The Pop's

merayakan gusti dengan lagu-lagu yang enak di kuping

By : Harry Ramdhani
tangkapan layar album "endikup" dari gusti yang ada di spotify.

Merayakan Gusti pada 6 Juli. Endikup dirilis dengan isi 9 lagu bareng 1 komika dan 4 musisi. Semua enak: didengar di kuping, lalu hangat di hati.


"Kok bisa musik dimainkan seasyik ini?" kataku, dalam hati.


Apalagi pas dengar lagunya yang bareng Hismi... Himzi... Hifdzi(!)khoir: we always together. Tak ada yang menjadi satu dengan-yang-lain. Gusti tetap Gusti; Hismi... Himzi... Hifdzi tetap Hismi... Himzi... Hifdzi (wth how hard to spell hifdzi' name is!).


We know how Gusti and Hifdzi dalam bermusik, kemuudian kedua keanehan itu disatukan. Jadi enak (juga) di kuping.


Dengar and perhatikan bagaimana Gusti bikin lirik ini: we always togther artinya kita selalu bersama selamanya.


Bukan hanya itu, lirik selanjutnya, dugaanku, itu Hifdzi yang isi: me tak kan pernah tinggalkan you, jangan pernah tinggalkan me, tapi indomie enak sekali.


Kata kucinya ada pada tiba-tiba "tapi indomie enak sekali". Terlalu Hifdzi itu, mas!!!


Bukan hanya itu. Tenang. Coba dengar lagu ini sambil memejamkan matamu. Betapa riang and senang musik dimainkan, lalu tiba-tiba terbayang --paling tidak olehku-- ada Hifdzi yang joget-joget dengan gemulai.


Dugaanku yang lain dari lagu ini adalah bagaimana nanti, barangkali, Hifdzi bisa nyanyikan atau di-cover oleh Orkes Pensil Alis (OPA), band orkes milik Hifdzi pribadi. Muktientut, tentu saja, bisa mengisi bagian Gusti pada lagu ini.


Lagi-lagi dugaanku, pada akhir lagu Hifdzi berorasi: dia sebutkan Eca, nama istrinya; dia sebut juga Nadeen Pribadi. Pada bagian ini, entah kenapa, aku menitikan airmata. Jatuh tanpa sebab. 


Cinta seorang Ayah pada keluarganya, barangkali, yang membuat bagian tersebut jadi sendu. 


***


Lagu lainnya, yang kusuka dari Endikup, yaitu "menunggu ujung". Kalau kamu coba dengarkan utuh album ini tanpa di-shuffle, ini lagu ke-9 dari urutan lagu-lagu lainnya.


Ketika semua lagu kamu telah dibawa bersenang-senang dengan enak, kemudian hanya pada lagu ini yang menyadarkanmu: bahwa Gusti telah meninggalkan kita.


This is surreal. Gusti menulis: tak bohong untuk sulit jalani hari/ karena hanya aku yang mengetahui/ dan menunggu ujung jalan... 


Ada sekitar 20 detik akhir lagu tersebut beisikan helaan nafas Gusti yang dekat, yang pelan-pelan hilang.


meng... cepet sembuh, dong!!!

By : Harry Ramdhani

 


i'm tired. i'm so freakin tired. forsure. kerjaan tiba-tiba banyak. numpuk. itu minggu lalu. emng gak ada kerjaan yang engga bikin capek, sih. tapi, ngng... at the same time, lu juga kayaknya lagi banyak kerjaan juga --plus, deadline buku puisi. apalagi mesti ke luar kota. bukan gak mau ngabarin atau sekadar nanya ini-itu, tapi emng udah keburu capek sama kerjaan. i don't want to share segala capeknya kerja to you. untungnya dulu sempet dibikinin instagram: seengganya jadi tau lu lagi di mana and ngapain aja. for me that's enough. makasi, ya, ternyata ada gunanya juga punya instagram. but, i'm still tired. i'm so freakin tired. forsure. aku selalu punya pelarian, for any moment: lawakan. dari minggu lalu, tiap ada jeda buat istirahat, selalu cari and sengaja apa aja yang bisa bikin ketawa. kalaupun bukan tontonan, bacaan sampe semua peristiwa yang ada, yang dicari pasti lucunya. itu macem udah jadi algoritma. kebentuk sendirinya. sampe satu waktu: keknya enak potong rambut. tiba-tiba aja kepingin and kepikiran. capek kerja kali, ya? entahlah, ya. saptu siang, kerjaan lagi gak terlalu banyak, minta gomah buat potongin. i know you have been on the way ke ciawi. makanya coba beraniin sekadar kasih tau: mau potong rambut. i know the respond could be... yaudah. tapi, gapapa. dapet libur seharipun, hari minggu, dipake baut seharian tidur. gak mau ngapa-ngapain. malah gak mau buka laptop. cuma mau tidur and lurusin pinggang. that's enough. walau sekalian (iseng) buat berani nanyain kabar via story(?) i know the respond could be... yaudah. diambil lucunya aja. and i got some joke for that respond in my tweet~ dan, besoknya. dan, besoknya. jarang banget kebangun siang-siang tuh kalau bukan karena laper --kecuali ada kerjaan atau udah janjian. biasanya kalau lagi masuk malem, pagi tidur, bangunnya tuh selapernya aja. gak laper, ya, lanjut tidur. tapi, siang itu malah tiba-tiba kabanget kebangun. i have a bad dream. i dream of you. lupa tentang apa, gak begitu jelas juga. tapi tiba-tiba ngajak jalan, tapi perginya cuma mau angkotan. kita pindah dari satu tempat ke tempat lainnya naik angkot. udah sore, mau magrib, kita pulang. i know something's weird happening: you're allowed to go to the toilet, and make up there. mau pulang, malah dandan. apa mungkin semua perempuan ngelakuin itu? i not familiar for that. kita pulang. pas di angkot pun saling diem-dieman. i got off first. angkot lanjut jalan. angkot yang ditaekin... and you still on there... makin lama... malah bukan jauh, tapi ilang. ilang and jadi bayangan. tiba-tiba kebangun. tiba-tiba kek orang bingung. laper, engga; mau lanjut tidur gak bisa. i'm thinkin' of you a-day-long. i feel bad, but i dont know what will gonna be happen. "hopefully you're aight over there, meng. damnit. tadi siang, sialnya, malah gak baek mimpiin lu. :(((" and the first time i read "we lagi sakit", tiba-tiba badan lemes. dari minggu lalu, walau capek kerja, tapi selalu dapet cara buat ketawa-ketawa. padahal, di waktu yang sama, lu malah sakit. mungkin ada di satu waktu: pas gue lagi ngakak nonton family feud, justru lu lagi ngeringis kesakitan. mungkin ada juga di satu waktu: gue pilih-pilih makanan, justru lu lagi gak ada pilihan mau makan apa. inget hal-hal yang udah kejadian minggu lalu bikin gue sedih sendiri. gue inget, gue pernah bilang: "gue cuman takut ada apa2. and pas lagi bgitu... gue gak bisa ngapa2in. for that moment, i feel i'm a loser." setelah denger semua vn, i feel i'm a loser. gue gak mau (lagi) kehilangan orang-orang yang gue sayang, tapi gue gak bisa ngapa-ngapain. kejadian yang lalu-lalu jadi keinget lagi. semua. maafin gue, ya, meng. gue takut, takut banget. gue takut lu ada apa-apa, tapi gue gak bisa ngelakuin apa-apa. walau gue juga tau gak banyak yang bisa gue lakuin. tapi, gue janji, meng: kapan pun lu butuh sesuatu, gue bakal usahain sekuat yang gue mampu. meng... cepet sembuh, dong!!!

keyboard flexible

By : Harry Ramdhani
tulisan ini dibuat menggunakan keyboard flexible. tolong hargai sedikit saja upaya saya menulis ini. tidak mudah! apa itu formula mengetik 11 jari, sepuluh jari. tidak ada apa2nya dibanding menulis --atau mengetik, mungkin-- dengan keyboard flexible. apakah ini teknologi yang kalian tunggu?
Tag : ,

diteror, ditipu, dikasih nasi minta lauk!

By : Harry Ramdhani

 

ntap! dah beres.

"Teror!" barangkali itu kata yang tepat untuk menggambarkan kejadian yang terjadi pada seminggu ini. Aku merasa takut, kaget, bahkan tertekan. Bukan hanya aku, begitu juga dengan tetangga-tetangga sekitarku. Kumulai dari mereka dulu mungkin, ya. Jadi dalam seminggu ini, tetanggaku menerima telpon tak dikenal. Bergiliran. Ada yang menelpon sekitar pukul 2 dini hari, pagi, atau setelah magrib. Ya, itu telpon penipuan. Ingat, kan, dulu pernah ada modus penipuan lewat telpon? Jadi keluarga kita, kata di penipu, mengalami kecelakaan atau musibah lainnya. Kita diminta transfer sejumlah uang. Itu mungkin sudah bertahun-tahun lalu. Aku masih ingat tetanggaku yang ingin ditipu seperti itu. Dulu waktu dia masih kelas 2 SMU malah, tapi sekarang dia (baru saja) sudah menikah. Anehnya, yang sampai sekarang aku bingungkan, mengapa si penipu itu bisa tahu nama-nama keluarga kita? Tetangga sebelah rumahku kini hanya tinggal berdua di rumah. Ketiga anaknya sudah menikah dan punya anak. Sudah tua. Tapi sekitar pukul 6 pagi, tetanggaku mendapat telpon penipuan itu. Kagetlah awalnya! Tetanggaku langsung datang ke rumah, minta bantuan Gopah. Panik sekali --hampir menangis. Aku yang baru saja tidur, jadi terbangun. Ada ribut-ribut di teras rumah. Gopah menyalakan motor, langsung pergi. Aku tanya Gomah ada apa? Katanya baru dapat telepon kalau anaknya tetanggaku mengalami kecelakaan dan diminta mentransfer uang untuk biaya rumah sakit. Gopah pergi menemui anaknya, kebetulan rumahnya tidak begitu jauh, kira-kira 2 km mungkin. Tidak sampai setengan jam, Gopah pulang. Anaknya baik-baik saja dan tidak ke mana-mana, alias ada di rumah. Karena tetangga lain jadi keluar rumah, mereka juga katanya mengalami kejardian yang sama: mendapat telpon serupa. Untungnya tidak ada yang langsung mentrasfer sejumlah uang. Penipu itu gagal total. Bagaimana denganku, apakah mendapat telpon serupa? Tidak! Mengapa? Karena aku tidak punya telpon rumah. Namun, aku mendapat teror lain. Seperti biasa, jelang akhir bulan, aku dan Gopah mengerjakan laporan pajak untuk beberapa perusahaan. Tapi, di antara perusahaan itu, ada 1 yang aneh. Tiba-tiba saja ada transaksi di perusahaan yang selama ini tidak pernah melakukan kegiatan. Biasanya saya laporkan "nihil", karena biarpun tidak ada kegiatan, tetap saja mesti dilaporkan. Tapi tidak untuk kali ini, angkanya cukup fantastis: ratusan juta. Ada satu kegiatan di perusahaan itu dengan nilai ratusan juta, tapi tidak pernah tercatat. Karena transaksi tersebut senilai ratusan juta, maka pajak yang mesti dibayarkan juga terbilang lumayan: puluhan juta. Sebemarnya itu biasa saja, asal transaksinya ada. Lha ini, tiba-tiba saja ada tagihan sebesar itu. Aku telusuri semua lawan transaksi yang pernah bekerjasama. Tidak ada. Itu perusahaan baru. Pernyataannya: siapa yang menerbitkan faktur? Dan, siapa yang menandatangani faktur tersebut? Gopah langsung menelpon direktur perusahaannya, ia bilang tidak ada transaksi apa-apa. Gopah tanya apakah tahu nama perusahaan yang jadi lawan transaksinya itu, tidak tahu juga. Aneh bin ajaib sekali. Untunglah sistem perpajakan yang baru ini sudah online, jadi sudah bisa ter-update secara otomatis. Besoknya, Gopah mendatangi kantor pajak mencari tahu. Takutnya memang ada yang ngaco dari sistem pajak. Ternyata laporan dari orang pajak benar adanya. Ada transaksi dari perusahaan lain kepada perusahaan yang Gopah urus. Gopah minta data perusahaan tersebut untuk menelusuri sendiri --walau ada opsi untuk membatalkan, sih. Singkat cerita, perusahaan tadi memberi beberapa nama dengan siapa mereka berhubungan. Nama-nama itu tidak ada yang Gopah kenal. Lebih anehnya lagi, direktur perusahaannya sendiri juga tidak tahu. Gopah coba hubungi orang-orang yang melakukan transaksi diam-diam itu. Mereka mengaku terpaksa karena ada pekerjaan, kasarnya proyek, yang lumayan. Gopah kesal. Ia merasa dilangkahi. Dia juga mengaku "sudah diberi izin untuk mengambil alih" perusahaan itu. Gopah tentu saja ada di pihak direktur utama yang lama. Karena tidak begitu cara mainnya. Kalau mau oper-alih, tidak bisa karena izin seorang. Mesti ada notaris yang mengurus itu. Dia bilang nanti akan mengurusnya. Tapi, untuk saat ini, ia minta semua akses perpajakan untuk melaporkan. Gopah masih tidak mau. Karena memang selama ini Gopah yang mengurus itu --meski tidak dibayar! Aku katakan saja untuk kasih saja semua akses dan aset perpajakannya, tapi dengan catatan: mulai saat ini sudah tidak lagi mau ikut campur dan mengurusi semua hal terkait perusahaan tersebut. Gopah sepakat. Orang tadi senang, karena (mungkin) merasa menang. Semua akses itu Gopah kirim via wasap. Seketika aku jadi ingat ketika dulu pernah mengurus perusahaan itu. Bahkan sampai ditawari kerja di sana. Sayangnya aku tolak karena sudah bekerja. Jadi aku dan Gopah hanya membantu saja jika ada yang bisa dibantu urusan perpajakannya. Cukup lama. Bahkan ketika perusahaan itu ada masalah, aku dan Gopah sampai datang ke kantor pajak. Sialnya, sesampainya di sana, laptop yang kubawa malah dikatain sama orang pajak. Katanya, laptopku bisa meledak kalau dipaksa untuk menginstal aplikasi pajak yang butut itu. Ya, bagiku, yang butut dan usang itu aplikasi pajaknya bukan laptopku. Sejak saat itu aku tidak mau lagi ke kantor pajak tersebut. Jika ada apa-apa, aku cari sendiri caranya. Googling sendiri. Bisa kok, tanpa dikatain di depan umum seperti dulu. Tidak sampai 2 jam setelah Gopah memberi semua akses, orang itu kembali menghubungi Gopah. Tidak bisa melaporkan, katanya. Orang itu bilang, tolong untuk transaksi ini dilaporkan dan untuk ke depannya akan diurus sendiri. Aku bilang saja katanya sudah tidak mau lagi berurusan dengan mereka. Gopah diam. Karena memang hanya aku yang bisa mengoperasikanya. Aku tentu tidak mau. Aku sendiri masih ingat Gopah pernah bilang kepada orang-orang semacam itu, "dikasih nasi, minta lauk". Gopah masih diam. Aku tinggal mandi, karena baru selesai main basket. Lalu ketika aku baru saja mau makan, Gopah bilang, "yaudah bantuin saja dulu yang ini,  rezeki itu gak ada yang langsung jatuh dari langit, ada aja jalannya." Tanpa diberitahu seperti itupun aku sudah tahu. Aku hanya membayangkan, dengan lepasnya satu perusahaan itu, meski tidak dibayar, hilang satu penghasilan --namanya rezeki itu bukan hanya berbentuk uang kok-- buat Gopah. Aku taruh lagi piringku di meja. Dengan terpaksa aku kerjakan laporan pajak mereka. Aku tahu, jika sampai hari Senin tidak dilaporkan, maka mereka akan kena denda. Lumayan, 500ribu pula. Selesai. Aku kirim semua bukti lapor pada mereka. "Terima kasih," balas orang itu, tidak lebih.

Tag : ,

diingetin pns!

By : Harry Ramdhani
teraskerja. alias kerja diteras

Kira-kira piye perasaane dadi wonge nyang saban bilang "sayang" cuman dibales karo dia: makasih. Piye, coba? Uuh... lha mending. Nih yha... gimana perasaanmu setelah beres kerja, ngerjain ini-itu, terus lanjut laporin pajak-pajak, bikin csv segala macem, pas mau laporin, taunya situs pajak error? Piye hayooo? Masih mendinglah. Pas kamu lagi kerja, usahain ngeloporin pajak,  mana internet butut, tapi tagihan tetep lanjut gak dipotong kompensasi terus dibilang sama PNS --PNS lho yha, alias angkatan lama-- gini: kalo kerja yang rajin. Kalo kerja yang rajin coba. Diingetib sama PNS: kalo kerja yang rajin. Piye coba, hah? Piye perasaane? Mana situs pajak masih error. Masih ndak bisa lapor! Kadang kokya aku jadi ngerti perasaane rengginang nyang terpakso dimasukin kaleng Khong Guan. Serius!
Tag : ,

Sudahkah?

By : Harry Ramdhani
bukan sekadar, buat nyang butuh, ini lebih dari segala hal.

Sudahkah di tempatmu ada seorang mustahik alias orang yang berhak menerima zakat, tapi dikecualikan hanya karena (1) berbeda pilihan politik dengan pengurus dan/atau pengelola zakat? Atau, yang lebih buruk lagi, (2) mustahik tersebut tidak mendapat haknya karena ia poligami dan miskin? Tentu orang-orang tersebut acapkali dianggap buruk dari berbagai lapisan masyarakat sosial. Hanya karena ia membela atau membicarakan politik dalam kesehariannya, mustahik tersebut tidak mendapat zakat. Hanya karena ia memiliki lebih dari satu istri dan dianggap bukan lelaki setia atau ia seorang wanita yang (mau) dimadu tapi kemudian tidak diperhatikan oleh suaminya, maka keluarga mereka, yang poligami dan dipoligami, jadi tidak mendapat pembagian zakat. Apalagi hanya karena sekadar (dianggap) buruk oleh lingkungan sosial, mereka jadi tidak mendapat zakat. Jujur, aku sampai tidak habis pikir ketika nama-nama mustahik itu dicoret. Jika hal tersebut terjadi di tempat tinggalmu, jelaskan saja ini: (1) fakir, orang yang tidak memiliki harta; (2) miskin, orang yang penghasilannya tidak mencukupi; (3) riqab, hamba sahaya atau budak; (4) gharim, orang yang memiliki banyak hutang; (5) mualaf, orang yang baru masuk Islam; (6) fisabilillah (pejuang di jalan Allah; (7) ibnu sabil, musyafir dan para pelajar perantauan; dan (8) amil zakat, panitia penerima dan pengelola dana zakat. Jadi sila tempatkan orang-orang tersebut pada delapan (8) kriteria tersebut. Buatku itu sudah cukup. Tetapi jika memang orang-orang tersebut pada akhirnya menerima dan ocehan kalian tidak henti-hentinya mencibir, semoga ada yang bulan latihan lain buat kalian, selain ramadan.
Tag : ,

Sebuah catatan tentang seorang laki-laki yang tidak memakai dompet

By : Harry Ramdhani
nasi goreng enak: rindu malam. lokasinya di depan kantor kompas gramedia, palmerah barat.

Beberapa temanku, sampai hari ini bahkan, masih suka terheran ketika aku mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu dari dalam saku dalam kondisi yang menyedihkan: terlipat tidak kruanan. Dan karena itu pula aku jadi sering mengulang alasanku, bahkan pada orang yang sama, melakukan hal itu. Satu alasan yang utama adalah aku tidak suka menggunakan dompet. Sejak dulu bahkan. Sejak aku mulai mengenal dompet bisa dugunakan untuk menyimpan uang, selain celengan di rumah. Apalagi setelah aku mulai sering mengumpulkan uang jajan sekolah yang kemudian uangnya aku gunakan dengan sia-sia. Mentraktir makan pacar, misalnya. Sejak saat itu aku jadi akrab dengan dompet. Setidaknya aku menjadi laki-laki umum lainnya: di mana di saku celana belakangku akan terlihat sedikit membungbug karena tersimpan dompet. Akan tetapi itu tidak berlangsung lama. Nyatanya aku tidak suka. Alias tidak nyaman ada yang mengganjal di kantung celana. Seperti ada kepalan tangan yang sedang menempel di bokong. Ih!!! Karena itu pula akhirnya aku tidak lagi menaruh dompet di celana dan aku ganti dengan menaruhnya di tempat lain: tas. Ternyata itu tidak menyelesaikan permasalahan, justru membuat dua (2) permasalahan baru, yaitu (1) aku jadi suka membawa tas ke mana-mana dan (2) setiap ada urusan bayar-membayar aku jadi suka membuka-tutup tas. Melelahkan dan ribet. Namun, pada satu kesempatan aku terselamatkan saat di mana aku jarang --atau tidak punya-- uang. Aku jadi tidak akrab dengan dompet. Dompet jadi sesuatu yang-tidak-ada-pun-tak-mengapa. Aku masih bisa baik-baik saja asal masih bisa beli rokok dan kopi dan buku dan jajanan murah pinggir jalan lainnya. Setidaknya uang yang kupunya sebatas untuk itu. Kantung celana, tentu saja, masih memungkinkan untuk itu. Kebiasaan ini ternyata mengikutiku sampai aku bisa punya penghasilan sendiri. Setiap ada kiriman uang bulanan, aku jadi suka mengambilnya sedikit untuk yang aku perlukan saja. Kalau ada kebutuhan lain, semisal mengetahui akan ada antrean di banyak mesin ATM, maka pada satu waktu aku akan mengambil uang dalam jumlah yang sedikit lebih banyak dari biasanya. Uang tersebut tetap aku simpan di kantung celana, tentu saja, sampai pada waktunya teman-temanku akan melihat aku mengeluarkan lembaran uang ratus ribuan dari dalam kantung celana, lalu ditanyakan lagi kenapa. Maka, bila laki-laki itu dinilai dari model dompet yang digunakan dan/atau isi dompetnya, tidak dinilaipun aku tidak mengapa. Sebab, dompetku akhirnya menjadi tempat di mana aku menyimpan segala macam tiket nonton bioskop, tiket nonton konser dan lain sebagainya yang pernah aku lalukan untuk sesuatu yang sia-sia, dulu, bersama pacar. Oh, bukan, barangkali mantan, lebih tepatnya.
Tag : ,

Lelucon (tentang) pemilu serentak 2019

By : Harry Ramdhani

Aku punya dua lelucon tentang Pemilu Serentak 2019: (1) ketika kerja petugas KPPS disamakan dengan tim kreatif Trans TV atau Net. oleh seorang yang namanya ada di Wikipedia; (2) bahwa tahun 2024 kembali diadakan pemilihan umum dan diselenggarakan oleh lembaga yang sama yang telah secara tidak langsung membuat 90 orang meninggal dan 300 orang lainnya sakit. Tidak lama, ahirnya finally, sebutan "pejuang demokrasi" muncul. Jika ada nyang lebih lucu dari ini tolong kabari. Aku tak ingin ketinggalan lelucon 5 tahunan ini.
Tag : ,

Seberapa kuat aku menerima kehilangan?

By : Harry Ramdhani
huntinghuji - jalan.

Setidaknya sudah 2 malam, sebelum aku dan peang tidur, kami saling mengelitiki. Bercanda. Sampai kami lelah. Dan tidur. Begitu juga yang terjadi di malam ketiga. Bedanya setelah peang tidur, kali itu aku memikirkan sesuatu: akan sampai kapan kami bisa bercanda seperti ini sebelum tidur? Pertanyaan itu membuatku keluar dari kamar. Menuju teras. Membakar satu batang rokok dan berusaha menjawab pertanyaan tadi. Tidak ada yang aku temukan. Waktu sudah menunjukan pukul 12 lewat. Aku bakar rokok kedua. Sambil memikirkan itu aku coba merealisasikan apa yang aku bayangkan. Begini. Sekarang peang sudah kelas 3 SD. Sebentar lagi dia naik kelas. Dan begitu seterusnya. Bukan sekadar naik kelas, tentu saja, peang akan bertambah usia dan dewasa dengan sendirinya. Lalu aku membayangkan: apakah peang masih mau bercanda seperti itu, sebelum tidur, jika ia sudah kelas 6 SD, misalnya? Aku tidak yakin, mesti itu masih mungkin. Kenapa? Sebab aku ingat bagaimana dulu aku seusia itu. Aku masih "ngekor" gomah ke mana-mana. Kadang tidur dengannya. Nonton tv masih suka dimeminjam pahanya. Dekat. Sangat dekat --bila tidak ingin dikatakan aku ini anak mami, tentu. Dan itu aku bisa bayangkan terjadi hal serupa oleh peang. Itu jika aku bayangkan yang aku inginkan. Bagaimana jika tidak? Bagaimana kalau peang sudah kelas 4 SD, ternyata ia bahkan sudah tidak ingin tidur denganku? Tidak akan ada lagi keisengan-keisenganku sebelum tidur. Atau yang lebih menyedihkan: peang itu kalau tidur sukanya kalau tidak dipeluk, ia yang memeluk. Kadang, ketika aku masih kerja sambil menemani peang tidur di sebelahku, ia akan dengan sendirinya memiringkan badan dan memelukku. Tentu aku akan kehilangan. Tanpa terasa aku sudah menghabiskan 3 batang rokok dengan sekotak susu UHT rasa cokelat. Aku takut semua yang aku bayangkan terhadap peang menjadi kenyataan dalam waktu dekat --jikapun masih lama dan bila waktunya tiba apakah aku akan dan/atau sudah siap? Tidak. Tentu aku tidak siap. Rokok keempat sudah di tangan, tapi aku mesti tidur. Itu sudah hampir pukul 2 dan besoknya aku mesti berangkat pagi. Aku masih memikirkan itu dan pada kondisi yang sama. Tapi tiba-tiba terbersit pikiran untuk datang aksikamisan. Apa aku datang ke aksikamisan saja? Yha. Paling tidak datang dan menyaksikannya dari jauh bila aku tidak mampu mendekat, berkerumun dengan para penyintas dan peserta lain. Aku hanya ingin tahu: bagaimana tetap mampu menyikapi sebuah kehilangan? Paling tidak melihat mereka yang sudah terlebih dulu kehilangan, bukan oleh waktu, tapi kenyataan. Dan tadi, sialnya, aku datang dan aksikamisan telah selesai. Tidak ada sesiapa, kecuali aku, di sana dengan membawa pikiran yang sama. Seberapa kuat aku mampu merelakan kehilangan?
Tag : ,

Belerdikari, antara Dany Beler dan Komedi Hari Ini

By : Harry Ramdhani

Ahirnya finally: satu per-satu komika (asal) Bogor membuat mini show stand-up comedy. Sesuatu yang (mungkin) sudah lama ditunggu --aku adalah satu di antara mereka itu. Sebelumnya, jika masih ada yang ingat, ada Kang Irawan, lalu yang belum lama ini Ridwan Remin. Baru 2 itu saja? Yha. Tapi dalam rentang waktu tersebut ada beberapa pertunjukan kolaborasi lainnya seperti Bergamis (Bercandaan Gang Mini Show), BlueNite, dan teater musikal ala stand-up comedy. Tidak hanya itu, masih ada Komika lain yang singgah ke Bogor untuk melakukan tur: Pandji dan Ernest. Tapi kini, pada Sabtu (23/03/2019) akhirnya Beler mencoba dirinya membuat stand-up special. Belerdikari, namanya. Tentu ini langkah besar, karena paling tidak ada dua hal yang membuatku menyimpulkan itu, (1) bisa merangsang setiap komika bahwa mereka mampu dan bisa dan sanggup untuk membuat stand-up special sendiri. Aku tahu ini tidak mudah. Jikapun ingin asal-asal saja, paling tidak, butuh keseriusan lebih. Beler itu... entahlah, sampai saat ini aku tidak sekalipun melakukan hal serius dengannya. Perkenalan dengannya selalu diisi dari satu kelucuan hingga kelucuan lain. Barangkali itu yang membentuk Beler sampai hari ini menjadi seorang Komika yang penuh guyon(an). Bukan. Tentu ini bukan seputar teman kita yang sering melucu ditongkrongan agar supaya menjadi pusat perhatian. Beler lebih dari itu, ia (jika boleh berlebihan) ada memang untuk melucu di tengah orang-orang melucu tersebut. Orang lain berusaha melucu, ia sudah lucu. Celetukannya, ceritanya, dan caranya menanggapi apa yang tengah diperbincangkan kadang jadi sesuatu yang ditunggu. Beler yya begitu itu --setahuku. Tentu aku masih ingat kali pertama melihatnya mencoba materinya ketika open mic. Kisah tentang penjual somay yang begitu lucu. Konstruksi komedinya memang seperti cerita: ada pembukaan, kejadian, momen, dan hal-hal bodoh yang menyertai. Juga tentang cerita teman-temannya yang suka mabuk-mabukan itu. Jokes tersebut pernah ia bawakan saat bersaing di SUCI 7, tetapi tidak utuh. Aslinya cerita tersebut mencapai 5-7 menit sendiri. Itulah yang membuat Beler, menurutku, (2) sudah ada di barisan terdepan jika kita bicarakan stand-up comedy hari-hari ini. Begini, sadar atau tidak, kini banyak Komika membuat bentuk komedinya menjadi dua: reaksi dan cerita. Untuk yang pertama, tentu saja, seorang komika cukup memberitahu kejadian atau peristiwa yang belakangan ramai diperbincangkan lalu memberi reaksinya atas hal tersebut. Lazimnya memang sebatas umpatan. Sedangkan yang kedua, seperti yang sudah aku jelaskan diawal tentang Beler, kini banyak komika naik ke panggung bermodalkan membawa satu-dua cerita yang ingin ia bagikan kepada penontonnya. Entah cerita itu penting atau tidak, ada kaitannya kepada penonton atau tidak, yang jelas (mesti) menarik. Tidak banyak memang komika yang melakukannya. Hanya saja, dari yang sedikit itu, semuanya telah berhasil membuat antitesis atas dogma-dogma teknik berkomedi yang sulit dipelajari itu --dan tentu Beler adalah satu dari sekian sedikitnya komika tersebut. Bayangkan saja, ketika semua orang sibuk beropini dan meyakini opininya benar --sedangkan yang lain tidak-- masih ada satu kanal di mana kamu bisa mendapat seorang yang rela menceritakan hal-hal lucu kepadamu. Barangkali nanti Beler akan melakukan itu pada penontonnya di Belerdikari.

Tag : ,

Nyanyian Kesedihan, Pablo Neruda

By : Harry Ramdhani
lukisan karya anak-anak di rumah singgah Potads.

Ingatanmu muncul dari malam di sekelilingku.
Sungai itu membaur dengan ratapan kerasnya dengan laut.

Gurun seperti dermaga saat fajar.
Ini adalah jam keberangkatan, oh sepi!

Kepala bunga dingin menghujani hatiku.
Oh lubang puing-puing, gua ganas kapal karam.

Di dalam kamu, perang dan penerbangan terakumulasi.
Dari kamu sayap burung-burung lagu naik.

Kamu menelan semuanya, seperti jarak.
Seperti laut, seperti waktu. Di dalam kamu semuanya tenggelam!

Itu adalah saat-saat bahagia dari serangan dan ciuman.
Jam mantra yang menyala seperti mercusuar.

Ketakutan pilot, kemarahan seorang penyelam buta,
mabuk mabuk cinta, di dalam kamu semuanya tenggelam!

Di masa kecil kabut jiwaku, bersayap dan terluka.
Sebuah pencarian yang hilang, di dalam kamu semuanya tenggelam!

Kamu berdukacita, Kamu berpegang pada keinginan,
kesedihan mengejutkanmu, di dalam diri kamu semuanya tenggelam!

aku membuat dinding bayangan menarik kembali,
di luar keinginan dan tindakan, aku terus berjalan.

Oh daging, dagingku sendiri, wanita yang aku cintai dan kehilangan,
aku memanggilmu di jam lembab, aku angkat laguku untukmu.

Seperti kendi kamu tempatkan kelembutan yang tak terbatas,
dan pelupaan tak terbatas itu menghancurkanmu seperti guci.

Ada kesendirian pulau-pulau hitam,
dan di sana, wanita cinta, tanganmu membawaku masuk.

Ada kehausan dan kelaparan, dan kamu adalah buahnya.
Ada kesedihan dan reruntuhan, dan kamu adalah keajaiban.

Ah wanita, kamu tidak tahu bagaimana kamu bisa menahanku
di bumi jiwamu, di salib tanganmu!

Betapa mengerikan dan singkatnya keinginanku terhadapmu!
Betapa sulit dan mabuk, seberapa tegang dan rajin.

Pemakaman ciuman, masih ada api di makammu,
masih dahan-dahan yang digoreng terbakar, dipatuk oleh burung-burung.

Oh mulut yang tergigit, oh anggota badan yang dicium,
oh gigi yang lapar, oh tubuh yang terjalin.

Oh gila harapan dan kekuatan
di mana kami bergabung dan putus asa.

Dan kelembutan, ringan seperti air dan tepung.
Dan kata itu nyaris tidak mulai di bibir.

Ini adalah takdirku dan di dalamnya adalah pelarian kerinduanku,
dan di dalamnya kerinduanku jatuh, di dalam kamu semuanya tenggelam!

Oh, lubang puing, semuanya jatuh padamu,
kesedihan apa yang tidak kamu ungkapkan, dalam kesedihan apa kamu tidak tenggelam!

Dari mengepul hingga mengepung kamu masih disebut dan bernyanyi.
Berdiri seperti seorang pelaut dalam haluan kapal.

kamu masih berbunga dalam lagu, kamu masih memecahkan arus.
Oh lubang puing, terbuka dan pahit.

Penyelam buta pucat, pengumban beruntung,
penemu yang hilang, di dalam kamu semuanya tenggelam!

Ini adalah jam keberangkatan, jam yang sangat dingin
yang malam kencangkan ke semua jadwal.

Sabuk gemerisik lautan membentuk pantai.
Bintang dingin naik, burung hitam bermigrasi.

Gurun seperti dermaga saat fajar.
Hanya bayangan yang berliku-liku di tanganku.

Oh lebih jauh dari segalanya. Oh lebih jauh dari segalanya.

Ini adalah jam keberangkatan. Oh ditinggalkan.

Mendamaikan rindu dan dendam setiap tahun

By : Harry Ramdhani
bagus2 yha? gelang and gantungan, kesukaanmu.
Kamu ulangtaun dan aku lupa. Anehnya, entah kenapa, aku bisa merasakannya. Seperti ada yang berbeda seharian ini. Orang-orang, pekerjaan dan hal-hal lain yang menyebalkan tidak menghampiri. Sungguh, aku merasakan itu semua, hari ini, saat ulangtaunmu. Dan, aku ingat, ulangtaun, bagimu, bukan sekadar ucapan (basa-basi) dan perayaan tiup lilin belaka. Bagimu, yang aku tahu, ulangtaun adalah soal perenungan. Yha. Ini berlebihan. Sebab, selalu ada yang tidak aku tahu setiap ulangtaunmu. Sabab, setiap kali kamu ulangtaun, aku selalu tidak ada di dekatmu; selalu ada di jarak terjauh yang bisa dibayangkan akal sehat. Kamu selalu menjadi orang yang paling antusias setiap ada yang ulangtaun: keluargamu, keluargaku, aku, teman-temanmu dan (mungkin saja) pasangan barumu. Namun, di balik itu semua, kamu menjadi pengingat untuk selalu mawas diri. Bertambahnya usia dan berkurangnya umur mesti disikapi dengan pendewasaan. Kadang, tapi aku selalu lupa, ingin menanyakan padamu satu hal: mengapa kamu selalu ingin orang-orang di sekitarmu dewasa? Apakah tetap menjadi anak-anak bukan sesuatu yang menyenangkan? Yha. Maaf. Malah jadi dua pertanyaanku. Aku menduga, rasa-rasanya, bagimu seseorang tidak bisa hanya dibuat dewasa karena bertambahnya usia, bukan? Tapi juga keadaan. Karena kita, tentu saja, berpisah karena keadaan. Bukan takdir, bukan keinginan, apalagi nasib. Dan kita, aku dan kamu, dan segala keputusan-keputusan dalam menyikapi, selalu karena keadaan. Seperti buku yang pernah aku pinjamkan padamu: Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas. Aku sudah ikhlas kalau buku itu pada akhirnya kamu buang. Aku sudah tidak peduli walau di buku itu ada tanda tangan penulis kesukaanku. Sungguh. Tapi, aku hanya penasaran: kamu sudah baca barang satu halaman saja dari buku itu? Kalau tidak, justru ini yang membuatku kecewa. Malah mungkin saja marah. Kamu tahu itu, kan? Aku bisa saja marah pada hal-hal yang tidak penting sekalipun. Sial. Aku kangen memarahimu. Sikap pasrahmu, ketidakpedulianmu yang justru, aku tahu, mendamaikan itu. Kamu terlalu bodoh untuk dimiliki lelaki bangsat. Tapi, untuk sekarang ini, kebahagiaanmu yang terpenting tentu saja --sebangsat apapun lelakimu.

***

Apa yang kamu dapat di hari ulangtaun? Apa yang kamu harapkan? Ceritakanlah... biar dari jauh akan aku amin-kan.
Tag : ,

Mari merayakan bengong!

By : Harry Ramdhani
nyang aing bayangkeun tentang gopah!


Bengong itu ibadah. Menikmati bengong itu sama halnya dengan menghargai sepi dan sunyi. Sebab, tak ada yang khidmat, yang membuat lebih dekat, ketika bengong. Bengong itu seperti puisi; tidak cukup dibaca satu kali untuk memahami. Dalam bengong, tentu saja, kita bisa meringkus dengan ringkas atas apa yang dipikirkan, diharapkan, dan kenyataan. Dan bengong, sekali lagi, bisa menjelma apa saja. Kesepian. Keramaian. Kesedihan. Kebahagiaan. Kerinduan. Kegalauan, kalau perlu.

Tak pernah ada cinta yang rapi. 
Rindu membuatnya berantakan lagi.*

Kehidupan ini, barangkali, terlalu cepat. Sehingga yang berubah jauh lebih tampak tinimbang yang berproses atau bertumbuh. Bengong adalah tanda, alarm bagi diri sendiri, untuk sedikit merenungkan --bukan menghentikan, karena konotasinya cukup negatif, mungkin-- semua yang berkejaran dan berlarian. Bengonglah untuk sementara. Sewaktu yang kita punya. Bengong juga tidak perlu diluangkan. Karena bengong bukan tentang lama atau sebentar, tapi bengong, barangkali, adalah soal memahami sejenak apa yang terjadi saat itu.

Haruskah dengan bertengkar, 
kekuatan cinta kita ditakar?*

Laiknya nyala api yang mengeluarkan asap, bengong itu menghasilkan. Jika bukan sesuatu yang berbentuk atau nyata, bengong paling tidak menjernihkan. Ujudnya bahkan bisa menjadi ekstrem: bengong membuat kita menangis. Tidak perlu heran ada mata yang berkaca-kaca ketika bengong. Apalagi sampai menetes di pipi. Sebab dari bengong, adalah cara kita memasuki diri jauh ke dalam. Tempatnya mungkin jauh lebih gelap dari dasar laut terdalam. Dan, buat apa malu untuk menangis? Menangis itu obat yang hanya bisa diramu oleh orang yang sedang sakit itu sendiri. Menangis, paling tidak, menenangkan. Penyair pernah berpesan: airmata tidaklah jatuh untuk hal yang sia-sia.

Jika cinta hanya soal segala hal benar, 
maka mustahil kita bisa sebegini tegar.*

Bengong itu tidak terkotakkan dan terkatakan. Bengong adalah segala hal yang mustahil dirancang-rencanakan. Ketika bengong, selalu hadir hal-hal spontan yang tidak terikat. Bengong  biar bagaimana pun juga adalah pergulatan batin. Dari bengong kita mampu merasa kesepian di antara keramaian, merasa sendiri sampai bayangan pun enggan menemani. Saat ini aku hanya ingin merayakan bengong itu sendiri, seorang diri.


*) Dari puisi-puisi Candra Malik dalam bukunya: Fatwa Rindu 

Tag : ,

Kewajiban Para Penyair

By : Harry Ramdhani
ilustrasi (pixabay)

Untuk siapa pun yang tidak mendengarkan laut
Jumat pagi ini, kepada siapa pun yang terkurung
di rumah atau kantor, pabrik atau wanita
atau jalan atau saya atau sel penjara yang keras;
kepadanya saya datang, dan, tanpa berbicara atau melihat,
Saya tiba dan membuka pintu penjara,
dan getaran dimulai, tidak jelas dan mendesak,
sebagian besar guntur mulai bergerak
gemuruh planet dan buih,
sungai parau banjir laut,
bintang bergetar dengan cepat di koronanya,
dan laut berdetak, sekarat dan berlanjut.

Jadi, tertarik oleh takdirku,
Saya tidak henti-hentinya harus mendengarkan dan menyimpan
ratapan laut dalam kesadaran saya,
Saya harus merasakan jatuhnya air keras
dan mengumpulkannya dalam cangkir abadi
sehingga, dimanapun mereka berada di penjara,
dimanapun mereka menderita celaan musim gugur,
Saya mungkin berada di sana dengan gelombang yang menyimpang,
Saya dapat bergerak, melewati jendela,
dan mendengar saya, mata akan melirik ke atas
mengatakan 'Bagaimana saya bisa mencapai laut?'
Dan saya akan menyiarkan, mengatakan apa-apa,
gema berbintang dari gelombang,
pemecahan busa dan pasir apung,
gemeresik penarikan garam,
teriakan abu-abu burung laut di pantai.

Jadi, melalui saya, kebebasan dan laut
akan membuat jawaban mereka ke hati yang tertutup.


*) A minhas obrigações, Pablo Neruda. Sebuah terjemahan Puisi

Untuk yang akan kembali dalam waktu yang lama

By : Harry Ramdhani
untuk yang ditinggalkan

'Anaknya' Gomah yang lain yang terakhir mulai hari ini bakal tinggal di asramah. Kuliah. Momen pas pamit tadi waktu seakan tidak bergerak maju. Semua yang lalu hadir: ingatan dan masasilam. Mereka, ingatan dan masasilam tadi, mencoba menahan untuk sebuah kepergian. Menjadi pahlawan kesiangan untuk menolak semua. Karena kepergian, biar bagaimanapun, selalu melahirkan korban: yang ditinggal dan tertinggal. Tapi waktu, sekali lagi, tidak pernah bergerak mundur: waktu terus tumbuh dan tidak ada yang bisa menahannya maju --meski lamat-lamat kesedihan dan kerelaan yang menetap. Pada momen semacam ini manusia hanya bisa pasrah akan kehendak Tuhan. Adil atau tidak. Menerima atau tidak. Namun begitulah aturan mainnya. Andai manusia bisa meminta, jawabannya hanya satu: jalani.

***

Seminggu lalu 'anaknya' Gomah itu bolak-balik mencari peralatan untuk di asramah. Beberapa sudah didapat dan sebagiannya lainnya belum. Ia datang ke rumah, menanyakan tempat menjual bantal dan guling ke Gomah yang murah. Harga itu relatif, murah atau mahal, namun yang pasti yang murah, tentu saja, selalu kalah nyaman dengan yang mahal. Tapi waktu itu Gomah tidak menjawab. Gomah masuk ke kamar dan keluar dengan membawa dua bantal. Pakai ini saja, katanya, biar tetep bisa ingat rumah. Tidak ada yang bisa diharapkan dari sebuah kepergian selain tetap bisa ingat bagaimana ada orang-orang di masasilam ini akan setia menunggu kepulangan. Ia menirama kedua bantal itu. Duduk di teras dan memeluknya. Entah apa yang dipikirkannya. Entah apa yang tengah dirasakannya.

***

Gomah punya dua anak lain. Yang satu sudah akan lulus kuliah. Satu lainnya yang akan berangkat ini. Yha. Sedari dulu aku ingin punya adik. Sampai akhirnya tetangga ada yang lahiran dan anaknya, keluarga kami anggap seperti anak sendiri. Dan aku seakan punya adik. Begitulah kedua anaknya Gomah yang lain itu. Sedari kecil selalu di rumah. Pulang untuk tidur malam di rumahnya dan paginya sudah main lagi ke rumah. Kedua anaknya Gomah yang lain itupun memanggil Gomah dengan sebutan "Mamah". Seperti jua aku tentu saja. Dan Peang yang terakhir ini. Keduanya tumbuh. Menjadi remaja dan dewasa. Dan Gomah, sampai sekarang, tetap saja menganggap mereka masih kecil. Bila di rumah mereka sedang tidak ada makanan, misalnya, mereka akan datang ke rumah untuk makan. Atau, jika air dingin di kulkas mereka habis dan mereka ingin minum, maka mereka akan datang ke rumah: mengambil gelas dari lemari dan menghabiskan satu botol air dingin sendiri. Tidak ada sekat. Bahkan walau kami berbeda keyakinan. Hidup kami jauh lebih tentram dari apa yang kalian kotak-kotakan. Setiap lebaran Gomah selalu memberi ketupat dan teman-temannya itu. Dan ketika natal, Gomah akan memberi ucapan selamat dan mengamplopinya. Tidak pernah jua kami terganggu jika di rumah mereka sedang latihan atau beribadah dengan menyanyikan puji-pujian. Kami bukan lagi sekadar saudara, lebih dari itu, kami berkeluarga. Dan ketika satu anggota keluarga pergi, tentu saja, anggota keluarga yang lainnya bersedih. Termasuk Gomah dan Gopah dan aku.

***

Sebelum tadi aku berangkat jumatan Gomah memanggilku yang sedang buang air besar. "Dek, lagi pegang uang kes? 50ribu aja," kata Gomah. Sambil sedikit ngeden, aku jawab ada di kantung celana. Ambil saja. Tadinya aku tidak tahu uang itu untuk apa. Toh aku tidak begitu peduli jua. Namun setelah jumatan Gomah bilang kalau uangnya untuk membekali anaknya yang lain itu. Nambahin. Aku bilang, kenapa engga diambil semua aja yang di kantung celana. Seingatku ada seratus ribu. Tapi nanti jua dia balik lagi, kata Gomah, untuk nantinya tidak kembali dalam waktu yang lama.
Tag : ,

Teka Teki

By : Harry Ramdhani
ilustrasi: @kulturtava

kau bertanya kepada aku apa yang sedang ditenun lobster
kaki emasnya?
aku jawab, laut tahu ini.

kau berkata, apa yang ditunggu ascidia secara tembus pandang
bel? apa yang ditunggu?
aku katakan itu menunggu waktu, seperti kau.

kau bertanya kepada aku siapa Alga Macrocystis di pelukannya?
belajar, pelajari, pada jam tertentu, di laut tertentu yang aku tahu.

kau menanyai aku tentang gading jahat dari narwhal,
dan aku membalas dengan menjelaskan
bagaimana kuda laut dengan harpun di dalamnya mati.

kau bertanya tentang bulu burung rajawali,
yang gemetar di mata air murni dari pasang selatan?

atau kau menemukan di dalam kartu pertanyaan baru yang menyentuh
arsitektur kristal
dari anemon laut, dan kau akan menghadapinya sekarang?

kau ingin memahami sifat listrik lautan
duri?
stalaktit berlapis baja yang pecah saat berjalan?
kail pemancing ikan, musik mengulurkan
di tempat yang dalam seperti benang di air?

aku ingin memberi tahu kau bahwa laut tahu ini, bahwa kehidupan di dalamnya
kotak perhiasan
tidak terbatas seperti pasir, tidak mungkin dihitung, murni,
dan di antara waktu anggur berwarna darah telah membuat
daun bunga
keras dan berkilau, membuat ubur-ubur itu penuh dengan cahaya
dan membuka simpulnya, membiarkan benang musiknya jatuh

dari tanduk banyak terbuat dari ibu mutiara yang tak terbatas.
aku bukan apa-apa selain jaring kosong yang telah berjalan di depan
mata manusia, mati dalam kegelapan itu,
jari-jari yang terbiasa dengan segitiga, garis bujur
pada bola mata oranye dari oranye.

aku berjalan seperti kau, menyelidiki
bintang tanpa akhir
dan di jaring aku, pada malam hari, aku terbangun telanjang,

satu-satunya yang tertangkap, seekor ikan terperangkap di dalam angin.


Enigmas, Pablo Neruda. Sebuah terjemahan puisi.

Cerita tentang Anak Kecil di Warung Makan yang Tetap Buka Saat Puasa

By : Harry Ramdhani
Bocil nyang lagi tidur itu. Pules beut!

Anak itu tertidur pulas. Sesekali matanya terjaga, lalu terpejam kembali. Sayangnya bukan di tempat tidur dan bantal yang empuk untuknya, anak itu tidur di meja warteg. Kau pasti tahu seberapa luas meja itu. Sekadar cukup untuk satu piring dan satu gelas --meski ukurannya panjang. Mainan yang tadi dipegangnya sampai terjatuh ke lantai. Ibunya sedang sibuk mencatat utang pelanggannya. Satu dari karyawan kantor, satu lagi oleh satpam. Buku tulis yang semestinya digunakan mencatatan pelajaran, namun kini di perlakukan sebagai pengingat tunggakan. "Tidak boleh kalah sama yang gajinya bulanan," katanya, tidak ditujukan kepada siapa-siapa yang ada di sekelilingnya.


***

Aku pindahkan gelas dan bungkus rokok dari sebelah anak itu. Takut tersenggol dan pecah ketika jatuh. Sebelum anak itu tertidur, ia manaiki meja, menghampiri tv yang diletakan di atas etalase warung. Ia coba berkali-kali tidak bisa. Mungkin aku sendiri sedikit risih dengan apa yang dilakukannya. "Belum dicolokin kali kabelnya," kataku. Anak itu menoleh dan lalu (seperti) tidak peduli. Barangkali anak itu semakin penasaran, ketika kaki kanannya sudah terangkat, aku langsung menjulurkan tangan untuk melarang. Ayahnya di dapur keluar. "Mau apa, dek?" Nonton tv, jawabnya. Anak itu diturunkan dari meja, didudukan di sebelahku. "Colokannya dipake buat kipas. Nanti saja ya." Anak itu paham. Meski tidak mengangguk dan diam, aku tahu begitulah reaksi anak-anak jika habis dinasehati. Mainan lego, sepertinya itu namanya, berbentuk pesawat terbang yang ada di tangannya ditaruh di atas etalase. Anak itu duduk lagi. Tidak lama anak itu berdiri untuk tidak duduk lagi. Anak itu berdiri sembari melafalkan beberapa surat dan ayat. Surat Al Kausar yang aku tahu dan ingat. Kemudian menyelonjorkan badan di meja warung, masih melafalkan itu, dan tertidur.

***

Seketika aku ingat tayangan di MNC TV "Semesta Bertilawah". Setiap sahur sekeluarga aku menonton itu. Gomah senang ada anak kecil yang bisa hafal Quran. Aku sendiri senang ayat-ayat Quran disenandungkan. Aku kira Peang dan Gopah juga suka, meski aku tidak tahu suka karena apa.Namanya program tv selalu mengedepankan drama-drama, apapun didramatisir. Pernah satu episode di mana Seorang anak yang dititipkan di Pesantren oleh ibunya sewaktu kecil ditanya-tanya oleh Arie Untung dan entah siapa host perempuannya. Anak itu masih kecil, umurnya sekira 8-10 tahunan, ditanya kabar ibunya saat ini, bagaimana ia mencari ibunya lewat facebook yang dibantu oleh pihak pesantren dan lain-lain. Pedahal sudah jelas: anak itu dititipkan ketika masih (sangat) kecil. Barangkali ingat wajahnya saja tidak. Sudah tentu anak itu menangis. Ia diminta mengingat atas apa yang ia tidak tahu. Betapa bodoh! Hanya pagi itu sahur jadi tidak terasa mengenakan. Aku sendiri hanya memakan beberapa suap nasi dan keluar; merokok.

***

Sewaktu kecil, setiap kali aku membaca Quran di rumah, jika ada satu bagian yang aku baca keliru, entah dari dapur atau mana, Gomah selalu memperbaiki dengan sedikit berteriak. Atau, ketika aku kesulitan membaca, mungkin karena tidak tahu tajwidnya, jadi terdengar aneh, pasti Gomah akan membetulkan. Aku sendiri tidak tahu apakah Gomah (sudah) hafal Quran atau Quran memang gampang diingat, jadi mudah terdengar aneh ketika ada keliru saat membacakannya. Membaca Quran selalu menyenangkan. Apalagi membaca terjemahannya. Ini adalah fase di mana aku mulai mencintai puisi. Selepas terawih atau sholat subuh, aku pergi ke perpus Teras Baca. Membaca Quran dan terjemahannya. Tidak lama, paling 3 jam sahaja. Bahkan, entah mengapa, ketika selesai membaca, aku merasa tenang. Terlebih senang karena arti ayat yang aku baca tersusun sangat baik --laiknya puisi. Buku puisi terbaik yang pernah aku baca, barangkali, adalah Quran. Anehnya lagi, setiap kali selesai membaca Quran, aku tidak bisa berdiri. Kedua kaki tidak bisa digerakkan. Kaku. Malah aku pernah dibangunkan Gomah yang membangunkan aku di Perpus dalam keadaan tertidur dengan kaki menyila sambil memeluk Quran. Sudah pagi dan mau dipakai tadarusan.

***

Ibu warung tadi langsung bercerita tentang anaknya. Katanya, anak itu semestinya sudah kelas dua, tapi mesti berhenti sekolah karena ikut ke Jakarta dengan ayah-ibunya. Maklum, keluarga itu datang untun bergantian dengan kakaknya yang kebetulan aku kenal, mesti balik kampung. "Dulu sih bilangnya cuman 3 bulan, lah ini udah hampir setahun. Ya gitu jadinya, dia gak sekolah. Diajak pun ia nolak, cuma mau main dan ngaji saja," kata Ibu warung. Umur anak itu kira-kira hanya berbeda satu tahun dari Peang. Jadi aku tahu betul pada umur-umur segitu apa yang ingin dan tidak inginkan dari anak-anak. Ibu warung bilang, anak itu memang tidak tidur semalaman. Dari siang malahan. Kadang main dan baca Quran saja. Sampai tadi dia bilang, kata Ibu warung, "mama gak saur, mama gak masak buat dagang?" Warung itu memang tidak tutup ketika bulan puasa. Tetap buka, tapi aku sama sekali tidak ingin menanyakan alasannya. Buat apa juga. Masih ada orang-orang yang tidak berpuasa dan lapar. Aku pikir wajar saja kalau buka. Kami berbincang sangat pelan takut-takut anak itu bangun. Namun, dalam obrolan kami itu, ada yang terus pikirkan, seperti: bagaimana orangtua itu memberi tahu kepada anaknya kalau puasa di bulan Ramadan itu wajib bagi umat muslim? Sedangkan sampai saat ini saja warungnya tetap buka.

***

Mainan yang tejatuh di lantai itu aku ambil dan letakkan di sela jari tangannya yang tertidur. Semula tidak ia genggam mainan, tapi saat jariku menyentuh jarinya, ia langsung mengambil tanganku. Ibu warung tersenyum. Aku lepaskan perlahan dan membayar makananku. Sambil keluar warung, spotify tengah memainkan lagu "Breakfast at Tifanny's" dari Deep Blue Something.
Tag : ,

Mandi di Siang Bolong!

By : Harry Ramdhani
seger betul mandi pas siang bolong.




Segar betul. Mandi pukul 2 siang saat matahari sedang panas-panasnya di bulan puasa. Ketika hendak menjemur handuk keluar, matahari seakan baru ingin muncul dari tidur panjangnya semalaman. Tidak ada suara ayam karena ia berkokok terlalu pagi dan manusia tidak ada yang peduli. Pagar rumah, tanaman yang digantung, sampai lantai teras serasa masih diselimuti embun; dingin. Segar betul.

***

Tapi tadi aku duduk sendirian di bangku-bangku di depan Indomaret. Bingung. Bukan untuk berpikir antara batal puasa atau tidak. Bukan. Bingung karena tidak tahu bagaimana caranya memperpanjang masa aktif akun premium spotify. Susah betul. Pedahal bulan lalu gampang-gampang sahaja. Sekarang aku lupa caranya. Keringat dingin mulai merambah dari tengkuk leher hingga lengan tangan. Normal. Itulah reaksi tubuh ketika sedang kebingungan. Tadi di hadapan ATM berulangkali aku mencoba peruntungan. Hasilnya: hanya kartu yang masuk dan keluar. Sporify premium tidak berhasil di perpanjang, orang-orang mengantri di kasir Indomaret membayar minuman dingin yang mereka ambil dari lemari pendingin. Dua orang, tiga orang, mulai mengantri di belakang menunggu giliran menggunakan mesin ATM. Aku kebingungan betul.

***

Bulan puasa tahun ini seperti kembali menemuiku dengan kegembiraan. Entah. Tapi itu yang aku rasakan. Anak-anak yang mulai ramai datang ke masjid dan orang-orang yang berdagang di pelataran masjid. Aku menduga: sepertinya kegembiraan ini muncul ketika hampir setiap hari –sebelum bulan puasa ini– melulu diperbincangkan di media sosial –tapi orang-orang itu sendiri tidak pernah ke masjid –tentang tumbuh-kembangnya orang-orang ekstimis. Mulai dari isi ceramah sampai penceramahnya. Mungkin orang-orang yang melulu membincang itu lupa: masjid tidak melulu seputar itu. Masjid adalah kediaman bagi siapa saja, makanya ada yang dinamakan Dewan Keluarga Masjid (DKM). Keluarga, biar bagaimanapun, tidak pernah lepas dari masalah. Jika, anggaplah asumsi orang-orang yang tadi aku sebut benar, masjid sebagai awal mula tumbuh kembangnya ekstimisme, maka biarlah keluarga dari masjid itu yang menyelesaikan. Tidak perlu dipukul rata kalau semua masjid seperti itu, bukan?

***

Dua hari menjelang bulan puasa, anak-anak berkumpul di pelataran masjid selepas magrib. Anak-anak itu menikmati betul rasanya keluar malam dan bertemu dengan teman sebayanya. Waktu main mereka seakan diperpanjang. Kemudian satu per-satu dari mereka diberikan obor. Entah ini hanya ada di Indonesia atau di setiap negara seperti itu ketika menyambut bulan puasa. Beramai-ramai mereka berjalan dari masjid melantunkan salawat menyusuri malam, menerangkan jalan. Pawai obor. Perlu juga sepertinya aku beritahukan: masjid di mana anak-anak itu mengikuti pawai obor, saban jumat di masjid itu penceramah selalu melakuakan orasi melawan pemerintahan. Hanya ada dua hal yang bisa menyelamatkan orang-orang yang jumatan itu tetap mau datang ke masjid: (1) mendengar ceramah sambil main media sosial atau (2) melipir ke warkop yang letaknya bersebelahan dengan masjid dan mendengar ceramah dari sana. Yang ingin aku sampaikan adalah terlepas dari bagaimana masjid itu dikelola, ketika bulan puasa tiba, selalu ada hati yang terbuka untuk semua. Anak-anak yang bergembira dan kakak-kakak mereka yang manis-manis betul ketika mendampingi adiknya pawai obor.

***

Kuhanya ingin puasa menghadirkan yang betul-betul segar. Semial: kamu yang lagi suka ganta-ganti avatar twitter yang bikin temlenku jadi segar betul.
Tag : ,

Aku dengan Buku, Kamu (Sibuk) dengan Gawaimu

By : Harry Ramdhani
andai orang2 nyang diajak ngobrol liwat hengpon pada nongol di kreta... yha ndak mungkin!
Ayu Utami telah membuat fantasiku liar terhadap taman dari buku 'Saman'. Sebuah taman di mana Leila rela menemui Sihar jauh-jauh ke New York. Taman yang ditinggali hewan hanya untuk hidup bahagia. Gelandangan pun bisa tidur dengan nyenyak meski badannya dipenuhi debu. Dan di taman itu juga, tulis Ayu Utami, tak ada yang perlu ditangisi. Dosa seakan tidak tumbuh di taman itu.

***

Dan karena cerita tentang taman itu pula akhirnya aku membeli kumpulan cerita pendek 'Petang Panjang di Central Park' yang ditulis (alm) Bondan Winarno.

***

Kemudian aku selalu membayang ini: datang ke sebuah taman --seperti yang Ayu Utami gambarkan-- bersama pasangan. Aku membaca buku sedangkan dia sibuk dengan (kehidupan) gawainya. Sesederhana itu memang. Dan di taman itu kami saling memunggungi. Mungkin kami akan saling banyak diam. Namun, di taman itu kami akan saling memahami: hakikat kebahagiaan tidaklah satu, tapi saat di mana kita bisa saling mengerti kesukaan masing-masing. Mungkin ketika aku pergi ke taman itu aku akan membawa novel 'Le Petit Prince'. Entahlah. Sepertinya novel itu cocok saja. Lalu seperti yang aku jelaskan di awal, kamu akan sibuk dengan gawaimu. Mungkin kamu akan swafoto, mengunggahnya di Instagram dan menanyakan caption apa yang cocok untuk mengilustrasikan kebahagiaanmu di taman itu. Aku sarankan sebuah larik dari puisi Goenawan Mohamad: bersiap kecewa/ bersedih tanpa kata-kata. Dan kamu akan menanyakan artinya. Dan aku tidak akan menjawab apa-apa. Sebab keindahan antara taman, kamu dan puisi adalah keindahan yang hakiki.

***

Hanya syukur yang bisa aku panjatkan manakala masih diberi kesempatan membaca buku di kereta. Yha. Apalagi di sebuah perjalanan pulang pada suatu sore di mana besok adalah hari libur. Kukira kamu bisa bayangkan keadaannya dengan ilustrasi seperti itu. Aku keluarkan buku dari dalam tas, melanjutkan bacaan 'Saksi Mata' yang belum tuntas. Seorang perempuan masuk, sedikit tergesa dari stasiun berikutnya di mana aku semula naiki. Kami saling memunggungi di kereta. Aku bisa merasakan betapa tungkuk perempuan itu panas. Dan aku rasa perempuan itu merasakan disundul-sundul kepalanya oleh ikatan rambutku. Perempuan itu meletakan tasnya di bagasi atas. Sedikit mendorong ke depam karena penumpang sedang ramai. Sepertinya ia meminta maaf, tapi aku tidak terlalu jelas mendengar, telingaku tertutup pemutar musik.

***

Tidak ada gangguan. Kereta berjalan lancar. Hanya saja terasa sedikit pelan. Aku sungguh menikmati (1) cerita dari buku 'Saksi Mata' sekaligus (2) saling memunggungi dengan perempuan itu. Saat itu kereta laiknya masjid ketika ada sholat jumat: memberi ruang seberapapun banyaknya penumpang. Sesekali aku tertawa dengan bacaanku dan perempuan itu tertawa dengan orang-orang lain di luar sana lewat gawainya. Andai kereta ini sebuah taman --taman seperti yang digambarkan Ayu Utami-- mungkin aku akan seperti burung yang disinari matahari musim semi: bernyanyian dan mengajakmu pacaran.

***

Sesekali aku masih mendengar tawanya. Renyah sekali. Sedangkan aku, boro-boro bisa tertawa. Bagaimana bisa tertawa dengan segala kekejaman yang ada dalam cerita-cerita dari buku yang tengah aku baca: bola mata yang dicongkel dengan sendok untuk kemudian dijadikan bahan tambahan tangkleng, telinga-telinga yang dipotong karena menguping sebagai mata-mata sampai pembunuhan massal. Sesekali aku membayangkan guyon seperti apa yang ia dapatkan dari orang-orang nan-jauh-di-sana-itu? Jika aku bisa pelajari, aku akan mencoba menghibur perempuan itu sesering mungkin.

***

Baru kemudian aku sadar ketika seorang di depan perempuan itu hendak turun dari kereta di Tanjung Barat. Perempuan itu sedikit mendorongku hingga hampir tersungkur ke depan. Aku menoleh. Dan dia sedang memegang buku. Sekilas aku lihat sampulnya: didominasi warna putih dengan warna tulisan biru dan merah muda. Buku itu sedikit tebal. Aku ingat, itu novel 'Sophie Kinsella, My not so Perfect Life'. Buku bagus. Beberapa kali aku membaca resensinya. Kereta masih berjalan pelan. Aku sibuk dengan buku, begitu juga perempuan itu.

***

Andai kereta ini sebuah taman --taman seperti yang digambarkan Ayu Utami-- mungkin aku akan diam saja, memintamu menceritakan isi buku itu. Mendengarkanmu dengan saksama sampai selesai dan kita berkenalan. Namaku, Harry. Harry Ramdhani, siapa namamu?
Tag : ,

- Copyright © Kangmas Harry - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -