Showing posts with label #SeptemberNgawur. Show all posts
Lima Jam
By : Harry RamdhaniDalam cinta
Pasti ada luka
Yang dalam menusuk
Hati salah satunya.
Kekasih,
Bila ini nikmat surga
Tetaplah bergolak dalam rasa
Selain nafsu penghuni neraka.
Karna dunia
Tak pernah lupa
Menurunkan kisah duka
Adam dan Hawa.
Berpisah dan tersesat oleh dosa
Di bumi yang carut-marut
Ketamakan penghuninya.
Saatnya kupulang
Menjijnjing rindu yang tak terbalaskan
Tinggalkan tanah peraduan
Ke gang kecil tempat ku-dilahirkan.
Perjalanan melelahkan
Memungut jejak-jejak yang kutinggalkan
Meski sebagian telah hilang.
Lama aku ingin ke rumah
Bertemu adik, ibu, dan ayah
Dengan hati yang telah patah.
Aku tinggalkan kau; lelaki
Yang mengajarkanku hidup mandiri
Di tanah peraduan
Demi cita-cita, mimpi, dan harapan.
Maafkan aku, di sini
Hampir terbit matahari.
Artinya lima jam lagi
Tiba di tujuan.
Kuhitung mundur dari sekarang
Lima jam kedepan.
Lelah. Aku terlelap
Dalam mobil yang gelap.
Hingga sebuah kecelakaan
Pertemukanku dengan Tuhan.
Lima jam yang tersisa
Di depan pintu surga dan neraka.
Kamar sepi yang berpenghuni.
Tag :
#SeptemberNgawur,
Sejawat Melaknat
By : Harry RamdhaniGemerlap lampu malam
Kerlap-kerlip di sudut ruang
Menerangi jiwa kesepian.
Asap Rokok mengambang
Tepat di depan
Mata pencuri harapan.
Masih ter-ngiang
Sebuah kenangan
Masa silam
Dan sulit 'tuk dilupakan.
Penari telanjang bergoyang
Jadilah Ia pusat perhatian
Banyak mata bergantian
Curi-curi pandang.
Tanpa mempedulikanku
Yang duduk di depanmu
Menahan perih hentakan
Musik menyayat kenangan,
Mendendang lagu kesedihan.
Metropolita memang kejam
Tidak memberi dimensi ruang
Untuk bawamu kembali; pulang.
Kembali jadi Idola
Para pemuda desa,
Bukan barang rebutan
Laki-laki hidung belang.
Uang mulai bicara
Nafsu birahi membabi-buta
Lalu mereka melihatmu
Seperti kelinci betina.
Semoga ada yang datang
Penggerak Amar ma'ruf
Penegak nahi munkar.
Dibakarnya semua dosa
Lenyapkan kenikmatan neraka
Yang diselimuti embel surga.
Perpustakaan Teras Baca.
Tag :
#SeptemberNgawur,
Ragam Lidah Pejabat
By : Harry RamdhaniKalau saja ada lidah pejabat yang bisa dipotong ketika tidak tepati janji, pasti negeri ini malah banyak pengangguran
Lho, bener. Wartawan gak ada kerjaan, aktivis gak demo; gak bisa makan, Comedian gak ada bahan candaan, dan makin banyak rakyat yang terlantarkan.
Belum lagi penjualan ring back tone, "Lidah Tidak Bertulang" gak laku di pasaran. Sedih kalo terus-terusan dibayangin.
Wong pejabat itu sumber inspirasi. Masih ingin meng-inspiring orang lain? Yowis, sana jadi pejabat. Tapi ke mana-mana kenakan sabuk supaya celananya gak kedodoran sama kantong yang tebel banget itu.
Iki lho, lidah pejabat itu bisa lebih tajem daripada lidah dalam peribahasa: Lidah bisa lebih tajam daripada pisau belati. Sekali kecantol lidahnya bisa panjang urusannya. Dibilang bakal kasih ini, kasih itu, kasih semua, taunya mana? Tanggung jawab malah dibilang punya bersama.
Ada lagi, kalo keseringan denger lidah pejabat bercakap; beuh, bisa lebih nikmat dari French Kiss (ciuman yang sambil mainin lidah). Pejabat bisa kasih ciuman yang bikin mata merem lama. Nikmatin. Bahaya kalo rakyat merem dan pejabat bisa seenak udel lakuin ini-itu.
Atau, bisa aja lidah pejabat lebih berdosa daripada lidah Nabi Adam yang telah icip-icip buah Khuldi. Dibuatnya kita (baca: rakyat) terhasut oleh rayuan pejabat. Banyak wanita di club malam kena sengatan rayu pejabat. Wanita Tuna Susila juga rakyat biasa. Warga Sipil.
Bahkan, lidah pejabat bisa lebih tega dari orang yang ingkar setelah mengucapkan ijab-kabul. Katanya akan sehidup-semati; taunya cuma ngehidupin diri sendiri dan satu-persatu orang malah mati gak bisa ngehidupin diri, katanya ketika sah akan mejaga dan merawatnya: taunya kalau cuma dirusak dan dipukuli mending ikut gulat saja.
Itu baru lidah pejabat, apa jadinya kalo (kue) lidah kucing yang enak itu serupa? Bisa lebih bahaya.
--- bersambung ke lidah kucing (wanita) ---
Perpustakaan Teras Baca, dari beberapa majalah lama yang masih ditumpuk semua.
Tag :
#SeptemberNgawur,


