The Pop's

Lelucon (tentang) pemilu serentak 2019

By : Harry Ramdhani

Aku punya dua lelucon tentang Pemilu Serentak 2019: (1) ketika kerja petugas KPPS disamakan dengan tim kreatif Trans TV atau Net. oleh seorang yang namanya ada di Wikipedia; (2) bahwa tahun 2024 kembali diadakan pemilihan umum dan diselenggarakan oleh lembaga yang sama yang telah secara tidak langsung membuat 90 orang meninggal dan 300 orang lainnya sakit. Tidak lama, ahirnya finally, sebutan "pejuang demokrasi" muncul. Jika ada nyang lebih lucu dari ini tolong kabari. Aku tak ingin ketinggalan lelucon 5 tahunan ini.
Tag : ,

Seberapa kuat aku menerima kehilangan?

By : Harry Ramdhani
huntinghuji - jalan.

Setidaknya sudah 2 malam, sebelum aku dan peang tidur, kami saling mengelitiki. Bercanda. Sampai kami lelah. Dan tidur. Begitu juga yang terjadi di malam ketiga. Bedanya setelah peang tidur, kali itu aku memikirkan sesuatu: akan sampai kapan kami bisa bercanda seperti ini sebelum tidur? Pertanyaan itu membuatku keluar dari kamar. Menuju teras. Membakar satu batang rokok dan berusaha menjawab pertanyaan tadi. Tidak ada yang aku temukan. Waktu sudah menunjukan pukul 12 lewat. Aku bakar rokok kedua. Sambil memikirkan itu aku coba merealisasikan apa yang aku bayangkan. Begini. Sekarang peang sudah kelas 3 SD. Sebentar lagi dia naik kelas. Dan begitu seterusnya. Bukan sekadar naik kelas, tentu saja, peang akan bertambah usia dan dewasa dengan sendirinya. Lalu aku membayangkan: apakah peang masih mau bercanda seperti itu, sebelum tidur, jika ia sudah kelas 6 SD, misalnya? Aku tidak yakin, mesti itu masih mungkin. Kenapa? Sebab aku ingat bagaimana dulu aku seusia itu. Aku masih "ngekor" gomah ke mana-mana. Kadang tidur dengannya. Nonton tv masih suka dimeminjam pahanya. Dekat. Sangat dekat --bila tidak ingin dikatakan aku ini anak mami, tentu. Dan itu aku bisa bayangkan terjadi hal serupa oleh peang. Itu jika aku bayangkan yang aku inginkan. Bagaimana jika tidak? Bagaimana kalau peang sudah kelas 4 SD, ternyata ia bahkan sudah tidak ingin tidur denganku? Tidak akan ada lagi keisengan-keisenganku sebelum tidur. Atau yang lebih menyedihkan: peang itu kalau tidur sukanya kalau tidak dipeluk, ia yang memeluk. Kadang, ketika aku masih kerja sambil menemani peang tidur di sebelahku, ia akan dengan sendirinya memiringkan badan dan memelukku. Tentu aku akan kehilangan. Tanpa terasa aku sudah menghabiskan 3 batang rokok dengan sekotak susu UHT rasa cokelat. Aku takut semua yang aku bayangkan terhadap peang menjadi kenyataan dalam waktu dekat --jikapun masih lama dan bila waktunya tiba apakah aku akan dan/atau sudah siap? Tidak. Tentu aku tidak siap. Rokok keempat sudah di tangan, tapi aku mesti tidur. Itu sudah hampir pukul 2 dan besoknya aku mesti berangkat pagi. Aku masih memikirkan itu dan pada kondisi yang sama. Tapi tiba-tiba terbersit pikiran untuk datang aksikamisan. Apa aku datang ke aksikamisan saja? Yha. Paling tidak datang dan menyaksikannya dari jauh bila aku tidak mampu mendekat, berkerumun dengan para penyintas dan peserta lain. Aku hanya ingin tahu: bagaimana tetap mampu menyikapi sebuah kehilangan? Paling tidak melihat mereka yang sudah terlebih dulu kehilangan, bukan oleh waktu, tapi kenyataan. Dan tadi, sialnya, aku datang dan aksikamisan telah selesai. Tidak ada sesiapa, kecuali aku, di sana dengan membawa pikiran yang sama. Seberapa kuat aku mampu merelakan kehilangan?
Tag : ,

Belerdikari, antara Dany Beler dan Komedi Hari Ini

By : Harry Ramdhani

Ahirnya finally: satu per-satu komika (asal) Bogor membuat mini show stand-up comedy. Sesuatu yang (mungkin) sudah lama ditunggu --aku adalah satu di antara mereka itu. Sebelumnya, jika masih ada yang ingat, ada Kang Irawan, lalu yang belum lama ini Ridwan Remin. Baru 2 itu saja? Yha. Tapi dalam rentang waktu tersebut ada beberapa pertunjukan kolaborasi lainnya seperti Bergamis (Bercandaan Gang Mini Show), BlueNite, dan teater musikal ala stand-up comedy. Tidak hanya itu, masih ada Komika lain yang singgah ke Bogor untuk melakukan tur: Pandji dan Ernest. Tapi kini, pada Sabtu (23/03/2019) akhirnya Beler mencoba dirinya membuat stand-up special. Belerdikari, namanya. Tentu ini langkah besar, karena paling tidak ada dua hal yang membuatku menyimpulkan itu, (1) bisa merangsang setiap komika bahwa mereka mampu dan bisa dan sanggup untuk membuat stand-up special sendiri. Aku tahu ini tidak mudah. Jikapun ingin asal-asal saja, paling tidak, butuh keseriusan lebih. Beler itu... entahlah, sampai saat ini aku tidak sekalipun melakukan hal serius dengannya. Perkenalan dengannya selalu diisi dari satu kelucuan hingga kelucuan lain. Barangkali itu yang membentuk Beler sampai hari ini menjadi seorang Komika yang penuh guyon(an). Bukan. Tentu ini bukan seputar teman kita yang sering melucu ditongkrongan agar supaya menjadi pusat perhatian. Beler lebih dari itu, ia (jika boleh berlebihan) ada memang untuk melucu di tengah orang-orang melucu tersebut. Orang lain berusaha melucu, ia sudah lucu. Celetukannya, ceritanya, dan caranya menanggapi apa yang tengah diperbincangkan kadang jadi sesuatu yang ditunggu. Beler yya begitu itu --setahuku. Tentu aku masih ingat kali pertama melihatnya mencoba materinya ketika open mic. Kisah tentang penjual somay yang begitu lucu. Konstruksi komedinya memang seperti cerita: ada pembukaan, kejadian, momen, dan hal-hal bodoh yang menyertai. Juga tentang cerita teman-temannya yang suka mabuk-mabukan itu. Jokes tersebut pernah ia bawakan saat bersaing di SUCI 7, tetapi tidak utuh. Aslinya cerita tersebut mencapai 5-7 menit sendiri. Itulah yang membuat Beler, menurutku, (2) sudah ada di barisan terdepan jika kita bicarakan stand-up comedy hari-hari ini. Begini, sadar atau tidak, kini banyak Komika membuat bentuk komedinya menjadi dua: reaksi dan cerita. Untuk yang pertama, tentu saja, seorang komika cukup memberitahu kejadian atau peristiwa yang belakangan ramai diperbincangkan lalu memberi reaksinya atas hal tersebut. Lazimnya memang sebatas umpatan. Sedangkan yang kedua, seperti yang sudah aku jelaskan diawal tentang Beler, kini banyak komika naik ke panggung bermodalkan membawa satu-dua cerita yang ingin ia bagikan kepada penontonnya. Entah cerita itu penting atau tidak, ada kaitannya kepada penonton atau tidak, yang jelas (mesti) menarik. Tidak banyak memang komika yang melakukannya. Hanya saja, dari yang sedikit itu, semuanya telah berhasil membuat antitesis atas dogma-dogma teknik berkomedi yang sulit dipelajari itu --dan tentu Beler adalah satu dari sekian sedikitnya komika tersebut. Bayangkan saja, ketika semua orang sibuk beropini dan meyakini opininya benar --sedangkan yang lain tidak-- masih ada satu kanal di mana kamu bisa mendapat seorang yang rela menceritakan hal-hal lucu kepadamu. Barangkali nanti Beler akan melakukan itu pada penontonnya di Belerdikari.

Tag : ,

Nyanyian Kesedihan, Pablo Neruda

By : Harry Ramdhani
lukisan karya anak-anak di rumah singgah Potads.

Ingatanmu muncul dari malam di sekelilingku.
Sungai itu membaur dengan ratapan kerasnya dengan laut.

Gurun seperti dermaga saat fajar.
Ini adalah jam keberangkatan, oh sepi!

Kepala bunga dingin menghujani hatiku.
Oh lubang puing-puing, gua ganas kapal karam.

Di dalam kamu, perang dan penerbangan terakumulasi.
Dari kamu sayap burung-burung lagu naik.

Kamu menelan semuanya, seperti jarak.
Seperti laut, seperti waktu. Di dalam kamu semuanya tenggelam!

Itu adalah saat-saat bahagia dari serangan dan ciuman.
Jam mantra yang menyala seperti mercusuar.

Ketakutan pilot, kemarahan seorang penyelam buta,
mabuk mabuk cinta, di dalam kamu semuanya tenggelam!

Di masa kecil kabut jiwaku, bersayap dan terluka.
Sebuah pencarian yang hilang, di dalam kamu semuanya tenggelam!

Kamu berdukacita, Kamu berpegang pada keinginan,
kesedihan mengejutkanmu, di dalam diri kamu semuanya tenggelam!

aku membuat dinding bayangan menarik kembali,
di luar keinginan dan tindakan, aku terus berjalan.

Oh daging, dagingku sendiri, wanita yang aku cintai dan kehilangan,
aku memanggilmu di jam lembab, aku angkat laguku untukmu.

Seperti kendi kamu tempatkan kelembutan yang tak terbatas,
dan pelupaan tak terbatas itu menghancurkanmu seperti guci.

Ada kesendirian pulau-pulau hitam,
dan di sana, wanita cinta, tanganmu membawaku masuk.

Ada kehausan dan kelaparan, dan kamu adalah buahnya.
Ada kesedihan dan reruntuhan, dan kamu adalah keajaiban.

Ah wanita, kamu tidak tahu bagaimana kamu bisa menahanku
di bumi jiwamu, di salib tanganmu!

Betapa mengerikan dan singkatnya keinginanku terhadapmu!
Betapa sulit dan mabuk, seberapa tegang dan rajin.

Pemakaman ciuman, masih ada api di makammu,
masih dahan-dahan yang digoreng terbakar, dipatuk oleh burung-burung.

Oh mulut yang tergigit, oh anggota badan yang dicium,
oh gigi yang lapar, oh tubuh yang terjalin.

Oh gila harapan dan kekuatan
di mana kami bergabung dan putus asa.

Dan kelembutan, ringan seperti air dan tepung.
Dan kata itu nyaris tidak mulai di bibir.

Ini adalah takdirku dan di dalamnya adalah pelarian kerinduanku,
dan di dalamnya kerinduanku jatuh, di dalam kamu semuanya tenggelam!

Oh, lubang puing, semuanya jatuh padamu,
kesedihan apa yang tidak kamu ungkapkan, dalam kesedihan apa kamu tidak tenggelam!

Dari mengepul hingga mengepung kamu masih disebut dan bernyanyi.
Berdiri seperti seorang pelaut dalam haluan kapal.

kamu masih berbunga dalam lagu, kamu masih memecahkan arus.
Oh lubang puing, terbuka dan pahit.

Penyelam buta pucat, pengumban beruntung,
penemu yang hilang, di dalam kamu semuanya tenggelam!

Ini adalah jam keberangkatan, jam yang sangat dingin
yang malam kencangkan ke semua jadwal.

Sabuk gemerisik lautan membentuk pantai.
Bintang dingin naik, burung hitam bermigrasi.

Gurun seperti dermaga saat fajar.
Hanya bayangan yang berliku-liku di tanganku.

Oh lebih jauh dari segalanya. Oh lebih jauh dari segalanya.

Ini adalah jam keberangkatan. Oh ditinggalkan.

Mendamaikan rindu dan dendam setiap tahun

By : Harry Ramdhani
bagus2 yha? gelang and gantungan, kesukaanmu.
Kamu ulangtaun dan aku lupa. Anehnya, entah kenapa, aku bisa merasakannya. Seperti ada yang berbeda seharian ini. Orang-orang, pekerjaan dan hal-hal lain yang menyebalkan tidak menghampiri. Sungguh, aku merasakan itu semua, hari ini, saat ulangtaunmu. Dan, aku ingat, ulangtaun, bagimu, bukan sekadar ucapan (basa-basi) dan perayaan tiup lilin belaka. Bagimu, yang aku tahu, ulangtaun adalah soal perenungan. Yha. Ini berlebihan. Sebab, selalu ada yang tidak aku tahu setiap ulangtaunmu. Sabab, setiap kali kamu ulangtaun, aku selalu tidak ada di dekatmu; selalu ada di jarak terjauh yang bisa dibayangkan akal sehat. Kamu selalu menjadi orang yang paling antusias setiap ada yang ulangtaun: keluargamu, keluargaku, aku, teman-temanmu dan (mungkin saja) pasangan barumu. Namun, di balik itu semua, kamu menjadi pengingat untuk selalu mawas diri. Bertambahnya usia dan berkurangnya umur mesti disikapi dengan pendewasaan. Kadang, tapi aku selalu lupa, ingin menanyakan padamu satu hal: mengapa kamu selalu ingin orang-orang di sekitarmu dewasa? Apakah tetap menjadi anak-anak bukan sesuatu yang menyenangkan? Yha. Maaf. Malah jadi dua pertanyaanku. Aku menduga, rasa-rasanya, bagimu seseorang tidak bisa hanya dibuat dewasa karena bertambahnya usia, bukan? Tapi juga keadaan. Karena kita, tentu saja, berpisah karena keadaan. Bukan takdir, bukan keinginan, apalagi nasib. Dan kita, aku dan kamu, dan segala keputusan-keputusan dalam menyikapi, selalu karena keadaan. Seperti buku yang pernah aku pinjamkan padamu: Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas. Aku sudah ikhlas kalau buku itu pada akhirnya kamu buang. Aku sudah tidak peduli walau di buku itu ada tanda tangan penulis kesukaanku. Sungguh. Tapi, aku hanya penasaran: kamu sudah baca barang satu halaman saja dari buku itu? Kalau tidak, justru ini yang membuatku kecewa. Malah mungkin saja marah. Kamu tahu itu, kan? Aku bisa saja marah pada hal-hal yang tidak penting sekalipun. Sial. Aku kangen memarahimu. Sikap pasrahmu, ketidakpedulianmu yang justru, aku tahu, mendamaikan itu. Kamu terlalu bodoh untuk dimiliki lelaki bangsat. Tapi, untuk sekarang ini, kebahagiaanmu yang terpenting tentu saja --sebangsat apapun lelakimu.

***

Apa yang kamu dapat di hari ulangtaun? Apa yang kamu harapkan? Ceritakanlah... biar dari jauh akan aku amin-kan.
Tag : ,

Mari merayakan bengong!

By : Harry Ramdhani
nyang aing bayangkeun tentang gopah!


Bengong itu ibadah. Menikmati bengong itu sama halnya dengan menghargai sepi dan sunyi. Sebab, tak ada yang khidmat, yang membuat lebih dekat, ketika bengong. Bengong itu seperti puisi; tidak cukup dibaca satu kali untuk memahami. Dalam bengong, tentu saja, kita bisa meringkus dengan ringkas atas apa yang dipikirkan, diharapkan, dan kenyataan. Dan bengong, sekali lagi, bisa menjelma apa saja. Kesepian. Keramaian. Kesedihan. Kebahagiaan. Kerinduan. Kegalauan, kalau perlu.

Tak pernah ada cinta yang rapi. 
Rindu membuatnya berantakan lagi.*

Kehidupan ini, barangkali, terlalu cepat. Sehingga yang berubah jauh lebih tampak tinimbang yang berproses atau bertumbuh. Bengong adalah tanda, alarm bagi diri sendiri, untuk sedikit merenungkan --bukan menghentikan, karena konotasinya cukup negatif, mungkin-- semua yang berkejaran dan berlarian. Bengonglah untuk sementara. Sewaktu yang kita punya. Bengong juga tidak perlu diluangkan. Karena bengong bukan tentang lama atau sebentar, tapi bengong, barangkali, adalah soal memahami sejenak apa yang terjadi saat itu.

Haruskah dengan bertengkar, 
kekuatan cinta kita ditakar?*

Laiknya nyala api yang mengeluarkan asap, bengong itu menghasilkan. Jika bukan sesuatu yang berbentuk atau nyata, bengong paling tidak menjernihkan. Ujudnya bahkan bisa menjadi ekstrem: bengong membuat kita menangis. Tidak perlu heran ada mata yang berkaca-kaca ketika bengong. Apalagi sampai menetes di pipi. Sebab dari bengong, adalah cara kita memasuki diri jauh ke dalam. Tempatnya mungkin jauh lebih gelap dari dasar laut terdalam. Dan, buat apa malu untuk menangis? Menangis itu obat yang hanya bisa diramu oleh orang yang sedang sakit itu sendiri. Menangis, paling tidak, menenangkan. Penyair pernah berpesan: airmata tidaklah jatuh untuk hal yang sia-sia.

Jika cinta hanya soal segala hal benar, 
maka mustahil kita bisa sebegini tegar.*

Bengong itu tidak terkotakkan dan terkatakan. Bengong adalah segala hal yang mustahil dirancang-rencanakan. Ketika bengong, selalu hadir hal-hal spontan yang tidak terikat. Bengong  biar bagaimana pun juga adalah pergulatan batin. Dari bengong kita mampu merasa kesepian di antara keramaian, merasa sendiri sampai bayangan pun enggan menemani. Saat ini aku hanya ingin merayakan bengong itu sendiri, seorang diri.


*) Dari puisi-puisi Candra Malik dalam bukunya: Fatwa Rindu 

Tag : ,

Kewajiban Para Penyair

By : Harry Ramdhani
ilustrasi (pixabay)

Untuk siapa pun yang tidak mendengarkan laut
Jumat pagi ini, kepada siapa pun yang terkurung
di rumah atau kantor, pabrik atau wanita
atau jalan atau saya atau sel penjara yang keras;
kepadanya saya datang, dan, tanpa berbicara atau melihat,
Saya tiba dan membuka pintu penjara,
dan getaran dimulai, tidak jelas dan mendesak,
sebagian besar guntur mulai bergerak
gemuruh planet dan buih,
sungai parau banjir laut,
bintang bergetar dengan cepat di koronanya,
dan laut berdetak, sekarat dan berlanjut.

Jadi, tertarik oleh takdirku,
Saya tidak henti-hentinya harus mendengarkan dan menyimpan
ratapan laut dalam kesadaran saya,
Saya harus merasakan jatuhnya air keras
dan mengumpulkannya dalam cangkir abadi
sehingga, dimanapun mereka berada di penjara,
dimanapun mereka menderita celaan musim gugur,
Saya mungkin berada di sana dengan gelombang yang menyimpang,
Saya dapat bergerak, melewati jendela,
dan mendengar saya, mata akan melirik ke atas
mengatakan 'Bagaimana saya bisa mencapai laut?'
Dan saya akan menyiarkan, mengatakan apa-apa,
gema berbintang dari gelombang,
pemecahan busa dan pasir apung,
gemeresik penarikan garam,
teriakan abu-abu burung laut di pantai.

Jadi, melalui saya, kebebasan dan laut
akan membuat jawaban mereka ke hati yang tertutup.


*) A minhas obrigações, Pablo Neruda. Sebuah terjemahan Puisi

Untuk yang akan kembali dalam waktu yang lama

By : Harry Ramdhani
untuk yang ditinggalkan

'Anaknya' Gomah yang lain yang terakhir mulai hari ini bakal tinggal di asramah. Kuliah. Momen pas pamit tadi waktu seakan tidak bergerak maju. Semua yang lalu hadir: ingatan dan masasilam. Mereka, ingatan dan masasilam tadi, mencoba menahan untuk sebuah kepergian. Menjadi pahlawan kesiangan untuk menolak semua. Karena kepergian, biar bagaimanapun, selalu melahirkan korban: yang ditinggal dan tertinggal. Tapi waktu, sekali lagi, tidak pernah bergerak mundur: waktu terus tumbuh dan tidak ada yang bisa menahannya maju --meski lamat-lamat kesedihan dan kerelaan yang menetap. Pada momen semacam ini manusia hanya bisa pasrah akan kehendak Tuhan. Adil atau tidak. Menerima atau tidak. Namun begitulah aturan mainnya. Andai manusia bisa meminta, jawabannya hanya satu: jalani.

***

Seminggu lalu 'anaknya' Gomah itu bolak-balik mencari peralatan untuk di asramah. Beberapa sudah didapat dan sebagiannya lainnya belum. Ia datang ke rumah, menanyakan tempat menjual bantal dan guling ke Gomah yang murah. Harga itu relatif, murah atau mahal, namun yang pasti yang murah, tentu saja, selalu kalah nyaman dengan yang mahal. Tapi waktu itu Gomah tidak menjawab. Gomah masuk ke kamar dan keluar dengan membawa dua bantal. Pakai ini saja, katanya, biar tetep bisa ingat rumah. Tidak ada yang bisa diharapkan dari sebuah kepergian selain tetap bisa ingat bagaimana ada orang-orang di masasilam ini akan setia menunggu kepulangan. Ia menirama kedua bantal itu. Duduk di teras dan memeluknya. Entah apa yang dipikirkannya. Entah apa yang tengah dirasakannya.

***

Gomah punya dua anak lain. Yang satu sudah akan lulus kuliah. Satu lainnya yang akan berangkat ini. Yha. Sedari dulu aku ingin punya adik. Sampai akhirnya tetangga ada yang lahiran dan anaknya, keluarga kami anggap seperti anak sendiri. Dan aku seakan punya adik. Begitulah kedua anaknya Gomah yang lain itu. Sedari kecil selalu di rumah. Pulang untuk tidur malam di rumahnya dan paginya sudah main lagi ke rumah. Kedua anaknya Gomah yang lain itupun memanggil Gomah dengan sebutan "Mamah". Seperti jua aku tentu saja. Dan Peang yang terakhir ini. Keduanya tumbuh. Menjadi remaja dan dewasa. Dan Gomah, sampai sekarang, tetap saja menganggap mereka masih kecil. Bila di rumah mereka sedang tidak ada makanan, misalnya, mereka akan datang ke rumah untuk makan. Atau, jika air dingin di kulkas mereka habis dan mereka ingin minum, maka mereka akan datang ke rumah: mengambil gelas dari lemari dan menghabiskan satu botol air dingin sendiri. Tidak ada sekat. Bahkan walau kami berbeda keyakinan. Hidup kami jauh lebih tentram dari apa yang kalian kotak-kotakan. Setiap lebaran Gomah selalu memberi ketupat dan teman-temannya itu. Dan ketika natal, Gomah akan memberi ucapan selamat dan mengamplopinya. Tidak pernah jua kami terganggu jika di rumah mereka sedang latihan atau beribadah dengan menyanyikan puji-pujian. Kami bukan lagi sekadar saudara, lebih dari itu, kami berkeluarga. Dan ketika satu anggota keluarga pergi, tentu saja, anggota keluarga yang lainnya bersedih. Termasuk Gomah dan Gopah dan aku.

***

Sebelum tadi aku berangkat jumatan Gomah memanggilku yang sedang buang air besar. "Dek, lagi pegang uang kes? 50ribu aja," kata Gomah. Sambil sedikit ngeden, aku jawab ada di kantung celana. Ambil saja. Tadinya aku tidak tahu uang itu untuk apa. Toh aku tidak begitu peduli jua. Namun setelah jumatan Gomah bilang kalau uangnya untuk membekali anaknya yang lain itu. Nambahin. Aku bilang, kenapa engga diambil semua aja yang di kantung celana. Seingatku ada seratus ribu. Tapi nanti jua dia balik lagi, kata Gomah, untuk nantinya tidak kembali dalam waktu yang lama.
Tag : ,

Teka Teki

By : Harry Ramdhani
ilustrasi: @kulturtava

kau bertanya kepada aku apa yang sedang ditenun lobster
kaki emasnya?
aku jawab, laut tahu ini.

kau berkata, apa yang ditunggu ascidia secara tembus pandang
bel? apa yang ditunggu?
aku katakan itu menunggu waktu, seperti kau.

kau bertanya kepada aku siapa Alga Macrocystis di pelukannya?
belajar, pelajari, pada jam tertentu, di laut tertentu yang aku tahu.

kau menanyai aku tentang gading jahat dari narwhal,
dan aku membalas dengan menjelaskan
bagaimana kuda laut dengan harpun di dalamnya mati.

kau bertanya tentang bulu burung rajawali,
yang gemetar di mata air murni dari pasang selatan?

atau kau menemukan di dalam kartu pertanyaan baru yang menyentuh
arsitektur kristal
dari anemon laut, dan kau akan menghadapinya sekarang?

kau ingin memahami sifat listrik lautan
duri?
stalaktit berlapis baja yang pecah saat berjalan?
kail pemancing ikan, musik mengulurkan
di tempat yang dalam seperti benang di air?

aku ingin memberi tahu kau bahwa laut tahu ini, bahwa kehidupan di dalamnya
kotak perhiasan
tidak terbatas seperti pasir, tidak mungkin dihitung, murni,
dan di antara waktu anggur berwarna darah telah membuat
daun bunga
keras dan berkilau, membuat ubur-ubur itu penuh dengan cahaya
dan membuka simpulnya, membiarkan benang musiknya jatuh

dari tanduk banyak terbuat dari ibu mutiara yang tak terbatas.
aku bukan apa-apa selain jaring kosong yang telah berjalan di depan
mata manusia, mati dalam kegelapan itu,
jari-jari yang terbiasa dengan segitiga, garis bujur
pada bola mata oranye dari oranye.

aku berjalan seperti kau, menyelidiki
bintang tanpa akhir
dan di jaring aku, pada malam hari, aku terbangun telanjang,

satu-satunya yang tertangkap, seekor ikan terperangkap di dalam angin.


Enigmas, Pablo Neruda. Sebuah terjemahan puisi.

Cerita tentang Anak Kecil di Warung Makan yang Tetap Buka Saat Puasa

By : Harry Ramdhani
Bocil nyang lagi tidur itu. Pules beut!

Anak itu tertidur pulas. Sesekali matanya terjaga, lalu terpejam kembali. Sayangnya bukan di tempat tidur dan bantal yang empuk untuknya, anak itu tidur di meja warteg. Kau pasti tahu seberapa luas meja itu. Sekadar cukup untuk satu piring dan satu gelas --meski ukurannya panjang. Mainan yang tadi dipegangnya sampai terjatuh ke lantai. Ibunya sedang sibuk mencatat utang pelanggannya. Satu dari karyawan kantor, satu lagi oleh satpam. Buku tulis yang semestinya digunakan mencatatan pelajaran, namun kini di perlakukan sebagai pengingat tunggakan. "Tidak boleh kalah sama yang gajinya bulanan," katanya, tidak ditujukan kepada siapa-siapa yang ada di sekelilingnya.


***

Aku pindahkan gelas dan bungkus rokok dari sebelah anak itu. Takut tersenggol dan pecah ketika jatuh. Sebelum anak itu tertidur, ia manaiki meja, menghampiri tv yang diletakan di atas etalase warung. Ia coba berkali-kali tidak bisa. Mungkin aku sendiri sedikit risih dengan apa yang dilakukannya. "Belum dicolokin kali kabelnya," kataku. Anak itu menoleh dan lalu (seperti) tidak peduli. Barangkali anak itu semakin penasaran, ketika kaki kanannya sudah terangkat, aku langsung menjulurkan tangan untuk melarang. Ayahnya di dapur keluar. "Mau apa, dek?" Nonton tv, jawabnya. Anak itu diturunkan dari meja, didudukan di sebelahku. "Colokannya dipake buat kipas. Nanti saja ya." Anak itu paham. Meski tidak mengangguk dan diam, aku tahu begitulah reaksi anak-anak jika habis dinasehati. Mainan lego, sepertinya itu namanya, berbentuk pesawat terbang yang ada di tangannya ditaruh di atas etalase. Anak itu duduk lagi. Tidak lama anak itu berdiri untuk tidak duduk lagi. Anak itu berdiri sembari melafalkan beberapa surat dan ayat. Surat Al Kausar yang aku tahu dan ingat. Kemudian menyelonjorkan badan di meja warung, masih melafalkan itu, dan tertidur.

***

Seketika aku ingat tayangan di MNC TV "Semesta Bertilawah". Setiap sahur sekeluarga aku menonton itu. Gomah senang ada anak kecil yang bisa hafal Quran. Aku sendiri senang ayat-ayat Quran disenandungkan. Aku kira Peang dan Gopah juga suka, meski aku tidak tahu suka karena apa.Namanya program tv selalu mengedepankan drama-drama, apapun didramatisir. Pernah satu episode di mana Seorang anak yang dititipkan di Pesantren oleh ibunya sewaktu kecil ditanya-tanya oleh Arie Untung dan entah siapa host perempuannya. Anak itu masih kecil, umurnya sekira 8-10 tahunan, ditanya kabar ibunya saat ini, bagaimana ia mencari ibunya lewat facebook yang dibantu oleh pihak pesantren dan lain-lain. Pedahal sudah jelas: anak itu dititipkan ketika masih (sangat) kecil. Barangkali ingat wajahnya saja tidak. Sudah tentu anak itu menangis. Ia diminta mengingat atas apa yang ia tidak tahu. Betapa bodoh! Hanya pagi itu sahur jadi tidak terasa mengenakan. Aku sendiri hanya memakan beberapa suap nasi dan keluar; merokok.

***

Sewaktu kecil, setiap kali aku membaca Quran di rumah, jika ada satu bagian yang aku baca keliru, entah dari dapur atau mana, Gomah selalu memperbaiki dengan sedikit berteriak. Atau, ketika aku kesulitan membaca, mungkin karena tidak tahu tajwidnya, jadi terdengar aneh, pasti Gomah akan membetulkan. Aku sendiri tidak tahu apakah Gomah (sudah) hafal Quran atau Quran memang gampang diingat, jadi mudah terdengar aneh ketika ada keliru saat membacakannya. Membaca Quran selalu menyenangkan. Apalagi membaca terjemahannya. Ini adalah fase di mana aku mulai mencintai puisi. Selepas terawih atau sholat subuh, aku pergi ke perpus Teras Baca. Membaca Quran dan terjemahannya. Tidak lama, paling 3 jam sahaja. Bahkan, entah mengapa, ketika selesai membaca, aku merasa tenang. Terlebih senang karena arti ayat yang aku baca tersusun sangat baik --laiknya puisi. Buku puisi terbaik yang pernah aku baca, barangkali, adalah Quran. Anehnya lagi, setiap kali selesai membaca Quran, aku tidak bisa berdiri. Kedua kaki tidak bisa digerakkan. Kaku. Malah aku pernah dibangunkan Gomah yang membangunkan aku di Perpus dalam keadaan tertidur dengan kaki menyila sambil memeluk Quran. Sudah pagi dan mau dipakai tadarusan.

***

Ibu warung tadi langsung bercerita tentang anaknya. Katanya, anak itu semestinya sudah kelas dua, tapi mesti berhenti sekolah karena ikut ke Jakarta dengan ayah-ibunya. Maklum, keluarga itu datang untun bergantian dengan kakaknya yang kebetulan aku kenal, mesti balik kampung. "Dulu sih bilangnya cuman 3 bulan, lah ini udah hampir setahun. Ya gitu jadinya, dia gak sekolah. Diajak pun ia nolak, cuma mau main dan ngaji saja," kata Ibu warung. Umur anak itu kira-kira hanya berbeda satu tahun dari Peang. Jadi aku tahu betul pada umur-umur segitu apa yang ingin dan tidak inginkan dari anak-anak. Ibu warung bilang, anak itu memang tidak tidur semalaman. Dari siang malahan. Kadang main dan baca Quran saja. Sampai tadi dia bilang, kata Ibu warung, "mama gak saur, mama gak masak buat dagang?" Warung itu memang tidak tutup ketika bulan puasa. Tetap buka, tapi aku sama sekali tidak ingin menanyakan alasannya. Buat apa juga. Masih ada orang-orang yang tidak berpuasa dan lapar. Aku pikir wajar saja kalau buka. Kami berbincang sangat pelan takut-takut anak itu bangun. Namun, dalam obrolan kami itu, ada yang terus pikirkan, seperti: bagaimana orangtua itu memberi tahu kepada anaknya kalau puasa di bulan Ramadan itu wajib bagi umat muslim? Sedangkan sampai saat ini saja warungnya tetap buka.

***

Mainan yang tejatuh di lantai itu aku ambil dan letakkan di sela jari tangannya yang tertidur. Semula tidak ia genggam mainan, tapi saat jariku menyentuh jarinya, ia langsung mengambil tanganku. Ibu warung tersenyum. Aku lepaskan perlahan dan membayar makananku. Sambil keluar warung, spotify tengah memainkan lagu "Breakfast at Tifanny's" dari Deep Blue Something.
Tag : ,

Mandi di Siang Bolong!

By : Harry Ramdhani
seger betul mandi pas siang bolong.




Segar betul. Mandi pukul 2 siang saat matahari sedang panas-panasnya di bulan puasa. Ketika hendak menjemur handuk keluar, matahari seakan baru ingin muncul dari tidur panjangnya semalaman. Tidak ada suara ayam karena ia berkokok terlalu pagi dan manusia tidak ada yang peduli. Pagar rumah, tanaman yang digantung, sampai lantai teras serasa masih diselimuti embun; dingin. Segar betul.

***

Tapi tadi aku duduk sendirian di bangku-bangku di depan Indomaret. Bingung. Bukan untuk berpikir antara batal puasa atau tidak. Bukan. Bingung karena tidak tahu bagaimana caranya memperpanjang masa aktif akun premium spotify. Susah betul. Pedahal bulan lalu gampang-gampang sahaja. Sekarang aku lupa caranya. Keringat dingin mulai merambah dari tengkuk leher hingga lengan tangan. Normal. Itulah reaksi tubuh ketika sedang kebingungan. Tadi di hadapan ATM berulangkali aku mencoba peruntungan. Hasilnya: hanya kartu yang masuk dan keluar. Sporify premium tidak berhasil di perpanjang, orang-orang mengantri di kasir Indomaret membayar minuman dingin yang mereka ambil dari lemari pendingin. Dua orang, tiga orang, mulai mengantri di belakang menunggu giliran menggunakan mesin ATM. Aku kebingungan betul.

***

Bulan puasa tahun ini seperti kembali menemuiku dengan kegembiraan. Entah. Tapi itu yang aku rasakan. Anak-anak yang mulai ramai datang ke masjid dan orang-orang yang berdagang di pelataran masjid. Aku menduga: sepertinya kegembiraan ini muncul ketika hampir setiap hari –sebelum bulan puasa ini– melulu diperbincangkan di media sosial –tapi orang-orang itu sendiri tidak pernah ke masjid –tentang tumbuh-kembangnya orang-orang ekstimis. Mulai dari isi ceramah sampai penceramahnya. Mungkin orang-orang yang melulu membincang itu lupa: masjid tidak melulu seputar itu. Masjid adalah kediaman bagi siapa saja, makanya ada yang dinamakan Dewan Keluarga Masjid (DKM). Keluarga, biar bagaimanapun, tidak pernah lepas dari masalah. Jika, anggaplah asumsi orang-orang yang tadi aku sebut benar, masjid sebagai awal mula tumbuh kembangnya ekstimisme, maka biarlah keluarga dari masjid itu yang menyelesaikan. Tidak perlu dipukul rata kalau semua masjid seperti itu, bukan?

***

Dua hari menjelang bulan puasa, anak-anak berkumpul di pelataran masjid selepas magrib. Anak-anak itu menikmati betul rasanya keluar malam dan bertemu dengan teman sebayanya. Waktu main mereka seakan diperpanjang. Kemudian satu per-satu dari mereka diberikan obor. Entah ini hanya ada di Indonesia atau di setiap negara seperti itu ketika menyambut bulan puasa. Beramai-ramai mereka berjalan dari masjid melantunkan salawat menyusuri malam, menerangkan jalan. Pawai obor. Perlu juga sepertinya aku beritahukan: masjid di mana anak-anak itu mengikuti pawai obor, saban jumat di masjid itu penceramah selalu melakuakan orasi melawan pemerintahan. Hanya ada dua hal yang bisa menyelamatkan orang-orang yang jumatan itu tetap mau datang ke masjid: (1) mendengar ceramah sambil main media sosial atau (2) melipir ke warkop yang letaknya bersebelahan dengan masjid dan mendengar ceramah dari sana. Yang ingin aku sampaikan adalah terlepas dari bagaimana masjid itu dikelola, ketika bulan puasa tiba, selalu ada hati yang terbuka untuk semua. Anak-anak yang bergembira dan kakak-kakak mereka yang manis-manis betul ketika mendampingi adiknya pawai obor.

***

Kuhanya ingin puasa menghadirkan yang betul-betul segar. Semial: kamu yang lagi suka ganta-ganti avatar twitter yang bikin temlenku jadi segar betul.
Tag : ,

- Copyright © Kangmas Harry - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -