The Pop's

Kemerdekaan yang Sudah-Sudah

By : Harry Ramdhani

Hari ini Indonesia merdeka
ke-69, katanya.
Di hari yang sama,
saya dapat kabar duka:

Jemaat GKI Yasmin pindah
ke komplek saya buat ibadah.
Tapi, sebagian besar menolaknya.
Apa ini yang dinamakan merdeka?

Surat penolakan dipalsukan,
massa dikerahkan,
Jemaat GKI Yasmin kebingungan;
mesti kemana (lagi) mengadu selain Tuhan.

Hari ini Indonesia merdeka
ke-69, katanya.

Kalau mencari tempat menyembah saja susah,
kemerdekaan ini tak perlu dirayakan sudah.



(Buat Jemaat GKI Yasmin di Bambu Kuning)
Perpustakaan Teras Baca, 17 Agustus 2014
gambar: dari sini
Tag : ,

Batang Rokok ke-11

By : Harry Ramdhani



Satu batang rokok yang ia putar antara jari telunjuk, jari tengah, dan ibu jarinya itu sudah hampir sampai ujung; hampir pada hisapan yang terakhir. Abu rokok pun berserakan di atas sepatu dan lantai. Ini rokok ke-11 yang ia hisap selama duduk-duduk di peron sore itu. Ada orang yang ia tunggu. Entah siapa, yang jelas, ini sudah batang rokok ke-11.

Sebuah poster ”KAWASAN TANPA ROKOK” yang menempel di sela tiang-tiang untuk larangan agar merokok tidak sembarang tempat sudah robek tidak karuan. Ada pula yang dicoret dengan spidol hitam dan tulisannya pun berubah menjadi, “KAWASAN ANDA ME-ROKOK”. Ada-ada saja memang ulah manusia, semakin dilarang, semakin dilanggar. Oleh karena itu, dulu, kita sempat mendengar ada istilah, “aturan dibuat untuk dilanggar”.

Matanya memerah terkena asap rokoknya sendiri. Angin membuat asap rokoknya berputar-balik ke arahnya. Nafasnya tampak sesak. Nampaknya ia merokok terburu-buru, seperti dikejar waktu atau sesuatu.

***

“Kalau aku pulang nanti, tolong jemput aku di stasiun,” ingatnya.

“Kapan?”

“Pasti aku kabari,”

“Hari ini?” 

“Tidak juga,”

“Lusa?”

“Tunggu saja kabar dariku,”

“Atau minggu depannya?”

“Mungkin,”

“Sampai kapan pun itu akan aku tunggu,”

“Ngng… mungkin setelah habis batang rokokmu yang ke-11 itu,” jawabnya.

Semenjak saat itu, Ia ingin sekali menghabiskan rokoknya yang ke-11 di stasiun. Menunggu pulang, meski entah kapan yang ditunggu itu datang.

*** 

Bisa dilihat dari ketiga jarinya yang ada bekas luka seperti luka bakar. Jemari itu selalu digunakan untuk memutar rokoknya yang ke-11. Sampai habis. Sampai bara di puntung rokok itu tidak menyala lagi; mati di ketiga jarinya tadi.

Dari kejauhan, lampu merah itu menyala, akan ada kereta yang datang. Ia selalu menaruh harapnya ditiap kedipan itu. Setiap kedipnya adalah debar jantungnya. Setiap lampu merah itu menyala penuh, jatungnya seakan berhenti bekerja. Nafas sudah di ujung hidung dan terasa sangat sulit untuk dihempaskan. Orang yang ditunggu datang, selalu dan selalu begitu harapnya.

Kini rokoknya yang ke-11 sudah hampir habis. Baranya hanya tersisa satu titik di ujung punting rokok itu. Tinggal menunggu rokok itu mati – dan pada saat yang bersamaan pula – harapnya dikubur seperti kucing yang mati karena tabrak lari. Perih siksa di penghujung maut memang siksa yang paling menyakitkan. Orang yang ditunggu tidak (lagi) datang.

Ia menyisakan satu batang rokoknya itu untuk besok, dikumpulkannya setiap kali menunggu. Jadi ia cukup membeli rokok selama 11 hari, dihari ke-12, ia merokok dengan sisa rokok yang dikumpulkan dari hari pertama sampai hari ke-11. Terus begitu. Terus ia lakukan itu selama menunggu.

*** 

“Hari ini kamu jadi pulang? Biar aku jemput di stasiun Tanah Abang.” pesan singkat itu ia kirim setiap hari sesaat sebelum berangkat. Meski tidak pernah sekali pun mendapat balasan, toh, tekadnya untuk menjemput sudah terlampau bulat. Dan ia selalu percaya, selama pesan itu terkirim, pasti akan dibaca. Atau, paling tidak, tahu ada pesan darinya.

Baru saja ia mengenakan sepatu di teras kontrakannya, tiba-tiba hujan turun, padahal langit siang itu cukup bersahabat. Tidak terlalu deras, seperti pertanda hujan kalau ada orang yang meninggal. Ia hiraukan. Dengan mengenakan jaket pemberiannya dulu, ia angkat kaki.

Angkutan yang sudah terlihat itu sudah memberi tanda ingin menepi, tapi ketika ia meraba kantung celana bagian kiri, rokoknya tertinggal di teras ketika sedang mengenakan sepatu tadi. Ia menggelengkan kepala pada supir itu dan pulang mengambil rokok yang tertinggal dengan sedikit bergegas sambil melakukan lari-lari kecil. Entah, hari ini ia seperti orang kebingungan. Nafas perokok memang bisa ditebak, baru beberapa langkah, geraknya semakin melambat, dan lama-kelamaan jalan juga. 

“Aku ingin sekali kamu berhenti merokok?”

“Lho, memang kenapa?”

“Tidak baik…”

“Untuk kesehatan? Aku tidak percaya itu,”

“Sudah jelas itu ada peringatan dan gambar di bungkusnya.”

“Tapi aku belum pernah sekali pun melihat pasien di rumah sakit yang terkena penyakit seperti ini karena terlalu banyak merokok. Rokok hanya memperburuk,”

“Kamu ingin setiap hari diperburuk oleh rokok?”

“Ngng…,”

“Berhentilah!”

“Pasti”

“Matikan!”

Rokok sudah tidak ada (lagi) di tangan dan celananya. Walau selepas makan, ia kadang masih suka duduk-duduk di samping orang yang merokok untuk sekedar menghirup asapnya. Penderitaan bagi perokok yang berhenti adalah setelah makan, bak dipukulin tentara Belanda, katamya.

*** 

Bukankah rokok yang ke-12 itu mestinya ia simpan untuk besok? Tiga laki-laki dengan rambut yang acak-acakan itu menghampirinya. Matanya merah, jalannya sempoyongan, mulutnya bau minuman. Preman stasiun Tanah Abang. Pintanya sederhana, hanya sebatang rokok saja. Ia tidak ingin memberi rokok terakhirnya, baginya, satu batang rokok adalah nafasnya untuk menunggu besok. Ibarat pelawak, setiap tawa penonton adalah satu nafasnya saat tampil. 

Digenggamnya bungkus rokok itu. Sedikit ada pembelaan, tapi yang sudah kita tahu sendiri: preman selalu menang.

“Rokok atau nyawa, goblok?”

“Rokok!”

“Rakak-rokok-rakak-rokok!” ditempelnya ujung pisau dari balik jaket kulit itu.

“Tapi rokok saya tinggal sebatang, Bang.”
 
“Berikan!”

“Enggak!”

“Masih berani menolak?”

“Bagaimana kalau uang saja, Bang?”

“ROKOK!!” karena bentakan itu orang-orang memusatkan perhatiannya pada mereka.

“WOOOYY!!!” 

“Lari…!!!!!” preman-preman itu langsung berlarian entah ke mana. Berpencar, layaknya segerombolan orang tawuran.

Nyawa laki-laki itu tak lagi terselamatkan. Rokok terakhir di bungkusnya ada di antara sela jari telunjuk dan jari manisnya. Pisau yang tadi hanya ditempelkan di badannya tertinggal di dadanya. Darah sudah terlanjur terbuang. Rokok itu bukan hanya tidak lagi bisa menunggu dengan menghabiskannya sampai batang ke-11, tapi rokok itu juga membunuhnya.


Perpustakaan Teras Baca, 04 Agustus 2014
Tag : ,

Messi, Sufi, dan Stand-up Comedy

By : Harry Ramdhani

Awalnya saya menulis ini untuk di situs standupbogor.com, tapi karena satu dan lain hal, saya tidak berani seutuhnya mengirimkannya. Saya sadar, dalam tulisan ini saya lemah akan dua hal: data dan referensi bacaan. Tidak sampai disitu, saya pun tidak membuat cover both-side. Jadi, jika ada yang ingin membaca tulisan aslinya sila unduh di sini. tengs. :)


Tag : ,

#Kamisan - Ibu Tidak Pulang

By : Harry Ramdhani

ilutrasi: @Komikazer

Ibu ingin keadilan
tentu menolak lupa dan diam
kepulanganmu, ialah harapan

mungkin sudah mati
mungkin sudah tak tahan sembunyi
semoga saja sudah di surga
atau mungkin, terdampar di neraka

dulu rasanya Ibu bilang:
Nak, tak perlulah kamu ikut-ikutan
nanti tidak bisa pulang

kini dengan lantang Ibu bilang:
Nak, setiap kamis sore Ibu berdiri, berdiam
di depan istana menunggumu pulang

Ibu ingin keadilan
tentu menolak lupa dan diam

biarlah Ibu kehujanan
dengan payung hitam
biarlah Ibu kepanasan
dengan baju hitam

ingatan ini tidak hilang
ingatan ini untuk mengenang yang hilang
dan, setiap kamis sore yang kelam
ialah, untuk mereka pelanggar HAM



Perpustakaan Teras Baca, 05 Juni 2014 - #Kamisan
Tag : ,

Pagi Tadi Selepas Keretamu Pergi

By : Harry Ramdhani


Jepretan Uyya'

Pagi tadi, setelah keretamu resmi pergi, aku duduk di peron sendiri. Lalu, ada lelaki tua membawa karung besar dan tongkat runcing dari besi menghampiri.  Rambutnya berantakan.  Sudah ubanan.  Ketika aku tanya, ia diam. Ketika aku beri uang, ia menolak dengan menyembunyikan tangan. Lelaki tua itu kemudian pergi.  Sepertimu yang juga pergi pada pagi yang terlalu dini.

Aku masih duduk-duduk di peron. Lalu, ada lelaki kecil yang membawa bungkusan permen kosong menghampiri.  Di ujung bungkus permen itu dilipat beberapa keluar.  Aku kira pengemis, ternyata bukan.  Tiba-tiba saja duduk di sampingku, kemudian ia diam dalam waktu yang panjang. Tapi, lelaki kecil itu diam-diam meneteskan air mata. Aku tanya, Ia tetap diam. Aku berikan uang, ia malah menyembunyikan tangan. Aku masukan ke bungkus permen, ia buang. Lelaki kecil itu kemudian pergi.  Sepertimu dan lelaki tua tadi yang juga pergi pada pagi yang hampir meninggi.

Baru saja ingin angkat kaki,  ternyata datang wanita tua membawa kain gendongan menghampiri.  Ia tidak diam seperti dua orang sebelumnya tadi. Wanita tua itu menanyakan lelaki tua dan lelaki kecil yang mungkin lewat di sekitaransini.  Aku tunjuk saja ke arah selatan–arah yang sama dengan keretamu pergi. Belum turun lengan kiriku menunjuk, wanita tua itu malah duduk.  Ia tertunduk. Tak lama, ada suara nafas yang beradu.  Wanita tua itu menangis tersedu.  Aku tanyakan ada apa, ia malah diam. Kali ini aku tidak ingin memberinya uang, karena aku tahu, ditinggal orang yang dicintai lebih sedih daripada tidak memiliki uang sama sekali.
 

PerpustakaanTeras Baca, 29 Mei 2014
Tag : ,

Taman Siangmu!

By : Harry Ramdhani
Entah, dalam bayangan saya, 'taman' itu serupa tanah lapang dengan rerumputan yang hijau terbentang. Di sana ada banyak mainan dan banyak yang memainkan. Ada yang bermian dan dimainkan. Ada yang menunggu dan ditunggu. Ada yang berlarian dan ada juga yang hanya duduk diam. Taman, juga segala hal yang di dalamnya, selalu tak pernah habis untuk diceritakan. Seperti cerita roman.

Saya-- dan orang yang mengirimkan beberapa foto di depan Perpustakaan Teras Baca --bermaksud menceritakan taman yang terus diam padalah selalu dimainkan. Kalau saya, pasti sudah teriak sangat kencang; agar yang lain mendengar.

Kali ini saya coba menulis lima cerita #100kata dari lima foto yang dikirimkan Uyya'-- seorang fotografer amatir --dari kamera barunya. Seperti yang sudah-sudah, lima fragmen itu saya gabungkan dalam satu cerita. Dan, sekarang entah akan seperti apa. Inilah… selamat membaca:

Taman Siangmu


Sejak saat itu kami tidak bertemu. Sesekali aku ingin menelponnya, tapi selalu kandas di ujung telingaku. Tapi…, lagi-lagi tapi, katamu, pertemuan denganku hanya akan menyisakan ngilu karena sesuatu yang mesti dikeluarkan.*)

***

Pukul sepuluh lebih sepuluh.

Aku longok sekilas jam dinding yang jarumnya berbentuk simetris itu. Lalu mulai muncul ragu ketika pesan masuk ke email-ku. Darimu. Pesan itu bukan sekedar ajakan, tapi juga terkandung permintaan belas-kasihan. Aku hiraukan.

"Temui aku di taman."

Pukul satu kurang lima.

Lagi-lagi jarum jam berbentuk simetris. Tak lama ada yang menelpon. Aku angkat dan yang terdengar hanya tangis tanpa suara! Ibaku dirampas habis oleh tangis itu.




Perpustakaan Teras Baca, 21 Mei 2014
*) kutipan dari Novel Saman - Ayu Utami

Kupu-Kupu di Bulan Mei



Kisah ini bermula dari seorang lelaki yang tiba-tiba saja lari. Di bangku taman itu, ia tinggalkan segelas kopi hitam yang ampasnya sudah tenggelam di kedalaman yang entah ke berapa. Pastinya sangat dalam; kenangan pun tak sanggup meraihnya.

Ada yang bilang, lelaki itu adalah Tom Hanks dalam film 'Forest Gump'. Ada juga yang bilang, lelaki itu kesurupan. Ada-ada saja.

Di taman ini, aku adalah kupu-kupu yang tersesat di bulan Mei yang suka sekali mandi.

Tampang lelaki itu selangkah lagi ingin disudahi. Lebih baik mati daripada hidup namun, susah sudah seperti saudara sendiri.

***

Di taman ini, Lelaki itu adalah kepompong yang tersesat di bulan April yang suka sekali mandi.




Perpustakaan Teras Baca, 19 Mei 2014

Luka Kecil Sebesar Kerikil


Tidak perlu kau tanya pada seorang teman dengan lukanya itu, karena sama saja akan mengingat betapa sakit dan perihnya proses terjadinya luka tersebut.

***

Lelaki itu. Ya, lelaki itu tidak hanya merenggut taman main dan temanku, tapi juga Ia merenggut semua tawa-ceria dan masa depan mereka. Jahat sekali! Luka itu tak akan kulupakan seumur hidupku.

***

"Andini di mana?"

"Ada apa dengan Rini? Sudah satu minggu Ia tidak mau makan?"

"Mereka kenapa? Satu kelas jadi pendiam semua!"

***

Luka itu membekas. Biarpun kecil, tapi luka tetaplah luka! Kejadian itu singkat, di dekat perosotan, lelaki itu seperti kesetanan.

***

Dahsyat… lelaki itu tidak ditangkap. Barangkali polisi lupa. Atau, sengaja?



Perpustakaan Teras Baca, 20 Mei 2014

Perempuan itu Mati di Ayunan


Ia memilih duduk menyendiri di ayunan yang bisa diputar itu. Padahal di sisi taman lainnya banyak orang yang asyik sibuk dengan entah apa namanya. Ada yang melompati karet-karet yang disatukan. Ada yang duduk-duduk menikmati satu tangkap isi keju lengkap dengan susu. Dan lain-lain. Dan sebagainya.

Saya datang bersamaan dengan mendung yang mengundang hujan. Bahkan satu-dua rintik sudah turun duluan. Ada perempuan yang duduk sendirian. Di taman, yang sendirian pastinya tak bertuan.

Saya dekati…

***

Sambil menatap handphone, kemudian ia menangis. Lalu tertunduk. Cukup lama dan jatuh seketika. Ia mati di ayunan yang bisa diputar-putar itu.

Saya diduga membunuhnya. Saya dipenjara.

"Hah!!!"



Perpustakaan Teras Baca, 21 Mei 2014

Taman Tetap Mengerikan


Dulu taman ini selalu ramai. Lebih dulu lagi, sebelum taman ini berbentuk taman, ini ialah tempat pembantaian pejuang yang tertangkap tangan mengintai. Aku ada di antara taman yang dulunya ramai dan taman yang lebih dulu lagi dibuat tempat pembantaian.

Di taman itu, kenanganku gentayangan. Di setiap tanggal sembilan, kenangan itu menghatui seluruh pengunjung taman. Pada sebelah selatan taman bisa kau lihat ada gundukan tanah, kan? Pada tanggal sembilan gundukan itu mengeluarkan asap. Kenanganku menguap!

"Sudah saya ingatkan untuk tidak ke sana setiap tanggal sembilan!"

***

10 Agustus 1998

Wonosari - Ditemukan sepasang kekasih gosong di taman. Diduga semalam mereka bercumbu di dekat gundukan taman di sebelah selatan.




Perpustakaan Teras Baca, 21 Mei 2014

Tertinggal

By : Harry Ramdhani
gambar: dari sini

Sudah tidak ada lagi yang pura-pura malu di ruang tunggu. Bangku-bangku panjang yang warnanya cokelat pun menyimpan banyak kenangan yang lekat. Mungkin juga, di ruang tunggu itu, dua meja besar menatakan kertas-kertas tugas yang belum tuntas. Aku, di ruang tunggu, barangkali bersama rindu.

"Ya, barangkali rindu akan menunggu…."

"… ya, barangkali kamu ialah rindu itu."

Dari ruang tunggu yang ditutup dua pintu, mata terlempar jauh ke ujung lorong tepi. Sepi. Aku, di ruang tunggu menyendiri.

Sudah tidak ada lagi yang pura-pura malu di ruang tunggu.



Ruang Tunggu Fisip - Univ. Djuanda, 19 Mei 2014
Tag : ,

Barangkali Kau Adalah Segala Hal yang Tak Terjabar

By : Harry Ramdhani
gambar: dari sini

Semenjak kutanggalkan rindu
di antara halaman buku,
bunga mawar kering itu
pada tanggal tertentu menyerembak harum wangi tubuhmu.

Semenjak kutinggal barang satu waktu
di antara kesibukan yang menjenuhkan,
sms dan panggilan tak terjawab darimu
menggunung; tinggi menjulang.

Semenjak kutunggalkan namamu
di pemahatan hatiku,
seringkali terhapus kenangan
yang tiba-tiba datang.

Barangkali kau adalah segala hal yang tak terjabar
pada genggaman tangan
sinar fajar yang gemetar.

Sejatinya kau adalah piyama bermotif bunga
yang pudar terhapus sesal
pada hukum alam yang kekal.

Bahwa cinta tak sekuat kuasa penguasa.



Perpustakaan Teras Baca, 09 Mei 2014
Tag : ,

Kucing Kampung dan Kucing Kota yang Bingung

By : Harry Ramdhani
 gambar: dari sini

/1/
Kucing-kucing kampung migrasi ke kota

Kucing-kucing kampung bosan
setiap hari yang dimakan
hanya tulang-belulang ikan teri
kadang daging ayam, tapi basi.

Kucing-kucing kampung ingin juga spageti

/2/
Kucing-kucing kota ketar-ketir

Terbayang sudah
makanan kucing kota dijatah
bisa-bisa ikut mulung dari tempat sampah

Kucing-kucing kota biasa dimanja, bukan kerja

/3/
Kucing kota dan kucing kampung bertemu

Tak ada sapa
sebatas aungan gema
dari perut yang kosong dan keroncong

Kucing kota mendekat ke restoran
Kucing kampung datangi rumah makan padang
tidak ada makanan sisa.

Kucing kampung dan kucing kota bingung.

Di kota, tak ada lagi makanan sisa
makhluk bernama manusia
ambil jatah makan mereka jua.




Perpustakaan Teras Baca, 08 Mei 2014
Tag : ,

Menara Mimpimu

By : Harry Ramdhani

Sudah saatnya saya simpan di loker semua harapan-harapan. Menjadi apa yang diharap tak semudah mengupas kulit rambutan. Tapi, jika berani merealisasikannya tanpa keluh-kesah, mungkin satu persatu tercapai. Seperti menjadi penulis. Bagi saya pribadi, mentasbihkan diri menjadi penulis tak ayal seorang perantau; di mana satu kaki kanan adalah kuburan dan kaki kiri adalah rumah sakit. Tidak ada yang mengasyikkan, bukan?

Namun beginilah caraku berani untuk merealisasikannya. Menulis apa pun yang ingin saya tulis. Dan, kali ini saya belajar menulis dari lima gambar yang sempat di twitpic oleh Pandaikata. Masih sama, saya menulis beberapa cerita yang berjumlah 100 kata. Semoga ini ialah langkah jemari saya menuju beberapa harapan yang sempat saya simpan di loker.  Selamat membaca, wahai Kaum Medioker.

Menara Mimpimu


INGIN aku gantungkan mimpi di pucuk menara itu. Menara paling romantis, katamu.

"Ajak aku ke sana,"

"Kalau ini ciuman terakhir, aku ingin menciummu di bawah menara paling romantis di dunia,"

Dan, masih banyak lagi pintamu pada menara itu. Itu baru yang aku ingat, belum yang aku catat.

***

Pagi turun perlahan, bersama angin dan dingin menulang.* Aku terbangun dari mimpi yang basah. Keringatku sebesar biji jagung.

Sudah banyak semut kerumuni kopiku. Semalam aku tertidur dengan setumpuk pekerjaan dan kenangan. Satu persatu aku ingat, sebuah ciuman di bawah menara dengan tegangan listrik yang tinggi bawa nyawamu pergi.

Ciuman yang basah dari mimpi yang basah di bawah menara mimpimu.




Perpustakaan Teras Baca, 08 Mei 2014
*) dari sajak Irwan Bajang, Antologi Pertanyaan

Kalkulasi Sebuah Airmata


Kupandangi langit lembut itu seakan berada dalam keluasan matamu; dan kutemukan sebuah dunia yang lebih ajaib dari surga.*

***

DITANGIS ketiga hari ini, matamu memerah seperti habis dipukuli. Memang, tak ada tangis yang abadi, tapi airmatamu ialah aliran sungai yang menghidupi pepohonan Khuldi. Yang haram namun, nikmatnya tak tertandingi.

"Menangislah pada Tuhan," katamu, "jika tidak bisa, maka berpura-puralah. Niscaya Tuhan membayar setiap tetes airmata yang kau keluarkan."

Airmata adalah doa, katamu lagi. Seperti yang kulakukan berulang-ulang ini.

Biarlah aku tidak di surga, bila nanti di neraka aku masih bisa lihat airmata yang terbuang percuma. Sebuah dunia dengan orang-orang yang berdoa.



Perpustakaan Teras Baca, 08 Mei 2014
*) dari sajak Agus Noor, Perempuan di Tepi Fajar yang Mekar yang Gemetar

 Istana Tanpa Mahkota


ISTANA ini terlalu megah untukmu yang tinggal sendiri. Seorang anak manja yang sama sekali tak bisa mandiri. Aku pernah usulkan untuk pindah saja, tapi kau malah balik mencaci.

Pernah satu waktu, di ruang tamu, aku temukan bunga mawar yang kau letakkan di guci kecil. Tidak ada air. Tak lama, mawar itu mati. Ah, anak manja sepertimu mestinya tinggal di rumah sakit; agar selalu ada yang melayani.

Hanya ada kau, aku, dan kelopak bunga di kamar. Tapi kau yakin: ada yang sedang diam-diam menatap kita dengan pandangan berkaca-kaca.*

***

Di balik lemarimu, ada beberapa laki-laki beku. Kaku. Semua mantan kekasihmu yang tak kau kebumikan.




Perpustakaan Teras Baca, 08 Mei 2014
*) dari sajak Agus Noor, Kelopak Bunga dalam Delapan Kwartin

 Di Tanah Lapang Tak Ada Bulan


"Bawa aku ke tanah lapang. Melihat bintang dan segala rasinya yang luas terbentang."

"Tanpa bulan?"

"Ya, tanpa bulan. Bulan selalu datangimu setiap bulan."

***

KOTA ini terlampau terang. Lampu jalan. Lampu taman. Lampu-lampu pembias langit; tempat cerita cinta kita kandas di tengah jalan.

Di sini, keberadaan bintang sebatas dijadikan ramalan. Dan, bulan, seperti biasa, hanya sebagai alasan perempuan yang kesal setiap akhir pekan.

Tidak ada lagi keindahan meski bulan dan bintang bersebelahan.

***

Di tanah lapang.

"Lihat, Bulan, tidak ada bulan, kan?"

"Ya, di mana bulannya?"

"Bulan bersemayam di hatiku yang dalam."

Kau tersenyum lalu menciumku perlahan. Itulah pertemuanku dengan Bulan yang terakhir di akhir pekan. Dan, selamanya.



Perpustakaan Teras Baca, 08 Mei 2014

Langkah Kaki Ibukota


DARI JENDELA kantor, sering kutangkap langkahmu di ujung jalan sana. Di trotoar, tempat hilir-mudik orang dengan sibuk yang sesak.

Ketika jam dinding mulai terdengar berdetak menepikan sepi, dingin, gerimis, dan angin-angin malamku.* Tiba-tiba masih kutemukan langkahmu di situ. Di tempat yang sama itu. Langkahmu tak tenggelam ditelan waktu. Dan, bayangmu, kadang hilang dibalik kelopak mataku.

***

"Masih menunggu Ia lewat?"

"Tidak, langkah dan bayangnya tetap lalu-lalang di pikiranku,"

***

Kadang sering kutanyakan, ke mana langkahmu berlabuh? Karena semua hal tentangmu merindangkan bumiku. Meneduhkan terik yang sangat.

***

Di trotoar, tempat hilir-mudik orang dengan sibuk yang sesak mendadak ramai. Seorang wanita tanpa kaki ditemukan mati. Kakinya dimutilasi.



Perpustakaan Teras Baca, 08 Mei 2014
*) dari sajang Irwan Bajang, Impresi

NB: semua gambar ini saya dapat dari twitpic pandaikata

- Copyright © Kangmas Harry - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -