mengingat sejenak, dulu kalau engga salah hari kamis dan gue lupa tanggalnya. Dia (Irene septianasari) sama sekali engga ngehubungin gue, seharian (sampe sore sekitar pukul 4pm). Emang sih gue tau kondisinya saat itu akan adanya event besar di STIKES pada hari Jum’at-nya dan gue pun ada yang harus diselesaikan, yaitu kompetisi Inovasi Bisnis Muda di Kampus gue sendiri.
Gue sibuk dan dia sibuk. Gue sibuk dengan deadline Proposal yang harus selesai besok tapi sampe sekarang sama sekali belum rampung. Mencoba terus berpikir positive dengan segala sesuatu. Berpikir positive kalau proposal ini akan selesai sesuai deadline dan juga berpikir positive tentang dia. Sedikit rehat dengan pergi ke portal untuk membeli Pop Ice dan rokok, gue pun sms dia. “lagi sibuk apa sih . . ??” 5 menit menunggu balesan dan masuk juga sms dari dia “ni lgi nungguin panggung”. Sontak gue kaget, engga memberi kabar sedikit-pun ke gue Cuma gara-gara nungguin panggung.
Walau gue tau, tolong di garis bawahi ini, GUE INI EMANG BUKAN PACAR DIA, TAPI DIA ITU MASIH GUE ANGGAP PACAR GUE”. Kata orang waras, “engga usah segala ngakuin gitu”. Kata orang yang nguping, “dasar cowo tolol, mana ada hubungan kayak gitu”. Kata temen deket di kampus “udaa sih, masih aja ngarep bisa pacaran lagi sama dia, lu itu jelas UDAH DIPUTUSIN, dia juga ogah kali balikan sama lu, lu kan homo.”. yups, gue terima itu, terima kasih kalian udah perhatian sama gue dengan segala masukannya dan setiap manusia memang punya filsuf yang berbeda dengan orang lain dalam masalah apapun.
Seperti itulah pandangan mereka terhadap pengakuan gue itu. Terus mau apa lagi . . ?? cinta bertepuk sebelah tangan, mana ada tepuk tangan pake tangan sebelah. BEGO. Meski maksudnya sama yaitu lu itu udah putus dan sama sekali dia engga nganggap lu.
Tanpa piker panjang, gue bales smsnya itu,”iket aja itu panggung biar engga lari”
“bukan nungguin panggung, tapi nungguin panggungnya dateng trus dipasang buat acara besok,” balesnya begitu.
“ouw, yodaa biar cepet datang itu abang panggung, kamu angkat aja celana kamu sampe bates engga bisa dinaikin lagi. Aku yakin abang panggung pasti cepet datengnya” bales gue begitu. Akhirnya dia seketika tampak marah sama gue. Semua balesan smsnya sama sekali memperlihatkan bahwa sedang marah. Padahal itu Cuma gue praktekin sama apa yang gue tau di film WARKOP. Dan kesalahpahaman-pun muncul.
Karena deadline proposal harus selesai besok maka gue engga terlalu memprioritaskan masalah tersebut dan berpikir akan kembali seperti semula kembali dengan sendirinya. Tolol yaa gue, mana ada masalah bisa selesai dengan sendiri. Emangnya siapa yang nyelesein . . ?? setan, dukun, sang pujangga hati . . ?? yaa kita sendirilah yang nyelesein itu masalah. Belum pernah ada teori yang mengatakan bahwa “masalah akan selesai dengan 2 cara : pertama, lu tinggalin ada masalah tersebut dan semua akan kembali seperti semula dan kedua, anggap masalah itu engga ada”
Hari jum’at selesai dengan penuh keringat, mengejar deadline proposal untuk dikumpulkan ternyata bukan perkara muda. Tapi gue engga akan ngebahas itu, karena gue tau diapun engga suka apalagi peduli tentang lomba ini.
Sama sekali engga ada kabar dihari jum’at. Tapi gue juga masih belajar sama proposal ini. Dan tolong digaris bawahin “ENGGA ADA KABAR JUGA SAMA SEKALI”. Dan sekali lagi gue ingetin kalau “GUE INI EMANG BUKAN PACAR DIA, TAPI DIA ITU MASIH GUE ANGGAP PACAR GUE”. Secara logika, emang engga apa-apa sih, gue sama dia engga terikat hubungan apapun. Nothing. Tapi gue percaya, kalau dihati gue sama dia masih sama-sama memiliki *persepsi sendiri*.
Lomba dimulai, tanpa pikiran apapun dan berjalan seperti yang diinginkan. gue dapet juara harapan 2 dari 7 pemenang yang diperebutkan dan 15 peserta.
Dimobil gue sms, dan balesannya “muup, aku sibuk banget dan pulsa abis”. Gue Cuma bisa percaya pasrah.
Minggunya gue sms berkali-kali dan masih saja engga diperhatiin. Engga dibales. Jam 2 kalau engga salah, dia bales “sebenernya aku tuh sebel sama kamu kckckckckckckckckkckc” <- maaf kalau engga kayak yang biasanya, jujur sama sekali gue engga pernah nulis ketawa menjadi sebuah kata.
Hanya sekedar itu, dan hari demi hari sms gue engga pernah dibales lagi. Jarang. Bisa dibilang 5 hari sekali baru dibales satu sms. Prihatin banget. Makanya gue ingin suatu waktu nantang wartawan untuk wawancara dia. Apakan sanggup untuk itu . . ??
Marah, kesel, emosi engga kekontrol mulai menjadi. Okok kalau emang engga bales sms untuk kegiatan yang bikin berguna dan kesibukan lagi jadi alasan. Coba.coba lah gue check pesbuknya di http://facebook.com/ireneilen buat yang belum ‘add’ bisa langsung aja. Ternyata dia pengguna pesbuk yang sekali. Sibuk dengan kegiatan tapi masih bisa update dipesbuk untuk bermain dengan yang lain dan gue engga pernah dibales smsnya. Sampe pulsa sms gue abis yang super sms dan harus beli lagi. Bayangin, super sms. Abis untuk sms yang engga pernah dibales. Masih ada juga adegan telpon, tapi engga akan gue bahas disini
Ini masih terus berlanjut sampe sekarang, 18 desember 2011. Masih aja begitu. Gue sms dan dikacangin. Yang jadi pertanyaan gue, sesibuk apa sih lu . . ?? preseden sekali pun engga maksimal banget , dia itu ngurusin lebih dari 230juta. Tapi dia masih bisa berkomunikasi sama keluarganya koo . .
Bukan maksud aku untuk mojokin kamu, tapi ini yang aku pengen bisa tau. Ada apa sih . . ?? kalau jawan tanpa solusi mendingan BUNGKAM.
Postingan : harry ramdhani follow me on twitter @Har_Ram
Gue sibuk dan dia sibuk. Gue sibuk dengan deadline Proposal yang harus selesai besok tapi sampe sekarang sama sekali belum rampung. Mencoba terus berpikir positive dengan segala sesuatu. Berpikir positive kalau proposal ini akan selesai sesuai deadline dan juga berpikir positive tentang dia. Sedikit rehat dengan pergi ke portal untuk membeli Pop Ice dan rokok, gue pun sms dia. “lagi sibuk apa sih . . ??” 5 menit menunggu balesan dan masuk juga sms dari dia “ni lgi nungguin panggung”. Sontak gue kaget, engga memberi kabar sedikit-pun ke gue Cuma gara-gara nungguin panggung.
Walau gue tau, tolong di garis bawahi ini, GUE INI EMANG BUKAN PACAR DIA, TAPI DIA ITU MASIH GUE ANGGAP PACAR GUE”. Kata orang waras, “engga usah segala ngakuin gitu”. Kata orang yang nguping, “dasar cowo tolol, mana ada hubungan kayak gitu”. Kata temen deket di kampus “udaa sih, masih aja ngarep bisa pacaran lagi sama dia, lu itu jelas UDAH DIPUTUSIN, dia juga ogah kali balikan sama lu, lu kan homo.”. yups, gue terima itu, terima kasih kalian udah perhatian sama gue dengan segala masukannya dan setiap manusia memang punya filsuf yang berbeda dengan orang lain dalam masalah apapun.
Seperti itulah pandangan mereka terhadap pengakuan gue itu. Terus mau apa lagi . . ?? cinta bertepuk sebelah tangan, mana ada tepuk tangan pake tangan sebelah. BEGO. Meski maksudnya sama yaitu lu itu udah putus dan sama sekali dia engga nganggap lu.
Tanpa piker panjang, gue bales smsnya itu,”iket aja itu panggung biar engga lari”
“bukan nungguin panggung, tapi nungguin panggungnya dateng trus dipasang buat acara besok,” balesnya begitu.
“ouw, yodaa biar cepet datang itu abang panggung, kamu angkat aja celana kamu sampe bates engga bisa dinaikin lagi. Aku yakin abang panggung pasti cepet datengnya” bales gue begitu. Akhirnya dia seketika tampak marah sama gue. Semua balesan smsnya sama sekali memperlihatkan bahwa sedang marah. Padahal itu Cuma gue praktekin sama apa yang gue tau di film WARKOP. Dan kesalahpahaman-pun muncul.
Karena deadline proposal harus selesai besok maka gue engga terlalu memprioritaskan masalah tersebut dan berpikir akan kembali seperti semula kembali dengan sendirinya. Tolol yaa gue, mana ada masalah bisa selesai dengan sendiri. Emangnya siapa yang nyelesein . . ?? setan, dukun, sang pujangga hati . . ?? yaa kita sendirilah yang nyelesein itu masalah. Belum pernah ada teori yang mengatakan bahwa “masalah akan selesai dengan 2 cara : pertama, lu tinggalin ada masalah tersebut dan semua akan kembali seperti semula dan kedua, anggap masalah itu engga ada”
Hari jum’at selesai dengan penuh keringat, mengejar deadline proposal untuk dikumpulkan ternyata bukan perkara muda. Tapi gue engga akan ngebahas itu, karena gue tau diapun engga suka apalagi peduli tentang lomba ini.
Sama sekali engga ada kabar dihari jum’at. Tapi gue juga masih belajar sama proposal ini. Dan tolong digaris bawahin “ENGGA ADA KABAR JUGA SAMA SEKALI”. Dan sekali lagi gue ingetin kalau “GUE INI EMANG BUKAN PACAR DIA, TAPI DIA ITU MASIH GUE ANGGAP PACAR GUE”. Secara logika, emang engga apa-apa sih, gue sama dia engga terikat hubungan apapun. Nothing. Tapi gue percaya, kalau dihati gue sama dia masih sama-sama memiliki *persepsi sendiri*.
Lomba dimulai, tanpa pikiran apapun dan berjalan seperti yang diinginkan. gue dapet juara harapan 2 dari 7 pemenang yang diperebutkan dan 15 peserta.
Dimobil gue sms, dan balesannya “muup, aku sibuk banget dan pulsa abis”. Gue Cuma bisa percaya pasrah.
Minggunya gue sms berkali-kali dan masih saja engga diperhatiin. Engga dibales. Jam 2 kalau engga salah, dia bales “sebenernya aku tuh sebel sama kamu kckckckckckckckckkckc” <- maaf kalau engga kayak yang biasanya, jujur sama sekali gue engga pernah nulis ketawa menjadi sebuah kata.
Hanya sekedar itu, dan hari demi hari sms gue engga pernah dibales lagi. Jarang. Bisa dibilang 5 hari sekali baru dibales satu sms. Prihatin banget. Makanya gue ingin suatu waktu nantang wartawan untuk wawancara dia. Apakan sanggup untuk itu . . ??
Marah, kesel, emosi engga kekontrol mulai menjadi. Okok kalau emang engga bales sms untuk kegiatan yang bikin berguna dan kesibukan lagi jadi alasan. Coba.coba lah gue check pesbuknya di http://facebook.com/ireneilen buat yang belum ‘add’ bisa langsung aja. Ternyata dia pengguna pesbuk yang sekali. Sibuk dengan kegiatan tapi masih bisa update dipesbuk untuk bermain dengan yang lain dan gue engga pernah dibales smsnya. Sampe pulsa sms gue abis yang super sms dan harus beli lagi. Bayangin, super sms. Abis untuk sms yang engga pernah dibales. Masih ada juga adegan telpon, tapi engga akan gue bahas disini
Ini masih terus berlanjut sampe sekarang, 18 desember 2011. Masih aja begitu. Gue sms dan dikacangin. Yang jadi pertanyaan gue, sesibuk apa sih lu . . ?? preseden sekali pun engga maksimal banget , dia itu ngurusin lebih dari 230juta. Tapi dia masih bisa berkomunikasi sama keluarganya koo . .
Bukan maksud aku untuk mojokin kamu, tapi ini yang aku pengen bisa tau. Ada apa sih . . ?? kalau jawan tanpa solusi mendingan BUNGKAM.
Postingan : harry ramdhani follow me on twitter @Har_Ram
Tag :
cosmic g-spot,
mentalitas merealisasikan
By : Harry RamdhaniDewan Perwakilan Daerah (DPD) merupakan buah hasil dari Reformasi bangsa ini. Walaupun umurnya masih terbilang baru dibanding dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), yaitu pada tanggal 1 Oktober 2004, ketika 128 anggota DPD dilantik dan diambil sumpahnya. Tetapi gagasan tentang terbentuknya DPD sebenarnya sudah sejak sebelum jaman kemerdekaan. Tidak lain dari fungsi utama dibentuknya DPD merupakan untuk dapat mengembangkan daerah atau Provinsi dimana para anggota itu dipilih. atau saat ini kita lebih familiar dengan sebutan otonomi daerah.
Sesuai dalam Undang-Undang Dasar, DPD merupakan salah satu anggota Parlemen yang masih dibawahi oleh MPR. Oleh sebab itu, dalam perubahan UUD 1945 diperubahan ketiga inilah muncul suatu gagasan untuk membentuk parlemen yang menganut sistem bicameral, yang kemudian melahirkan secara legal formal DPD yang ada sekarang.
Permasalahan demi permasalah yang terjadi di bangsa Indonesia sekarang memang sangat semerawut, tetapi kalaupun kita dapat memilah dengan baik, permasalahan tersebut dapat diselesaikan dengan baik. Dan disanalah DPD berada, hasil yang paling kita rasakan dari otonomi daerah sekarang hanyalah “Kawasan Tanpa Rokok”, hampir disetiap daerah ada hal semacam ini. Padahal kalau kita lihat dalam Undang-Undang 1945 Bab VII Pasal 22E yaitu, Dewan Perwakilan Daerah dapat mengajukan kepada Dewan Perwakilan Rakyat rancangan undang-undang yang berkaitan dengan otonomi daerah, hubungan pusat dan daerah, pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, serta yang berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah. Begitu banyak yang dapat dilakukan DPD dalam menjalankan konstitusi tersebut.
Andai saya anggota DPD RI, maka ada 5 hal yang harus saya lakukan dalam membangun karakter-karakter suatu daerah temapt saya terpilih menjadi lebih baik. Pertama, Integritas yang tinggi dari dalam diri sendiri karena indikasi dari integritas menurun adalah problem korupsi yang kerap kali sulit untuk dihentikan. Kekuatan intelektual yang memiliki dan menguasai state of the art knowledge bukan hanya sekedar mengetahui setengah-setengah dalam melakukan hal. Ketiga, kepemimpinan, dengan kepemimpinan yang berkarakter agar bisa menggerakan lingkungannya, masyarakatnya, daerahnya, sampai bangsanya untuk meraih kegemilangan. Keempat, kemampuan mengantisipasi perubahan zaman, dengan memproyeksikan apa yang terjadi dimasa yang akan datang bukan terus melihat kemasa lalu. Kelima, menjadikan mentalitas merealisasikan ide menjadi tindakan nyata, karena perubahan yang signifikan bukanlah dari suatu wacana yang mengahasilkan suatu solusi melainkan solusi tersebut dapat direalisasikan menjadi tindakan nyata guna membangun daerah serta bangsanya.Walaupun hal semacam ini sering terbentur dengan sistem yang begitu rumit, tetapi apabila kita memiliki kesungguhan dalam mengerjakannya maka aka nada suatu jalan tersebut.
Sesuai dalam Undang-Undang Dasar, DPD merupakan salah satu anggota Parlemen yang masih dibawahi oleh MPR. Oleh sebab itu, dalam perubahan UUD 1945 diperubahan ketiga inilah muncul suatu gagasan untuk membentuk parlemen yang menganut sistem bicameral, yang kemudian melahirkan secara legal formal DPD yang ada sekarang.
Permasalahan demi permasalah yang terjadi di bangsa Indonesia sekarang memang sangat semerawut, tetapi kalaupun kita dapat memilah dengan baik, permasalahan tersebut dapat diselesaikan dengan baik. Dan disanalah DPD berada, hasil yang paling kita rasakan dari otonomi daerah sekarang hanyalah “Kawasan Tanpa Rokok”, hampir disetiap daerah ada hal semacam ini. Padahal kalau kita lihat dalam Undang-Undang 1945 Bab VII Pasal 22E yaitu, Dewan Perwakilan Daerah dapat mengajukan kepada Dewan Perwakilan Rakyat rancangan undang-undang yang berkaitan dengan otonomi daerah, hubungan pusat dan daerah, pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, serta yang berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah. Begitu banyak yang dapat dilakukan DPD dalam menjalankan konstitusi tersebut.
Andai saya anggota DPD RI, maka ada 5 hal yang harus saya lakukan dalam membangun karakter-karakter suatu daerah temapt saya terpilih menjadi lebih baik. Pertama, Integritas yang tinggi dari dalam diri sendiri karena indikasi dari integritas menurun adalah problem korupsi yang kerap kali sulit untuk dihentikan. Kekuatan intelektual yang memiliki dan menguasai state of the art knowledge bukan hanya sekedar mengetahui setengah-setengah dalam melakukan hal. Ketiga, kepemimpinan, dengan kepemimpinan yang berkarakter agar bisa menggerakan lingkungannya, masyarakatnya, daerahnya, sampai bangsanya untuk meraih kegemilangan. Keempat, kemampuan mengantisipasi perubahan zaman, dengan memproyeksikan apa yang terjadi dimasa yang akan datang bukan terus melihat kemasa lalu. Kelima, menjadikan mentalitas merealisasikan ide menjadi tindakan nyata, karena perubahan yang signifikan bukanlah dari suatu wacana yang mengahasilkan suatu solusi melainkan solusi tersebut dapat direalisasikan menjadi tindakan nyata guna membangun daerah serta bangsanya.Walaupun hal semacam ini sering terbentur dengan sistem yang begitu rumit, tetapi apabila kita memiliki kesungguhan dalam mengerjakannya maka aka nada suatu jalan tersebut.
Tag :
andai saya anggota DPD RI,
Andai gue tau apa yang gue banggakan
By : Harry RamdhaniHal paling mendasar yang terjadi pada remaja saat ini adalah mereka bangga dengan apa yang mereka tidak tau. Memakai jersey terkenal tapi tidak mengerti maksudnya dari jersey tersebut, mendengarkan music keras tapi tidak pernah tau maksud dari music tersebut. ini sama saja dengan meminum obat tapi tidak tau kegunaannya. Globalisasi yang secara tidak kita sadari telah masuk kedalam pola pikir kita sebagai manusia yang berpendidikan.
Sebenarnya kalau kita bisa menelaah lebih dalam tentang Globalisasi tersebut, maka kita tidak akan salah kaprah seperti sekarang ini. Banyak kehidupan dari negara asing yang sekiranya tidak tepat bagi kita tapi karena kita tidak tau maksud dan artinya maka kita hanya menirunya saja. Jelas sekali, itu datang dari mereka dan sangat berbeda dari kita. Salah satu contoh nyata pada kehidupan tentang Globalisasi adalah cara kita mendengarkan music, kita-pun sudah mengetahui bahwa music merupakan bahasa universal, bahasa yang diketahui banyak orang. Tapi, yang jadi permasalahan adalah apa kita mengerti musik yang dibawakan tersebut . . ??
Music memang bahasa universal, kita dapat mendengarkannya dengan suasana hati seperti apapun dan yang terpenting rnak untuk didengar. Terkadang bila kita sampai ketahap ‘menyukainya’, kita akan secara tidak langsung meniru gaya yang kita suka tersebut sampai kecara berpakaian kita, cara bicara kita, cara kita bertindak sama persis dengan musisi kesenangan kita. Tapi, kita sebagai manusia berakal, alangkah baiknya ketika itu terjadi pada diri kita maka kita akan mencari tau maksud dari music yang dibawakan musisi tersebut bukan hanya sekedar ‘BERGAYA’ doang. Bergaya modis agar dibilang keren, bermusik sesuai pasar agar dibilang gaol. Padahal musisi tersebut menjual music yang didalamnya ada lirik, nada, dan buah pemikiran mereka.
Menyukai mereka tetapi tidak tau yang sebenarnya mereka jual itu sama saja seperti beli anjing dengan mata tertutup. Kita tau itu anjing, kita tau itu hewan, kita tau itu menggong.gong, tapi kita tidak tau itu anjing jenis apa.
Bicara music ber-genre metal, itu dahulu dinyanyikan oleh sekumpulan musisi untuk memberontak pemerintahan tentang negaranya yang semakin semerawut. Mereka berteriak dari suatu garasi ke garasi agar memiliki komunitas sendiri dan suara mereka didengar. Hardcore, begitulah para ahli music menyebutnya. Seiring dengan berkembangnya perindustrian music, merekapun ikut berkembang tapi dengan gaya yang sama, gaya ‘selengean’. Baju sobek, tato besar disekujur tubuh, celana panjang yang disobek-sobek dan itulah mereka.
Muncul sebuah symbol 3 jari atau 2 jari, ini sebenarnya bukan symbol dari music mereka tapi mereka (para musisi) yang memakai symbol ini adalah musisi yang memiliki paham yang berbeda, paham “FREEMAON”. Gue engga akan bicara banyak tentang ini. Tingga kalian cari sendiri. Sudah ada GOOGLE, Yahoo! Atau yang lain.
Sebenarnya kalau kita bisa menelaah lebih dalam tentang Globalisasi tersebut, maka kita tidak akan salah kaprah seperti sekarang ini. Banyak kehidupan dari negara asing yang sekiranya tidak tepat bagi kita tapi karena kita tidak tau maksud dan artinya maka kita hanya menirunya saja. Jelas sekali, itu datang dari mereka dan sangat berbeda dari kita. Salah satu contoh nyata pada kehidupan tentang Globalisasi adalah cara kita mendengarkan music, kita-pun sudah mengetahui bahwa music merupakan bahasa universal, bahasa yang diketahui banyak orang. Tapi, yang jadi permasalahan adalah apa kita mengerti musik yang dibawakan tersebut . . ??
Music memang bahasa universal, kita dapat mendengarkannya dengan suasana hati seperti apapun dan yang terpenting rnak untuk didengar. Terkadang bila kita sampai ketahap ‘menyukainya’, kita akan secara tidak langsung meniru gaya yang kita suka tersebut sampai kecara berpakaian kita, cara bicara kita, cara kita bertindak sama persis dengan musisi kesenangan kita. Tapi, kita sebagai manusia berakal, alangkah baiknya ketika itu terjadi pada diri kita maka kita akan mencari tau maksud dari music yang dibawakan musisi tersebut bukan hanya sekedar ‘BERGAYA’ doang. Bergaya modis agar dibilang keren, bermusik sesuai pasar agar dibilang gaol. Padahal musisi tersebut menjual music yang didalamnya ada lirik, nada, dan buah pemikiran mereka.
Menyukai mereka tetapi tidak tau yang sebenarnya mereka jual itu sama saja seperti beli anjing dengan mata tertutup. Kita tau itu anjing, kita tau itu hewan, kita tau itu menggong.gong, tapi kita tidak tau itu anjing jenis apa.
Bicara music ber-genre metal, itu dahulu dinyanyikan oleh sekumpulan musisi untuk memberontak pemerintahan tentang negaranya yang semakin semerawut. Mereka berteriak dari suatu garasi ke garasi agar memiliki komunitas sendiri dan suara mereka didengar. Hardcore, begitulah para ahli music menyebutnya. Seiring dengan berkembangnya perindustrian music, merekapun ikut berkembang tapi dengan gaya yang sama, gaya ‘selengean’. Baju sobek, tato besar disekujur tubuh, celana panjang yang disobek-sobek dan itulah mereka.
Muncul sebuah symbol 3 jari atau 2 jari, ini sebenarnya bukan symbol dari music mereka tapi mereka (para musisi) yang memakai symbol ini adalah musisi yang memiliki paham yang berbeda, paham “FREEMAON”. Gue engga akan bicara banyak tentang ini. Tingga kalian cari sendiri. Sudah ada GOOGLE, Yahoo! Atau yang lain.
Carilah arti dari yang lu suka, bukan hanya GAYA DOANG . .NB : itu yang berkacamata besar yang dibilang pake spion mobil adalah basist dari EFEK RUMAH KACA, bang Adrian. Matanya sudah tidak bisa melihat dengan jelas tapi sampai sekarang dia masih bisa berkarya dengan baik. Pemikirannya ditumpahkan kedalam setiap album EFEK RUMAH KACA. Orang seperti dia saja masih ingin terus belajar dengan segala kekurangan. Enggali lebih dalam tentang kehidupan sosial. Ini bukan tulisan untuk meerindu, tetapi untuk membuka pikiran kalian. Salam hormat gue untuk Bang Adrian ERK. Get well soon
Jadilah penggemar yang benar-benar mengerti yang digemari, orang yang hanya bisa berGAYA doang tetapi memiliki otak kosong sungguh tidak layak dibilang penggemar. Dia (orang yang digemari) akan malu memiliki penggemar seperti kalian yang tidak dapat menangkap apa yang dimaksud.
Jangan bangga dengan apa yang kalian tidak tau . .
Tidak usah cape-cape membela jika masih tidak mengerti . .
Tag :
cosmic g-spot,
The Story of Batavia Nouvells
By : Harry RamdhaniBataviase Nouvelles tercatat sebagai koran tertua. Berita berkala pertama yang terbit dari mesin cetak pertama yang pernah berlabuh di negeri bawah angin, nusantara. Negeri terperintah tanah jajahan Hindia Belanda.
Bataviase merujuk tentang sebutan yang diharapkan berlaku pada orang-orang Batavia, mereka yang hidup di Batavia, atau mereka yang berselera Batavia. Istilah Bataviase mengingatkan kita pada Parisian untuk orang-orang Paris, atau New Yorker untuk menyebut New York, atau Berliner untuk penduduk Berlin. Batavia saat itu mulai menjadi kota dunia. Persinggahan dari para penjelajah ke dunia timur, hingga kota ini berjuluk Queen of the East.
Tetapi Nouvelles mewakili sikap dan sifat kebaruan. Sebuah semangat yang berkecambah sebelum modernitas ditemukan. Nouvelles menunjukan tanda, status dan keberlainan. Ia ingin menjadi yang pertama pada masanya, ingin yang terdepan dan ingin menjadi pilihan dari berbagai pilihan yang tersedia.
Jelaslah, Bataviase Nouvelles, merupakan suatu gaya hidup. Ciri-ciri Bataviase yang digambarkan oleh pendirinya Jan Erdman Jordens adalah: kosmopolit, penjelajah, multikultur, liberal, sadar ekonomi, kota maritim, berorientasi seni, peka kekuasaan, sadar pada heritage dan bersifat komunal-elitis.
Koran pertama ini hanya hidup dua tahun. Tercetak pertama 8 Agustus 1744 namun ditutup pada 7 Juni 1746. Dewan XVII yang merupakan pusat kebijakan VOC di Belanda mengirim surat ke Gubernur Jenderal Hindia Belanda untuk melarang penerbitan Bataviase. Mereka khawatir berita-berita tentang kondisi perdagangan Hindia Belanda akan dimanfaatkan para pesaingnya di Eropa. Pandangan liberalnya dianggap berbahaya bagi pengendalian pasar. Jadilah Bataviase Nouvelles menjadi koran pertama yang dibredel pertama.
Setelah terendam dua ratus enam puluh dua tahun, 262 tahun, koran ini dibangkitkan kembali dengan konsep dan rubrik sebagaimana awalnya. Tiga rubrik yang menjadi cirinya ; agenda dan maklumat pemerintah, berita lelang dan advertensi, serta berita-berita ringan tentang gaya hidup bataviase yang diselingi berita perjalanan negeri-negeri atas angin. Ketiga rubrik ini dihidupkan kembali sebagaimana awalnya, dikaitkan dengan perkembangan semasa.
Bataviase Nouvelles, sebagaimana tujuan dari penerbitannya, ingin sebagai koran dengan moto “agenda pilihan dari pilihan warga”
Bataviasche Nouvelle adalah iklan pertama di Belanda yang terbit pada Agustus 1744 sekaligus merupakan surat kabar pertama di Batavia (Jakarta). Surat kabar ini adalah surat kabar Belanda karena dicetak dan diterbitkan oleh Vereenigde Oost Compagnie (VOC). Hampir seluruh halamannya dipenuhi oleh iklan. Kemungkinan nama "Bataviasche" dipakai dari kata "Batavia" yaitu nama Jakarta pada abad 18, karena surat kabar ini diterbitkan di Batavia. Lalu "nouvelle" dalam bahasa Perancis artinya novel sedangkan dalam bahasa Belanda adalah "novelle"
Surat kabar ini diprakarsai oleh Jan Pieterszoon Coen dan bahkan ia adalah penerbit dari Bataviasche Nouvelle. Dengan terbitnya surat kabar ini, JP Coen membuktikan bahwa berita-berita dapat disampaikan dengan metode periklanan juga. Ia juga memuat iklan tentang produk-produk baru sebagai salah satu upaya promosi.
Proses Pembentukan
Willem Baron van Imhoff, Gubernur Jenderal VOC periode 1743-1750, tak hanya membangun gedung Toko Merah, Academi de Marine, mendirikan masyarakat candu di Batavia, tapi juga memperkenalkan warga Batavia dengan yang namanya surat kabar. Izin terbit surat kabar itu baru diberikan setelah sekitar lima bulan diajukan -7 Agustus 1744 diajukan, izin terbit baru keluar Februari 1745. Sifat penguasa VOC yang enggan pada kritik menjadi salah satu alasan Imhoff ogah-ogahan menerbitkan izin. Padahal isi surat kabar yang pertama kali terbit itu hanya memuat aneka berita tentang kapal dagang VOC, mutasi pejabat, berita perkawinan, kelahiran, kematian. Pembacanya juga terbatas pada masyarakat Belanda sendiri.
Bataviasche Nouvelles, begitu nama koran itu. Dari hanya berisi pengumuman, koran ini kemudian berkembang cepat menjadi koran yang berisi kritik terhadap perbudakan di Batavia dan perilaku penguasa VOC. Tepat pada 20 Juni 1746, demikian dicatat dalam buku "Toko Merah: Saksi Kejayaan Batavia Lama di Tepi Muara Ciliwung" oleh Thomas B Ataladjar, koran pertama ini dibredel. Kiprah Imhoff yang berusia pendek, meninggal pada tahun 1750 ketika ia masih menjabat sebagai gubernur jenderal, baru dilanjutkan 30 tahun kemudian. Verdu Nieuws, meneruskan Bataviasche Nouvelles, dalam bentuk surat kabar mingguan yang berisi iklan.
Larangan terhadap Bataviasche Nouvelles agaknya diakibatkan oleh kekhawatiran VOC bahwa saingannya akan mendapat keuntungan dari berita yang dimuat surat kabar ini. Sikap demikian pemah ditunjukkan pada tahun 1712, 32 tahun sebelum lahir Bataviasche Nouvelles. Pada waktu itu sudah ada usaha di Batavia untuk menerbitkan surat kabar yang bermaksud memuat kabar dalam negeri, berita kapal, dan semacam itu. Rencana itu gagal karena ditentang VOC. Meski usia Bataviaasche Nouvelles hanya mencapai 16 bulan dan terkubur selama kurang lebih 63 tahun 5 bulan, namun bisa bangkit lagi pada bulan November 1809.
Pada pemunculan kedua, bentuknya lebih kecil dan hanya memuat adpertensi. Orang Melayu dan Bumiputera menyebutnya dengan nama Surat Lelang, Belanda menyebutnya VenduNieuws. Baru pada tahun 1776-1809 dapat terbit lagi surat kabar berikutnya, Het VenduNieuwus (Berita Lelang), tetapi surat kabar ini tidak memuat "keterangan dalam negeri" dan disensor sangat ketat. Izin penerbitan diberikan kepada L. Dominicus, seorang juru cetak di Batavia, karena diperlukan publikasi tentang pelelangan yang diadakan VOC. Iklan lelang VOC dimuat secara gratis, sedangkan para pemasang iklan lainnya harus membayar.
Pada awal bulan Januari, Daendels memberlakukan peraturan khusus yang berisi 19 pasal untuk menarik pajak dan mewajibkan redaktur Bataviaasche Nouvelles untuk menempatkan kepentingan pemerintah dalam surat kabarnya. Di salah satu pasal, Daendels mengubah nama Bataviaasche Nouvelles menjadi Bataviaasche Koloniale Courant.
Bataviase merujuk tentang sebutan yang diharapkan berlaku pada orang-orang Batavia, mereka yang hidup di Batavia, atau mereka yang berselera Batavia. Istilah Bataviase mengingatkan kita pada Parisian untuk orang-orang Paris, atau New Yorker untuk menyebut New York, atau Berliner untuk penduduk Berlin. Batavia saat itu mulai menjadi kota dunia. Persinggahan dari para penjelajah ke dunia timur, hingga kota ini berjuluk Queen of the East.
Tetapi Nouvelles mewakili sikap dan sifat kebaruan. Sebuah semangat yang berkecambah sebelum modernitas ditemukan. Nouvelles menunjukan tanda, status dan keberlainan. Ia ingin menjadi yang pertama pada masanya, ingin yang terdepan dan ingin menjadi pilihan dari berbagai pilihan yang tersedia.
Jelaslah, Bataviase Nouvelles, merupakan suatu gaya hidup. Ciri-ciri Bataviase yang digambarkan oleh pendirinya Jan Erdman Jordens adalah: kosmopolit, penjelajah, multikultur, liberal, sadar ekonomi, kota maritim, berorientasi seni, peka kekuasaan, sadar pada heritage dan bersifat komunal-elitis.
Koran pertama ini hanya hidup dua tahun. Tercetak pertama 8 Agustus 1744 namun ditutup pada 7 Juni 1746. Dewan XVII yang merupakan pusat kebijakan VOC di Belanda mengirim surat ke Gubernur Jenderal Hindia Belanda untuk melarang penerbitan Bataviase. Mereka khawatir berita-berita tentang kondisi perdagangan Hindia Belanda akan dimanfaatkan para pesaingnya di Eropa. Pandangan liberalnya dianggap berbahaya bagi pengendalian pasar. Jadilah Bataviase Nouvelles menjadi koran pertama yang dibredel pertama.
Setelah terendam dua ratus enam puluh dua tahun, 262 tahun, koran ini dibangkitkan kembali dengan konsep dan rubrik sebagaimana awalnya. Tiga rubrik yang menjadi cirinya ; agenda dan maklumat pemerintah, berita lelang dan advertensi, serta berita-berita ringan tentang gaya hidup bataviase yang diselingi berita perjalanan negeri-negeri atas angin. Ketiga rubrik ini dihidupkan kembali sebagaimana awalnya, dikaitkan dengan perkembangan semasa.
Bataviase Nouvelles, sebagaimana tujuan dari penerbitannya, ingin sebagai koran dengan moto “agenda pilihan dari pilihan warga”
Bataviasche Nouvelle adalah iklan pertama di Belanda yang terbit pada Agustus 1744 sekaligus merupakan surat kabar pertama di Batavia (Jakarta). Surat kabar ini adalah surat kabar Belanda karena dicetak dan diterbitkan oleh Vereenigde Oost Compagnie (VOC). Hampir seluruh halamannya dipenuhi oleh iklan. Kemungkinan nama "Bataviasche" dipakai dari kata "Batavia" yaitu nama Jakarta pada abad 18, karena surat kabar ini diterbitkan di Batavia. Lalu "nouvelle" dalam bahasa Perancis artinya novel sedangkan dalam bahasa Belanda adalah "novelle"
Surat kabar ini diprakarsai oleh Jan Pieterszoon Coen dan bahkan ia adalah penerbit dari Bataviasche Nouvelle. Dengan terbitnya surat kabar ini, JP Coen membuktikan bahwa berita-berita dapat disampaikan dengan metode periklanan juga. Ia juga memuat iklan tentang produk-produk baru sebagai salah satu upaya promosi.
Proses Pembentukan
Willem Baron van Imhoff, Gubernur Jenderal VOC periode 1743-1750, tak hanya membangun gedung Toko Merah, Academi de Marine, mendirikan masyarakat candu di Batavia, tapi juga memperkenalkan warga Batavia dengan yang namanya surat kabar. Izin terbit surat kabar itu baru diberikan setelah sekitar lima bulan diajukan -7 Agustus 1744 diajukan, izin terbit baru keluar Februari 1745. Sifat penguasa VOC yang enggan pada kritik menjadi salah satu alasan Imhoff ogah-ogahan menerbitkan izin. Padahal isi surat kabar yang pertama kali terbit itu hanya memuat aneka berita tentang kapal dagang VOC, mutasi pejabat, berita perkawinan, kelahiran, kematian. Pembacanya juga terbatas pada masyarakat Belanda sendiri.
Bataviasche Nouvelles, begitu nama koran itu. Dari hanya berisi pengumuman, koran ini kemudian berkembang cepat menjadi koran yang berisi kritik terhadap perbudakan di Batavia dan perilaku penguasa VOC. Tepat pada 20 Juni 1746, demikian dicatat dalam buku "Toko Merah: Saksi Kejayaan Batavia Lama di Tepi Muara Ciliwung" oleh Thomas B Ataladjar, koran pertama ini dibredel. Kiprah Imhoff yang berusia pendek, meninggal pada tahun 1750 ketika ia masih menjabat sebagai gubernur jenderal, baru dilanjutkan 30 tahun kemudian. Verdu Nieuws, meneruskan Bataviasche Nouvelles, dalam bentuk surat kabar mingguan yang berisi iklan.
Larangan terhadap Bataviasche Nouvelles agaknya diakibatkan oleh kekhawatiran VOC bahwa saingannya akan mendapat keuntungan dari berita yang dimuat surat kabar ini. Sikap demikian pemah ditunjukkan pada tahun 1712, 32 tahun sebelum lahir Bataviasche Nouvelles. Pada waktu itu sudah ada usaha di Batavia untuk menerbitkan surat kabar yang bermaksud memuat kabar dalam negeri, berita kapal, dan semacam itu. Rencana itu gagal karena ditentang VOC. Meski usia Bataviaasche Nouvelles hanya mencapai 16 bulan dan terkubur selama kurang lebih 63 tahun 5 bulan, namun bisa bangkit lagi pada bulan November 1809.
Pada pemunculan kedua, bentuknya lebih kecil dan hanya memuat adpertensi. Orang Melayu dan Bumiputera menyebutnya dengan nama Surat Lelang, Belanda menyebutnya VenduNieuws. Baru pada tahun 1776-1809 dapat terbit lagi surat kabar berikutnya, Het VenduNieuwus (Berita Lelang), tetapi surat kabar ini tidak memuat "keterangan dalam negeri" dan disensor sangat ketat. Izin penerbitan diberikan kepada L. Dominicus, seorang juru cetak di Batavia, karena diperlukan publikasi tentang pelelangan yang diadakan VOC. Iklan lelang VOC dimuat secara gratis, sedangkan para pemasang iklan lainnya harus membayar.
Pada awal bulan Januari, Daendels memberlakukan peraturan khusus yang berisi 19 pasal untuk menarik pajak dan mewajibkan redaktur Bataviaasche Nouvelles untuk menempatkan kepentingan pemerintah dalam surat kabarnya. Di salah satu pasal, Daendels mengubah nama Bataviaasche Nouvelles menjadi Bataviaasche Koloniale Courant.
Tag :
berita gue,


