Showing posts with label #CerpenPeterpan. Show all posts
Aku, Kita, dan Teras Baca
By : Harry Ramdhani
Desa Bojonggede,
4 July 2011
“Ayoo dong bikin kegiatan, udah
deket nih 17an. Masa Karang Taruna gak
bikin apa – apa.” Kata Ungky yang baru datang ke Warung Bang Dodo.
PERBINCANGAN
kala itu hampir sama seperti perbincangan Bung Karno dengan Sukarni Kartodiwiryo
tentang menentukan tanggal Proklamasi yang sempat Ia ceritakan dalam Penyambung Lidah Rakyat. “Di Saigon saya sudah merencanakan proklamasi
tanggal 17.” Mengapa ? Bung Karno menjawab, “Angka 17 adalah angka sakti. Lebih
memberi harapan. Angka 17 keramat. Al-Quran diturunkan pertama tanggal 17.
Orang islam sembahyang 17 rakaat sehari. Maka hari Jumat Legi tanggal 17 Agustus saya pilih untuk menyelenggarakan
proklamasi.”
Setelah hari itu, para anggota
Karang Taruna – pun berkumpul untuk segera menyelenggarakan kegiatan 17an. Dari dulu sampai sekarang, bahkan sudah
menjadi tradisi bangsa ini selalu saja ada yang namanya ‘17an’. Aku ingat
pertama kali saat mengikuti ini, umurku masih 9 tahun. Mendekati tanggal 17 Agustus selalu ramai
orang – orang menghiasi rumah dengan bendera Merah Putih terbuat dari plastik,
lalu didepan rumah dipasangkan tiang untuk sekedar mengibarkan bendera. Untuk
anak – anak diadakan lomba agar lebih meriah.
Aku tidak habis pikir, apa
hubungannya lomba anak – anak dengan kemerdekaan Indonesia ? Emangnya pejuang
saat itu ikut berlomba seperti makan kerupuk dengan penjajah terus kalau yang
kalah penjajah maka harus angkat kaki dari Indonesia ? enggak ‘kan. Atau, yang
lebih menggelikan adalah ada lomba balap karung, dilombakan untuk anak. Sama
sekali tidak ada sisi bermain, apa lagi edukatif ? yang tampak dari lomba balap
karung hanya dua, pertama, kecelakaan sudah siap menanti karena tersandung
karun yang tingginya hampir seleher
anak. Kedua, gatel – gatel karena karung yang dipakai untuk lomba adalah
karung bekas terigu, kutunya dimana – mana.
“Yaudah,
sekarang aja kumpulin anak – anak, kita rapat di pos.” kata Rino selaku Ketua
Karang Taruna.
Seperti semut yang melihat gula tumpah,
berbondong – bondong cepatnya anggota Karang Taruna ini berkumpul. Aku curiga
ini karena lagu “Makan gak makan asalkan ngumpul”. Tak apa, asalkan ini suatu
hal yang positif. Ramai oleh kicauan
yang tidak jelas arahnya, inilah akibat kalau pertemuan sebuah Karang Taruna
kalau ingin mengadakan acara/kegiatan saja.
“Stop. STOOOOP,”
jiwa kelakian Rino keluar untuk segera menghentikan kicauan yang tak jelas.
Bayangkan, satu jam hanya dihabiskan untuk ngobrol.
“Jadi gini, tadi
Ungky ngajakin untuk bikin kegiatan buat 17an tahun ini. Pada bisa gak ?” Kata
Rino tanpa basa – basi.
“Setuju, gitu
dong masa gak ada kegiatan sih Karang Taruna.” Kata Intan dengan semangat.
Aku yang keluar dari kamar mandi takjub dengan antusias orang – orang
cunguk ini. Tumben pada semangat. Sebagai info, kami tinggal disalah satu
perumahan yang tidak begitu elite jadi tidak gampang untuk mengumpulkan orang
untuk bisa nimbrung dalam kegiatan yang sifatnya sosial. Pos kita-pun tidak
seperti pos yang lainnya. Disini lengkap, ada kamar mandi, televisi, dan bahkan
ada panggung permanen yang serbaguna. Terkadang Pos ini dipakai untuk hajatan
warga kami.
“Terus
kegiatannya apa ?” kataku.
“Eumm, apa yah…
susah sih, soalnya ini deket sama bulan puasa. Gak mungkin dong ada lomba pas
bulan
Puasa.” Kata Intan yang jawabanynya sama sekali tidak menunjukan
pemecahan masalah.
“Ayoolah ide itu
murah, cuuk. Bisa didapet dimana-mana. Aku aja yang abis buang air besar bisa
dapet ide”
“Yaudah, idenya
apa ? tapi apa itu ‘cuuk’ ?”
“Gak penting
itu. Nah, gimana kalau kita bikin Perpustakaan disini ? Setuju ?”
“Perpustakaan ?
Maksudnya ?” tanya Rino dengan penasaran.
“Yaa,
Perpustakaan biasa. Siapa aja boleh kesini buat baca. Tapi bukan itu sih
intinya Aku usul untuk bikin perpustakaan.”
“Terus ?”
“Nanya mulu
kayak wartawan. Pas tadi Aku pup,
kayaknya anak – anak seneng deh kalau buat ngumpul gini, bener gak ? Nah, kalau
sudah ada perpustakaan jadi ada waktu untuk kita sering kumpul. Nanti kalau
udah ngumpul kayak gini pasti ada aja ide buat bikin kegiatan. Soalnya
perpustakaan ini gak akan bisa rame kalau cuma buat baca buku doang. Emang
jaman sekarang siapa sih yang pengen nyisihin waktunya buat baca buku ? Ndak
ado. Tapi kalau kita bisa bikin kegiatan dimana nanti orang – orang dateng dan
nyari sebuah permasalahan lewat baca buku.”
“Pada setuju gak
nih bikin Perpustakaan ?”
“Sederhananya
gini, kita bikin perpustakaan terus yang jaga dari kita giliran lalu, bikin
kegiatan. Pasti rame ini perpustakaan”
“SETUJUUUUUU”
semua menjawab serentak.
Yup, ketika semua setuju langkah
berikutnya adalah meyakinkan para bapak – bapak untuk ngerelain Pos dialih
fungsikan menjadi sebuah perpustakaan. Sebenarnya mudah saja, karena Aku adalah
anak RT tapi karena negara ini negara yang katanya ‘Demokrasi’, maka harus rapat
lagi oleh warga untuk meminta persetujuan. Secara pribadi Aku tidak begitu suka
dengan sistem negara ini yang Demokrasi, karena indikator dari itu adalah suara
terbanyak saja yang diakuin atau dalam istilah kerennya ‘Suara Rakyat Suara
Tuhan’. Padahal tidak semua suara terbanyak adalah benar, bisa saja ada
kecurangan ketika pengambilan suara.
Hari sabtu ini, tanggal 9 July
sengaja Aku buatkan surat undangan warga untuk rapat yang membahas pengalih
fungsi Pos menjadi perpustakaan. Dan… yang hadir rapat banyak, hampir 85% orang
hadir. Tumben. Biasanya kaalu ada rapat yang dateng 4L (Lu Lagi Lu Lagi). Tidak
hanya itu, Aku menjadi tumbal oleh anak – anak untuk ikut rapat ini. INGAT, itu
hasil demokrasi.
Sungguh alot rapatnya, karena
sudah terbiasa warga disini untuk menyebut ini sebagai Pos bukan Perpustakaan.
Ada sedikit perbincangan yang Aku suka, ketika ada salah satu warga yang tidak
setuju. Kita sebut saja Ia si Pulan. Entah apa maksudnya ‘Si Pulan’, orang –
orange jaman dulu selalu memakai nama itu untuk menganalogikan suatu peristiwa.
Pulan : Apa maksudmu bikin perpustakaan ? ini
Pos, tempat kumpul kalau ada rapat.
Aku : Lah, apa hubungannya ? rapat ya rapat,
orang pengen baca mah baca.
Pulan : Tapi kalau suatu hari nanti ada yang
ingin hajatan, kan jadi repot. Lagi pula semua anak disini sekolah, disekolah
itu sudah ada perpustakaan. Jadi untuk apa bikin perpustakaan ?
Aku : Bapak yakin anaknya kalau di sekolah
itu ke perpustakaan ? Aku rasa tidak. Kita disini mewadahi, karena kita sadar
bahwa Pendidikan yang ada didapat di sekolah masih kurang.
Pulan : Ketika kami ingin membangun Pos ini ya
niatnya untuk Pos, bukan yang lain. Saya tetap tidak setuju.
Aku : Bayangin deh, Pak. Kita tinggal di
Komplek, bukannya Aku ingin menyama-ratakan ekonomi tapi kita adalah kelas
menengah. Bangsa ini akan maju oleh orang – orang yang berada dikelas menengah
yang siap naik level ke kelas atas dan bisa membantu orang – orang kelas bawah.
Tidak ada lagi kasus money politic ketika pemilu. Biayanya sangat mahal untuk
membayar suara orang kelas menengah ini, kenapa ? Karena orang kelas menengah
pintar. Bagaimana cara untuk pintar ? dengan belajar dan membaca buku.
Pulan : Kamu anggap Saya ini bisa disogok ketika
pemilu ? Saya memilih Dia karena salah satu programnya ‘Anti – Korupsi’.
Aku terdiam sejenak saat itu,
entah harus bicara apa lagi untuk meyakinkan si Pulan. Terlintas pikiran
tentang kelakuan para Koruptor. “Hanya Koruptor ‘lah yang melarang rakyatnya
untuk belajar”, kataku tanpa sadar.
Pembuatan perpustakaan dimulai
tanggal 17 July 2011, dengan peralatan seadanya kita membuat rak – rak buku,
membeli plat bekas untuk pemisah buku. Dan… tanggal 17 Agustus 2011,
perpustakaan ini diresmikan dengan acara buka bersama dan santunan untuk anak
yatim. Hal terunik ketika ditanya nama perpustakaan ini, Rino dengan gaya
ngawurnya menjawab Teras Baca. Yaa, perpustakaan Teras Baca
Desa Bojonggede,
17 July 2012
Kini sudah satu
tahun perpustakaan ini berdiri. Dengan berbagai kegiatan seperti membuat
sanggar seni lukis, tempat kursus bahasa inggis, dan tidak lupa… sebagai tempat
oleh para penikmat stand-up comedy.
Kita hidup untuk
main, main kita untuk hidup, hidup kita untuk memajukan INDONESIA.
Tag :
#CerpenPeterpan,
GELAP
By : Harry Ramdhani
Siang itu aku terkesan oleh salah satu twit dari Wira Panda
(@Wira_Panda) kalo dia ingin mengajak Followers-nya untuk ikut nulis cerpen
dimana bahannya dari lagu2 dari Peterpan. #CerpenPeterpan itu tagar untuk
memudahkan orang2 mencarinya. Aku ingin sekali bisa berpartisipasi untuk
menulis cerpen, karna aku-pun kini sedang belajar menulis. Tapi sayang, aku
hanya tahu lagu peterpan yang berjudul ‘Ada Apa Denganmu’. Aku ingat saat
pertama kali belajar bermain gitar dan ketika aku tanya temanku yang sudah mahir
main gitar katanya, “belajar aja pake lagu peterpan yang ‘Ada Apa Denganmu’.
gampang kok kuncinya, cuma E, C, G, dan D. Begitu aja terus sampe lagunya
abis.” Bahkan sampai gitarku
patah... Ani. Dan
itulah alasanku baru posting lagu ini sekarang bukan hari saptu (28/7) lalu
seperti yang diminta oleh Kak Wira sebagai deadline.
Pagi itu, saat kuliah MKDU (Mata Kuliah Dasar Umum) Sosial
Budaya pada semester awal dimana seluruh mahasiswa angkatan baru digabungkan
untuk mengikuti kuliah tersebut. Aku datang terlambat. Di luar kelas berdiri
seorang wanita yang terlihat tampak panik karena nampaknya dia-pun terlambat.
Rambutnya diikat secara sederhana kebelakang dengan ikat rambut berwarna kuning
cocok dengan sepatu Jerry yang sama berwarna kuning.”Kenapa masih diluar kelas
?” tanyaku. “Aku terlambat,dan dosen ini kayaknya Killer. Jadinya aku takut
untuk masuk” katanya dengan keringat bulat-bulat yang timbul dikeningnya.
Sebenarnya Aku tidak pernah terlambat untuk masuk kelas tapi
kali ini karna perutku sedikit sakit karena semalem makan tempe penyet yang
rasanya dapat membuat lidah melet tak karuan. Ketika sampai di kampus, Aku
sudah dua kali masuk kamar mandi hingga terlambat seperti sekarang.
Aku memang bukan mahasiswa yang terlalu rajin untuk selalu
masuk kelas, kalau sudah terlambat dan sudah bisa dipastikan nanti akan
disembur oleh dosen ya aku tidak masuk kelas. Tapi, kali ini berbeda. Ia yang
berdiri di luar kelas, Ia yang tampak takut masuk kelas karena terlambat, Ia
yang memiliki semangat untuk tetap masuk kelas walau nanti yang Ia-pun tahu
kalau nanti akan disembur oleh dosen, telah membuat ‘Jiwa Kelakian’ dalam
diriku seakan keluar.
Ada dua posisi dimana ‘Jiwa Kelakian’ setiap laki-laki itu
akan keluar secara tida diduga. Pertama, ketika Ia sedang merasa tertekan oleh
orang-orang yang tampak ‘garang’ dan mengancam hidupnya. Dan Kedua, catechism
Ia sedang bertemu dengan wanita cantik. Yaa, wanita cantik, seperti dia yang
sedang berdiri di luar kelas.
“Jadi kamu mau masuk kelas ?” Tanyaku basa-basi.
“Iyah” Suaranya semakin pelan. Sungguh pelan sampai
hatiku-pun bisa mendengar suara itu.
“masuk aja yuuk, siapa tahu itu Dosen lagi baik hari ini.”.
Inilah posisi dimana laki-laki tidak boleh melakukan hal bodoh. Niatnya ingin
serius malah jayus.
Ia diam. Aku tahu diamnya itu pasti seakan ingin menghiraukan
ucapanku tadi dan dalam hatinya berteriak “APA SIH INI ORANG, SANA DEUH. GANGGU
AJA”. Tiba-tiba Ia melangkahkan kaki meninggalkan luar kelas dan tanpa sadar
tanganku mengayunkan kearah tangannya dan menggenggamnya.
“Hey, mau kemana ?” ucapku tanpa sadar.
Ia memandangku dengean tajam. Aku-pun melepaskan genggaman,
“Maaf”.
Disudut tangga, aku melihat sebuah dus yang bekas dipakai
oleh BEM menggalang dana korban gempa. Inilah laki-laki, selalu keluar ide yang
aneh untuk melakukan suatu hal. Bertindak dahulu tanpa memikirkan akan terjadi
apa nantinya atau dalam istilah orang sunda “Kumaha Engke”.
“Kita pake ini aja untuk masuk kelas, yuuk. Pura-pura aja
abis ikut baksos sama BEM.” kataku sambil mengajaknya.
“Hah, gimana caranya ?” jawabnya seakan tidak ada pilihan
lagi untuk bisa masuk kelas.
“Kita pake ini aja untuk masuk kelas, yuuk. Pura-pura aja
abis ikut baksos sama BEM.” kataku sambil mengajaknya.
“Hah, gimana caranya ?” jawabnya seakan tidak ada pilihan
lagi untuk bisa masuk kelas.
“Udah ikut aja, biar nanti Aku yang ngomong. Kamu bawa
Almamater ‘kan ?”
“Bawa sih, tapi cuma satu.”
“Kamu pake deh itu Almamaternya.”
“Bener nih ?”
“Yaampun, udah pake aja sih itu Almamaternya. Masih pengen
masukkan ?” Aku jadi sedikit emosi karena Ia yang nampak ragu.
*tok tok tok,* Assalam’mualaikum. Aku membuka pintu sambil
memegang dus tadi.
“Maaf, Ibu, kami terlambat masuk kelas. Tadi abis
melaksanakan baksos untuk korban gempa”. Kataku sambil terbata-bata.
“Kamu tidak tahu kalau pagi ini ada kuliah saya ?”
“Iyah, kami tahu kok, Bu. Aaa, kami ingat kata Ibu minggu
lalu tentang kegiatan sosial. Euum, yang menusia adalah makhluk sosial dan
tidak dapat hidup sendiri. Maka, kami sadar bahwa saudara kita disana sedang
tertimpa musibah dan kita tahu bahwa manusia tidak hidup sendiri, masih ada
kami yang akan membantu”. Jawabku seakan itu sudah Aku persiapkan sebelumnya.
Lancar.
“Ouw, jadi kamu masih ingat pelajaran minggu lalu. Tapi
kenapa harus sepagi ini dan bawa dus bekas itu ? sangat tidak elegan.”
“Yaa, karena kami melakukan ini di jalan raya, maka waktu
yang tepat adalah pagi. Kalau kami tunggu sedikit siang, jalanan sudah sedikit
renggang. Dan, dus ini memang tidak pantas untuk melakukan bakti sosial. Sama saja
seperti mengemis atau minta-minta, bedanya kita rapih dan memakai almamater dan
pengemis tidak.”
“Kamu tau kalo islam itu…”
“Iyah, Ibu, Islam itu tidak mengajarkan untuk mengemis atau
minta-minta tapi Islam mengajarkan kita untuk
memberi. Tapi, kita hanya mediator untuk menyalurkan ini kepada
orang-orang yang membutuhkan” ucapanku yang tadi memotong pembicaraan Dosen.
“Yasudah, duduk sana”. Kata Ibu Dosen.
“Maaf, Bu, karena kami terlambat.” Aku jalan menuju bangku.
“Oiyah, siapa namamu ?”
“Aku, Rama dan ini…”
“Aku, Agnes”. Jawabnya dengan tegas. Aku-pun sedikit
terkejut, betapa berbedanya Ia tadi ketika diluar dan di dalam kelas. Dan…
namanya Agnes, sungguh cocok dengan kecantikannya.
“Rama dan Agnes, mulai saat ini kalian jadi Asisten Dosen
untuk mata kuliah Sosial Budaya dan jangan duduk dibelakang, duduk didepan”,
Kata Ibu Dosen.
Kelas mata kuliah Sosial Budaya selesai. Aku kembali bersama
teman-temanku dan… Agnes kembali bersama temannya pula. Aris, temanku langsung
menyambar, “kamu beneran tadi baksos ?”. memang dia ini terlalu serius dalam
menanggapi hal sekecil apapun tapi dia pintar, “Yaa, engga lah. Orang itu aku
nemu dus di luar kelas”.
Ketika asik nongkrong di Kantin, Ringga menepukku dengan
sedikit keras.
“Ram, hebat bener kamu yah.” Kata Ringga.
“Hebatlah, urusan ngomong begitu sama Dosen mah nih
Rajanya.” Kataku sambil menepuk dada.
“Bukan, tapi Agnes. Jadi semalem Aku smsan sama dia sampai
jam 12an lewat malah dan pas adegan aku mau nembak dia ternyata Agnes salah sms
gitu ke Aku, engga penting sih isinya tapi intinya Aku tahu kalau dia udah
punya pasangan.” Ringga menceritakan itu dengan serius.
Aku tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Ringga. “Tapi
kamu udah pernah ketemu dia ? atau paling engga yah udah sama-sama kenal gitu?”
tanyaku penasaran. Dan Ringa menggeleng. Ketika ingin pulang, “Ram, pengen
nomornya Agnes gak nih ?”. kata Ringga. “Hah, nomor apa ? dalemannya ?”
menimpaliku dengan sedikit becandain RIngga yang telah pasrah mendekati Agnes.
“Bukaaaaaan, nomor HP-nya ‘lah.” Ringga semakin geram padaku. “Engga ahh.”
Tolakku atas pemberian nomor itu.
Malam hari ketika Aku sedang mengerjakan tugas ada sms
masuk, dan itu dari… Agnes. Singkat sekali sms-nya, ‘Thx, Rama. Agnes’. Senang
sih karena dapet sms dari dia tapi Aku binggung dapet nomorku dari siapa ? Tak
penting.
Aku : ‘Iyah, Agnes, singkatnya sms kamu tadi. Kalau
diingat-ingat, lebih panjang ucapan kamu ketika ngomong sama Dosen Killer tadi
pagi.’
Agnes : :)
diam adalah emas.
Aku : Okeh, udah ahh Aku ngerjain tugas dulu nanti keburu
malem.
Agnes : Tugas apa, Ram ?
Aku : Diam adalah emas :)
Agnes : ihh, Rama, tugas apa sih. Kayaknya tadi gak dikasih
tugas deh.
Aku : :)
Agnes : RAMAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA.
Aku : Heh, Kamu sama Aku ‘kan beda jurusan. Jadi ini mah Aku
lagi ngerjain tugas Prodi Aku, wle:p
Agnes : ouw, bilang dong dari tadi.
Aku : :)
diam adalah emas.
Agnes : RAMAAAAAAAA, rese ihh.
Mulai saat itu, Aku dan… Agnes jadi dekat. Aku tahu dimana
batasku dengan Ia yang sudah punya pasangan dan Aku… single. Kita berdua hanya
Asisten Dosen untuk Mata Kuliah Sosial Budaya.
Tidak terasa, sudah 2 tahun Aku dekat dengan Agnes. Saling
bertukar cerita antara satu dengan lainnya. Kini, teman Agnes di Kampus adalah
temanku juga. Begitu sebaliknya. Pernah aku satu kali mengadakan kegiatan penggalangan
dana yang tadinya dulu hanya basa-basi tapi kini menjadi kenyataaan.
Aku ingat ketika Aku mengajak Agnes pulang bersama. Yaa,
pertama kalinya. Aku tahu ketika itu hubungan Agnes dengan pasangannya sedang
tidak bagus. Hal pertama yang Aku lihat adalah matanya yang memerah, mungkin
habis menangis di kostan temannya. Lama berbincang dengan Agnes, akhirnya
Ia-pun bisa balikan lagi dengan pasangannya. Aku sebenarnya tidak usah ‘belaga’
ngasih nasehat, karena Aku tahu bahwa mereka
tidak akan bisa berpisah lama-lama. Dan akan selalu begitu selama mereka
berhubungan. Putus-Nyambung.
Sore itu berbeda, Agnes datang menghampiriku dengan tangis.
Dan mengatakan “Rama, tolong jangan dekati Aku lagi”.
Sampai malam datang, aku masih tidak tahu maksud dari kata-kata
itu. Eumm, yang Aku tahu memang mereka kini sedang berpisah. Tapi… apa
hubungannya denganku.
Aku berdiri dalam gelap. Tersungkur dalam keheningan malam.
Berlarian dalam pikiran. Terkapar oleh angin yang liar.
Aku melihat tiga bintang yang berdekatan, bentuknya mirip
anak panah yang sedang meluncur memecahkan malam, meleburkan dinginnya malam,
menghancurkan dinding keterpaksaan perasaan.
Aku tidak habis pikir kenapa dengan kau sekarang ini ?
Apa salah yang telah Aku buat sampai Kau seperti ini
sekarang ? tell me, please.
Jika kemarin Aku sempat membuatmu merasa kecewa, tolong maafkan aku. Tidak perlu diucap, karena
kita-pun saling memahami.
Sampai kapan ini ? Embun diatas rumput sudah mulai
bermunculan, Ayam sudah siap membangunkan orang-orang. Matahari perlahan
memperlihatkan fajar-nya, tidak seperti putri malu yang menguncup ketika
disentuh.
Tag :
#CerpenPeterpan,