The Pop's

Showing posts with label Who's I'm Follow. Show all posts

#TerimakasihHilbram - Motion Radio

By : Harry Ramdhani

Saya masih ingat kali pertama diajak on air di Motion Radio 97.5 FM. Malam itu, di program #ULALA975 (Kumpulan Lagu Lama), topik yang dibahas itu tentang pertandingan pembuka Liga Champions Eropa. Dengan asal saya langsung mention @MOTION975FM, “sepak bola itu Arsenal, yang lain cuma tim-tim bola pantai dll dst dsb.” Tak lama setelah itu, pihak Motion Radio mengirim DM untuk meminta nomor telepon. Saya sangat tahu, kalau sudah diminta kontaknya berarti saya akan ditelepon dan ditanya secara on air. Namun, karena saya twitter-an menggunakan gadget jadul dan hanya suport writelonger, sehingga tidak ada –tanda atau simbol apapun– untuk pemberitahuan. Sampai 10 atau 15 menit barangkali, sebelum akhir siaran selesai. Lumayan, meski tidak bisa jadi penyiar di sana, yang penting suara saya sempat mengudara.
Malam itu yang sedang siaran adalah Vickie Lontoh. Sebelum on air – akhirnya saya tahu proses orang-orang sebelum itu – kita terlebih dulu janjian. Katanya, “nanti gue bakal tanya-tanya soal yang Liga Champions, dan lu jawab aja yang tadi di Twitter. Oke?”

Lagu Song For Mama mengudara. Lalu jeda iklan beberapa. Selama menunggu saatnya on air, saya berbincang sedikit dengan Viclon (nama panggilan Vickie Lontoh). 

“Jadi udah berapa lama dengerin Motion?” tanya Vicklon.

“Duh, berapa lama, ya, yang pasti dari awal-awal masuk kuliah, lha.”

“Emang kapan lu masuk kuliah?”

“Taun 2009-an atau ya, gak jauh dari itulah. Dan belum lulus.” jawab saya sambil ingin tertawa atau bersedih setelah mengucapkan itu.

“Wuah lama juga, dong,”

“apanya?”

“Dengerin Motion-nya, kok. Tenang.” Vicklon ketawa dari ujung telepon, “berarti udah berapa kali menang kuis?”

“Boro-boro menang, gue cuma ikut-ikut doang,”

“Aduh, sabar, deh, kalo gitu. Jangan bosen tapi ikutan kuis, siapa tahu nanti lu menang,”

“ho’oh, lagi pula gue dengerin Motion Radio gak melulu pengen menang kuis juga, sih,”

“oke, abis iklan ini kita langsung on air, ya, sekaligus closing,”

“okley! Tapi nanti akun twitter gue gak usah di tweet, yak, pas on air, lu tau sendiri, fanatiknya orang sini sama tim bola. Takutnya gue di-bully sama Motioners yang lagi dengerin,”

“Sip!”

***

DI RUMAH saya, radio, adalah satu-satunya barang elektronik paling berharga. Radio bukan semata barang elektronik biasa, tapi sudah seperti anggota keluarga. Ketika kami sekeluarga pergi, pasti radio tetap dinyalakan. Ketika saya susah dibangunkan, pasti Ibu saya menyalakan radio, dan dengan seketika saya bangun. Ketika dulu televisi di rumah saya rusak dan kondisi ekonomi keluarga kami sedang tidak baik (atau, sampai sekarang mungkin) untuk sekedar membetulkan, radio yang menemani setiap hari. Ketika malam hari Ibu saya sedang membuat kue untuk paginya dijual di warung sayur dekat rumah, radio seperti teman bicaranya. Dan, ketika saya tidak bisa tidur, lalu tidak ada yang mendongengkan, saya menyalakan radio – sialnya itu terbawa sampai sekarang, saya baru bisa tidur kalau sekeliling banyak yang bicara, seperti penyiar radio.

Pertemuan saya dengan Motion Radio hampir sama dengan pertemuan kekasih yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Ketidak-sengajaan. Saat saya sedang memutar-mutar tuning, mencari frekuensi radio yang tidak kresek-kresek, tiba-tiba terdengar suara Dagienkz. Suaranya sangat khas, karena dulu saya selalu mendengarnya siaran paginya ketika SMA dengan Desta. Aha! Akhirnya bisa dengerin dia siaran lagi. Dia itu penyiar terlucu yang pernah ada. 

Dari sanalah saya kenal penyiar-penyiar kondang seperti Miund – yang menjadi partner siaran Dagienkz – pada pagi hari. Dia pun tak kalah lucu. Pokoknya setiap pagi, sebelum berangkat kuliah, saya dibuat ketawa terus oleh mereka. Sorenya, ada Artasya Sudirman dan Hilbram Dunar. Dan, dari mereka berdua saya belajar tentang cinta dan dengan lepas menertawakannya.

Mendengarkan radio, bagi saya, seperti sebuh kebutuhan. Entah di ruang tunggu kampus, di ruang sekretariat fakultas, di Perpusrtakaan Teras Baca (perpustakaan umum yang saya buat bersama teman-teman saya) pasti saya menyalakan radio. Setidaknya dengan radio, kita bisa meredam ego masing-masing terhadap lagu atau jenis musik yang satu dengan yang lainnya berbeda. Bahkan, yang paling ekstrim, kalau Motion Radio topiknya sedang asyik beraaaat!! (Dagienkz suka sekali mengucapkan itu, “asyik beraaaaat!!”), saya tidak masuk kuliah. Dan pada saat yang bersamaan saya juga belum mengerjakan tugas. Cucok sudah!

***

Ah, siaran radio tanpa membahas cinta-cintaan serasa ada yang kurang, bukan?

Di Motion Radio, Hilbram Dunar rajanya. Barangkali dia terlalu banyak bertemu Om Mario Teguh sehingga begitu. Entahlah. Hilbram paling bisa membuat ‘cinta’ sebagai subyek, bukan obyek. Cinta tidak hanya dimainkan, tapi memainkan. Di mana ada Hilbram, entah siapa partner siarannya, selalu cinta yang menjadi suguhan utama. Yang membuat saya salut, Hilbram tidak cuma membicarakan ‘cinta’, namun juga menuliskannya menjadi dua buku kumcer. Sejak di Motion Radio, ia telah membuat dua buku: Plastic Heaven dan Main Hati. Saya punya keduanya dan saya hibahkan untuk Perpustakaan Teras Baca. Kedua buku itu yang paling suka dibaca.

Puncaknya, setiap hari rabu, bersama Miund membuat program #GuRih (Lagu Perih – lagu nyaman yang membuat hati tidak aman). Lagunya perih, topiknya pun tak kalah perih. Pernah satu waktu, Hilbram dan Miund menanyakan pada Motioners alasan menikah selain karena cinta. What a question?
Setiap rabu saya tidak pernah menjawab apa yang ditanyakan mereka. Pertama. Saya sibuk tertawa mendengar atau membaca jawaban Motioners yang pada nyeleneh. Kedua. Saya tidak terlalu expert dibidang percintaan; pacaran saja belum pernah. Tapi, saya bahagia bisa menertawakan dan merenung soal cinta dari Hilbram dan Miund.

*** 

Akhir tahun 2011 atau awal tahun 2012, saya lupa tepatnya, Dagienkz tidak lagi siaran di Motion Radio. Tapi, setiap mendengar #Wayang975FM, semua akan tahu kalau masih ada keberadaannya di sana. Tak lama, sebelum Artasya Sudirman melahirkan, ia pun mengikuti jejak Dagienkz. Dari kepergian mereka, seperti yang Hilbram ibaratkan di buku Main Hati, “Walau aku tahu bahwa segala sesuatu yang enak sekali pada hakikatnya hanya terjadi sekali-kali atau bahkan satu kali. (Check-Out)”. Tidak ada yang abadi, karena hanya ketidak-abadian itulah satu-satunya yang abadi. Barangkali. Saat itulah selama Hilbam dan Miund siaran, yang saya cemaskan dari dulu adalah siapa selanjutnya?

And than… Hilbram.

Entah, seketika saya tidak tahu ingin nge-tweet apa saat tahu kabar itu melintas di timeline. Sedih? Sudah pasti. Kadang kesedihan memang sulit dituliskan, tapi suatu ucapan terimakasih layak disematkan buat Hilbram; atas segalanya yang telah ia lakukan di Motion Radio. Sampai dua buku Kumcernya seakan yang membimbing saya dalam hal menulis apapun tentang cinta. 

Motion Radio seakan menjadi saluran untuk Hilbram menguji kisah-kisah cintanya yang kelak akan ditulis di bukunya. Dari semua tulisan saya tentang cinta – baik yang sudah saya tayangkan di blog atau e-book – itu seiring perjalanan saya menjelajahi buku-buku Hilbram itu sendiri. 

biarkan tetap gelap…
aku belum mau kehilangannya
biarkan tetap gelap…
supaya bisa kudekap erat tubuhnya
sambil kunikmati wajah yang tenang terlelap
jangan dulu terbit matahari…
aku belum mau ditinggal pergi
jangan dulu terbit matahari…
supaya bisa kukecup keningnya lalu hadir di hatinya
walau hanya dalam mimpi
– (Plastik Heaven, Gelap, hal 5)


#TerimakasihHilbram #HilbramMiundLastDay
Palmerah Barat, Gd. Kompas Gramedia Lt. 06, 18 Desember 2014

@MOTION975FM (motion 97.5 fm)

By : Harry Ramdhani
Tulisan ini bukan untuk menjelaskan bagaimana atau seperti apa ia. Tulishanya berdasarkan sedikit pengetahuan yang aku tau. Mungkin bisa saja seperti sebuah Delusi. Aku sadar, sebuah Delusi dapat menyebabkan suatu kesalah-pahaman antara satu dengan yang lain. Dan ini adalah sebuah alasan kenapa aku ‘nge-follow’ orang tersebut. aku hanya kesal karena pernah membaca sebuah coretan yang entah dimana itu, aku lupa pastinya, “ALASAN HANYA UNTUK SEORANG PECUNDANG”. Sederhananya seperti ini, aku Follow seseorang berdasarkan WAWASAN yang aku tahu, berdasarkan PENGETAHUAN yang aku tahu dan ini adalah sebuah alasan. Alasan yang membawa aku untuk ‘follow’ seseorang. Dan itu adalah KAMU


RADIO…


Eum… aku ingat ketika stasiun televisi dirumah rusak. Saat itu keadaan ekonomi keluarga kami sedang tidak baik. Papah sama sekali tidak punya uang untuk memperbaiki televisi, padahal saat itu acaranya sangat menarik seperti pemutaran video klip anak2 dimana lagu ‘diobok-obok’ dengan tuan Tukul yg menjadi model lagu tersebut yang sangat nge-hits. Dea Imut masih benar2 imut (aaa, sampe sekarang-pun masih imut ahh). Trio Kwek-Kwek masih pada cempreng2 suaranya. Aahhh, aku merindukan masa-masa itu.

Aku hanya bisa menerima dengan apa adanya. Terpaksa setiap ada acara tersebut aku selalu pura2 main ke rumah tetangga 2 jam sebelum acara, berharap cuma bisa numpang nongton. Dan berhasil. Aku melakukan itu selama 2 minggu. Hingga pada akhirnya papah hanya sanggup membeli Tape bekas di Poncol (yaa, ketika itu Poncol masih jual segala macem barang2 bekas). Merknya Pollytron. Hal pertama yang terlintas dipikiran adalah bisa mendengar lagu2nya Joshua walau lewat kaset. Ternyata eh ternyata, hanya bisa digunakan mendengarkan radio. Apa boleh buat, namanya juga bekas. Ucapan Papah ketika tidak bisa aku lupakan “seengganya di rumah gak sepi, masih ada orang yg ngoceh”.

Tidak ada stasiun radio yang memutarkan lagu2 anak, kebanyakan yaa… dangdut. Dan yang sangat senang pastinya Mamah, dari pagi sampe ketemu pagi dangdutaaaaaaaaan mulu. Saat itu aku masih kelas 2 SD dan aku sudah hafal lagu2nya Meggy Z, Rhoma Irama, Elvi Sukaesih, dll.

Singkat cerita. Masih dengan radio yang sama, masih tidak bisa digunakan untuk memutar kaset.
Saat itu hari Minggu, tidak ada orang dirumah, hanya ada aku, televisi yang sudah diperbaiki, dan radio tentunya. Aku iseng menyalakan radio, memutar Tuning untuk masih mencari radio dan taraaaaa… aku menemukan suara Desta Club 80’s. wuah, ternyata Desta selain sebagai Drumer Club Eighties juga seorang penyiar. Dan aku putuskan untuk tidak merubah saluran radio, karna ketika itu aku sangat nge-fans sama Club Eighties.
Tak diduga dan tak dinyana, itu adalah sebuah stasiun radio legendaries, Prambors. Suara Desta menemaniku setiap pagi sebelum berangkat sekolah. Ia sangat cocok ber-partner dengan Arie Dagienkz (@dagienkz) yg aku juga tahu dari acara Reality Show H2C (Harap-Harap Cemas). Aku sama sekali tidak merubah-rubah saluran radio, hanya Prambors.

Entah mungkin karena sering dinyalakan, akhirnya radio itu rusak. Lagi2 karena keadaan ekonomi, aku tidak bisa memperbaiki radio tersebut dan alternative hiburan kembali ke televisi. Sedih ? sudah pasti. Menungu radio bisa diperbaiki itu sama saja seperti menunggu panen buah. Setahun mingkin hanya satu kali.

Singkat cerita. Aku harus mencari Prambors diradio. Aku lupa tepatnya tahun berapa, kalau tidak salah awal Januari 2008 Desta dan Dagienkz tidak kembali siaran pagi di Prambors. Panda ‘lah yg mrnggantiakn posisi mereka siaran. Selama kurang lebih selama 2 tahun aku secara munafik masih mendengarkan Prambors. Aku sama sekali tidak menjelekan Prambors atau Panda, tapi untuk apa aku masih mendengarkan Radio itu kalau bukan oran yg aku suka yg siaran.

Kita akhiri membahas Prambors.

Seperti biasa, aku mulai mencari beberapa Frekuensi. Dan aku menemukan seperti Jak FM. Sungguh fantastis Radio ini. Sama sekali jarang ada orang yg siaran. Hanya rentetan 10 lagu yg terus diputar. Lama aku mendengarkan radio tersebut, seperti biasa, frekuensi hilang begitu saja. Kesal.

Aku harus putar-putar kembali tunes radio yg telah rusak untuk membaca angka. Berputar begitu saja. Kalau aku tidak salah ingat, pukul 9am. Yaa, aku mendenar suara yang telah lama hilang dari radio. Suara itu adalah suara Arie Dagienkz (@dagienkz). Wuihh, aku menemukannya kembali. Menemukan suara yang dapat membuat aku duduk manis didepan pesawat radio untuk mendengar Ia siaran. Dan nama Radio itu adalah MOTION Radio. Saat itu aku tidak tau frekuensinya krna alat pembaca di radioku telah rusak.

Aku langsung lari ke meja untuk mengambil solatip. Menyolatip pemutar tunes agar tidak bisa diputar2 lagi oleh siapa-pun.

Sungguh senang aku bisa mendengar suaranya kembali mengudara. Serasa menyempitkan seisi rumah yang telah sempit dengan suara khas dan banyolan2 tak karuan. Banyolan itulah yang sangat aku rindukan oleh seorang penyiar.
Dagienkz siaran berdua dengan wanita, tidak tau siapa tapi aku rasa Ia adalah pengganti Desta80s yang tepat. Mamah sempat berkata “suara siapa itu ? jowo tenan. Kayak logat orang jawa tengah”. Aku pun tidak tau, yang jelas membuat perutku terkocok oleh materi siaran mereka.
Kerap aku mencoba rekwes lagu ketika mereka siaran tapi sama sekali tidak pernah dijawab. Aku terus mencoba dan teuteup aja gak dijawab. Hhu :(


#FYI: ternyata wanita itu namanya (at)miund







Minggu siang, aku kembali memantengi Motion Radio.

Dan yang siaran ketika itu adlh Dinda Poerbono (kini udah gak siaran, entah kenapa?). aku coba rekwes via sms dan masih saja gak dijawab. Hingga pada akhirnya terlintas di kepalaku untuk membuat akun Twitter saat itu juga. Soalnya yang aku perhatikan yg dijawab oleh penyiar hanya orang2 yg rekwes via Twitter.

Aku membuat akun twitter dengan nama (@HarRam). Binggung juga maeninnya ktka itu. Maklum, anak pesbuk. Tak peduli, yang penting bikin, follow, trus rekwes. Itu yg aku tau di pesbuk kalau orang2 pada baru bikin twitter “Follow gue ya ditwitter @blablaaa”. Baru aku bikin dan follow @MOTION975FM ternyata lansung di Folbek. Begitulah yang aku tau dipesbuk setiap orang yg baru bikin twitter selain minta di follow ya minta di folbek. Aku senang, baru aja bikin akun ternyata langsung di folbek sama @MOTION975FM. Wuuuiiiihhhh.

Menjelang 2 tahun Motion Radio.
Ada salah satu teaser yg mengatakan bahwa nanti Hilbram Dunar (@HilbramDunar) dan Artasya Sudirman (@myARTasya). Yeay, Hilbram-pun ikut siaran di Motion 97.5fm. wuiih. Aku juga baru tau kalo ulang taun Motion selalu ada kuis yg namanya ASBAK (Asal Semua Tebak). Lama aku mengikuti radio ini sampai hafal nama2 Programny seperti siaran pagi itu #SlagiAda (Selamat Pagi Anda Semua) dari jam 6-10 pagi dan penyiarnya adalah Arie Dagienkz (@dagienkz) dan Asmara Miund (@miund). Aku suka siaran pagi ini, penuh dengan semangat, penuh dengan tawa, penuh dengan informasi. Aku paling suka adalah ketika adegan dengan Pak Polisi, Arie Dagienkz sebagai pak Polisi dan Asmara Miund sebagai pengguna jalan. Percakapan mereka sungguh menggelitik, seperti,

“Mbak dari mana ?” kata Pak Polisi.
“Dari Bogor”, kata Miund.
“Jauh juga, yaa. Berapa lama kesini ?”
“yaa, kira2 dua hari berkuda”.

Tidak hanya itu, setiap siang-pun ada Program Chik-Chat. Seru ‘loh, Isinya tentang wanita. Apa lagi penyiarnya Thisi Trensi. Kalau tidak salah, Ia dulu yg jadi penyiar #SeleraKita sebelum Hilbram Dunar dan Artasya Sudirman.

Dan ini, siaran sore. Mereka berdua menemani orang2 yg kena macet di Jakarta dengan menyayat-nyayat hati pendengar. Hilbram Dunar seorang penulis yg paling jago mengkondisikan suasana ditambah Artasya yg menimpali dengan lihai. Tapi, tetap dengan porsi yg tepat dan dibalut comedy. Hebat sekali mereka berdua itu.



Hilbram Dunar(@HilbramDunar) dan Artaya Sudirman (@myARTasya)

Sungguh sajian yg bisa membuat gue ‘wajib’ mendengarkan setiap waktu siaran Motion Radio. Kalau samapi ada yg kelewat, rasanya seperti ketika ujian tapi lupa bawa pensil 2B… (lebay gak sih ? enggak ahh)



Berkat Motion Radio, gue tau apa itu Stand Up Comedy.

Berkat Motion Radio, gue tau ada komunitas untuk lagu2 anak. Namanya Mari Nyanyi (@Lagu_Anak)

Berkat Motion Radio, gue jadi semakin yakin dengan radio. Bahwa radio adalah proses komunikasi dua arah. Lebih tepatnya Monolog dua arah. Penyiar bicara, kita bicara sambil membayangkan.

Berkat Motion Radio, gue mulai belajar menulis. Karna setau gue crew Motion itu rata2 penulis.

Berkat Motion Radio, gue jadi maenan twitter.


Kini Motion sudah 3 tahun. Andai suatu saat nanti ktka aku sudah waktunya untuk magang, mungkin gue akan memilih radio ini. Mungkin… kalau diterima.

Motion Radio ‘lah alasan gue maen twitter, Motion Radio ‘lah segalanya. Kini mereka sudah jadi anggota baru keluarga gue di rumah. Suaranya terus mengudara di seantero rumah gue anpa berenti.


#FYI: gue belajar maen perwayangan lewat sandiwara ‘Asal Muasal Pandawa dan Kurawa’. Kalian bisa donglot podcastnya di web Motion Radio. Kocak banget, sumpah. Melestarikan budaya Indonesia dengan sesuatu yang baru. Tidak penting kemasannya seperti apa, tapi isinya yg membuat kita nyaman untuk terus melestarikannya. Dan, sempet ditanyangin juga di Indosiar.



NB: dear, Miund. Maaf atas yg gue lakuin di Twitter dan semoga tidak terjadi apa2 nanti ketika proses melahirkan. Sakses.

sakses MOTION RADIO

segitu dulu aja kali yaak, gak cukup nih di blog.
rakyat Motion : 
Anton Nugroho, salah seorang yg bikin Pandawa dan Kurawa :

#SlagiAda :

ini Vito Gamma, yaa ?




SAYA Motioners, Kamu ?

- Copyright © Kangmas Harry - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -