The Pop's

Showing posts with label Stand-up Comedy. Show all posts

Tentang Hal-hal yang Pantas Dirindu di Panggung Open Mic

By : Harry Ramdhani


Apa yang cepat terlintas dalam pikirkanmu ketika pertama kali datang ke satu tempat makan pecel ayam yang barangkali sudah menjadi incaranmu sejak lama, lalu pada suatu malam saat lebaran perutmu sudah tak sanggup menerima ketupat dan sejenis pertemannya itu, dan ketika kamu keluar rumah seperti berada dalam sajak Sitor Situmorang Malam Lebaran –kecuali pecel ayam incaranmu– sedangkan perutmu butuh diisi demi melanjutkan sejarah keberadaban manusia di muka bumi, kemudian kamu pura-pura malu masuk tempat pecel ayam itu, memesannya, setelahnya kamu hanya disuguhkan sepotong ayam bagian dada yang garingnya amat kriuk itu,  seketika juga pas dimakan tak sesuai harapan?

Jika itu terjadi pada saya, maka saya akan mengumpat: “kalau sekedar garing, mending datang ke open mic. Di sana saya bisa dapat hal serupa, bahkan dengan porsi yang jauh lebih banyak.”

Tak ada yang lebih garing dari panggung open mic. Sungguh. Coba saja tanya Komika yang hampir setiap bulannya mencoba open mic barang dua atau tiga kali. Atau penonton setia open mic yang hanya datang demi melihat Komika idolanya menguji materi. Pasti yang kamu dapat akan sama, seperti saat kamu makan di tempat pecel ayam tadi.

Namun, dari semua itu pula, panggung open mic memang pantas dirindukan.
Kamu tidak akan bisa melihat seorang komikatiba-tiba lupa materi saat sedang seriusnya memaparkan set-up. Reaksinya yang tak terkontrol, bahkan ada yang malah tertawa sendiri seperti Dzawin, melongok kanan-kiri mencari petunjuk seperti Bakriyadi.

Hanya di open mic kamu bisa temukan suasana hening ketika tiga sampai empat komika, secara berurutan nge-boom. Penonton yang semula memperhatikan Komika malah alih perhatian ke makanan yang ada di mejanya. Kadang makanan sisanya diambil gambarnya untuk dipamerkan di akun sosial medianya, kadang ada juga yang masih menggali minumannya yang telah habis sampai menimbulkan bunyi gaduh sendiri.

Entah seberapa sering kamu melihat Komika yang selesai open mic dimintai foto bareng, tapi selang berapa lama, yang meminta foto itu malah tidak kenal oleh Komika barusan. Biasanya dalam kasus seperti ini Komika tersebut sangat lucu daripada Komika lainnya, atau Komika tersebut paling ganteng (maksudnya fotogenic).

Open mic memang sering menuntut rindu. Jumlah penontonnya yang tak bisa diperhitungkan di tiap minggunya, Komika mana yang sedang bagus, antrian Komika yang daftar untuk menguji materi di meja admin, dll., dst., dsb.

Barangkali kesalnya menonton open mic adalah puncaknya. Bayangkan saja, ketika kamu sudah mengajak teman atau lawan PDKT-an untuk menonton open mic ternyata yang diajak malah memasang muka bete. Tapi ketika mengantarnya pulanglah saat yang ditunggu: giliran kamu yang menghiburnya sampai temanmu itu ceria seperti biasa. Ini bisa dijadikan siasat caper paling maksimal dengan mengkambing hitamkan open mic demi mendapat hati pujaan juga pujian.
  
Barangkali juga, dengan menonton open mic, kita bisa belajar dari kepunahan dinosaurus yang mungkin karena bosan mengajak pasangannya menonton film di bioskop.


Perpustakaan Teras Baca, 2015 | Keterangan Gambar: Panggung open mic di bullwing [sumber: @StandUpIndo_BGR twitpict] 

Andrea Pirlo, Eka Doky, dan Tugasnya di Tengah

By : Harry Ramdhani

Barangkali hanya Andrea Pirlo yang sanggup sedikit lebih lama memegang bola, mengutak-atiknya, sampai membongkar dari sisi tengah lapangan –melihat pergerakan lawan dan penyerangnya yang bergerak membuka ruang –untuk mengirim umpan yang matang.

Sebagai pemain tengah, seperti yang di tempati Pirlo, memiliki peran yang sakral pada sebuah pertandingan. Kehadirannya tak ayal Malaikat yang bertugas menyampaikan wahyu pada Nabi dan Rasul. Tepat dan akurat. Terbukti dari data statistiknya setiap laga, ia melakukan pass accuracy sebanyak 89.1% dalam satu pertandingan. Terbaik di Serie A. Jadi pantas bila banyak pemain yang bermain dengan Pirlo pasti berpeluang mencetak gol.

Namun tidak sampai di sana saja, tugas pemain tengah pun sebagai penyeimbang. Maksudnya, pemain tengah mesti bisa menyerang dan bertahan dengan sama baiknya. Apa lagi dengan gaya permaian sepak bola modern seperti sekarang. Seakan-akan beban yang diberi oleh tim, setengahnya ada padanya.

Tidak hanya di sepak bola, dalam penyusunan line-up open mic pun berlaku hukum serupa. Peran Komika yang tampil di tengah adalah sebagai penyeimbang. Barangkali orang-orang yang cukup lama berkecimpung di dunia stand-up comedy tahu, seperti norma, hukum yang tidak tertulis namun mesti diikuti dan patuhi, ketika menyusun line-up mesti dibuka dan diakhiri oleh Komika dengan baik. Tujuannya sederhana, secara tidak sadar orang (baca: penonton) hanya mengingat pada awal dan akhir sebuah acara saja. Tapi, bagaimana jika line-up dalam satu open mic itu banyak? Maka disitulah peran Komika yang ada ditengah line-up: menyeimbangkan keseluruhan penampilan pada satu kali open mic.

Ada yang masih ingat #OpenMicBGR pada bulan ramadhan lalu? Disana Eka Doky menjalani tugas dengan sangat baik. Ia tampil di tengah-tengah line-up, menyeimbangkan open mic, dana memberi sedikit jalan untuk headliner –Komika yang tampil paling terakhir –untuk menutup open mic.

Entah disengaja atau tidak, Eka Doky sangat tahu betul tugasnya ketika ditempatkan di tengah-tengah line-up. Ia tampil tidak terlalu lama. Tiga sampai lima menit saja dari batas yang diberikan untuk setiap Komika, yaitu tujuh menit.

Ngng…, dari lima kali open mic di bulan ramadhan, Eka Doky tampil tiga kali. Ketiga penampilannya mampu dibayar dengan baik. Bahwa ia memang pantas mendapat tugas seperti Andrea Pirlo di tengah. Ia mampu mengembalikan ingatan penonton open mic, bahwa tadi dibuka dengan baik dan ditutup dengan baik pula, sehingga ingatan-ingatan yang baik itu setidaknya memberi penonton supaya nonton kembali minggu depannya.

Ada kalanya open mic itu membosankan, karena secara keseluruhan, tidak semua Komika yang sedang menguji materi itu lucu. Tapi, ada kalanya juga, menonton open mic itu menjadi jauh lebih menyenangkan, seperti halnya menonton sepak bola; di mana satu moment kecil saja bisa merubah keselurhan. Seperti yang sering dilakukan Komika-Komika yang mendapat bagian di tengah line-up.



Perpustakaan Teras Baca, 11 Okt 2014
ilustrasi: Eka DOKY twitpic's

Sekret Reformasi Nan-Sepi

By : Harry Ramdhani


Dulu, sekitaran tahun 1997/98, kampus lebih tepat di sebut untuk tempat yang menakutkan ketimbang tempat untuk mengayom pendidikan.

Bagaimana tidak, setiap hari hanya diisi dengan diskusi dan demonstrasi mahasiswa menentang kekuasaan Soeharto kala itu. Ya, mengatas-namakan 'aspirasi', halal dan haram tampak abu-abu. Karena yang dipikirkan mahasiswa hanya satu: menjatuhkan singgasana orde baru. Titik.

Hebatnya, saat itu, gerakan terjadi di seluruh Indonesia tanpa lagi mengenal kampus ini dan kampus itu sempat bermusuhan. Kepentingan pribadi dan kelompok disingkirkan. Seluruh mahasiswa saling mengepalkan tangan kiri tanda perlawanan. Bersama-sama turun ke jalan.

Setiap hari. Setiap ada mahasiswa yang diperlakukan tidak adil oleh polisi.

Kumudian, muncullah sekret-sekret yang di sebut Sekret Reformasi di setiap kampus. Di sana, rasanya sekret tempat paling aman; selain kostan, untuk aktivis kampus merencanakan agenda demonstrasi besok pagi. Inilah yang menyebabkan sempat ada slogan, 'Aparat dilarang merapat ke wilayah akademis'. Makanya, dulu, polisi atau pun tentara tidak bisa masuk ke kampus untuk menertibkan.

Kemunculan sekret reformasi ini saya rasa karena memang kostan tidak lagi aman. Dari laporan yang sempat di tulis Anton, Pustakawan Geng Salip, pada majalah Retorika, dulu kawasan kostan Universitas Djuanda (Unida) sempat di swiping oleh polisi untuk mencari DPO (Daftar Pencarian Orang) yang diduga adalah mahasiswa karena telah membunuh aparat. Salah seorang aktivis kampus dari Unida ditangkap di kostan. Barulah terjadi ledakan besar-besaran oleh mahasiswa dan aparat seluruh Indonesia. Dan, baru pada akhirnya terjadi penembakan pada beberapa mahasiswa dari Trisakti, Jakarta.

Sekret Reformasi tersebut sebagai benteng terakhir mahasiswa. Tak ada lagi tempat yang aman untuk mereka.

Karena itu, sebagai bentang terakhir, sekret reformasi tidak pernah sepi. Mahasiswa hanya bisa memanfaatkan keterbatasan supaya (tetap) bisa demo sepanjang hari-selama yang mereka inginkan: menjatukan Soeharto tercapai. Dari sekret reformasi itu pula mahasiswa orasi, mengajak dan terus menentang tiada henti.

Hari itu Soeharto tumbang. Mahasiswa menang. Rakyat bernyanyi dan menari kegirangan.

Reformasi telah terjadi dengan diangkatnya Habibie sebagai Presiden baru. Menggantikan Soeharto, yang telah mengibarkan bendera putih di Istana kala itu.

Satu hari. Satu minggu. Satu bulan. Perlahan sekret reformasi sepi. Merasa yang diperjuangkan telah didapat, mahasiswa pun meninggalkan sekret seperti tak pernah terjadi apa-apa. Bak kehilangan nyawa, bangunan sekret tak ayal sebuah jasad; yang lambat laun menjadi bangkai.

Sebenarnya, gerakan yang dilakukan oleh aktivis kampus dulu ketika demonstrasi dalam bentuk orasi tak jauh berbeda dengan stand-up comedy. Bedanya hanya stand-up comedy mesti mengemas dengan lucu suatu aspirasi, pendapat/opini.

Perihal tadi, sekret reformasi yang sempat dibuat mahasiswa untuk berlindung, itu pun dilakukan dalam stand-up comedy dengan membaut komunitas. Komunitas stand-up comedy. Ini sama-sama dijadikan wadah atau benteng terakhir untuk mereka supaya tetap bisa mengatas-namakan aspirasi sebagai bentuk perlawanan.
Hampir setiap kampus di Indonesia ada. Ya, hampir, karena kebanyak hanya di-ada-ada-kan saja. Ingin dianggap eksis lebih tepatnya.

Di Universistas Djuanda-pun ada Komunitas Stand-up comedy. Komunitas Stand-up Unida. Tapi, apa ini tergolong yang ingin eksis saja? Saya rasa tidak. Usia komunitas tersebut hampir dua tahun. Banyak event yang digelar. Beberapa Komikanya pernah perform di beberapa event stand-up comedy. Tidak banyak komunitas stand-up comedy kampus yang bisa bertahan selama dan seperti itu. Namun, apa kini bernasib sama dengan sekret reformasi yang sempat dibuat mahasiswa dulu? Saya rasa ini benar.

Lihat nasib sekret reformasi yang perlahan sepi karena tujuannya telah tercapai. Komunitas Stand-up Unida tampak begitu. Entah benar karena tujuan dari komunitas itu tercapai jadi sepi. Dari tujuan untuk bisa mendapat pasangan setelah bergabung. Tujuan bisa bertemu artis-artis stand-up comedy dari televisi. Tujuannya kini bisa membuat orang-orang yang tergabung di dalamnya mampu bicara di depan orang banyak. Atau, tujuan yang lain-lainnya yang saya sendiri tidak bisa memahaminya.

Komunitas stand-up Unida kini sepi. Saya hanya belajar memahaminya kalau memang nantinya akan membenci sebelum ada orang lain yang menyebut, "Dulu pernah ada Komunitas Stand-up Unida di Universitas Djuanda". Membangkai. Menjadi bangkai.

Atau, akan ada gerakan-gerakan baru dari Komunitas Stand-up Unida? Saya tidak tahu. Kita lihat saja nanti. Setidaknya itu yang terlihat saat ini.




Perpustakaan Teras Baca, 28 Februari - 04 Maret 2014
gambar: avatar Komunitas Stand-up Unida

- Copyright © Kangmas Harry - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -