Chat Parc
By : Harry Ramdhani
Aku
tahu bagaimana jadi Kamu.
Aku
bisa merasakan
apa
yang Kamu rasakan.
Boleh
‘kah Aku serahkan ini pada waktu ?
Siluet
itu telah menyinari tubuhmu,
tubuh
mungilmu.
Di
hamparan taman, Kau,
berbicara
sungguh meracau.
Aku
hanya mendengarkan.
Kamu
sangat jelas memaparkan
tentang
kisah lampau yang kelam.
Tapi,
Aku tidak menganggap itu suatu yang suram.
“Aku
tidak tahu apa yang sedang terjadi padaku saat itu.” Katamu.
“Aku
naik pitam karena ulahnya.” Sambungmu.
Aku
masih mendengarkan setiap kalimat yang keluar dari bibirmu.
Mungkin
Aku tampak seperti kerbau.
Tapi,
Kamu tidak berhenti meracau
Katamu,
“Hanya Dia yang mampu menopang segala tangis
dan
mengubahnya jadi tawa.” Sungguh tidak jelas,
bisik
hatiku, Aku meringis
karena
takut Kau benar-benar menangis.
Tolong,
jangan menangis !!
Aku
takut karena tak mampu mengubahnya jadi tawa.
Aku
takut karena Kamu membayangkan diriku adalah dirinya.
Masih
saja meracau,
Bagai
panas matahari dimusim kemarau.
Bagai
cahaya intan yang kemilau
Kamu,
dan
suaramu,
terlempar
jauh kemasa lampau.
Ingin
Aku menasihati, “Biarlah
Ia
adalah masa lampau yang kalah.”
Kembali,
Aku takut, takut ada yang Patah
dari
besarnya ketulusan cintamu yang merah.
Masih
di taman…
Dua
kelinci melintas. Satu
warnanya
putih dan satunya abu.
Memang
sedikit tabu
tidak
seperti biasanya ada kelinci di situ.
Padahal
Kamu sering mengajakku ke taman ini.
Di
sini,
Kamu
paling suka bermain lompat tali.
Karena
hanya itu permainan yang Kamu kuasai.
Dan
memang, tidak ada kelinci.
Pikirku,
pasti ada orang membawa kelinci ke taman.
Tapi,
tidak ada satu orang-pun di taman.
Hanya,
Aku dan Kamu.
Kelinci
siapakah itu ?
Ahh,
Kamu berdiri meninggalkanku
Untuk
mengejar kelinci itu.
Aku
menunggu.
Kamu
tidak bisa menangkap kelinci,
lalu
merenek seperti bayi.
Kamu,
meminta tangkapkan.
“Kamu
pernah punya kelinci,
pasti
bisa tangkapkan untukku.”
Aku
diam. Tampangmu seperti pengemis.
Pengemis
yang
mengharapkan uang dari para turis.
Kelinci
memiliki empat kaki, sedangkan kita dua.
Jelas
saja Ia lebih cepat berlari dari pada kita.
Kamu,
semakin muram.
tapi,
Aku suka.
Setidaknya,
Aku bisa melihatmu tidak
memikirkan
masa lalumu yang kelam.
Dua
kelinci tadi mendekat.
Senyummu
mencuat cepat
bagai
kilat
di
dinding langit gelap.
Sesegera
mungkin Kamu ambil coklat
dari dalam
tas.
Kamu
gemas
dan,
kelinci mengeliat keras.
Sudah
habis coklat yang Kamu berikan.
Kelinci
putih pergi.
Kelinci
abu juga pergi.
Air
mulai berguguran
baik
dari matamu juga langit… kini hujan.
“Aku
ingin tetap di sini.” Katamu.
“Biarkan
Aku di sini.” Pintamu.
“Apakah
Kamu ingin pergi ?” Tanyamu.
“Lebih
baik kita pulang,
hujan
semakin kencang.
Untuk
apa mengejar mereka yang pergi
dengan
tenang ?
Semua
telah pergi meninggalkan.
Aku
tidak ingin diam.
Walau
Aku bukan utusan Tuhan
tapi,
Aku
ingin mengajakmu pulang.”
Dan
Kamu, … diam !!
Tag :
#PekanAnyamanHUJAN,
Ada Sampah (tulisan) di Dinding
By : Harry Ramdhani
Pameran Sampah - Ada Sampah Tulisan di Dinding
Saptu, 22 Desember 2012
Sekretariat Fisikom, Unida, Bogor
ticket : 3k Pre-Sale or 5k On the Spot
liat juga link ini yaaah -> http://harryramdhani.blogspot.com/2012/11/pameran-sampah.html
Tag :
#PameranSampah,
Pameran Sampah
By : Harry Ramdhani
Eum, apa sih Pameran Sampah itu ? ada pameran sampah di
Dinding ? Sampah macem apa yang di Pamerin ? Kok dongo banget yak Sampah di
Pamerin. Sampah itu adanya di tempat sampah. Sampah itu udah gak kepake. Sampah
itu bau. Sampah itu gak berguna. Sampah itu jorok. Sampah itu kotor. Sampah
itu… yaa, Aku ini Sampah.
Jadi gini, apa yak, eum… Sampah. Temen gue, Pram , namanya,
tinggi badannya, bodoh isi otaknya. Pram, adalah pembaca setia tulisanku di
mading (kala masih menjabat di BEM-F). tiap mading itu di update, Ia adalah orang pertama yang bikin komentar. Anehnya,
komentar yang keluar dari mulutnya selalu sama, “Ahh, Sampah.” Ucapnya ketika
selesai baca tulisanku dan meninggalkan pergi tulisan yang tadi dibilang
sampah. Yaa, jadi itulah sampah.
Kadang, sampah kerap jadi masalah untuk semua. Masalah yang
dibiarkan tanpa diselesaikan-pun akan jadi sampah. Sampah yang mencemari
lingkungan, yang membuat pandangan tidak enak jika ada sampah, dan lain-lain,
dan sebagainya, dan seterusnya.
Nah ini, Aku pengen nyoba menawarkan Sampah kepada semua
orang. Sampah yang jadi sumber masalah. Kembali keawal, Pram selalu bilang
tulisanku itu ‘Sampah’. Jadi, Aku akan memamerkan Sampah berbentuk tulisan.
Segala macem tulisanku melekat mesara dengan dinding karena, bukan hanya bulan
yang bisa jujur kalau Tuhan mengijinkannya bicara tapi, dinding-pun bisa jujur.
Oleh karena itu, dinding itu akan Aku buat seakan berbicara segala hal tanpa
ada kepalsuan artinya, berkata jujur. Jujur di Negeri ini adalah hal yang langka,
sekalinya ada yang jujur, hebohnya minta ampun, contoh : ketika ada anak SD
yang jujur saat ujian, Ia melaporkan ke Ibunya dan lalu liat hasilnya, Ia
diudir dari kampung sendiri akibat jujur. Apa yang terjadi berikutnya ? media
masuk disana. Bukan untuk meliput kejujurannya tapi, membuat kisruh dengan
meng-adu domba doang. Hebohlah kejadian orang yang jujur itu.
Itu pertama, ada lagi yang melatar belakangi Aku membuat
pameran sampah. Selama orang-orang masih menilai sesuatu dari sosok ‘SIAPA’
maka, disini Aku sangat bahagia. Kenapa ? yaa karena itu, Aku ini bukan
siapa-siapa. Aku cuma seorang pria yang sedang menabur bunga di Twitter Hill
atas kematian sebuah rasa dari kepercayaan. Itulah orang-orang masa kini. Sosok
‘SIAPA’ masih sangaat kuat daripada ‘APA’ yang dilakukan.
Ada lagi nih, itu juga sekalian untuk merenovasi
perpustakaan Teras Baca. Dari yang Aku liat, kasian itu perpus, dibikin
bareng-bareng dan ditinggalin sama yang bikin bareng-bareng. Terlantarlah
Perpustakaan itu. Sedih. Makanya Aku tawarkan ticket untuk pengunjung Pameran
Sampah nanti.
Seperti apakah Pameran Sampah ? ketika semua tau tentang
latar belakangnya, maka kronologi kejadiaannya nanti begini saat Pameran Sampah
berlangsung.
Pertama, kita ngomong soal ticket dulu. Harga ticket yang
ditawarkan hanya 3k a.k.a 3rebu doang untuk pre-sale. Murahkan ? pastinya tapi,
itu masih dibagi-bagi lagi. 3rebu, artinya ada tiga uang seribu, seribu pertama
untuk Aku selaku subjek pembuat Pameran Sampah, kedua untuk orang-orang yang
mengurusi pameranku (anak buah-ku), dan yang terakhir Aku berikan untuk biaya
renovasi perpustakaan. Sayang sih, baru ada Program Bedah Rumah belum ada Bedah
Perpus. Oia, kalo beli pas Pameran berlangsung hanganya jadi 5k a.k.a lima
rebu. Pembagiannya masih sama tapi, duarebu tambahan itu untuk bener-bener
dialokasiin untuk perpus jadi biaya renovasi perpus dapet anggaran 3rebu. Ribet
yak ? padahal cuma duit rebuan doang.
Kedua, pameran itu dilakuin di dua tempat. Untuk tanggal 22
Desember 2012 adanya di Sekretariat Fisikom Universitas Djuanda, Bogor. Dan
yang kedua tanggal 30 Desember 2012 di Perpustakaan Teras Baca sendiri.
Perpustakaan Teras Baca itu ada di Bojonggede. Aseeeek, udah pada Bojong deh
sekarang pasca longsor rel Kereta Api di Cilebut beberapa hari yang lalu.
Tepatnya, ada di Perumahan Pondok Bambu Kuning. Jadi, kalo udah sampe Bojong,
tanya aja ‘Perumahan Bambu Kuning dimane, Bang ?’. waktu acaranya sih sama,
dimulai jam 09:09am sampe 04:04pm. Setelah itu Galery gadungan akan ditutup
rapat sebagai tanda ini telah selesai.
Ketiga, kalo masih belum cukup juga nanti hari seninnya bagi
para pengunjung yang udah dateng ke Pameran Sampah bisa beli langsung itu
sampah seharga serebu/lembar. Yup, seribu itu untuk biaya nambah-nambahin
renovasi Perpustakaan. Tapi, syaratnya hanya untuk pengunjung. Kalo belum punya
ticket bisa dibeli dulu ticketnya baru deh bisa beli sampah tersebut. tempatnya
masih sama di tempat Pameran. Contoh: tanggal 22 Desember 2012 itu hari saptu
dan seninnya tanggal 24 Desember 2012 sampah itu akan dilelang di Sekret
Fisikom.
Keempat, nah ini, Aku sendiri akan bergaya macem anak teater.
Bertingkah seperti anak teater gadungan selama Pameran. Jadi, nyesel kalo gak
dateng.
Begitu aja kali yaaaak ? SAMPAI BERTEMU NANTI DI PAMERAN
SAMPAH – ADA SAMPAH (TULISAN) DI DINDING.
Cc:
Anton Surahmat, inilah janji gue ke lu. Memang bukan
sebundel buku yang gue bisa selesein tapi, pameran sampah ini akan
mewakilinya. Janji tetaplah janji. Janji
itu kini gue tepatin.
Motion Radio 97.5 FM, terima kasih telah menemani selama
menulis semua bahan materi Pameran Sampah.
ShoutCap, nanti gue akan pake topi shoutcap HALF BRAIN
DAMAGED. Itu topi kata orang yaa ngegambarin gue banget jadi gue akan pake topi
itu. .
Indonesia Here We Up, terima kasih bajunya.
Nb: hasil yang Aku dapat akan Aku belikan buku CInta Miund
sebagai tanda maaf-ku kepada Nona Miund dan AKu taro di Perpustakaan Teras
Baca. Membeli sebuah karya dari hasil berkarya.
Tag :
#PameranSampah,
@MOTION975FM (motion 97.5 fm) Part II
By : Harry RamdhaniEum, ini udah kali kedua Aku nulis untuk Motion Radio. Sebelumnya, selamat untuk #Wayang975 season 3. Itu makin amburadul banget perut dengerinnya. Kocak. Mendingan nunggu episode baru tiap 2 hari sekali dibanding nunggu gajian yang sebulan sekali. Keceh pokoknya.
Oia, sampe lupa pengen nulis apa di sini…
Begini, punten sebelumnya, Insya Allah tanggal 22 Desember 2012, Aku pengen bikin #PameranSampah di Kampus. Dan, Aku bingung pengen ngomong ini ke siapa. Jadi, sebenernya Aku pengen izin aja sih sama Motion Radio kalau pengen nyetel Motion Radio seharian, selama acara berlangsung.
Bingung yah ? sama, Aku juga bingung. Padahal emang tiap hari Aku dengerin Radio ini sih tapi, untuk apa dengerin aja segala izin ? Pertama, Aku takut ada Mis-Communication dengan Motion Radio seperti yang Aku alamin dengan Nona Miund sampe akun twitter-ku di block sama diaa. Kedua, Aku anggap Radio ini adalah bagian dari keluarga baru di rumah-ku, Aku ingin mengikut sertakan Radio ini ke dalam acara-ku. Ketiga, sejak pertama Aku kuliah, Radio inilah yang nemenin Aku terus sampe bisa ngegiring pola pikir-ku terhadap apapun sampe Aku bikin Pameran ini. Semoga Aku diberikan izin oleh pihak Motion Radio untuk bisa nyetel saat Pameran.
Ini sih Pameran yang biasa. Namanya aja, #PameranSampah. Jadi, Aku bikin pameran sampah-sampah yang nempel di dinding. Biar keliat sok meng-exlusive ‘kan diri sendiri makanya Aku kenain ticket untuk bisa masuk pameran ini. Murah, cuma 3rebu perak. Sebagian dari keseluruhan penjualan ticket Aku sumbangin untuk perpustakaan Teras Baca. Itu juga perpustakaan-ku untuk umum. Lumayan, ada pemasukan biar-pun sedikit. Dan, yang terpenting adalah Aku bisa beli buku Cinta Miund. Sampe sekarang ngumpulin duit gak ketemu-ketemu juga duitnya untuk beli buku itu.
Harapan-ku sih sederhana, supaya bisa di maafin sama Nona Miund lewat Aku beli bukunya. Beli sebuah karya lewat membuat sebuah karya, Aku pikir itu keceh :)
Maaf, Motion Radio.
Tag :
#PameranSampah,
Behind the Scene #PameranSampah
By : Harry Ramdhani
Sore itu, mata kuliah Statistika Sosial, seorang pria
berbadan gempal menutupi jarak pandang dosen dengan gue yang duduk di
belakang. Siapa yang suka Staistikas
Sosial ? gue rasa sedikit tapi, gue suka pelajaran hitung-menghitung. Benar,
gue sedikit dari mahasiswa yang tidak suka mata kuliah itu. Entah kenapa, gue juga gak paham. Tapi, yang jelas gue suka hitung-menghitung
(bukan ngitung duit kayak mahasiswa Ekonomi) karena dengan menghitung gue bisa
memasukan rumus sesuka hati. Rumus
apapun itu kalau gue anggap cocok, maka gue akan gunakan. Mengerjakan soal hitung-menghitung sama
mengasyikannya dengan mengerjakan soal sosial.
Sama-sama doyan nyablak. Ditanya
‘A’ maka jawabannya bisa ‘A pangkat 11’.
Begitulah nikmatnya hitung-menghitung.
Angka-angka itu seakan pasrah tak melawan ketika ingin dipergunakan dan
dimasukan ke rumas mana-pun.
Dosen itu masih meracau, tiba-tiba teman gue, Anton, ngomong
“Gue tantang Lu bikin buku.” Gaya serius, “Lu ‘kan suka Statistika,
itung-itungan, jadi Lu bikin buku apa aja tapi pake rumus-rumus macem begini.”
Tangannya sambil nuunjuk buku catetannya yang gak jelas arah tulisannya. Walaupun tanpa diminta, gue juga lagi belajar
nulis, lebih tepatnya belajar bikin buku.
Dan kali ini gue merasa tertantang.
Maka tanpa ragu gue terima tawaran dari Anton. Disaksikan oleh calon bintang artis dangdut
Indonesia, Hafidz, kita bertiga bikin tanda tangan di buku catetan Anton bahwa
gue setuju nerima tantangan itu.
Sepulangnya gue ke rumah, langsung mikirin jenis buku apa
yang pengen ditulis. Akhirnya gue memutuskan untuk bikin buku yang judulnya ’22
Desember 2012’. Sengaja ngambil judul
itu karena ada beberapa alasan, Pertama, gue inget kalo dulu sempat mencuat
issue bahwa kiamat terjadi pada 21 Desember 2012 oleh suku maya di Meksiko. Kedua, tanggal itu sungguh indah karena pada
saat tanggal itu orang-orqng sudah menghitung mundur malam tahun baru. Ketiga, 22 Desember 2012 adalah 1000 hari
dari tanggal 29 maret 2010. Dan lain-lain. Dan sebagainya. Dan seterusnya.
Tapi, antara satu dan lain hal, ketika buku itu hendak
rampung di pertengahan Juni 2012 ternyata ada seseorang yang tidak suka akan
buku itu dan diminta untuk tidak diteruskan.
Yup, di situlah batas Hak Asasi Manusia, ketika apa yang kita lakukan
dapat dipertanggung jawabkan tetapi sudah mencampuri Hak orang lain maka batas
HAM itulah berada. Buku enggak gue terusin, dan lebih baik gue share aja di
twitter, lalu setelah semua di share terus gue ngapus file itu. Terima kasih telah menghentikannya. Terima
kasih atas segala cerita yan pernah gue share di Twitter.
Janji tinggallah janji. Wajib untuk ditepati. Kini, Pameran
Sampah sebagai ganti dari buku yang dulu pernah gue janjikan. Tidak seperti yang dibayangkan, karena sampah
tetaplah sampah. Sampah ada limbah. Sampah adalah sisa dari isi yang tertelan.
Dan sampah sekarang akan di Pamerkan.
Pameran Sampah – Ada Sampah (tulisan) di Dinding.
Semua berangkat dari temen gue yang sering nyeletuk setiap ada tulisan yang gue
temple di Mading. “ahh, Sampah.” Begitu kata temen gue. yaa, memang sampah.
Sampah ini akan gue pamerkan.
Tag :
#PameranSampah,



