Orangtua Tolol Adalah Kamu
By : Harry RamdhaniSelamat datang di dunia baru.
Aku perbah bertemu dengan seseorang, ketika ditanya, “Apa
mimpimu ?” Dengan cepat dan singkat Ia menjawab, “Menikah.” Tidak lama, “Aku
hanya ingin berjalan, perlahan, menuju rumah Tuhan, untuk mengucap janji
dihadapan-Nya.”
Bumi gonjang ganjing langit kelap
kelap
Pernikahan menjadi suatu yang sacral. Sacral karena adanya
sumpah kepada pasangan yang kita cintai, sumpah terhadap para orangtua kita,
sampai sumpah kepada Tuhan. Sumpah serapah bukan hanya sekedar sumpah wakil
rakyat ketika dilantik untuk mengabdi pada rakyat tapi, kenyataannya hanyalah
bualan warung kopi semata.
Kini, entah apa yang terjadi, pernikahan terjadi akibat
sedang dalam keadaan ‘mabuk asmara’. Tidak sadar. Pernikahan dianggap sebagai
garis akhir dari sebuah hubungan asmara. Inilah fenomena yang sekarang dianggap
biasa tapi memiliki konsekuensi yang luar biasa. Mereka (baca: orang yang
menikah dalam keadaan mabuk asmara) seakan lupa menjalani sebuah kehidupan
baru, lupa akan memulai dunia yang jauh runyam bak benang yang dibiarkan kusut
di lantai.
Memang, agama menyarankan, ‘lebih baik menikah dibanding
beriznah’ tapi, apakah hanya melihat dari sudut pandang ini saja ? Kalau meman,
Iya, apakah menikah sebagai ajang melepas hasrat birahi agar jauh dari dosa ?
Semakin runyamkah kehidupan dewasa ini ? apa yang terjadi ?
Melihat kebelakang, benar, orangtua kita menikah pada usia
yang muda. Benar, ada yang sengaja dinikahkan karena kepentingan politik. Sebuah
umpatan kuno untuk wanita , ‘buat apa sekolah tinggi-tinggi, kalau
ujung-ujungnya di dapur juga’. Itu dulu, kini tidak. itu dulu, kini masih aa
saja.
Kadang Aku prihatin dengan orang yang menikah muda. Prihatin
untuk segalanya, baik kepada calon Orangtua dan anaknya kelak. Bukan soal
pengalaman dalam mengasuh. Bukan soal akan bermain dengan anaknya nanti. Tapi
soal lingkungan yang ditimbulkan oleh pasangan muda. Perhatikan. Inilah konsep
hidup kebanyakan orang pada masa ini, lulus kuliah lalu kerja dua tahun dan diakhiri dengan ‘pernikahan’. Banyak yang
mengelak tapi tetap saja konsep ini dilakukan. Banyak yang setuju tapi dengan
alasan yang beragam seperti, agar jarak umur antara Orangtua dan Anak tidak
terlalu jauh. Logis. Memang ini dilakukan oleh orang yang berada di negara maju
tapi… ini Indonesia… Indonesia yang masih jadi negara berkembang… .
Lagi, dampak terhadap lingkungan dari pasangan muda. Kita
mkhluk sosial, kemanapun pergi akan bertemu dengan makhluk sosial lainnya. Aku
sempat menanyakan orang-orang yang ‘ingin’ menikah muda, “Jika nanti menikah
lalu berbaur dengan lingkungan baru, hal yang paling mendasar, apakah ikut
arisan RT setiap bulannya ?” Dan, 70% orang menjawab, TIDAK. alasannya beragam
namun benang merahnya adalah kita beda gengerasi jadi gak akan cocok dengan
ibu-ibu lainnya.
Jujur, memang arisan tidak terlalu penting dalam kehidupan
sehari-hari, Aku-pun tidak terlalu suka dengan arisan. Tapi, dengan arisan kita
jadi tahu siapa saja tetangga kita, siapa saja orang yang berada di lingkungan
kita, dan lain-lain. Itu penting, kembali, kita makhluk sosial. Arisan bukan
sekedar mengumpulkan uang-dikocok-keluar nama-ambil uangnya. Di sanalah terjadi
sebuah interaksi, interaksi sosial.
Aih… Alankah lucunya negeri ini. Aih… Alangkah bodoh rakyatnya.
Aih… Kenapa itu Kamu.
Bagiku, orang yang menjalankan konsep hidup tadi adalah
orang yang ‘Rugi’. Jelas sekali, rugi karena membiarkan ilmu yang telah didapat
kala bersekolah menguap karena ditelan waktu, tidak diamalkan. Rugi karena
kebebasan terkunci rapat dalam dalam hati.
Aku terhimpit oleh orang-orang yang menikah dan terjepit.
Aku ter-kotak-kan oleh orang-orang yang menikah karena pasrah pada keadaan. Aku
tidak ingin seperti mereka. Tapi, ada lagi yang terlupa, Aku sempat berpikir
MBA (Maried By Accident) menjadi momok yang bisa mencoreng nama baik sekeluarga
dan orang yang berada disekitarnya. Kadang, Aku berpikir, Single Parent menjadi
sosok yang hina karena mengasuh seorang anak seorang diri dan dianggap hina.
Tapi, semua telah berubah, telah menjadi lumrah.
Benar, jaman dulu MBA atau menikah karena kecelakaan atau
hami dilluar nikah dianggap mencemarkan nama baik. Tapi, setelah beberapa
perenunganku, namanya menikah pasti dikarenakan oleh sebuah kecelakaan.
Kecelakaan karena ditabrak sebuah mobil, mobil itu bernama mobil ‘cinta’, mobil
itu tidak kabu setelah menabrak tapi mobil itu berhenti kemudian menggotong
korban yang tertabrak ke Rumah Sakit Cinta bernama KUA. Pengemudi mobil tadi
bertaggung-jawab. Benarkan ? menikah karena sebuah kecelakaan ? Atau begini,
hamil diluar nikah, Aku pikir ini-pun telah menjadi hal yang biasa saja. Entah
apa faktor yang menyebabkan ini terjadi, Aku juga tidak tahu. Eum… yang jelas
orang pada masa kini tidak mempersoalkan hal yang dianggap ‘hina’ tapi orang lebih
melihat tanggung jawab yang dilakukan. Apabila benar hamil dan anaknya tidak
digugurkan, maka akan dirawat seperti biasa, tidak ada pengucilan hukuman norma
bagi pasangan tersebut. Semua lumrah.
Dan, Single Parent, inilah gaya hidup orang barat. Dulu, banyak
ketika terjadi perceraian dan sudah memiliki anak maka akan cepat-cepat mencari
yang baru. Tapi, kini tidak, perkembangan teknologi komunikasi telah membuat
segala informasi dan gaya hidup bisa didapat dengan mudah. Kini, banyak Single
Parent, paling banyak adalah wanita. Kenapa ? wanita dianggap tangguh,
pura-pura kuat, pura-pura sanggup. Penuh kepura-puraan.
Orangtua Tolol Adalah Kamu, yang membiarkan ilmu yang
didapat dahalu ketika menganyam pendidikan tapi dibiarkan menguap. Di mana jiwa
soialnya ? berbagilah ilmu dengan yang lain, yang membutuhkan. Amalkan ilmu
tersebut untuk memajukan Indonesia.
Orangtua Tolol Adalah Kamu, yang menikah karena mementingkan
nafsu birahi semata. Menikah karena sudah tidak tahan ingin berhubungan intim.
Takut berzinah tapi menghancurkan kebebasan dalam diri sendiri.
Orangtua Tolol Adalah Kamu, yang memiliki anak nanti ketika
menangis malah dimarahin. Anak itu dianggap tidak nurut maka terus-terusan
dimarahin. Siapa suruh dulu bikin anak.
Orangtua Tolol Adalah Kamu, yang membiarkan anak menangis
tapi biar gak nangis lagi marah dipukul. Orangtua tak ber-otak. Aku ingat,
sebenarnya menangis butuh konsentrasi. Maka, ketika anak kecil menangis hal
yang dilakukan adalah memecah konsentrasinya seperti, anak itu menangis karena
minta mainan dan tidak dibelikan Orangtuanya lalu menangis tapi yang dilakukan
Orangtuanya adalah memukul anak itu sambil marah-marah. Jelas, anak itu tidak
akan berhenti malah menagis lebih keras lagi. Padahal tinggal memecah
konsentrasi anak yang sedang menangis dengan mengalihkan perhatiannya. Cukup,
itu saja dan anak tidak akan menangis. Sudah TOLOL tidak Inovatif pula.
Berbagi suka dan duka bersama. Inikah menikah muda ? Tapi
Aku tidak suka. Aku lebih suka berbagi suka tanpa duka.
Tag :
OBSET,
Bertemu (calon) Aktivis
By : Harry Ramdhani
Ah, sudah tak tau lagi Aku
pengen nulis apa. Emang dasar batak. Susah banget dikasih tau. juancuuuk…!!
Soal apa lagi ? tulisan
‘Jancukers’-ku udah dicopot sama Pak Mulyanto. Aku udah nulis klarifikasi-nya
juga. Aku udah ketemu sama orang-orang yang kontra dengan pendapatku. Trus, opo
toh mau, sampean, cuuk ?
Bumi gonjang ganjing langit
kelap kelap
Suatu ketika, akhirnya ada
penengah atas kontroversi tulisan ‘Jancukers’ dan ketidak-pikiranku/ ora urus
atas perubahan warna almamater. Bukannya Aku ingin apatis terhadap kampus ini
tapi, memang tidak penting saja menurutku untuk terus-terusan tenggelam dalam
pro-kontra warna almamater yang sudah diubah.
Ketika calon aktivis, kita
sebut saja Ia, Pulan, datang menghampiri dengan segala wacana, datang dengan
segepook sejarah, datang dengan segepok berita panas. Aku tetap tidak akan
merubah pikiranku tentang perubahan warna almamater.
Bermula dengan segepok sms
yang datang karena protes atas tulisan yang telah Aku buat. Kita berdiskusi
ringan. Bermula dengan surat kabar local yang Sampean bawa. Kita mulai
melebarkan diskusi ringan. Tolol sekali Sampean ini, masa pengen terjadi kasus
Mahasiswa – Polisi di Kampus kita. Pikir, liat noh mahasiswa Fakultas Hukum,
isinya polisi semua. Berani, Sampean ?
Intinya diskusi kita adalah
Aku tetap pada konteks ‘Ora Urus-ku’ dan Sampean tetap lantang soal perubahan
warna Almamater. Kadang, ketika melihat Sampean bertindak, Aku terpikirkan dua
hal.
Pertama, entah ini hanya
perasaan saja atau logika asal-asalan semata, Sampean tampak sekali jadi tumbal
atas segala pemikiran teman-teman Sampean ini. jadi gini, teman Sampean yang
mikir dan Sampean yang eksekusi. Dan temen Sampean hanya duduk manis.
Ini kembali mengingatkan-ku
ketika diundang Provocactive Proactive di Metro TV untuk Ngompol (Ngomong
Politik). Bintang tamunya saat itu adalah Abang Usman Hamid. Wuiihh, siapa juga
yang ndak tau Abang kite yang satu ini. Tukang demo. Ia adalah sahabat alm.
Munir yang sampai sekarang masih aktif di KontraS. Ternyata demo itu penting,
karena demo merupakan jalan terakhir ketika suatu masalah masih tidak dapat
selesai. Jadi, kalau di negeri ini masih banyak yang demo artinya banyak
masalah yang tak kunjung selesai. Tapi, yang jadi pertanyaan adalah benarkah
orang yang Demo, turun ke jalan itu orang yang benar-benar menganspirasikan
pikirannya atas masalah yang tak kunjung usai ? Dan, disinilah Aku menemukan
jawaban. Ternyata, banyak orang yang turun ke jalan itu tidak mengerti
duduk-persoalannnya, sehingga tindak anarkislah yang terjadi saat demo. Dimana
para pemikir yang merumuskan semua ? dimana para provocator saat demo ? Di
belakang.
Kedua, menganggap demo sebagai
ajang seru-seruan. Yup, seru bagi kebanyakan orang orang adalah anarkis. Aku
tidak suka tindak anarkis tapi Aku lebih suka tindakan rusuh. Jelas, rusuh
dengan anarkis jauh berbeda. Rusuh akan Aku analogikan seperti penonton sepak
bola dan anarkis akan Aku analogikan seperti pendukun sepak bola.
Penonton sepak bola sering
sekali rusuh. Rusuh terhadap semangat yang coba di convert menjadi semangat
para pemain yang bertanding. Sungguh tidak asyik kalau menonton sepak bola
hanya diam saja, para pemain-pun sama sekali tidak semangat kala bermain.
Pendukung sepak bola akan bertindak anarkis kala ada pertandingan. Aku melihat
pendukung sepak bola itu fanatic yang berlebih. Apabila tim kesayangannya
sedang bermain dan ada penonton musuh yang sedang gembira karena tim-nya
mencetak gol maka pendukung yang tim-nya kemasukan akan marah terhadap penonton
tersebut. itu adalah tindakan tolol. Rusuh adalah memberi semangat dan Anarkis
adalah tindakan menentang semata.
Aku kasihan pada Pulan,
tindakannya hanya dijadikan alat oleh orang-orang yang hanya bisa cuci tangan
di kamar mandi, atau bahkan melakukan masturbasi. Dan yang terpenting adalah
KAMU yang menelpon malem-malem. Sikapmu sungguh anarkis. Masih saja marah-marah
atas apa yang telah diklarifikasi. Masih saja menentang atas apa yang ada. SEKALI LAGI, AKU (JANCUKERS) SAMA SEKALI
TIDAK MENGURUSI PERUBAHAN ‘WARNA’ ALMAMATER. Kalau memang muke lu ndak
asyiiiik di photo pake almamater baru, terima aje. Emang muke udah jawir.
Tag :
OBSET,
Sournois
By : Harry Ramdhani
Aku
berdiri dalam gelap. Tersungkur dalam
keheningan
malam. Berlarian dalam pikiran.
Terkapar
oleh angin liar.
Aku
melihat tiga bintang
berdekatan.
Bentuknya
mirip anak panah yang sedang
meluncur
bak deburan ombak . Meluncur,
memecahkan malam,
meleburkan dingin
keterpaksaan
perasaan.
Aku
masih kesepian . Sepi ini menerkam
sampai
dalam . Sakitnya mencuat dari
raut
muka
yang sudah pucat . Lukanya tak berbekas
bagai
tapak kaki di pantai lepas . Terbawa
ombak
tanpa mempedulikan akan kemana
bertepi
kelak .
Daun kering,
batu kerikil,
bungkus rokok,
sampai bunga mawar berduri
enggan
menemaniku dalam kesunyian.
Peribahasa
lama, ‘Menikam
telah
menjadi
sekam’,
sesuatu yang tidak berharga lagi. Jika
dijaga
akan tetap bernilai, tapi jika dibuka
sudah
tak bernilai.
Sepi membuatku kelap. Sunyi
membuatku
ingin bernyanyi . Angin malam
bersiul ketika
bertebaran dengan daun
didahan.
Langkahku bertinjak di atas
aspal .
menembus malam hingga gerbang
kesunyian .
Tiga jam lagi tugasku selesai.
Cahaya lampu
jalan masih setia menemaniku.
Embun
diatas rumput sudah mulai
Bermunculan
. Ayam-pun sudah siap
Membangunkan
. Matahari perlahan
memperlihatkan
fajarnya . Tidak seperti
putri
malu yang
menguncup ketika dikecup .
Satu per-satu lampu tengah didalam
rumah
Menyala . Tapi tidak
menyadari, masih ada
orang kesepian diluar . Bunyi
mesin air
terdengar bagai air terjun .
Masih juga tidak
menyadari, ada orang sedang
bermain dalam
kesunyian .
Aku seorang penjaga malam.
Kesepian
dalam kesunyian
Tag :
#PekanAnyamanHUJAN,
Ini Soal Almamater, IQ ??
By : Harry Ramdhani
“JANCUKERS
HIMAKOM
TIDAK
MENGURUSI PERUBAHAN ‘WARNA’ ALMAMATER…
KABEH
TERGANTUNG OTAKMU, CUUK !!” – begitulah tulisanku yang terpampang
rapih di mading BEM. (FYI: itu yang nempel bukan Akika, tapi Ahmid noh.)
Tulisan ini ‘terpaksa’
turun untuk mencerahkan Sampean, para IQ Melati (sebuah istilah di Republik #Jancukers. Pada dasarnya manusia memilki IQ,
dimana manusia memiliki otak untuk berpikir. Tapi, di Republik #Jancukers
terdapat tiga tingkatan IQ, yaitu IQ Melati, IQ Bintang, dan IQ Berlian. Yup,
IQ Melati adalah tingkat terendah) yang hanya melihat kulit dari pada isi.
Maaf, bukan untuk menyindir. Sumpah, Aku ndak ada maksud apa-apa.
Bumi gonjang ganjing langit kelap
kelap
Terkadang Akika suka heran
sendiri soal orang-orang mempersoalkan suatu yang hanya kasat mata. Pandji
Pragiwaksono pernah bilang dalam salah satu gigs
stand-up comedy, “Untuk itu ‘lah Indonesia butuh stand-up comedy, supaya negeri
ini sudah tidak ada lagi yang ‘sensi’ karena akan berujung pada konflik.
Bayangkan, kalau Indonesia terus-menerus terjadi konflik, kapan ada waktu
rakyat Indonesia bersatu untuk INDONESIA ?? banyak orang Indonesia hanya
menangkap apa yang diucap dari pada apa yang dimaksud. Lebih melihat Format
dari pada Isi.” (FYI: Sampai tulisan ini turun, Unida belum dapet ACC juga soal
#OpenMic di sini. Payah. Kalah sama Cianjur yang isinya cuma Kang Beras tapi
mereka sudah ada komunitas stand-up comedy yang diadakan rutin).
Banyak yang protes terhadap
tulisanku di mading BEM tersebut. bahkan ketika tulisan itu baru selesai dibuat
sudah ada yang komentar, “Ahh, nulis apa sih lu ?” Katanya sambil sostoy bareng
temennya. “Plis, tulisan Akik yang dibaliknya, bukan itu.” Aku jawab sambil
jengkel, udah sostoy nyindir tapi ndak bener yang di sindir. -_-*
Tulisannya selesai di tempel,
udah ada yang langsung komentar pula di Twitter, akun Aku samarkan “@ktimplung:
tapi kata2nya lebih ‘Mahasiswa yg berorganisasi’ coba deh. Itu dibaca orang
banyak lho.” Ada lagi, masih disamarkan akunnya “@grungheacih: sumpah, kata2
HIMAKOM kasar banget. Mahasiswa gak gitu kali nulisnya. Mau protes ? yg kritis
bukan sinis. Jelek2in nama HIMAKOM.” Dan masih ada lagi lewat SMS, wuihh
buanyaak buaanget deh. Aku sampai lempar pertanyaan di Twitter, “Sek-sek, kok
pada tau yah kalo itu yang nulis Aku ? padahal gak ada sedikitpun namaku di
sana.” Dengan cepat langsung ada yang nyamber, (lagi) akun Aku samarkan,
“@frityukAhhSini: YAIYALAH TAU. MANA ADA ANAK HIMAKOM YG SUKA NULIS ‘JANCUK’
??! -____- *sewot* “
Kala itu tidak Akika pikir
serius, guyon sih. Malah Akika mikir gini, ‘Akhirnya, ada juga yang suka
perhatiin Akika. Terima kasih, Tuhan. Engkau Maha Guyon’.
Nah, biar Aku tak kasih tau
sekarang, Iyaah bener, dikalangan orang-orang IQ Melati macem Sampean ini kata
‘Jancuk’ tergolong umpatan kasar, ndak etis, dll, dsb, dst… padahal dari sebuah
buku, berarti ada referensinya dong, di buku Jiwo J#ncuk karya Sujiwo Tejo
(@sudjiwotedjo) nah ini, Presiden Jancukers Indonesia, “#JANCUK asal kata
dancuk, bahasa arab da’ artinya meninggalkanlah kamu, assyu’a artinya
kejelekan. Karena logat Jawa jadi Jancuk.”
Jancuk dengan demikian bernasib
sama dengan ‘fuck’. Tadinya asosiatif dengan seks, tapi kemudia maknanya
meluas. Jancuk kemudian mengalami perluasan makna sehingga dipakai secara
meluas untuk berbagai situasi, senang, susah, marah. Karena maknanya telah
meluas, Jancuk memang tidak bisa lagi diartikan jorok, tapi tergantung konteks
komunikasi. Kembali, Jancuk sama halnya dngan fuck atau satu rumpun dengan
cukimay, sering dipakai untuk mempertegas muatan emosional dari kalimat. Jancuk
itu asli kosakata Surabaya. Artinya Jaran Ngencuk. Dulu pernah dibuatkan
seminarnya di Surabaya, bukan umpatan, hanya salam.
Seperti ini contohnya: #Jancuk!
Nang endi ae kon? (kemana aja lu) Muatan emosinya bukan jorok, tapi terkejut
ketemu teman. Kalo di bahasa Inggris: where the fuck have you been man? Bukan
jorok, tapi surprised.
Dan masih banyak lagi contohnya:
#Jancuk ketika disuruh bangga jadi orang Indonesia tapi buku sejarah ndak
direvisi. Sejak SD dibilang Indonesia dijajah 350 tahun, mestinya berperang!
#Jancuk kok dibilang 350 tahun dijajah, mestinya 350 tahun berperang. Yang
takluk kan keratin-keratonnya saja. Sementara pemberontakan rakyat terus di
mana-mana. #Jancuk. Karena sejak SD ditanamkan kita dijajah 350 tahun, bukan
perang, kita jadi minder sama bule sampe sekarang. Kalah dengan nego-nego kerja
mereka. #Jancuk tuh ketika bunuh diri ndak boleh, tapi kalo hidup ndak dikasih
lapangan kerja. Kenapa ndak blak-blakan saja bilang dilarang bunuh diri supaya
ndak berkurang pembayar pajak.
Kembali ke tulisan di mading, itu
hanya sebuah kalimat matematika yang keluar dari sebuah Logika Matematika. IQ
Sampan belum sampe ‘lah soal itu. Kalo memang Akika diminta agar ndak kasar
jadi nulis gini, ‘Oppa HIMAKOM tidak
mengurusi soal Almamater. Karena dengan Almamater ndak bisa joget Gangnam
Style’ atau ‘Oppa HIMAKOM
tidak mengurusi soal Almamater. Karena baik hijau atau biru sama sekali ndak
SuJu’. Apakah kedua itu Asyiik ? sama sekali ENGGAK. Akika orang
Indonesia. Indonesia punya buaanyak kebudayaan, bahasa yang lebih Asyiiik
Beraaat !! Akika selalu bilang di Twitter, “Kite nih sama sekali ndak ada
pantes2nya sampe tergila-gila sama itu, Korea. Ndak pantes. Liat aje dari muka,
muka orang kite melayu abies. Baru rada Korea muke kite kalo bangun tidur
doang, itu juga rada ndak enak, ada belek. Muke kite emng beda-beda, jelas,
karena dari beragam suku. Tapi, tetep aje, siapa-pun perantau yang dateng ke
Pulau Jawa udah pasti kena polusi orang-orang jawa pribumi. Jadi dah itu muke
Sampean, Jawir.”
Akika inget perkataan Mamiek,
Indonesia sangat kaya terutama Jawa, di Jawa terkenal dengan musik CampurSari
dimana beragam aliran musik bisa disatukan didalam Campursari dan semua orang
tau kalau ini adalah musik asli Jawa yang terkandung dalam perut Indonesia.
Untuk apa sostoy dengan pake-pake kata ‘Oppa’ biar tampak Korea, pakai ‘lah
kata ‘cuuk’ lebih Indonesia. Gamila Arif juga pernah bilang, “Perkaya seniman
dalam negeri.” Bagaimana ? dukung mereka, hargai karya mereka, jangan
dikit-dikit minta gratis. Contoh, temen Sampean sudah menghasilkan sebuah karya
dan suatu saat Sampean ketemu lalu dengan entengnya Sampean bilang, “bagi dong
karya lu.” Gimana seniman dalam negeri bisa hidup dari karyanya kalau teman sendiri
tidak mendukung, padahal yang tahu susahnya membuat sebuah karya adalah kita,
temannya. Apakah Sampean masih ndak pengen cinta Indonesia sekalipun sudah
melihat Sruti Respati ? Wuiihh, ayu tenan, cuuk. Bahkan Gus Dur pun mengajarkan
bahwa dalam Islam berlaku sebuah Akulturasi. Ndak usah sok ke – arab-arab-an
untuk bisa tampak Islam yang kece, jadilah Muslim, muslim Indonesia.
Ora urus Akika soal perubahan warna Almamater. Bagiku,
Almamater adalah suatu kebanggaan. Kebanggan yang timbul dari hati. Kebanggaan
yang bisa dirasakan oleh orang yang telah mengabdi. Kebanggaan bukanlah timbul
karena teman kita menjuarai sebuah kejuaraan lalu kita bangga. Kebanggaan lahir
ketika kita telah berbuat untuk mengharumkan nama Almamater. Selama belum
melakukan apapun, sila di gonta-ganti warna Almamater. Akika belum berbuat
apa-apa untuk Kampus ini. bagiku, orang yang jelas-jelas menolak pergantian
warna Almamater karena memang tidak ada cinta untuk Kampus ini. menuntut dan
terus menuntut. Aikau juga sempat menyinggung ini (baca: Almamater) dalam
tulisan, Orang Bilang Masturbasi.
Sila baca di sini -> http://harryramdhani.blogspot.com/2012/10/orang-bilang-masturbasi.html
Masih ingin marah ? Kenapa ?
karena kita berbeda. Dasar bodoh. Matematika Sampean sangat amburadul. Dalam
matematika hanyalah ada persamaan, tidak ada perbedaan, dalam matematika hanya
ada per-tidak-samaan. Untuk apa mengedepankan perbedaan ? toh pada dasarnya
manusia memang berbeda. Mukenye aje beda, satu Jawir dan satunya Tuwir.
Sebagaian otakku telah rusak oleh
orang-orang yang masih menganggap satu ditambah satu adalah dua. Aku berdikari
di atas semua posisi, karena Aku Oposisi.
Oleh, Seorang pria yang sedang menabur bunga di
Twitter Hill atas kematian
sebuah rasa dari kepercayaan.
[Give your comment on
Twitter with tagar #OBSET]
Tag :
OBSET,
