Sudahkah?
By : Harry Ramdhani![]() |
| bukan sekadar, buat nyang butuh, ini lebih dari segala hal. |
Sudahkah di tempatmu ada seorang mustahik alias orang yang berhak menerima zakat, tapi dikecualikan hanya karena (1) berbeda pilihan politik dengan pengurus dan/atau pengelola zakat? Atau, yang lebih buruk lagi, (2) mustahik tersebut tidak mendapat haknya karena ia poligami dan miskin? Tentu orang-orang tersebut acapkali dianggap buruk dari berbagai lapisan masyarakat sosial. Hanya karena ia membela atau membicarakan politik dalam kesehariannya, mustahik tersebut tidak mendapat zakat. Hanya karena ia memiliki lebih dari satu istri dan dianggap bukan lelaki setia atau ia seorang wanita yang (mau) dimadu tapi kemudian tidak diperhatikan oleh suaminya, maka keluarga mereka, yang poligami dan dipoligami, jadi tidak mendapat pembagian zakat. Apalagi hanya karena sekadar (dianggap) buruk oleh lingkungan sosial, mereka jadi tidak mendapat zakat. Jujur, aku sampai tidak habis pikir ketika nama-nama mustahik itu dicoret. Jika hal tersebut terjadi di tempat tinggalmu, jelaskan saja ini: (1) fakir, orang yang tidak memiliki harta; (2) miskin, orang yang penghasilannya tidak mencukupi; (3) riqab, hamba sahaya atau budak; (4) gharim, orang yang memiliki banyak hutang; (5) mualaf, orang yang baru masuk Islam; (6) fisabilillah (pejuang di jalan Allah; (7) ibnu sabil, musyafir dan para pelajar perantauan; dan (8) amil zakat, panitia penerima dan pengelola dana zakat. Jadi sila tempatkan orang-orang tersebut pada delapan (8) kriteria tersebut. Buatku itu sudah cukup. Tetapi jika memang orang-orang tersebut pada akhirnya menerima dan ocehan kalian tidak henti-hentinya mencibir, semoga ada yang bulan latihan lain buat kalian, selain ramadan.
Tag :
blogram,
Sebuah catatan tentang seorang laki-laki yang tidak memakai dompet
By : Harry Ramdhani![]() |
| nasi goreng enak: rindu malam. lokasinya di depan kantor kompas gramedia, palmerah barat. |
Beberapa temanku, sampai hari ini bahkan, masih suka terheran ketika aku mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu dari dalam saku dalam kondisi yang menyedihkan: terlipat tidak kruanan. Dan karena itu pula aku jadi sering mengulang alasanku, bahkan pada orang yang sama, melakukan hal itu. Satu alasan yang utama adalah aku tidak suka menggunakan dompet. Sejak dulu bahkan. Sejak aku mulai mengenal dompet bisa dugunakan untuk menyimpan uang, selain celengan di rumah. Apalagi setelah aku mulai sering mengumpulkan uang jajan sekolah yang kemudian uangnya aku gunakan dengan sia-sia. Mentraktir makan pacar, misalnya. Sejak saat itu aku jadi akrab dengan dompet. Setidaknya aku menjadi laki-laki umum lainnya: di mana di saku celana belakangku akan terlihat sedikit membungbug karena tersimpan dompet. Akan tetapi itu tidak berlangsung lama. Nyatanya aku tidak suka. Alias tidak nyaman ada yang mengganjal di kantung celana. Seperti ada kepalan tangan yang sedang menempel di bokong. Ih!!! Karena itu pula akhirnya aku tidak lagi menaruh dompet di celana dan aku ganti dengan menaruhnya di tempat lain: tas. Ternyata itu tidak menyelesaikan permasalahan, justru membuat dua (2) permasalahan baru, yaitu (1) aku jadi suka membawa tas ke mana-mana dan (2) setiap ada urusan bayar-membayar aku jadi suka membuka-tutup tas. Melelahkan dan ribet. Namun, pada satu kesempatan aku terselamatkan saat di mana aku jarang --atau tidak punya-- uang. Aku jadi tidak akrab dengan dompet. Dompet jadi sesuatu yang-tidak-ada-pun-tak-mengapa. Aku masih bisa baik-baik saja asal masih bisa beli rokok dan kopi dan buku dan jajanan murah pinggir jalan lainnya. Setidaknya uang yang kupunya sebatas untuk itu. Kantung celana, tentu saja, masih memungkinkan untuk itu. Kebiasaan ini ternyata mengikutiku sampai aku bisa punya penghasilan sendiri. Setiap ada kiriman uang bulanan, aku jadi suka mengambilnya sedikit untuk yang aku perlukan saja. Kalau ada kebutuhan lain, semisal mengetahui akan ada antrean di banyak mesin ATM, maka pada satu waktu aku akan mengambil uang dalam jumlah yang sedikit lebih banyak dari biasanya. Uang tersebut tetap aku simpan di kantung celana, tentu saja, sampai pada waktunya teman-temanku akan melihat aku mengeluarkan lembaran uang ratus ribuan dari dalam kantung celana, lalu ditanyakan lagi kenapa. Maka, bila laki-laki itu dinilai dari model dompet yang digunakan dan/atau isi dompetnya, tidak dinilaipun aku tidak mengapa. Sebab, dompetku akhirnya menjadi tempat di mana aku menyimpan segala macam tiket nonton bioskop, tiket nonton konser dan lain sebagainya yang pernah aku lalukan untuk sesuatu yang sia-sia, dulu, bersama pacar. Oh, bukan, barangkali mantan, lebih tepatnya.
Tag :
blogram,
Lelucon (tentang) pemilu serentak 2019
By : Harry RamdhaniTag :
blogram,
Seberapa kuat aku menerima kehilangan?
By : Harry Ramdhani![]() |
| huntinghuji - jalan. |
Setidaknya sudah 2 malam, sebelum aku dan peang tidur, kami saling mengelitiki. Bercanda. Sampai kami lelah. Dan tidur. Begitu juga yang terjadi di malam ketiga. Bedanya setelah peang tidur, kali itu aku memikirkan sesuatu: akan sampai kapan kami bisa bercanda seperti ini sebelum tidur? Pertanyaan itu membuatku keluar dari kamar. Menuju teras. Membakar satu batang rokok dan berusaha menjawab pertanyaan tadi. Tidak ada yang aku temukan. Waktu sudah menunjukan pukul 12 lewat. Aku bakar rokok kedua. Sambil memikirkan itu aku coba merealisasikan apa yang aku bayangkan. Begini. Sekarang peang sudah kelas 3 SD. Sebentar lagi dia naik kelas. Dan begitu seterusnya. Bukan sekadar naik kelas, tentu saja, peang akan bertambah usia dan dewasa dengan sendirinya. Lalu aku membayangkan: apakah peang masih mau bercanda seperti itu, sebelum tidur, jika ia sudah kelas 6 SD, misalnya? Aku tidak yakin, mesti itu masih mungkin. Kenapa? Sebab aku ingat bagaimana dulu aku seusia itu. Aku masih "ngekor" gomah ke mana-mana. Kadang tidur dengannya. Nonton tv masih suka dimeminjam pahanya. Dekat. Sangat dekat --bila tidak ingin dikatakan aku ini anak mami, tentu. Dan itu aku bisa bayangkan terjadi hal serupa oleh peang. Itu jika aku bayangkan yang aku inginkan. Bagaimana jika tidak? Bagaimana kalau peang sudah kelas 4 SD, ternyata ia bahkan sudah tidak ingin tidur denganku? Tidak akan ada lagi keisengan-keisenganku sebelum tidur. Atau yang lebih menyedihkan: peang itu kalau tidur sukanya kalau tidak dipeluk, ia yang memeluk. Kadang, ketika aku masih kerja sambil menemani peang tidur di sebelahku, ia akan dengan sendirinya memiringkan badan dan memelukku. Tentu aku akan kehilangan. Tanpa terasa aku sudah menghabiskan 3 batang rokok dengan sekotak susu UHT rasa cokelat. Aku takut semua yang aku bayangkan terhadap peang menjadi kenyataan dalam waktu dekat --jikapun masih lama dan bila waktunya tiba apakah aku akan dan/atau sudah siap? Tidak. Tentu aku tidak siap. Rokok keempat sudah di tangan, tapi aku mesti tidur. Itu sudah hampir pukul 2 dan besoknya aku mesti berangkat pagi. Aku masih memikirkan itu dan pada kondisi yang sama. Tapi tiba-tiba terbersit pikiran untuk datang aksikamisan. Apa aku datang ke aksikamisan saja? Yha. Paling tidak datang dan menyaksikannya dari jauh bila aku tidak mampu mendekat, berkerumun dengan para penyintas dan peserta lain. Aku hanya ingin tahu: bagaimana tetap mampu menyikapi sebuah kehilangan? Paling tidak melihat mereka yang sudah terlebih dulu kehilangan, bukan oleh waktu, tapi kenyataan. Dan tadi, sialnya, aku datang dan aksikamisan telah selesai. Tidak ada sesiapa, kecuali aku, di sana dengan membawa pikiran yang sama. Seberapa kuat aku mampu merelakan kehilangan?
Tag :
blogram,
Belerdikari, antara Dany Beler dan Komedi Hari Ini
By : Harry RamdhaniTag :
blogram,
Nyanyian Kesedihan, Pablo Neruda
By : Harry Ramdhani![]() |
| lukisan karya anak-anak di rumah singgah Potads. |
Ingatanmu muncul dari malam di sekelilingku.
Sungai itu membaur dengan ratapan kerasnya dengan laut.
Gurun seperti dermaga saat fajar.
Ini adalah jam keberangkatan, oh sepi!
Kepala bunga dingin menghujani hatiku.
Oh lubang puing-puing, gua ganas kapal karam.
Di dalam kamu, perang dan penerbangan terakumulasi.
Dari kamu sayap burung-burung lagu naik.
Kamu menelan semuanya, seperti jarak.
Seperti laut, seperti waktu. Di dalam kamu semuanya tenggelam!
Itu adalah saat-saat bahagia dari serangan dan ciuman.
Jam mantra yang menyala seperti mercusuar.
Ketakutan pilot, kemarahan seorang penyelam buta,
mabuk mabuk cinta, di dalam kamu semuanya tenggelam!
Di masa kecil kabut jiwaku, bersayap dan terluka.
Sebuah pencarian yang hilang, di dalam kamu semuanya tenggelam!
Kamu berdukacita, Kamu berpegang pada keinginan,
kesedihan mengejutkanmu, di dalam diri kamu semuanya tenggelam!
aku membuat dinding bayangan menarik kembali,
di luar keinginan dan tindakan, aku terus berjalan.
Oh daging, dagingku sendiri, wanita yang aku cintai dan kehilangan,
aku memanggilmu di jam lembab, aku angkat laguku untukmu.
Seperti kendi kamu tempatkan kelembutan yang tak terbatas,
dan pelupaan tak terbatas itu menghancurkanmu seperti guci.
Ada kesendirian pulau-pulau hitam,
dan di sana, wanita cinta, tanganmu membawaku masuk.
Ada kehausan dan kelaparan, dan kamu adalah buahnya.
Ada kesedihan dan reruntuhan, dan kamu adalah keajaiban.
Ah wanita, kamu tidak tahu bagaimana kamu bisa menahanku
di bumi jiwamu, di salib tanganmu!
Betapa mengerikan dan singkatnya keinginanku terhadapmu!
Betapa sulit dan mabuk, seberapa tegang dan rajin.
Pemakaman ciuman, masih ada api di makammu,
masih dahan-dahan yang digoreng terbakar, dipatuk oleh burung-burung.
Oh mulut yang tergigit, oh anggota badan yang dicium,
oh gigi yang lapar, oh tubuh yang terjalin.
Oh gila harapan dan kekuatan
di mana kami bergabung dan putus asa.
Dan kelembutan, ringan seperti air dan tepung.
Dan kata itu nyaris tidak mulai di bibir.
Ini adalah takdirku dan di dalamnya adalah pelarian kerinduanku,
dan di dalamnya kerinduanku jatuh, di dalam kamu semuanya tenggelam!
Oh, lubang puing, semuanya jatuh padamu,
kesedihan apa yang tidak kamu ungkapkan, dalam kesedihan apa kamu tidak tenggelam!
Dari mengepul hingga mengepung kamu masih disebut dan bernyanyi.
Berdiri seperti seorang pelaut dalam haluan kapal.
kamu masih berbunga dalam lagu, kamu masih memecahkan arus.
Oh lubang puing, terbuka dan pahit.
Penyelam buta pucat, pengumban beruntung,
penemu yang hilang, di dalam kamu semuanya tenggelam!
Ini adalah jam keberangkatan, jam yang sangat dingin
yang malam kencangkan ke semua jadwal.
Sabuk gemerisik lautan membentuk pantai.
Bintang dingin naik, burung hitam bermigrasi.
Gurun seperti dermaga saat fajar.
Hanya bayangan yang berliku-liku di tanganku.
Oh lebih jauh dari segalanya. Oh lebih jauh dari segalanya.
Ini adalah jam keberangkatan. Oh ditinggalkan.
Tag :
pablo NB neruda,
Mendamaikan rindu dan dendam setiap tahun
By : Harry Ramdhani![]() |
| bagus2 yha? gelang and gantungan, kesukaanmu. |
***
Apa yang kamu dapat di hari ulangtaun? Apa yang kamu harapkan? Ceritakanlah... biar dari jauh akan aku amin-kan.
Tag :
blogram,
Mari merayakan bengong!
By : Harry Ramdhani![]() |
| nyang aing bayangkeun tentang gopah! |
Bengong itu ibadah. Menikmati bengong itu sama halnya dengan menghargai sepi dan sunyi. Sebab, tak ada yang khidmat, yang membuat lebih dekat, ketika bengong. Bengong itu seperti puisi; tidak cukup dibaca satu kali untuk memahami. Dalam bengong, tentu saja, kita bisa meringkus dengan ringkas atas apa yang dipikirkan, diharapkan, dan kenyataan. Dan bengong, sekali lagi, bisa menjelma apa saja. Kesepian. Keramaian. Kesedihan. Kebahagiaan. Kerinduan. Kegalauan, kalau perlu.
Tak pernah ada cinta yang rapi.
Rindu membuatnya berantakan lagi.*
Rindu membuatnya berantakan lagi.*
Kehidupan ini, barangkali, terlalu cepat. Sehingga yang berubah jauh lebih tampak tinimbang yang berproses atau bertumbuh. Bengong adalah tanda, alarm bagi diri sendiri, untuk sedikit merenungkan --bukan menghentikan, karena konotasinya cukup negatif, mungkin-- semua yang berkejaran dan berlarian. Bengonglah untuk sementara. Sewaktu yang kita punya. Bengong juga tidak perlu diluangkan. Karena bengong bukan tentang lama atau sebentar, tapi bengong, barangkali, adalah soal memahami sejenak apa yang terjadi saat itu.
Haruskah dengan bertengkar,
kekuatan cinta kita ditakar?*
kekuatan cinta kita ditakar?*
Laiknya nyala api yang mengeluarkan asap, bengong itu menghasilkan. Jika bukan sesuatu yang berbentuk atau nyata, bengong paling tidak menjernihkan. Ujudnya bahkan bisa menjadi ekstrem: bengong membuat kita menangis. Tidak perlu heran ada mata yang berkaca-kaca ketika bengong. Apalagi sampai menetes di pipi. Sebab dari bengong, adalah cara kita memasuki diri jauh ke dalam. Tempatnya mungkin jauh lebih gelap dari dasar laut terdalam. Dan, buat apa malu untuk menangis? Menangis itu obat yang hanya bisa diramu oleh orang yang sedang sakit itu sendiri. Menangis, paling tidak, menenangkan. Penyair pernah berpesan: airmata tidaklah jatuh untuk hal yang sia-sia.
Jika cinta hanya soal segala hal benar,
maka mustahil kita bisa sebegini tegar.*
maka mustahil kita bisa sebegini tegar.*
Bengong itu tidak terkotakkan dan terkatakan. Bengong adalah segala hal yang mustahil dirancang-rencanakan. Ketika bengong, selalu hadir hal-hal spontan yang tidak terikat. Bengong biar bagaimana pun juga adalah pergulatan batin. Dari bengong kita mampu merasa kesepian di antara keramaian, merasa sendiri sampai bayangan pun enggan menemani. Saat ini aku hanya ingin merayakan bengong itu sendiri, seorang diri.
*) Dari puisi-puisi Candra Malik dalam bukunya: Fatwa Rindu
Tag :
blogram,
Kewajiban Para Penyair
By : Harry Ramdhani![]() |
| ilustrasi (pixabay) |
Untuk siapa pun yang tidak mendengarkan laut
Jumat pagi ini, kepada siapa pun yang terkurung
di rumah atau kantor, pabrik atau wanita
atau jalan atau saya atau sel penjara yang keras;
kepadanya saya datang, dan, tanpa berbicara atau melihat,
Saya tiba dan membuka pintu penjara,
dan getaran dimulai, tidak jelas dan mendesak,
sebagian besar guntur mulai bergerak
gemuruh planet dan buih,
sungai parau banjir laut,
bintang bergetar dengan cepat di koronanya,
dan laut berdetak, sekarat dan berlanjut.
Jadi, tertarik oleh takdirku,
Saya tidak henti-hentinya harus mendengarkan dan menyimpan
ratapan laut dalam kesadaran saya,
Saya harus merasakan jatuhnya air keras
dan mengumpulkannya dalam cangkir abadi
sehingga, dimanapun mereka berada di penjara,
dimanapun mereka menderita celaan musim gugur,
Saya mungkin berada di sana dengan gelombang yang menyimpang,
Saya dapat bergerak, melewati jendela,
dan mendengar saya, mata akan melirik ke atas
mengatakan 'Bagaimana saya bisa mencapai laut?'
Dan saya akan menyiarkan, mengatakan apa-apa,
gema berbintang dari gelombang,
pemecahan busa dan pasir apung,
gemeresik penarikan garam,
teriakan abu-abu burung laut di pantai.
Jadi, melalui saya, kebebasan dan laut
akan membuat jawaban mereka ke hati yang tertutup.
*) A minhas obrigações, Pablo Neruda. Sebuah terjemahan Puisi
Untuk yang akan kembali dalam waktu yang lama
By : Harry Ramdhani![]() |
| untuk yang ditinggalkan |
'Anaknya' Gomah yang lain yang terakhir mulai hari ini bakal tinggal di asramah. Kuliah. Momen pas pamit tadi waktu seakan tidak bergerak maju. Semua yang lalu hadir: ingatan dan masasilam. Mereka, ingatan dan masasilam tadi, mencoba menahan untuk sebuah kepergian. Menjadi pahlawan kesiangan untuk menolak semua. Karena kepergian, biar bagaimanapun, selalu melahirkan korban: yang ditinggal dan tertinggal. Tapi waktu, sekali lagi, tidak pernah bergerak mundur: waktu terus tumbuh dan tidak ada yang bisa menahannya maju --meski lamat-lamat kesedihan dan kerelaan yang menetap. Pada momen semacam ini manusia hanya bisa pasrah akan kehendak Tuhan. Adil atau tidak. Menerima atau tidak. Namun begitulah aturan mainnya. Andai manusia bisa meminta, jawabannya hanya satu: jalani.
***
Seminggu lalu 'anaknya' Gomah itu bolak-balik mencari peralatan untuk di asramah. Beberapa sudah didapat dan sebagiannya lainnya belum. Ia datang ke rumah, menanyakan tempat menjual bantal dan guling ke Gomah yang murah. Harga itu relatif, murah atau mahal, namun yang pasti yang murah, tentu saja, selalu kalah nyaman dengan yang mahal. Tapi waktu itu Gomah tidak menjawab. Gomah masuk ke kamar dan keluar dengan membawa dua bantal. Pakai ini saja, katanya, biar tetep bisa ingat rumah. Tidak ada yang bisa diharapkan dari sebuah kepergian selain tetap bisa ingat bagaimana ada orang-orang di masasilam ini akan setia menunggu kepulangan. Ia menirama kedua bantal itu. Duduk di teras dan memeluknya. Entah apa yang dipikirkannya. Entah apa yang tengah dirasakannya.
***
Gomah punya dua anak lain. Yang satu sudah akan lulus kuliah. Satu lainnya yang akan berangkat ini. Yha. Sedari dulu aku ingin punya adik. Sampai akhirnya tetangga ada yang lahiran dan anaknya, keluarga kami anggap seperti anak sendiri. Dan aku seakan punya adik. Begitulah kedua anaknya Gomah yang lain itu. Sedari kecil selalu di rumah. Pulang untuk tidur malam di rumahnya dan paginya sudah main lagi ke rumah. Kedua anaknya Gomah yang lain itupun memanggil Gomah dengan sebutan "Mamah". Seperti jua aku tentu saja. Dan Peang yang terakhir ini. Keduanya tumbuh. Menjadi remaja dan dewasa. Dan Gomah, sampai sekarang, tetap saja menganggap mereka masih kecil. Bila di rumah mereka sedang tidak ada makanan, misalnya, mereka akan datang ke rumah untuk makan. Atau, jika air dingin di kulkas mereka habis dan mereka ingin minum, maka mereka akan datang ke rumah: mengambil gelas dari lemari dan menghabiskan satu botol air dingin sendiri. Tidak ada sekat. Bahkan walau kami berbeda keyakinan. Hidup kami jauh lebih tentram dari apa yang kalian kotak-kotakan. Setiap lebaran Gomah selalu memberi ketupat dan teman-temannya itu. Dan ketika natal, Gomah akan memberi ucapan selamat dan mengamplopinya. Tidak pernah jua kami terganggu jika di rumah mereka sedang latihan atau beribadah dengan menyanyikan puji-pujian. Kami bukan lagi sekadar saudara, lebih dari itu, kami berkeluarga. Dan ketika satu anggota keluarga pergi, tentu saja, anggota keluarga yang lainnya bersedih. Termasuk Gomah dan Gopah dan aku.
***
Sebelum tadi aku berangkat jumatan Gomah memanggilku yang sedang buang air besar. "Dek, lagi pegang uang kes? 50ribu aja," kata Gomah. Sambil sedikit ngeden, aku jawab ada di kantung celana. Ambil saja. Tadinya aku tidak tahu uang itu untuk apa. Toh aku tidak begitu peduli jua. Namun setelah jumatan Gomah bilang kalau uangnya untuk membekali anaknya yang lain itu. Nambahin. Aku bilang, kenapa engga diambil semua aja yang di kantung celana. Seingatku ada seratus ribu. Tapi nanti jua dia balik lagi, kata Gomah, untuk nantinya tidak kembali dalam waktu yang lama.
Tag :
blogram,
Teka Teki
By : Harry Ramdhani![]() |
| ilustrasi: @kulturtava |
kau bertanya kepada aku apa yang sedang ditenun lobster
kaki emasnya?
aku jawab, laut tahu ini.
kau berkata, apa yang ditunggu ascidia secara tembus pandang
bel? apa yang ditunggu?
aku katakan itu menunggu waktu, seperti kau.
kau bertanya kepada aku siapa Alga Macrocystis di pelukannya?
belajar, pelajari, pada jam tertentu, di laut tertentu yang aku tahu.
kau menanyai aku tentang gading jahat dari narwhal,
dan aku membalas dengan menjelaskan
bagaimana kuda laut dengan harpun di dalamnya mati.
kau bertanya tentang bulu burung rajawali,
yang gemetar di mata air murni dari pasang selatan?
atau kau menemukan di dalam kartu pertanyaan baru yang menyentuh
arsitektur kristal
dari anemon laut, dan kau akan menghadapinya sekarang?
kau ingin memahami sifat listrik lautan
duri?
stalaktit berlapis baja yang pecah saat berjalan?
kail pemancing ikan, musik mengulurkan
di tempat yang dalam seperti benang di air?
aku ingin memberi tahu kau bahwa laut tahu ini, bahwa kehidupan di dalamnya
kotak perhiasan
tidak terbatas seperti pasir, tidak mungkin dihitung, murni,
dan di antara waktu anggur berwarna darah telah membuat
daun bunga
keras dan berkilau, membuat ubur-ubur itu penuh dengan cahaya
dan membuka simpulnya, membiarkan benang musiknya jatuh
dari tanduk banyak terbuat dari ibu mutiara yang tak terbatas.
aku bukan apa-apa selain jaring kosong yang telah berjalan di depan
mata manusia, mati dalam kegelapan itu,
jari-jari yang terbiasa dengan segitiga, garis bujur
pada bola mata oranye dari oranye.
aku berjalan seperti kau, menyelidiki
bintang tanpa akhir
dan di jaring aku, pada malam hari, aku terbangun telanjang,
satu-satunya yang tertangkap, seekor ikan terperangkap di dalam angin.
Enigmas, Pablo Neruda. Sebuah terjemahan puisi.
absolutely state of the art!
By : Harry Ramdhani"bareng2 ngerayakeun merdekanya negeri orang, atanapi abai sama nyang ingin (me)merdeka(keun) sendiri. absolutely state of the art!" --coretan tipe-x di gitar aing dulu.
Tag :
blogram,











