diteror, ditipu, dikasih nasi minta lauk!
By : Harry Ramdhani
![]() |
| ntap! dah beres. |
"Teror!" barangkali itu kata yang tepat untuk menggambarkan kejadian yang terjadi pada seminggu ini. Aku merasa takut, kaget, bahkan tertekan. Bukan hanya aku, begitu juga dengan tetangga-tetangga sekitarku. Kumulai dari mereka dulu mungkin, ya. Jadi dalam seminggu ini, tetanggaku menerima telpon tak dikenal. Bergiliran. Ada yang menelpon sekitar pukul 2 dini hari, pagi, atau setelah magrib. Ya, itu telpon penipuan. Ingat, kan, dulu pernah ada modus penipuan lewat telpon? Jadi keluarga kita, kata di penipu, mengalami kecelakaan atau musibah lainnya. Kita diminta transfer sejumlah uang. Itu mungkin sudah bertahun-tahun lalu. Aku masih ingat tetanggaku yang ingin ditipu seperti itu. Dulu waktu dia masih kelas 2 SMU malah, tapi sekarang dia (baru saja) sudah menikah. Anehnya, yang sampai sekarang aku bingungkan, mengapa si penipu itu bisa tahu nama-nama keluarga kita? Tetangga sebelah rumahku kini hanya tinggal berdua di rumah. Ketiga anaknya sudah menikah dan punya anak. Sudah tua. Tapi sekitar pukul 6 pagi, tetanggaku mendapat telpon penipuan itu. Kagetlah awalnya! Tetanggaku langsung datang ke rumah, minta bantuan Gopah. Panik sekali --hampir menangis. Aku yang baru saja tidur, jadi terbangun. Ada ribut-ribut di teras rumah. Gopah menyalakan motor, langsung pergi. Aku tanya Gomah ada apa? Katanya baru dapat telepon kalau anaknya tetanggaku mengalami kecelakaan dan diminta mentransfer uang untuk biaya rumah sakit. Gopah pergi menemui anaknya, kebetulan rumahnya tidak begitu jauh, kira-kira 2 km mungkin. Tidak sampai setengan jam, Gopah pulang. Anaknya baik-baik saja dan tidak ke mana-mana, alias ada di rumah. Karena tetangga lain jadi keluar rumah, mereka juga katanya mengalami kejardian yang sama: mendapat telpon serupa. Untungnya tidak ada yang langsung mentrasfer sejumlah uang. Penipu itu gagal total. Bagaimana denganku, apakah mendapat telpon serupa? Tidak! Mengapa? Karena aku tidak punya telpon rumah. Namun, aku mendapat teror lain. Seperti biasa, jelang akhir bulan, aku dan Gopah mengerjakan laporan pajak untuk beberapa perusahaan. Tapi, di antara perusahaan itu, ada 1 yang aneh. Tiba-tiba saja ada transaksi di perusahaan yang selama ini tidak pernah melakukan kegiatan. Biasanya saya laporkan "nihil", karena biarpun tidak ada kegiatan, tetap saja mesti dilaporkan. Tapi tidak untuk kali ini, angkanya cukup fantastis: ratusan juta. Ada satu kegiatan di perusahaan itu dengan nilai ratusan juta, tapi tidak pernah tercatat. Karena transaksi tersebut senilai ratusan juta, maka pajak yang mesti dibayarkan juga terbilang lumayan: puluhan juta. Sebemarnya itu biasa saja, asal transaksinya ada. Lha ini, tiba-tiba saja ada tagihan sebesar itu. Aku telusuri semua lawan transaksi yang pernah bekerjasama. Tidak ada. Itu perusahaan baru. Pernyataannya: siapa yang menerbitkan faktur? Dan, siapa yang menandatangani faktur tersebut? Gopah langsung menelpon direktur perusahaannya, ia bilang tidak ada transaksi apa-apa. Gopah tanya apakah tahu nama perusahaan yang jadi lawan transaksinya itu, tidak tahu juga. Aneh bin ajaib sekali. Untunglah sistem perpajakan yang baru ini sudah online, jadi sudah bisa ter-update secara otomatis. Besoknya, Gopah mendatangi kantor pajak mencari tahu. Takutnya memang ada yang ngaco dari sistem pajak. Ternyata laporan dari orang pajak benar adanya. Ada transaksi dari perusahaan lain kepada perusahaan yang Gopah urus. Gopah minta data perusahaan tersebut untuk menelusuri sendiri --walau ada opsi untuk membatalkan, sih. Singkat cerita, perusahaan tadi memberi beberapa nama dengan siapa mereka berhubungan. Nama-nama itu tidak ada yang Gopah kenal. Lebih anehnya lagi, direktur perusahaannya sendiri juga tidak tahu. Gopah coba hubungi orang-orang yang melakukan transaksi diam-diam itu. Mereka mengaku terpaksa karena ada pekerjaan, kasarnya proyek, yang lumayan. Gopah kesal. Ia merasa dilangkahi. Dia juga mengaku "sudah diberi izin untuk mengambil alih" perusahaan itu. Gopah tentu saja ada di pihak direktur utama yang lama. Karena tidak begitu cara mainnya. Kalau mau oper-alih, tidak bisa karena izin seorang. Mesti ada notaris yang mengurus itu. Dia bilang nanti akan mengurusnya. Tapi, untuk saat ini, ia minta semua akses perpajakan untuk melaporkan. Gopah masih tidak mau. Karena memang selama ini Gopah yang mengurus itu --meski tidak dibayar! Aku katakan saja untuk kasih saja semua akses dan aset perpajakannya, tapi dengan catatan: mulai saat ini sudah tidak lagi mau ikut campur dan mengurusi semua hal terkait perusahaan tersebut. Gopah sepakat. Orang tadi senang, karena (mungkin) merasa menang. Semua akses itu Gopah kirim via wasap. Seketika aku jadi ingat ketika dulu pernah mengurus perusahaan itu. Bahkan sampai ditawari kerja di sana. Sayangnya aku tolak karena sudah bekerja. Jadi aku dan Gopah hanya membantu saja jika ada yang bisa dibantu urusan perpajakannya. Cukup lama. Bahkan ketika perusahaan itu ada masalah, aku dan Gopah sampai datang ke kantor pajak. Sialnya, sesampainya di sana, laptop yang kubawa malah dikatain sama orang pajak. Katanya, laptopku bisa meledak kalau dipaksa untuk menginstal aplikasi pajak yang butut itu. Ya, bagiku, yang butut dan usang itu aplikasi pajaknya bukan laptopku. Sejak saat itu aku tidak mau lagi ke kantor pajak tersebut. Jika ada apa-apa, aku cari sendiri caranya. Googling sendiri. Bisa kok, tanpa dikatain di depan umum seperti dulu. Tidak sampai 2 jam setelah Gopah memberi semua akses, orang itu kembali menghubungi Gopah. Tidak bisa melaporkan, katanya. Orang itu bilang, tolong untuk transaksi ini dilaporkan dan untuk ke depannya akan diurus sendiri. Aku bilang saja katanya sudah tidak mau lagi berurusan dengan mereka. Gopah diam. Karena memang hanya aku yang bisa mengoperasikanya. Aku tentu tidak mau. Aku sendiri masih ingat Gopah pernah bilang kepada orang-orang semacam itu, "dikasih nasi, minta lauk". Gopah masih diam. Aku tinggal mandi, karena baru selesai main basket. Lalu ketika aku baru saja mau makan, Gopah bilang, "yaudah bantuin saja dulu yang ini, rezeki itu gak ada yang langsung jatuh dari langit, ada aja jalannya." Tanpa diberitahu seperti itupun aku sudah tahu. Aku hanya membayangkan, dengan lepasnya satu perusahaan itu, meski tidak dibayar, hilang satu penghasilan --namanya rezeki itu bukan hanya berbentuk uang kok-- buat Gopah. Aku taruh lagi piringku di meja. Dengan terpaksa aku kerjakan laporan pajak mereka. Aku tahu, jika sampai hari Senin tidak dilaporkan, maka mereka akan kena denda. Lumayan, 500ribu pula. Selesai. Aku kirim semua bukti lapor pada mereka. "Terima kasih," balas orang itu, tidak lebih.
diingetin pns!
By : Harry Ramdhani![]() |
| teraskerja. alias kerja diteras |
Kira-kira piye perasaane dadi wonge nyang saban bilang "sayang" cuman dibales karo dia: makasih. Piye, coba? Uuh... lha mending. Nih yha... gimana perasaanmu setelah beres kerja, ngerjain ini-itu, terus lanjut laporin pajak-pajak, bikin csv segala macem, pas mau laporin, taunya situs pajak error? Piye hayooo? Masih mendinglah. Pas kamu lagi kerja, usahain ngeloporin pajak, mana internet butut, tapi tagihan tetep lanjut gak dipotong kompensasi terus dibilang sama PNS --PNS lho yha, alias angkatan lama-- gini: kalo kerja yang rajin. Kalo kerja yang rajin coba. Diingetib sama PNS: kalo kerja yang rajin. Piye coba, hah? Piye perasaane? Mana situs pajak masih error. Masih ndak bisa lapor! Kadang kokya aku jadi ngerti perasaane rengginang nyang terpakso dimasukin kaleng Khong Guan. Serius!
Sudahkah?
By : Harry Ramdhani![]() |
| bukan sekadar, buat nyang butuh, ini lebih dari segala hal. |
Sudahkah di tempatmu ada seorang mustahik alias orang yang berhak menerima zakat, tapi dikecualikan hanya karena (1) berbeda pilihan politik dengan pengurus dan/atau pengelola zakat? Atau, yang lebih buruk lagi, (2) mustahik tersebut tidak mendapat haknya karena ia poligami dan miskin? Tentu orang-orang tersebut acapkali dianggap buruk dari berbagai lapisan masyarakat sosial. Hanya karena ia membela atau membicarakan politik dalam kesehariannya, mustahik tersebut tidak mendapat zakat. Hanya karena ia memiliki lebih dari satu istri dan dianggap bukan lelaki setia atau ia seorang wanita yang (mau) dimadu tapi kemudian tidak diperhatikan oleh suaminya, maka keluarga mereka, yang poligami dan dipoligami, jadi tidak mendapat pembagian zakat. Apalagi hanya karena sekadar (dianggap) buruk oleh lingkungan sosial, mereka jadi tidak mendapat zakat. Jujur, aku sampai tidak habis pikir ketika nama-nama mustahik itu dicoret. Jika hal tersebut terjadi di tempat tinggalmu, jelaskan saja ini: (1) fakir, orang yang tidak memiliki harta; (2) miskin, orang yang penghasilannya tidak mencukupi; (3) riqab, hamba sahaya atau budak; (4) gharim, orang yang memiliki banyak hutang; (5) mualaf, orang yang baru masuk Islam; (6) fisabilillah (pejuang di jalan Allah; (7) ibnu sabil, musyafir dan para pelajar perantauan; dan (8) amil zakat, panitia penerima dan pengelola dana zakat. Jadi sila tempatkan orang-orang tersebut pada delapan (8) kriteria tersebut. Buatku itu sudah cukup. Tetapi jika memang orang-orang tersebut pada akhirnya menerima dan ocehan kalian tidak henti-hentinya mencibir, semoga ada yang bulan latihan lain buat kalian, selain ramadan.
Sebuah catatan tentang seorang laki-laki yang tidak memakai dompet
By : Harry Ramdhani![]() |
| nasi goreng enak: rindu malam. lokasinya di depan kantor kompas gramedia, palmerah barat. |
Beberapa temanku, sampai hari ini bahkan, masih suka terheran ketika aku mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu dari dalam saku dalam kondisi yang menyedihkan: terlipat tidak kruanan. Dan karena itu pula aku jadi sering mengulang alasanku, bahkan pada orang yang sama, melakukan hal itu. Satu alasan yang utama adalah aku tidak suka menggunakan dompet. Sejak dulu bahkan. Sejak aku mulai mengenal dompet bisa dugunakan untuk menyimpan uang, selain celengan di rumah. Apalagi setelah aku mulai sering mengumpulkan uang jajan sekolah yang kemudian uangnya aku gunakan dengan sia-sia. Mentraktir makan pacar, misalnya. Sejak saat itu aku jadi akrab dengan dompet. Setidaknya aku menjadi laki-laki umum lainnya: di mana di saku celana belakangku akan terlihat sedikit membungbug karena tersimpan dompet. Akan tetapi itu tidak berlangsung lama. Nyatanya aku tidak suka. Alias tidak nyaman ada yang mengganjal di kantung celana. Seperti ada kepalan tangan yang sedang menempel di bokong. Ih!!! Karena itu pula akhirnya aku tidak lagi menaruh dompet di celana dan aku ganti dengan menaruhnya di tempat lain: tas. Ternyata itu tidak menyelesaikan permasalahan, justru membuat dua (2) permasalahan baru, yaitu (1) aku jadi suka membawa tas ke mana-mana dan (2) setiap ada urusan bayar-membayar aku jadi suka membuka-tutup tas. Melelahkan dan ribet. Namun, pada satu kesempatan aku terselamatkan saat di mana aku jarang --atau tidak punya-- uang. Aku jadi tidak akrab dengan dompet. Dompet jadi sesuatu yang-tidak-ada-pun-tak-mengapa. Aku masih bisa baik-baik saja asal masih bisa beli rokok dan kopi dan buku dan jajanan murah pinggir jalan lainnya. Setidaknya uang yang kupunya sebatas untuk itu. Kantung celana, tentu saja, masih memungkinkan untuk itu. Kebiasaan ini ternyata mengikutiku sampai aku bisa punya penghasilan sendiri. Setiap ada kiriman uang bulanan, aku jadi suka mengambilnya sedikit untuk yang aku perlukan saja. Kalau ada kebutuhan lain, semisal mengetahui akan ada antrean di banyak mesin ATM, maka pada satu waktu aku akan mengambil uang dalam jumlah yang sedikit lebih banyak dari biasanya. Uang tersebut tetap aku simpan di kantung celana, tentu saja, sampai pada waktunya teman-temanku akan melihat aku mengeluarkan lembaran uang ratus ribuan dari dalam kantung celana, lalu ditanyakan lagi kenapa. Maka, bila laki-laki itu dinilai dari model dompet yang digunakan dan/atau isi dompetnya, tidak dinilaipun aku tidak mengapa. Sebab, dompetku akhirnya menjadi tempat di mana aku menyimpan segala macam tiket nonton bioskop, tiket nonton konser dan lain sebagainya yang pernah aku lalukan untuk sesuatu yang sia-sia, dulu, bersama pacar. Oh, bukan, barangkali mantan, lebih tepatnya.
Lelucon (tentang) pemilu serentak 2019
By : Harry RamdhaniSeberapa kuat aku menerima kehilangan?
By : Harry Ramdhani![]() |
| huntinghuji - jalan. |
Setidaknya sudah 2 malam, sebelum aku dan peang tidur, kami saling mengelitiki. Bercanda. Sampai kami lelah. Dan tidur. Begitu juga yang terjadi di malam ketiga. Bedanya setelah peang tidur, kali itu aku memikirkan sesuatu: akan sampai kapan kami bisa bercanda seperti ini sebelum tidur? Pertanyaan itu membuatku keluar dari kamar. Menuju teras. Membakar satu batang rokok dan berusaha menjawab pertanyaan tadi. Tidak ada yang aku temukan. Waktu sudah menunjukan pukul 12 lewat. Aku bakar rokok kedua. Sambil memikirkan itu aku coba merealisasikan apa yang aku bayangkan. Begini. Sekarang peang sudah kelas 3 SD. Sebentar lagi dia naik kelas. Dan begitu seterusnya. Bukan sekadar naik kelas, tentu saja, peang akan bertambah usia dan dewasa dengan sendirinya. Lalu aku membayangkan: apakah peang masih mau bercanda seperti itu, sebelum tidur, jika ia sudah kelas 6 SD, misalnya? Aku tidak yakin, mesti itu masih mungkin. Kenapa? Sebab aku ingat bagaimana dulu aku seusia itu. Aku masih "ngekor" gomah ke mana-mana. Kadang tidur dengannya. Nonton tv masih suka dimeminjam pahanya. Dekat. Sangat dekat --bila tidak ingin dikatakan aku ini anak mami, tentu. Dan itu aku bisa bayangkan terjadi hal serupa oleh peang. Itu jika aku bayangkan yang aku inginkan. Bagaimana jika tidak? Bagaimana kalau peang sudah kelas 4 SD, ternyata ia bahkan sudah tidak ingin tidur denganku? Tidak akan ada lagi keisengan-keisenganku sebelum tidur. Atau yang lebih menyedihkan: peang itu kalau tidur sukanya kalau tidak dipeluk, ia yang memeluk. Kadang, ketika aku masih kerja sambil menemani peang tidur di sebelahku, ia akan dengan sendirinya memiringkan badan dan memelukku. Tentu aku akan kehilangan. Tanpa terasa aku sudah menghabiskan 3 batang rokok dengan sekotak susu UHT rasa cokelat. Aku takut semua yang aku bayangkan terhadap peang menjadi kenyataan dalam waktu dekat --jikapun masih lama dan bila waktunya tiba apakah aku akan dan/atau sudah siap? Tidak. Tentu aku tidak siap. Rokok keempat sudah di tangan, tapi aku mesti tidur. Itu sudah hampir pukul 2 dan besoknya aku mesti berangkat pagi. Aku masih memikirkan itu dan pada kondisi yang sama. Tapi tiba-tiba terbersit pikiran untuk datang aksikamisan. Apa aku datang ke aksikamisan saja? Yha. Paling tidak datang dan menyaksikannya dari jauh bila aku tidak mampu mendekat, berkerumun dengan para penyintas dan peserta lain. Aku hanya ingin tahu: bagaimana tetap mampu menyikapi sebuah kehilangan? Paling tidak melihat mereka yang sudah terlebih dulu kehilangan, bukan oleh waktu, tapi kenyataan. Dan tadi, sialnya, aku datang dan aksikamisan telah selesai. Tidak ada sesiapa, kecuali aku, di sana dengan membawa pikiran yang sama. Seberapa kuat aku mampu merelakan kehilangan?
Belerdikari, antara Dany Beler dan Komedi Hari Ini
By : Harry RamdhaniNyanyian Kesedihan, Pablo Neruda
By : Harry Ramdhani![]() |
| lukisan karya anak-anak di rumah singgah Potads. |
Ingatanmu muncul dari malam di sekelilingku.
Sungai itu membaur dengan ratapan kerasnya dengan laut.
Gurun seperti dermaga saat fajar.
Ini adalah jam keberangkatan, oh sepi!
Kepala bunga dingin menghujani hatiku.
Oh lubang puing-puing, gua ganas kapal karam.
Di dalam kamu, perang dan penerbangan terakumulasi.
Dari kamu sayap burung-burung lagu naik.
Kamu menelan semuanya, seperti jarak.
Seperti laut, seperti waktu. Di dalam kamu semuanya tenggelam!
Itu adalah saat-saat bahagia dari serangan dan ciuman.
Jam mantra yang menyala seperti mercusuar.
Ketakutan pilot, kemarahan seorang penyelam buta,
mabuk mabuk cinta, di dalam kamu semuanya tenggelam!
Di masa kecil kabut jiwaku, bersayap dan terluka.
Sebuah pencarian yang hilang, di dalam kamu semuanya tenggelam!
Kamu berdukacita, Kamu berpegang pada keinginan,
kesedihan mengejutkanmu, di dalam diri kamu semuanya tenggelam!
aku membuat dinding bayangan menarik kembali,
di luar keinginan dan tindakan, aku terus berjalan.
Oh daging, dagingku sendiri, wanita yang aku cintai dan kehilangan,
aku memanggilmu di jam lembab, aku angkat laguku untukmu.
Seperti kendi kamu tempatkan kelembutan yang tak terbatas,
dan pelupaan tak terbatas itu menghancurkanmu seperti guci.
Ada kesendirian pulau-pulau hitam,
dan di sana, wanita cinta, tanganmu membawaku masuk.
Ada kehausan dan kelaparan, dan kamu adalah buahnya.
Ada kesedihan dan reruntuhan, dan kamu adalah keajaiban.
Ah wanita, kamu tidak tahu bagaimana kamu bisa menahanku
di bumi jiwamu, di salib tanganmu!
Betapa mengerikan dan singkatnya keinginanku terhadapmu!
Betapa sulit dan mabuk, seberapa tegang dan rajin.
Pemakaman ciuman, masih ada api di makammu,
masih dahan-dahan yang digoreng terbakar, dipatuk oleh burung-burung.
Oh mulut yang tergigit, oh anggota badan yang dicium,
oh gigi yang lapar, oh tubuh yang terjalin.
Oh gila harapan dan kekuatan
di mana kami bergabung dan putus asa.
Dan kelembutan, ringan seperti air dan tepung.
Dan kata itu nyaris tidak mulai di bibir.
Ini adalah takdirku dan di dalamnya adalah pelarian kerinduanku,
dan di dalamnya kerinduanku jatuh, di dalam kamu semuanya tenggelam!
Oh, lubang puing, semuanya jatuh padamu,
kesedihan apa yang tidak kamu ungkapkan, dalam kesedihan apa kamu tidak tenggelam!
Dari mengepul hingga mengepung kamu masih disebut dan bernyanyi.
Berdiri seperti seorang pelaut dalam haluan kapal.
kamu masih berbunga dalam lagu, kamu masih memecahkan arus.
Oh lubang puing, terbuka dan pahit.
Penyelam buta pucat, pengumban beruntung,
penemu yang hilang, di dalam kamu semuanya tenggelam!
Ini adalah jam keberangkatan, jam yang sangat dingin
yang malam kencangkan ke semua jadwal.
Sabuk gemerisik lautan membentuk pantai.
Bintang dingin naik, burung hitam bermigrasi.
Gurun seperti dermaga saat fajar.
Hanya bayangan yang berliku-liku di tanganku.
Oh lebih jauh dari segalanya. Oh lebih jauh dari segalanya.
Ini adalah jam keberangkatan. Oh ditinggalkan.
Mendamaikan rindu dan dendam setiap tahun
By : Harry Ramdhani![]() |
| bagus2 yha? gelang and gantungan, kesukaanmu. |
***
Apa yang kamu dapat di hari ulangtaun? Apa yang kamu harapkan? Ceritakanlah... biar dari jauh akan aku amin-kan.
Mari merayakan bengong!
By : Harry Ramdhani![]() |
| nyang aing bayangkeun tentang gopah! |
Rindu membuatnya berantakan lagi.*
kekuatan cinta kita ditakar?*
maka mustahil kita bisa sebegini tegar.*
Kewajiban Para Penyair
By : Harry Ramdhani![]() |
| ilustrasi (pixabay) |
Untuk siapa pun yang tidak mendengarkan laut
Jumat pagi ini, kepada siapa pun yang terkurung
di rumah atau kantor, pabrik atau wanita
atau jalan atau saya atau sel penjara yang keras;
kepadanya saya datang, dan, tanpa berbicara atau melihat,
Saya tiba dan membuka pintu penjara,
dan getaran dimulai, tidak jelas dan mendesak,
sebagian besar guntur mulai bergerak
gemuruh planet dan buih,
sungai parau banjir laut,
bintang bergetar dengan cepat di koronanya,
dan laut berdetak, sekarat dan berlanjut.
Jadi, tertarik oleh takdirku,
Saya tidak henti-hentinya harus mendengarkan dan menyimpan
ratapan laut dalam kesadaran saya,
Saya harus merasakan jatuhnya air keras
dan mengumpulkannya dalam cangkir abadi
sehingga, dimanapun mereka berada di penjara,
dimanapun mereka menderita celaan musim gugur,
Saya mungkin berada di sana dengan gelombang yang menyimpang,
Saya dapat bergerak, melewati jendela,
dan mendengar saya, mata akan melirik ke atas
mengatakan 'Bagaimana saya bisa mencapai laut?'
Dan saya akan menyiarkan, mengatakan apa-apa,
gema berbintang dari gelombang,
pemecahan busa dan pasir apung,
gemeresik penarikan garam,
teriakan abu-abu burung laut di pantai.
Jadi, melalui saya, kebebasan dan laut
akan membuat jawaban mereka ke hati yang tertutup.
*) A minhas obrigações, Pablo Neruda. Sebuah terjemahan Puisi
Untuk yang akan kembali dalam waktu yang lama
By : Harry Ramdhani![]() |
| untuk yang ditinggalkan |
'Anaknya' Gomah yang lain yang terakhir mulai hari ini bakal tinggal di asramah. Kuliah. Momen pas pamit tadi waktu seakan tidak bergerak maju. Semua yang lalu hadir: ingatan dan masasilam. Mereka, ingatan dan masasilam tadi, mencoba menahan untuk sebuah kepergian. Menjadi pahlawan kesiangan untuk menolak semua. Karena kepergian, biar bagaimanapun, selalu melahirkan korban: yang ditinggal dan tertinggal. Tapi waktu, sekali lagi, tidak pernah bergerak mundur: waktu terus tumbuh dan tidak ada yang bisa menahannya maju --meski lamat-lamat kesedihan dan kerelaan yang menetap. Pada momen semacam ini manusia hanya bisa pasrah akan kehendak Tuhan. Adil atau tidak. Menerima atau tidak. Namun begitulah aturan mainnya. Andai manusia bisa meminta, jawabannya hanya satu: jalani.
***
Seminggu lalu 'anaknya' Gomah itu bolak-balik mencari peralatan untuk di asramah. Beberapa sudah didapat dan sebagiannya lainnya belum. Ia datang ke rumah, menanyakan tempat menjual bantal dan guling ke Gomah yang murah. Harga itu relatif, murah atau mahal, namun yang pasti yang murah, tentu saja, selalu kalah nyaman dengan yang mahal. Tapi waktu itu Gomah tidak menjawab. Gomah masuk ke kamar dan keluar dengan membawa dua bantal. Pakai ini saja, katanya, biar tetep bisa ingat rumah. Tidak ada yang bisa diharapkan dari sebuah kepergian selain tetap bisa ingat bagaimana ada orang-orang di masasilam ini akan setia menunggu kepulangan. Ia menirama kedua bantal itu. Duduk di teras dan memeluknya. Entah apa yang dipikirkannya. Entah apa yang tengah dirasakannya.
***
Gomah punya dua anak lain. Yang satu sudah akan lulus kuliah. Satu lainnya yang akan berangkat ini. Yha. Sedari dulu aku ingin punya adik. Sampai akhirnya tetangga ada yang lahiran dan anaknya, keluarga kami anggap seperti anak sendiri. Dan aku seakan punya adik. Begitulah kedua anaknya Gomah yang lain itu. Sedari kecil selalu di rumah. Pulang untuk tidur malam di rumahnya dan paginya sudah main lagi ke rumah. Kedua anaknya Gomah yang lain itupun memanggil Gomah dengan sebutan "Mamah". Seperti jua aku tentu saja. Dan Peang yang terakhir ini. Keduanya tumbuh. Menjadi remaja dan dewasa. Dan Gomah, sampai sekarang, tetap saja menganggap mereka masih kecil. Bila di rumah mereka sedang tidak ada makanan, misalnya, mereka akan datang ke rumah untuk makan. Atau, jika air dingin di kulkas mereka habis dan mereka ingin minum, maka mereka akan datang ke rumah: mengambil gelas dari lemari dan menghabiskan satu botol air dingin sendiri. Tidak ada sekat. Bahkan walau kami berbeda keyakinan. Hidup kami jauh lebih tentram dari apa yang kalian kotak-kotakan. Setiap lebaran Gomah selalu memberi ketupat dan teman-temannya itu. Dan ketika natal, Gomah akan memberi ucapan selamat dan mengamplopinya. Tidak pernah jua kami terganggu jika di rumah mereka sedang latihan atau beribadah dengan menyanyikan puji-pujian. Kami bukan lagi sekadar saudara, lebih dari itu, kami berkeluarga. Dan ketika satu anggota keluarga pergi, tentu saja, anggota keluarga yang lainnya bersedih. Termasuk Gomah dan Gopah dan aku.
***
Sebelum tadi aku berangkat jumatan Gomah memanggilku yang sedang buang air besar. "Dek, lagi pegang uang kes? 50ribu aja," kata Gomah. Sambil sedikit ngeden, aku jawab ada di kantung celana. Ambil saja. Tadinya aku tidak tahu uang itu untuk apa. Toh aku tidak begitu peduli jua. Namun setelah jumatan Gomah bilang kalau uangnya untuk membekali anaknya yang lain itu. Nambahin. Aku bilang, kenapa engga diambil semua aja yang di kantung celana. Seingatku ada seratus ribu. Tapi nanti jua dia balik lagi, kata Gomah, untuk nantinya tidak kembali dalam waktu yang lama.











