Sournois
By : Harry Ramdhani
Aku
berdiri dalam gelap. Tersungkur dalam
keheningan
malam. Berlarian dalam pikiran.
Terkapar
oleh angin liar.
Aku
melihat tiga bintang
berdekatan.
Bentuknya
mirip anak panah yang sedang
meluncur
bak deburan ombak . Meluncur,
memecahkan malam,
meleburkan dingin
keterpaksaan
perasaan.
Aku
masih kesepian . Sepi ini menerkam
sampai
dalam . Sakitnya mencuat dari
raut
muka
yang sudah pucat . Lukanya tak berbekas
bagai
tapak kaki di pantai lepas . Terbawa
ombak
tanpa mempedulikan akan kemana
bertepi
kelak .
Daun kering,
batu kerikil,
bungkus rokok,
sampai bunga mawar berduri
enggan
menemaniku dalam kesunyian.
Peribahasa
lama, ‘Menikam
telah
menjadi
sekam’,
sesuatu yang tidak berharga lagi. Jika
dijaga
akan tetap bernilai, tapi jika dibuka
sudah
tak bernilai.
Sepi membuatku kelap. Sunyi
membuatku
ingin bernyanyi . Angin malam
bersiul ketika
bertebaran dengan daun
didahan.
Langkahku bertinjak di atas
aspal .
menembus malam hingga gerbang
kesunyian .
Tiga jam lagi tugasku selesai.
Cahaya lampu
jalan masih setia menemaniku.
Embun
diatas rumput sudah mulai
Bermunculan
. Ayam-pun sudah siap
Membangunkan
. Matahari perlahan
memperlihatkan
fajarnya . Tidak seperti
putri
malu yang
menguncup ketika dikecup .
Satu per-satu lampu tengah didalam
rumah
Menyala . Tapi tidak
menyadari, masih ada
orang kesepian diluar . Bunyi
mesin air
terdengar bagai air terjun .
Masih juga tidak
menyadari, ada orang sedang
bermain dalam
kesunyian .
Aku seorang penjaga malam.
Kesepian
dalam kesunyian
Tag :
#PekanAnyamanHUJAN,
Ini Soal Almamater, IQ ??
By : Harry Ramdhani
“JANCUKERS
HIMAKOM
TIDAK
MENGURUSI PERUBAHAN ‘WARNA’ ALMAMATER…
KABEH
TERGANTUNG OTAKMU, CUUK !!” – begitulah tulisanku yang terpampang
rapih di mading BEM. (FYI: itu yang nempel bukan Akika, tapi Ahmid noh.)
Tulisan ini ‘terpaksa’
turun untuk mencerahkan Sampean, para IQ Melati (sebuah istilah di Republik #Jancukers. Pada dasarnya manusia memilki IQ,
dimana manusia memiliki otak untuk berpikir. Tapi, di Republik #Jancukers
terdapat tiga tingkatan IQ, yaitu IQ Melati, IQ Bintang, dan IQ Berlian. Yup,
IQ Melati adalah tingkat terendah) yang hanya melihat kulit dari pada isi.
Maaf, bukan untuk menyindir. Sumpah, Aku ndak ada maksud apa-apa.
Bumi gonjang ganjing langit kelap
kelap
Terkadang Akika suka heran
sendiri soal orang-orang mempersoalkan suatu yang hanya kasat mata. Pandji
Pragiwaksono pernah bilang dalam salah satu gigs
stand-up comedy, “Untuk itu ‘lah Indonesia butuh stand-up comedy, supaya negeri
ini sudah tidak ada lagi yang ‘sensi’ karena akan berujung pada konflik.
Bayangkan, kalau Indonesia terus-menerus terjadi konflik, kapan ada waktu
rakyat Indonesia bersatu untuk INDONESIA ?? banyak orang Indonesia hanya
menangkap apa yang diucap dari pada apa yang dimaksud. Lebih melihat Format
dari pada Isi.” (FYI: Sampai tulisan ini turun, Unida belum dapet ACC juga soal
#OpenMic di sini. Payah. Kalah sama Cianjur yang isinya cuma Kang Beras tapi
mereka sudah ada komunitas stand-up comedy yang diadakan rutin).
Banyak yang protes terhadap
tulisanku di mading BEM tersebut. bahkan ketika tulisan itu baru selesai dibuat
sudah ada yang komentar, “Ahh, nulis apa sih lu ?” Katanya sambil sostoy bareng
temennya. “Plis, tulisan Akik yang dibaliknya, bukan itu.” Aku jawab sambil
jengkel, udah sostoy nyindir tapi ndak bener yang di sindir. -_-*
Tulisannya selesai di tempel,
udah ada yang langsung komentar pula di Twitter, akun Aku samarkan “@ktimplung:
tapi kata2nya lebih ‘Mahasiswa yg berorganisasi’ coba deh. Itu dibaca orang
banyak lho.” Ada lagi, masih disamarkan akunnya “@grungheacih: sumpah, kata2
HIMAKOM kasar banget. Mahasiswa gak gitu kali nulisnya. Mau protes ? yg kritis
bukan sinis. Jelek2in nama HIMAKOM.” Dan masih ada lagi lewat SMS, wuihh
buanyaak buaanget deh. Aku sampai lempar pertanyaan di Twitter, “Sek-sek, kok
pada tau yah kalo itu yang nulis Aku ? padahal gak ada sedikitpun namaku di
sana.” Dengan cepat langsung ada yang nyamber, (lagi) akun Aku samarkan,
“@frityukAhhSini: YAIYALAH TAU. MANA ADA ANAK HIMAKOM YG SUKA NULIS ‘JANCUK’
??! -____- *sewot* “
Kala itu tidak Akika pikir
serius, guyon sih. Malah Akika mikir gini, ‘Akhirnya, ada juga yang suka
perhatiin Akika. Terima kasih, Tuhan. Engkau Maha Guyon’.
Nah, biar Aku tak kasih tau
sekarang, Iyaah bener, dikalangan orang-orang IQ Melati macem Sampean ini kata
‘Jancuk’ tergolong umpatan kasar, ndak etis, dll, dsb, dst… padahal dari sebuah
buku, berarti ada referensinya dong, di buku Jiwo J#ncuk karya Sujiwo Tejo
(@sudjiwotedjo) nah ini, Presiden Jancukers Indonesia, “#JANCUK asal kata
dancuk, bahasa arab da’ artinya meninggalkanlah kamu, assyu’a artinya
kejelekan. Karena logat Jawa jadi Jancuk.”
Jancuk dengan demikian bernasib
sama dengan ‘fuck’. Tadinya asosiatif dengan seks, tapi kemudia maknanya
meluas. Jancuk kemudian mengalami perluasan makna sehingga dipakai secara
meluas untuk berbagai situasi, senang, susah, marah. Karena maknanya telah
meluas, Jancuk memang tidak bisa lagi diartikan jorok, tapi tergantung konteks
komunikasi. Kembali, Jancuk sama halnya dngan fuck atau satu rumpun dengan
cukimay, sering dipakai untuk mempertegas muatan emosional dari kalimat. Jancuk
itu asli kosakata Surabaya. Artinya Jaran Ngencuk. Dulu pernah dibuatkan
seminarnya di Surabaya, bukan umpatan, hanya salam.
Seperti ini contohnya: #Jancuk!
Nang endi ae kon? (kemana aja lu) Muatan emosinya bukan jorok, tapi terkejut
ketemu teman. Kalo di bahasa Inggris: where the fuck have you been man? Bukan
jorok, tapi surprised.
Dan masih banyak lagi contohnya:
#Jancuk ketika disuruh bangga jadi orang Indonesia tapi buku sejarah ndak
direvisi. Sejak SD dibilang Indonesia dijajah 350 tahun, mestinya berperang!
#Jancuk kok dibilang 350 tahun dijajah, mestinya 350 tahun berperang. Yang
takluk kan keratin-keratonnya saja. Sementara pemberontakan rakyat terus di
mana-mana. #Jancuk. Karena sejak SD ditanamkan kita dijajah 350 tahun, bukan
perang, kita jadi minder sama bule sampe sekarang. Kalah dengan nego-nego kerja
mereka. #Jancuk tuh ketika bunuh diri ndak boleh, tapi kalo hidup ndak dikasih
lapangan kerja. Kenapa ndak blak-blakan saja bilang dilarang bunuh diri supaya
ndak berkurang pembayar pajak.
Kembali ke tulisan di mading, itu
hanya sebuah kalimat matematika yang keluar dari sebuah Logika Matematika. IQ
Sampan belum sampe ‘lah soal itu. Kalo memang Akika diminta agar ndak kasar
jadi nulis gini, ‘Oppa HIMAKOM tidak
mengurusi soal Almamater. Karena dengan Almamater ndak bisa joget Gangnam
Style’ atau ‘Oppa HIMAKOM
tidak mengurusi soal Almamater. Karena baik hijau atau biru sama sekali ndak
SuJu’. Apakah kedua itu Asyiik ? sama sekali ENGGAK. Akika orang
Indonesia. Indonesia punya buaanyak kebudayaan, bahasa yang lebih Asyiiik
Beraaat !! Akika selalu bilang di Twitter, “Kite nih sama sekali ndak ada
pantes2nya sampe tergila-gila sama itu, Korea. Ndak pantes. Liat aje dari muka,
muka orang kite melayu abies. Baru rada Korea muke kite kalo bangun tidur
doang, itu juga rada ndak enak, ada belek. Muke kite emng beda-beda, jelas,
karena dari beragam suku. Tapi, tetep aje, siapa-pun perantau yang dateng ke
Pulau Jawa udah pasti kena polusi orang-orang jawa pribumi. Jadi dah itu muke
Sampean, Jawir.”
Akika inget perkataan Mamiek,
Indonesia sangat kaya terutama Jawa, di Jawa terkenal dengan musik CampurSari
dimana beragam aliran musik bisa disatukan didalam Campursari dan semua orang
tau kalau ini adalah musik asli Jawa yang terkandung dalam perut Indonesia.
Untuk apa sostoy dengan pake-pake kata ‘Oppa’ biar tampak Korea, pakai ‘lah
kata ‘cuuk’ lebih Indonesia. Gamila Arif juga pernah bilang, “Perkaya seniman
dalam negeri.” Bagaimana ? dukung mereka, hargai karya mereka, jangan
dikit-dikit minta gratis. Contoh, temen Sampean sudah menghasilkan sebuah karya
dan suatu saat Sampean ketemu lalu dengan entengnya Sampean bilang, “bagi dong
karya lu.” Gimana seniman dalam negeri bisa hidup dari karyanya kalau teman sendiri
tidak mendukung, padahal yang tahu susahnya membuat sebuah karya adalah kita,
temannya. Apakah Sampean masih ndak pengen cinta Indonesia sekalipun sudah
melihat Sruti Respati ? Wuiihh, ayu tenan, cuuk. Bahkan Gus Dur pun mengajarkan
bahwa dalam Islam berlaku sebuah Akulturasi. Ndak usah sok ke – arab-arab-an
untuk bisa tampak Islam yang kece, jadilah Muslim, muslim Indonesia.
Ora urus Akika soal perubahan warna Almamater. Bagiku,
Almamater adalah suatu kebanggaan. Kebanggan yang timbul dari hati. Kebanggaan
yang bisa dirasakan oleh orang yang telah mengabdi. Kebanggaan bukanlah timbul
karena teman kita menjuarai sebuah kejuaraan lalu kita bangga. Kebanggaan lahir
ketika kita telah berbuat untuk mengharumkan nama Almamater. Selama belum
melakukan apapun, sila di gonta-ganti warna Almamater. Akika belum berbuat
apa-apa untuk Kampus ini. bagiku, orang yang jelas-jelas menolak pergantian
warna Almamater karena memang tidak ada cinta untuk Kampus ini. menuntut dan
terus menuntut. Aikau juga sempat menyinggung ini (baca: Almamater) dalam
tulisan, Orang Bilang Masturbasi.
Sila baca di sini -> http://harryramdhani.blogspot.com/2012/10/orang-bilang-masturbasi.html
Masih ingin marah ? Kenapa ?
karena kita berbeda. Dasar bodoh. Matematika Sampean sangat amburadul. Dalam
matematika hanyalah ada persamaan, tidak ada perbedaan, dalam matematika hanya
ada per-tidak-samaan. Untuk apa mengedepankan perbedaan ? toh pada dasarnya
manusia memang berbeda. Mukenye aje beda, satu Jawir dan satunya Tuwir.
Sebagaian otakku telah rusak oleh
orang-orang yang masih menganggap satu ditambah satu adalah dua. Aku berdikari
di atas semua posisi, karena Aku Oposisi.
Oleh, Seorang pria yang sedang menabur bunga di
Twitter Hill atas kematian
sebuah rasa dari kepercayaan.
[Give your comment on
Twitter with tagar #OBSET]
Tag :
OBSET,
Tendangan Orang Gila
By : Harry Ramdhani
Menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia (KBBI) yang Aku donglot secara gratis, ‘Gila’ itu,
“Sakit
ingatan (kurang beres ingatannya); sakit jiwanya (sarafnya terganggu atau
pikirannya tidak normal). Tidak biasa; tidak sebagaimana mestinya; berbuat yang
bukan-bukan (tidak masuk akal). Terlalu; kurang ajar. Terlanda perasaan sangat
suka (gemar, asyik, kasih sayang). Tidak masuk akal.”
KBBI Offline Versi 1.3
Freeware 2010-2011 by Ebta Setiawan
Bumi
gonjang ganjing langit kelap kelap
Aku setuju
dengan kata pengantar yang ditulis Kak Rosianna Silalahi di buku Ngawur Karena
Benar – Sujiwo Tejo, “Normalnya, melihat kengawuran itu menyebalkan. Namun,
saat yang disebut normal itu justru merusak akal sehat, lalu kita mau apa ? Di
sinilah mengapa seorang Sujiwo Tejo ada. Ia berani ngawur, menabrak batas
normal yang sering penuh kepalsuan.” Gayaku sambil mengacungkan jempol kearah
muka Rindra.
“Aih, masih
aja sih kamu bawa-bawa itu buku. Orang gendeng aja didenger.” Kata Rindra. Aku
segera mengambil kertas bergambarkan coretan Rindra ketika tadi di kelas dan
memainkannya seperti sedang mendalang, “Hey, yang gendeng itu Sampean, cuuk.
IQ-mu melati, cocoke baca majalah porno, majalah yang banyak gambar cewek tak
berpakean, tak punya malu, tinggal di encuk, bablast… .”
Mungkin
Rindra jengkel karena ulahku dan tanpa aba-aba langsung meningggalkan ruang
tunggu. Aku berlari kecil untuk menyusul Rindra, “Tunggu, dong. Bayar dulu tuh
kopinya”.
“Sudah kau
saja yang bayar, pakai alesan yang ada dibuku ngawur-mu itu, Aku jamin gratis.
Semua orang di sini edan kabeeeeeeh.” Kata Rindra. Seketika Aku berhenti di
depan mading, melihat pengumuman kalau UTS dilaksanakan 3 hari lagi dan bagi
mahasiswa yang belum bayar tidak diperkenankan untuk mengikuti UTS. “Rin, cepat
kesini, ada pengumuman.” Teriakku agar terdengar oleh Rindra.
“Jangan
teriak-teriak, ini bukan pasar.” Aku kenal suara itu, suara dosen paling killer
di Kampus, bisa habis Aku dilahapnya kalau tidak angkat kaki dari sini
cepat-cepat. Akhirnya tersusul juga Rindra.
“Kenapa kau,
Mblo ?” Kata Rindra.
“Siapa, Mblo
?” Sahutku.
“Ya, Sampean
‘lah. Sampean ‘kan Jomblo dari dulu. Sadar, cuuk” Sambil meniru gayaku tadi
ketika masih di atas.
“Wuih,
semena-mena Sampean kalau berucap. Aku jomblo ada sebabnya, cuuk.”
“Ahh,
Jomblowan itu alesannya ndak ada abisnya kayak anggota DPR yang doyan Korupsi”
“Bah,
bahasamu macem pengamat politik saja, sopo ngarane ?”
“Saepul Jamil
?”
“Bukaaaan,
ehh, tapi mirip juga sih penyanyi dangdut sama anggota DPR. Sama-sama sok
mendayu didepan orang padahal, aslinya, bahagia bukan maen.”
Rindra
memandangku dengan heran. Aku pun ikut heran, ngomong opoo coba tadi. Kami
berdua melanjutkan perjalanan ke Kantin. Di sana suadah ada Anto, Hilman, dan
Hesty, pasangannya. Asyik beraat, tumben-tumbenan minuman mereka tidak joinan. Biasanya satu es teh manis
dikelilingi lima orang.
“Wuiih,
asyiiiik beraaaaat, airnya megang satu-satu. Malu sama mahasiswa baru yak ?”
“Udah atuuh,
Jang. komentar mulu. Loh, kok jadi sunda gini” Kata Rindra.
“Iye, aye
tau. Kagak-kagak lagi dah komentar. Aye ‘kan anak twitter. Loh, kok jadi
betawi.” Jawabku.
Mereka
bertiga bingung, apa yang terjadi dengan kedua temannya ini, Aku dan Rindra.
Suasana kantin ketika itu cukup ramai, ramai oleh mahasiswa baru yang keblinger
mungkin pengen nongkrong di mana. Mbak gado-gado yang sering Aku godain juga
terlihat sibuk ngulek bumbu kacang
tapi tetep… goyangannya belum ada yang ngalahin. Aku tidak kebagian tempat
duduk. Rindra masih usaha nyari tempat duduk ke sana-ke mari. Mahasiswa baru
hilir-mudik pesen makanan. Kantin kali ini seperti Dufan Keliling. Tahu Dufan
Keliling ? Itu ‘loh komidi puter yang suka ada di kampung-kampung, kadang satu
bulan ada di kampung ini dan bulan berikutnya ke kampung sebelah. Di tempat-ku
sih ndak pernah ada Dufan Keliling, maklum, anak komplek.
“Pesan saja,
Pri, nanti tak bayari.” Kata Anto. Yup, Aku di kampus dipanggil ‘Pri’, rada
aneh sih, soale nama lengkapku, Kunoprianto. Kalau Aku dipanggil, Anto, terlalu
kece dan sudah ada nama Anto, temanku. Dipanggil, Kuno, Ahh, tak sudi sama
sekali Aku dipanggil, Kuno, memangnya Aku ini baju kusam.
“Okley,
cuuk.” Ngomong-ngomong, Anto ini temanku yang lebih mirip mesin ATM berjalan,
uangnya tak kenal kemarau. Bersemi terus. Lekas saja pergi untuk memesan
minuman tapi Anto sudah teriak, “Bukan, ke Mbak gado, Pri, ke Bu Anyun kalau
pesen minum.” Ahh, Anto kurang cekatan ternyata hari ini kan Aku belum godain
Mbak gado-gado. “Mbak Yu, hari ini Kamu seperti timun yang berada dipajangan
sayuran itu, tampak paling berair di antara semuanya.” Mbak gado-gado
menatapku. Aku juga menatapnya. Aku melihat dirku di matanya. Mbak Gado
mengambil cabe dan dilemparnya ke arah-ku. Aku lari.
Baru saja minumanku
selesai dibuat tapi tersenggol oleh mahasiswa baru dan tumpah. Ingin rasanya
Aku marah tapi ndak jadi, badannya terlampau lebih besar dari badanku. Aku
pura-pura asyik sambil melempar senyum menandakan tidak terjadi apa-apa. Kini
giliran menatap Anto dengan memelas. Anto siul-siul. Aku dekati Anto. Anto
masih siul-siul. Aku coba ambil minumannya. Anto memukul tanganku,
“To, katanya
Aku ditraktir ?”
“iyah, tak
traktir kau minum, Pri.”
“Minumanku
tumpah.”
“Terus gue
harus cariin lu cewek biar gak jomblo lagi gitu.”
“Duh, itu
klise banget, To. Ndak lucu. Haus Aku.” Wajahku makin melas.
Hesty nyamber, “Sek-sek, pesen lagi sana. Aku
yang bayari Kamu, Pri”
“Wuiiih, ndak
salah Hilman pilih Kamu. Kalau sudah bosen sama Hilman, Aku siap kok nampung
Kamu.”
“Heh, Aku
batalin nih traktirnya ?”
“Peace Make
De Santos, Rukun Agawe Santosa.”
Setibaku di
meja, ternyata obrolan sudah ada dilevel hangat, sehangat ulekan Mbak gado-gado. Anto jarang sekali ingin ngomong sampai ke
tingkat ‘hangat’, biasanya Ia asyiik mainin gadget hasil uniko (Usaha Nipu
Kolot). Hesty tidak ingin kalah, terus saja Ia memasukan argumennya. Rindra
masih dalam porsinya, menjadi penjaga api dalam sebuah perbincangan. Hilman,
diam.
“Aku sih
masih ada yang bisa dijual untuk nutupin bayaran.” Kata Anto. Rindra kehabisan
akal. Ouw, yang jadi bahan perbincangan adalah soal bayaran untuk UTS. Hilman, diam.
“Kamu sudah
bayaran, Pri ? ahh, salah nanya Aku. Pasti kau nanti pakai surat pengantar dari
TU yah ?” Tanya Anto padaku.
“Gak ah, malu
Aku terus-terusan begitu. Masa setiap semester Aku ndak pernah megang kartu
ujian.” Jawabku.
“Memang Kau
punya uang untuk bayaran ?” Hesty menimpali.
“Ndak punya,
ini saja beli minuman dibayari Kamu, Hes.”
“Terus
bayaran pakai apa Kamu, Pri ?” Rindra tidak ingin kalah.
“Duh, sudah
semester berapa sih Sampean ?” – sambil Aku tunjuk satu-satu orang ber-IQ
melati – “Mbok ya kalau punya otak dipakai, jangan cuma buat menuh-menuhin
daleman kepala. Kalau mau diisi yak pakean dalem, biar sexy.” Mereka menatapku
nanar.
“Denger nih.”
Anto sudah menyiapkan tatakan gelas, sepertinya sudah siap melemparku kalau-kalau
Aku salah ucap. “Kita ini kuliah di kampus islam, namanya saja UMM, Universitas
Muhammadiyah Malang. Inget slogannya ? ‘Islam Agamaku, Muhammadiyah Gerakanku’.
Jadi, kita bergerak seperti apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad.” Hesty
memiringkan kepalanya, seakan ingin menciumku. Aku coba merem dan berharap
Hesty beneran cium Aku. ‘Taaaak’. Kepalaku digetok Anto.
“Masih ndak
paham juga.” Mataku mengitari orang-orang ber-IQ melati. “Nih, Nabi Muhammad
‘kan terus bersyiar dengan Islam, Ibadahnya juga kuat. Maka dari itu, kita tiru
bersama. Kita coba sekali-kali mengajukan diri untuk kasih dakwah setiap siang
ba’da Djuhur. Ngomong apa aja, yang penting dikait-kaitin sama Islam. Itu saja
ndak cukup, kita juga perlihatkan ibadah kepada Rektor. Kalau Rektor solat,
sebisa mungkin sebelah beliau dan jangan lupa, pakai berdo’a yang khusu kalau bisa sampai keluar air mata.
Yakin, seyakin-yakinnya kita diperbolehkan ikut Ujian. Misalnya ndak boleh
juga, ganti saja nama kampus ini dan ndak usah bawa embel-embel islam untuk
menarik minat mahasiswa baru.”
Rindra,
Hesty, Anto tepuk tangan, Hilman, diam.
“Ndak salah
Aku traktir kau minum siang ini, Pri.” Puji Hesty.
“Ndak salah
Aku getok kepalamu tadi, Pri.” Anto ikut memuji.
“Ndak salah
kau baca buku Ngawur itu, Pri.” Rindra mungkin hanya ikut-ikutan saja karena
malu ndak muji Aku sendirian. Hilman, diam.
Kita berlima
pindah haluan ke Sekret (baca: sekertariat. Bagian/tempat organisasi yang
menangani pekerjaan dan urusan yan menjadi tugas sekretaris; kepaniteraan) dan
Hilman masih saja diam. Beberapa meter mendekati secret, tampak seorang
laki-laki sedang duduk di depan pintu. Pandangannya kosong. Laki-laki itu
memakai baju coklat, celana panjang hitam, menggunakan sepatu layaknya buruh
yang bekerja di perusahaan alat berat, sedikit kumel memang. Hal pertama yang
terlintas didalam pikiranku adalah pasti laki-laki ini korban ketidakadilan
serikat pekerja buruh, kecewa, lalu ada yang ndak bener dengan pergeseran
otaknya.
Rindra yang
pertama mendekat tapi hanya dilihat saja. Dasar bodoh, dikira kotoran ayam yang
ada dijalan mungkin, dilihat lalu menghindar. Kemudian Aku juga ikut mendekat,
Aku sentuh-sentuh badannya dengan telunjuk tapi tidak ada reaksi. Karena
penasaran, Aku duduk di sampingnya ikut memandang jauh sama seperti laki-laki
itu lakukan. Dan Aku masih tidak menemukan apa-apa.
“Bapak laper
?” Kataku, tidak ada jawaban. “Bapak nunggu siapa ?” Masih saja tidak ada
jawaban.
“Bapak habis
diperkosa ? Bapak ingin kuliah di sini ? Bapak haus ? Bapak habis ikut demo ?
Bapak Virgo ? Bapak suka masak ? Bapak lahir di mana ? Bapak paranormal ? Bapak
lagi syuting reality show ?” Beragam pertanyaan yang Aku tanya ‘kan sama sekali
tidak membuatnya buka mulut untuk menjawab. Sekali lagi Aku tanya, “Bapak kok
kayak SBY, diem aja bisanya ?”
Yasudah, Aku
melipir masuk sekret tapi ketika tangan kananku hendak membuka pintu, laki-laki
itu bangun dan menendang kaki kiriku sangat kencang dengan sepatu khas buruh
pabrik.
“AAAAAAKKKKKK.”
Aku teriak kencang, laki-laki itu lari setelah menendang kakiku. “DASAR ORANG
GILA!!” Teriakku kearah laki-laki yang langkahnya semakin jauh.
Anto, Hesty,
dan Rindra tertawa melihat kakiku ditendang tapi Hilman masih saja diam.
“Man, kok
Sampean diam saja dari tadi. Ada apa sih ?” Tanya Anto.
“Dari tadi
Aku kosentrasi, naham mules, pengen BAB tapi WC di sini airnya lagi kering.”
Aku, Rindra,
Hesty, dan Anto, “????????”
Oleh, Harry Ramdhani
‘Seorang Pria yang sedang menabur bunga di Twitter Hill atas kematian
sebuah rasa dari kepercayaan’
Tag :
OBSET,
Orang Bilang, Masturbasi.
By : Harry Ramdhani
Entah, sudah berapa orang yang
mengeluh atas keadaan. Entah, sudah berapa orang yang pasrah atas keadaan. Dan,
entah, sudah berapa orang yang mojok
di sudut kelas sedang Masturbasi… .
“Kabeh tergantung otakmu !”
“Kalau pikiranmu ngeres, ngeliat yang nggak kotor ya jadi cabul.
Lihat buah papaya saja imajinasi sudah kemana-mana. Lihat bolongan mulut
gua-gua di tebing saja, darah sudah bisa umub.
Ndasmu cenat-cenut.”
Ngawur Karena Benar – Sujiwo Tejo
Bumi gonjang
ganjing, langit kelap kelap
Tidak akan ada habisnya mendengar
orang-orang berbicara tentang negeri ini. Dari pemulung yang sedang istirahat
di warkop, dari tukang koran ngedumel
sama koran yang Ia jual kalau isi berita semakin miring saja, sampai orang
berdasi yang duduk manis di Gedung berbentuk bokong (Baca: Gedung Nusantara,
DPR/MPR).
Aku ingat ketika sedang kuliah
Sistem Ekonomi Indonesia, saat itu pembahasan tentang tindakakn korupsi yang
terjadi pada Orde Baru. Kata dosenku, “Untuk bisa memutuskan lingkar labirin –
sambil membuat lingkaran di papan tulis – harus ada orang yang masuk kedalam
untuk memutuskan tali lingkaran ini.” Wuiih, kayaknya, dosenku ngelewatin tahun 1998, Ia lupa kalau
orang-orang yang berada diluar sistem ‘lah yang berhasil memutuskan tali dari
lingkaran labirin tersebut. Setidaknya, memutuskan dalang yang asyik main di
dalam lingkaran labirin. Korupsi sih jalan terus sampai sekarang tapi biarlah,
itu urusan KPK dan bukan urusanku. Oia, bahkan, sekarang, ‘Maling’ malah makin
kondang ternyata. Butuh banting tulang alias kerja keras untuk seorang Ariel
agar bisa jadi kondang seperti dulu. Ia harus melakukan petunjukan Dua Benua,
Lima Negara dalam waktu 24 jam supaya kembali kondang. Berbeda dengan orang
berdasi di Gedung berbentuk bokong, tinggal korupsi, bikin sensasi, langsung
kondang disemua tivi.
Aku mencoba untuk mempraktikkan
apa kata dosenku, masuk kedalam sistem lalu coba memutuskan lingkaran yang
menurutku ndak bener. Bayangin, setiap hari ada saja orang yang mengeluh.
Padahal lagi asyik berat nikmatin kopi di café merah putih, eh, temenku datang
dengan segala keluh-kesah tentang kampus yang dulunya biru tapi kini hijau,
dulunya almamater biru tapi kini hijau (FYI: katanya, Almamater diganti hijau
karena untuk nyocokin cat tembok kampus yang diganti hijau juga. Ndak kebayang
Aku kalau suatu saat cat ini luntur, hijaunya pudar lalu warna Almamater
diganti pula untuk ngikutin. Pasti lebih terlihat sekumpulan gembel memakai Almamater dengan warna
luntur.). Jengkel ? pasti, wong lagi asyik berat sama kopi malah diganggu.
Andai di sini ada mata kuliah Pastur, pasti Aku dalami. Gini, Setahu-ku, orang
kalau datang ke Pastur dengan segala masalahnya maka Pastur akan dengan suka
rela mendengarkan lalu memberi nasihat tapi, berbeda dengan membawa masalah ke
Pak Haji, dikit-dikit ada pake duit walau Aku juga tahu kalau duit yang
diamplopin juga dikit. Tetep aje, bayarkan intinya?
Kini Aku menjabat sebagai Ketua
di Fakultas, asyik ye? Menjabat, padahal di sini orang-orang ogah jadi pejabat
jadi siapa–pun orang yang minat untuk jadi pejabat gampang. Tinggal mendaftar
ingin menjabat apa, langsung dapet jabatan itu. Karena berdasarkan pengalamanku
dulu ketika menjabat – aih, menjabat, asyik beraaat. Dulu menjabat dan sekarang
masih menjabat di dua badan organisasi mahasiswa fakultas yang berbeda – bahwa
begitu mudah untuk mendapat perijinan dalam membuat kegiatan tapi kini sulitnya
minta ampun. Sendirian, yup hanya sendiri. Entah yang lain kemana, mungkin
sedang asyik masturbasi.
Aku menikmati semua proses ini.
Aku masih setia menunggu akan hasil dari sebuah proses. Semua begitu indah bila
benar bisa tenggelam didalamnya seperti orang yang setia menunggu hujan di
musim kemarau.
Tapi, melihat realita yang ada,
Aku seperti diperkosa. Diperkosa oleh waktu. Diperkosa oleh tanggung-jawab.
Diperkosa oleh pikiran. Kehormatanku hilang. Memang, ini hanya soal otak saja
dapat menyimpulkan apa atas peristiwa yang ada. Toh, tinggal gimana isi kepala
saja. Kalau isi kepala mumet, mendapat sedikit masalah saja pasti nyerah. Mau
warna almamater hijau/biru sama aja, kalau isi kepala kita tidak memikirkan
tentang keterpurukan organisasi ya sami
mawon. Asyik memuaskan diri sendiri, orang bilang… masturbasi.
Inilah, inilah kelucuan di
kampusku, orang yang bisanya mengeluh tentang kampus tanpa bertindak dan itu berarti
Matematikanya jelek. Tidak bisa menangkap satu pola dari sesuatu yang tidak
berpola. Inilah uniknya kampusku, dimana masih banyak mahasiswa yang sulit
mendapat buku referensi untuk bahan belajar karena harganya yang relative mahal
tapi pemimpinnya malah asyik bikin banyak bukunya sendiri, orang bilang sih…
masturbasi.
Semua tergantung otak kita !
Ingin hanya ngengkang tanpa
berjuang ? itu urusan Sampean, bukan urusanku.
Oleh, Harry Ramdhani,
“Seorang Pria yang sedang
menabur bunga di Twitter Hill atas kematian sebuah rasa dari kepercayaan.”
Tag :
OBSET,
