Showing posts with label #NovL. Show all posts
Bibirku Terlepas (selepas) Ciuman
By : Harry Ramdhanidi antara buku-buku yang berserakan
kita larut dalam ciuman-ciuman yang memabukkan.
ciuman yang awalnya sebatas perbincangan
sebelum kantuk diselimuti malam
dan dingin menusuk hingga tulang rusuk terdalam
ciuman yang bermula hanya bisa kita bayangkan
bahwa di sanalah rasa tumbuh dengan beragam
pun, kesedihan dan kebahagian bak bayi kembar siam
di hadapan buku puisi Agus Noor
: Ciuman yang Menyelamatkanku Dari Kesedihan
ciuman ini dimulai dengan ketakutan-ketakutan mencekam.
Bibirmu dingin.
Dan kaku; membeku.
kau memejamkan mata
menikmati ciuman merabah jiwa,
bibirku terlepas,
tersangkut bibirmu setelah kita ciuman,
aku telah bohong, karena selain ciuman
aku pun ingin tubuhmu untuk mendobrak batas-batas
kesucian orang-orang kelas atas.
Perpustakaan Teras Baca, 25 November 2013
gambar: dari sini
Tag :
#NovL,
Malam Pengantin
By : Harry Ramdhani"Kesepian itu bukan pilihan, tapi sebuah tempat tinggal untuk jiwa yang mencari aman. Jiwa yang enggan bergerak dalam diam." - Lingga Wastu
Dulu, bulan madu merupakan yang ditunggu setelah pernikahan telah sah. Kini, melihat orang-orang yang banyak menikah karena 'kecelakaan', nampaknya lebih dulu bulan madu daripada dilaksanakannya pernikahan yang sah.
Di dalam kamar, di malam pertama, setelah aku secara sah menjadi istri terasa biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa dari tidur sampai pagi nanti membuka mata. Aku sudah rasakan semua dulu. Bahkan, lebih seru sebelum menikah, banyak fantasi-fantasi yang seketika muncul di atas ranjang.
Suamiku telah tertidur lelap. Aku menunggu kantuk tanpa sekali pun mulutku menguap.
***
Andai semua orang yang menikah tahu, kalau rasanya malam pertama dan bulan madu sudah terlebih dulu dilakukan sebelum menikah itu tidak enak, pasti mereka tidak akan berikan semua sebelum sah.
"Ayo, dong. Toh, nanti juga kita akan lakuin ini semua juga 'kan," aku ingat bujukanmu dulu, November empat tahun lalu, sebelum kita sah menikah.
Aku merasa menyesal dan malam ini aku ingin diam. Malam ini aku kesepian bersama cahaya lampu remang yang telah orangtua kita siapkan.
Perpustakaan Teras Baca, 8 November 2013
gambar: dari sini
Tag :
#NovL,
Kue Kering
By : Harry RamdhaniKatamu, "cinta itu seperti kue kering. Yang bisa tahan hingga lama walau pun nanti akan basi juga,"
TIGA hari yang lalu, di rumahku sibuk dengan persiapan pengajian. Pengajian di sini tidak hanya soal membaca Quran, tapi mesti banyak juga makanan yang dihidangkan. Aku sendiri tidak tahu kenapa mesti ada makanan, yang jelas kalau itu dilupakan bisa jadi bahan omongan. Maklum…, ibu-ibu pengajian.
Biasanya hal terpenting yang disiapkan untuk pengajian adalah makanan. Makanan apa yang sekiranya cocok dihidangkan dan tidak jadi bahan omongan. Dari cemilan sampai makanan yang dibawa pulang (orang-orang pada umumnya menyebut: besek). Sebagai anak yang mesti berbakti pada orangtua, jadi nurut saja bila disuruh ini-itu mencari makanan yang sudah ditentukan.
Pagi itu aku berangkat mencari makanan kering. Makanan yang tetap bagus jika dibeli H-seminggu sekali pun. Tempatnya cukup jauh, tapi katanya makanan di sana tidak ada didekat rumah dan harganya murah. Tanpa basa-basi, kakiku melangkah.
Toko kue kering yang cukup besar. Banyak makanan kering yang di pajang sampai masih terikat rapih di kantong plastik. Sialnya, aku baru tahu kalau makanan kering mengandung (cukup) banyak MsG. Baru satu menit di dalam, aku sudah pusing dan mencari sandaran.
"Mau cari kue apa, mas?" Kata salah seorang penjaga.
"Aaaa…, mau cari kue kering. Ada?" Aku bingung ingin bicara apa. Penjaganya cantik.
Ia mengenakan hijab yang enak untuk dipandang dan nampaknya cocok jika dijadikan pasangan. Tapi aku pikir wajar, laki-laki ketika disapa perempuan cantik pasti bingung ingin jawab apa. Sama sepertiku waktu itu.
"Di sini memang ingin tempat jual kue kering, mas." jawabnya ramah dan penuh senyum yang sama sekali tidak sanggup aku jamah, "maksudnya saya, jenis kue kering yang seperti apa yang dicari."
Kalau boleh jujur, aku mencari yang sepertimu, yang cantik dan pastinya baik. Jawabku dalam hati
"Ouw, iyah. Aku tahu, kok, mau liat-liat dulu boleh 'kan?"
"Silakan, mas."
Senyumnya itu, seakan aku kering dan bisa dengan mudah menjadi abu. Kamu cantik.
Sepanjang jalan pulang, aku terus memikirkannya. Andai aku punya kesempatan untuk ke sana lagi pasti tidak akan aku sia-siakan. Sayangnya aku tidak bisa basa-basi. Ketika di rumah pun aku baru sadar, entah kue kering apa yang tadi dibeli. Aku hanya sibuk curi-curi pandang dengannya dan sesekali menatapnya penuh harapan. Harapan kalau Ia pun sadar kalau aku terkesan pada pendangan pertama.
***
Tuhan selalu punya cara yang misterius untuk makhluknya dan tidak bisa duga sebelumnya. Aku bertemu dengannya, penjaga toko kue kering yang cantik itu, di tempat makan. Saat itu penuh dan hanya ada satu bangku yang tersisa. Bangku itu ada dimejaku. Ia duduk dengan senyum yang sama ketika di toko kue. Ternyata senyum itu perihal kejujuran. Di mana pun bisa dilakukan kepada siapa pun, bukan? Hari itu Tuhan sedang iseng. Teh manis yang Ia pesan habis dan teh manisku yang telah kupesan sama sekali belum diminum.
"Ini minum saja teh manisnya. Belum diminum, kok," kataku yang sama sekali tidak sadar kalau tadi sudah menuangkan empat sendok sambal. Dan, itu pedas. Laki-laki setiap bertemu perempuan cantik memang bisa hilang kesadaran seketika. Seketika perhatianku hanya padanya.
"Terimakasih," Ia menerima tawaranku.
Kita mulai bicara banyak setelah itu. Sama-sama membuka diri untuk memperislakan masuk hati tanpa perlu diketuk.
"Cinta itu seperti kue kering. Yang bisa tahan hingga lama walau pun nanti akan basi juga," katamu
"Semoga cinta tidak perlu MsG untuk menyedapkan rasa," timpalku, "cinta terlalu sedap untuk ditambah ini-itu."
***
Semoga malam ini tidak sedingin bulan November pada biasanya. Aku ingin bertemu untuk ungkapkan rasa yang suatu saat nanti mungkin bisa basi. Tapi tidak masalah, setidaknya hari ini aku bisa nikmati sebelum semuanya basi.
Di awal bulan November hujan bak bayangan. Mengikuti setiap langkah ke mana pun kaki ingin pergi. Seperti malam ini, hujan turun terlalu riang dari siang hingga malam. Dan, tidak memberikanku sedikit ruang untuk pergi dari rumah menemuimu, Aisyah. Di rumah, aku duduk di teras menunggu hujan reda. Perasaanku ini sudah tak kenal arah.
Entah mengapa malam itu juga kamu tidak bisa dihubungi. Mungkin sibuk. Atau, mungkin juga merasakan hal yang sama denganku: merasakan hati yang berkecamuk. Aku tidak tahu.
Kue-kue kering yang dulu pernah kubeli di tokomu itu masih tergeletak di meja. Tidak habis setelah pengajian. Aku hidangkan dengan kopi hitam, seperti sepasang kekasing yang tidak ingin diganggu oleh cahaya terang. Hanya gelap dan birahi yang bertindak.
Malam hampir usai, tapi tidak dengan hujan. Dan, aku, sibuk berselancar di sosial media karena diusir kopi dan kue-kue kering tadi. Beberapa kali aku perhatian timeline yang bergerak cepat. Orang-orang sedang mengalami seperti yang aku alami. Tidak bisa pergi ketika hujan tidak berhenti.
Sepintas aku temukan salah seorang pria yang gunakan avatar dengan seorang perempuan cantik. Itu kamu, Aisyah. Terlihat mesra bak pasangan muda-mudi. Aku baca-baca semua statusnya. Ternyaka benar itu kamu, Aisyah, istrinya. Kenapa dari dulu tidak pernah beritahu itu?
Cinta memang itu seperti kue kering. Yang remah-remahnya dibiarkan berserakan di lantai ketika sedang dimakan.
Perpustakaan Teras Baca, 7 November 2013
gambar: dikasih @fajarnugraa
Tag :
#NovL,


