Showing posts with label #PekanAnyamanHUJAN. Show all posts
Kesepian dalam Kesunyian
By : Harry RamdhaniAku berdiri dalam gelap. tersungkur dalam keheningan malam. berlarian dalam pikiran. terkapar oleh angin liar.
Aku melihat tiga bintang berdekatan. Bentuknya mirip anak panah sedang meluncur bak deburan ombak. Meluncur, memecahkan malam, meleburkan dingin malam, menghancurkan dinding keterpaksaan perasaan.
Aku masih kesepian. Sepi ini menerkam sampai dalam. Sakitnya mencuat dari raut muka yg sudah pucat. Lukanya tak berbekas bagai tapak kaki di pantai lepas. Terbawa ombak tanpa mempedulikan akan kemana bertepi kelak.
Daun kering,
batu kerikil,
bungkus rokok,
sampai bunga mawar berduri enggan menemaniku dalam kesunyian.
Peribahasa lama, 'Manikam telah menjadi sekam', sesuatu yg tidak berharga lagi. Jika dijaga akan tetap bernilai, tapi jika dibuka sudah tak bernilai.
Sepi membuatku kalap. Sunyi membuatku ingin bernyanyi. Angin malam bersiul ketika bertabrakan dengan daun didahan. Langkahku bertinjak di atas aspal. Menembus malam hingga gerbang kesunyian.
Tiga jam lagi tugasku selesai. Cahaya lampu jalan masih setia menemaniku.
Embun diatas rumput sudah mulai bermunculan. Ayam-pun sudah siap membangunkan. Matahari perlahan memperlihatkan fajarnya. Tidak seperti putri malu yang menguncup ketika dikecup.
Satu per-satu lampu tengah didalam rumah menyala. Tapi tidak meyadari, masih ada orang kesepian di luar. Bunyi mesin air terdengar bagai air terjun. Masih tidak menyadari, ada orang sedang bermain dalam sunyi.
Aku, seorang penjaga malam. Kesepian dalam kesuyian.
Aku melihat tiga bintang berdekatan. Bentuknya mirip anak panah sedang meluncur bak deburan ombak. Meluncur, memecahkan malam, meleburkan dingin malam, menghancurkan dinding keterpaksaan perasaan.
Aku masih kesepian. Sepi ini menerkam sampai dalam. Sakitnya mencuat dari raut muka yg sudah pucat. Lukanya tak berbekas bagai tapak kaki di pantai lepas. Terbawa ombak tanpa mempedulikan akan kemana bertepi kelak.
Daun kering,
batu kerikil,
bungkus rokok,
sampai bunga mawar berduri enggan menemaniku dalam kesunyian.
Peribahasa lama, 'Manikam telah menjadi sekam', sesuatu yg tidak berharga lagi. Jika dijaga akan tetap bernilai, tapi jika dibuka sudah tak bernilai.
Sepi membuatku kalap. Sunyi membuatku ingin bernyanyi. Angin malam bersiul ketika bertabrakan dengan daun didahan. Langkahku bertinjak di atas aspal. Menembus malam hingga gerbang kesunyian.
Tiga jam lagi tugasku selesai. Cahaya lampu jalan masih setia menemaniku.
Embun diatas rumput sudah mulai bermunculan. Ayam-pun sudah siap membangunkan. Matahari perlahan memperlihatkan fajarnya. Tidak seperti putri malu yang menguncup ketika dikecup.
Satu per-satu lampu tengah didalam rumah menyala. Tapi tidak meyadari, masih ada orang kesepian di luar. Bunyi mesin air terdengar bagai air terjun. Masih tidak menyadari, ada orang sedang bermain dalam sunyi.
Aku, seorang penjaga malam. Kesepian dalam kesuyian.
Tag :
#PekanAnyamanHUJAN,
Rintihan Sesal
By : Harry RamdhaniSuara itu, terdengar memecah senja.
Matahari mulai malu akan dirinya.
Masuk,
ke dalam ruangan seperti bilik.
Kau datang dengan segudang cerita. Cerita yang membenamkan setumpuk asa. Kau terlihat lelah dengan kemeja tipis bergambar bunga. Entah, apa hubungannya, tapi, yang jelas bunga di kemaja-mu tidak mekar bak seorang juara. Malah terpikir, sepertinya ini bukan orang yang biasa yang sering datang mengetuk pintu lalu membukanya dengan paksa.
Kau, apa yang telah terjadi ? Kau, membuat seluruh isi ruang menjadi basi ? Belum sempat bercerita, awan telah berubah menjadi gelap. Yaa, tidak seperti biasa. Kau, bersandar dipundak dan lesu tak terkelak. Kantung kedua bola mata mulai membesar dan berwarna kemerahan. Itu tampak jelas karena keputihan di wajah-mu memancarkan kesedihan yang tertahan.
Kau, berbalik dan erat memeluk, juga menangis. Suaranya memang tidak keras tapi, air mata mengucur deras. Hela napasmu sampai terasa didalam pelukan. Tidak teratur. Kini Kau menatap, jauh kedalam mataku. Seakan ingin memberitahu beragam kejadian yg telah menimpamu hari ini.
"Aku hamil." katamu.
Kalimat singkat yg memecahkan kerasnya awan oleh kilat.
hanya sedikit yg teringat.
Lihat.
tubuhmu, kaku terkekang nafsu.
matamu, merayu berbinar malu.
meraba tubuhku mesra. menaikan libido dalam darah menjadi gairah. mencibir manja dengan goyangan lidah.
tanpa sehelai benang, tubuhmu, gairahmu, menampar-nampar imanku.
Kenikmatan ini, sesaat, tak jelas kapan terjadi. tak jelas kapan dimulai. dan, tak jelas kapan berakhir.
hanya tubuh ini, yg lelah karena terbius kecantikan berlebel surga berinti neraka. kehausan dalam sahara dipadang gurun oase membanjiri otak dengan liar.
pelan kataku, "Untuk apa Aku berpacaran denganmu jika hanya sebatas ciuman yg Kamu berikan. dimana tubuhmu yg orang lain bilang itu sebuah kenikmatan. Kamu, memberikan ini (ciuman), sama halnya dengan menyuguhkan sebotol beer tanpa kacang."
kepala di dada. wangi rambut meninggikan semangat. semangat yg telah tidak terkendali. kita, bercinta dengan cepat.
Aku tidak menganggapmu perempuan murahan. Tapi, sungguh, kini kenikmatan telah dirasakan. Sebatas menjilat madu dari sarangnya, terasa takut ketika belum dimulai tapi, nikmat setelah mendapatkan madu asli dari sarang lebah.
Matahari mulai malu akan dirinya.
Masuk,
ke dalam ruangan seperti bilik.
Kau datang dengan segudang cerita. Cerita yang membenamkan setumpuk asa. Kau terlihat lelah dengan kemeja tipis bergambar bunga. Entah, apa hubungannya, tapi, yang jelas bunga di kemaja-mu tidak mekar bak seorang juara. Malah terpikir, sepertinya ini bukan orang yang biasa yang sering datang mengetuk pintu lalu membukanya dengan paksa.
Kau, apa yang telah terjadi ? Kau, membuat seluruh isi ruang menjadi basi ? Belum sempat bercerita, awan telah berubah menjadi gelap. Yaa, tidak seperti biasa. Kau, bersandar dipundak dan lesu tak terkelak. Kantung kedua bola mata mulai membesar dan berwarna kemerahan. Itu tampak jelas karena keputihan di wajah-mu memancarkan kesedihan yang tertahan.
Kau, berbalik dan erat memeluk, juga menangis. Suaranya memang tidak keras tapi, air mata mengucur deras. Hela napasmu sampai terasa didalam pelukan. Tidak teratur. Kini Kau menatap, jauh kedalam mataku. Seakan ingin memberitahu beragam kejadian yg telah menimpamu hari ini.
"Aku hamil." katamu.
Kalimat singkat yg memecahkan kerasnya awan oleh kilat.
hanya sedikit yg teringat.
Lihat.
tubuhmu, kaku terkekang nafsu.
matamu, merayu berbinar malu.
meraba tubuhku mesra. menaikan libido dalam darah menjadi gairah. mencibir manja dengan goyangan lidah.
tanpa sehelai benang, tubuhmu, gairahmu, menampar-nampar imanku.
Kenikmatan ini, sesaat, tak jelas kapan terjadi. tak jelas kapan dimulai. dan, tak jelas kapan berakhir.
hanya tubuh ini, yg lelah karena terbius kecantikan berlebel surga berinti neraka. kehausan dalam sahara dipadang gurun oase membanjiri otak dengan liar.
pelan kataku, "Untuk apa Aku berpacaran denganmu jika hanya sebatas ciuman yg Kamu berikan. dimana tubuhmu yg orang lain bilang itu sebuah kenikmatan. Kamu, memberikan ini (ciuman), sama halnya dengan menyuguhkan sebotol beer tanpa kacang."
kepala di dada. wangi rambut meninggikan semangat. semangat yg telah tidak terkendali. kita, bercinta dengan cepat.
Aku tidak menganggapmu perempuan murahan. Tapi, sungguh, kini kenikmatan telah dirasakan. Sebatas menjilat madu dari sarangnya, terasa takut ketika belum dimulai tapi, nikmat setelah mendapatkan madu asli dari sarang lebah.
Tag :
#PekanAnyamanHUJAN,
Indonésie ou Endonesa
By : Harry Ramdhani
Aku hanya tidak ingin
ini seperti Kotoran Air Besar
Dikeluarkan lalu bisa
hilang dengan sekejap.
Kini
pikiranku sedang liar.
Lalu
terbit ide-ide yang menular.
Menyatu
beriringan sampai akar… buah zakar.
Lihat…
Ini adalah tanah liat.
Tanah yang dikuasai oleh
Konglomerat.
Dan rakyat jelata, makin melarat.
Tidak
perlu mencari kesalahan dalam kekalahan.
Tidak
perlu mencari pembenaran untuk kemenangan.
Tidak
perlu memcari peluang demi bertahan.
Tapi
disini, Aku berjuang…
Benarkan
ini Negara GAGAL ?
Asumsi
bermunculan.
Persepsi
membingungkan.
Delusi
menyesatkan.
Komunikasi
tidak berjalan.
Kita telah ditakdirkan untuk
berjuang.
Bukan hanya duduk berpangku tangan
dibawah tiang.
Menyingsingkan baju kedua lengan
tangan.
Mari berjuang, Kawan…
Akan
‘kah kita seperti kambing dengan macan ?
Yang
terikat kedua kaki dan tangan.
Gerundang
tinggal di kubangan.
Ayo
kerjakan sesuai keahlian.
Tengok sejarah sebagai
pemantik.
Tertawalah
kalian sampai menggelitik.
Kini kebenaran sudah mulai terkuak.
Melihat gayamu, Aku muak.
Duduk
sambil mengeluh karena tidak bertindak.
Bersembunyi
sampai tidak nampak.
Aku
percaya ada penyelesaian kelak.
Mari
bertindak…
Harapan baru dengan serangkaian
pertanayaan.
Kenapa Aku harus berjuang ?
Kenapa AKu harus bertindak ?
Untuk apa ?
Ingatkah
kalian dengan lima ayat Kalimasada ?
Siapa
ingin kaya, perbanyak berderma.
Siapa
ingin pandai, mengajarlah.
Siapa
ingin dicinta, mencintailah.
Siapa
ingin bahagia, bahagiakanlah sesama.
Siapa
ingin mati sempurna, maka sempurnakanlah kematian sahabatmu.
Perhatikan…
Dari Sabang samapi Merauke.
Dari Kupang samoai Ternate.
Dari Kalimantan sampai NTT.
Inilah Indonesia… Inilah Tanah
Surga…
Debu
tak mengeras jadi batu.
Sudah
saatnya Indonesia bersatu.
Bersatu
tidak harus satu.
Tapi
bersatu sudah pasti menyatu.
Langkahkan
kaki menuju peradaban baru.
Tengok
lagi ke belakang, saatnya Bersatu.
Mulailah denan mencintai.
Mulailah dengan hati nurani.
Mulailah dengan pikiran yang murni.
Kaena ini semua berawal dari mimpi.
Indonesia
merdeka karena terjajah.
Sudah
banyak korban yang terpanah.
Tanah-pun
berubah merah tertutup darah.
Bagai
semut terinjak gajah, rasa pesimis untuk menyerah dan kalah.
Berinjak
kaki kanan siap melompat seperti tupai.
Apa yang harus dimulai ?
Pemuda
dan anak muda berbeda.
Pemuda
ditakdirkan berjuang untuk sesama.
Anak
muda ditakdirkan untuk ngengkang sambil foya-foya.
Tidak adanya
korelasi diantara keduanya.
Pilihan
ada ditangan, wahai Rakyat Indonesia.
Tidak bisa kita mengesampinkan
sejarah.
Banyak pemuda dan pejuang yang gelah
merelakan darah.
Dengan gagah memegang panah.
Menari-pun tiada arah.
Ssttt…
Ada
yang terlupakan oleh kita.
Rakyat
Indonesia ditakdirkan untuk berjuang.
Tapi…
Rakyat
Endonesa ditakdirkan untuk ngengkang.
Coba ingat, apa yang sudah Sampean
lakukan ?
Coba ingat, apa yang sudah Sampean eluhkan
?
Aahhh…
Sudahlah,
pegel Aku ngoceh panjang lebar.
Aku
tau, kita hidup di tanah yang sama.
Aku
juga tau, kita memandang matahari dari arah yang sama.
Tapi
Aku tidak tahu, apa kita satu bangsa ?
Aku
berdikari diatas semua posisi para politisi.
Karena
Aku Oposisi.
Karena
Aku rakyat Indonesia bukan Endonesa.
byuuuuuuuur…
.
Tag :
#PekanAnyamanHUJAN,