The Pop's

Posted by : Harry Ramdhani November 28, 2020

 

ntap! dah beres.

"Teror!" barangkali itu kata yang tepat untuk menggambarkan kejadian yang terjadi pada seminggu ini. Aku merasa takut, kaget, bahkan tertekan. Bukan hanya aku, begitu juga dengan tetangga-tetangga sekitarku. Kumulai dari mereka dulu mungkin, ya. Jadi dalam seminggu ini, tetanggaku menerima telpon tak dikenal. Bergiliran. Ada yang menelpon sekitar pukul 2 dini hari, pagi, atau setelah magrib. Ya, itu telpon penipuan. Ingat, kan, dulu pernah ada modus penipuan lewat telpon? Jadi keluarga kita, kata di penipu, mengalami kecelakaan atau musibah lainnya. Kita diminta transfer sejumlah uang. Itu mungkin sudah bertahun-tahun lalu. Aku masih ingat tetanggaku yang ingin ditipu seperti itu. Dulu waktu dia masih kelas 2 SMU malah, tapi sekarang dia (baru saja) sudah menikah. Anehnya, yang sampai sekarang aku bingungkan, mengapa si penipu itu bisa tahu nama-nama keluarga kita? Tetangga sebelah rumahku kini hanya tinggal berdua di rumah. Ketiga anaknya sudah menikah dan punya anak. Sudah tua. Tapi sekitar pukul 6 pagi, tetanggaku mendapat telpon penipuan itu. Kagetlah awalnya! Tetanggaku langsung datang ke rumah, minta bantuan Gopah. Panik sekali --hampir menangis. Aku yang baru saja tidur, jadi terbangun. Ada ribut-ribut di teras rumah. Gopah menyalakan motor, langsung pergi. Aku tanya Gomah ada apa? Katanya baru dapat telepon kalau anaknya tetanggaku mengalami kecelakaan dan diminta mentransfer uang untuk biaya rumah sakit. Gopah pergi menemui anaknya, kebetulan rumahnya tidak begitu jauh, kira-kira 2 km mungkin. Tidak sampai setengan jam, Gopah pulang. Anaknya baik-baik saja dan tidak ke mana-mana, alias ada di rumah. Karena tetangga lain jadi keluar rumah, mereka juga katanya mengalami kejardian yang sama: mendapat telpon serupa. Untungnya tidak ada yang langsung mentrasfer sejumlah uang. Penipu itu gagal total. Bagaimana denganku, apakah mendapat telpon serupa? Tidak! Mengapa? Karena aku tidak punya telpon rumah. Namun, aku mendapat teror lain. Seperti biasa, jelang akhir bulan, aku dan Gopah mengerjakan laporan pajak untuk beberapa perusahaan. Tapi, di antara perusahaan itu, ada 1 yang aneh. Tiba-tiba saja ada transaksi di perusahaan yang selama ini tidak pernah melakukan kegiatan. Biasanya saya laporkan "nihil", karena biarpun tidak ada kegiatan, tetap saja mesti dilaporkan. Tapi tidak untuk kali ini, angkanya cukup fantastis: ratusan juta. Ada satu kegiatan di perusahaan itu dengan nilai ratusan juta, tapi tidak pernah tercatat. Karena transaksi tersebut senilai ratusan juta, maka pajak yang mesti dibayarkan juga terbilang lumayan: puluhan juta. Sebemarnya itu biasa saja, asal transaksinya ada. Lha ini, tiba-tiba saja ada tagihan sebesar itu. Aku telusuri semua lawan transaksi yang pernah bekerjasama. Tidak ada. Itu perusahaan baru. Pernyataannya: siapa yang menerbitkan faktur? Dan, siapa yang menandatangani faktur tersebut? Gopah langsung menelpon direktur perusahaannya, ia bilang tidak ada transaksi apa-apa. Gopah tanya apakah tahu nama perusahaan yang jadi lawan transaksinya itu, tidak tahu juga. Aneh bin ajaib sekali. Untunglah sistem perpajakan yang baru ini sudah online, jadi sudah bisa ter-update secara otomatis. Besoknya, Gopah mendatangi kantor pajak mencari tahu. Takutnya memang ada yang ngaco dari sistem pajak. Ternyata laporan dari orang pajak benar adanya. Ada transaksi dari perusahaan lain kepada perusahaan yang Gopah urus. Gopah minta data perusahaan tersebut untuk menelusuri sendiri --walau ada opsi untuk membatalkan, sih. Singkat cerita, perusahaan tadi memberi beberapa nama dengan siapa mereka berhubungan. Nama-nama itu tidak ada yang Gopah kenal. Lebih anehnya lagi, direktur perusahaannya sendiri juga tidak tahu. Gopah coba hubungi orang-orang yang melakukan transaksi diam-diam itu. Mereka mengaku terpaksa karena ada pekerjaan, kasarnya proyek, yang lumayan. Gopah kesal. Ia merasa dilangkahi. Dia juga mengaku "sudah diberi izin untuk mengambil alih" perusahaan itu. Gopah tentu saja ada di pihak direktur utama yang lama. Karena tidak begitu cara mainnya. Kalau mau oper-alih, tidak bisa karena izin seorang. Mesti ada notaris yang mengurus itu. Dia bilang nanti akan mengurusnya. Tapi, untuk saat ini, ia minta semua akses perpajakan untuk melaporkan. Gopah masih tidak mau. Karena memang selama ini Gopah yang mengurus itu --meski tidak dibayar! Aku katakan saja untuk kasih saja semua akses dan aset perpajakannya, tapi dengan catatan: mulai saat ini sudah tidak lagi mau ikut campur dan mengurusi semua hal terkait perusahaan tersebut. Gopah sepakat. Orang tadi senang, karena (mungkin) merasa menang. Semua akses itu Gopah kirim via wasap. Seketika aku jadi ingat ketika dulu pernah mengurus perusahaan itu. Bahkan sampai ditawari kerja di sana. Sayangnya aku tolak karena sudah bekerja. Jadi aku dan Gopah hanya membantu saja jika ada yang bisa dibantu urusan perpajakannya. Cukup lama. Bahkan ketika perusahaan itu ada masalah, aku dan Gopah sampai datang ke kantor pajak. Sialnya, sesampainya di sana, laptop yang kubawa malah dikatain sama orang pajak. Katanya, laptopku bisa meledak kalau dipaksa untuk menginstal aplikasi pajak yang butut itu. Ya, bagiku, yang butut dan usang itu aplikasi pajaknya bukan laptopku. Sejak saat itu aku tidak mau lagi ke kantor pajak tersebut. Jika ada apa-apa, aku cari sendiri caranya. Googling sendiri. Bisa kok, tanpa dikatain di depan umum seperti dulu. Tidak sampai 2 jam setelah Gopah memberi semua akses, orang itu kembali menghubungi Gopah. Tidak bisa melaporkan, katanya. Orang itu bilang, tolong untuk transaksi ini dilaporkan dan untuk ke depannya akan diurus sendiri. Aku bilang saja katanya sudah tidak mau lagi berurusan dengan mereka. Gopah diam. Karena memang hanya aku yang bisa mengoperasikanya. Aku tentu tidak mau. Aku sendiri masih ingat Gopah pernah bilang kepada orang-orang semacam itu, "dikasih nasi, minta lauk". Gopah masih diam. Aku tinggal mandi, karena baru selesai main basket. Lalu ketika aku baru saja mau makan, Gopah bilang, "yaudah bantuin saja dulu yang ini,  rezeki itu gak ada yang langsung jatuh dari langit, ada aja jalannya." Tanpa diberitahu seperti itupun aku sudah tahu. Aku hanya membayangkan, dengan lepasnya satu perusahaan itu, meski tidak dibayar, hilang satu penghasilan --namanya rezeki itu bukan hanya berbentuk uang kok-- buat Gopah. Aku taruh lagi piringku di meja. Dengan terpaksa aku kerjakan laporan pajak mereka. Aku tahu, jika sampai hari Senin tidak dilaporkan, maka mereka akan kena denda. Lumayan, 500ribu pula. Selesai. Aku kirim semua bukti lapor pada mereka. "Terima kasih," balas orang itu, tidak lebih.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Kangmas Harry - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -